Agama Islam Negeri (IAIN) Jember
Westernisasi merupakan budaya orang-orang barat yang masuk dan berkembang.
Kebudayaan yang masuk dan berkembang akan merubah keadaan suatu masyarakat dan apabila suatu masyarakat mengalami perubahan maka kepribadian dari setiap individu dalam dalam masyarakat tersebut juga akan berubah. Karena antara budaya, masyarakat dan kepribadian memiliki siklus yang akan terus berputar.
Mengacu pada penjelasan diatas pokok masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah adakah pengaruh westernisasi terhadap Pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember? sedangkan sub pokok masalah dalam skripsi ini adalah 1) adakah pengaruh westernisasi terhadapIbadah Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?2) adakah pengaruh westernisasi terhadap keteladanan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?3) adakah pengaruh westernisasi terhadap Amal Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?
Tujuan umum penelitian ini adalah: untuk mengetahui pengaruh westernisasi terhadap Pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember? sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah 1) untuk mengatahui pengaruh westernisasi terhadapIbadah Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?2) untuk mengetahui pengaruh westernisasi terhadap keteladanan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?3) untuk mengetahui pengaruh westernisasi terhadap keteladanan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?
Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Field Research. Analisis data menggunakan Regresi Linier Bergandadan tehnik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, interview dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini secara umum dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara Westernisasi terhadap pembentukan kepribadian muslim dengan nilairxy sebesar 0,468 pada taraf signifikansi 5% sebesar 3,182 maka diperoleh Fhitung > Ftabel yaitu 4,073>0,170. Secarakhususdapatdisimpulkan bahwa ada pengaruh antara Westernisasi terhadapIbadahdenganrxysebesar 0,087 padatarafsignifikansi 5% sebesar 3,182 makadiperolehFhitung>Ftabelyaitu0,382>0,170.Kesimpulan khusus yang kedua dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara Westernisasi terhadap Keteladanandengannilairxysebesar 0,426 padatarafsignifikansi 5% sebesar 3,182 makadiperolehFhitung>Ftabelyaitu3,122>0,170.Kesimpulamkhusus yang ketigadengannilairxysebesar 0,299 padatarafsignifikansi 5% sebesar 3,182 makadiperolehFhitung>Ftabelyaitu 1,593>0,170.
A. Latar Belakang
Globalisasi merupakan sebuah gerakan yang mewarnai perkembangan sosial budaya masyarakat dewasa ini dengan begitu cepat, hampir seluruh aspek kehidupan manusiatidak dapat menghindarkan diri dari proses tersebut. Oleh karenanya, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus siap berkompetisi di dalamnya, agar tetap survive meskipun dengan berbagai kelemahan sebagai akibat dari pengaruh tersebut. Seiring dengan perkembangan proses global itu sendiri, maka dewasa ini, nampaknya globalisasi yang dialami masyarakat kita telah menampilkan watak-karakter yang berbeda dengan sebelumnya. Kalau dulu globalisasi bersumber dari timur tengah, maka saat ini, globalisasi bersumber dari dunia barat, dan terus menerus memegang Supremasi dan Hegemoni dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Hal tersebut khususnya dapat dilihat dalam dimensi politik-ekonomi.
Pengaruh karakteristik globalisasi dari dunia barat inipun, tidak boleh dilihat dengan kaca mata yang sangat sederhana. Karena, Hegemoni dalam bidang ekonomi, sains dan teknologi, tidak sekedar menghasilkan globalisasi ekonomi, sains atau teknologi saja, tetapi dampaknya bisa juga
dilihat dalam bidang intelektual, sosial budaya, nilai-nilai moral, gaya hidup, dan seterusnya.1
Era golalisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap bangsa dan negara, tidak terkecuali Indonesia. Proses interaksi serta saling pengaruh mempengaruhi, bahkan pergesekan kepentingan antar bangsa terjadi begitu cepat dan kompleks. Era globalisasi menyebabkan masuknya budaya asing dengan mudah ke Indonesia karena era globalisasi pintu yang menghubungkan dunia primitif dengan dunia modern yang menimbulkan perubahan cukup drastis. Hal ini tentu menimbulkan kesenjangan berarti antara nagara maju dan berkembang. Era globalisasi menimbulkan dampak positif dan negatif karena semua hal bisa masuk dengan mudah pada suatu negara. Modern tidak akan ada apabila tidak ada modernisasi,yaitu hal yang mempengaruhi kehidupan seseorang untuk bersikap lebih modern dan mengikuti teori modern ini. Modernisasi sangat erat hubunganya dengan westernisasi yang bertugas untuk mengikuti keadaan kehidupan di negara barat, hal ini mendorong kita untuk bersikap konsumtif terlebih pada remaja yang umumnya masih labil.2
Masuknya budaya asing merupakan salah satu akibat dari era globalisasi. Budaya asing dapat masuk ke Indonesia dengan membawa berbagai macam pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Budaya asing yang masuk ke Indonesia semakin pesat seiring bertambahnya
1 Mohammad Abzar,“Profesionalisme Guru di Era Globalisasi”,dalam BerpikirKritisTransformatif (Sangata Utara: Sekolah Tinggi Agama Islam Sengatta, 2008) , 172.
2Kumala Ayu,Pengaruh Westernisai Terhadap Remaja Indonesia.http://kumala_ayu.blogspot.com Diakses pada tanggal 8 mei 2015 jam 7:45
orang asing yang datang dan keluar Indonesia terutama budaya barat. Tidak dipungkiri kemajuan teknologi negara asing memiliki daya tarik tersendiri.
Hal tersebut memiliki dampak positif bagi Indonesia sebagai nagara berkembang. Namun juga tidak dapat dipungkiri dampak negatif yang diakibatkan. Masuknya budaya asing yang tidak terkontrol dengan baik serta masyarakat yang cenderung menerima begitu saja kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Dampak negatif dari masuknya budaya asing salah satu contohnya adalah gaya hidup mulai dari gaya pakaian sampai pergaulan mereka yang terlampau bebas. Saat ini Indonesia telah mengikuti cara berpakaian mereka yang cenderung tidak sopan dan terbuka serta pergaulan mereka yang jauh berbeda dengan budaya Indonesia yang ketimuran terlebih sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim, seperti yang diketahui Islam memiliki peraturan tersendiri mengenai hal tersebut.
Westernisasi merupakan keadaan meniru-niru segala yang berasal atau terdapat di dunia barat. westernisasi yang terjadi meliputi sosialbudaya, nilai-nilai moral, serta gaya hidup berdampak negatif terhadap kepribadian muslim. Keadaan mencontoh, meniru dan menjadi seperti barat secara total dapat menyebabkan tidak adanya perbedaan antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan barat serta kebudayaan muslim, identitas sebagai muslim.
Kepribadian muslim yang kuat diharapkan dapat meminimalisir atau menghilangkan dampak negatif dari westernisasi.
