• Tidak ada hasil yang ditemukan

16.2600.011 PROGRAM STUDI HUKUM TATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "16.2600.011 PROGRAM STUDI HUKUM TATA"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

8 Republik Indonesia, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia”, dalam Undang-Undang tentang Pemilihan Anggota DPR DPD DPRD, hal. 13 Negara Republik Indonesia, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia”, dalam Undang-Undang tentang Pemilihan Anggota DPR DPD DPRD Tahun 1999.

Rumusan Masalah

Maka hal inilah yang memunculkan semangat untuk merekonstruksi pemikiran para penafsir terdahulu. Melihat status quo yang tercermin dalam konsep tersebut, seharusnya membuat peneliti selanjutnya tertarik untuk mengkaji hal tersebut.

Tujuan Penelitian

Sebab pemikiran yang tadinya hanya terfokus pada penafsir juga mengenai pemahaman umat Islam secara keseluruhan mengenai kedudukan perempuan. Maka dengan semangat itulah para calon peneliti ingin mengkaji lebih lanjut yang tema sentralnya adalah “Hak-hak Politik Perempuan (kajian terhadap pemikiran Khaled M. Abou El Fadl)”.

Kegunaan Penelitian

Defenisi Istilah/Pengertian Judul

Pertama, secara etimologis berasal dari kata empu (tuan; orang yang ahli/berkuasa; kepala; hulu; yang terhebat; sehingga kita mengenal kata empujari 'ibu jari', empu gending 'orang yang ahli menciptakan lagu'). Abou El Fadl adalah seorang ahli hukum Islam asal Kuwait, lahir pada tanggal 1 Januari 1963.

Tinjauan Penelitian Relevan

27Riris Resita Simamora, “Perempuan dalam Politik (Studi Terhadap Perempuan Anggota Legislatif DPRD Lampung Timur)”, (Skripsi Sarjana: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2019), hal. Abou El Fadl: Relevansinya dengan posisi perempuan dalam keluarga.” 28 Dalam penelitian ini, penulis memaparkan rumusan masalah mengenai gagasan feminisme Islam, Khaled M.

Landasan Teori

  • Teori Keadilan
  • Teori Partispasi Politik
  • Teori Gender
  • Teori Hermeneutika

Konstruksi sosial inilah yang menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian diterima oleh masyarakat kita. Gender biasanya digunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap pantas bagi laki-laki dan perempuan.”59 Lihat Sarah Gamble, Pengantar Pemahaman Feminisme dan Postfeminisme, (Yogyakarta: Jalasutra, Cet. 71Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender dari Sudut Pandang Al -Qur'an, hal.47.

72Nasaruddin Umar, Argumentasi Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur'an, hal. 48. ...dan Horney mempunyai ide dasar yang sama, yaitu penekanan pada faktor anatomi biologis. Terdapat berbagai pandangan dari kelompok feminis yang kerap menekankan perbedaan peran gender antara laki-laki dan perempuan secara umum. 84Nasaruddin Umar, Argumentasi Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Al-Quran, hal. 72. . elemen-elemen ini? dan perempuan masing-masing menjalankan perannya masing-masing. fungsi setiap elemen sulit dipertahankan.

Kerangka Pikir

  • Metode Penelitian
    • Jenis Penelitian
    • Pendekatan Penelitian
    • Jenis Data
    • Metode Pengumpulan Data
    • Metode Pengolahan Data

Penelitian hukum normatif, disebut juga penelitian hukum doktrinal, pada umumnya hanya menggunakan sumber-sumber sekunder, yaitu peraturan hukum, keputusan pengadilan, teori-teori hukum dan pandangan-pandangan para ilmuwan terkemuka.114. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum normatif adalah dengan menggunakan hasil-hasil temuan ilmiah hukum empiris dalam arti hukum, sebagaimana dianut oleh masyarakat atau ilmu-ilmu lain, untuk tujuan analitis, tanpa mengurangi sifat ilmu hukum sebagai ilmu hukum normatif. Selain dapat menggunakan hasil-hasil penelitian hukum empiris, ada pula pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum normatif jenis ini, yaitu pendekatan hukum, pendekatan kasus, pendekatan sejarah, pendekatan komparatif, pendekatan analitis (analytical pendekatan). , dan pendekatan konseptual (conceptual approach).116.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan sumber data sekunder karena jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian hukum normatif yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

