PERANCANGAN PONDOK PESANTREN TAHFIDZ AL QUR’AN (PPTQ) DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ISLAM
DI KOTA MAKASSAR
ACUAN PERANCANGAN
Di Susun Oleh :
A. TRI RAHMI AMALIA A. AMIN 45 15 043 028
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2022
ACUAN PERANCANGAN
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum.Wr. Wb.
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulisan laporan perancangan tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik. Tak lupa pula salam dan selawat kepada baginda Rasullah SAW yang telah mengantarkan dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang menderang seperti sekarang ini.
Penulisan ini dibuat dalam bentuk laporan yang merupakan garis besar perencanaan fisik pada tahap studio akhir. Hasilnya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai PERANCANGAN PONDOK PESANTREN TAHFIDZ AL-QUR’AN (PPTQ) DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ISLAM DI KOTA MAKASSAR. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan perancangan ini masih terdapat beberapa kekurangan yang mungkin belum sempat terkoreksi mengingat keterbatasan waktu, fasilitas dan kapasitas penulis, sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada :
1. Kedua orang tua saya Ibunda Drs. A. MASDANIAH MANGGONG, S.Sos., dan Ayahanda A. ASMIANTO AMIN, terkhusus untuk Ibunda tercinta yang selama ini tidak henti-hentinya memberikan dukungan, motifasi, dorongan dan do’a tulusnya.
2. Bapak Dr. H. Nasrullah, ST., MT.IAI Selaku Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Bosowa dan juga sebagai dosen Pembimbing I.
3. Bapak Syahril Idris, ST. MSP Selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan.
iii
4. Seluruh Dosen dan Staf selaku pengajar yang meluangkan waktunya membagi ilmu dan pengalaman selama di bangku kuliah.
5. Teman-teman studio akhir angkatan 48 yang selama ini telah bersama-sama di dalam studio akhir kurang lebih dua bulan.
6. Teman-teman di Prodi Arsitektur Universitas Bosowa yang telah banyak memberikan suport, serta menghadirkan ikatan persahabatan dan persaudaraan yang begitu kuat.
7. Kelima saudara kandung A. Muthmainnah A. Amin, S.Kom., A. Dwi Rahmasari A.
Amin, S.E., A. Asni A. Amin, S.Pd., A. Citra Jaya A. Amin, S.H., dan A. Agung Laksana Surya A. Amin, S.T., (Almarhum) terimakasih selama ini yang terus memberikan dukungan dan do’a tulusnya.
8. Suami A. Muh. Alir yang terus mendampingi dengan penuh rasa sayang serta pengertian yang tinggi, selama proses pengerjaaan skripsi.
9. Ananda Annasya Deswita yang sangat berat menahan rindu di dalam Pondok Tahfidz Al- Qur’an dan terus mengalirkan doanya demi ibundanya yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah.
10. Saudara Ansar Toba & Muhammad Asriadi yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi sampai ujian tutup berlangsung.
11. Warkop KAMPOENG (jln.palm merah) yang menjadi tempat kumpul ke dua setelah kampus, terimakasih kapada semua pegawai warkop Kampoeng yang telah mengizinkan kami nginap salama proses penyelesaian.
12. Teman-teman dan sahabat yang telah memberikan suport dan doa’nya.
iv
13. Anggota KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan), Anggota RBI (Rumah Balada Indonesia), anggota Laskar Merah Putih (LMP), Anggota LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia), Tim-tim Olahraga Biliard seluruh Indonesia yang telah memberikan suport.
14. Serta semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, semoga Allah SWT akan selalu memberi Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua. Amin...
Penulis Menyadari sepenuhnya akan keterbatasan acuan perancangan ini, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata, bahwa segala apa yang di rencanakan dapat terlaksana hanya dengan usaha keras dan bertawakkal serta menyadari bahwa kesuksesan akan di dapatkan bagi yang selalu bekerja keras dan bertawakkal. Semoga acuan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, meskipun masih banyak kekurangan.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
Makassar, 5 Februari 2022 Penulis
A. Tri Rahmi Amalia A. Amin 45 15 043 028
v
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .………..……. i
HALAMAN PENGESAHAN ……….. ii
KATA PENGANTAR ..……….…………... iii
DAFTAR ISI ……….………..……... vi
DAFTAR TABEL ………..………... ix
DAFTAR GAMBAR ………..………... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….………...……... 1
B. Rumusan Masalah ………...… 3
C. Tujuan dan Sasaran ………. 3
D. Batasan Pembahasan ………... 4
E. Metode Pembahasan ……… 4
F. Sistematika Penulisan ……….. 5
BAB II TINJAUAN UMUM A. Pengertian Judul ………... 6
1. Perancangan ……… 6
2. Pondok ……… 7
3. Pesantren ………. 7
4. Tahfidz ……… 8
5. Al-Qur’an ……… 9
6. Tahfidz Al-Qur’an ...………...…. 10
7. Arsitektur Islam ………... 11
B. Perancangan Pondok Tahfidz Al-Qur’an di Kota Makassar ………... 12
C. Studi Banding ………. 12
D. Studi Literatur ……… 14
BAB III TINJAUAN KHUSUS A. Tinjauan Terhadap Kota Makassar ………... 20
1. Letak Geografis ……….…………. 20
2. Administrasi ………... 21
3. Kependudukan ……….... 22
B. Tinjauan Rencana Tata Ruang Kota Makassar ………... 23
1. Rencana Sistem Perkotaan ……….. 23
vii
2. Rencana Sistem Jaringan Transportasi ……….... 26
3. Rencana Prasarana Lainnya ……….………... 26
C. Tinjauan Pondok Tahfidz Al-Quran di Kota Makassar ……….……...… 26
1. Pondok Terbangun ……….…... 26
2. Tujuan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an ………... 27
3. Manfaat dan Keutamaan Tahfidz Al-Qur’an………... 28
4. Kegagalan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an………... 29
5. Strategi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an ………... 29
6. Faktor Penting Mendukung Kualitas Hafidz Al-Qur’an …………... 30
7. Syarat – syarat Tahfidz Al-Qur’an ………... 30
8. Landasan Ideologi ……….…….. 31
9. Jenis Kegiatan ………. 31
10. Alokasi Waktu ……….….………….. 32
11. Kriteria Pondok Tahfidz Al-Qur’an ………..……….. 33
D. Tinjauan Lokasi Perencanaan Pondok Tahfidz Al-Quran di Kota Makassar ……….. 34
BAB IV PENDEKATAN ACUAN PERANCANGAN A. Pendekatan Perencanaan ………... 35
B. Pendekatan Acuan Perencanaan Makro ……….…………... 35
1. Pendekatan Perencanaan Tapak ………... 35
a. Pendekatan Pemilihan Lokasi ………... 35
b. Pendekatan Pemilihan Tapak ……… 37
c. Pendekatan Pengolahan Tapak ………. 39
2. Sirkulasi Pada Tapak ………... 40
3. Penzoningan Tapak ………. 42
4. Pola Tata Massa ……….. 43
5. Orientasi Bangunan ………... 44
