ISSN: 2549-6182 (Online)
ANALISIS MANAJEMEN KAS DALAM UPAYA MENJAGA TINGKAT LIKUIDITAS PT. ACE HARDWARE INDONESIA, TBK
Sitti Murniati
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Wira Bhakti Makassar [email protected]
ABSTRACT
This research aims to determine and analyze cash management and liquidity ratios of PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk. The analytical method used in this research is the quantitative descriptive analysis method. Research data obtained from the financial statements of PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk Listed on the Indonesia Stock Exchange for 2 years, from 2018 to 2019. The results of research and discussion show that the company's cash management to maintain liquidity by relying on cash flow has been quite good from 2018 to 2019, this This is indicated by the company's ability to pay its short-term debt in the form of loan interest, although it has an impact on decreasing the cash flow ratio owned by PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk.
Keywords: Cash Management and Liquidity Level
History of article Received: 21-05-2021 Reviewed: 04-06-2021 Revised: 11-06-2021 Accepted: 25-06-2021 Published: 30-06-2021
PENDAHULUAN
Kas adalah komponen aktiva yang paling aktif dan sangat mempengaruhi setiap transaksi yang terjadi. Menurut Jumingan (2015), kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya, berarti bahwa semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Hampir seluruh aktivitas perusahaan berhubungan dengan kas, kekurangan atau kelebihan kas menimbulkan berbagai masalah. Kas yang menganggur selain menimbulkan resiko penggelapan atau kecurangan dan juga akan menimbulkan kerugian penurunan nilai intrinsik. Kasmir (2016), laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.
Kas digunakan untuk memperoleh barang dan jasa serta aktiva tetap yang diperlukan untuk menghasilkan persediaan, pada tahap akhirnya, persediaan dijual dan menghasilkan penerimaan kas. Uang kas yang diperoleh sebagian digunakan untuk pembelian persediaan, membayar upah gaji, membayar deviden dan bunga pinjaman serta untuk memulai kembali proses operasional berikutnya. Intinya, semua aktivitas perusahaan pada akhirnya bermuara pada
pengeluaran dan penerimaan kas, sehingga kas sering digunakan sebagai alat ukur untuk menilai tingkat keberhasilan perusahaan.
Pentingnya arti kas menyebabkan semua pihak terkait dengan perusahaan lebih memusatkan perhatian pada arus (aliran) kas sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Pada dasarnya pihak internal dan eksternal sama-sama bertujuan untuk meningkatkan peneriman kas, sehingga perusahaan perlu menyajikan informasi yang jelas dan akurat mengenai arus kas perusahaan melalui laporan arus kas (Kasmir, 2016). Kas adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang memiliki resiko tinggi untuk dijadikan sasaran kecurangan, karena kas sendiri merupakan aktiva perusahaan yang paling likuid, mudah digelapkan dan diselewengkan serta dipindah-tangankan (Mulyadi, 2015). Sebuah usaha untuk mengelola atau mengandalikan kas dengan baik, maka perusahaan harus dapat membuat perencanaan kas yang baik dan tepat.
Perencanaan kas merupakan suatu bagian penting dalam upaya percepatan penyerapan anggaran karena dengan adanya perencaaan kas yang baik akan memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan perusahaan.
Hal ini tentunya dapat mencegah kemungkinan terhambatnya suatu kegiatan akibat dari tidak tersedianya dana. Manajemen kas PT. ACE
ISSN: 2549-6182 (Online) Hardware Indonesia, Tbk dilakukan dengan
memuat arus kas masuk dan arus kas keluar perusahaan, manajer harus menyediakan terlebih dahulu daftar kegiatan untuk menimbulkan kas dan kegiatan menggunakan kas, hal ini disiapkan demi keseimbangan antara sumber dan penggunaan dana perusahaan. PT. ACE Hardware Indonesia Tbk adalah salah satu Industri manufaktur merupakan industri yang mendominasi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Banyaknya perusahaan dalam industri dan kondisi perekonomian saat ini telah menciptakan suatu persaingan yang ketat antar perusahaan (Kasmir, 2016).
