• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 dadang suparman

N/A
N/A
VILA

Academic year: 2024

Membagikan "2 dadang suparman"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 21 PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, PENGETAHUAN DAN BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA

PEGAWAI DI CV. PERDANA MULIA DESA CARINGIN KULON KECAMATAN CARINGIN KABUPATEN SUKABUMI

H.Dadang Suparman, S.Pd.I., MM STIE Pasim Sukabumi [email protected]

ABSTRAKSI

Karyawan atau pegawai merupakan unsur terpenting dalam menentukan maju mundurnya suatu perusahaan. Untuk mencapai tujuan perusahaan diperlukan karyawan yang sesuai dengan persyaratan dalam perusahaan dan juga harus mampu menjalankan tugas-tugas yang telah ditentukan oleh perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja, pengetahuan dan beban kerja terhadap kinerja pegawai di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi. Populasi yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 120 orang, sampel yang digunakan sebanyak 55 responden. Penelitian ini menggunakan data primer, yaitu data berupa kuesioner (daftar pertanyaan) yang dibagikan kepada responden untuk diisi dan dikembalikan kepada peneliti. Data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa besarnya signifikasi F = 0.000 <  (0.05) artinya secara bersama-sama variabel variabel lingkungan kerja (X1), pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan (Y). Variabel lingkungan kerja (X1) dengan signifikansi sebesar 0,315 yang berarti secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel kinerja karyawan, variabel pengetahuan (X2) dengan signifikansi sebesar 0,006 yang berarti secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel kinerja karyawan, variabel beban kerja (X3) dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel kinerja karyawan. Dari hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa variabel beban kerja (X2) lebih besar pada nilai koefisien beta, maka variabel beban kerja (X2) merupakan variabel bebas yang dominan mempengaruhi variabel terikat yaitu kinerja karyawan di CV. Perdana Mulia.

Kata Kunci : Lingkungan Kerja, Pengetahuan, Beban Kerja, Kinerja

EFFECT OF THE WORK ENVIRONMENT, KNOWLEDGE AND WORK EXPENSE ON EMPLOYEE PERFORMANCE AT CV. PERDANA MULIA DESA CARINGIN KULON KECAMATAN CARINGIN

SUKABUMI DISTRICT

H. Dadang Suparman, S.Pd.I., MM STIE Pasim Sukabumi [email protected]

ABSTRACTION

Employees or employees are the most important in determining the forward and backward of a company. To achieve company goals required employees who are in accordance with the requirements in the company and must also be able to carry out the tasks that have been determined by the company. The purpose of this study was to analyze the effect of work, knowledge and workload on employee performance at CV. Perdana Mulia Caringin Kulon Village, Caringin District, Sukabumi Regency. The population taken in this study were 120 people, the sample used was 55 respondents.

This study uses primary data, namely data in the form of a questionnaire (list of questions) given to respondents to be filled in and returned to the researcher. The data obtained were then analyzed using Multiple Linear Regression Analysis. The results of the regression analysis show that the significance of F = 0.000 < (0.05) means that the work environment variable (X1), knowledge (X2) and workload (X3) together have an influence on employee performance (Y). Work environment variable (X1) with a significance of 0.315 which means that partially there is no significant effect on employee performance variables, knowledge variable (X2) with a significance of 0.006 which means partially significant influence on employee performance variables, workload variable (X3) with significance amounting to 0,000

(2)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 22 which means partially significant effect on employee performance variables. From the results of linear regression analysis, it is known that the workload variable (X2) is greater in the value of the beta coefficient, so the workload variable (X2) is the independent variable which dominantly affects the variables that affect employee performance at CV. Perdana Mulia.

Keywords: Work Environment, Knowledge, Workload, Performance

1. PENDAHULUAN Latar belakang

Dalam menghadapi persaingan di era global perusahaan dituntut untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Persaingan yang semakin ketat menyebabkan perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing dalam rangkamenjaga kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan merupakan salah satu organisasi yang menghimpun orang-orang yang biasa disebut dengankaryawan atau pegawai untuk menjalankan kegiatan rumah tangga produksi perusahaan. Hampir di semua perusahaan mempunyai tujuan yaitu memaksimalkan keuntungan dan nilai bagi perusahaan, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan pemilik dan karyawan.

Karyawan atau pegawai merupakan unsur terpenting dalam menentukan maju mundurnya suatu perusahaan. Untuk mencapai tujuan perusahaan diperlukan karyawan yang sesuai dengan persyaratan dalam perusahaan dan juga harus mampu menjalankan tugas-tugas yang telah ditentukan oleh perusahaan. Setiap perusahaan akan selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawannya, dengan harapan apa yang menjadi tujuan perusahaanakan tercapai.

Suatu perusahaan dikatakan berhasil apabila perusahaan tersebut mampu mencapai target dan tujuan yang diinginkan, untuk meraih apa yang diinginkan perusahaan, maka perusahaan perlu memiliki alat penggerak utama yaitu karyawan yang memiliki kinerja yang tinggi, disiplin waktu serta maksimal dalam menjalankan job desk-nya.

Dalam setiap aktivitasnya, karyawan membutuhkan pengetahuan yang banyak dan motivasi untuk dapat mencapai tujuan dari organisasi agar bekerja secara giat dan optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Selain dari pengetahuan, beban kerja, lingkungan kerja juga memiliki peran yang tak kalah penting untuk mendukung keseharian dari karyawan tersebut bekerja. Apabila lingkungan kerja yang dirasakan baik serta nyaman, maka kinerja karyawan akan meningkat, perhatian dari perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang memadai merupakan hal penting dalam peningkatan kinerja karyawannya.

Hal yang penting dalam pengelolaan sumber daya manusia adalah mengenai kinerja pegawai.

Kinerja pegawai menurut Mangkunegara (2010) adalah sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Menurut Handoko (2011:135), yaitu kinerja karyawan merupakan suatu tindakan yang dilakukan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan. Agar kinerja karyawan selalu konsisten maka setidak-tidaknya organisasi selalu memperhatikan lingkungan kerja, pengetahuan karyawan tentang pekerjaan yang mejadi tanggung jawabnya, dan beban kerja yang dapat menimbulkan stres bagi karyawan.

Tujuan mendirikan perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan yang optimal sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Dalam perkembangannya perusahaan diharapkan mengalami kemajuan, harapan yang cerah di kemudian hari merupakan salah satu dasar untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggap diperlukan pada saat sekarang. Namun dalam hal perusahaan memelihara dan mengembangkan perusahaan yang sudah didirikan merupakan suatu penerapan yang jauh lebih berat, karena akan menyangkut berbagai macam masalah yang lebih banyak dan silih berganti. Untuk menyelesaikannya maka perusahaan berusaha meningkatkan produksinya, penyusunan suatu sistem produksi yang baru yang dapat dilaksanakan dengan efektif apabila didorong dengan lingkungannya yang memuaskan perusahaan, walaupun lingkungan kerja tidak bekerja sebaga imesin dan peralatan produk yang langsung memproses bahan menjadi produk jadi, namun pengaruh dari lingkungan kerja akan terasa di dalam proses produksi yang dilaksanakan oleh perusahaan.

