Permasalahan hukum yang timbul dari permohonan pemberlakuan kontrak hipotek Kapal Grosse dan Akta pengakuan utang dalam jumlah besar berdasarkan Pasal 224 HIR. Kenyataan ini tidak dapat membatalkan atau dijadikan dasar untuk menolak permohonan penegakan Hak Tanggungan Kapal Grosse Mati.
Grosse Akte Menurut Literatur
Hasil Penelusuran Literatur
43 Hapendi Harahap, S.H., “Grosse Akta (Perkara Hukum Kongres Ikatan Notaris Indonesia XVII)”, Perkara Pengadilan no. Sertifikat hipotek sah sebagai pengganti bruto akta hipotek sepanjang berkaitan dengan hak atas tanah (pasal 14 ayat 3).
Analisis Literatur Terkait Eksekusi Grosse Akte
Akta pengakuan utang bruto harus memuat pengakuan utang saja, tidak boleh ditambah tagihan-tagihan lain atau dicampur dengan perjanjian penjaminan atau hipotek. Akta Pengakuan Kasar tersebut diberi judul “Demi keadilan yang dilandasi keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Apabila debitur wanprestasi, dengan berbekal akta pengakuan utang bruto, maka kreditur dapat segera mengajukan permohonan penegakan hukum kepada pengelola pengadilan.
Namun, sejauh mana kekuasaan eksekutif bruto dari undang-undang tersebut dipengaruhi oleh kewenangan hakim ketua pengadilan negeri untuk memberikan kewenangan penegakan hukum. Ketua pengadilan negeri hanya berwenang menilai apakah perbuatan pengakuan utang bruto itu memenuhi syarat-syarat, baik formil maupun materiil. Jika akta kotor memenuhi syarat-syarat tersebut, maka hakim ketua pengadilan negeri harus mengabulkan eksekusi.
Sebaliknya Ketua Pengadilan Negeri mempunyai kuasa untuk menolak dengan fiat grosse pelaksanaan surat-surat pengakuan utang yang tidak memenuhi syarat-syarat.
Rekomendasi Restatement Berdasarkan Literatur
60 Penjelasan Hukum Laporan Penelitian Grosse Akta 61 berdasarkan ketentuan Pasal 224 HIR yang artinya sebelum menjual obyek hak tanggungan, pemegang hak tanggungan terlebih dahulu harus mengajukan usulan perintah pelaksanaan kepada pimpinan. pengadilan. c) Hak dan kewajiban para pihak. Berdasarkan nilai bruto surat pengakuan utang yang dimilikinya, maka kreditur berhak mengajukan usul pemberlakuan bruto atas surat pengakuan utang itu melalui ketua pengadilan negeri, tanpa terlebih dahulu menempuh jalur hukum jika debitur tersebut. secara default. Pemegang hak tanggungan pertama berhak melakukan langsung pelaksanaan atas obyek hak tanggungan dengan mengajukan permohonan lelang kepada kantor lelang.
Sementara itu, pemegang hak gadai yang kedua dan selanjutnya dapat mengajukan permohonan pemberlakuan surat hak gadai melalui pengurus pengadilan negeri berdasarkan kewenangan penegakan surat hak gadai tersebut.
Grosse Akte Menurut Peraturan
Hasil Penelusuran Peraturan
(4) hipotek atas kapal; (5) nota utang yang dibuat oleh notaris, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai (6) pelaksanaan akta bruto itu sendiri. Lembaga eksekusi secara ringkas, dalam arti kewenangan eksklusif dari pemegang hipotek pertama, disamakan dengan eksekusi dengan menggunakan grosse akta. Pasal 1178 KUH Perdata), serta eksekusi dengan akta kasar (Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan jo.