C. Pendekatan Acuan Perencanaan Mikro ………. 47
1. Pendekatan Program Ruang ………... 47
2. Kebutuhan Ruang ……….……….. 49
3. Pendekatan Konsep Pola, Sirkulasi, Organisasi dan Hubungan Ruang ………... 55
4. Pendekatan Konsep Penampilan dan Bentuk Dasar Bangunan ………... 57
viii 5. Pendekatan Sistem Pencahayaan, Penghawaan, Tata Akustik
dan Utilitas ………. 60
6. Dasar Perancangan Bangunan Pondok Tahfidz Al-Qur’an ……… 78
BAB V ACUAN PERANCANGAN A. Acuan Perancangan Makro ………... 84
1. Analisa Pemilihan Lokasi ………... 84
2. Analisa Penentuan Tapak ……… 84
3. Analisa Pengolahan Tapak/Site ……….. 85
B. Acuan Perancangan Makro ………... 88
1. Analisa Kebutuhan dan Besaran Ruang ………...…………... 88
2. Analisa Luas Lahan dan Luas Bangunan ……….…………... 116
3. Analisis Pola Sirkulasi Ruang ……….………... 116
C. Acuan Perancangan Fisik & Perlengkapan Bangunan ………….……... 117
1. Analisa Bentuk dan Penampilan Bangunan ……… 117
2. Analisa Bentuk Struktur Bangunan ………. 118
3. Penerapan Arsitektur Islam pada Rencana Desain ……….………. 121
4. Analisa Sistem Pencahayaan, Penghawaan dan Tata Akustik ………... 122
5. Analisa Sistem Utilitas bangunan……….……. . 124
6. Analisa Tata Ruang Luar ………... 127
7. Analisa Sistem Parkir ...………. 129
BAB VI KESIMPULAN ………... 130
DAFTAR PUSTAKA ……….…………... 132
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar II. 1 Tompo Bulu Maros ..……….. 12
Gambar II. 2 Pondok Pesantren Tahfidz Darul Huffadh,Bone ……….……… 13
Gambar II. 3 Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an, Kudus ………... 14
Gambar II. 4 Pondok Pesantren Tahfidz Muqoddasah Ponorogo ..……... 15
Gambar II. 5 Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran, Tangerang ……… 16
Gambar II. 6 Pondok Tahfidz Qu’ran Al Khair ………..………. 18
Gambar III. 1 Peta Kota Makassar ………... 20
Gambar III. 2 Peta Rencana Tata Ruang Kota Makassar ………... 24
Gambar III. 3 Peta Kecamatan Sangkarrang .….……….…..……….. 34
Gambar IV. 1 Kecamatan Sangkarrang ……….…. 36
Gambar IV. 2 Site/Tapak Alternatif 1 ………. 38
Gambar IV. 3 Site/Tapak Alternatif 2 ………. 38
Gambar IV. 4 Pola Sirkulasi Radial ……….……….... 40
Gambar IV. 5 Pola Sirkulasi Spiral ……….. 40
Gambar IV. 6 Pola Sirkulasi Grid ……… 41
Gambar IV. 7 Contoh Simulasi Orientasi Arah Angin pada Bangunan ………... 45
Gambar IV. 8 Contoh Simulasi Orientasi Matahari pada Bangunan ……… 45
Gambar IV. 9 Mesin GenSet pada Bangunan ……….. 64
Gambar IV. 10 Sistem Parkir Tegak Lurus ………. 77
Gambar IV. 11 Sistem Parkir Kendaraan Roda Dua ………...…………... 78
Gambar V. 1 Kelurahan Kodingareng Kec. Sangkarrang Terpilih ... 84
Gambar V. 2 Site/Tapak Terpilih ……….……… 85
xii
Gambar V. 3 Analisa View Keluar Tapak ………. 86
Gambar V. 4 Orientasi Matahari ………..………. 86
Gambar V. 5 Arah Angin ………...……… 87
Gambar V. 6 Sirkulasi tapak/site ……… 87
Gambar V.7 Rangka Baja Ringan ……….………..……….. 119
Gambar V. 8 Struktur rangka beton bertulang ……….…………... 119
Gambar V. 9 Material Dinding Bata ……….………..………... 119
Gambar V. 11 Material Dinding Rooster ……….…….…………. 120
Gambar V. 12 Pondasi Batu Kali ………..……..…………... 121
Gambar V. 13 Pondasi Poer Plat ……….….…….………... 121
Gambar V. 14 Pondasi Bor Pile ……….…………... 121
Gambar V. 15 Ruang Terbuka Hijau ……….…………... . 122
Gambar V. 16 Sistem Pencahayaan ……….………... 122
Gambar V. 17 Pola Kebisingan Sekitar Tapak .……….…... 123
Gambar V. 18 Jaringan Listrik ……….…... 124
Gambar V. 19 Penyulingan Air Asin ke Air Tawar .………... 125
Gambar V. 20 Distrsibusi Air Kotor ……….…………... 126
Gambar V. 21 Pohon Sebagai Pelembut dan Penyaring Angin ….…..……….. 128
Gambar V. 22 Sistem Parkir Kendaraan Roda Dua ………... 129
ix
DAFTAR TABEL
Tabel III.1 Tabel Luas Wilayah ………….………... 21
Tabel III.2 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk ...….……….. 22
Tabel III.3 Jumlah Penduduk dan rasio jenis kelamin ………... 23
Table III.4 Jumlah Rumah Tangga, Penduduk dan Kepadatan Penduduk menurut Kelurahan di Kecamatan Sangkarrang ………..……... 34
Tabel IV.1 Analisa Tiga Bentuk Dasar Beserta Karakteristik ………..……… 59
Tabel IV.2 Kebutuhan Air Bersih ………..….. 65
Tabel IV.3 Klasifikasi tanama ………...………... 75
Tabel IV.4 Penentuan Satuan Parkir (SRP) Kendaraan ………... 77
Tabel V.1 Analisis pengguna ………..……….… 88
Tabel V.2 Analisa Kebutuhan Ruang Bangunan Utama ………..……..…….. 92
Tabel V.3 Analisa Kebutuhan Ruang Aula .………..………. 92
Tabel V.4 Analisa Kebutuhan Ruang Bangunan Asrama ……..………...….….. 93
Tabel V.5 Analisa Kebutuhan Ruang Bangunan Asrama Pengelola ..………... 93
Tabel V.6 Analisa Kebutuhan Ruang Bangunan Mesjid ………..…... 93
Tabel V.7 Analisa Kebutuhan Ruang Pos Jaga ……….. 93
Tabel V.8 Analisa Kebutuhan Ruang Area Ektrakulikuler ………. 94
Tabel V.9 Besaran Ruang Bangunan Utama ……….………..……..…….. 104
Tabel V.10 Besaran Ruang Bangunan Aula ………..……... 110
Tabel V.11 Besaran Ruang Bangunan Asrama Putri/Akhwat ..……….. 111
Tabel V.12 Besaran Ruang Bangunan Asrama Putra/Ikhwan ……….. 112
Tabel V.13 Besaran Ruang Bangunan Asrama Pengelola ………...…... 113
x
Tabel V.14 Besaran Ruang Bangunan Mesjid ……….. 114
Tabel V.15 Besaran Ruang Bangunan Pos Jaga ….……… 115
Tabel V.16 Besaran Ruang Bangunan Parkiran ….……….... 115
Tabel V.17 Besaran Ruang Ektrakulikuler ….………..…….. 115
Tabel V.18 Total Luas Besaran Ruang ……….……… 116
Tabel V.19 Analisis Pola Sirkulasi Pengguna dan Hubungan Ruang ... 114
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah salah satu Agama yang memiliki penganut terbesar kedua di dunia setelah agama kristen. Sebagai agama dengan pemeluk terbesar kedua di dunia dengan penganut sekitar dua (2) miliar dengan presentase 24,9 % warga Muslim yang tersebar didunia. Umat Islam adalah orang-orang yang percaya dan hidup sesuai dengan ajaran- ajaran Islam yang diyakini.
Saat ini Indonesia menjadi negara muslim terbesar di dunia dengan pemeluk agama Islam terbanyak yaitu sekitar 13% dari populasi Muslim dunia. Indonesia yang memiliki penduduk dengan jumlah penduduk sebesar 271.066.000 juta jiwa, Tercatat sebanyak 82,2%
dari penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ini dibuktikan dengan data dari BPS 2020 dengan jumlah pemeluk agama Islam yang mencapai 222.454.572 Jiwa. Maka kebutuhan akan sarana ibadah juga sarana pendidikan agama Islam sangat meningkat khususnya di kota-kota besar yang padat penduduknya.
Di Pulau Sulawesi tepatnya di Sulawesi Selatan, penduduknya menguasai 47 % dari total penduduk yang berada di Pulau Sulawesi itu sendiri, Sulawesi Selatan memiliki 21 kabupaten dan 3 kota.
