• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. malam selawe 132 149

N/A
N/A
Safira Agustina

Academic year: 2024

Membagikan "2. malam selawe 132 149"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Tradisi Malam Selawe di Gresik Jawa Timur dalam perspektif Urf

Moch. Chanif Hendi Wijaya1, Naufal Ali Jinnah2, Zahrotul Jannah31-3 Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Ampel Surabaya,

Indonesia

*Corresponding Author: [email protected]

Abstract: In Gresik, East Java, there is a unique tradition every month of Ramadan, namely the selawe night tradition. There is a debate among scholars because this tradition is considered to confuse local culture with Islamic teachings. Therefore, this study aims to describe the tradition of night selawe in Gresik Regency from an urf perspective. This research is a field research conducted in Gresik, East Java. Data collection was carried out through interviews and observations. This research is also supported by data from literature, such as books, documents, and articles related to the Selawe night tradition. The collected data were then analyzed descriptively to provide an in-depth picture of the practice of night selawe according to urf. This study concludes that the tradition of the night of selawe that takes place in Gresik during Ramadan has been a cultural heritage since the time of Sunan Giri. This tradition is carried out on the 25th night of Ramadan by holding iktikaf activities and reading the Qur'an at the mosque to get the blessings of the night of Lailatul Qadar. In addition, this tradition is closely related to the milkfish market, a competition event that presents the largest milkfish that depicts the livelihood of the local people as fishermen. This tradition does not contradict urf, because this tradition is a local ritual with positive values such as gratitude, blessings, and togetherness. This tradition does not contradict Islamic principles because it does not cover the elements of shirk and superstition.

Keywords: Tradition, Selawe Night, Ramadhah, Urf.

Abstrak: Di Gresik Jawa Timur terdapat tradisi unik pada setiap bulan Ramadhan yaitu tradisi malam selawe. Terdapat perdebatan di kalangan ulama karena tradisi ini dianggap mencampuradukkan budaya lokal dengan ajaran Islam. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi malam selawe di Kabupaten Gresik dalam perspektif urf. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan di Gresik, Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan. Penelitian ini juga didukung data dari kepustakaan, seperti buku, dokumen, dan artikel yang berkaitan dengan tradisi malam selawe. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran mendalam tentang praktik malam selawe menurut urf. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi malam selawe yang berlangsung di Gresik selama bulan Ramadhan merupakan warisan budaya sejak zaman Sunan Giri. Tradisi ini dilaksanakan pada malam ke 25 bulan Ramadhan dengan mengadakan kegiatan iktikaf dan membaca Al- Qur'an di masjid dengan tujuan mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar. Selain itu, tradisi ini erat kaitannya dengan pasar bandeng, sebuah acara perlombaan menyajikan bandeng terbesar yang menggambarkan mata pencaharian masyarakat setempat sebagai nelayan. Tradisi ini tidak bertentangan dengan urf, karena tradisi ini merupakan ritual lokal yang memiliki nilai-nilai positif seperti

(2)

VOLUME 5, NOMOR 2, APRIL 2024

ISSN (PRINT): 2775-1333, ISSN (ONLINE): 2774-6127

(3)

rasa syukur, keberkahan, dan kebersamaan. Tradisi ini tidak bertentangan dengan prinsip Islam karena tidak mengandung unsur syirik dan takhayul. Kata Kunci: Tradisi, malam selawe, Ramadhah, urf.

Pendahuluan

Dalam bulan suci Ramadhan terdapat berbagai tradisi yang berkembang, baik di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. 1 Tradisi merupakan suatu adat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat yang dilakukan secara turun menurun.2 Tradisi berasal dari Bahasa Inggris traditio (meneruskan), atau dari bahasa latinnya traditium, yang artinya segala sesuatu yang diwariskan mulai masa lampau hingga saat ini, yang dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.3 Di Indonesia juga masih banyak tradisi yang mana sampai saat ini dilestarikan dalam bulan suci Ramadhan, seperti tradisi malam selawe yang ada di kota Gresik. 4 Gresik merupakan sebuah kota yang berada di provinsi Jawa Timur, dan sering disebut dengan “kota wali” sebab disana terdapat 2 makam dari

Sembilan Wali yang menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa, yang dikenal dengan sebutan “Wali Songo”. Makam Wali tersebut yakni Makam Maulana Malik Ibrahim yang terletak di tengah pusat alun-alun kota, tepatnya

1 Nur Lailatul Musyafa’ah, “Maqashid, Muslim Devotion and Ramadhan Tradition in Pandemic Times,” Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundangan- Undangan, Dan Ekonomi Islam 13, no. 2 (2021): 152, https://doi.org/10.32505/jurisprudensi.v13i2.2362.

2 Laras Shesa, Oloan Muda Hasim Harahap, and Elimartati, “Eksistensi Hukum Islam Dalam Sistem Waris Adat Yang Dipengaruhi Sistem Kekerabatan Melalui Penyelesaian Al-Takharujj,” Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam 6, no. 1 (2021): 146, https://doi.org/10.29240/jhi.v6i1.2643.

3 Karmila P. Lamadang and Babang Robandi, “Kajian Empiris Pendidikan Dalam Latar Peristiwa (Studi Kasus Pada Masyarakat Tradisional Di Desa Kwalabesar),” Formosa Journal of Applied Sciences 1, no. 2 (2022): 111, https://doi.org/10.55927/fjas.v1i2.805.

4 D Ariestadi et al., “Multicultural Identity Engineering and Historical Multi-

Ethnich City in Gresik: Socio-Cultural Analysis Communal Space,”

International Journal of Advanced Research in Engineering and Technology (IJARET) 11, no. 4 (2020): 405–15,

http://www.iaeme.com/IJARET/index.asp405Availableonlineathttp://www.ia eme.com/IJARET/issues.asp?JType=IJARET&VType=11&IType=4http://w ww.iaeme.com/IJARET/index.asp406http://www.iaeme.com/IJARET/issues.

asp?JType=IJARET&VType=11&IType=4.