Kepribadian merupakan perkara yang membedakan sebagian manusia dengan manusia lainnya. Kepribadian muslim merupakan kepribadian yang patuh dan berserah diri kepada Allah. Mereka yang memiliki kepribadian yang kuat baik dalam prinsip maupun sikap selalu mengantarkan dirinya sebagai pemimpin realitas, baik sebagai pemimpin formal sebuah kelompok ataupun pemimpin informal.3Bagi muslim, yang sepenuhnya meyakini kebenaran Islam sebagai Way of life, semua nilai dasar Way of life yang menyeluruh itu tercantum dalam kitab suci Al Quran.4
Mengingat pentingnya ibadah dan teladan yang baik sebagai dasar kepribadian muslim dalam kehidupan seorang muslim, maka tidak mengherankan jika ibadah yang benar serta teladan yang baik sebagai dasar dalam membentuk kepribadian muslim harus dimiliki oleh seorang muslim untuk menjadi muslim yang kaffah (sebenarnya). Umat Islam umumnya hanya mengamalkan satu aspek saja yaitu agama (itu pun tidak lengkap), dan melupakan atau tidak mengamalkan aspek kebudayaan. tanpa kebudayaan masyarakat tidak mungkin terbentuk. Tanpa kebudayaan Islam, masyarakat Islam tidak mungkin terbetuk. Kalau umat Islam mengamalkan agama Islam, tapi disamping itu juga menjalankan kebudayaan bukan Islam, maka masyarakat yang mereka bentuk bukan “masyarakat Islam”. Orangnya Islam karena beragam Islam tapi masyarakatnya bukan Islam karena tidak berkebudayaan Islam. Karena masyarakat orang-orang Islam itu tidak
3AKH.Muwafik SalehMembangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa (Jakarta: Erlangga, 2012),264.
4Nurcholish Madjid Islam kemodernan dan keIndonesiaan ( Bandung: Mizan, 2008), 181.
mengamalkan konsepsi Islam tentang kebudayaan. 5 Mereka tidak memasuki Islam secara keseluruhan. Seorang muslim sudah sepatutnya berperilaku dan bertutur kata baik dan sopan yang merupakan cerminan pribadi seorang muslim karena perilaku seseorang akan mencerminkan siapa dirinya. Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan
ْنُهْنِه َىُهَف ٍمْىَقِب َهَبَّشَت ْنَه ُهلَلّا ُلْىُسَر َلاَق :َلاَق َرَوُع ُنْبِا ْنَعَو Dari Ibnu umar dia berkata: Rosulullah berkata “ barang siapa meniru suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut”.
Setelah peneliti melakukan study awal ternyata peneliti menemukan ciri-ciri adanya westernisasi, seperti berpakaian seperti orang barat, yaitu pakaian ketat atau terawang, menyingkirkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, misalnya berboncengan dengan lawan jenis yang bukan mahrom dan berdua-duaan dengan lawan jenis bukan mahrom, bersikap kurang sopan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Namun apakah hal tersebut berpengaruh terhadap kepribadian dari mahasiswa IAIN Jember hal tersebut yang menarik peneliti untuk mengetahui lebih jauh. Kepribadian muslim yang kuat merupakan salah satu pondasi yang diperlukan dalam menghadapi keadaan yang modern dan serba canggih termasuk westernisasi. Kepribadian tersebut diharapkan dapat mengontrol dampak negatif adanya globalisasi dan lembaga menjadi salah satu yang berperan terhadap pembentukan kepribadian seseorang.
5 Sidi Gazalba, Islam dan perubahan kebudayaan (Jakarta:Pustaka al Husna, 1983), 50
Pada dasarnya IAIN Jember merupakan lingkungan yang agamis, mengingat IAIN Jember adalah lembaga Islam, namun perlu diketahui bahwa mahasiswa yang berada di lingkungan IAIN Jember masih memerlukan adanya pantauan, bimbingan dari lembaga yang berperan dalam pembentukan kepribadian mahasiswa. Supaya mahasiswa dapat memiliki kepribadian muslim yang baik sebagai generasi muda islam, sebagai bekal untuk berada di lingkungan masyarakat serta sebagai bekal untuk menjadi pendidik. Berdasarkan hal tersebut terdapat sesuatu yang menarik peneliti untuk meneliti lebih lanjut mengenai pentanyaan mendasar apakah kepribadian muslim mahasiswa IAIN Jember ini dapat terpengaruh dengan adanya westernisasi, atau sebaliknya tidak ada pengaruh sama sekali. Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Westernisasi Terhadap Pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Tahun”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.6
1. Pokok Masalah
Adakah pengaruh antara westernisasi terhadap pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?
6 Sugiyono,Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D ( Bandung: Alfabeta, 2014), 35.
2. Sub Pokok Masalah
a. Adakah pengaruh antara Westernisasi terhadap Ibadah Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Aagama Islam Negeri (IAIN) Jember?
b. Adakah pengaruh antara Westernisasi terhadap Teladan yang baik Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember?
c. Adakah pengaruh antara Westernisasi terhadap Amal Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Tahun?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh westernisasi terhadap Pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Tahun.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menjelaskan ada tidaknya pengaruh Westernisasi terhadap terhadap Ibadah mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Aagama Islam Negeri (IAIN) Jember.
b. Untuk menjelaskan ada tidaknya pengaruh Westernisasi terhadap Teladan yang baik mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Aagama Islam Negeri (IAIN) Jember.
c. Untuk menjelaskan ada tidaknya pengaruh Westernisasi terhadap Amal Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Aagama Islam Negeri (IAIN) Jember.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Untuk memberikan kontribusi yang berupa pemikiran dalam menjaga muslim yang kaffah yang berkaitan dengan pembentukan Kepribadian Muslim Mahasiswa khususnya bagi Mahasiswa IAIN Jember prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
Sebagai calon guru (Pendidikan Agama Islam) PAI sangat penting untuk mengetahui apa saja dan bagaimana kita dalam membentuk Kepribadian muslim selain sebagai pedoman untuk diri snediri juga sebagai pedoman dalam mendidik siswa sebagai guru.
b. Bagi mahasiswa
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi mahasiswa dalam membentuk kepribadian muslim bagi mahasiswa IAIN Jember sebagai mahasiswa Islam khususnya bagi prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).
c. Bagi IAIN Jember
Sebagai bahan refleksi dalam membentuk dan membangun Kepribadian muslim mahasiswa khususnya dilingkungan IAIN Jember.
d. Bagi Pembaca
Sebagai bahan refleksi bagi pembaca agar mampu menjaga, mempertahankan kepribadiannya sebagai seorang muslim terlebih pada era globalisasi ini.
E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.7
a. Variabel Bebas
Variabel Bebas (Independent Variable) adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variabel terikat (variabel dependent).
Dalam variabel bebas (Independent Variable) ini disimbolkan dengan X, yaitu Westenisasi.
7 Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2014) , 38.
b. Variabel Terikat
Variabel Terikat (Dependent Variabel) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Independent Variabel.).