Perusahaan akan membutuhkan tambahan kas, maka sebaiknya dana tersebut disiapkan terlebih dahulu, sementara jika perusahaan akan menghasilkan kelebihan kas, maka perusahaan sebaiknya merencanakan penggunaannya secara produktif. Kas diperlukan untuk membiayai biaya operasi perusahaan sehari-hari maupun untuk mengadakan investasi baru. Kas memegang peranan penting dan menjadi salah satu pusat perhatian dan pengawasan dalam menunjang kegiatan perusahaan sehari-hari. Setiap perusahaan tidak terlalu sedikit, yang dapat menurunkan efisiensi akibat tertanamnya uang dalam kas yang sebenarnya tidak produktif atau terlampau sedikit karenaakan mengganggu likuiditas perusahaan (Mulyadi, 2015). Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah Satu unsur aktiva yang paling cepat untuk dicairkan, artinya bila mana jumlah kas yang dimiliki oleh suatu perusahaan besar maka semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Likuiditas menurut Riyanto (2015) adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Suatu perusahaan atau lembaga yang hanya mengejar keuntungan (profit) semata tanpa mempertimbangkan tingkat likuiditasnya, maka perusahaan tersebut akan berada dalam keadaan illikuid apabila sewaktu-waktu ada tagihan atau pembayaran yang harus disegerakan
TINJAUAN LITERATUR
Pengelolaan kas adalah suatu sistem pengelolaan perusahaan yang mengatur arus kas (cash flow) untuk mempertahankan likuiditas perusahaan, serta memanfaatkan idle cash dan perencanaan kas. Dalam praktiknya
selama perusahaan atau lembaga beroperasi terdapat macam aliran kas. Pertama aliran kas masuk dan aliran kas keluar, aliran kas masuk dan aliran kas keluar akan terjadi terus menerus seumur hidupnya perusahaan. Oleh karena itu pihak manajemen perlu mengatur baik aliran kas masuk dan aliran kas keluar.
Hal-hal yang perlu diatur misalnya agar jumlah yang masuk selalu lebih besar ketimbang uang keluar. Dengan demikian, keseimbangan arus kas perusahaan dapat terjaga (Kasmir, 2016). Pengelolaan kas dapat dianggap sebagai suatu fungsi keuangan yang mendasar dalam kebanyakan perusahaan.
Fungsi tersebut biasanya diarahkan oleh seorang pejabat keuangan senior, umpamanya direktur keuangan atau kepala bagian keuangan meskipun kadang-kadang. dapat juga controller, bergantung pada besar dan struktur organisasi perusahaan. Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya. Berarti semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu perusahaan, akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya.
Suatu perusahaan atau lembaga yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi karena adanya kas dalam jumlah yang besar. Berarti tingkat perputaran kas tersebut rendah, dan mencerninkan adanya over investment dalam kas. Berarti pula perusahaan atau lembaga kurang efektif dalam mengelola kas. Jumlah kas yang relatif kecil akan diperoleh tingkat perputaran kas yang tinggi dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Adapun bila mempunyai uang kas yang tidak cukup dalam perusahaan dapat membahayakan. Sebab, ada kemungkinan tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo.
Tetapi, mempunyai terlalu banyak kas juga tidak sehat (Munawir, 2015). Apabila perusahaan memiliki saldo kas yang terlalu sedikit, perusahaan dapat menghadapi kehabisan kas. Hal ini dapat berakibat perusahaan harus mencari dana jangka pendek, baik berupa pinjaman atau penjualan surat berharga, yang juga membutuhkan berbagai biaya. Untuk menentukan saldo kas yang tepat, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan manfaat (benefit) mengadakan kas dan biaya yang timbul akibat dari pengadaan kas tersebut.
ISSN: 2549-6182 (Online) Manajemen yang mampu mengelolakas
berdasarkan karakteristik khusus masing- masing perusahaan dengan pemanfaatan dana yang efisien seraya tetap menjaga operasional perusahaan tetap berjalan dengan lancar.
Menurut Sembiring dan Rizal (2018), manajemenkas adalah suatu sistem pengelolaan perusahaan yang mengatur arus kas (cash inflow) untuk mempertahankan likuidititas perusahaan sertamemanfaatkanidle cashdan perencanaan kas. Darsono dan Purwanti (2016), kas suatu perusahaan harus dikelola dengan baik. Sebab ia merupakan jantung yang menggerakkan semua kegiatan, khususnya kegiatan operasi rutin. Suatu perusahaan yang kekurangan kas akan kehilangan kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan. Pihak luar akan tidak percaya bila tagihannya tidak dibayar tepat waktu, dan pihak dalam terutama buruh akan tidak percaya bila upahnya tidak dibayar tepat waktu.