(4)

134 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

di Jalan KH. Zubair atau dikenal dengan kampung Arab dan Makam Raden Paku atau biasa dikenal dengan sebutan Sunan Giri.5

Di kota Gresik tepatnya di kawasan desa Giri kecamatan Kebomas kabupaten Gresik terdapat berbagai tradisi yang masih dilakukan warga setempat yang berlangsung pada bulan suci Ramadhan. Di bulan suci Ramadhan terdapat malam mulia yang yang mana lebih baik dari seribu bulan yakni malam lailatul qadar,6 malam ini jatuh pada 10 malam terakhir tepatnya pada malam- malam ganjil.7 Di malam ke 25 yang bertepatan pada malam lailatul qadar terdapat tradisi unik yang masih dilestarikan sampai saat ini di Gresik dan dikenal dengan nama malam selawe.8 Meski malam selawe dilaksanakan untuk menyemarakkan bulan Ramadhan dan agar mendapat keberkahan lailatul qadar, namun tidak semua ulama setuju dengan tradisi tersebut. Di antaranya dalam tradisi malam selawe terdapat keterkaitan dengan pasar bandeng. Tradisi tersebut dianggap bid’ah karena dianggap tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan termasuk mencampur adukkan budaya setempat dengan ajaran Islam. Karena itu artikel ini membahas tentang tradisi malam selawe dalam perspektif urf.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Gresik Jawa Timur. Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk menggali dan menemukan fakta-fakta yang terjadi di lapangan, baik dengan wawancara maupun pengamatan.

Wawancara dilakukan kepada warga Gresik yang terdiri dari tokoh Masyarakat, juru kunci makam, penduduk dan pedagang. 9 Sumber data sekunder

5 H Fauziah, “Strategi Pengembangan Wisata Religi Di Kabupaten Gresik (Study

Kasus Pada Makam Maulana Malik Ibrahim Dan Makam Sunan Giri),”

PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik (e- ISSN: 2797-0469) 1, no. 1 (2021):

14, https://aksiologi.org/index.php/praja/article/download/41/25.

6Ridwan, “Pattani Central Mosque in Southern Thailand as Sanctuary from Violence,” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies 4, no. 2 (2014): 221, https://doi.org/10.18326/ijims.v4i2.213-232.

7 Maulana Dwi Kurniasih, Dyah Ayu Lestari, and Ahmad Fauzi, “Hikmah Penurunan Al-Qur’an Secara Berangsur,” Mimbar Agama Budaya 37, no. 2 (2020): 11–20, https://doi.org/10.15408/mimbar.v37i2.18914.

8 Rahma nur Hakiki and MPSDM Sri Dwiyanti, S.Pd, “Upaya Menarik Minat

Wisatawan Religi Terhadap Tata Rias Pengantin Giri Sekar Kedaton Gresik,”

Jurnal Tata Rias 09, no. 2 (2020): 276,

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata-

(5)

rias/article/view/34269.

9 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jkarta: UI Press, 2012).

(6)

136 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

merupakan data yang didapat dari kepustakaan yang diambil dari buku, dokumen, maupun artikel yang berkaitan dengan tradisi malam selawe. Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis secara deduktif dengan teori urf.

Ragam Budaya Masyarakat Muslim dalam Merayakan Ramadhan

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum yang sangatlah ditunggu oleh seluruh umat muslim yang ada di dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Pada bulan Ramadhan ini, seluruh umat muslim diwajibkan untuk melakukan suatu amalan yakni berpuasa.10 Pada saat berpuasa di bulan Ramadhan kita diharuskan untuk menahan segala sesuatu seperti menahan lapar, dahaga dan juga menahan hawa nafsu.11 Di Indonesia, umat muslim berpuasa selama 12 jam dimulai dari matahari terbit hingga matahari tenggelam. Dalam waktu yang sama umat muslim di dunia juga melakukan puasa, namun lama waktu untuk berpuasa tidak sama dengan Indonesia, hal ini disebabkan oleh perbedaan letak geografis.12 Perbedaan tata letak tersebut yang menjadi salah satu faktor lamanya kurun waktu untuk menahan diri dari makan dan minum pada bulan Ramadhan.

Bulan Ramadan merupakan salah satu bulan suci dalam agama Islam. Ia merupakan periode yang istimewa dan penuh makna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama bulan ini, umat Islam berpartisipasi dalam praktik ibadah yang mendalam, memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT, dan berupaya meningkatkan kesadaran diri serta perilaku mereka. Namun, Ramadan tidak hanya tentang puasa dan ibadah semata, tetapi juga

10 Zahra Alghafli et al., “A Qualitative Study of Ramadan: A Month of Fasting, Family, and Faith,” Religions 10, no. 2 (2019): 1–15, https://doi.org/10.3390/rel10020123.

11Mourad Touzani and Elizabeth C. Hirschman, “Cultural Syncretism and Ramadan Observance: Consumer Research Visits Islam,” Advances in Consumer Research 35 (2008): 374–80.

12Ahmad Abdul Ngazis, “Tradisi Padusan Jelang Puasa Ramadhan Di Desa Duduwetan Kecamatan Grabang Kabupaten Purworejo (Studi Pandang Tokoh Adat Dan Tokoh Agama Islam)” (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2023); Kolsoom Safari, Tiran Jamil Piro, and Hamdia Mirkhan Ahmad,

“Perspectives and Pregnancy Outcomes of Maternal Ramadan Fasting in the Second Trimester of Pregnancy,” BMC Pregnancy and Childbirth 19, no. 1 (2019): 1–10, https://doi.org/10.1186/s12884-019-2275-x.

(7)

tentang beragam tradisi yang menghiasi bulan tersebut dengan kekayaan budaya, sosial, dan spiritual. 13 Dalam makalah ini, kita akan mengeksplorasi tradisi-tradisi yang terjadi selama bulan Ramadan, menggali makna, asal-usul, serta dampak sosial dan spiritualnya14.