Kota Makassar sendiri memiliki luas wilayah 175,77 km2, dengan jumlah penduduk sebanyak 1.526.677 jiwa yang tersebar di 15 kecamatan dan 153 kelurahan. Makassar juga memiliki penganut agama islam terbanyak dibanding dengan agama lainnya yaitu sebanyak 1.278.291 jiwa dengan presentase 82,39% berdasarkan data lapangan di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar 2020.
Kota Makassar memiliki keinginan kuat untuk bisa menghapal Al-Qur’an.
Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mencatat jumlah penghafal Al-Qur’an pada tahun 2014 di Sulawesi Selatan mencapai 1.928 orang. Pada tahun 2014 jumlah peminat tahfidz Qur’an di Kota Makassar mencapai sekitar 167 orang dan jumlah penghafal Al- Qur’an khusus di Kota Makassar semakin meningkat mencapai 379 orang pada tahun 2019 (makassar.tribunnews.com).
Mayoritas lembaga tahfidz yang sudah ada di Indonesia memiliki program yang hanya dikhususkan untuk para santriwan/wati yang menetap di lembaga tersebut, selain itu fasilitas yang disediakan masih kurang dari segi ketersediaan area atau ruang maupun
2 kenyamanan dalam kegiatan menghafal Al Qur’an seperti halnya dengan pondok-pondok tahfidz yang ada di Kota Makassar.
Dari beberapa lembaga tahfidz yang sudah ada umumnya hanya menyediakan satu ruang atau aula yang digunakan untuk aktivitas tahfidz yang di dalamnya terdapat kegiatan muraja’ah yaitu menghafal dengan cara membaca Al-Qur’an secara bersama dan setoran hafalan, yang digunakan bersama-sama yang bertujuan untuk mempererat ukhuwah (persaudaraan) islam, selain itu juga tidak difasilitasi tempat atau area khusus untuk menghafal Al-Qur’an, para santriwan/wati dibebaskan untuk menghafalnya dengan caranya masing-masing di area manapun yang masih berada dalam lembaga tersebut, sebenarnya dalam proses menghafal para peserta membutuhkan ruang khusus untuk menunjang kegiatan tahfidz seperti menghafal lewat membaca, menghafal lewat menulis, menghafal, mendengar, dan menghayati serta mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Pondok-pondok tahfidz yang masih sangat kurang serta masih jauh dari kesan memadai ini masih sangat belum cukup untuk meningkatkan keinginan atau minat para penghapal Al-Qur’an ini untuk menempati pondok-pondok agar lebih fokus dalam menghapal. Perancangan pondok tahfidz Al-Qur’an ini di harapakan akan melahirkan tahfidz yang paham betul akan Al- Qur’an, serta mampu lebih meningkatkan minat masyarakat untuk menghapal Al-Qur’an, dimulai sejak usia dini.
Berdasarkan hasil pemaparan soal gambaran umum tentang kondisi mengenai fakta fasilitas dan jumlah penghafal/Tahfiz Al-Qur’an khususnya di Kota Makassar maka sebagai penulis merencanakan mengenai adanya penambahan fasilitas yang dapat mendukung minat masyarakat terhadap program Tahfiz Al-Qur’an di Kota Makassar.
Menanggapi hal tersebut di atas maka dari itu penulis berkeinginan untuk membuat
“Perancangan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Di Kota Makassar dengan Pendekatan Arsitektur Islam”. Perancangan ini menjadi salah satu jalan untuk menimbulkan minat masyarakat pemeluk agama islam dan melahirkan penghafal Al-Qur'an yang paham betul akan Al-Qur'an dengan memanfaatkan Pondok-pondok Tahfidz yang memiliki sarana dan prasarana yang dapat menjadi wadah untuk kegiatan di Kota Makassar.
3 B. Rumusan Masalah
1. Non Arsitektural
a. Bagaimana memahami pelaku kegiatan di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an agar mampu menyesuaikan rencana desain yang bernuansa Arsitektur Islam?
b. Bagaimana membuat suasana kawasan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an menjadi nyaman, aman serta dapat merasakan nuansa religi yang kuat dengan kawasan yang bernuansa Islam?
2. Arsitektural
a. Bagaimana menentukan lokasi untuk mendukung kegiatan di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an?
b. Bagaimana menentukan dan mendesain bentuk bangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an dengan konsep arsitektur islam?
c. Bagaimana menentukan pola tata massa bangunan Pondok Pesantren Tahfiz Al- Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan?
C. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan Pembahasan
Penyusunan acuan perencanaan bangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an di Kota Makassar bertujuan untuk membuat bangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al- Qur’an menjadi nyaman, aman, serta memiliki suasana religi yang kuat dengan menerapkan konsep arsitektur islam dalam proses perancangan dan desain fisik bangunan.
2. Sasaran Pembahasan
a. Lokasi yang strategis untuk seluruh kegiatan para pelaku Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an.
b. Konsep bentuk perencanaan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an dengan pendekatan Arsitektur Islam.
c. Bentuk bangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an yang sesuai dengan konsep arsitektur islam.
4 D. Batasan Pembahasan
Lingkup pembahasan ini terbatas pada disiplin ilmu arsitektur islam dan tetap mempertimbangkan disiplin ilmu lain yang dapat mendukung yang terkait dengan proses perencanaan dan perancangan yang dianggap dapat mendukung proses penyelesaian permasalahan pada suatu perancangan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an.
E. Metode Pembahasan
Metode Pembahasan acuan perencanaan ini menggunakan metode analisis, deskriptif dan komparatif, yaitu dengan memberikan gambaran umum permasalahan dan keadaan yang ada baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Selanjutnya dilakukan analisis, perbandingan, serta dinilai dari sudut pandang yang relevan untuk mendapatkan kriteria desain dan dasar perancangan.
Selanjutnya metode dalam pengumpulan data yang diperlukan, yaitu sebagai berikut:
1. Studi Pustaka, yaitu dengan mencari data yang dilakukan melalui studi literatur, data dari instansi terkait, serta melalui media online dan cetak dengan mencantumkan sumbernya.
2. Teknik wawancara, yaitu melakukan wawancara pada pihak terkait sesuai dengan Judul Tugas Akhir untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan.
3. Observasi lapangan, yaitu memperoleh data yang diperlukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek dilapangan.
5 F. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Mengemukakan pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran pembahasan, batasan pembahasan, metode pembahasan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM
Merupakan tinjauan pustaka terhadap Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an, yang meliputi tinjauan teori umum terhadap Kota Makassar sebagai lokasi perancangan.
BAB III TINJAUAN KHUSUS
Pembahasan terkait tinjauan lokasi perencanaan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an, yang meliputi tinjauan khusus, studi banding dan studi literatur.
BAB IV PENDEKATAN PERANCANGAN
Menguraikan tentang pendekatan konsep perancangan sebagai acuan dalam desain fisik Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an.
BAB V ACUAN PERANCANGAN
Menguraikan tentang acuan dasar perancangan yang meliputi konsep makro dan mikro yang akan diterapkan dalam perancangan fisik Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an.
BAB VI KESIMPULAN
Berisi kesimpulan dari tahap pembahasan sebelumnya dan penutup pembahasan.
6 BAB II
TINJAUAN UMUM A. Pengertian Judul
1. Perancangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi perancangan yaitu proses, cara, perbuatan merancang. Merancang yaitu mengatur segala sesuatu sebelum bertindak, mengerjakan, atau merencanakan (http://kbbi.web.id/rencana; diakses tanggal 5 Mei 2014). Dalam bahasa Inggris perancangan adalah salah satu arti dalam desain, bisa di jabarkan arti kata desain adalah ilmu yang berhubungan dengan suatu perencanaan atau perancangan. Biasanya berbentuk gambar yang nantinya di wujudkan dalam bentuk sebenarnya. Desain sendiri adalah suatu disiplin atau mata pelajaran yang tidak hanya mencakup eksplorasi visual, tetapi terkait dan mencakup pula dengan aspek-aspek seperti kultural-sosial, filosofi, teknis dan bisnis. Aktivitasnya termasuk dalam desain grafis, desain industry, arsitektur, desain interior, desain produk dan profesi-profesi lainnya (Yongky Safanayong, 2006 : 2).