HAK POLITIK PEREMPUAN DALAM ISLAM

Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia

Hanya membahas hak-hak politik, berupa persamaan hak, hak kebebasan, hak memilih, dan sebagainya.125. Sejalan dengan hal tersebut, Komisi Hak Asasi Manusia yang dibentuk pada tahun 1946 oleh PBB menetapkan beberapa hak ekonomi dan sosial, selain hak politik. Baru pada akhir tahun 1966 Majelis Umum PBB dengan suara bulat menyetujui perjanjian mengenai hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, serta perjanjian mengenai hak-hak sipil dan politik.

Kedua teks perjanjian hak asasi manusia tersebut tertuang dalam Perjanjian Hak Sipil dan Politik dan Perjanjian Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Pengertian Hak Politik

Hak politik adalah hak asasi manusia yang bersifat politik, yang mengatur hak setiap warga negara untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak untuk memilih (memilih dan dipilih dalam pemilu), hak untuk mendirikan partai politik, dan lain-lain. Hak prosedural atau hak asasi manusia atas perlakuan dan perlindungan peradilan dalam kaitannya dengan peraturan penangkapan, penyidikan, dan sebagainya. 129. Kata politik berasal dari kata politic (Inggris) yang berarti kualitas atau tindakan pribadi, dan secara leksikal kata tersebut berkaitan dengan “ untuk bertindak atau menilai dengan bijaksana, bijaksana, bijaksana".

Politik dalam perspektif Islam dikenal dengan istilah al-Siasah, kata ini berasal dari kata “sasa” (bahasa Arab) yang berarti mengatur, mengatur dan memerintah.

Politik Perempuan dan Permasalahannya

  • Hambatan Ideologi dan Psikologi
  • Hambatan Sumber Daya Manusia (SDM)
  • Hambatan Kelembagaan dan Struktural
  • Hambatan dalam Hukum dan Peraturan Perundang-Undangan
  • Hambatan Ketersediaan Data
  • Mengakarnya Budaya Politik Patriarki
  • Kebijakan Depolitisasi Perempuan

Orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, adalah (sama) satu sama lain, mereka memerintahkan (melakukan) yang munkar dan mencegah (melakukan) yang baik, dan mereka memukul tangan mereka (dengan keras). Hal ini sangat relevan dengan kondisi saat ini dimana dunia politik masih didominasi oleh laki-laki di berbagai sektor. Namun dalam hal ini, perempuan menyumbang hambatan yang lebih serius dibandingkan laki-laki.

Sistem Pendidikan Nasional belum memberikan informasi yang cukup bagi pemerataan pendidikan mengenai hak-hak dasar warga negara laki-laki dan perempuan, dalam hal ini sistem pendidikan yang berperspektif gender.

Hak Politik Perempuan

Hak politik adalah hak yang ditentukan dan diakui oleh konstitusi masing-masing negara dan diakui berdasarkan hak keanggotaan warga negara. Secara umum di seluruh dunia, ratifikasi sosial di atas merupakan pemenuhan hak politik seseorang beserta persyaratan kewarganegaraannya. Dalam arti hak politik seseorang tetap sah sepanjang status kewarganegaraannya masih sah dan diakui, sebaliknya mereka yang masih berstatus orang asing tidak berhak atas hak tersebut.

