• Tidak ada hasil yang ditemukan

akad kerjasama antara pemilik kebun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "akad kerjasama antara pemilik kebun"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Bagaimana bentuk perjanjian kerjasama antara pemilik perkebunan dengan penyadap karet dalam hal pembagian keuntungan antara pemilik perkebunan dengan petani karet di Desa Pagar Jati Kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah. Bagaimana konsep al-musaqah antara pemilik perkebunan dan penyadap karet dalam pembagian keuntungan antara pemilik perkebunan dan petani karet di Desa Pagar Jati Kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Penelitian Terdahului

Persamaan penelitian kali ini dengan peneliti terdahulu adalah sama-sama mengkaji bagi hasil Al-Musaqah. Persamaan peneliti terdahulu dan sekarang adalah sama-sama mengkaji hasil Musaqah. 8 Arnaleti Putra, “Tinjauan Hukum Islam Bagi Hasil Musaqah di Desa Sinar Gunung Kecamatan Tebat Karai Kabupaten Kepahiang” Fakultas Syariah Iain Bengkulu).

Penelitian yang disusun oleh Hananah Wardah “Sistem Bagi Hasil Nelayan di Desa Morodemak Kecamatan Bonang Kabupaten Demak” 9. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian penulis adalah akadnya menggunakan akad lisan dan membahas bagi hasil. Penelitian Yustin Yuliza “Dalam Hukum Islam Timjaun Terdapat Sistem Bagi Hasil Perkebunan Kopi (Studi Kasus Pada Masyarakat Desa Penantian Kecamatan Jarai Kabupaten Lahat) 10.”.

Landasan hukum lain dalam pelaksanaan bagi hasil di Desa Pagar Banyu Kecamatan Pagar Alam Utara Kota Pagar Alam adalah hukum adat.

Metode Penelitian

  • Pendekatan Dan Jenis Penelitian
  • Waktu Dan Lokasi Penelitian
  • Data Dan Teknik Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Informan Penelitian
  • Teknik Analisa Data

Peneliti mengamati pembagian keuntungan antara pekerja kran dan pemilik kebun di Desa Pagar Jati, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah. Musaqah Pemilik Modal, Perjanjian Kerjasama Bagi Hasil serta Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Tentang Bagi Hasil antara Pemilik Perkebunan dan Pengelola Pertanian di Desa Pagar Jati Kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah. Pada tahun 2020, sebagian besar warga Desa Pagar Jati, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah akan berada di sana.

Perjanjian kerjasama antara pemilik kebun dan penyadap karet dalam pembagian keuntungan di desa Pagar Jati. Kontrak yang biasa digunakan oleh para penyadap dan pemilik perkebunan karet di Desa Pagar Jati dilaksanakan hanya dalam bentuk. Namun dalam praktik pembagian keuntungan antara penyadap dan pemilik kebun di desa Pagar Jati, hal ini tidak sesuai dengan perjanjian bagi hasil (al-Musaqah) dan tidak ada pembayaran untuk pekerjaan tambahan.

Menurut pemilik lahan perkebunan di desa Pagar Jati yang menguasai lahannya, penulis menerima.

Sistmatika penulisan

LANDASAN TEORI

  • Dasar hukum Al-Musaqah
  • Rukun dan syarat-syarat Al-Musaqah
  • Kewajiban Al-Musaqah (Pekerja)
  • Hukum-hukum yang terkait dengan Al-Musaqah
  • Berakhirnya akad Al-Musaqah
  • Hikmah Al-Musaqah

Menurut etimologinya, al-musaqah diambil dari kata as-saqqaah, yaitu seseorang yang bekerja pada pohon tamar, anggur (penjaga). Secara terminologi al-musaqah adalah akad pemeliharaan tanaman (pertanian) dan lain-lain dengan syarat-syarat tertentu.20. Menurut Syafi’iyah, yang dimaksud dengan al-Musaqah adalah: “memberikan pekerjaan kepada pemilik pohon tamar dan anggur kepada orang lain untuk dinikmati keduanya, dengan cara menyiram, merawat dan merawatnya, dan pekerja tersebut mendapat penghasilan. bagian tertentu dari buah yang dihasilkan pohon-pohon ini.” '23.

Menurut Hasbi Aah-Shiddeeqi, al-musaqah mengacu pada usaha pertanian yang mengambil hasil dari pohon.25. Al-musaqah merupakan bentuk muzara'ah yang lebih sederhana dimana praktisi hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan sebagai imbalannya, praktisi berhak atas bagian tertentu dari hasil panen.27. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun akad Al-Musaqah adalah persetujuan pemilik lahan perkebunan penggarap di Kabul, dan hasil karya penggarap.