Atmaja (2018), tujuan dari manajemen kas adalah meminimumkan jumlah kas yang harus ada pada perusahaan agar aktivitas perusahaan dapat berjalan normal, namun pada saat yang sama, perusahaan memiliki kas yang cukup untuk (1) mengambil diskon pembelian, (2) melunasi hutang yang jatuh tempo, (3) memenuhi kebutuhan kas yang tak terduga.
Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari buruhnya dan pemasoknya (krediturnya), perusahaan tersebut lambat-laun akan bangkrut. Mensinkronkan arus kas berarti menyesuaikan timing arus kas masuk dengan arus kas keluar sehingga anggaran kas dapat diperkecil. Sebagai contoh, jika kita akan menerima penghasilan secara harian dan harus membayar sewa dan biaya-biaya lain juga secara harian, serta kita yakin dengan prediksi arus kas dan arus kas keluar maka kita dapat menyediakan anggaran kas kecil. Syamsuddin (2017), pada umumnya teknik manajemen kas terdiri atas : (1) Mensinkronkanarus kas, (2) Menggunakan float,(3) Mempercepat pengumpulan, (4) Menentukan dimana dan kapan dana dibutuhkan, dan memastikan bahwa dana tersebut tersedia pada waktu dan tempat yang tepat, (5) Mengontrol pembayaran.
Kas merupakan salah satu aktiva yang memiliki likuiditas paling tinggi. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban yang harus segera dipenuhi atau kewajiban jangka pendek.
Kewajiban perusahaan tersebut baik berupa kewajiban kepada pihak kreditur jangka pendek maupun kewajiban dalam pembiayaan operasi perusahaan sehari-hari demi kelangsungan produksi, semakin besar jumlah kas yang ada diperusahaan maka semakin tinggi pula likuiditasnya. Hery (2016), hal yang dapat menentukan manajemen kas baik atau tidaknya dapat dilihat dari perencanaan kas (forecasting). Perusahaan memiliki sumber daya keuangan yang terbatas olehkarena itu sangat penting adanya perencanaan dalam pengalokasian dana yang dimiliki. Pada dasarnya perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masadepan yang tepat, melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber dayayang tersedia.
Kegiatan ini sangat penting untuk memastikan semua kegiatan operasional dapat dibiayai, jika kemudian setelah semua kegiatan telah dialokasikan dananya dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana tersebut dapat dioptimalisasikan melalui penempatan uang pada bank maupun digunakan untukkegiatan investasi sehingga menjadikan manajemen kas yang optimal.
Perencanaan kas merupakan suatu cara efektif untuk merencanakan dan mengendalikan arus kas. Memperkirakan kebutuhan uang, dengan secara efektif menggunakan uang yang berlebih. Tujuan utamanya adalah merencanakan posisi likuiditas perusahaan sebagai dasar untuk menentukan pinjaman di masa dating dan investasi yang akan dilakukan. Perencanaan kas dapat dikatakan sebagai suatu perkiraan terhadap penerimaan kas dan pengeluaran kas yang disusun dalam periode tertentu.
Penyusunan perencanaan kas bagi suatu perusahaan sangat penting karena dengan adanya perencanaan kas, maka pimpinan perusahaan akan dapat memperkirakan besarnya kas masuk maupun kas keluar dan kapan diperlukannya tambahan kasdari luar perusahaan, dan perusahaan juga dapat menentukan besarnya saldo kasyang sebaiknya ada didalam perusahaan agar tidak mengalami kesulitan dalammenjalankan kegiatan operasionalnya (Hery, 2016).
Pengawasan berarti mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, merupakan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana-rencana. Sistem pengawasan kas
ISSN: 2549-6182 (Online) meliputi prosedur-prosedur yang dibuat untuk
menjaga atau mengamankan dana perusahaan.