Khusus untuk instrumen penegakan hukum yang menggunakan bruto undang-undang ini, serta akibat hukum terkait dengan terbitnya undang-undang no. 4/1996 tentang hak tanggungan, akan dibahas lebih lanjut pada bagian yang berkaitan dengan pelaksanaan perbuatan secara bruto. TIDAK. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan) tidak berlaku pada kriteria yang kedua, yaitu… surat sanggup yang dibuat di hadapan Notaris.” Mekanisme pelaksanaan akta bruto akan dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 224 UU No. HIR , yang akan dibahas lebih lanjut pada bagian pelaksanaan bruto perbuatan di bawah ini.
Sebelum dibahas mekanisme penegakannya, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa dasar penegakannya adalah jumlah bruto akta hipotek/sertifikat hipotek/.
Penjelasan Secara Kronologis
213 Dalam hal ini, instrumen pemberlakuan bruto suatu akta, menurut Pasal 224 HIR, tidak dapat dipisahkan dari dasar pelaksanaannya, yaitu hak pelaksanaan hipotek (akta hipotek) dan hak pelaksanaan beberapa kreditur (akta pengakuan hutang yang dibuat sebelumnya). seorang notaris). Akta Hak Tanggungan/Kreditverband dibuat oleh dan disaksikan Pejabat Pembuat Perjanjian Tanah (PPAT), sedangkan akta bruto diterbitkan dalam bentuk sertifikat Hak Tanggungan/. 21/1992 yang intinya hanya menegaskan kembali bahwa hipotek bruto atas kapal mempunyai kekuasaan eksekutif 235 Selain itu, UU No.
Dari hasil pengamatan kronologis dapat disimpulkan bahwa para pengambil kebijakan dari waktu ke waktu terus menjamin kekuasaan eksekutif yang terkandung dalam akta bruto dengan mengatur namun tetap mempertahankan perubahan format akta yang menjadi dasar pelaksanaannya. mekanisme eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR. Menurut pendapat pembentuk undang-undang, permasalahan tersebut timbul karena belum jelasnya kekuasaan eksekutif bruto suatu perbuatan tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR. Oleh karena itu, dalam berbagai produk peraturan, pengukuhan kekuasaan eksekutif yang tertuang dalam akta/sertifikat tertentu dapat ditemukan, yaitu sertifikat obligasi, akta obligasi kapal bruto, dan akta pengakuan utang bruto.
Sehubungan dengan eksekusi sertifikat hak tanggungan, terdapat perubahan yang cukup mendasar mengenai konsep eksekusi meskipun dalam peraturannya sendiri (UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan) sebenarnya memuat perbedaan antara eksekusi berdasarkan kuasa menjual dari kreditur. dan eksekusi dengan menggunakan akta kotor yang mendahuluinya dengan meminta eksekusi kepada ketua pengadilan.
Analisis Peraturan Terkait Eksekusi Grosse Akte
Grosse akta hipotek diterbitkan oleh tempat penyimpanan catatan akta hipotek (sebelumnya pada prinsipnya di raad van justitie), sebagaimana diatur dalam Pasal 23 PBN. Grosse akta hipotek kapal yang diterbitkan oleh pegawai pencatat nama kapal (sebelumnya juga pada prinsipnya di raad van justitie), sebagaimana diatur dalam Pasal 30 PDK. Grosse akta hipotek atas kapal yang diterbitkan oleh Pencatat dan Pencatat Hak Milik Kapal sesuai dengan Pasal 60 Undang-Undang No.
92 Penjelasan Hukum Laporan Penelitian tentang Akta Kasar 93 (b) Mengenai Pengertian “Kewajiban yang Dilakukan dihadapan Notaris”. 94 Penjelasan Hukum Laporan Penelitian tentang Akta Bruto 95 Debitur (penandatangan) menulis pada dirinya sendiri tanda persetujuan untuk membayar sejumlah uang atau barang yang terutang kepadanya yang dapat dinilai dengan harga tertentu yang ditentukan dalam akta pengakuan utang ( pasal 1878 KUHPerdata). Apabila pemegang sertifikat hak tanggungan tidak mempunyai hak untuk menjual secara langsung dan/atau penjualan itu tidak dapat dilakukan dengan sukarela, maka harus disahkan atas perintah dan petunjuk ketua pengadilan negeri menurut tata cara pelaksanaannya. keputusan (Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan No. d) Undang-Undang Hak Tanggungan Bruto Atas Kapal.