Tujuan Al-Musaqah menurut ulama Hanabilah ialah Al-Musaqah merujuk kepada pokok yang berbuah dan hanya boleh dimakan, manakala pokok yang tidak boleh dimakan buahnya tidak terpakai kepada Al-Musaqah. Sedangkan menurut ulama Syafi'iyah, yang boleh dijadikan Al-Musaqah hanyalah kurma dan anggur. Jika pekerja yang bergaul dengan al-Musaqah ini tidak dapat bekerja keras kerana sakit atau (impedans) untuk melakukan perjalanan dengan segera, maka al-Musaqah menjadi fasakh (kosong).

Apabila dalam akad al-Musaqah disebutkan bahwa praktisi harus bekerja secara langsung (tidak dapat diwakilkan), maka jika tidak disebutkan maka al-Musaqah tidak akan batal atau rusak. Namun, praktisi wajib mencari penggantinya selagi ia berada. pergi (tidak tersedia). Petani penggarap tidak boleh mengadakan akad Al-Musaqah lainnya dengan pihak ketiga kecuali dengan persetujuan pemilik perkebunan.43. Selain undang-undang mengenai sahnya akad Al-Musaqah, terdapat juga undang-undang mengenai akad fasid Al-Musaqah.

Ada syaratnya pemeliharaan setelah pembagian hasil menjadi tanggung jawab penggarap, karena itu bukan tugas Al-Musakah. Menurut ulama Hanafi, al-Musakah seperti dalam muja'rah dianggap lengkap dengan tiga hal.

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

Sejarah Desa Pagar Jati Kecamatan Semidang Lagan

Berdiri pada tahun 2010 tepatnya pada tanggal 16 April 2010 melalui pemekaran desa yang terletak di kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu tengah. Desa ini bernama Pagas Jati, merupakan perluasan atau pemekaran desa dari Desa Lagan Bungin dan saat ini Desa Pagar Jati sudah tidak berada lagi di kecamatan Talang Empat melainkan masuk ke dalam kecamatan Semidang Lagan karena adanya pemekaran. Kecamatan Baru. Pada tanggal 16 April 2010, Desa Pagar Jati diresmikan menjadi desa tetap oleh Bupati Bengkulu Tengah, Bapak Ferry Ramli.

Nama Pagar Jati digunakan dengan tujuan untuk menghidupkan dan mengingat bahwa pada zaman dahulu kala terdapat sebuah desa bernama Pagar Jati yang terletak di kawasan Dua Belas Proatin yang berbatasan dengan kawasan Semidang Kecamatan Karen Tinggi. Secara leksikal, nama pagar jati sendiri mengandung arti yang terdiri dari dua suku kata, yaitu pagar dan kayu jati. Pagar kayu jati digunakan sebagai pembatas atau bisa juga disebut Banteng. Sedangkan jati jika kita ambil dari bentuknya diambil dari nama pohon yang paling tahan atau kokoh untuk bangunan, sehingga jika kedua makna tersebut digabungkan maka menjadi satu makna yaitu benteng yang kokoh.

Setelah desa Pagar Jati resmi terbentuk, penjabat walikota desa tersebut adalah Bapak. Miranto B. Pada bulan November 2010, diadakan pemilihan walikota desa dan Bapak. Paizal Asuwan diangkat menjadi kepala desa terpilih. Semenjak terbentuknya desa Pagar Jati, pembangunan yang dilakukan saat itu masih sangat sedikit dan manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat.Dalam upaya untuk mengejar ketertinggalan desa Pagar Jati dari desa-desa lain maka diperlukan bantuan dan pembangunan infrastruktur khususnya fasilitas transportasi untuk keluar dari desa, sangat penting dan masalah yang diperkirakan sangat penting, banyak yang telah diselesaikan tetapi karena perkembangan dari waktu ke waktu, wilayah, jumlah penduduk, kemungkinan dukungan dan pemenuhan kebutuhan.

Visi Dan Misi Desa Pagar Jati

Dalam pengelolaan perkebunan karet, banyak pemilik kebun di Desa Pagar Jati yang bekerjasama dengan para tukang kebun untuk mengerjakan kebun mulai dari pembukaan lahan, penanaman, penggajian dan bagi hasil. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat desa Pagar Jati menerapkan pembagian keuntungan antara pemilik perkebunan dan petani karet, dimana pemilik perkebunan menyerahkan sepenuhnya hasil perkebunannya kepada petani untuk dikelola. Sebagai pemilik tanah, ia hanya memberikan tanah perkebunan, sistem bagi hasil (al-Musaqah) diterapkan karena ia mempunyai pekerjaan tetap sebagai makelar di desa Pagar Jati, yang tidak bisa ia tinggalkan. Fathul Mubin sendiri memiliki perkebunan karet seluas 5 ha.