Sistem ini menciptakan pengawasan intern yang cukup terhadap kas, diperolehnya data akuntansi yang tepat dan dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha serta mendorong dipenuhinya kebijaksanaan pimpinan. Istilah pengawasan intern meliputi sistem-sistem prosedur-prosedur dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh perusahaan untuk membantu memastikan bahwa transaksi-transaksi telah diotorisasi, diperiksa dan dicatat secara layak.
Hery (2016), kas merupakan aset yang paling lancar dibanding aset lainnya. Olehsebab itu, kas merupakan aset yang paling digemari untuk dicuri, dimanipulasi, dan diselengwengkan. Dalam neraca, kas selalu disajikan pada urutan pertama, setelah itu diikuti akun piutang usaha, dan seterusnya sesuai urutan tingkat likuiditasnya.
Pengawasan kas merupakan bagian yang tidak terpisah dari pengawasan intern secara umum. Oleh karena itu segala sesuatu mengenai pengawasan intern juga berlaku terhadap pengawasan kas sebagai bagian yang lebih khusus dan mendetail. Fungsi pengawasan kas secara umum antara lain ialah untuk menjamin terselenggaranya pencatatan kas yang akurat, tersimpannya kas dengan aman dan adanya pengeluaran kas yang dilakukan dan disyahkan oleh personil dan yang berwenang dan dengan jumlah yang besar. Ikhsan dan Priantara (2017) menyatakan bahwa fungsi pengawasan meliputi semua aktivitas yang berhubungan dengan penentuan atau evaluasi mengenai apa yang telah dicapai, sampai sejauh mana pelaksanaan perencanaan dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan.
Penyimpangan dalam pelaksanaan perlu diketahui agar jika perlu diadakan tindakan koreksi, karena perencanaan sebagai standar atau alat pengawasan bagi pekerjaan yang sedang dikerjakan. Mengingat mayoritas transaksi di perusahaan melibatkan kas, maka pengawasan kas sangat diperlukan guna menghindari terjadinya penyelewengan yag dilakukan terhadap kas. Pengawasan kas tercukup dalam pengawasan intern kas.
Perusahaan yang tidak mampu atau tidak sanggup untuk membayar seluruh atau sebagian utang (kewajibannya) yang sudah jatuh tempo pada saat ditagih atau terkadang perusahaan juga sering tidak memiliki dana untuk membayar kewajibannya tepat waktu, kasus seperti ini akan sangat mengganggu
hubungan baik antara perusahaan dengan para kreditor. Ketidakmampuan perusahaan membayar kewajibannya terutama utang jangka pendek (yang sudah jatuh tempo) disebabkan oleh berbagai faktor:pertama, bisa dikarenakan memang perusahaan sedang tidak memiliki dana sama sekali. Kedua, bisa mungkin saja perusahaan memiliki dana, namun saat jatuh tempo perusahaan tidak memiliki dana (tidak cukup) secara tunai sehingga harus menunggu dalam waktu tertentu, untuk mencairkan aktiva lainnya seperti menagih piutang, menjual surat-surat berharga, atau menjual sediaan aktiva lainnya (Yudiana, 2016). Likuiditas menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih.
Syamsuddin (2017) mengemukakan bahwa rasio likuiditas yaitu suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Jadi untuk menganalisis posisi keuangan jangka pendek suatu perusahaan, maka dipergunakan rasio likuditas. Posisi keuangan jangka pendek suatu perusahaan, maka dipergunakan rasio likuiditas dimana rasio likuiditas memberikan dasar untuk menjawab pertanyaan, apakah perusahaan mempunyai kas dan asset-aset yang mudah dicairkan/diuangkan untuk membayar tagihan-tagihannya pada waktunya.
Sartono (2014), tingkat likuiditas yang baik mencerminkan bahwa pengelolaan terhadap aktiva lancar dapat diselaraskan dengan pengelolaan hutang lancar. Kedua elemen sangat perlu diperhatikan dan menjadi bagian dari perencanaan keuangan perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus mampuh mengontrol atau mengendalikan kedua hal tersebut, yaitu aktiva lancar dan kewajiban hutang lancar sehingga dapat mencegah terjadinya ketidakseimbangan komposisi antara aktiva lancar dan kewajiban lancar yang mana dapat mempengaruhi tingkat likuiditas.
Likuiditas tidak hanya berkaitan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya untuk mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas.