Dalam salah satu karya intelektualnya, Musda Mulia mengemukakan apa yang dimaksud dengan hak politik, antara lain; “(1) hak untuk menyatakan pendapat dalam pemilihan umum dan referendum; (2) hak untuk diangkat menjadi anggota lembaga perwakilan rakyat; (3) hak untuk dicalonkan menjadi presiden dan hal-hal yang berkaitan dengan politik.”

Pandangan Ulama terhadap Hak Politik Perempuan

Laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian lainnya (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian hartanya. Kedua, para ulama menyatakan bahwa perempuan mempunyai hak penuh dalam politik sebagaimana hak yang dimiliki laki-laki.153 Namun ada perbedaan pendapat lain pada kelompok kedua ini, yaitu kelompok yang memperbolehkan perempuan menduduki semua jabatan. Beberapa kitab tafsir menjelaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, bahwa laki-laki adalah pemimpin, pembesar, hakim dan pendidik jika perempuan melakukan penyimpangan.

Dan untuk membenarkan hujah ini, Sofwatul Tafasir berpendapat: "maka nubuwah (kenabian), imamah (kepimpinan), wilayah (kekuasaan), shahadah (sahadah) dan jihad dikhususkan untuk lelaki."

Urgensi Hak Politik Perempuan dalam Islam

Dijelaskan bahwa substansi ayat tersebut menjelaskan bahwa Islam mengagungkan kedudukan laki-laki pada kedudukan yang setara karena tidak ada diskriminasi antar manusia. 161Su'ad Ibrahim Shalih, Iqh Ibadah Wanita, (Jakarta: Amzah, cet... Orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagiannya menjadi penolong bagi sebagian lainnya. 328). Allah menjanjikan kepada mukmin laki-laki dan perempuan surga yang di bawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga 'Adn.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman bahwa parameter kepribadian seseorang hanyalah agamanya, baik laki-laki maupun perempuan.

PRAKTIK HAK POLITIK PEREMPUAN DI INDONESIA

Hak Memilih dan Dipilih

Malah, al-Quran sebaliknya menyeru kepada setiap manusia untuk melakukan banyak kebaikan dan keburukan, yang wajib dilakukan oleh setiap hamba lelaki dan perempuan. Dalam ayat ini, setiap hamba adalah pembantu kepada hamba yang lain, sebagaimana lelaki yang banyak menyertai pilihanraya, wanita juga mendapat hak yang sama. Yusuf al-Qardawi, dalam salah satu karyanya, beliau dengan bijak menjelaskan bahawa setiap wanita berhak untuk dipilih dan mengundi dalam pilihan raya.

Daripada penjelasan di atas, tiada satu pun peraturan sama ada dalam peraturan agama atau undang-undang positif yang menyokong penuh penyertaan wanita dalam pilihan raya umum, baik dari segi status sebagai pengundi mahupun mereka yang ingin bertanding jawatan politik.

Hak Perempuan Menjadi Hakim

Data tersebut dapat memberikan gambaran bahwa sebaran posisi hakim sebagai penentu putusan suatu perkara tidak merata. Nilai tawar bagi perempuan sendiri masih sangat rendah karena menjadi permasalahan jika dikaitkan dengan jenis perkara yang sering ditangani dalam perkara peradilan agama. Dalam hal ini, tugas Pengadilan Agama mencakup banyak perkara perdata, seperti perkara perkawinan dan perkara perceraian, yang pada dasarnya banyak melibatkan perempuan sebagai pihak yang berperkara.

Banyak daripada kes di atas didengar oleh hakim lelaki, dan penghakiman yang terhasil sering tidak memenuhi hak sama rata wanita.

Hak Perempuan Menjadi Kepala Negara

Ayahnya, Medhat Abou El Fadl187, adalah seorang pengacara, sedangkan ibunya, Afaf El Nirm188, juga merupakan guru hukum Islam pertama Abou Fadl189. Pada saat yang sama, Abou Fadl belajar hukum di UCLA (University of California Los Angeles).193. Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Pennsylvania, Abou Fadl bertugas di Mahkamah Agung Arizona pada tahun 1989.