Di banyak negara di luar negeri, Ramadhan menjadi waktu yang dinanti-nantikan, bukan hanya oleh umat Muslim tetapi juga oleh masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam tentang kekayaan dan makna agama Islam. Momen ini sering kali diwarnai dengan perayaan berbagai tradisi lokal yang memperkaya pengalaman Ramadhan dengan keanekaragaman budaya. Pergeseran waktu berbuka puasa, durasi hari yang panjang atau pendek, dan perbedaan dalam pendekatan terhadap ibadah adalah beberapa aspek yang menandai Ramadhan di luar negeri.

Tantangan utama yang dihadapi oleh umat Muslim yang tinggal di negara-negara non-Muslim adalah penyesuaian dengan jadwal waktu berbuka puasa dan imsak yang mungkin berbeda secara signifikan dengan negara asal mereka. Di beberapa belahan bumi, terutama di daerah kutub atau di negara-negara yang memiliki perbedaan signifikan antara siang dan malam selama musim panas, umat Muslim dihadapkan pada hari yang sangat panjang atau sebaliknya, hari yang sangat pendek. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri dalam menjalankan ibadah puasa, dan umat Muslim di luar negeri sering harus mencari solusi kreatif untuk mengatasi situasi ini. Tantangan bulan Ramadhan di luar negeri juga membawa kegembiraan tersendiri. Perayaan berbuka puasa dan sahur bersama menjadi momen kebersamaan yang memperkuat tali persaudaraan antarumat Muslim, terlepas dari latar belakang etnis, budaya, atau bahasa. Banyak komunitas Muslim di luar negeri mengadakan acara- acara sosial dan keagamaan yang bertujuan untuk menyatukan umat

13 Bibi Zaynab Toorabally and Mohammad Taahir Toorabally, “A Narrative

Review of Food Culture and Eating Behaviors among Mauritian Muslims during the Fasting Month of Ramadan: The Need for Nutrition Education.,”

Journal of Fasting & Health 5, no. 3 (2017):

129–32,

http://10.0.86.22/jfh.2017.26142.1096%0Ahttps://proxy.lib.ohio-

state.edu/login?url=https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=

a9h&AN=132234818&site=ehost-live.

14Moh Nur Hakim, Islam Traditisional Dan Reformasi Pragmatisma Agama Dalam Pemikiran Hasan Hanafi (Malang: Bayu Media Publishng, 2003); Randy. Prasetyo,

(8)

138 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

“Program Customer Relationship Management Dalam Meningkatkan Loyalitas Pelanggan,” 2013, 27–49.

(9)

Muslim dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. Selain itu, Ramadhan juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk berbagi kekayaan tradisi mereka dengan masyarakat setempat, memperkenalkan keunikan kuliner, seni, dan nilai-nilai kultural Islam.15

Dalam konteks keberagaman budaya yang semakin mendalam di banyak negara, Ramadhan di luar negeri membawa makna yang lebih luas. Ia menjadi jendela ke dalam nilai-nilai universal tentang kesabaran, kasih sayang, dan solidaritas, yang dapat menyatukan umat manusia di tengah perbedaan.

Ramadhan di negara-negara non-Muslim adalah contoh nyata bagaimana agama dapat menjadi sumber kekuatan untuk membangun jembatan antarbudaya, memperkuat toleransi, dan memupuk pengertian bersama di antara berbagai komunitas.

Dengan demikian, Ramadhan di luar negeri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga perwujudan nilai-nilai universal yang dapat menyatukan seluruh umat manusia dan juga ramadhan di luar negeri adalah perpaduan yang indah antara keberagaman budaya, tantangan unik, dan semangat beribadah. Di tengah lingkungan yang berbeda, umat Muslim memelihara tradisi dan nilai-nilai agama mereka sambil merayakan keberagaman budaya Islam. Perbedaan waktu iftar, tantangan dalam memelihara tradisi, dan upaya membangun dialog antaragama menjadi bagian integral dari pengalaman Ramadhan. Namun, melalui semangat solidaritas, kerukukunan, dan toleransi antar umat beragama bisa tercapai dan menghasilkan kehidupan yang tentram, damai, dan menyenangkan.16

Konsep Urf dalam Hukum Islam

Dalam kajian ushul fiqh, terdapat teori urf sebagai bagian dari sumber hukum Islam.17 Di setiap daerah terdapat kebiasaan yang biasa dilakukan masyarakat. Kebiasaan tersebut dalam hukum

15 N, Sulasman, and Supendi, “Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung Di

Bulan Ramadan Tahun 1990-2000.”

16Fahruddin Ali Sabri, “Method of Takhshîsh with Al-‘Urf and Its Presence in Madura’s Traditional Rule,” KARSA: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman 24, no.

1 (2016): 158, https://doi.org/10.19105/karsa.v24i1.1011.

17 Andriyaldi, “Al-’Urf Theory and Its Relevance to Contemporary Jurisprudence Issues,” Al Hurriyah: Jurnal Hukum Islam 6, no. 2 (2021): 118,

(10)

140 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

https://doi.org/DOI : 10.30983/alhurriyah.v6i2.4784.

(11)

Islam dikenal dengan istilah urf.18 Karena itu, urf dijadikan sebagai salah satu metode istinbath hukum untuk menjawab permasalahan yang terjadi di Masyarakat.19

Urf berasal dari kata ‘arafa yang mempunyai derivasi kata Al ma’ruf yang berarti sesuatu yang dikenal atau diketahui.

Sedangkan urf menurut bahasa adalah kebiasan yang baik.20 Adapun pengertian urf adalah sesuatu perbuatan atau perkataan dimana jiwa merasakan suatu ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiaannya. Menurut fuqaha, urf adalah segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan masyarakat dan dilakukan terus-menerus, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka dapat dipahami, urf adalah perkataan atau perbuatan baik yang telah populer dan dikerjakan oleh orang banyak dalam masyarakat. Artinya urf merupakan kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang-ulang oleh masyarakat.21

Dalam sejarah hukum Islam, urf sudah terlaksana dengan baik. Bukti menunjukkan beberapa urf pada masa sebelum Nabi Muhammad diadopsi dalam agama Islam. Rasulullah beberapa kali menetapkan adat-adat Arab yang sudah berkembang secara turun temurun dari nenek moyang mereka, yang dalam hadis dikenal dengan istilah sunnah taqririyah. 22 Ini artinya sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam, Nabi saw lebih mengakomodasi urf yang ada di Arab. Nabi Saw. sadar bahwa urf ini tidak seketika dapat dihapuskan, namun justru malah dijadikan penguat ajaran Islam dengan melegalkannya.23

18Sulfan Wandi Sulfan Wandi, “Eksistensi Urf Dan Adat Kebiasaan Sebagai Dalil Fiqh,” SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam 2, no. 1 (2018): 182, https://doi.org/10.22373/sjhk.v2i1.3111.

