Nama : Dinda Lestari Nim : 2101411231 Kelas : 6F
Mata Kuliah : Kemuhammadiyahan 2 Dosen Pengammpu : Ayahanda Sahirman Jumli
5 (LIMA) PROFIL KADER MUHAMMADIYAH 1. KH Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan, atau dikenal dengan nama kecilnya Muhammad Darwis.
Lahir pada tanggal 1 Agustus 1868, Yogyakarta. Wafat pada tanggal 23 Februari 1023.
KH Ahmad Dahlan memiliki peran penting dalam sejarah Muhammadiyah.
Setelah mendirikan organisasi ini pada 18 November 1912, beliau terus berupaya menyebarkan pemikiran-pemikiran reformis dalam Islam. Muhammadiyah dibentuk sebagai respons terhadap kondisi umat Islam yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran yang dianggap tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadits. Dahlan mengajarkan pentingnya kembali kepada sumber-sumber utama Islam dan mengadopsi pendekatan yang rasional dan modern dalam memahami agama.
Dalam perjalanannya, Muhammadiyah berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya fokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pendidikan, sosial, dan kesehatan. Dahlan sendiri dikenal sebagai sosok yang mengedepankan pendidikan, terutama pendidikan bagi perempuan, yang diwujudkan melalui pendirian 'Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, oleh istrinya, Siti Walidah.
Perjuangan Dahlan dalam Muhammadiyah juga mencakup penentangan terhadap praktik-praktik keagamaan yang dianggap bid'ah dan syirik. Beliau berusaha mengajak masyarakat untuk melakukan ibadah sesuai dengan tuntunan yang lebih murni dan sederhana, yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah.
KH Ahmad Dahlan meninggal pada tahun 1923, namun warisan dan prinsip- prinsip yang beliau tanamkan terus hidup dan berkembang melalui Muhammadiyah, yang hingga kini tetap menjadi salah satu organisasi Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.
2. Buya Hamka
Buya Hamka, yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah, adalah seorang ulama, penulis sastrawan, dan tokoh Muhammadiyah. Lahir pada 17 Februari 1908 di Sumatera Barat, beliau adalah putra dari Syekh Abdul Karim Amrullah, yang juga dikenal sebagai Haji Rasul, seorang pembaharu Islam di Minangkabau. Wafat pada tanggal 24 Juli 1981.
Perjalanan Buya Hamka di Muhammadiyah dimulai ketika beliau menjadi pengiring A.R Sutan Mansur, kakak iparnya, dalam kegiatan kemuhammadiyahan. Beliau aktif dalam dakwah di Sumatera Barat dan menjadi mubaligh di kampung halamannya.
Pada tahun 1924, di usia 16 tahun, Hamka merantau ke Yogyakarta dan belajar pergerakan Islam modern dari tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Pengalaman ini memperkaya pemahaman beliau tentang Islam dan sosialisme.
Hamka juga dikenal sebagai mufasir, atau penafsir Al-Quran, dengan karyanya yang terkenal, Tafsir Al-Azhar. Beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama dan dikenal karena ketegasannya dalam hal akidah. Pada tahun 1981, Hamka mundur dari jabatannya sebagai Ketua MUI karena merasa ditekan untuk menganulir fatwa yang telah beliau keluarkan.
Buya Hamka meninggal pada 24 Juli 1981 dan dimakamkan di pekuburan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Warisan beliau dalam bidang keagamaan, sastra, dan pemikiran Islam terus dihormati dan dipelajari hingga saat ini.
3. Ki Bagus Hadikusumo
Ki Bagus Hadikusumo, yang lahir dengan nama R. Hidayat, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Beliau lahir pada tangga; 24 November 19890, di kampung Kauman, Yogyakarta, dan memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya serta beberapa Kiai di Kauman. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta, Ki Bagus menjadi alim, mubaligh, dan pemimpin umat. Beliau wafat pada tanggal 04 November 1954.
Dalam perjalanannya di Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh pada tahun 1922, Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah pada tahun 1926, dan Ketua PP Muhammadiyah dari tahun 1942 hingga 1953. Beliau memiliki peran besar dalam penyusunan Muqadimah UUD 1945 sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan yang disetujui oleh semua anggota PPKI.
Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya, dengan karya- karya seperti "Islam sebagai Dasar Negara" dan "Achlaq Pemimpin". Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya, termasuk HAMKA, untuk merumuskan landasan idiil Muhammadiyah.
Ki Bagus Hadikusumo wafat pada tanggal 04 November 1954, di usia 64 tahun dan Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.