Lingkungan kerja dalam perusahaan mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan yang melaksanakan proses produksi di dalam perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan harus mampu memperhitungkan segala persoalan yang mempengaruhi proses kelancaran produksi secara cermat dan efisien. Salah satu caranya dengan menciptakan koordinasi yang baik berakibat penurunan serta naiknya tingkat pemborosan yang terjadi dalam perusahaan.

Manajemen SDM dan keunggulan kompetitif akan mengembangkan program-program pengembangan

(3)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 23 dan pelatihan skills, penguatan komitmen kerja, dan

penciptaan iklim kerja yang kondusif untukmemuaskan berbagai kebutuhan karyawan (Handoko, 2011: 22). Antara beberapa aspek dalam perusahaan supaya terjalin kesinambungan yang saling menguntungkan.

Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan (Nitisemito, 2002). Menurut Sudarmayanti (2007), lingkungan kerja secara garis besar dapat dibagi dua jenis antara lain lingkungan kerja fisik dan non fisik. Faktor-faktor lingkungan kerja fisik adalah pewarnaan, penerangan, udara, suara bising, ruang gerak, keamanan dan kebersihan. Sedangkan lingkungan non fisik adalah struktur kerja, tangung jawab kerja, perhatian dan dukungan pimpinan, kerja sama antar kelompok dan kelancaran komunikasi.

Lingkungan kerja fisik dalam suatu perusahaan merupakan suatu kondisi pekerjaan untuk memberikan suasana dan situasi kerja karyawan yang nyaman dalam pencapaian tujuan yang diinginkan oleh suatu perusahaan. Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit, mudah stress, sulit berkonsentrasi dan menurunnya produktivitas kerja.

Bayangkan saja, jika ruangan kerja tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan. Dalam mencapai kenyamanan tempat kerja antara lain dapat dilakukan dengan jalan memelihara prasarana fisik seperti seperti kebersihan yang selalu terjaga, penerangan cahaya yang cukup, ventilasi udara, suara musik dan tata ruang kantor yang nyaman. Karena lingkungan kerja dapat menciptakan hubungan kerja yang mengikat antara orang - orang yang ada di dalam lingkungannya (Nitisemito, 1982).

Menurut Moekijat (2005), instansi yang mempunyai lingkungan kerja yang baik dan nyaman akan memberikan motivasi bagi karyawannya untuk meningkatkan kinerjanya Selain itu kondisi kerja yang baik akan membantu mengurangi kejenuhan dan kelelahan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja karyawan.

Pengetahuan karyawan adalah segala sesuatu yang telah diketahui oleh karyawan tentang tata cara mengerjakan tugas dan tanggung jawab nya seperti halnya tentang cara pengoperasian mesin yang dijalankan untuk produksi di pabrik tersebut.

Dan untuk saling mengetahui cara menjalankan/menggunakan mesin untuk produksi antar individu agar bila ada perubahan bagian pekerjaan secara tiba-tiba maka individu tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan tempat bagian

yang baru dan tidak menimbulkan kerusakan untuk produksi yang sedang berjalan.

Usaha untuk meningkatkan kinerja karyawan, diantaranya adalah dengan memperhatikan beban kerja yang menjadi stres bagi pekerja. Stress merupakan suatu kondisi keadaan seseorang mengalami ketegangan karena adanya kondisi yang mempengaruhinya, kondisi tersebut dapat diperoleh dari dalam diri seseorang maupun lingkungan diluar diri seseorang. Stress dapat menimbulkan dampak yang negatif terhadap keadaan psikologis dan biologis bagi karyawan. Menurut Robbin (2005) stress merupakan kondisi dinamis dimana seseorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan sesuai dengan harapan dari hasil yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu. Disisi lain beban kerja yang menjadi stres bagi pekerja dapat dipengaruhi oleh masalah dalam perusahaan.

Menurut Phillip L. Rice (2009) Penulis buku Stress and Health, seseorang dapat dikategorikan mengalami stress kerja jika urusan stress yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja.

Kurang semangatnya para karyawan di Pabrik CV. Perdana Mulia ini dikarenakan kurang baiknya dari kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan para karyawan untuk menjalankan/mengoperasikan mesin - mesin yang digunakan untuk produksi dikarenakan banyak karyawan yang keluar masuk setiap bulannya dikarenakan terlalu beratnya beban pekerjaan yang di dapat dan menjadikan hanya sebagian kayawan saja yang mampu mengoperasikan mesin-mesin yang digunakan untuk produksi, dan pekerjaan yang sangat berat juga menimbulkan beban kerja yang mengakibatkan karyawan mudah stress.

Sehubungan dengan hal ini, menurut penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam. Oleh karena itu, penulis mengajukan judul proposal penelitian “Pengaruh Lingkungan Kerja, Pengetahuan Dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Pegawai di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi.”

Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah suatu cara yang ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah dengan tujuan agar masalah tersebut menjadi jelas, dari latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang akan dikaji sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh faktor lingkungan, pengetahuan, dan beban kerja secara parsial berpengaruh segnifikan terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi ?

(4)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 24 2. Bagaimana pengaruh faktor lingkungan,

pengetahuan, dan beban kerja secara simultan berpengaruh segnifikan terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi ?

3. Dari ketiga faktor, manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi ?

Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan pasti mempunyai tujuan tertentu. Tujuan merupakan arah dan fokus dari setiap kegiatan seseorang, selain itu tujuan merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan manusia serta dengan adanya tujuan manusia dalam melaksanakan aktifitasnya akan semakin jelas dan terarah, begitu juga dalam penelitian ini tentu saja tidak terlepas dari tujuan yang diharapkan. Dengan berdasarkan pada rumusan masalah yang disebutkan diatas, tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah :

1. Untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan, pengetahuan, dan beban kerja secara parsial berpengaruh segnifikan terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi.

2. Untuk mengetahui faktor lingkungan, pengetahuan, dan beban kerja secara simultan berpengaruh segnifikan terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV. Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi.

3. Untuk mengetahui faktor yang mempunyai pengaruh paling erat terhadap kinerja pegawai/karyawan di CV Perdana Mulia Desa Caringin Kulon Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi.

Kerangka Pemikiran Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan.