Perancangan juga memiliki pengertian penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu kesatuan yang utuh dan berfungsi (Syifaun Nafisah, 2003 : 2). Perancangan sistem dapat dirancang dalam bentuk bagan alir sistem (system flowchart), yang merupakan alat bentuk grafik yang dapat digunakan untuk menunjukan urutan- urutan proses dari sistem. Salah satu pengertian dari perancangan juga adalah tahap mencoba mencari solusi dari sebuah permasalahan (Tohari, 2014:5).
Pengertian lain dari perancangan adalah tahapan perancangan (desain) memiliki tujuan untuk mendesain sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem yang terbaik.
Pengertian perancangan menurut bin Ladjamudin (2005:39) “Perancangan adalah tahapan perancangan (design)memiliki tujuan untuk mendesain sistembaru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yangdiperoleh dari pemilihan alternative sistem yang terbaik”.
7 Perancangan menurut Kusrini dkk (2007:79) “perancangan adalah proses pengembangan spesifikasi sistem baru berdasarkan hasil rekomendasi analisis sistem”. Berdasarkan pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa perancangan adalah suatu proses untuk membuat dan mendesain sistem yang baru (www.academia.edu).
2. Pondok
Pondok berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti Hotel atau Asrama.
Dalam bahasa Jawa pondok berarti Madrasah, rumah atau tempat tinggal sederhana, yang dipetak-petak dalam bentuk kamar sebagai asrama bagi para santri yang digunakan untuk mengaji dan belajar agama islam. (id.wikipedia.org ).
Pondok adalah suatu bangunan yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran berlangsung. Biasanya Pondok dibangun dengan fasilitas yang sangat sederhana sebagai bagian untuk melatih santri-santri hidup sederhana. Dan biasanya pondok pesantren sendiri dibangun dengan bentuk kamar-kamar yang digunakan untuk tempat tinggal Santri, pondok juga merupakan ruang di mana nilai-nilai keagamaan Islam dipelajari sekaligus diterapkan. (abusyuja.com).
3. Pesantren
Pesantren adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, dimana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Kata pesantren terdiri dari kata "santri" yang ditambahkan imbuhan "pe" dan akhiran
"an". Kata "santri" menurut A.H Johns berasal dari Bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan istilah santri digunakan untuk menyebut siswa di pesantren.
Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam.
Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, kemudian timbul inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah Kyai. Kyai saat itu belum
8 memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana. Mereka menempati sebuah gubug atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kyai. Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubug yang didirikan
4. Tahfidz
Berarti menghafal dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab yaitu “hafidza- yahfadzu-hifdzan”, yaitu lawan dari lupa atau selalu ingat sedikit lupa. (Sumber:
/pengertian-tahfidz-al-quran.html. Secara etimologi, hafal merupakan lawan dari pada lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa.
Sedangkan secara terminologi, penghafal adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sederetan kaum yang menghafal. Penghafal Qur’an adalah orang yang menghafal setiap ayat-ayat dalam al-Qur’an mulai ayat pertama sampai ayat terakhir. Penghafal Qur’an dituntut untuk menghafal secara keseluruhan baik hafalan maupun ketelitian. Sebab itu tidaklah disebut penghafal yang sempurna orang yang menghafal al-Qur’an setengahnya saja atau sepertiganya dan tidak menyempurnakannya google eprints.ums.ac.id. Kata tahfidz berasal dari kosa kata bahasa arab. Merupakan bentuk masdar ghoir mim dari kata ا haffadza – yuhaffidzu – tahfiidz.
Arti dari dari kata diatas adalah menghafalkan. Dengan begitu arti dari tahfidz adalah menghafalkan. Setelah mengetahui bahwasanya arti dari tahfidz, maka saatnya untuk meningkat kepada pengertiannya, adapun menurut menurut Abdul Aziz Abdul Rauf definisi tahfidz atau menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti menjadi hafal.
Sedangkan pengertian menghafal menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berusaha meresapkan kedalam fikiran agar selalu ingat. Didasarkan kepada pendapat Suryabrata yang dikutip oleh Kamilhakimin Ridwal Kamil dalam buku dengan judul Mengapa Kita Menghafal (tahfizh) al-Qur’an, Istilah menghafal disebut juga mencamkan dengan sengaja dan dikehendaki, artinya dengan sadar dan sungguh-sungguh mencamkan sesuatu.
9 5. Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah nama bagi Kitab Suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk hidup (hidayah) bagi seluruh umat manusia. Dari segi bahasa, para ulama berbeda pendapat tentang nama AlQur'an ini, apakah Al-Qur'an musytaq atau terambil dari akar kata tertentu atau bukan.
Imam Syafi‘i yang membaca Al-Qur'an dengan Al-Quran (tanpa hamzah) berpendapat bahwa Al-Qur'an tidak terambil dari satu kata tertentu, tetapi Al- Qur'an adalah nama dari kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sebagaimana nama kitab Taurat dan Injil. Alasannya adalah jika seseorang mendengarkan bacaan Al-Qur'an, maka yang dia dengarkan adalah bacaan Al-Qur'an bukan 7 sekadar bacaan biasa. Sementara ulama lain berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah musytaq atau terambil dari satu akar kata.
Kata qur′an walaupun kata jadian, tetapi maksudnya adalah al-maqrµ′ atau sesuatu yang dibaca.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata Al-Qur'an terambil dari kata al- qur′u (yang artinya mengumpulkan. Al-Qur'an dikatakan demikian karena Al- Qur'an mengumpulkan satu surah dengan surah lainnya.
Ada juga yang berpendapat bahwa Al-Qur'an telah mengumpulkan ringkasan kitab-kitab samawi sebelumnya. Atau, AlQur'an telah mengumpulkan banyak ilmu di dalamnya.. Al-qaren adalah teman dekat karena sering berkumpul.
Al-Qur'an dikatakan demikian karena Al-Qur'an telah mengumpulkan huruf- huruf, surah-surah, dan ayat-ayat di dalamnya.
Ada juga yang berpendapat bahwa Al-Qur'an terambil dari kata qar³nah yang jamaknya al-qar′in (yang artinya tanda atau alamat atau indikator. Al-Qur'an dinamakan demikian karena ayat satu dengan lainnya saling membenarkan dan menyerupai, atau satu ayat menjadi indikator terhadap ayat yang lain dalam hal kebenarannya dan lain sebagainya. Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi terhadap Al-Qur'an.
Ada yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah 8 yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril sebagai mukjizat dan berfungsi sebagai hidayah (petunjuk).
Yang lain mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang diriwayatkan kepada kita yang ada pada kedua kulit mushaf.
10 Yang lain mengatakan: Al-Qur'an adalah kalamullah yang ada pada kedua kulit mushaf yang dimulai dari Surah al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah an- Nas.
Yang lain mengatakan: Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang dinukil atau diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya bernilai ibadah.
Ada juga yang mengatakan: Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dengan bahasa Arab, yang sampai kepada kita secara mutawatir, yang ditulis di dalam mushaf, dimulai dari Surah al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah an-Nas, membacanya berfungsi sebagai ibadah, sebagai mukjizat Nabi Muhammad dan sebagai hidayah atau petunjuk bagi umat manusia.
(https://pustakalajnah.kemenag.go.id/uploads/Mukadimah.pdf).
6. Tahfidz Al-Qur’an
Tahfidz Al-Qur’an adalah proses menghafal baik dengan cara membaca maupun mendengarkannya secara berulang-ulang sampai hafal sehingga setiap ayat mampu dibaca tanpa melihat mushaf. Penulisan dalam bahasa Indonesia Tahfidz Al-Qur'an adalah sama seperti tahfizh Al-Quran atau ditulis tahfiz Quran.