4. Prof. Dr. H. Moh. Amin Rais
Prof. Dr. H. Moh. Amin Rais, yang lebih dikenal sebagai Amien Rais, adalah salah satu tokoh sentral dalam sejarah Muhammadiyah dan politik Indonesia. Beliau lahir pada 26 April 1944 di Surakarta dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di institusi Muhammadiyah, menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah I Surakarta, serta pendidikan SMP dan SMA di sekolah Muhammadiyah.
Amien Rais menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari tahun 1995 hingga 1998. Selama masa kepemimpinannya, beliau dikenal karena pandangan dan kritiknya yang tajam terhadap pemerintahan Orde Baru. Kepemimpinan beliau di Muhammadiyah ditandai dengan penekanan pada pendidikan, pemikiran keislaman yang modern, dan aktivisme sosial.
Setelah masa kepemimpinannya di Muhammadiyah, Amien Rais memainkan peran penting dalam Reformasi 1998 yang mengakhiri era Orde Baru. Beliau kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan menjabat sebagai Ketua Umum PAN dari tahun 1998 hingga 2005. Amien Rais juga menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dari tahun 1999 hingga 2004.
Perjalanan Amien Rais di Muhammadiyah dan politik Indonesia mencerminkan komitmennya terhadap nilai-nilai demokrasi, keadilan sosial, dan pembaharuan dalam Islam.
5. Dr. dr. Ahmad Watik Pratiknya
Dr. dr. Ahmad Watik Pratiknya , lahir pada tanggal 08 Februari 1948, Banjanegara. Wafat pada tanggal 19 Februari 2016. Beliau dalah seorang tokoh penting dalam Muhammadiyah yang dikenal sebagai dokter dan mubaligh. Beliau memulai aktivitasnya di Muhammadiyah dari Cabang Umbulharjo, Yogyakarta, dan kemudian terpilih sebagai anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah periode 1985-1990. Pada Muktamar Ke-42 Muhammadiyah di Yogyakarta, Dr. Watik terpilih menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah.
Selama berada di Muhammadiyah, Dr. Watik aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan pengajaran agama di masyarakat. Beliau juga dikenal karena kontribusinya dalam bidang pendidikan, di mana pada Muktamar Muhammadiyah ke-42, beliau dipercaya sebagai Koordinator Bidang Pendidikan PP Muhammadiyah.
Dr. Watik juga merupakan salah satu pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan terus berkontribusi pada pengembangan pendidikan dan dakwah Islam hingga akhir hayatnya.
5 (LIMA) PEDOMAN HIDUP WARGA ISLAMI MUHAMMADIYAH (PHWIM)
1. Kehidupan Pribadi 1. Dalam Aqidah
Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah SWT yang benar, ikhlas, dan penuh ketundukan sehingga mampu menjadi mukmin, muslim, muttaqin, dan muhsin sehingga mampu menolak perilaku syirk, takhayul, bid’ah, dan khurafat yang menodai iman dan tauhid kepada Allah.
2. Dalam Akhlaq
Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladani perilaku Nabi berupa sifat sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah.Ketika beramal harus didasarkan kepada niat yang suci dan menjauhkan diri dari riya’, sombong, ishraf, fasad, fahsya, dan munkar, sehingga dapat menunjukkan akhlaq yang mulia (akhlaq al-karimah) dan menjauhkan diri dari akhlaq yang tercela (akhlaq al-madzmumah) diantaranya dalam bentuk Perilaku anti korupsi, kolusi dan praktikpraktik yang merugikan hak-hak public dan merusak kehidupan.
3. Dalam Ibadah
Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk membersihkan jiwa/hati sehingga terbentuk pribadi yang mutaqqin dengan beribadah mahdhah dan nawafil sesuai dengan tuntunan Rasulullah dengan tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/nafsu yang buruk, sehingga terpancar kepribadian yang shalih, iman yang kokoh, ilmu yang luas dan tingkah laku yang terpuji.
4. Dalam Mu’amalah Duniawiyah
Setiap warga Muhammadiyah harus selalu menyadari dirinya sebagai abdi dan khalifah di muka bumi, menyikapi kehidupan dunia secara aktif dan positif, berpikir secara burhani, bayani dan irfani dan memiliki etos kerja Islami seperti kerja keras, disiplin, tidak menyia-nyiakan waktu dan berusaha secara maksimal untuk mencapai satu tujuan.
2. Kehidupan dalam Keluarga 1. Kedudukan Keluarga
Setiap anggota Muhammadiyah diharapkan dapat mewujudkan kehidupan keluarga sakinah, mawaddah warahmah yang dikenal dengan konsep Keluarga Sakinah yang terkait dengan pembentukan Gerakan Jama’ah dan da’wah Jama’ah.