Karena lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan didalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baikapabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dannyaman. Oleh karena itu penentuan dan penciptaan lingkungan kerja yang baikakan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Sebaliknya apabila lingkungan kerja yang tidak baik akan dapat menurunkan motivasi

serta semangat kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja karyawan.

Indikator lingkungan kerja antara lain ; 1) Penerangan

2) Suhu Udara 3) Bising

4) Penggunaan Warna 5) Ruang Gerak 6) Keamanan Bekerja Pengetahuan

Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pengetahuan merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. Pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat - sendat.

Pemborosan bahan, waktu dan tenaga serta factor produksi yang lain akan diperbuat oleh pegawai berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi. Menurut Dale (Sudarmato, 2009 : 59) pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa dikategorikan dalam dua jenis, yaitu: pengetahuan yang didasari dan pengetahuan yang tidak didasari.

Ketika seseorang menjalani Kehidupannya dia akan mengumpulkan dan mempelajari fakta, menyaksikan peristiwa, dan mendapatkan potongan – potongan informasi lain yang kemudian ditambahkan kedalam simpanan memori dan akan diakses ketika yang bersangkutan memproses informasi baru dan / atau mempersiapkan reaksi terhadap suatu instansi atau orang lain.

Indikator pengetahuan antara lain ;

1. Pengetahuan karyawan yang baik berpengaruh terhadap teknik kerja karyawan

2. Pengetahuan karyawan tentang bidang kerja yang menjadi tugasnya menghasilkan teknik teknik penyelesaian baru

3. Kreatifitas dalam bekerja berhubungan dengan pengetahuan karyawan

4. Karyawan yang lebih banyak pengetahuan dan lebih kaya pengalaman akan lebih kreatif dalam memecahkan masalah

5. Pola pikir sistematif sangat dipengaruhi oleh baik buruknya pengetahuan karyawan

Beban Kerja

Menpan (2007:46), beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.

Sementara Komaruddin (2006:235) mengemukakan bahwa analisa beban kerja adalah proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan

(5)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 25 suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan

kata lain analisis beban kerja bertujuan untuk menentukan berapa jumlah personalia dan berapa jumlah tanggungjawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang petugas. Sedangkan menurut Permendagri No. 12/2008, beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu.

Indikator beban kerja anatar lain ; 1) Target Yang Harus Dicapai

2) Kondisi Pekerjaan 3) Standar Pekerjaan Kinerja Pegawai

Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan, secara legal tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika (Robert L. Mathis dan Jhon H.

Jackson, 2009:113).

Kinerja mempunyai banyak makna, diantaranya kinerja berasal dari kata jobperformance atau actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pagawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Performance atau kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010:71).

Sedangkan menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau kualitas sesuatu yang menghasilkan atau jasa yang memberikan oleh seseorang yang melakukan pekerjaan (Luthans, 2005:165).

Indikator kinerja pegawai, antara lain ; 1) Kuantitas kerja karyawan

2) Kualitas kerja karyawan 3) Efisiensi karyawan 4) Usaha karyawan

5) Standar profesional karyawan 6) Kemampuan karyawan 7) Ketepatan karyawan

II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL

1. Landasan Teori A. Pengertian Kinerja

Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung

jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan, secara legal tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika (Robert L. Mathis dan Jhon H.

Jackson, 2009:113).

Kinerja mempunyai banyak makna, diantaranya kinerja berasal dari kata jobperformance atau actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pagawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Performance atau kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010:71). Sedangkan menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau kualitas sesuatu yang menghasilkan atau jasa yang memberikan oleh seseorang yang melakukan pekerjaan (Luthans, 2005:165).

Kinerja merupakan prestasi kerja yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan (Dessler,2000:41). Kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan (Mangkunagara, 2010:22).

Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keselurah selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama (Rivai dan Basri, 2005:50).

Sedangkan Mathis Dan Jackson (2006:65) menyatakan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai.

Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di tempat tersebut.

Kinerja merupakan hasil kerja dari tingkah laku (Amstrong, 1999:15). Pengertian kinerja ini mengaitkan antara hasil kerja dengan tingkah laku.

Sebagai tingkah laku, kinerja merupakan aktivitas manusia yang diarahkan pada pelaksanaaan tugas organisasi yang dibebankan kepadanya.

Kualitas kerja yang dimaksud dapat diukur dari persepsikaryawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Tercapainya hasil target produksi yang sesuai dengan yang ditetapkan oleh pabrik juga dapat digunakan untuk mengukur kinerja karyawan yang baik. Sedangkan kuantitas adalah merupakan jumlah yng dihasilkan dinyatakan dalam istilah sepertijumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.

(6)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 26 Setelah melihat penjelasan-penjelasan diatas

dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja adalah prestasi kerja yang baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawabnya.

B. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan. Karena lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan didalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baikapabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dannyaman. Oleh karena itu penentuan dan penciptaan lingkungan kerja yang baikakan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Sebaliknya apabila lingkungan kerja yang tidak baik akan dapat menurunkan motivasi serta semangat kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja karyawan.

Dalam buku yang ditulis oleh Edi Sutrisno menyatakan bahwa, Lingkungan pekerjaan adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan yang ada disekitar karyawan yang melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Lingkungan kerja ini, meliputi tempat bekerja, fasilitas dan alat bantu pekerjaan, kebersihan, pencahayaan, ketenangan, termasuk juga hubungan kerja antara orang-orang yang ada di tempat tersebut. Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan. Karena Lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan di dalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.

Kondisi dan suasana lingkungan kerja yang baik akan dapat tercipta denganadanya penyusunan organisasi secara baik dan benar sebagaimana yang dikatakanoleh Sarwoto (1991) seperti dikutip Analisa (2011:21) menyatakan bahwa suasana kerja yang baik dihasilkan terutama dalam organisasi yang tersusun secara baik,sedangkan suasana kerja yang kurang baik banyak ditimbulkan oleh organisasi yang tidak tersusun dengan baik pula.

Dari pendapat tersebut dapat diterangkan bahwa terciptanya suasana kerja sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi yang ada dalam organisasi tersebut.

Dalam buku Alex S Nitisemito menjelaskan,

“Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi

dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan misalnya kebersihan, musik, dan lain- lain. Pada dasarnya pengertian lingkungan berkaitan dengan elemen-elemen yang ada disekitar perusahaan yang berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan.