Variabel terikat disimbolkan dengan Y, yang terdiri dari:
1) Ibadah (Y1)
2) Teladan yang baik (Y2) 3) Amal (Y3)
2. Indikator Penelitian
Adapun Indikator dari variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah
a. Westernisasi (X)
Variabel bebas (Independent Variable) yang terdapat dalam penelitian ini adalah westernisasi, Indikator yang dirumuskan adalah8
1) Membebaskan diri dari Agama
2) Meniru pakaian/ berpakaian secara barat
3) Meniru laku-perbuatan barat/ bersikap kebarat-baratan 4) Berseni cara barat
5) Menyingkirkan batas-batas pergaulan laki-laki dan perempuan.
8Sidi Gazali,Islam dan Perubahan Sosiobudaya (Jakarta Pusat: Pustaka AlHusna, 1983), 197.
b. Kepribadian Muslim (Y)
Variabel Terikat (Dependent Variable) yang terdapat dalam peneitian ini adalah pembentukan kepribadian muslim, sedangkan sub variabel dari variabel ini adalah Ibadah, Teladan yang baik.
Adapun Indikator yang terdapat dalam penelitian ini adalah9 1) Ibadah
a) Melaksanakan sholat b) Melaksanakan Puasa c) Zakat
2) Teladan yang baik a) Membiasakan salam b) Amanah
c) Menjaga kehormatan d) bersyukur
e) Jujur 3) Amal
a) Tuntas b) Tekun c) Tulus
9Ahmad Umar Hasyim, Menjadi Muslim Kaffah (Yogyakarta: Mitra Pustaka 2004), 7.
F. Definisi Operasional 1. Westernisasi
Westernisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala sesuatu berupa perbuatan atau tingkah laku, pergaulan serta cara berpakain yang meniru dari barat yang menyimpang dari norma-norma khususnya aturan dalam Islam.
2. Kepribadian muslim
Kepribadian dalam penelitian ini terdiri dari tiga indikator, diantaranya
a. Ibadah
Ibadah dalam penelitian ini adalah segala bentuk perbuatan yag dilakukan oleh seorang hamba terhadap tuhannya sebagai realisasi dari keimanannya, seperti sholat, puasa dan zakat.
b. Teladan yang baik
Teladan yang baik dalam penelitian ini adalah bentuk- bentuk perbuatan yang kita contoh dari Rosulullah yang bisa diteladani oleh orang lain. Misalnya membiasakan salam, bersyukur dan jujur.
c. Amal
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Amal adalah sikap yang harus dimiliki dalam mengerjakan segala sesuatu, misalnya tulus/ikhlas, tekun dan dan apabila mengerjakan sesuatu harus tuntas.
G. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian disebut juga sebagai anggapan dasar atau postulat yaitu sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti.
Anggapan dasar harus dirumuskan secara jelas sebelum peneliti melangkah meengumpulkan data. Anggapan dasar disamping berfungsi sebagai dasar berpijak kukuh bagi masalah yang diteliti juga untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian penelitian dan merumuskan hipotesis.10Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai asumsi bahwa:
1. Westernisasi merupakan dampak dari masuknya budaya asing yang berkembang di masyarakat.
2. Kepribadian muslim yang kuat merupakan hal yang perlu dimiliki untuk menjadi muslim yang kaffah.
3. Antara kebudayaan, masyarakat dan kepribadian saling berinteraksi sedangkan Westernisasi merupakan fenomena perkembangan budaya.
H. Hipotesis
Berdasarkan arti katanya, hipotesis memnga berasal dari dua kata Hypo yang artinya dibawah dan Thesa yang artinya ”kebenaran”. Jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.11 Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap terhadap rumusan masalah penelitian. Masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru
10Tim penyusun STAIN, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: Stain Press, 2014) , 39.
11 Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) , 110.
didasarkan pada teori yang relevan, sebelum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik.12
1. Hipotesis (Ha) kerja Mayor
Ada pengaruh westernisasi terhadap pembentukan kepribadian muslim mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
2. Hipotesis (Ha) kerja Minor
a. Ada pengaruh westernisasi terhadap ibadah mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
b. Ada pengaruh westernisasi terhadap teladan yang baik mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
c. Ada pengaruh westernisasi terhadap Amal mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Dalam penelitian ini peneliti juga mencantumkan Hipotesis Nihil (Ho), karena teori yang ada tidak secara langsung menjelaskan ada pengaruh antara westernisasi terhadap kepribadian muslim.
12 Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan ( Bandung: Alfabeta, 2014) , 96.
3. Hipotesis Nihil (Ho) Mayor
Tidak ada pengaruh westernisasi terhadap pembentukan kepribadian muslim mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
4. Hipotesis Nihil (Ho) Minor
a. Tidak ada pengaruh westernisasi terhadap ibadah mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
b. Tidak ada pengaruh westernisasi terhadap teladan yang baik mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
c. Tidak ada pengaruh westernisasi terhadap Amal mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
I. Metode Penelitian 1. Pendekatan dan jenis
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian Field Risearch. Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian ini karena dalam penelitian ini peneliti berada langsung pada objeknya, terutama dalam mengumpulkan data dan berbagai informasi.
2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keselutuhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.13Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. 14 Riduwan mengatakan bahwa: “sampel adalah bagian dari populasi”. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.15
Populasi dalam penelitian ini, yaitu mencakup seluruh mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN semester VII. Pemilihan prodi PAI dikarenakan mahasiswa pada prodi ini adalah calon guru, peneliti beranggapan bahwa seorang guru harus memiliki kepribadian muslim yang lebih kuat agar dapat mendidik siswanya untuk memiliki kepribadian muslim yang baik pula.
Peneliti menentukan atau pengambilan jumlah sampel dengan menggunakan pendapat Arikunto dengan populasi 384 mahasiswa.
Peneliti mengambil 15% dari jumlah populasi dan diperoleh 58 sampel.
Penentuan Tehnik pengambilan sampel menggunakan Stratified Proporsional Random Sampling karena populasi yang akan diambil berstrata pada semester VII, maka sampelnya juga berstrata yaitu terdiri dari kelas D, E, F, G, K, L, N, O dan P.
13 Suharsimi Arikunto,Prosedur, 173.
14 Ibid., 174.
15 Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian ( Bandung: Alfabeta, 2013) , 70.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 58 mahasiswa dengan rincian pengambilan sampel sebagai berikut:
Kelas D = 42 = Kelas L = 42 = Kelas E = 42 = Kelas N = 42 = Kelas F = 42 = Kelas O = 42 = Kelas G = 42 = Kelas P = 42 = Kelas K = 42 =
3. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data a. Tehnik Pengumpulan Data
Teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan beberapa jenis metode yaitu observasi, angket dan dokumentasi.