Beberapa bagian penting dari pengertian tahfidz Al-Quran:
a. Al-Qur’an adalah firman Allah pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagaimana firman-Nya QS. An-Najm: 4, artinya: “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.
b. Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga tidak ada yang dapat Al- Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril berdasarkan firman Allah, artinya: “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. An- Nahl:102).
Menurut Ustadz Abdul Aziz Abdul Ra’uf istilah tahfidz adalah proses mengulang hafalan, baik dengan membaca atau pun mendengar. Pekerjaan apapun apabila dilakukan terus dan diulang, pasti menjadi hafal. Pada generasi
11 awal penyiaran Islam orang-orang yang menghafal Al-Quran disebut Huffazhul Quran.
Awalnya semua metode tahfidz Al-Quran dilakukan dengan pendengaran, yaitu guru membacakan dan murid mengulangi bacaan secara berulang-ulang.
Adapun apabila ada kesalahan atau kekurangtepatan makharijul huruf maka guru agar menegur dan mencontohkan bacaan yang benar.
Tahfidz adalah bermakna juga menghafal disertai tadabbur atau memahami ayat Al-Quran yang sedang dihafalkan. Para shahabat nabi, saat ada wahyu baru turun maka akan segera dihafalkan dengan sungguh-sungguh dari satu orang ke orang lainnya.
7. Arsitektur Islam
Arsitektur Islam adalah sebuah karya seni bangunan yang terpancar dari aspek fisik dan metafisik bangunan melalui konsep pemikiran islam yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah Nabi, Keluarga Nabi, Sahabat, para Ulama maupun cendikiawan muslim. Aspek Fisik adalah sesuatu yang tampak secara jelas oleh pancaindra. Dalam hal ini sebuah bangunan dengan fasade yang memiliki bentuk dan langgam budaya islam dan dapat dilihat secara jelas melalui beberapa budaya, seperti budaya arab, cordoba, persia sampai peninggalan wali songo. Bentuk fisik yang biasa diterapkan dalam sebuah bangunan sepetri penggunaan kubah, ornamen kaligrafi, dan sebagainya. Aspek Metafisik adalah sesuatu yang tidak tampak pancaindra tetapi dapat dirasakan hasilnya. Hal ini lebih kepada efek atau dampak dari hasil desain arsitektur islam tersebut, seperti bagaimana membuat penghuni/ pengguna bangunan lebih nyaman dan aman ketika berada di dalam bangunan sehingga menjadikan penghuni merasa bersyukur. Contoh lain hasil desain ruang2 dalam sebuah rumah, bisa menjadikan komunikasi orang tua dan anak lebih dekat, sehingga membuat mereka rajin beribadah.
Kaidah Arsitektur Islam
1. Di dalam dan luar bangunan tidak terdapat gambar/ornamen makhluk hidup secara utuh.
2. Di dalam dan luar bangunan terdapat ornamen yang mengingatkan kepada Tuhan Yang Maha Indah.
12 3. Hasil desain bangunan tidak ditujukan untuk pamer dan kesombongan.
4. Pengaturan ruang-ruang ditujukan untuk mendukung menjaga akhlak dan prilaku.
5. Posisi toilet tidak dibolehkan menghadap atau membelakangi kiblat.
6. Keberadaan bangunan diusahakan tidak merugikan tetangga disekitar.
7. Pembangunan sampai berdirinya bangunan seminimal mungkin tidak merusak alam.
8. Menggunakan warna yang mendekatkan kepada Tuhan, seperti warna-warna alam.
B. Perancangan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Dengan Pendekatan Arsitektur Islam di Kota Makassar
Perancangan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Dengan Pendekatan Arsitektur Islam di Kota Makassar adalah suatu proses untuk membuat dan mendesain suatu bangunan yang berfungsi sebagai alternative tambahan sebagai wadah atau tempat menampung kegiatan para penghafal Al-Qur’an di Kota Makassar. Perancangan yang dilakukan juga bertujuan agar para pelaku kegiatan khususnya para santri/wati merasa nyaman, aman, serta bisa fokus menghafalkan ayat demi ayat yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an sehingga bisa dengan mudah menjadi tahfidz Al-Qur’an. Pondok tahfidz yang di rancang ini memberikan suatu nuansa religi yang kuat dengan menerapkan arsitektur islam sebagai konsep pada bangunannya.
C. Studi Banding
1. Pondok Tahfidz Ummul Quro Hidayatullah, maros
Gambar II.1 Tompu Bulu Maros (Sumber: Dokumentasi penulis)
13 Pondok Tahfidz Ummul Quro Pucak terletak di Kampung Arra, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros. Pesantren tersebut awalnya dirintis oleh Ustaz Sarmdani pada tahun 2011 yang dimulai dengan membangun rumah kayu. Kemudian pada tahun 2012 dimulai pembangunan masjid. Tahun 2013 kegiatan belajar dan mengajar di pondok pesantren mulai berjalan normal. Di tahun 2015 mulai dibangun rumah-rumah panggung di sekitar masjid untuk tempat tinggal para santri yang kini jumlahnya puluhan.
2. Darul Huffadh Bone, Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an
Gambar II.2. Pondok Pesantren Tahfidz Darul Huffadh, Bone (Sumber : Dokumentasi penulis)
Pondok ini didirikan oleh Ust. Lanre Said pada tanggal 7 Agustus 1975 M atau 29 Rajab 1395 H pada pukul 07.00 di awali dengan 7 santri di kampung Tuju-Tuju, Kec. Kajuara, Kab Bone. Lembaga Pesantren yang awalnya hanyalah pengajian biasa secara resmi menjadi Lembaga Pendidikan Islam Pondok Pesantren Darul huffadh yang diresmikan oleh Bupati Bone, H.A.M Amir, pada tahun 1993. Lembaga ini berdiri tanpa panitia dan donatur.
Menghafal Al-Qur’an adalah aktifitas inti yang dijalankan oleh pesantren. Seluruh santri setiap saat dihadapkan oleh kalam Ilahi untuk dihafal secara keseluruhan 30 juz, dibawah bimbingan langsung Bapak Pimpinan.
Majlis Tahfidzul Qur’an (MTQ) merupakan lembaga tahfidziyah di Pondok Pesantren Darul Huffadh yang dipadukan dengan Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah. Majlis ini bersamaan dengan berdirinya pondok ini yaitu pada tanggal 7 agustus 1975 di desa tuju-tuju.
Dua lembaga ini (MTQ dan KMI) wajib diikuti oleh seluruh santri yang bernaung dibawah naungan Darul Huffadh. MTQ mendidik dan mengasuh santri
14 agar menjadi hafidz yang berkualitas tinggi, sedangkan KMI mencetak generasi yang paham akan ajaran syariat islam yang berasaskan Al-Qur’an dan Hadits Shohih. Diantara sekalian banyak kurikulum yang diajarkan di KMI adalah sebagai penopang dan penunjang dalam menghapal Al-Qur’an dengan mudah.
Bagi mereka yang betul-betul menghapal dengan baik akan mempermudah mereka mengeluarkan Al-Qur’an sebagai dalil atas apa yang mereka pelajari di KMI. Pendiri Pondok Pesantren Darul Huffadh, Ustadz H.Lanre Sa’id dalam salah satu tujuannya mendirikan pondok ini adalah memberantas buta baca tulis Al-Qur’an dan mencetak para hafidz yang berbobot dan berkualitas tinggi.
D. Studi Literatur
Beberapa Pondok tahfidz yang tersebar di seluruh Indonesia dengan fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar khususnya untuk para tahfidz Al-Qur’an, salah satunya yaitu :
1. Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus
Gambar II.3. Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an, Kudus (Sumber https://ceramahmotivasi.com)
Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Arwaniyah. Lembaga pendidikan yang berupa pesantren salaf ini menitiktekankan pada pengajaran Al Qur’an, yaitu meliputi tahsin (pembenaran bacaan), tahfidh (hafalan) dan qiro’ah sab’ah.
Cikal bakal pesantren ini berawal dari pengajian yang diampu oleh KH.