Sedarmayanti (2001) seperti dikutip Analisa (2011:21) menyatakan bahwasecara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yaitu:

1. Lingkungan fisik, lingkungan fisik yakni lingkungan yang terlihat jelas misalnya (lokasi, lingkungan alam).

2. Lingkungan non fisik misalnya, landasan falsafah, informasi, politik, ekonomi, sosial, budaya.

Suasana kerja yang mendukung seperti tempat yang bersih, cahaya yang cukup terjauh dari kebisingan dan gangguan apapun akan sangat membantu karyawan dalam menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun saat lingkungan kerja gelap, kotor, bising akan sangat menggangu karyawan dalam mengerjakan tugasnya dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan menurunkan kreatifitas dari para karyawan. Tidak hanya kreatifitas yang akan turun bahkan pekerjaan yang seharusnya sudah terselesaikan akan sangat terhambat karena faktor-faktor diatas tidak terpenuhi.

Berdasarkan penjelasan di atas lingkungan kerja adalah hal yang paling dekat dengan pekerja, misalnya fentilasi udara /AC. Orang yang sedang bekerja akan merasa nyaman bila suhu udara yang ada di sekitarnya nyaman, bilakaryawan merasa kepanasan saat bekerja dia akan merasa terganggu dan akan mengurangi konsentrasi dalam bekerja.Hal ini secara langsung akan berpengaruh kepada apa yang akan dilakukan. Setiap perusahaan haruslah mengusahakan sedemikian rupa sehingga memiliki pengaruh yang positif.

Kondisi dan suasana lingkungan kerja yang baik akan dapat tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik dan benar sebagaimana yang dikatakan oleh Sarwoto bahwa suasana kerja yang baik dihasilkan terutama dalam organisasi yang tersusun secara baik, sedangkan suasana kerja yang kurang baik banyak ditimbulkan oleh organisasi yang tidak tersusun dengan baik pula.Dari pendapat tersebut dapat diterangkan bahwa terciptanya suasana kerja sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi yang ada dalam organisasi tersebut.

Sedangkan menurut Nitisemito dalam penelitian Mega Arum, Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan. Menurut Sedarmayanti dalam penelitian Mega Arum, menyatakan bahwa secara garis besar jenis lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yaitu lingkungan kerja fisik dan

(7)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 27 lingkungan kerja non fisik. Faktor-faktor

lingkungan kerja fisik adalah Pewarnaan, Penerangan, Udara, Suara bising, Ruang gerak, Keamanan dan Kebersihan.

1. Lingkungan Kerja Fisik

Sedarmayanti (2001) seperti dikutip Analisa (2011:21) menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Komarudin (2002) seperti dikutip Analisa (2011:21) mendefinisikan lingkungan kerja fisik sebagai keseluruhan atau setiap aspek dari gejala fisik dan sosial-kultural yangmengelilingi atau mempengaruhi individu.

Nitisemito (2002) seperti dikutip Analisa (2011:21) mendefinisikan lingkungan kerja fisik sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalammenjalankan tugas-tugas yang dibebankan, misalnya penerangan, suhu udara,ruang gerak, keamanan, kebersihan, musik dan lain-lain.

Lingkungan kerja fisik mempengaruhi semangat emosi kerja para karyawan Menurut Sarwono “lingkungan kerja fisik adalah tempat kerja pegawai melakukan aktivitasnya”.

Lingkungan kerja fisik mempengaruhi semangat emosi kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja karyawan.

Berdasarkan definisi tersebut bahwa lingkungan kerja fisik adalahsegala sesuatu yang ada di sekitar tempat kerja karyawan lebih banyakberfokus pada benda-benda dan situasi sekitar tempat kerja sehingga dapatmempengaruhi karyawan dalam melaksanakan tugasnya, Masalah lingkungan kerja dalam suatu organisasi sangat penting, dalam hal ini diperlukan adanya pengaturan maupun penataan faktor-faktor lingkungan kerja fisik dalam penyelenggaraan aktivitas organisasi.

2. Lingkungan Kerja Non Fisik

Sedamayanti (2011) seperti dikutip Analisa (2011:25) menyatakan bahwalingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitandengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan denganbawahan sesama rekan kerja.Lingkungan kerja non fisik ini merupakan lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan. Lingkungan kerja non fisik ini tidak kalah pentingnya dengan lingkungan kerja fisik. Semangat kerja karyawan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan kerja non fisik. Menurut Nitisemito (2001: 171) perusahan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antara tingkat atasan, bawahan, maupun yang memiliki status jabatan

yang sama di perusahaan, kondisi yang hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik dan pengendalian diri.

Membina hubungan yang baik antara sesama rekan kerja, bawahan, maupun atasan harus dilakukan karena kita saling membutuhkan. Apabila hubungan seorang karyawan dengan karyawan lain dan dengan pimpinan berjalan dengan sangat baik maka akan dapat membuat karyawan merasa lebih nyaman berada di lingkungan kerjanya. Dengan begitu semangat kerja karyawan akanmeningkat dan kinerja pun juga akan ikut meningkat.

Menurut Mangkunegara (2010: 9), untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan efektif, pimpinan perlu :

1) Meluangkan waktu untuk mempelajari aspirasi- aspirasi emosi pegawai dan bagaimana mereka berhubungan dengan tim kerja

2) Menciptakan suasanayang meningkatkatkan kreativitas.

Pengelolaan hubungan kerja dan pengendalian hubungan kerja dan pengendalian emosional di tempat kerja itu sangat perlu untuk diperhatikan karena akan memberikan dampak terhadap prestasi kerja pegawai. Hal ini disebabkan karena manusia itu bekerja bukan sebagai mesin.

Manusia mempunyai perasaan untuk dihargai dan bukan bekerja untuk uang saja.

Ada 5 aspek lingkungan kerja non fisik yang bisa mempengaruhi perilaku karyawan, yaitu (Analisa, 2011:25):

1) Struktur kerja, yaitu sejauh mana bahwa pekerjaan yang diberikan kepadanya memiliki struktur kerja dan organisasi yang baik.

2) Tanggung jawab kerja, yaitu sejauh mana pekerja merasakan bahwa pekerjaan mengerti tanggung jawab mereka serta bertanggung jawab atas tindakan mereka.

3) Perhatian dan dukungan pemimpin, yaitu sejauh mana karyawan merasakan bahwa pimpinan sering memberikan pengarahan, keyakinan, perhatian serta menghargai mereka.

4) Kerja sama antar kelompok, yaitu sejauh mana karyawan merasakan ada kerjasama yang baik diantara kelompok kerja yang ada.

5) Kelancaran komunikasi, yaitu sejauh mana karyawan merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar, baik antara teman sekerja ataupun dengan pimpinan.

Kedua jenis lingkungan kerja di atas harus selalu diperhatikan oleh organisasi. Keduanya tidak bisa dipisahkan begitu saja. Terkadang organisasi hanya mengutamakan salah satu jenis lingkungan kerja di atas, tetapi akan lebih baik lagi apabila keduanya dilaksanakan secara maksimal. Dengan begitu kinerja karyawan bisa akan lebih maksimal.