1) Angket
a) Angket Terstruktur, jawaban pertanyaan yang diajukan sudah disediakan. Responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan dirinya (pertanyaan bersifat tertutup).
b) Angket tak berstruktur, pada angket ini pertanyaan diajukan dalam bentuk pertanyaan terbuka. Jadi, responden diberikan kebebasan untuk menjawab pertanyaan menurut pendapatnya sendiri.16
16 Subana dan Moersetyo Rahadi, Statistik Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2000) , 31.
Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket terstruktur, dimanajawaban pertanyaan yang diajukan sudah disediakan.
2) Observasi
Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa, Observasi atau pengamatan merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikhologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. tehnik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.17
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu:
a) Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
b) Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
Observasi dalam penelitian ini yaitu menggunakan observasi sistematis, karena peneliti telah merancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana
17 Sugiyono,Metode, 145.
tempatnya, telah diketahui dengan pasti variabel apa yang akan diamati.
Penelitian yang akan diamati dengan menggunakan observasi ini adalah
a) Letak Geografis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
b) Keadaan lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
c) Keadaan atau keseharian Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
3) Dokumentasi
Dokumentasi, asal dari katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.18
Data yang ingin diperoleh melalui instrumen ini adalah a) Data keadaan dan jumlah mahasiswa Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Jember prodi Pendidikan Aagama Islam (PAI)
b) Foto kegiatan yang berhubungan dengan judul.
c) Visi-misi.
18 Suharsimi Arikunto,Prosedur, 201.
4) Wawancara
Wawancara merupakan tehnik pengumpulan data dimana pewawancara (peneliti atau yang diberi tugas melakukan pengmpulan data) dalam mengumpulkan data mengajukan suatu pertanyaan kepada yang diwawancarai.
Sugiono membedakan wawancara menjadi dua macam, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.19
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tehnik wawancara terstruktur karena dalam pelaksanaannya peneliti telah mengetahui tentang informasi yang akan diperoleh. oleh karena itu, dalam melakkukan wawancara, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan.
Informasi yang ingin diperoleh dalam wawancara ini adalah tentang westernisasi dengan kepribadian muslim mahasiswa. Objek yang akan diwawancarai dalam penelitian ini adalah
a) Dosen
b) Ketua prodi PAI c) Mahasiswa
19Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods)(Bandung: Alfabeta, 2014), 188-192.
b. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen utama yang peneliti gunakan yaitu angket (kuesioner) dengan jumlah pernyataan dari variabel X dan Y berjumlah 35, dengan jumlah soal dari variabel X sebanyak 13 butir dan jumlah soal dari variabel Y sebanyak 22 butir.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala likert.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert yang mengharuskan responden menjawab suatu pertanyaan dengan jawaban sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (R), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Skor yang diberikan terhadap pilihan tersebut bergantung pada penilai asal penggunaannya konsisten. Yang jelas skor untuk pernyaan positif dan pernyataan negatif adalah kebalikannya.
Pernyataan Positis Pernyataan Negatif Sangat setuju (SS) =5 Sangat Setuju (SS) =1
Setuju (S) =4 Setuju (S) =2
Ragu-ragu (R) =3 Ragu-ragu (R) =3
Tidak setuju (TS) =2 Tidak Setuju (TS) =4 Sangat tidak setuju (STS) =1 Sangat tidak Setuju (STS)=5
Menggunakan skala likert ini, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel, kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Artinya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden.
Untuk mengetahui pengaruh Westernisasi terhadap pembentukan kepribadian muslim, maka diperlukan perincian tentang soal angket dengan tabel kisi-kisi instrumen seperti berikut:
Tabel 1.1 Kisi-kisi Instrumen Variabel
Penelitian
Sub
Variabel Indikator Item
1 2 3 4
Westernisasi Westernisasi
1. Membebaskan diri dari
agama 1,2,3
2. Meniru pakaian. 4,5,6 3 . Meniru laku perbuatan 7,8 4. Berseni cara barat 9,10 5. Menyingkirkan batas-
batas pergaulan antara laki-laki perempuan.
11,12,13 Kepribadian
Muslim Ibadah
1. Melaksanakan Sholat 14,15 2. Melaksanakan Puasa 16,17
3. Menunaikan Zakat 18,19
Teladan yang baik
1. Membiasakan salam 7,8
2. Amanah 9,10
3. Menjaga Kehormatan 11,12
4. Bersyukur 14,15
5. Jujur 16,17
Amal
1. Tulus/Ikhlas 18
2. Tekun 19,20
3. Tuntas 21,22
4. Validitas dan Reliabilitas
Untuk mengetahui validitas Instrumen sebelum digunakan ditempat penelitian maka harus diuji validitas dan reliabilitas dengan diujikan terlebih dahulu pada mahasiswa prodi lain.
a. Pengujian Validitas Angket
Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan Produk moment dengan angka kasar. Dari hasil perhitungan validitas butir angket tentang Westernisasi, maka 13 butir dinyatakan valid berdasarkan kriteria pengujian yaitu: apabila rhitung
≥ rtabel, maka korelasi bersifat signifikan, artinya instrumen tes dapat dikatakan “Valid”. Apabila rhitung< rtabel maka korelasi tidak signifikan, artinya instrumen tes dapat dikatakan “Tidak Valid”.
Setelah diasosiasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 0,05,
maka hasil uji validitas angket tentang Westernisasi disajikan pada tebel berikut:20
Tabel 1.2
Hasil Perhitungan Validitas Butir Angket Westernisasi
No Butir Pernyataan
Koefesien Korelasi rhitung
Harga rtabel
Keputusan
1 2 3 4
1 0,741 0,632 Valid
2 0,690 0,632 Valid
3 0,764 0,632 Valid
4 0,711 0,632 Valid
5 0,776 0,632 Valid
6 0,657 0,632 Valid
7 0,773 0,632 Valid
8 0,739 0,632 Valid
9 0,716 0,632 Valid
10 0,650 0,632 Valid
11 0,713 0,632 Valid
12 0,661 0,632 Valid
13 0,687 0,632 Valid
Selanjutnya dari hasil perhitungan validitas butir angket tentang Kepribadian Muslim, maka 20 butir dinyatakan valid
20Pengolahan Data
berdasarkan kriteria pengujian yaitu: apabila rhitung ≥ rtabel, maka korelasi bersifat signifikan, artinya instrumen tes dapat dikatakan
“Valid”. Apabila rhitung< rtabel maka korelasi tidak signifikan, artinya instrumen tes dapat dikatakan “Tidak Valid”. Setelah diasosiasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 0,05. Berikut hasil uji validitas angket tentang Kepribadian Muslim disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 1.3
Uji Vaiditas Variabel Kepribadian Muslim
No Butir Pernyataan
Koefesien Korelasi rhitung
Harga rtabel
Keputusan
1 2 3 4
1 0,889 0,632 Valid
2 0,907 0,632 Valid
3 0,645 0,632 Valid
4 0,727 0,632 Valid
5 0,690 0,632 Valid
6 0,657 0,632 Valid
7 0,837 0,632 Valid
8 0,702 0,632 Valid
9 0,648 0,632 Valid
10 0,837 0,632 Valid
11 0,903 0,632 Valid
12 0,741 0,632 Valid
13 0,794 0,632 Valid
14 0,822 0,632 Valid
15 0,811 0,632 Valid
16 0,727 0,632 Valid
17 0,640 0,632 Valid
18 0,724 0,632 Valid
19 0,732 0,632 Valid
20 0,827 0,632 Valid
21 0,711 0,632 Valid
22 0,652 0,632 Valid
b. Pengujian Reliabilitas Angket
Selanjutnya menghitung Reabilitas Instrumen dengan menggunakan rumus Alpha (α), karena dalam penelitian ini skor instrumennya merupakan rentangan antara beberapa nilai (misalnya 0-10 atau 0-100) atau terbentuk skala 1-3, 1-5 atau 1-7 dan seterusnya dengan taraf signifikansi 5%. Berikut rumus alpha.21
Rumus Alpha sebagai berikut:
r11 =
21Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 171.