M. Arwani Amin yang telah dimulai sejak tahun 1942 di Masjid Kenepan. Di
15 Masjid ini beliau menerima para santri yang ingin belajar Al Qur’an baik bin nadhor maupun bil ghoib. Pengajian ini sempat terhenti pada rentang waktu antara tahun 1947 s.d 1957 disebabkan kesibukan beliau menuntut ilmu Thariqoh di pesantren Popongan, Solo. Setelah tahun 1957 pengajian itu pun kembali berlanjut. Pada tahun 1962, KH. M. Arwani menempati sebuah rumah baru di kelurahan Kajeksan, maka tempat pengajian pun turut dipindahkan tak jauh dari rumah beliau yang baru yaitu di Masjid Busyro al-Latif.
Seiring berjalannya waktu, santri yang belajar pada beliau semakin bertambah. Beliau pun berniat untuk mendirikan sebuah pesantren untuk menampung para santri agar mereka bisa lebih mudah dalam belajar. Akhirnya pada tahun 1973 didirikanlah sebuah pesantren Al Qur’an yang diberi nama
“Yanbu’ul Qur’an”. Nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti mata air (sumber) Al Qur’an dipilih oleh KH. M. Arwani sendiri yang dipetik dari Al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 90.
Empat tujuan pokok didirikannya PTYQ saat itu, pertama, menyediakan pemukiman bagi para santri yang ingin belajar dan menghafal Al Qur’an.
Kedua, memudahkan kontrol kepada para santri dan memperlancar keberlangsungan proses belajar mengajar. Ketiga, menjaga kemurnian Al Qur’an. Dan keempat, turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Muqoddasah Ponorogo, Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an
Gambar II.4. Pondok Pesantren Tahfidz Muqoddasah Ponorogo (Sumber https://ceramahmotivasi.com)
Pondok Pesantren Tahfidz Muqoddasah didirikan pada tanggal 18 oktober 1992 dan diasuh oleh salah satu dari tiga pimpinan pondok Gontor, yaitu KH.
16 Hasan Abdullah Sahal, lokasinya berjarak sekitar 200 meter dari Pondok Pesantren Modern Gontor.
Para pengajar merupakan alumni Ma’had Tahfidh Al-Qur’an dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya dari kota Malang, Kudus, Jepara, Pati, Sulawesi, Bogor, Demak, Purwodadi dan lain-lain. Sedangkan pengajar pendidikan formal SD dan SMP adalah para sarjana dari berbagai perguruan tinggi dan alumni Pondok Darussalam Gontor Ponorogo.
Banyak lulusan Pondok Tahfidz Muqoddasah yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di dalam maupun luar negeri, diantaranya LIPIA Jakarta, PTIQ Jakarta, IIQ Jakarta, Universitas Muhammadiayah Yogyakarta, Universitas Brawijaya, ISID Gontor, Universitas Al-Azhar Mesir, Turki, Al Jami’ah Al-Islamiyyah Madinah Al-Munawwaroh, dan lain-lain.
3. Daarul Quran Tangerang, Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an
Gambar II.5. Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran, Tangerang (Sumber https://ceramahmotivasi.com)
Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an didirikan oleh Ust. Yusuf Mansur, berlokasi di Kamp. Qur’an, Cipondoh, Tangerang., sebuah kawasan yang dibangun oleh PPPA Daarul Qur’an, di lokasi inilah sebagai pusat pengembangan ilmu Qur’an, pelatihan dan menjadi sentra Pembibitan Penghafal Al Qur’an.
Daarul Qur’an adalah Pondok Pesantren yang mengharmonikan pendidikan,lifeskill, sosial, dakwah, dan religi. Melalui pengajaran One Day dan One Ayat, Hafalan Qur’an adalah standar kualifikasi santri Daarul Qur’an.
Untuk menjadikan putra-putri Anda Penghafal Qur’an secara cepat dan tepat.
17 Dengan pembimbing yang sudah teruji melalui berbagai ajang Musabaqoh Hifdzil dan Tilawah Qur’an Nasional. Juga tenaga pengajar bertaraf internasional dari berbagai Negara. Dengan legalitas Yayasan, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an mendirikan berbagai program pendidikan.
Awalnya pesantren ini berdiri, Waktu itu datang tamu ke rumah Ustadz Yusuf Mansur, seorang ustadz bernama H Ahmad, yang sedikit mengadu tentang keadaan pondok pesantren yang dirintisnya yang memang butuh suntikan dana di tahun 2003.
Akhirnya Ustadz Yusuf Mansur meminta beliau menempatkan santri di rumah Ustadz Yusuf Mansur. Ternyata pesantren yang dia maksud hanya satu rumah yang bercampur antara santri wanita dan pria. Tapi, beliau memang luar biasa, lulusan Madinah yang istikamah.
Motivasi Ustadz Yusuf Mansur hanya satu supaya punya hafalan Alquran bisa ada kesempatan untuk muraja’ah yaitu dengan mengajar karena menjaga hafalan supaya baik yaitu dengan mengajar. Kedua, motivasi Ustadz Yusuf Mansur supaya selamat dan Ustadz Yusuf Mansur butuh sekali pertolongan Allah. Sedangkan Allah bilang, kalau kita rajin membantu orang, rajin sedekah, akan dibantu. Jadi, waktu itu sekitar delapan orang anak kemudian dipondokkan di rumah. Jadilah cikal bakal Ponpes Daarul Quran Wisata Hati.
Awalnya konsep Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) adalah sebuah konsep Seribu Pondok. Maksudnya adalah bukan membangun dari nol tapi kita mencari masjid yang konsepnya tidak ada kegiatan lalu kita titip anak- anak di situ untuk belajar. Kita mencarikan guru yang juga hafidz, kemudian disewakan satu rumah, dan dialah nanti yang mengajar. Untuk sekolah formal mereka kita beri sepenuhnya untuk memilih.
Kemudian kita menemukan satu lokasi yang cantik sekali namanya Bulak Santri yang terletak di kelurahan Pondok Pucung Kecamatan Karang Tengah, Ciledug, Tangerang, Banten. Dan ternyata Bulak Santri ini tambah menarik karena dia sudah ada lokal untuk belajar, madrasah ada empat lokal yang sudah tidak terpakai selama tiga tahun, masjidnya besar tapi kegiatannya tidak terlalu banyak. Ada satu majelis yang sudah tidak terpakai belasan tahun.
Tahun 2005 kita meminta izin ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
18 untuk anak-anak bisa belajar tidak ke luar tapi di dalam pesantren. Maka lahirlah SMP Islam Daarul Quran. Waktu itu kami mengaudisi 20 santri. Tahun pertama delapan santri, tahun kedua 20 santri kemudian tahun 2006 kita mulai jalankan PPPA Untuk menghidupi santri kami meluncurkan program yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia ini. Setiap tahun PPPA mengaudisi sekitar 70 calon satri.
Tujuan terbentuknya PPPA Daarul Qur’an, selain membibit dan mencetak Al-Qur’an, juga mengelola dana sedekah jamaah Wisatahati secara profesional dan transparan, sehingga kepercayaan masyarakat semakin tumbuh dan berkembang dan pengelolaan PPPA Daarul Qur’an dapat sejajar dengan pengelolaan perusahaan professional.
4. Pondok Tahfidz Qu’ran Al Khair
Gambar II.6. Pondok Tahfidz Qu’ran Al Khair (Sumber https://pesantrentahfidzquran.com/tahfidz-quran)
Pesantren tahfidz Qur’an di Ponorogo ini memiliki pendiri sepasang suami istri yang lama hidup di Pakistan sebagai staf kedutaan besar Republik Indonesia. KH. Bambang Sudarsono dan HJ. Zulfa yang tekun bersama mendirikan pesantren.
Keduanya karena lama hidup di luar negeri selalu berpikir bahwa santri di era millennial wajib memiliki Bahasa Inggris yang bagus. Fungsinya agar santri memiliki modal untuk keliling dunia dan bisa menyebarkan agama Islam atau belajar ilmu yang lebih luas di negara-negara berpengaruh dunia. Karena filosofi dasar inilah setiap santri dalam komunikasi sehari-hari sangat
19 ditekankan memiliki Bahasa Inggris yang kuat. Tidak boleh tidak. adapun Bahasa arab sebagai Bahasa pokok pembelajaran di kelas.