2. Fungsi Keluarga
Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah perlu difungsikan untuk mensosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam dan kaderisasi serta menjadi uswah hasanah dalam mempraktikkan kehidupan yang Islami.
3. Aktifitas Keluarga
Keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah dituntut kesungguhannya dalam mendidik anak-anak, menciptakan suasana yang harmonis dengan memprioritaskan pelaksanaan salat dan dituntut keteladanannya dalam menghormati anak–anak perempuan serta memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan.
3. Kehidupan Bermasyarakat
1. Setiap keluarga Muhammadiyah harus menjalin persaudaraan dengan memelihara hak dan kehormatan sesama muslim, bermurah-hati, mengasihi, menyatakan ikut bergembira bila memperoleh kesuksesan, menghibur dan memberikan perhatian yang simpatik bila tetangga mengalami musibah, sakit atau meninggal, pemaaf, saling tolong-menolong dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang tepat dan bijaksana.
2. Dalam bertetangga dengan yang umat yang berlainan agama juga diajarkan untuk bersikap baik dan adil, memberikan hak-hak dan kehormatan sebagai tetangga, memberi makanan yang halal dan boleh pula menerima makanan halal dari mereka, dan memelihara toleransi sesuai dengan prinsi-prinsip yang diajarkan Agama Islam.
3. Melaksanakan gerakan jamaah dan da’wah jamaah sebagai wujud dari melaksanakan da’wah Islam di tengah-tengah masyarakat untuk perbaikan hidup baik lahir maupun batin
4. Kehidupan Berorganisasi
1. Setiap anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah berkewajiban memelihara, melangsungkan, dan menyempurnakan gerak dan langkah Persyarikatan dengan penuh komitmen yang istiqamah, kepribadian yang mulia, wawasan yang luas, keahlian yang tinggi, dan amaliah yang unggul sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin.
2. Dalam menyelesaikan masalah-masalah dan konflik-konflik yang timbul di Persyarikatan hendaknya mengutamakan musyawarah dan mengacu pada peraturan-peraturan organisasi dan menjauhkan diri dari fitnah, sikap sombong, ananiyah, dan perilaku- perilaku yang tercela lainnya.
3. Dalam lingkungan Persyarikatan hendaknya dikembangkan disiplin tepat waktu baik dalam menyelenggarakan rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, pengajianpengajian dan selalu mengindahkan waktu shalat, memakmurkan masjid, ikatan jamaah dan jam’iyah dan menggiatkan peribadahan sesuai ajaran alQuran dan Sunnah Nabi, dan amalan- amalan Islam lainnya.
4. Setiap anggota Muhammadiyah lebih-lebih para pimpinannya hendaknya jangan mengejar-ngejar jabatan dalam Persyarikatan tetapi juga jangan menghindarkan diri manakala memperoleh amanat sehingga jabatan dan amanat merupakan sesuatu yang wajar sekaligus dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya untuk memelopori kemajuan demi kepentingan ‘izzul Islam wal muslimin.
5. Kehidupan dalam Mengelola Amal Usaha
1. Amal Usaha Muhammadiyah adalah salah satu usaha dan media dakwah Persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan. Dengan demikian amal usaha Muhammadiyah adalah milik Persyarikatan sekaligus bertindak sebagai Badan Hukum/Yayasan yang memiliki kewenangan dalam mengangkat dan memberhentikan pimpinan amal usaha dalam kurun tertentu.
2. Pimpinan dan karyawan amal usaha adalah anggota Muhammadiyah yang memiliki keahlian tertentu dan berkewajiban menjadikan amal usaha sebagai amanat yang harus ditunaikan dengan melaporkan pengelolaan amal usaha serta berusaha meningkatkan dan mengembangkan amal usaha dengan penuh kesungguhan agar amal usaha dapat berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiq al khairat) guna memenuhi tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman.
3. Sebagai amal usaha yang bisa menghasilkan keuntungan, maka pimpinan dan karyawan berhak mendapatkan nafkah dalam ukuran kewajaran dan bahkan berhak memperoleh kesejahteraan dan memperoleh hak-hak lain yang layak tanpa kehilangan rasa syukur.
4. Pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus bisa menciptakan suasana kehidupan Islami dalam amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dan menjadikan amal usaha yang dipimpinnya sebagai salah satu alat dakwah dan menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Seluruh pimpinan, karyawan, dan pengelola amal usaha Muhammadiyah dibiasakan melakukan kegiatan-kegiatan yang memperteguh dan meningkatkan taqarub kepada Allah dan memperkaya ruhani serta kemuliaan akhlaq melalui pengajian, tadarus serta kajian al-Quran dan as-Sunnah, dan bentukbentuk ibadah dan mu’amalah lainnya.