19Afiq Budiawan, “Tinjauan Al Urf Dalam Prosesi Perkawinan Adat Melayu Riau,”

Jurnal An-Nahl 8, no. 2 (2021): 116, https://doi.org/10.54576/annahl.v8i2.39.

20 Khikmatun Amalia, “‘Urf Sebagai Metode Penetapan Hukum Ekonomi Islam,” As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan 9, no. 1 (2020):

77, https://doi.org/10.51226/assalam.v9i1.187.

21 Fitra Rizal, “Penerapan ‘Urf Sebagai Metode Dan Sumber Hukum Ekonomi Islam,” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam 1, no. 2 (2019): 155–

76, https://doi.org/10.37680/almanhaj.v1i2.167.

22 Sri PUji Lestari, “Tinjauan ’Urf Terhadap Praktik Ngelangkahi Di Desa Bawu Batealit Jepara,” Isti’dal: Jurnal Studi Hukum Islam 7, no. 1 (2020): 129.

23 Noor Harisudin, “Urf Sebagai Sumber Hukum Islam,” Jurnal Al-Fikr 20 (2016):

69.

(12)

142 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

Menurut Abdul Karim pola rekruitmen adat-istiadat atau tradisi masyarakat Arab ke dalam hukum Islam mengambil tiga pola. Pertama, syariah mengambil sebagian tradisi itu dan membuang sebagian yang lain. Kedua, Islam mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain dengan melakukan penambahan dan pengurangan sana-sini. Ketiga, Islam mengadopsinya secara utuh tanpa ada perubahan bentuk dan identitasnya. Ketiga pola ini tidak mengganggu pada bentuk, prinsip dan isi syariah Islam secara umum.24

Terdapat dalil yang memperbolehkan umat Islam untuk melakukan urf atau kebiasaan masyarakat yang dilakukan terus menerus dan turun temurun dalam waktu yang lama dan biasanya itu sudah dilakukan beratus-ratus tahun bahkan sejak jaman nenek moyang suatu masyarakat. Berikut dalil-dalil yang digunakan untuk melakukan urf:

1. Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 199:

خ ُ ذ ِ لَْعْفَ ا َ و و مْ أْ

ر

بلْعْ

ِ ر َ ف ْ واَ

عِ

ْ ر َ ض ِ ع ن ْلِْٰ ا لِْ َ ه ي

“Dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Allah menyuruh supaya kita menggunakan urf. Kata urf dalam ayat di atas dimaknai dengan suatu perkara yang dinilai baik oleh masyarakat. Ayat tersebut dapat dipahami sebagai perintah untuk mengerjakan sesuatu yang telah dianggap baik sehingga menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Seruan ini didasarkan pada pertimbangan kebiasaan yang baik dan dinilai berguna bagi kemaslahatan mereka.25

2. Hadis Nabi

Begitu juga dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya:

“Segala sesuatu yang dipandang oleh (orang-orang Islam) umum itu baik maka baik pulalah di sisi Allah dan segala sesuatu yang dipandang oleh (orang-orang Islam) umum itu jelek, maka jelek pulalah di sisi Allah”.

Selain itu Rasulullah dalam beberapa kebijakannya, tetap memperhatikan kebiasaan masyarakat untuk menentukan hukumnya. Seperti dalam menentukan bai’ al-salam, nabi

(13)

bersabda “Barang siapa memesan (sesuatu), maka hendaknya ia memesannya

24 Harisudin, “Urf Sebagai Sumber Hukum Islam.”

25 Rizal, “Penerapan ‘Urf Sebagai Metode Dan Sumber Hukum Ekonomi Islam.”

(14)

144 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

dengan takaran dan timbangan tertentu, dan dalam jangka waktu tertentu (HR. Bukhari dan Muslim).” Hadis ini memberikan justifikasi atas rekrutmen bay’ salam masyarakat pra-Islam. Hal ini menunjukkan citra Islam sebagai agama yang mudah dan tidak memberatkan. Sebab, Islam memandang jenis transaksi ini telah menjadi kebutuhan masyarakat umum dan sangat sulit dihilangkan. Jika diharamkan, maka kaum Muslimin akan mengalami kesulitan dan kesusahan.26

3. Terdapat tiga alasan penguat yang mendasari urf

Pertama, apa yang dipraktekkan Nabi dimana haji dan umrah umat Islam masih tetap melanjutkan jauh sebelum Islam datang seperti talbiyah, ihram, dan wuquf. Kedua, setelah wafatnya Nabi para sahabat juga mendasarkan hukum-hukum Islam yang ada dengan urf masyarakat sekitar. Dan ketiga, generasi tabi’in juga memasukkan urf dalam sumber hukum Islam.27

Pandangan Masyarakat Gresik tentang Malam Selawe

Dalam bulam Ramadhan KH Agus Sunyoto mengatakan bahwa terdapat banyak tradisi yang mana berlatar belakang keagamaan mulai pada malam ke 21 ramadhan. Di Gresik terdapat tradisi yang sampai saat ini masih dilakukan masyarakat yakni tradisi malam selikur, malam ke 23, malam selawe hingga pasar bandeng.

Tradisi malam selawe sudah berlangsung sejak zaman Sunan Giri dan masih dilakukan hingga saat ini.28 Proses awal mula adanya tradisi ini adalah sunan Giri yang pada saat itu mempunyai banyak santri mengajak para santrinya untuk berburu malam lailatul qadar dengan iktikaf dan membaca Alquran di masjid setelah salat shubuh. Hal tersebut sebagai bentuk rasa Syukur kepada Allah swt. 29 Sebelum adanya tradisi malam selawe, di Gresik terdapat tradisi maleman dan tradisi selikuran.