Keterangan:
r11 = Reliabilitas Instrumen k = Banyaknya butir Soal
∑σb2 = Jumlah varians Butir σ12
= Varians Total
Dari hasil penghitungan variabel Westernisasi (X) dengan Kepribadian (Y) diperoleh r11 = 0,971. Sehingga r11 > rt, yaitu 0,971
>0,632, maka Instrumen tersebut dinyatakan reliabel.22 Selanjutnya hasil penghitungan validitas dan reliabelitas akan disajikan lebih rinci pada lampiran.
5. Analisis Data
Penelitian kuantitatif dalam analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lainterkumpul.
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis langkah terakhir tidak dilakukan.23
Penelitian ini menggunakan tehnik Regresi Linier berganda.
Persamaan regresi dirumuskan adalah :
22Hasil Pengolahan Data
23 Sugiono,Metode, 147.
Y = a + b.X1 + c.X2+d.X3 Ket:
a = Intersep
Y = Variabel dependen
X1 X2 X3 = Variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan
b,, c dan d = Konstanta J. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang berisi tentang Deskriptif alur pembahasan dimulai dari pemdahuluan sampai penutup. Sistematika dalam penelitian ini adalah
Bab Pertama berisi tentang pendahuluan. Pada bab ini merupakan gambaran singkat mengenai keseluruhan pembahasan sekaligus rambu-rambu mengenai bab selanjutnya. Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup (variabel, Indikator Variabel dan definisi operasional), asumsi penelitian, hipotesis, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua: bab ini berisi kajian kepustakaan yang membahas mengenai penelitian terdahulu dan kajian teori.
Bab ketiga berisi tentang laporan penelitian yang meliputi latar belakang obyak penelitian, penyajian data, analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan.
Bab keempat merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan serta saran- saran.
1. Penelitian Terdahulu
a. Siti Aisyah, STAIN Jember 2008, dengan judul penelitian Peran keluarga muslim dalam membentuk kepribadian anak di lingkungan Krajan Timur Kelurahan Sumber Sari Kecamatan Sumber Sari Kabupaten Jember. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data meliputi: observasi, interview, dan dokumenter.
Dengan analisis data reflektif. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa peran keluarga dalam mendidik anak sangatlah penting dan berpengaruh sekali terhadap pembentukan kepribadian anak khususnya pada aspek kepribadian mandiri dan berakhlakul karimah.
b. Mutsanatul Fitri, STAIN Jember 2009. Peranan Guru dalam Menanamkan Kepribadian Muslim pada Anak Usia Dini di TK Al Hidayah II Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Metode dan prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dan metode pengumpulan data melalui metode observasi sistematik, interview bebas terpimpin dan dokumenter. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peranan guru dalam menanamkan kepribadian muslim pada anak usia dini di TK Al Hidayah II
adalah pada dasarnya menanamkan aqidah, nilai-nilai ibadah dan nilai akhlak dengan menggunakan beberapa metode dan dengan pemberian materi aqidah.
c. Khoiri Fadli, STAIN Jember 2013 dengan judul Peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan kepribadian muslim siswa di SMP Negeri 03 Sukowono Jember TahunPelajaran 2012/2013. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan tehnik pengumpulan data wawancara, observasi, dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada peranan guru PAI sebagai pendidik dalam pembentukan kepribadian muslim siswa.
Pada penelitian yang telah dilakukan semuanya sama-sama meneliti tentang kepribadian muslim akan tetapi pada penelitian yang pertama peneliti menitik beratkan pada peran keluarga sebagai pembentuk kepribadian. Pada penelitian yang kedua dan ketiga menitik beratkan pada peran guru yang dinilai penting dalam membentuk kepribadian muslim pada anak. Sedangkan dalam penelitian yang peneliti lakukan, peneliti mengaitkan kepribadian muslim dengan westernisasi yang merupakan keadaan meniru-niru segala yang berasal atau terdapat di dunia barat.
2. Kajian Teori
a. Kajian Tentang Westernisasi 1) Westernisasi
Westernisasi berasal dari kata West yang memiliki arti barat. Sedangkan dalam KBBI kata Westernization memiliki arti pembaratan; keadaan meniru-niru segala yang berasal atau terdapat di dunia barat, terutama dalam bidang moral.24 Ada yang mengidentikkan modernisasi dengan westernisasi (pembaratan). Pada tanggapan banyak orang misalnya di Indonesia dan Malaysia modern itu adalah barat, kalau hendak menjadi modern menjadi baratlah dalam berfikir dan merasa, dalam penilaian dan dalam laku-perbuatan. Berpakaianlah secara barat, berseni secara barat, singkirkan batas-batas pergaulan antara pria dan wanita, minum arak, hisap ganja, bebaskan diri dari pada agama, pakailah barang-barang mode atau keluaran terakhir, itulah di antara ciri bahwa tuan modern.25
Harus dibedakan antara westernisasi dan modernisasi, pembaratan dan pembaharuan. Westernisasi adalah proses pertumbuhan kebudayaan barat, sedangkan modernisasi proses pertumbuhan kebudayaan modern. kebudayaan barat adalah kebudayaan yang mengandung nilai-nilai (sosial, ekonomi,
24 Oaman Raliby,Kamus , 559.
25 Gazali, Islam, 197.
politik, seni, filsafat dan agama) bangsa-bangsa barat.
Kebudayaan modern adalah cara hidup yang berasaskan nilai ilmu dan teknologi, yang membawa pembaharuan cara hidup dengan selalu meningkatkan efektifitas dan efisien dalam kehidupan itu. Kebudayaan Indonesia dengan menyerap nilai- nilai ilmu dan teknologi menjadi kebudayaan modern. Tetapi dengan menyerap nilai-nilai barat (seperti kecenderungan yang tengah dalam proses kini), akan menjadi kebudayaan barat kelak. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa barat keturunan Indonesia. Yang menetukan bangsa adalah kebudayaan.