Seperti pemikir reformis pada umumnya, Abou Fadl memandang kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan; tidak ada posisi superior atau inferior di antara keduanya.

HAK POLITIK PEREMPUAN DALAM PANDANGAN KHALED M

Biografi Khaled M. Abou El Fadl

  • Kelahiran dan Latar Belakang Sosial
  • Pendidikan dan Latar Belakang Intelektual
  • Karir dan Aktivitas Khaled M. Abou El Fadl
  • Karya Intelektual Khaled M. Abou El Fadl
  • Metode Ijtihad Khaled M. Abou El Fadl

Sejak saat itu, Abou Fadl meyakini kekayaan tradisi intelektual Islam yang juga menandai fase kedua hidupnya. Pada tahun 1986, Abou Fadl melanjutkan studi hukumnya di University of Pennsylvania School of Law untuk mendapatkan gelar Juris Doctorate atau J.D. yang diselesaikannya pada tahun 1989. Setelah itu, Abou Fadl melanjutkan studinya di Princeton University dan pada tahun 1998 mampu menyelesaikannya. program PhD dalam Pemikiran Hukum Islam dengan gelar Ph.D.

Selama di Mahkamah Agung, Abou Fadl aktif menangani hukum keimigrasian dan niaga (Hukum Dagang dan Keimigrasian).

Gambar 4.1 Teori Hermeneutika Negosiatif
Gambar 4.1 Teori Hermeneutika Negosiatif

Hak Politik Perempuan dalam Analisis Pemikiran Khaled M. Abou El Fadl115

  • Pandangan Khaled M. Abou El Fadl tentang Bahaya Bagi Perempuan

Abou El Fadl tentang bahaya bagi perempuan yang bekerja dengan laki-laki yang bekerja dengan laki-laki. Yunani dan Roma adalah hasil dari pilihan perempuan untuk meninggalkan rumah mereka dan memasuki dunia laki-laki. Dalam Islam, hak politik perempuan merupakan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai anggota bangsa.

Partisipasi Politik Perempuan dalam Perspektif Hukum Islam", Jurnal Hukum dan Perundang-undangan Islam Al-Daulah, vol.6 no.

PENUTUP

Simpulan

Sebab hal ini sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap hamba, baik laki-laki maupun perempuan, dalam menjalankan tugas tersebut, yaitu sebagai khalifah dan abdi. Kurangnya pendidikan politik dan permasalahan sosial yang dihadapi perempuan membuat perempuan enggan berpartisipasi aktif dalam berbagai bentuk partisipasi politik sebagai warga negara yang diakui keberadaannya. Menurutnya, perempuan harus menegakkan hak-hak politiknya berdasarkan hak yang diberikan Tuhan atas martabat, etika, dan kecantikan.

Saran

Menafsirkan Ayat-ayat Wanita: Kritik terhadap Fatwa Agama yang Bias Gender (Kajian Pemikiran Hermeneutik Khaled M. Abou El Fadl), Equalita, Vol. Penerapan Hermeneutika Fiqih Perempuan: Kajian Pemikiran Khaled Abou El Fadl tentang Fiqih Perempuan dalam Fatwa CRLO”, Iqtisad, Vol. Hermeneutika Hadits Gender (Kajian Pemikiran Khaled M. Abou El Fadl dalam Kitab Yang Menyebut Nama Tuhan; Hukum Islam, Kekuasaan dan Wanita), Majalah Al-Ulum, Vol.

Kajian Kritis Terhadap Gagasan Khaled Abou El-Fadl tentang Berbicara Atas Nama Tuhan”, Jurnal Hermeneutika, vol.

Gambar

Gambar 4.1 Teori Hermeneutika Negosiatif

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Hick pandangan bahwa semua agama memiliki esensi yang sama, berada dalam bahaya mengkompromikan integritas tradisi partikular dengan hanya menekankan satu aspek dari