ISSN: 2549-6182 (Online) Likuiditas merupakan salah satu aspek
keuangan yang penting untuk dianalisis. Hal tersebut dikarenakan likuiditas merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu perusahaan yang dilihat dari seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya. Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid apabila perusahaan tersebut mampu melunasi kewajiban finansial jangka pendek maupun kewajiban jangka panjangnya yang jatuh tempo pada tahun bersangkutan.
Sebaliknya, jika suatu perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban finansialnya digolongkan kedalam perusahaan yang likuid.
Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya, termasuk melunasi bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun yang bersangkutan (Riyanto, 2015).
Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya, rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar.
Penelitian sebelumnya, Oktora dan Suleman (2020) yang menunjukkan bahwa analisis manajemen kas perusahaan untuk menjaga likuiditas dengan mengandalkan arus kas sudah cukup baik dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 hal ini ditandai dengan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya berupa bunga pinjaman, meskipun hal itu berdampak pada penurunan rasio arus kas yang dimilki oleh perusahaan dan pada periode selanjutnya yaitu pada tahun 2018 sampai dengan 2019 kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya mengalami penurunan hal ini disebabkan adanya penambahan hutang lancar yang dilakukan perusahaan sehingga rasio arus kas yang dimilikinya mengalami peningkatan akibat dari penambahan hutang lancar tersebut.
Penelitian Ikhsanul (2019) yang menunjukkan bahwa manajemen kas yang dijalankan oleh di PT. Bee Logistics Transwolrd sudah bagus atau benar, hal ini dapat dilihat posisi kas perusahaan pada tahun 2018 yaitu mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa PT.
Bee Logistics Transwolrd tidak mau dananya (kasnya) ada yang menganggur (tidak produktif), sehingga dana kas dialihkan untuk investasi yang dibutuhkan untuk jangka waktu kedepan agar dana kas lebih produktif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan pada selama 2 bulan. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap laporan keuangan perusahaan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2 tahun mulai tahun 2018 sampai tahun 2019.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif time series berupa laporan keuangan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif yaitu suatu analisis yang menjelaskan tentang variabel atau data-data yang ada dalam penelitian ini, untuk kemudian dihitung sehingga diperoleh informasi yang akurat mengenai analisis manajemen kas dalam upaya menjaga tingkat likuiditas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis manajemen kas PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2 tahun periode tahun 2018 sampai tahun 2019, diukur dengan menggunakan analisis arus kas operasi, yang terdiri dari:
a. Rasio fleksibilitas
Rasio fleksibilitas keuangan merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mengambil langkah guna mengatasi interupsi yang tidak diharapkan pada arus dana. Semakin tinggi rasio ini semakin kecil kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Akibatnya, rasio ini menandakan apakah perusahaan dapat membayar hutang- hutangnya dan bertahan hidup jika sumber dana eksternal terbatas atau terlalu mahal dan atau dengan kata lain rasio ≥ 1 kinerja keuangan dikatakan baik. Dengan menggunakan rasio ini, perusahaan bisa menganalisis berapa presentase total hutang yang dijamin oleh arus kas operasi bersih.
Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi dibagi dengan total hutang yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio total hutang PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk Tahun 2018 rasio total hutang menunjukan rasio sebesar 0,258. Hasil tersebut menunjukan total hutang perusahaan dijamin oleh arus kas
ISSN: 2549-6182 (Online) operasi bersih tahun 2018 sebesar 0,258.
Tahun 2019 rasio total hutang menunjukan rasio sebesar 0,985. Hasil tersebut menunjukan total hutang perusahaan dijamin oleh arus kas operasi bersih tahun 2019 sebesar 0,985. Bila dilihat secara keseluruhan, rasio fleksibilitas keuangan dari PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk dari tahun 2018 sampai tahun 2019 kurang baik karena lebih kecil dari 1. Rasio fleksibilitas keuangan di bawah 1 menunjukkan ketidakmampuan perusahaan dalam melunasi total kewajibannya, karena kas bersih dari aktivitas operasi yang dimiliki tidak cukup untuk membayar hutangnya b. Rasio arus kas bebas
Arus kas bebas positif mencerminkan jumlah yang tersedia bagi aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat sekarang. Rasio arus kas bebas, mengindikasikan bahwa semakin besar jumlah arus kas bebas semakin besar tingkat fleksibilitas keuangan perusahaan.