Kebudayaan barat yang tumbuh dengan pembaratan itu kehilangan kepribadian Indonesia. Bangsa Indonesia berganti identitasnya dari tabiat Indonesia menjadi identitas barat . 26 Begitu juga identitas kita sebagai muslimakan menghilang bila kita hidup mengikuti orang-orang barat.
Jadi, Westernisasi membawa suatu kebudayaan menjadi kebudayaan barat, sedangkan pembaharuan (Modernisasi) membawa suatu kebudayaan menjadi kebudayaan baru atau kebudayaan modern.
26 Sidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Jakarta: Bulan Bintang, 1989) , 265.
2) Perkembangan Westernisasi.
Adapun faktor Internal yang menyebabkan perkembangan westernisasi di Indonesia adalah27
a) Keluarga
Keluarga berperan penting dalam membimbing kita untuk menentukan yang baik atau tidak untuk dilakukan.
Orang tua memegang peranan utama didalam sebuah keluarga. Segala tindakanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik dan psikis anak. Remaja dengan orang tua yang memperhatikan mereka cenderung dapat memilah budaya barat yang berdampak positif atau negatif bagi mereka.
b) Pergaulan
Faktor yang paling mempengaruhi kita dalam mengadaptasi budaya barat ialah teman pergaulan. Karena teman pergaulan ini biasanya merupakan teman sebaya kita yang kebanyakan merupakan tempat berbagi kesedihan dan kebahagiaan, tempat mencurahkan rahasia-rahasia dalam diri kita. Oleh karena itu, pastilah muncul suatu ketergantungan dengan teman.Apabila teman-teman kita mengajak kepada sesuatu yang baru, pastinya kita pun tertarik ikut mencobanya karena adanya rasa solidaritas.
27 Hana Aprillia Nuryani Cerminan Pemuda dalam Menghadapi Budaya Westernisasihttp://hanaprilliany13.blogspot.com/2013/04/cerminan-pemuda-dalam-
menghadapi-budaya.html Diakses pada tanggal 8 mei 2015 jam 7:54
Hal ini tidak dapat di pungkiri,jika salah satu teman kita ada yang mengajak sesuatu yang negatif, mungkin kita bisa terbawa dan terpengaruh.
c) Perkembangan Teknologi
Perkembangan teknologi sangat memudahkan kita dalam mengenalkan budaya asing. Seperti pada penggunaan Internet, budaya yang berkembang di negara-negara barat dapat dengan cepat diketahui dan diserap oleh pemuda kita di Indonesia.
Ini merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan keadaan para pemuda di Indonesia saat ini. Dengan perkembangan westernisasi melalui perkembangan IPTEK di Indonesia, bukan menjadi dampak positif untuk mencerdaskan para pemuda bangsa dalam menjaga dan melestarikan adat istiadat, budaya bangsa Indonesia, melainkan menjadi suatu pengaruh pembodohan, kehancuran masa depan yang kehilangan jati dirinya sebagai para pemuda bangsa Indonesia yang sesungguhnya.
Mungkin hanya sebagian kecil kelompok masyarakat saja yang masih tampak jati diri bangsa sebagai generasi bangsa Indonesia yang sebenarnya.
3) Bentuk-bentuk Westernisasi
a) Membebaskan diri dari Agama
Secara fitrah manusia membutuhkan agama sebagai pegangan hidup. Frans Dahler, mengartikan agama sebagai hubungan manusia dengan sesuatu kekuatan yang suci yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri, sehingga ia berusaha mendekatinya dan memiliki rasa ketergantungan kepadanya.28
Yang dimaksud dengan membebaskan diri dari agama disini misalnya menganggap sepele ajaran-ajaran agama, mengulur-ngulur waktu sholat atau tidak melaksanakan ibadah sholat tanpa adanya rasa takut atau berdosa bahkan dapat melakukkan perbuatan-perbuatan yang condong pada Atheis.
b) Meniru pakaian/ berpakaian secara barat
Pakaian merupakan salah satu hal yang menjadi ciri dari seorang muslim, karena itulah seorang muslim mudah dikenali. Agama sendiri telah mengatur bagaimana seorang muslim berpakaian terutama bagi seorang perempuan. Berpakaian secara barat artinya memakai pakaian seperti apa yang dipakai oleh orang-orang barat
28 Ali Hamzah,Pendidikan Agama Islam: untuk perguruantinggi (Bandung: Alfabeta, 2014) , 25- 26.
yang tidak sesuai dengan syariat Islam seperti berpakaian ketat, berpakaian transparan.
c) Bersikap seperti orang barat
Islam telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap agar menjadi seseorang yang mulia dan terhormat. Namun era globalisasi yang memberikan ruang lebih bebas bagi budaya asing untuk masuk memiliki katertarikan tersendiri terlebih dunia barat yang dianggap jauh lebih modern. Istilah modern telah sering didengar, namun pengistilahan yang kurang jelas menyebabkan pemahaman yang salah. Sebagian besar masyarakat menganggap modern berarti berbuat, berpikir, bersikap seperti yang dilakukan orang-orang barat. Sikap meniru tersebut dilakukan secara total (Westernisasi), tanpa dipilih manakah yang bisa ditiru serta manakah yang tidak bisa atau tidak boleh ditiru.
d) Berseni cara barat
Berseni cara yang dimaksud disini adalah memakai make-up atau melakukan perubahan pada wajah seperti yang dilakukan oleh orang-orang barat, misalnya sulam alis dan bibir. Dalam Islam merias wajah diperbolehkan asalkan sudah mendapat ijin suami apabila telah bersuami dan ijin orang tua apabila, melakukan operasi atau
perobahan pada wajah atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan kecuali operasi (perobahan) tersebut bertujuan untuk merehabilitasi anggota tubuh yang cacat, lantaran kecelakaan yang pernah dialami. Tentu saja, harus dengan ijin orang tua atau suami.29
e) Menyingkirkan batas-batas pergaulan laki-laki dan perempuan
Islam mengatur secara jelas tentang batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Melihat lawan jenis yang bukan mahrom dilarang dalam Islam kecuali dalam keadaan menuntut ilmu.
Sa’id Maulawi mengatakan...banyaknya kaum wanita pergi ke pasar-pasar, tempat-tempat perbelanjaan, supermarket-supermarket, dan toko-toko dan berbaur dengan kaum laki-laki, tanpa memperhatikan akhlakul karimah (budi pekerti yang mulia), berhijab dan menutup.
Memang tidak membayangkan akan timbulnya bahaya dalam kondisi seperti itu. Namun bahaya itu akan muncul secara tidak langsung.30
Disamping dalam masyarakat Islam ada kaidah yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Kaidah yang mengharamkan laki-laki memandang perempuan asing
29 Mahjuddin, Masail Al Fiqh (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), 310
30Maulawi,Mendidik, 52.