Peran seorang pemimpin benar-benar diperlukan dalam hal ini. Pemimpin harus bisa menciptakan

(8)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 28 sebuah lingkungan kerja baik dan mampu

meningkatkan kinerja karyawan.

3. Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja

Faktor - faktor lingkungan kerja fisik menurut Analisa (2011:21) adalah sebagai berikut:

1) Pewarnaan

Masalah warna dapat berpengaruh terhadap kinerja karyawan dalam melaksanakan pekerjaan, akan tetapi banyak perusahaan yang kurang memperhatikan masalah warna. Dengan adanya pengaturan hendaknya memberi manfaat pada perusahaan seperti pewarnaan pada dinding ruang kerja, sebaiknya menggunakan warna yang lembut, sehingga dapat meningkatkan semangat kerja karyawan.

2) Penerangan

Penerangan dalam ruang kerja karyawan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan semangat karyawan, sehingga mereka dapat menunjukkan hasil kerja yang baik, yang berarti bahwa penerangan tempat kerja yang cukup sangat membantu berhasilnya kegiatan- kegiatan operasional organisasi. Hal inilah yang menjadikan kenyamanan visual bagi semua karyawan, bahwa penerangan dan keseimbangan cahaya sangat penting karena akan mempengaruhi produktivitas mereka. Pencahayaan di lingkungan kerja baru disebut fektif apabila pegawai merasa nyaman secara nyaman secara visual akibat pencahayaan yang seimbang.

3) Udara

Di dalam ruangan kerja karyawan dibutuhkan udara yang cukup, dimana dengan adanya pertukaran udara yang cukup, akan menyebabkan kesegaran fisik dari karyawan tersebut. Suhu udara yang terlalu panas dapat menurunkan semangat kerja karyawan di dalam melaksanakan pekerjaan.

4) Suara bising

Suara yang berbunyi bisa sangat menganggu para karyawan dalam bekerja. Suara bising dapat merusak konsentrasi kerja karyawan, sehingga kinerja karyawan bisa menjadi tidak optimal. Oleh karena itu setiap organisasi harus selalu berusaha untuk menghilangkan suara bising tersebut atau paling tidak menekannya untuk memperkecil suara bisingtersebut. Kemampuan organisasi didalam menyediakan dana untuk keperluan pengendalian suara bising tersebut, juga merupakan salah satu faktor yang menentukan pilihan cara pengendalian suara bising dalam suatu organisasi.

5) Ruang gerak

Suatu organisasi sebaiknya karyawan yang bekerja mendapat tempat yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas. Karyawan tidak mungkin dapat bekerja dengan tenang dan

maksimal jika tempat yang tersedia tidak dapat memberikan kenyamanan. Dengan demikian ruang gerak untuk tempat karyawan bekerja seharusnya direncanakan terlebih dahulu agar para karyawan tidak terganggu di dalam melaksanakan pekerjaan, disamping itu juga perusahaan harus dapat menghindari dari pemborosan dan menekan pengeluaran biaya yang banyak.

6) Keamanan

Rasa aman bagi karyawan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja dan kinerja karyawan. Di sini yang dimaksud dengan keamanan yaitu keamanan yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan kerja fisik. Jika di tempat kerja tidak aman, karyawan tersebut akan menjadi gelisah, tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, serta semangat kerja karyawan tersebut akan mengalami penurunan. Oleh karena itu sebaiknya suatu organisasi terus berusaha untuk menciptakan dan mempertahankan suatu keadaan dan suasana aman tersebut sehingga karyawan merasa senang dan nyaman dalam bekerja.

7) Kebersihan

Lingkungan kerja yang bersih bisa menciptakan keadaan disekitarnya menjadi sehat.

Oleh karena itu setiap organisasi hendaknya selalu menjaga kebersihan lingkungan kerja. Dengan lingkungan yang bersih karyawan akan merasa senang sehingga kinerja karyawanakan meningkat.

8) Musik

Musik berpengaruh pada kejiwaan manusia seseorang, bila musik yang diperdengarkan menyenangkan akan timbul suasana gembira yang akan mengurangikelelahan dalam bekerja. Selain yang menyenangkan bagi karyawan musik yang dipilih jugaharus berdampak positif pada pekerjaan sehingga akan meningkatkan produktifitas.

C. Pengetahuan

Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pengetahuan merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. Pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat - sendat.

Pemborosan bahan, waktu dan tenaga serta factor produksi yang lain akan diperbuat oleh pegawai berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi. Menurut Dale (Sudarmato, 2009 : 59) pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa dikategorikan dalam dua jenis, yaitu: pengetahuan yang didasari dan pengetahuan yang tidak didasari.

Ketika seseorang menjalani Kehidupannya dia akan mengumpulkan dan mempelajari fakta,

(9)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 29 menyaksikan peristiwa, dan mendapatkan potongan

– potongan informasi lain yang kemudian ditambahkan kedalam simpanan memori dan akan diakses ketika yang bersangkutan memproses informasi baru dan / atau mempersiapkan reaksi terhadap suatu instansi atau orang lain. Menurut Spencer dikutip oleh Sutoto (2004:1-10), cluster pengetahuan meliputi kompetensi Analytical Thinking (AT), Conceptual Thinking (CT), Technical/Professional/Managerial Expertise (EXP).

1. Analytical Thinking (AT) adalah kemampuan memahami situasi dengan merincinya menjadi bagian – bagian kecil, atau melihat implikasi sebuah situasi secara rinci. Pada intinya, kompetensi ini memungkinkan seseorang berpikir secara analisis atau sistematis terhadap sesuatu yang kompleks.

2. Conceptual Thinking (CT) adalah memahami sebuah situasi atau masalah dengan menempatkan setiap bagian menjadi satu kesatuan untuk mendapatkan gambar yang lebih besar. Termasuk kemampuan mengidentifikasi pola atau hubungan antar situasi yang tidak secara jelas terkait ; mengidentifikasi isu mendasar atau kunci dalam situasi yang kompleks. CT bersifat kreatif, konsepsional, atau induktif.

3. Expertise (EXP) termasuk pengetahuan terkait pada pekerjaan (bisa teknikal, profesional, atau manajerial), dan juga motivasi untuk memperluas, memanfaatkan, dan mendistribusikan pengetahuan tersebut.

D. Beban Kerja

Menurut Menpan (1997:46), beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.

Sementara Komaruddin (1996:235) mengemukakan bahwa analisa beban kerja adalah proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan kata lain analisis beban kerja bertujuan untuk menentukan berapa jumlah personalia dan berapa jumlah tanggungjawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang petugas. Sedangkan menurut Permendagri No. 12/2008, beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu.

