• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama Dalam Perspektif Antropologi Simbolik Interpretatif

N/A
N/A
reziq mahfiuz

Academic year: 2024

Membagikan "Agama Dalam Perspektif Antropologi Simbolik Interpretatif"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Agama Dalam Perspektif Antropologi Simbolik Interpretatif

Reziq Mahfuz.Ma.Iballa (22105030092), Arina Fatma Zahro (22105030118), Ziadah Salamatin Naja (22105030085).

Asumsi Dasar Teori Simbolik Interpretatif

Teori Simbolik interpretatif atau yang kadang disebut interpretivisme simbolik merupakan sebuah teori yang dipopulerkan oleh Clifford Geertz. Geertz Memperkenalkan teori ini sebagai pelengkap sekaligus respon kejenuhan terhadap teori struktural fungsionalisme yang berkembang di Inggris melalui tokohnya Malinowski dan Brown. Dalam bukunya “The Interpretation of Cultures” (1973a), Geertz berpendapat bahwa kebudayaan merupakan sebuah “teks” yang mesti ditafsirkan. Kebudayaan tidak hanya terdiri dari perilaku dan benda-benda fisik, tetapi juga terdiri dari maknamakna yang terkandung di dalamnya.

Makna-makna ini dapat ditemukan dalam perilaku, bendabenda fisik, dan juga dalam bahasa.

Menurut Geertz, manusia membutuhkan “sumber penerangan” simbolik untuk mengorientasikan dirinya sehubungan dengan system makna budaya tertentu (1973b).

Lebih lanjut, Geertz yang terpengaruh oleh Weber menyatakan bahwa manusia merupakan seekor binatang yang tergantung pada jaringan-jaringan makna yang telah dipintalnya sendiri, dan Geertz menganggap kebudayaan sebagai jaringan-jaringan tersebut, dan oleh karena hal tersebut analisis terhadap kebudayaan bukanlah ilmu eksperimental mencari hukum, tetapi penafsiran untuk mencari makna (Geertz, 1973c).

Secara teori, antropologi simbolik berasumsi bahwa budaya terletak pada dasar penafsiran individu terhadap lingkungan sekitarnya, dan pada kenyataannya budaya tidak ada di luar individu itu sendiri (Wikipedia). Dalam Bahasa yang lebih sederhana, teori simbolik interpretatif menjadi sebuah pendekatan dalam antropolgi yang memiliki fokus terhadap pentingnya makna bagi kehidupan manusia. Di dalam teori ini kebudayaan manusia merupakan system symbol yang memiliki makna bagi orang-orang yang hidup di dalamnya . Simbol disini adalah representasi ide, pikiran, nilai, dan lain sebagainya. Dalam hal yang lebih konkret symbol bisa berupa objek seperti salib, bintang bulan, bisa pula berbentuk perilaku seperti berlutut di depan altar, bersujud, membaptis, berdoa, bisa juga berupa mitos atau cerita seperti kisah nabi kisah yesus hingga pada kisah legenda nenek moyang (Faiz, 2022). Maka dari hal tersebut, untuk memahami kebudayaan manusia, harus memahami dahulu makna-makna yang terkandung di dalam symbol tersebut.

(2)

Dalam teori ini, yang menjadi subjeknya adalah manusia yang menginterpretasikan makna dari sebuah symbol, dan objeknya adalah symbol yang sudah diberi makna oleh manusia.

Kebudayaan Simbolik Interpretif

Kebudayaan simbolik interpretif merupakan totalitas pengetahuan manusia yang menjadi panduan atau interpretasi terhadap seluruh tindakan manusia. Terdapat empat aspek kunci dalam definisi kebudayaan simbolik interpretif. Pertama, kebudayaan merujuk pada keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Kedua, kebudayaan mencakup berbagai perangkat dan model pengetahuan. Ketiga, pengetahuan digunakan secara selektif untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Keempat, kebudayaan mendorong dan menciptakan tindakan yang diperlukan. Kebudayaan menurut simbolik interpretif terbagi menjadi dua, yaitu

Pertama, kebudayaan sebagai sistem pengetahuan atau sistem kognitif yang disebut dengan Model Of yaitu sebagai pola bagi tindakan. Maksudnya adalah Kebudayaan dapat dipahami sebagai kumpulan pengetahuan manusia yang mencakup berbagai model, yang secara selektif digunakan untuk menginterpretasi, mendorong, dan menciptakan tindakan. Dalam konteks ini, kebudayaan berperan sebagai panduan untuk bertindak. Oleh karena itu, interpretasi yang sudah ada dalam masyarakat merupakan suatu makna kebudayaan yang diterjemahkan ulang oleh individu dengan sudut pandang sebagai pelaku kebudayaan yang dipahaminya.