Cara yang paling baik untuk memeriksa laporan arus kas perusahaan adalah dengan mengembangkan analisis laporan arus kas bebas. Rasio arus kas bebas dikatakan baik apabila perbandingannya adalah 2:1, artinya setiap Rp 1 kewajiban lancar dijamin oleh Rp 2 kas bersih dari aktivitas operasi setelah dikurang pembayaran deviden dan pengeluaran modal. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio arus kas bebas PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk Tahun 2018 menunjukan rasio arus kas bebas bersih sebesar -3,643. Rasio arus kas bebas pada tahun 2018 tidak baik karena Rp 1 kewajiban lancar tidak dapat dijamin hanya dengan -3,643 kas bersih dari aktivitas operasi setelah dikurangi pengeluaran modal. Tahun 2019 menunjukan rasio arus kas bebas bersih sebesar -3,042. Rasio arus kas bebas pada tahun 2019 tidak baik karena Rp 1 kewajiban lancar tidak dapat dijamin hanya dengan -3,643 kas bersih dari aktivitas operasi setelah dikurangi pengeluaran modal. Bila dilihat secara keseluruhan, rasio arus kas bebas dari PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk dari tahun 2018 sampai tahun 2019 tidak baik karena berada di bawah 1 dan berada dibawah standar. Rasio arus kas bebas di bawah 1 menunjukkan
ketidakmampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya, karena kas bersih dari aktivitas operasi yang dimiliki hanya cukup untuk membayar deviden dan pengeluaran modal.
c. Rasio kualitas laba
Rasio kualitas laba mengukur bagian laba yang berupa kas dengan asumsi, semua hal yang lain sama. Rasio Kualitas Laba yang tinggi merupakan indikasi bahwa perusahaan tidak menggunakan kebijakan pengakuan pendapatan yang lebih agresif untuk meningkatkan laba bersih. Oleh karena itu, lebih kemungkinan perusahaan mengalami penurunan laba di masa yang akan datang. Rasio Kualitas laba yang baik apabila berada di atas 1, karena mengindikasikan kemampuan yang lebih tinggi dalam mendanai kegiatan operasi dengan menggunakan kas masuk dari aktvitas operasi itu sendiri. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio kualitas laba PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk Tahun 2018 menunjukan rasio kualitas laba sebesar 0,269. Rasio kualitas laba pada tahun 2018 tidak baik karena berada di bawah 1, hal ini mengindikasikan ketidakmampuan perusahaan dalam mendanai kegiatan operasi dengan menggunakan kas masuk dari aktvitas operasi itu sendiri. Tahun 2019 menunjukan rasio kualitas laba sebesar 1,171, rasio ini mengalami peningkatan dari tahun 2018, dan rasio kualitas laba pada tahun 2019 sudah baik karena berada di atas 1, hal ini mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam mendanai kegiatan operasi dengan menggunakan kas masuk dari aktvitas operasi itu sendiri.
d. Rasio akuisisi modal
Rasio akuisisi modal merefleksikan bagian perolehan aset tetap yang didanai dengan aktivitas operasi, tanpa perlu berutang kepada pihak eksternal atau mendanai dengan ekuitas, atau menjual investasi lain, atau menjual aset tetap. Rasio akuisisi modal diperoleh melalui membagikan arus kas masuk yang diperoleh dari aktivitas operasi dengan kas yang dibayarkan untuk perolehan aset tetap. Rasio Akuisisi di atas 1 adalah rasio yang baik, karena menunjukkan rendahnya ketergantungan pada pendanaan eksternal untuk ekspansi perusahaan saat ini dan di masa yang akan datang. Ini menguntungkan perusahaan,
ISSN: 2549-6182 (Online) karena memberi peluang bagi perusahaan
untuk akuisisi, menghindari biaya atas tambahan utang, dan mengurangi resiko kebangkrutan. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio akuisisi modal PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk Tahun 2018 menunjukan rasio akuisisi modal sebesar 0,229. Rasio akuisisi modal pada tahun 2018 tidak baik karena berada di bawah 1, hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal untuk ekspansi perusahaan saat ini dan di masa yang akan datang. Tahun 2019 menunjukan rasio akuisisi modal sebesar 0,868, rasio ini mengalami kenaikan dari tahun 2018, rasio akuisisi modal pada tahun 2019 tidak baik karena berada di bawah 1, hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal untuk ekspansi perusahaan saat ini dan di masa yang akan datang. Berdasarkan hasil perhitungan analisis manajemen kas dengan menggunakan rasio arus kas operasi pada PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2 tahun yaitu tahun 2018 sampai tahun 2019 dapat disimpulkan dari 4 rasio arus kas ini belum bisa dikatakan baik atau ideal karena rata-rata rasio masih dibawah 1 atau dibawah standar. Manajemen kas PT.