Robbins (2005:90) menyatakan bahwa positif negatifnya beban kerja merupakan masalah persepsi. Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka (Robbins,

2007:160). Persepsi terhadap beban kerja berkaitan dengan faktor atribut peran dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan persepsi terhadap beban kerja merupakan hal yang erat hubungannya dengan suatu pekerjaan, dimana individu memberikan penilaian mengenai sejumlah tuntutan tugas atau kegiatan yang membutuhkan aktivitas mental dan fisik yang harus ia selesaikan dalam waktu tertentu,apakah memiliki dampak positif atau negatif terhadap pekerjaannya.

1. Indikator Beban Kerja

Dalam penelitian ini indikator beban kerja yang digunakan mengadopsi indikator beban kerja yang digunakan dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Putra (2012:22) yang meliputi antara lain:

1) Target yang harus dicapai

Pandangan individu mengenai besarnya target kerja yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaannya, misalnya untuk menggiling, melinting, mengepak dan mengangkut. Pandangan mengenai hasil kerja yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

2) Kondisi pekerjaan

Mencakup tentang bagaimana pandangan yang dimiliki oleh individu mengenai kondisi pekerjaannya, misalnya mengambil keputusan dengan cepat pada saat pengerjaan barang, serta mengatasi kejadian yang tak terduga seperti melakukan pekerjaan ekstra diluar waktu yang telah ditentukan.

3) Standar pekerjaan

Kesan yang dimiliki oleh individu mengenai pekerjaannya, misalnya perasaan yang timbul mengenai beban kerja yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja Rodahl (1989) dalam Prihatini (2007:25), menyatakan bahwa beban kerja dipengaruhi faktor- faktor sebagai berikut:

1) Faktor eksternal yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti:

(1) Tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan pekerjaan, pelatihan atau pendidikan yang diperoleh, tanggung jawab pekerjaan.

(2) Organisasi kerja seperti masa waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.

(3) Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan kerja biologis, dan lingkungan kerja psikologis. Ketiga aspek ini disebut wring stresor.

2) Faktor internal

(10)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 30 Faktor internal adalah faktor yang berasal dari

dalam tubuh akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Reaksi tubuh disebut strain, berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Faktor internal meliputi faktor somatis (Jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan. keinginan dan kepuasan).

Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan

Lingkungan kerja merupakan penilaian mengenai suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan.

Lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan di dalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Dan hal ini sangat berpengaruh pada tujuan dari perusahaan. Selain itu karyawan yang merasa nyaman dalam bekerja senantiasa akan selalu bersikap positif dan selalu mempunyai kreativitas yang tinggi. Kenyamanan bekerja yang diterima dan dirasakan oleh seseorang pegawai akan berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh dari pekerjaannya. Dengan diperolehnya kenyamanan dari tempat dan juga keramahan antar pekerja dan hubungan dengan atasan terjalin dengan baik. Hal ini akan meningkatkan kinerja para pegawainya.

Pengaruh pengetahuan kerja terhadap kinerja karyawan

Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pengetahuan merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. Pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat.

Pemborosan bahan, waktu dan tenaga serta factor produksi yang lain akan diperbuat oleh pegawai berpengetahuan kurang.

Pengaruh Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Beban kerja artinya setiap karyawan melaksanakan tugas pekerjaan yang dipercayakan untukdikerjakan dan dipertanggungjawabkan oleh satuan organisasi atau seorang karyawan tertentu sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan sehingga efektivitas kerja akan berhasil dengan baik. Shah, et al (2011) menyatakan tekanan beban kerja dapat menjadi positif, dan hal ini mengarah ke peningkatan kinerja. Adanya penerapan beban kerja

membuat karyawan dituntut untuk mengeluarkan seluruh potensi yang dimiliki. Beban kerja yang tinggi menjadikan penilaian kinerja yang dilakukan oleh supervisor menjadi sangat penting, karena berkaitan dengan kinerja serta besaran bonus yang akan diterima karyawan. Dalam persepsi karyawan, beban kerja merupakan penilaian individu mengenai sejumlah tuntutan tugas atau kegiatan yang membutuhkan aktivitas mental misalnya untuk mengingat hal-hal yang diperlukan, konsentrasi, mendeteksi permasalahan, mengatasi kejadian yang tak terduga dan membuat keputusan dengan cepat yang berkaitan dengan pekerjaan dan kekuatan fisik untuk menggiling, melinting, mengepak dan mengangkat yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

Apabila individu tersebut memiliki persepsi yang positif maka mereka akan menganggap beban kerja sebagai tantangan dalam bekerja sehingga mereka lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun perusahaan tempat bekerja.

Sebaliknya jika persepsi negatif yang muncul maka beban kerja dianggap sebagai tekanan kerja sehingga dapat mempengaruhi kinerja individu, memiliki dampak negatif bagi dirinya maupun perusahaan tempat bekerja.

B. Kerangka Konseptual

III. METODOLOGI DAN DESAIN PENELITIAN

A. Metode Yang Digunakan

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan analisis regresi linier berganda, yaitu analisis yang melibatkan lebih dari 1 variabel bebas (independen). Analisis regresi digunakan oleh peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium) (Sugiyono, 2019).

(11)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 31 Secara umum analisis regresi linier berganda pada

dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas / bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Ghozali, 2015).

B. Operasional Variabel

Menurut Sugiyono (2019: 38) “Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentng hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya” Variabel tersebut dapat berupa variabel bebas dan terikat, adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel Independent (X)

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah sebagai berikut:

1) Lingkungan Kerja (X1)

Dalam penelitian ini persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja merupakan penilaian mengenai suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan.

Karena lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan di dalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. jenis lingkungan kerja terbagi menjadi 2 yaitu:

(1) Penerangan (2) Suhu Udara (3) Bising

(4) Penggunaan Warna (5) Ruang Gerak (6) Keamanan Bekerja 2) Pengetahuan (X2)

Dalam penelitian ini persepsi karyawan terhadap pengetahuan karyawan, Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pengetahuan merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. Pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum mempunyai pengetahuan cukup maka akan bekerja tersendat-sendat

3) Beban Kerja (X3)

Dalam penelitian ini persepsi karyawan terhadap beban kerja merupakan penilaian mengenai sejumlah tuntutan tugas atau kegiatan yang harus diselesaikan oleh karyawan CV.

Perdana Mulia dalam jangka waktu tertentu.

Indikator yang digunakan untuk melakukan analisis beban kerja diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Putra (2017) antara lain sebagai berikut:

(1) Target Yang Harus Dicapai

Pandangan individu mengenai besarnya target kerja yang diberikan untuk menyelesaikan pekerjaannya, misalnya untuk menggiling, melinting, mengepak dan mengangkut. Pandangan mengenai hasil kerja yang harus diselesaikan dalam jangka Waktu tertentu.