Kedua tradisi tersebut dilakukan pada malam ke 21 pada bulan Ramadhan. Malam selikur atau selikuran tidak hanya terdapat di kota Gresik. Di daerah Wonogiri juga

26 Sunan Autad Sarjana and Imam Kamaluddin Suratman, “Konsep ‘Urf Dalam Penetapan Hukum Islam,” Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 13, no. 2 (2018): 289, https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v13i2.1509.

27 Harisudin, “Urf Sebagai Sumber Hukum Islam.”

28 Salum Syahrazad and Sony Sukmawan, “Identitas Sosial Masyarakat Gresik Dalam Tradisi Sanggring Di Desa Gumeno,” Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial Dan Budaya 26, no. 1 (2024): 86.

(15)

29 Nur Fariha Novianti Puteri, “Tradisi Malam Selawe Di Desa Giri Kabupaten Gresik” (UIN KHAS Jember, 2023), ix.

(16)

146 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

terdapat tradisi selikuran, namun terdapat beberapa hal yang berbeda antara tradisi selikuran di kota Gresik dan di Wonogiri.30

Tata cara pelaksanaan malam selikuran di Gresik sama dengan pelaksanaan malam selawe. Pada malam ke 21 atau malam selikur masyarakat setempat membuat lampion dan damar kurung di sepanjang jalan ke makam sunan Giri.

Lalu pada malam ke 23 terdapat tradisi kolak ayam yang berada di Gumeno kecamatan Manyar. Proses pelaksanaannya mulai dari pagi sampai sore bapak-bapak memasak ayam dengan porsi yang melimpah dengan bumbu kare 31 dengan santan, kemudian dicampur dengan daun bawang dan gula merah. Setelah itu, masakan dibagikan kepada warga dan para santri yang ada di sana untuk dinikmati setelah salat tarawih dengan tujuan dan harapan dapat keberkahan pada malam lailatul qadar.

Setelah itu pada malam ke 25 atau biasa disebut malam selawe, proses pelaksanaannya dikerjakan pada pukul 12 malam di masjid samping makam sunan Giri dengan cara iktikaf hingga waktu shubuh dengan harapan agar mendapat keberkahan dan kemuliaan malam lailtul qadar.32

Malam ke 25 atau malam selawe merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai, tradisi ini bermula sebagai bentuk rasa hormat kepada Raden Ali Murtadho, kakak Sunan Ampel. Diawali dengan berziarah ke makam lalu iktikaf di masjid hingga shubuh dengan tujuan agar mendapat kemuliaan malam lailatur qadar. Selain tradisi-tradisi yang ada diatas, terdapat satu tradisi lagi yang mana erat kaitannya dengan malam selawe yakni pasar bandeng. Pasar bandeng bagi warga Giri sudah seperti

30Soedwiwahjono and R. Pamardhi-Utomo, “A Strategy for the Sustainable Development of the Karst Area in Wonogiri,” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 447, no. 1 (2020): 1–9, https://doi.org/10.1088/1755- 1315/447/1/012057.

31 Meidita Zanuba, Nely Zulfatin Ni’amah, and Alfisyah Nurhayati, “Nilai- Nilai Kearifan Lokal Kesehatan Dalam Tradisi Kolak Ayam (Sanggring) Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik,” Semantik : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Budaya 1, no. 4 (2023): 150–61, https://doi.org/10.61132/semantik.v1i4.110.

32 Melansari D. Lewokeda, “Pertanggungjawaban Pidana Tindak Pidana Terkait Pemberian Delegasi Kewenangan,” Mimbar Keadilan 14, no. 28 (2018):

183–96, https://doi.org/10.30996/mk.v0i0.1779; Muhammad Fajar N, Sulasman, and Usman Supendi, “Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung Di Bulan Ramadan Tahun 1990-2000,” Journal Historia Madania 2,

(17)

no. 2 (2018): 75–90.

(18)

148 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

perlombaan, siapapun yang bisa menyajikan bandeng terbesar maka dialah pemenangnya. Bandeng tersebut ditimbang untuk mengetahui siapa pemenangnya. Tradisi ini diadakan karena berkaitan dengan mata pencarian warga Gresik yang banyak bekerja sebagai nelayan.

Tradisi malam selawe yang terjadi di daerah Gresik, sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Jawa Timur khususnya di kabupaten Gresik sendiri. Kendati demikian setelah melakukan beberapa wawancara terhadap masyarakat di Kabupaten Gresik, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui tentang tradisi ini. Salah satunya adalah A (Responden 1), seorang remaja berusia 17 tahun yang tinggal di desa Bungah yang mana desa tersebut masih merupakan wilayah Kabupaten Gresik. Ketika diwawancarai tentang malam selawe ia mengatakan bahwa “tidak mengetahui apa itu malam selawe”. Dia mengaku bahwa di daerahnya tidak ada yang memberitahunya mengenai tradisi ini.

Tradisi malam selawe yang sudah tidak asing lagi di kalangan warga Gresik ternyata tidak selamanya mendapat respon positif oleh masyarakata setempat. M (Responden 2), tokoh Masyarakat di desa Pongangan berpendapat bahwa tradisi malam selawe itu merupakan bid’ah dan tidak seharusnya ada. Beliau berpendapat demikian karena menurutnya tidak ada yang namanya tradisi untuk mencari malam lailatul qadar, cara mencari malam lailatul qadar seharusnya dilakukan i’tikaf di masjid atau rumah masing- msing bukan malah pergi ke makam, sebab pergi ke makam itu termasuk dalam bid’ah. Hal tersebut karena latar belakang dari M yang merupakan seorang yang berkeyakinan Islam-wahabi bukan salafi.