Ace Hardware Indonesia, Tbk yang diukur dengan rasio arus kas operasi yang mengalami penurunan disebabkan oleh penurunan arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi, kewajiban lancar yang mengalami kenaikan, bunga yang mengalami kenaikan, pajak yang mengalami kenaikan, total kewajiban yang mengalami kenaikan, EBIT yang mengalami kenaikan, dan aset tetap yang mengalami kenaikan. Sedangkan arus kas operasi yang mengalami kenaikan disebabkan adanya kenaikan arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi, kewajiban lancar yang mengalami kenaikan, bunga yang mengalami kenaikan, pajak yang mengalami penurunan total kewajiban yang mengalami kenaikan, serta EBIT yang mengalami penurunan dan aset tetap yang mengalami kenaikan.
Analisis likuiditas kas PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2 tahun periode tahun 2018 sampai tahun 2019, diukur dengan menggunakan rasio sebagai berikut:
a. Rasio lancar (current ratio)
Rasio lancar adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya selama periode tertentu. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio lancar PT.
Ace Hardware Indonesia, Tbk, nilai rasio lancar pada tahun 2018 sebesar 649,12%
berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 64.912,-.
Nilai rasio lancar pada tahun 2019 sebesar 807,64% berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp.
80.764,- Tahun 2018 rasio lancar sebesar 649,12% dan tahun 2019 rasio lancar sebesar 807,64%, ini berarti rasio lancar mengalami peningkatan sebesar 158,53%
dari tahun 2018, hal ini disebabkan karena adanya peningkatan nilai aktiva lancar dan nilai kewajiban lancar yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
b. Rasio cepat (quick ratio)
Rasio cepat adalah mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya dengan tidak memperhitungkan persediaan. Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio cepat PT.
Ace Hardware Indonesia, Tbk, nilai rasio cepat pada tahun 2018 sebesar 249,80%
berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 24.980,- tanpa melibatkan persediaan. Nilai rasio cepat pada tahun 2019 sebesar 340,30%
berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 34.030,- tanpa melibatkan persediaan. Tahun 2018 rasio cepat sebesar 249,80% dan tahun 2019 rasio cepat sebesar 340,30%, ini berarti rasio cepat mengalami peningkatan sebesar 90,50% dari tahun 2018, hal ini disebabkan karena adanya peningkatan nilai aktiva lancar dan nilai persediaan serta nilai kewajiban lancar yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
ISSN: 2549-6182 (Online) c. Rasio kas (cash ratio)
Rasio kas adalah mengukur kemampuan perusahaan membayar hutang lancarnya dengan menggunakan kas dan setara kas.
Dari hasil perhitungan menunjukkan rasio cepat PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk nilai rasio kas pada tahun 2018 sebesar 126,54% berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh kas dan setara kas sebesar Rp.
12.654,- Nilai rasio kas pada tahun 2019 sebesar 221,10% berarti setiap hutang lancar Rp. 1, dijamin oleh kas dan setara kas sebesar Rp. 22.110,-. Tahun 2018 rasio kas sebesar 126,54% dan tahun 2019 rasio kas sebesar 221,10%, ini berarti rasio kas mengalami peningkatan sebesar 94,56%
dari tahun 2018, hal ini disebabkan karena adanya peningkatan nilai kas dan setara kas yang meningkat secara signifikan serta nilai kewajiban lancar yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Rasio likuditas PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2 tahun yaitu periode tahun 2018 sampai tahun 2019 yang mengalami penurunan disebabkan karena aktiva lancar yang mengalami kenaikan, hutang lancar yang mengalami kenaikan, serta persediaan yang mengalami kenaikan dan kas yang mengalami penurunan dan nilai rasio likuiditas yang mengalami peningkatan disebabkan karena nilai aktiva lancar mengalami peningkatan seiring bertambahnya nilai kewajiban lancar dari tahun sebelumnya. Analisis manajemen kas untuk menjaga likuiditas perusahaan PT.