(2) Kondisi Pekerjaan

Mencakup tentang bagaimana pandangan yang dimiliki oleh individu mengenai kondisi pekerjaannya, misalnya mengambil keputusan dengan cepat pada saat pengerjaan barang, serta mengatasi kejadian yang takterduga seperti melakukan pekerjaan ekstra diluar waktu yang telah ditentukan.

(3) Standar Pekerjaan

Kesan yang dimiliki oleh individu mengenai pekerjaannya, Misalnya perasaan yang timbul mengenai beban kerja yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.

2. Variabel Dependent (Y)

Sering disebut sabagai variabel output, kriteria, konsekuen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Dalam penelitian ini peneliti menetapkan kinerja karyawan (Y) Sebagai variabel terikat atau dependen. Kinerja merupakan hasil kerja yang berbentuk kuantitatif maupun kualitatif yang telah dicapai oleh karyawan Dalam menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan tanggung jawab Dan standar kinerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Kinerja dalam Penelitian ini adalah penyelesaian tugas yang telah ditentukan perusahaan, Serta tolak ukur minimal kualitas kinerja yang dicapai oleh karyawan CV. Perdana Mulia.

Beberapa indikator untuk mengukur sejauh mana pegawai mencapai suatu kinerja secara individual menurut (Tsui et al, 1997 dalam Retnaningsih, 2007) adalah sebagai berikut:

1) Kuantitas kerja karyawan

Mutu dan kuantitas pekerjaan yang dilakukan karyawan CV. Perdana Mulia sesuai dengan target yang telah ditetapkan perusahaan.

2) Kualitas kerja karyawan

Karyawan CV. Perdana Mulia mampu menyelesaikan tugasnya dengan hasil yang mendekati sempurna.

3) Efisiensi karyawan

(12)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 32 Tiap sumber daya dapat dimanfaatkan dengan

baik secara maksimal oleh karyawan.

4) Usaha karyawan

Karyawan CV. Perdana Mulia dapat berusaha lebih dengan lebih keras daripada yang seharusnya diharapkan oleh perusahaan.

5) Standar profesional karyawan

Karyawan CV. Perdana Mulia memegang standar professional dan tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan.

6) Kemampuan karyawan

Karyawan mempunyai kemampuan yang baik dalam menyelesaikan pekerjaannya.

7) Ketepatan karyawan

Karyawan CV. Perdana Mulia dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat dan mempunyai kreativitas tinggi.

No Variabel Indikator Skala 1 Lingkungan

Kerja Penerangan Ordinal

Suhu Udara Bising

Penggunaan Warna Ruang Gerak Keamanan Bekerja

2 Pengetahuan Teknikal Ordinal Kreatif

Berpikir Sistematis

3 Beban Kerja Kondisi Pekerjaan Ordinal Target yang harus

dicapai

Standart pekerjaan 4 Kinerja

Karyawan

Kuantitas kerja karyawan

Ordinal Kualitas kerja

karyawan

Efisiensi karyawan Usaha karyawan Standar profesional karyawan

Kemampuan karyawan

Ketepatan karyawan

C. Teknik Sampling Populasi

Populasi dan sampel diperlukan dalam sebuah penelitian untuk mengumpulkandata dari variabel yang diteliti. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2019:29). Populasi penelitian ini adalah karyawan di CV. Perdana Mulia. Yang berjumlah 120 orang.

Sampel

Sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti.Sampel merupakan sebagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang relative sama dan dianggap bisa mewakili populasi (Sugiyono, 2019:29).

Adapun ukuran sampel yang akan diteliti dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan datanya sesuai dengan jumlah populasi yang disebutkan di atas, yaitu berjumlah 120 orang sedangkan penetapan jumlah sampel yang dilakukan dengan menggunakan rumus dari Slovin, yang diambil dari buku Wiratna Sujarweni (2014:16) yaitu sebagai berikut :

n = N / ( 1 + N.(e)² ) Dimana : n = Ukuran sampel

N = Ukuran populasi

E = Tingkat kesalahan dalam memilih anggota sampel yang ditolelir (tingkat kesalahan yang diambil dalam sampling ini adalah sebesar 10%)

maka : n = 120 / ( 1 + 120.(10%)² )

= 120 / ( 1 + 120.(0,1)² )

= 120 / ( 1 + 120.(0,01) )

= 120 / (1 + 1,2 ) = 120 / 2,2

= 54,5 dibulatkan menjadi 55 n = 55

Berdasarkan perhitungan diatas maka penulis menetapkan anggota sampel penelitian (n) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 55 responden.

D. Teknik Pengumpulan Dan Analisis Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala likert, yaitu skala yang meminta responden menunjukkan tingkat setuju atau tidak setuju dalam pertanyaan tentang stimulus obyek :

STS = Sangat Tidak Setuju , skor = 1 TS = Tidak Setuju , skor = 2 TP = Tidak Pasti , skor = 3 S = Setuju , skor = 4 SS = Sangat Setuju , skor = 5 2. Teknik Analisis data

Analisis Regresi Berganda

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis regresi berganda dengan maksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya)

(13)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 33 variabel dependen, bila dua variabel independent

sebagai prediktor di manipulasi (dinaik turunkan nilainya).

Adapun persamaan umum regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :

Y = α + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Dimana : Y = Subyek dalam variabel yang di prediksi (kinerja pegawai)

a = Harga Y bila X = 0 ( harga konstan ) b = Angka arah atau koefisien regresi, yang

menunjukkan angka peningkatan atau penurunan variabel independent. Bila b ( + ) maka naik, dan bila b (-) maka terjadi penurunan.

X1 = Subyek pada variabel independent yang mempunyai nilai tertentu (lingkungan kerja).

X2 = Subyek pada variabel independent yang mempunyai nilai tertentu (pengetahuan).

X3 = Subyek pada variabel independent yang mempunyai nilai tertentu (beban kerja).

Melakukan Uji F (serempak)

Pengujian hipotesis yaitu dengan melakukan uji F (uji serempak), uji F digunakan untuk melihat atau menguji pengaruh tiap-tiap variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Berikut adalah langkah-langkah pengujiannya :

1. Menentukan Formulasi Hipotesis 1) H0 = β1 = β2 = β3

Artinya variabel lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y).

2) H1 ≠ β1 ≠ β2 ≠ β3

Artinya variabel lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y).

3) Taraf Signifikansi

Pada penelitian ini, taraf signifikansi yang dipilih sebesar 95% atau (α = 5%).

2. Penarikan Kesimpulan

Apabila nilai Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel atau nilai signifikan F lebih kecil 0,05 maka H0 di tolak dan H1 diterima artinya lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y).

Apabila Fhitung lebih kecil dari nilai Ftabel atau nilai signifikan lebih besar 0,05 maka H0 diterima dan Hi di tolak artinya lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y).