Adapun informan kedua yakni Sy (Responden 3) selaku juru kunci makam Sunan Giri menyatakan bahwa tradisi malam selawe sudah ada semenjak zaman Sunan Giri dan terus berkembang hingga saat ini. Para pedagang di sekitar makam Sunan Giri senang dengan adanya tradisi malam selawe, karena bisa meningkatkan perekonomian warga setempat. Mur (Responden 4) berpendapat bahwa tradisi malam selawe yang dulu hanya ada beberapa orang yang melakukannya kini menjadi sangat banyak. Bukan hanya masyarakat Gresik sendiri yang datang namun banyak juga masyarakat luar Gresik bahkan luar pulau yang datang ke daerah Giri untuk melakukan i’tikaf pada malam ke 25 di bulan Ramadhan. Dikarenakan banyaknya peziarah yang datang ke daerah Giri, maka banyak pedagang yang berjualan di

(19)

area luar makam. Karena itu

(20)

150 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

pada malam selawe banyak sekali penjual yang berjejer mulai dari Kebomas hingga area luar makam Sunan Giri.

Analisis Urf terhadap Tradisi Malam Selawe di Gresik Jawa Timur

Dalam konteks penetapan hukum Islam di Indonesia, perlu menempatkan urf pada posisi yang penting untuk dijadikan dasar pertimbangan utama dalam penetapan hukum Islam. 33 Tradisi malam selawe memiliki keterkaitan dengan urf yakni malam selawe adalah suatu tradisi yang berasal dari daerah Gresik yang sudah dilakukan secara turun temurun hingga saat ini.

Malam selawe adalah kegiatan masyarakat Gresik yang memiliki nilai positif yakni ziarah ke makam salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Tradisi malam selawe ini tidak pernah absen dari tahun ke tahun, semua masyarakat dan ulama sekitar juga turut antusias melaksanakan tradisi ini karena mengandung nilai yang baik sehingga kegiatan ini masuk ke dalam tradisi atau urf.

Dengan demikian, tradisi tersebut juga diambil dari sebuah kegiatan dari suatu masyarakat yang dilakukan dari zaman dulu secara turun temurun yang memiliki nilai positif sampai saat ini. Sehingga dengan ini tradisi malam selawe juga termasuk urf karena tercipta dari para nenek moyang dan dilakukan hingga sekarang.

Implementasi teori urf (kebiasaan atau praktik yang berlaku dalam masyarakat) dalam konteks malam selawe dapat terlihat dalam cara perayaan dan pelaksanaan tradisi ini di Kabupaten Gresik. Teori urf mengacu pada praktik-praktik yang diakui dan diterima dalam masyarakat sebagai aturan atau norma yang mengatur kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, malam selawe di Kabupaten Gresik telah menjadi bagian dari urf yang diwariskan dari generasi ke generasi. Implementasi teori urf dalam malam selawe dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif agama Islam dan budaya Jawa. Tradisi ini menggabungkan elemen-elemen agama dan budaya dalam perayaannya.

Implementasi teori urf dalam malam selawe di Kabupaten Gresik menunjukkan bagaimana tradisi ini telah mengakar dalam masyarakat dan diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Praktik-praktik yang diakui dan diterima ini mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang dijunjung tinggi

(21)

33 Agus Moh Najib, “Reestablishing Indonesian Madhhab ’Urf and the Contribution of Intellectualism,” Al-Jami’ah 58, no. 1 (2020): 172, https://doi.org/10.14421/ajis.2020.581.171-208.

(22)

152 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

oleh masyarakat setempat. Dalam konteks ini, teori urf menjadi landasan untuk menjaga dan melanjutkan tradisi malam selawe yang kaya makna ini di Kabupaten Gresik.

Adanya urf (kebiasaan atau praktik yang berlaku dalam masyarakat) dan tradisi malam selawe di Kabupaten Gresik memiliki nilai-nilai yang dapat diambil dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa nilai-nilai yang dapat dipetik dari adanya urf dan tradisi malam selawe:

1) Kebersamaan dan solidaritas

Malam Sslawe di Kabupaten Gresik melibatkan kegiatan yang menggalang kebersamaan dan solidaritas antara masyarakat.

Makan bersama, beribadah bersama, dan saling berbagi makanan mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Nilai ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan diri dalam kegiatan sosial, membantu sesama, dan membangun hubungan yang erat dengan tetangga dan komunitas.

2) Persiapan dan kesiapan

Malam selawe adalah momen persiapan fisik dan spiritual menyambut bulan Ramadan. Nilai persiapan dan kesiapan ini dapat diartikan sebagai sikap yang siap menghadapi tantangan dan perubahan dalam kehidupan. Dengan mempersiapkan diri secara baik, kita dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari, baik dalam konteks pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan pribadi.

3) Kebersihan dan kesehatan

Malam selawe juga menekankan pentingnya kebersihan dan kesehatan. Mandi bersih, mengenakan pakaian yang rapi, dan menjaga kebersihan lingkungan mencerminkan nilai-nilai kebersihan dan kesehatan. Nilai ini dapat diaplikasikan dengan menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan makanan yang dikonsumsi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan kita.

4) Spiritualitas dan refleksi diri

Malam selawe adalah waktu untuk melakukan ibadah, berdoa, dan merenungkan diri. Nilai-nilai spiritualitas dan refleksi diri ini mengajarkan kita untuk menghargai koneksi dengan yang lebih tinggi dan memperbaiki diri secara kontinu. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini dapat diterapkan dengan meluangkan waktu untuk bermeditasi, berdoa, atau melakukan refleksi diri untuk meningkatkan keseimbangan emosional dan

(23)

spiritual.

5) Keterbukaan terhadap kebudayaan dan agama

(24)

154 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

Malam selawe di Kabupaten Gresik mencerminkan penggabungan elemen agama Islam dan budaya Jawa. Nilai keterbukaan terhadap kebudayaan dan agama dapat diambil dari sini.

Dengan menghargai dan memahami keberagaman budaya dan agama, kita dapat menciptakan harmoni dan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat yang multikultural.

6) Penghargaan terhadap tradisi dan pewarisan budaya

Malam selawe merupakan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai penghargaan terhadap tradisi dan pewarisan budaya ini mengajarkan kita untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang berharga. Dengan menghargai dan mempelajari tradisi-tradisi lokal, kita dapat memperkaya pemahaman kita tentang sejarah, identitas, dan kekayaan budaya suatu daerah.