Kedua, kebudayaan sebagai sistem nilai atau sistem evaluatif yang disebut Model For yaitu sebagai pola dari tindakan. Maksudnya adalah Kebudayaan dapat diartikan sebagai manifestasi konkret dari apa yang dilakukan dan dipersepsikan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, kebudayaan dianggap sebagai bentuk nyata dari tindakan- tindakan tersebut. Sehingga sistem evaluatif menjadi sebuah interpretasi yang belum dibangun yang nantinya akan dibentuk dengan paparan-paparan melalui perilaku, perkataan maupun kebiasaan seseorang dalam ruang lingkup kebudayaan di daerahnya sesuai dengan aliran yang dianut. Sehingga nantinya paparan yang mereka susun harus diakui keberadaannya.1

Contoh dari keduanya dapat dilihat misalnya melalui upacara atau ritul-ritual keagamaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Jadi, pengetahuan-pengetahuan,

1 Aziska Dindha Pertiwi, Representasi Kepercayaan Masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral (Kajian Interpretatif Simbolik Clifford Geertz), (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2018).

(3)

ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin dari ritual itu sebagai pola bagi tindakan atau model of.

Sedangkan, ritual upacara yang dilakukan itu sebagai pola dari tindakan atau model for.

Relasi dari kedua sistem tersebut dapat dipertemukan melalui sistem simbol yang menjadi perantara antara keduanya. Sistem simbol sendiri memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang membawa dan menyampaikan pada orang lain melalui pesan, makna atau pengertian. Simbol mengandung makna dan interpretasi yang disebut system of meaning.

Melalui makna tersebut sebuah simbol dapat mengartikan pengetahuan menjadi nilai, dan juga mengartikan seperangkat nilai menjadi suatu sistem pengetahuan. Simbol dapat dilihat sebagai konsep-konsep yang dianggap oleh manusia sebagai pengkhasan sesuatu yang mengandung kualitas-kualitas analislogis atau melalui asosiasi-asosiasi dalam pikiran atau fakta. Sehingga dapat dipahami bahwa simbol membawa suatu pesan yang mengandung sebuah makna yang mendorong pemikiran dan tindakan seseorang.2

Agama dalam Perspektif Simbolik Interpretatif

Agama menurut Clifford Geertz adalah simbol-simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat yang meresapi dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep konsep mengenai tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas sehingga suasana hati dan motivasi motivasi itu tampak realistis.

Untuk menghubungkan agama sebagai sistem kognisi dan agama sebagai sistem dinilai dibutuhkan sistem makna yang termuat dalam simbol. Simbol dapat merepresentasikan ide, gagasan, pengetahuan yang terdapat dalam sistem kognisi. Simbol dapat berupa ritual-ritual keagamaan dan pola perilaku umat agama dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Agama sebagai model for mencakup aspek-aspek normatifitas agama. Sebagai model for, berhubungan struktur sosial tidak diperhatikan. Sedangkan sebagai model of, ia lebih kongkrit dapat dilihat dari perilaku pemeluk agama dan berhubungan dengan struktur sosial.

Eksistensi agama nampak dari norma-norma ajaran suci yang menjadi pedoman hidup yang bersifat abstrak dan perilaku umat agama dalam kehidupan sosial.

2 Ibid.

(4)

Contohnya adalah ritual salat bagi umat islam. Di balik salat terdapat seperangkat pengetahuan dan suasana hati yang abstrak. Seperangkat pengetahuan ini disebut sebagai pola bagi tindakan atau model of dan ritual salat adalah pola dari tindakan atau model for.

Kesimpulan

Teori Simbolik Interpretatif ini dikemukakan oleh Clifford Geertz sebagai puzzle pelengkap teori sebelumnya Struktural Fungsional yang berfokus pada kajian sosial. Pada teori ini Geertz mengungkapkan bahwa dalam kebudayaan terdapat sistem kognisi berupa ide, gagasan, pengetahuan yang abstrak. Kebudayaan juga menjadi sistem nilai atau evaluatif.

Untuk menghubung keduanya diperlukan sesuatu yang kongkrit yang dapat diamati manusia maka, simbol hadir sebagai sistem makna.

Agama dalam perspektif Simbolik Iterpretatif dapat diambil contoh dari salat. Salat mengandung semesta makna, pengetahuan, dan nilai yang abstrak. Salat di sini dapat disebut sebagai model of atau pola dari tindakan. Sedangkan, pengetahuan di belakangnya ada model of atau pola bagi tindakan. Sehingga agama dapat dipandnag dari dua sisi yaitu pengetahuan dan ajaran suci dari agama tersebut dan pola perilaku umat penganut agama tersebut.

Daftar Pustaka

Syam, N. (2007). Madzhab-Madzhab Antropologi. Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang.

Antropologi Simbolik. (2023, 11 20). Retrieved from Wikipedia:

https://en.wikipedia.org/wiki/Symbolic_anthropology#cite_note-:0-2

Faiz, A. A. (2022). Dasar-Dasar dan Pokok Pikiran Sosiologi Agama. Yogyakarta: SUKA- Press.

Geertz, C. (1973a). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Book, Inc.

Geertz, C. (1973b). The Impact of the Concept of Culture on the Concept of Man. In The Interpretation of Cultures. New York: Basic Book, Inc.

(5)

Geertz, C. (1973c). Thick Description: Toward an Interpretive Theory of Culture. In The Interpretation of Cultures. New York: Basic Book, Inc.

Pertiwi, A. D. (2018). Representasi Kepercayaan Masyarakat Jawa dalam Novel Sang Pencerah Karya Akmal Nasery Basral (Kajian Interpretatif Simbolik Clifford Geertz).

Referensi

Dokumen terkait