Melakukan Uji t (Parsial)

Uji t dilakukan untuk menguji tingkat signifikasi pengaruh secara parsial lingkungan kerja

(X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) terhadap kinerja pegawai (Y).

Uji t juga dipergunakan untuk menentukan bagian dari variabel lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai (Y).

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menentukan hipotesa

(1) Ho: b1 = 0, artinya bahwa variabel bebas (X) tidak ada pengaruh secara parsial terhadap veriabel terikat (Y).

(2) Ho: b1 ≠ 0, artinya bahwa variabel bebas (X) ada pengaruh secara parsial terhadap veriabel terikat (Y).

2) Menentukan taraf signifikansi

Taraf signifikansi menggunakan 0.05 (α =5%) 3) Menentukan derajat bebas (df)

Derajat bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah df = n – k – 1, dimana n = jumlah pengamatan, k = jumlah variabel dalam penelitian.

4) Menentukan t hitung

Perhitungan uji t dilakukan dengan rumus:

b − B t hitung =

Sb Keterangan :

b = Koefisien regresi parsial sampel B = Koefisien regresi parsial populasi Sb = Standart error Koefisien regresi sampel

Kriteria pengujian sebagai berikut :

(1) Ho diterima jika t tabel, ≤ thit ≤ ttabel (tidak ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat).

(2) Ho ditolak jika thit > t tabel, atau thit < ttabel (ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat).

Menentukan variabel dominan

Untuk mengetahui variabel yang dominan pengaruhnya diantara lingkungan kerja (X1) pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) terhadap kinerja pegawai (Y).dilakukan dengan melihat nilai koefisien beta yang terbesar atau tertinggi. Variabel yang mempunyai koefisien beta terbesar merupakan salah satu variabel bebas (X) yang dominan pengaruhnya terhadap variabel terikat (Y).

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 1. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi adalah satu metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh dua atau lebih variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Dalam penelitian ini analisis regresi

(14)

JURNAL EKONOMI STIE PASIM SUKABUMI 34 digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel

lingkungan kerja (X1), pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) terhadap kinerja karyawan (Y) CV. Perdana Mulia. Hasil uji SPSS untuk persamaan regresi adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) .275 .674 .409 .685

Lingkungan Kerja

(X1) -.183 .181 -.175 -1.014 .315

Pengetahuan (X2) .524 .184 .387 2.853 .006 Beban Kerja (X3) 1.091 .182 .774 5.982 .000 a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan (Y)

Persamaan regresi yang dihasilkan dari tabel di atas adalah sebagai berikut :

Y = 0.275 + -0.183 X1 + 0.524 X2 + 1.091 X3 + e Y = : Konstanta sebesar 0.275 dapat

diartikan sebagai besaran kinerja karyawan (Y) di CV. Perdana Mulia apabila tanpa dipengaruhi oleh variabel lingkungan kerja (X1), pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3).

X1 = -0.183 : Merupakan nilai koefisien regresi variabel variabel lingkungan kerja (X1) yang menunjukkan bahwa apabila ada penambahan mengenai variabel lingkungan kerja sebesar satu satuan maka berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan sebesar -0.183. Hal ini bisa terjadi apabila variabel pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) dianggap konstan. Hal ini berarti bahwa apabila ada perubahan mengenai lingkungan kerja maka akan berpengaruh terhadap Kinerja karyawan di CV. Perdana Mulia.

X2 = 0.524 : Merupakan nilai koefisien regresi variabel pengetahuan (X2) yang menunjukkan bahwa apabila ada penambahan pada variabel pengetahuan sebesar satu satuan maka berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan sebesar 0.524.

Hal ini bisa terjadi apabila lingkungan kerja (X1) dan beban kerja (X3) dianggap konstan. Hal ini berarti bahwa apabila ada perubahan pada pengetahuan maka akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di CV. Perdana Mulia.

X3 = 1.091 : Merupakan nilai koefisien regresi variabel beban kerja (X3) yang menunjukkan bahwa apabila ada penambahan pada variabel beban kerja sebesar satu satuan maka berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan sebesar 1.091.

Hal ini bisa terjadi apabila variabel lingkungan kerja (X1) dan pengetahuan (X2) dianggap konstan. Hal ini berarti bahwa apabila ada perubahan pada beban kerja maka akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di CV.

Perdana Mulia.

2. Pengujian Hipotesis

Pengujian secara simultan dengan uji F (F test)

Tabel 4.2 Uji F

ANOVAb Model

Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression 1016.557 3 338.852 390.283 .000a Residual 44.279 51 .868

Total 1060.836 54

a. Predictors: (Constant), Beban Kerja (X3), Pengetahuan (X2), Lingkungan Kerja (X1)

b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan (Y)

Adapun hasil pengujian secara simultan sebagaimana pada tabel hasil analisis regresi menunjukkan bahwa besarnya signifikasi F = 0.000 <  (0.05). Dengan demikian dikatakan ada pengaruh. Artinya secara bersama-sama variabel variabel lingkungan kerja (X1), pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan (Y). Hal ini berarti bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh 3 variabel yaitu variabel lingkungan kerja (X1), pengetahuan (X2) dan beban kerja (X3) di CV. Perdana Mulia.

Koefisien Determinasi (R2)

Merupakan nilai yang menunjukkan besarnya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).

Tabel 4.3 Koefisien determinasi

Model Summary

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dikarenakan terdapat beberapa indikator kinerja yang melebihi target dan terdapat juga beberapa indikator kinerja yang kurang dari target (standar indikator). Nilai kinerja

Hal ini dikarenakan terdapat beberapa indikator kinerja yang melebihi target dan terdapat juga beberapa indikator kinerja yang kurang dari target (standar indikator). Nilai kinerja

Indikator variabel kinerja pegawai menurut Mangkunegara (2015) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang

Selanjutnya variabel efektivitas kerja pegawai (Kuantitas kerja) : pada indikator menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang ditetapkan diperoleh hasil jawaban

Melati (2011) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pegawai. Berikut adalah beberapa indikator-indikator yang

Dalam kinerja pegawai di Dinas Pekerjaan Umum memperhatikan beberapa indikator kinerja yaitu, Tujuan menunjukkan arah kemana kinerja harus dilakukan, Standar

Hal ini dikarenakan terdapat beberapa indikator kinerja yang melebihi target dan terdapat juga beberapa indikator kinerja yang kurang dari target (standar indikator). Nilai kinerja

Dokumen ini menjelaskan komponen Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yang mencakup Rencana Hasil Kerja (RHK), Indikator Kinerja Individu, dan Target, serta proses Dialog Kinerja untuk memastikan ekspektasi dan target kinerja