Mengadopsi nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu membangun masyarakat yang lebih harmonis, saling peduli, dan memiliki kedewasaan spiritual. Nilai-nilai ini berlaku universal dan dapat menjadi landasan bagi individu dan komunitas untuk hidup dengan lebih bermakna dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

Tradisi malam selawe yang terjadi di desa Giri kedaton kecamatan kebomas, sudah ada sejak masa Sunan Giri. Tradisi ini muncul dikarenakan keinginan dari Sunan Giri untuk mengumpulkan santri-santrinya baik yang berada di daerah Jawa Timur maupun luar Jawa Timur. Dikarenakan keinginannya tersebut maka beliau memutuskan untuk mengumpulkan santri-santrinya di bulan Ramadhan pada malam ke 25 sebab pada malam tersebut merupakan 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang mana terjadi malam lailatul qadar.

Proses pelaksanaan tradisi malam selawe di daerah Giri, Kebomas terjadi pada malam ke 25 pada bulan Ramadhan, yang dilaksanakan di masjid. Tradisi tersebut mulai ada sejak zaman kanjeng Sunan Giri dan berkembang hingga saat ini. Makna dari tradisi malam selawe adalah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang mana masih diberikan kesempatan perpuasa di bulan Ramadhan dan berziarah ke makam Sunan Giri, sebagai bentuk momen untuk mendapat kemuliaan pada malam lailatu qadar. Karena itu, radisi ini tidak bertentangan dengan urf karena mengandung nilai positif dan nilai ibadah dan Tradisi ini tidak

(25)

bertentangan dengan prinsip Islam karena tidak mengandung unsur syirik dan takhayul.

Daftar Pustaka

Alghafli, Zahra, Trevan Hatch, Andrew Rose, Mona Abo-Zena, Loren Marks, and David Dollahite. “A Qualitative Study of Ramadan: A Month of Fasting, Family, and Faith.” Religions 10, no. 2 (2019): 1–15. https://doi.org/10.3390/rel10020123.

Ali Sabri, Fahruddin. “Method of Takhshîsh with Al-‘Urf and Its Presence in Madura’s Traditional Rule.” KARSA: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman 24, no. 1 (2016): 158.

https://doi.org/10.19105/karsa.v24i1.1011.

Amalia, Khikmatun. “‘Urf Sebagai Metode Penetapan Hukum Ekonomi Islam.” As-Salam: Jurnal Studi Hukum Islam &

Pendidikan 9, no. 1 (2020): 75–90.

https://doi.org/10.51226/assalam.v9i1.187.

Andriyaldi. “Al-’Urf Theory and Its Relevance to Contemporary Jurisprudence Issues.” Al Hurriyah: Jurnal Hukum Islam 6, no. 2 (2021): 118–30. https://doi.org/DOI : 10.30983/alhurriyah.v6i2.4784.

Ariestadi, D, L D Wulandari, L D Antariksa, and Surjono Wulandari. “Multicultural Identity Engineering and Historical Multi- Ethnich City in Gresik: Socio-Cultural Analysis Communal Space.” International Journal of Advanced Research in Engineering and Technology (IJARET) 11, no.

4 (2020): 405–15.

http://www.iaeme.com/IJARET/index.asp405Availableonli neathttp://www.iaeme.com/IJARET/issues.asp?JType=IJA RET&VType=11&IType=4http://www.iaeme.com/IJARE T/index.asp406http://www.iaeme.com/IJARET/issues.asp?

JType=IJARET&VType=11&IType=4.

Budiawan, Afiq. “Tinjauan Al Urf Dalam Prosesi Perkawinan Adat Melayu Riau.” Jurnal An-Nahl 8, no. 2 (2021): 115–

25. https://doi.org/10.54576/annahl.v8i2.39.

Fauziah, H. “Strategi Pengembangan Wisata Religi Di Kabupaten Gresik (Study Kasus Pada Makam Maulana Malik Ibrahim Dan Makam Sunan Giri).” PRAJA Observer:

Jurnal Penelitian Administrasi Publik (e- ISSN: 2797-0469) 1,

no. 1 (2021): 13–24.

https://aksiologi.org/index.php/praja/article/download/41/

25.

Hakiki, Rahma nur, and MPSDM Sri Dwiyanti, S.Pd. “Upaya

(26)

156 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

Menarik Minat Wisatawan Religi Terhadap Tata Rias Pengantin Giri Sekar Kedaton Gresik.” Jurnal Tata Rias 09, no.

2 (2020): 272–82.

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata- rias/article/view/34269.

Hakim, Moh Nur. Islam Traditisional Dan Reformasi Pragmatisma Agama Dalam Pemikiran Hasan Hanafi.

Malang: Bayu Media Publishng, 2003.

Harisudin, Noor. “Urf Sebagai Sumber Hukum Islam.” Jurnal Al- Fikr 20 (2016): 1–21.

Kurniasih, Maulana Dwi, Dyah Ayu Lestari, and Ahmad Fauzi.

“Hikmah Penurunan Al-Qur’an Secara Berangsur.”

Mimbar Agama Budaya 37, no. 2 (2020): 11–20.

https://doi.org/10.15408/mimbar.v37i2.18914.

Lestari, Sri PUji. “Tinjauan ’Urf Terhadap Praktik Ngelangkahi Di Desa Bawu Batealit Jepara.” Isti’dal: Jurnal Studi Hukum Islam 7, no. 1 (2020): 1–17.

Lewokeda, Melansari D. “Pertanggungjawaban Pidana Tindak Pidana Terkait Pemberian Delegasi Kewenangan.” Mimbar Keadilan 14, no. 28 (2018): 183–96.

https://doi.org/10.30996/mk.v0i0.1779.

N, Muhammad Fajar, Sulasman, and Usman Supendi. “Tradisi Keagamaan Masyarakat Kota Bandung Di Bulan Ramadan Tahun 1990-2000.” Journal Historia Madania 2, no. 2 (2018): 75–

90.