Ace Hardware Indonesia, Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia diketahui bahwa pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2019, manajemen kas yang diindikasikan dengan rasio arus kas operasi mengalami kenaikan. Sedangkan likuiditas pada periode yang sama mengalami kenaikan, sehingga terdapat hubungan yang searah antara manajemen kas dengan likuiditas. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kas sehingga perusahaan PT.
Ace Hardware Indonesia, Tbk dapat membayar kewajiban jangka pendeknya.
Oleh karena itu manajemen kas telah mampu menjaga likuiditas selama tahun 2018 sampai dengan tahun 2019. Selain itu, pengelolaan manajemen kas dalam menjaga likuiditas dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya dimana dapat dilihat dari
hasil analisis laporan keuangan perusahaan menggunakan neraca atau laporan posisi keuangan perusahaan tahun 2018 sampai tahun 2019, dimana aktiva lancar lebih besar dengan hutang lancar. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Oktora dan Suleman (2020) yang menunjukkan bahwa analisis manajemen kas perusahaan untuk menjaga likuiditas dengan mengandalkan arus kas sudah cukup baik dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 hal ini ditandai dengan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya berupa bunga pinjaman, meskipun hal itu berdampak pada penurunan rasio arus kas yang dimilki oleh perusahaan dan pada periode selanjutnya yaitu pada tahun 2018 sampai dengan 2019 kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya mengalami penurunan hal ini disebabkan adanya penambahan hutang lancar yang dilakukan perusahaan sehingga rasio arus kas yang dimilikinya mengalami peningkatan akibat dari penambahan hutang lancar tersebut.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah manajemen kas perusahaan untuk menjaga likuiditas dengan mengandalkan arus kas sudah cukup baik dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2019, hal ini ditandai dengan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya berupa bunga pinjaman, meskipun hal itu berdampak pada penurunan rasio arus kas yang dimilki oleh perusahaan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk.
Saran
Berdasarkan simpulan yang diperoleh, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut:
a. Perusahaan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk diharapkan dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam hal mengelola kas dengan arus kas yang dapat menjaga likuiditas dengan baik, sehingga mampu memenuhi kewajibannya.
ISSN: 2549-6182 (Online) b. Diharapkan Pengelolaan manajemen kas
atas keuangan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk khususnya akun kas perusahaan harus tetap dijaga dalam posisi yang aman, dan sebaiknya dalam mengelolah kegiatan perusahaan pimpinan perusahaan mengawasi atau memonitoring laporan keuangan, keluar masuknya kas.
DAFTAR PUSTAKA
Arfan, I. & Teddy, P. (2017) Akuntansi Untuk Manajer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Bambang, R. (2015) Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE.
Darsono, P & Ari, P. (2016) Penganggaran Perusahaan. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Eka, O.F. & Yuniarti, S. (2020) Analisis Manajemen Kas Untuk Menjaga Likuiditas PT. Tirta Mahakam Resources, Tbk. Jurnal Actual Organization of Economy. 1(2)
Eka, Y.F. (2016) Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Ombak.
Hermansyah, S. & Rizal, M. (2018) Manajemen Keuangan. Bandung: Cipta Pustaka Media Perintis.
Hery. (2016). Pengendalian Akuntansi dan Manajemen. Jakarta: Kencana.
Jumingan (2015) Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kasmir (2016) Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Khoiriza, I.M. (2019) Analisis Manajemen Kas Pada Perusahaan Jasa Freight Forwarding Di PT. Bee Logistics Transwolrd. Artikel Ilmiah. STIE Mahardhika.
Munawir. S (2015) Akuntansi Keuangan dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Mulyadi (2015) Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat.
Sartono (2014) Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE.
Setya, A.L. (2018). Teori dan Praktik Manajemen Keuangan. Yogyakarta:
Andi.
Syamsuddin, L. (2017) Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.