(bukan mahramnya). Kaidah yang memisahkan antara dua jenis manusia. hal itu sebagai sarana untuk jalan menuju suatu hal yang dilarang oleh syara’, sekaligus mencegah memberikan kesempatan bagi orang yang jiwanya lemah untuk menginginkan suatu yang dilarang baginya.
Menyingkirkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan disini, misalnya berboncengan dengan lawan jenis yang bukan mahrom, berdua-duaan dan mengunjungi tempat tinggal lawan jenis yang bukan mahrom.
b. Kajian Tentang Kepribadian Muslim 1) Kepribadian Muslim
Perkara yang membedakan sebagian manusia dari sebagian lainnya, yang dengannya bisa dipahami realitas sesungguhnya dan sebagai nilai esensial bagi setiap orang adalah kepribadian.31Kepribadian muslim adalah kepribadian seseorang yang sesuai dengan tuntunan ajaran islam.
Kepribadian muslim adalah kepribadian yang patuh dan berserah diri kepada Tuhan yang maha Esa.32sebagai seorang muslim kita harus mengamalkan Islam secara lengkap dan menjadi seorang muslim yang kaffah.
31 Mujtaba Musawi, Roadmap to God: Meniti Kesempurnaan Akhlak dan Kesucian Rohani, terj.
Rizal Fahril (Citra Griya Aksara, 2013) , 91.
32 Abd Haris dan Kivah Aha Putra,FilsafatPendidikanIslam (Jakarta: Amzah, 2012) , 99.
2) Tipe-tipe kepribadian
Kepribadian memiliki tipe-tipe kepribadian, yaitu33 a) Aspek Biologis
Aspek Biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang.
b) Aspek Sosiologis
Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. pada tipe kepribadian ini Fritz Kunkel membaginya menjadi dua, yaitu:
(1) Tipe Sachelichkeit, yaitu tipe orang yang banyak menaruh perhatian terhadap masyarakat
(2) Tipe Ichhaftigkeit, yaitu tipe orang yang lebih banyak menaruh perhatian kepada kepentingan diri sendiri.
c) Aspek Psikologis
Carl Gustav membagi manusia menjadi dua pokok.
(1) Tipe Extrovert, yaitu orang yang terbuka dan banyak berhubungan dengan kehidupan nyata.
(2) Tipe Introvert, yaitu orang tertutup dan cenderung kepada berpikir dan merenung.
33Jalaluddin,Psikologi Agama (Jakarta: Rajawali, 2010) , 205.
Setiap tipe Extrovert dan Introvert masing-masing memiliki tipe: pikiran, penginderaan dan intuisi, sehingga tipe kepribadian tersebut terbagi atas,
(1) Tipe pemikiran terbuka, dengan sifat-sifatnya cenderung berbuat secara prktis dan memanfaatkannya dalam kehidupan.
(2) Tipe perasaan terbuka dengan sifat-sifatnya:
cenderung untuk ikut merasakan perasaan orang lain:
sedih dan gembira, rasa hormat, rasa sosial, dalam bentuk perbuatan nyata.
(3) Tipe penginderaan terbuka, dengan sifat-sifatnya:
memiliki kehidupan pikiran dan perasaan yang dangkal. Kehidupan mentalnya dipengaruhi perangsang lingkungan yang diterimanya dan mudah bosan terhadap sesuatu, jiwanya labil dan kurang mantap.
(4) Tipe intuisi terbuka dengan sifat-sifatnya: cenderung untuk bersifat avont turir karena mereka selalu akan melaksanakan secara langsung setiap apa yang terlintas dalam pikirannya. Mereka selalu yakin terhadap kebenaran lintasan pikiran itu.
(5) Tipe pemikiran tertutup dengan sifat-sifatnya:
cenderung menekuni pemikiran yang bersifat abstrak
sehingga kurang memanfaatkan implementasi pemikiran dalam bentuk perbuatan nyata. Kehidupan mereka dilibatkan dalam pemikiran yang berbentuk renungan yang idealis.
3) Dasar-dasar kepribadian Muslim a) Ibadah
(1) Melaksanakan sholat
Shalat merupakan ibadah yang secara langsung Allah sampaikan kepada Rosullullah pada peristiwa Isra’
Mi’raj. Bagi seorang muslim, shalat bukanlah sekedar kewajiban, namun ia merupakan suatu keterikatan bathin yang sangat kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya, sehingga apabila ia tidak shalat seorang muslim akan merasa ada yang hilang dalam dirinya.
Kata kerja (fi’il al-amr) Aqim atau Aqimu (dirikanlah) yang diikuti dengan kata shalat disebut sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu (17 rakaat).34Apabila shalat seseorang baik, maka baik pula segala tingkah lakunya. hal itu karena shalat dapat mencegah orang yang mengerjakannya melakukan perbuatan yang dilarang Agama.
34Toto Tasmara, Menuju Muslim Kaffah(Jakarta: Gema Insani Press, 2000) , 201-202.
sebagaimana dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 45, disebutkan:
“ dan Kejakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat (keji) dan yang mungkar”.(QS. Al Ankabut: 45)
Dalil yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik dalm Al Quran maupun dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Dalil ayat-ayat Al Quran yang mewajibkan shalat antara lain:35
َنْيِعِكاَرّلا َعَماْوُعَكْراَوَةَاكَزّلااوُتَاَوَلاَصّلاا ِمِقَاَو
“dan dirikanlah shalat, dan keluarkanlah zakat, dan tunduklah/ruku’2 bersama-sama orang-orang yang ruku”.(QS. Al Baqoroh: 43)
Melaksanakan sholat yang dimaksud adalah melaksanakan sholat wajib atau sholat sunnah dan tidak mengulur-ngulur waktu sholat.
(2) Melaksanakan Puasa
Puasa seperti yang ditegaskan Rosulullah, tidak sekedar menahan diri dari syahwat makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari syahwat organ tubuh, pikiran, dan hati. semuanya harus berlatih dan
35 Machsum,Tuntunan Shalat Lengkap (Solo: Bringin 55, 2003), 29.
melakukan puasa.36 Melaksanakan puasa, misalnya menahan lapar dan dahaga mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari tidak merokok bagi laki-laki kecuali bagi perempuan yang dalam keadaan haid.
(3) Zakat
Secara bahasa, zakat berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (ziyadah). Jika diucapkan, zaka al- zar’, artinya tanaman itu tumbuh dan bertambah. jika diucapkan, zakat al-nafaqah, artinya nafkah tumbuh dan bertambah jika diberkati. 37
Zakat merupakan kewajiban seorang muslim.
zakat memiliki hikmah dan manfaat antara lain beberapa diantaranya sebagai berikut:38
(a) Sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT, mensyukuri nikmatNya, menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan materialistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki.
36 Komaruddin Hidayat Psikologi Agama (Jakarta Selatan: Hikmah, 2008) , 223.
37Wahbah Al-Zuhayly,Zakat: Kajian Berbagai Mazhab (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008) , 82.
38Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern (Jakarta: Gema Insani, 2006) , 10-12.
(b) Karena zakat merupakan hak mustahik, maka zakat berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka, terutama fakir miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkun timbul dari kalangan mereka, ketika mereka melihat orang kaya yang memiliki harta yang cukup banyak.
(c) Sebagai pilar amal bersama (Jama’i) antara orang-orang kaya yang berkecukupan hidupnya dan para mujahid yang seluruh waktunya digunakan untuk berjihat di jalan Allah, yang karena kesibukannya tersebut, ia tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk berusaha dan berikhtiar bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya.
(d) Salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi, sekaligus
sarana pengembangan kualitas sumberdaya manusia muslim.
(e) Zakat merupakan sebuah instrumen yang berfungsi memutar roda ekonomi secara terus menerus dan tidak boleh berhenti. Zakat menjadi Instrumen untuk mengatsi masalah sosial- ekonomi masyarakat bawah yang kebutuhan hidupnya harus dipenuhi seketika dan dalam jangka pendek.39
b) Teladan yang baik (1) Membiasakan salam
Salam merupakan penghubung silaturahim muslim yang satu dengan muslim yang lainnya.
Seorang muslim dianjurkan untuk mengucapkan salam bila bertemu dengan muslim yang lainnya serta bila hendak memasuki atau keluar ruangan. Hal ini karena mengucapkan salam merupakan sebagian dari kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya.
(2) Amanah
Kata amanah bisa berarti luas dalam prinsip material maupun spiritual. Tugas muslim dalam hal amanah ialah tidah boleh berkhianat terhadap
39Umrotul Khasanah,Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat (Malang: UIN-Maliki Press, 2010) , 51.
siapapun tanpa terkecuali, baik ia seorang muslim maupun non muslim. Inilah salah satu prinsip Islam bahwa seluruh umat manusia memiliki hak yang sama.40Sikap amanah memiliki kekuatan yang sangat besar. Amr Khaled mengatakan Islam tersebar di Asia lewat sikap amanah. Pedagang muslim yang jujur dan amanah datang ke negara-negara tersebut dan melakukan jual beli dengan masyarakatnya secara sangat amanah. Di saat menjual barang, ia sebutkan cacat dan kerusakan yang ada pada dagangannya jika memang ada. Melihat hal itu, merekapun menanyakan agamanya dengan bangga ia berkata, “ agama saya Islam.” Pada saat itulah mereka segera mengucapkan syahadat, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.41
Dari peristiwa tersebut dapat kita ketahui bahwa sikap amanah mampu yang telah diajarkan oleh Rosululah telah mampu menggugah hati orang-orang non muslim untuk tertarik bahkan mereka masuk Islam karenanya.
40 Said Husain Husaini,Bertuhan dalam Pusaran Zaman ( Jakarta: Citra, 2013) , 263.
41 Amr khaled,Buku Pintar Akhlak (Jakarta: Zaman, 2010) , 130.
(3) Menjaga kehormatan
Seorang muslim hendaknya harus selalu menjaga kehormatannya, kehormatan diri, harta, keluarga dan agamanya. kemudian Allah SWT. pun memerintahkan semua orang beriman , baik laki-laki maupun perempuan, untuk menundukkan pandangan mereka, menjaga kehormatan diri, kemuliaan, dan harta mereka.42
“ Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan. dan katakanlah kepada wanita yng beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka, serta menjaga kemaluan mereka.”
(4) Bersyukur
Seorang muslim apabila mendapatkan nikmat ia selalu bersyukur, bahkan saat Allah memberinya cobaan seorang tetap bersyukur karena itu berarti Allah selalu memperhatikannya dan menginginkannya untuk tumbuh lebih kuat. Syukur disini bukan hanya mengucapkan hamdalah bila telah mendapatkan
42Umar,Menjadi, 334-335.
nikmat namun juga dengan menjaga apa yang telah Allah berikan juga merupakan bentuk dari rasa syukur.
Di antara ungkapan paling indah tentang definisi syukur yaitu: munculnya pengaruh nikmat Allah pada lidah manusia sebagai pujian dan pengakuan; pada hatinya sebagai saksi dan rasa cinta; dan pada anggota-anggota tubuhnya sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan.43
(5) Jujur
Jujur dan menunaikan amanah adalah dua tanda nyata keimanan dan kepribadian manusia, bahkan dikatakan lebih utama dari ibadah shalat. Sifat jujur dan amanah itu akarnya sama, bahwa jujur adalah amanah dalam ucapan dan amanah adalah jujur dalam perbuatan. Dalam sumber Islam, penekanan terhadap kedua sifat itu melebihi soal hukum.44
Saling percaya diantara individu adalah modal terpenting bagi sebuah masyarakat. Saling percaya mengeluarkan orang dari hidup terpencar sendiri-diri dan menyatukan mereka seperti mata rantai. Saling
43Afif abdul Fattah Thabbarah,Ruh Shalat Dimensi Fikih dan Kejiwaan (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2001) , 5.
44 Husaini,Bertuhan, 263-264.
percaya ibarat surat jaminan usaha sosial bersama dan kerja sama yang luas.
c) Amal
Termasuk dasar penting bagi pembentukan kepribadian muslim adalah amal. Amal apapun yang dikerjakan seorang muslim dalam kehidupannya, tetap mempunyai arti penting baginya asalkan amalnya itu merupakan pekerjaan mulia dan halal.
(1) Tulus/ikhlas
Ikhlas dalam beramal ibadah dan amal shaleh adalah melakukan suatu amal kebaikan, dan dalam melaksanakannya ditujukan semata-mata untuk Allah.
Al Quran menyuruh kita ikhlas. Perhatikan firman-Nya sbb: ”dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS Yunus [10]: 105).
Ikhlas yaitu beramal hanya mengharap keridhoan Allah Rasulullah SAW mengingatkan, Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.(HR Abu Dawud dan Nasa’i. Imam Ali ra juga berkata,
Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.
Amal kebaikan berawal dari hati yang bersih dan niat yang ikhlas. Hendaknya, kita selalu beristighfar untuk menjaga kesucian hati. Karena hati adalah penentu. Jika, hati baik insya Allah semuanya juga akan baik. Dalam sebuah hadits disebutkan “sesungguhnya, Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian (niat dan keikhlasan).”(H.R.Muslim)45
Orang yang dicintai Allah akan beramal hanya untuk yang dicintainya, bukan untuk makhluk fana.
Beramal bukan untuk dipuji, dihormati, atau dihargai oleh selain Allah. Namun, semua itu dikerjakan untuk Allah semata. Ikhlas yaitu beramal hanya untuk mengharap keridhaan Allah swt. Allah berfirman dalam surat Al Bayyinah 98: 5.46“ Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) Agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.”
45 A.Akmal Falah Menjadi wanita kekasih Allah, Rosul, dan Suami (Jakarta: Citra Risalah, 2013) , 35.
46 Ibid, 31.