Najib, Agus Moh. “Reestablishing Indonesian Madhhab ’Urf and the Contribution of Intellectualism.” Al-Jami’ah 58, no.

1 (2020): 171–208. https://doi.org/10.14421/ajis.2020.581.171- 208.

Ngazis, Ahmad Abdul. “Tradisi Padusan Jelang Puasa Ramadhan Di Desa Duduwetan Kecamatan Grabang Kabupaten Purworejo (Studi Pandang Tokoh Adat Dan Tokoh Agama Islam).” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2023.

Nur Lailatul Musyafa’ah. “Maqashid, Muslim Devotion and Ramadhan Tradition in Pandemic Times.” Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundangan-Undangan, Dan Ekonomi Islam 13, no.

2 (2021): 149–65.

https://doi.org/10.32505/jurisprudensi.v13i2.2362.

P. Lamadang, Karmila, and Babang Robandi. “Kajian Empiris Pendidikan Dalam Latar Peristiwa (Studi Kasus Pada

(27)

Masyarakat Tradisional Di Desa Kwalabesar).” Formosa Journal of Applied Sciences 1, no. 2 (2022): 109–18.

https://doi.org/10.55927/fjas.v1i2.805.

Prasetyo, Randy. “Program Customer Relationship Management Dalam Meningkatkan Loyalitas Pelanggan,” 2013, 27–49.

Puteri, Nur Fariha Novianti. “Tradisi Malam Selawe Di Desa Giri Kabupaten Gresik.” UIN KHAS Jember, 2023.

Ridwan. “Pattani Central Mosque in Southern Thailand as Sanctuary from Violence.” Indonesian Journal of Islam and Muslim

Societies 4, no. 2 (2014): 213–32.

https://doi.org/10.18326/ijims.v4i2.213-232.

Rizal, Fitra. “Penerapan ‘Urf Sebagai Metode Dan Sumber Hukum Ekonomi Islam.” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam 1, no. 2 (2019): 155–76.

https://doi.org/10.37680/almanhaj.v1i2.167.

Safari, Kolsoom, Tiran Jamil Piro, and Hamdia Mirkhan Ahmad. “Perspectives and Pregnancy Outcomes of Maternal Ramadan Fasting in the Second Trimester of Pregnancy.” BMC Pregnancy and Childbirth 19, no. 1 (2019): 1–10.

https://doi.org/10.1186/s12884-019-2275-x.

Sarjana, Sunan Autad, and Imam Kamaluddin Suratman.

“Konsep ‘Urf Dalam Penetapan Hukum Islam.” Tsaqafah:

Jurnal Peradaban Islam 13, no. 2 (2018): 279–95.

https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v13i2.1509.

Shesa, Laras, Oloan Muda Hasim Harahap, and Elimartati.

“Eksistensi Hukum Islam Dalam Sistem Waris Adat Yang Dipengaruhi Sistem Kekerabatan Melalui Penyelesaian Al- Takharujj.” Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam 6, no. 1 (2021):

145–64. https://doi.org/10.29240/jhi.v6i1.2643.

Soedwiwahjono, and R. Pamardhi-Utomo. “A Strategy for the Sustainable Development of the Karst Area in Wonogiri.”

IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 447, no. 1 (2020): 1–9. https://doi.org/10.1088/1755- 1315/447/1/012057.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jkarta: UI Press, 2012.

Sulfan Wandi, Sulfan Wandi. “Eksistensi Urf Dan Adat Kebiasaan Sebagai Dalil Fiqh.” SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam 2, no. 1 (2018): 181–96.

https://doi.org/10.22373/sjhk.v2i1.3111.

Syahrazad, Salum, and Sony Sukmawan. “Identitas Sosial

(28)

158 Moch. Hanif Hendi Wijaya, dkk. | Tradisi Malam Selawe ...

Masyarakat Gresik Dalam Tradisi Sanggring Di Desa Gumeno.”

Sosiologi: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial Dan Budaya 26, no. 1 (2024): 77–92.

Toorabally, Bibi Zaynab, and Mohammad Taahir Toorabally. “A Narrative Review of Food Culture and Eating Behaviors among Mauritian Muslims during the Fasting Month of Ramadan: The Need for Nutrition Education.” Journal of Fasting & Health 5, no. 3 (2017): 129–32.

http://10.0.86.22/jfh.2017.26142.1096%0Ahttps://proxy.lib.

ohio-

state.edu/login?url=https://search.ebscohost.com/login.aspx

?direct=true&db=a9h&AN=132234818&site=ehost-live.

Touzani, Mourad, and Elizabeth C. Hirschman. “Cultural Syncretism and Ramadan Observance: Consumer Research Visits Islam.” Advances in Consumer Research 35 (2008): 374–80.

Zanuba, Meidita, Nely Zulfatin Ni’amah, and Alfisyah Nurhayati.

“Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kesehatan Dalam Tradisi Kolak

Ayam (Sanggring) Desa Gumeno Kecamatan

Manyar Kabupaten Gresik.” Semantik : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Budaya1, no. 4

(2023): 150–61.

https://doi.org/10.61132/semantik.v1i4.110.

Referensi

Dokumen terkait

Tradisi (Bahasa Latin: traditio, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari

Tradisi (Bahasa Latin: traditio , "diteruskan") atau kebiasaan , dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama

Tradisi ialah adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat. Adat istiadat terbentuk dari sendirinya untuk memupuk hubungan

Secara etimologi, dalam hal ini adat berasal dari bahasa arab yang berarti “kebiasaan”, jadi secara etimologi adat dapat didefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan

Tradisi ialah adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat. Adat istiadat terbentuk dari sendirinya untuk memupuk hubungan

Tradisi (Bahasa Latin: traditio, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian

Perpaduan ini memperkaya kebudayaan Indonesia.12 2.3.2 Tradisi 2.3.2.1 Pengertian Tradisi Tradisi adalah sesuatu kebiasaan yang berkembang di masyarakat baik yang menjadi adat

Pengertian Tradisi Tradisi di dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia merupakan adat turun temurun dari para pendahulu yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat.1 Tradisi bahasa