Dalam pembinaan demikian, ustadz yang mengajarkan adalah lulusan Yaman yang juga sudah hafal Al Quran. Sehingga dalam aspek hafalan menjadi lebih mudah mengajarkan pada santri. Apalagi antara santri putra dan putri terpisah cukup jauh.Target hafalan santri dalam satu tahun adalah dua juz. Ini target minimal yang nantinya diujikan. Sehingga setiap santri paling tidak mampu mendapatkan 10 juz selama masa pendidikan di pesantren tahfidz Quran di Ponorogo ini. Adapun untuk ektra kurikuler ada satu yang menarik, yaitu ektra multimedia dan desain grafis. Ekstra ini menurut kami sangat sesuai dengan era millennial yang serba digital. Artinya santri akan memiliki kemampuan multi talenta, dari Bahasa Inggris, tahfidz Qur’an, dan kemampuan multimedia yang memadai untuk era modern seperti sekarang ini.
20
BAB III
TINJAUAN KHUSUS
A. Tinjauan Terhadap Kota Makassar
Gambar III. 1: Peta Kota Makassar (Sumber: Makassar Dalam Angka 2019)
Kota Makassar merupakan salah satu Kota di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia memiliki luas areal 175,77 km2 dengan penduduk 1.526.677 jiwa sehingga kota ini sudah menjadi kota Metropolitan. Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Secara astronomis, Kota Makassar terletak antara 119o24’17’38”
Bujur Timur dan 5o8’6’19” Lintang Selatan. Berdasarkan posisi geografisnya, Kota Makassar memiliki batas-batas: Utara – Kabupaten Maros; Selatan – Kabupaten Gowa;
Barat – Selat Makassar; Timur – Kabupaten Maros.
1. Letak Geografis
Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km2. Luas laut dihitung dari 12 mil dari daratan sebesar 29,9 Km2, dengan ketinggian topografi dengan kemiringan 0° sampai 9° Terdapat 12 pulau-pulau kecil, 11 diantaranya telah diberi nama dan 1 pulau yang belum diberi nama. Kota Makassar memiliki garis pantai
21 kurang lebih 100 km yang dilewati oleh dua sungai yaitu Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang.
Tabel III.1.Tabel Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Makassar Tahun 2019
(Sumber: Makassar Dalam Angka 2019)
2. Administrasi
Secara administrasi wilayah Kota Makassar berbatasan langsung dengan:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Pangkajene Kepulauan b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Administrasi Kota Makassar terbagi atas 15 kecamatan, 153 kelurahan, dengan 996 RW, dan 4979 RT, dengan total Luas wilayah administrasi Kota Makassar adalah 175,77 km2. Prosentase luas wilayah kecamatan yang tergolong cukup luas adalah Kecamatan Biringkanaya (48,22%), Tamalanrea (31,84%), Manggala (24,14%) dan Tamalate (20,21%) dari luas total luas wilayah No Kecamatan Luas (km2) Persentase
1 MARISO 1,82 1,04
2 MAMAJANG 2,25 1,28
3 TAMALATE 20,21 11,50
4 RAPPOCINI 9,23 5,25
5 MAKASSAR 2,52 1.43
6 UJUNG PANDANG 2,63 1,50
7 WAJO 1,99 1,13
8 BONTOALA 2,10 1,19
9 UJUNG TANAH 4,40 2,50
10 KEP.SANGKARRANG 1,54 0,88
11 TALLO 5,83 3,32
12 PANAKUKKANG 17,05 9,70
13 MANGGALA 24,14 13,73
14 BIRINGKANAYA 48,22 27,43
15 TAMALANREA 31,84 18,11
KOTA MAKASSAR 175,77 km2 . 100,00
22 Kota Makassar. Sumber: https://jagad.id/peta-kota-makassar-sejarah-dan-letak- lokasi-geografis/
3. Kependudukan
Penduduk Kota Makassar berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2018 sebanyak 1.508.154 jiwa yang terdiri atas 746.951. jiwa penduduk laki-laki dan 761.203 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2017, penduduk Kota Makassar mengalami pertumbuhan sebesar 1,29 persen dengan masing-masing persentase pertumbuhan penduduk laki- laki sebesar 1,43 persen dan penduduk perempuan sebesar 1,36 persen. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2018 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 98.
Tabel III.2. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Makassar 2016-2018
Kecamatan
Jumlah Penduduk
Laju Pertumbuhan Penduduk
2016 2017 2018 2016-2017 2017-2018
1 MARISO 59 292 59 721 60.130 0.72 0.68
2 MAMAJANG 61 007 61 186 61.338 0.29 0.25
3 TAMALATE 194 493 198 210 201.908 1.91 1.87
4 RAPPOCINI 164 563 166 480 168.345 1.16 1.12
5 MAKASSAR 84 758 85 052 85.311 0.35 0.30
6 UJUNG PANDANG 28 497 28 696 28.883 0.70 0.65
7 WAJO 30 933 31 121 31.297 0.61 0.57
8 BONTOALA 56 536 56 784 57.009 0.44 0.40
9 UJUNG TANAH 49 223 49 528 35.354 0.62 0.57
10 KEP.SANGKARRANG … … 14.458 … 0.58
11 TALLO 139 167 139 624 140.023 0.33 0.29
12 PANAKKUKANG 147 783 148 482 149.121 0.47 0.43
13 MANGGALA 138 659 142 252 145.873 2.59 2.55
14 BIRINGKANAYA 202 520 208 436 214.432 2.92 2.88
15 TAMALANREA 112 170 113 439 114.672 1.13 1.09
Kota Makassar 1 469 601 1 489 011 1,508.154 1.32 1.29 (Sumber: Makassar Dalam Angka 2019)
23 Tabel III.3. Jumlah Penduduk dan rasio jenis kelamin Menurut Kecamatan di Kota Makassar 2016-2018
Kecamatan
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin
1 MARISO 30.385 29.745 60.130 102
2 MAMAJANG 30.076 31.262 61.338 96
3 TAMALATE 100.320 101.588 201.908 98
4 RAPPOCINI 81.399 86.946 168.345 93
5 MAKASSAR 42.425 42.886 85.311 98
6 UJUNG PANDANG 13.641 15.242 28.883 89
7 WAJO 15.382 15.915 31.297 96
8 BONTOALA 27.810 29.199 57.009 95
9 UJUNG TANAH 17.939 17.415 35.354 103
10 KEP.SANGKARRANG 7.258 7.258 14.458 100
11 TALLO 70.183 69.840 140.023 100
12 PANAKKUKANG 73.756 75.365 149.121 97
13 MANGGALA 73.267 72.606 145.873 100
14 BIRINGKANAYA 107.100 107.332 214.432 99
15 TAMALANREA 56.068 58.604 114.672 95
KOTA MAKASSAR
2018 746.951 761.203 1 508 154 98 2017 737 146 751 865 1 489 011 98 2016 727 314 742 287 1 469 601 98
(Sumber: Makassar Dalam Angka,2019)
B. Tinjauan Rencana Tata Ruang Kota Makassar
Rencana struktur ruang wilayah Kota Makassar merupakan arahan perwujudan sistem perkotaan dalam wilayah Kota Makassar dan jaringan prasarana wilayah yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah Kota selain untuk melayani kegiatan skala Kota, yang terdiri dari:
1. Rencana Sistem Perkotaan a. Pusat Pelayanan Kota (PPK)
1) PPK I berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan provinsi, pusat kegiatan pemerintahan kota, pusat kegiatan budaya, dan pusat perdagangan dan jasa di kawasan pusat kota ditetapkan di:
a) Kawasan Pemerintahan Provinsi di Kecamatan Panakukkang
24 b) Kawasan Karebosi di Kecamatan Ujung Pandang
c) Kawasan Pemerintahan Kota di Kecamatan Ujung Pandang dan Kecamatan Makassar
d) Kawasan Benteng Fort Rotterdam di Kecamatan Wajo e) Kawasan Pasar Sentral di Kecamatan Wajo
f) Kawasan Pecinan dan sekitarnya di Kecamatan Wajo
2) PPK II berfungsi sebagai pusat kegiatan bisnis skala internasional, nasional, dan regional ditetapkan di Kawasan Centerpoint Of Indonesia pada kawasan reklamasi di sebagian Kecamatan Tamalate dan sebagian Kecamatan Mariso, serta pusat kegiatan pertemuan, pameran, dan sosial budaya skala internasional, nasional, dan regional ditetapkan di Kecamatan Mariso dan Kecamatan Tamalate.