Apabila penerima hipotek tidak mempunyai hak untuk menjual secara langsung dan penjualan itu tidak dapat dilakukan dengan sukarela, maka harus disahkan atas perintah dan petunjuk ketua pengadilan negeri menurut tata cara pelaksanaan putusan (Pasal 60 UU No. .17). /2008 tentang Pelayaran no. e) Tindakan pertama pengakuan utang dilakukan dihadapan Notaris.
Rekomendasi Restatement Berdasarkan Peraturan
Apabila debitur tetap tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka ia harus mengikuti prosedur penegakan hukum yang akan dilakukan oleh pengadilan. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran dan Peraturan Pelaksananya (PP No. 51 Tahun 2002 tentang Pelayaran), dilakukan upaya untuk mengatur kembali pengenaan dan pendaftaran hipotek kapal, namun pada akhirnya mengacu kembali pada KUH Perdata dan KUH Dagang; Demikian pula dalam perubahan terakhir (UU No. 17/2008 tentang Pelayaran), pembentuk undang-undang telah menegaskan kembali kekuatan eksekutor akta grosse sebagai sarana pendukung kredit, namun telah mengubah ketentuan mengenai tata cara penagihan dan pencatatan kapal. hipotek belum selesai. Isi pengaturan mengenai masalah perbuatan bruto menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan di kalangan pengawas yang menekankan pada keamanan hak kredit, dalam hal ini jaminan terhadap kekuatan pelaksanaan perbuatan bruto yang dimiliki oleh kreditur.
Namun terdapat beberapa blunder seperti peraturan yang justru membatasi hak pemegang hak tanggungan pertama untuk melakukan penyitaan dengan cara penjualan langsung (UU No. 4/1996 tentang Hak Tanggungan). Kepastian dapat atau tidaknya dilakukannya suatu akta kasar tergantung pada kejelasan mengenai objek eksekusi yang terkandung dalam akta tersebut, baik berupa barang maupun berupa sejumlah uang yang telah ditentukan, serta cara pelaksanaannya. ini ditentukan pada saat akta. eksekusi. Perlindungan hukum bagi para pihak, baik debitur maupun kreditor, sehubungan dengan akta bruto ini seharusnya sudah diperoleh pada saat akta itu dibuat, bukan pada saat eksekusi berlangsung.
Irah yang berubah sewaktu-waktu: dari “Atas nama raja/ratu”, menjadi “Atas nama keadilan”, lalu menjadi “Demi keadilan berdasarkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa”, yang menegaskan kekuasaan dari suatu akta kotor tidak banyak berarti, sepanjang pejabat yang berwenang mengeluarkan/membuat akta/sertifikat kasar tidak menganggap wewenang yang dimilikinya sebagai sesuatu yang sakral atau pengambil kebijakan tidak berusaha menjamin hal itu dilakukan. benar.
Grosse Akte Menurut Putusan Pengadilan
Hasil Penelusuran Putusan Pengadilan
Mayoritas putusan Mahkamah Agung mengenai perbuatan kotor menunjukkan adanya kecenderungan bahwa pelaksanaan perbuatan kotor tidak dapat dilakukan. Sebelum tahun 1995, sebagian besar putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia menghasilkan putusan yang berakibat pada tidak terlaksananya akta secara bruto atau batalnya eksekusi. Ketua Pengadilan Negeri Medan paling banyak mengeluarkan perintah eksekusi terhadap permohonan eksekusi akta bruto kreditur (3 kali).