Gambar III.2. Peta Rencana Tata Ruang Kota Makassar (Sumber: Dinas PU Kota Makassar)
3) PPK III berfungsi sebagai pusat kegiatan maritim skala internasional, nasional, dan regional ditetapkan di:
1. Kawasan Pantai Utara di Kecamatan Ujung Tanah 2. Kawasan Untia di Kecamatan Biringkanaya
3. Kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara di Kecamatan Biringkanaya 4. Kawasan Kampus PIP dan sekitarnya di Kecamatan Biringkanaya b. Sub Pusat Pelayanan Kota (Sub PPK)
1) Sub PPK I dengan fungsi sebagai pusat kegiatan perumahan kepadatan tinggi dan sedang dengan skala pelayanan tingkat kota ditetapkan di Kecamatan Panakukkang, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Rappocini.
25 2) Sub PPK II dengan fungsi sebagai pusat kegiatan penelitian dan
pendidikan tinggi dengan skala pelayanan tingkat nasional dan regional ditetapkan di Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Panakkukang, Kecamatan Rappocini, dan Kecamatan Tamalate.
3) Sub PPK III dengan fungsi sebagai pusat kegiatan kebandarudaraan dengan skala pelayanan internasional dan nasional ditetapkan di Kecamatan Biringkanaya.
4) Sub PPK IV dengan fungsi sebagai pusat kegiatan industri dengan skala pelayanan tingkat internasional, nasional, dan regional ditetapkan di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea.
5) Sub PPK V dengan fungsi sebagai pusat kegiatan pergudangan dengan skala pelayanan tingkat regional ditetapkan di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea.
6) Sub PPK VI dengan fungsi sebagai pusat kegiatan kepelabuhanan dengan skala pelayanan tingkat internasional dan nasional ditetapkan di Kecamatan Wajo dan Kecamatan Ujung Tanah.
7) Sub PPK VII dengan fungsi sebagai pusat kegiatan bisnis pariwisata dengan skala pelayanan tingkat internasional, nasional, dan regional ditetapkan di Kecamatan Tamalate.
8) Sub PPK VIII dengan fungsi sebagai pusat kegiatan budaya dengan skala pelayanan tingkat kota ditetapkan di Kecamatan Wajo dan Kecamatan Tamalate.
9) Sub PPK IX dengan fungsi sebagai pusat kegiatan olahraga dengan skala pelayanan tingkat internasional, nasional, dan regional ditetapkan di Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Mariso, dan Kecamatan Tamalate.
10) Sub PPK X dengan fungsi sebagai pusat kegiatan kesehatan dengan skala pelayanan tingkat nasional dan regional ditetapkan di Kecamatan
c. Pusat Lingkungan (PL)
1. Pusat Lingkungan sebagai pusat pelayanan lokal meliputi pelayanan perkantoran, pemerintahan, perdagangan dan jasa dengan skala lingkungan, pelayanan sosial dan budaya, serta perumahan yang tersebar di setiap kelurahan.
2. Pusat Lingkungan ditetapkan di Kawasan Perumahan Bumi Tamalanrea Permai dan sekitarnya di Kecamatan Tamalanrea, Kawasan Antang dan
26 sekitarnya di Kecamatan Manggala, dan Kawasan Gunung Sari dan sekitarnya di Kecamatan Rappocini.
2) Rencana Sistem Jaringan Transportasi
Rencana Sistem Jaringan Transportasi terdiri dari rencana Jaringan Transportasi Darat (Jaringan jalan, Jaringan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan, dan Rencana Sistem Jaringan Perkeretaapian), Rencana Sistem Jaringan Transportasi Laut (Tatanan Kepelabuhanan dan Alur Pelayaran), dan Rencana Sistem Jaringan Transportasi Udara (tatanan kebandarudaraan dan ruang udara untuk penerbangan).
3) Rencana Prasarana Lainnya
Rencana prasarana lainnya terdiri atas: Rencana Sistem Jaringan Energi/kelistrikan; Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi; Rencana Sistem Jaringan Sumber Daya Air; Sistem Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Air;
Sistem infrastrukstur perkotaan.
C. Tinjauan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran di Kota Makassar
Beberapa peninjauan tentang Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an khususnya di Kota Makassar, yaitu :
1. Pondok Terbangun
Ada sejumlah pondok penghafal al-Qur’an di Kota Makassar yaitu sebanyak 8 pondok dan 26 Pesantren yang memprogramkan kurikulum menghafal Al-Qur’an.
8 pondok tahfidz yang ada di Kota Makassar tersebut yaitu :
a) Pondok Tahfidz Al Majid, di Jln. Toddopuli XXII Permai, kec, manggala, Makassar
b) Pondok Tahfidz Putri DaarulFath, di Jln. Tamangapa Raya, kec, manggala, Makassar
c) Pondok Tahfidz Qur’an, di Jln. Tamalanrea, kec. Tamalanrea, Makassar
d) Pondok Tahfidz Al-Hidayah Makassar, di Jln. Inspeksi Kanal Tamangapa Utara, kec. Manggala, Makassar
e) Pondok Tahfidz Raudhatul Ilmi, Jl. Dg. Ngeppe, Kec. Tamalate, Kota Makassar, f) Pondok Tahfidz Assudais, Jln. Prof. Abdurahman Basalamah, kec, panakukang
Makassar,
g) Pondok Tahfidz Ulul Ilmi, Jln. Manuruki Raya, kec. Tamalate, makassar dan h) Pondok Tahfidz An-Najm, Jln. Jongaya, kec. Tamalate, Makassar.
27 2. Tujuan Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an
Tujuan sebagai sesuatu yang akan dicapai melalui proses mempunyai peran pengarah dan sebagai hasil yang akan dicapai. Tujuan harus dirumuskan lebih dahulu dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan jelas dan terperinci.
Selain itu, tujuan juga harus dikomunikasikan dengan siswa agar dapat dipahami.
Sehingga mereka sejak awal pembelajaran telah mengerti kemampuan yang harus dimiliki setelah proses pembelajaran berlangsung.
Menurut Ustad Rusman, bahwa tujuan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran umum meliputi: standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sedangkan tujuan pembelajaran khusus, yaitu berupa indikator pembelajaran.
Tujuan pembelajaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan, kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
(eprints.walisongo.ac.id)
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah sebagai sesuatu yang akan dicapai melalui proses untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan, pengetahuan kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mempunyai peran pengarah sebagai hasil yang dicapai dalam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Al-Quran adalah kitab suci Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasullulah SAW. Melalui Malaikat Jibril AS. Kitab suci ini disampaikan kepada nabi secara berangsur-angsur. Al-Qur’an juga merupakan kemuliaan paling tinggi, yang memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia agar berada dijalan yang lurus dan keluar dari kegelapan menuju cahaya terang, dan tidak ada keburukan sedikitpun di dalamnya.
Ada beberapa keutamaan menghafal Al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan oleh Wiwi Alawiyah Wahid sebagai berikut:
a) Al-Qur’an adalah pemberi syafaat pada hari kiamat umat bagi umat manusia yang membaca, memahami, dan mengamalkannya.
b) Para penghafal Al-Qur’an telah dijanjikan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt, pahala yang besar, serta penghormatan di antara sesama manusia.
c) Al-Qur’an menjadi hujjah atau pembela bagi pembacanya serta sebagai pelindung dari siksaan api neraka.