Perintah penegakan yang paling umum atas permintaan akta eksekusi kasar dikeluarkan oleh ketua pengadilan pada tahun 1992 (empat kali) dan 1983 (tiga kali). Dari statistik yurimetri juga dapat disimpulkan bahwa jika permohonan datang dari debitur, maka putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia lebih sering mengakibatkan tidak dilaksanakannya pelaksanaan bruto akta atau batalnya pelaksanaannya. Permulaan perkara Tingkat I oleh debitur – dengan tujuan menggagalkan atau membatalkan eksekusi bruto – seringkali berhasil/akhirnya dikabulkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Permulaan pengajuan perkara tingkat I oleh kreditur – dengan tujuan melaksanakan eksekusi akta secara bruto – mempunyai tingkat keberhasilan yang relatif sama di Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Analisis Putusan Pengadilan Terkait Eksekusi Grosse Akte
Eksekusi Grosse Akte
Sebagaimana diketahui, kata “perbuatan kotor” dalam hukum Indonesia terdapat pada Pasal 224 HIR dan 258 RBg. Pasal 224 HIR (258 RBg) menyatakan: “Akta hipotek bruto dan surat utang yang dibuat di hadapan (oleh) notaris di (wilayah) Indonesia…”. Dalam putusan Mahkamah Agung RI tertua mengenai perbuatan kotor yang kami temukan yaitu Putusan No.
Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam putusannya berpendapat Pasal 224 HIR bersifat membatasi: pelanggaran berat dapat dilakukan dan mempunyai kekuatan yang sama. Dalam putusan tersebut, kami berpendapat bahwa pengadilan menganggap sertifikat hipotek dan sertifikat hipotek sebagai akta hipotek bruto eks pasal 224 HIR/258 RBg. 1520 K/Pdt/1984, tanggal 31 Mei 1986, dimana Mahkamah Agung Republik Indonesia memutuskan bahwa akta perjanjian pinjaman bruto tidak dapat dilaksanakan berdasarkan ketentuan Pasal 224 HIR.
Dalam hal ini, Mahkamah Agung Republik Indonesia sebenarnya mengizinkan eksekusi bruto akta hipotek meskipun jangka waktu kreditnya belum habis. Bahwa akta pengakuan utang tersebut merupakan akta kasar yang menurut Pasal 224 HIR mempunyai kekuatan hukum sebagai putusan yang dapat dilaksanakan.
Rekomendasi Restatement Berdasarkan Putusan Pengadilan
Tentang Grosse Akte
Mencegah pelaksanaan lelang hanya dapat didasarkan atas alasan telah dilunasinya utang itu, sepanjang hal itu belum dilaksanakan oleh debitur. Akta pengakuan utang bruto tidak boleh disamakan dengan perjanjian penjaminan, perjanjian kredit atau perjanjian lainnya. Akta bruto tersebut harus dengan jelas dan pasti menyatakan jumlah utang yang harus dibayar oleh debitur kepada kreditur dan jangka waktu restitusi/pembayarannya serta dapat memuat ketentuan mengenai pembayaran denda, apabila hal itu dapat ditentukan dengan mudah.
Akta bruto itu tidak boleh memuat suatu perjanjian atau syarat-syarat lain selain kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang harus dibayar debitur kepada kreditur. Khususnya, akta-akta bruto yang dibuat oleh notaris (akta pengakuan utang bruto) harus memuat kesimpulan sebagai berikut: “Diberikan sebagai bruto pertama atas permintaan” dengan nama orang yang atas permintaannya pemberian hibah itu. 21. Akte pengakuan utang yang bruto mempunyai kekuatan yang dapat dilaksanakan (yang mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan) yang tidak tergantung pada akad pokoknya, sehingga tidak ada keraguan lagi mengenai isinya.
Jika perjanjian utama diisytiharkan rosak dan tidak sah, surat ikatan gadai janji kasar diisytiharkan tidak sah dan tidak boleh mula berkuat kuasa 23.
Eksekusi Grosse Akte
Debitur (penandatangan) menulis sendiri tanda persetujuan untuk membayar sejumlah uang atau barang yang terutang yang dapat dinilai dengan harga tertentu sebagaimana tercantum dalam akta pengakuan utang (Pasal 1878 KUHPerdata). b) Pengakuan bersalah yang berat memuat kalimat “Demi keadilan Ber.