Apalagi menurut Tumiyem sendiri selaku seorang penyadap (Musaqi) menjelaskan bahwa sistem bagi hasil (al-Musaqah) ini sudah ada sejak lama karena sebagian besar warga desa ini sebagai petani di daerah ini sudah menerapkan Sistem Bagi Hasil. bagi hasil al-Musaqah sejak adanya petani. Untuk menghitung porsi total penjualan yang dilakukan penyadap, biasanya seminggu sekali kita menghitung berapa jumlah yang kita terima. Dari data-data yang berhasil penulis kumpulkan melalui wawancara, terlihat bahwa perjanjian bagi hasil (al-Musaqah) yang dilakukan oleh penyadap karet (Musaqi) dengan pemilik lahan perkebunan dilakukan secara tidak tertulis dan bersifat tidak tertulis. dilakukan sendirian. keluar melalui mulut.

Dalam sistem bagi hasil (al-Musaqah) seperti ini, ketika pemilik tanah menyerahkan tanah perkebunannya kepada penyadap karet, hal itu tidak dilakukan secara tertulis, melainkan hanya secara lisan. Bagi hasil antara penyadap dan pemilik kebun yang mempunyai beberapa pekerjaan antara lain menyadap pohon karet dan membersihkan kebun. Setahu saya, dalam bagi hasil (Musaqah), bagi hasil yang berlaku adalah bagi hasil Musaqah, biasanya setiap penyadap kebun mendapat pekerjaan yang dikerjakan oleh penyadap yang berbeda-beda tergantung individu pemilik kebun, seperti saya, penyadap hanya menyadap bagiannya saja. kebun untuk biaya pembekuan nira dibebankan oleh lancip jika untuk membersihkan tanah saya memberinya obat (racun rumput) yang melakukan pembersihan lancip sendiri.67.

Dengan demikian, dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa perjanjian bagi hasil antara penyadap dan pemilik kebun di Desa Pagar Jati Kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah memperbolehkan dua jenis pekerjaan yang dilakukan oleh penyadap kebun, yaitu yaitu menyadap perkebunan karet. pohon untuk mencapai hasil, yang kedua adalah beban kerja yang dibebankan kepada pemilik perkebunan yaitu membersihkan lahan perkebunan pada saat akad al-Musaqah dilaksanakan. Perjanjian kerjasama antara penyadap dan pemilik dalam pembagian keuntungan di desa Padang Jati sesuai konsep Al-musaqah. Menurut para ulama, pembagian keuntungan bisa baik jika memenuhi rukun dan syarat serta tidak ada konflik dalam perjanjian.

Rukun bagi hasil adalah adanya pemilik dan penggarap, adanya objek (kebun) akad Qabul (Shigat). Dalam pembagian keuntungan antara pengrajin kran dengan pemilik kebun di Desa Pagar Jati jika dilihat dari segi akad sudah memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam syarat rukun dan akad, ijab kabul antara kedua belah pihak dilakukan secara lisan, dimana akad lisan ini mengikuti aturan atau adat istiadat yang berlaku pada masyarakat di Desa Pagar Jati, penulis tidak menemukan adanya hadis atau Al-Quran yang melarang akad lisan dalam al-musaqah, dimana aturan tersebut ditentukan oleh pemilik akad lisan. taman bagian dalam. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan bagi hasil perkebunan karet di Desa Padang Jati adalah sebagai berikut.

Dengan pembagian hasil akad ini maka memenuhi rukun dan ijab kabul antara kedua belah pihak dilakukan secara lisan, dimana akad lisan ini mengikuti peraturan atau adat istiadat yang sah dan disetujui dalam masyarakat di Desa Pagar Jati. oleh masing-masing pihak. Dan cara pendistribusian lateks karet tersebut sesuai dengan kesepakatan antara pemilik kebun dan penyadap.Menurut mereka, perjanjian bagi hasil kebun karet dilakukan secara lisan, lebih mudah dan memakan waktu lebih sedikit dibandingkan dengan sistem perjanjian tertulis. Ratih Apriliana Dewi, “Tinjauan Hukum Islam Mengenai Bagi Hasil Antara Pemilik dan Petani Kebun Kopi (Studi di Desa Bedeng 9 Desaogan Lima Lampung Utara) Fakultas Syariah (UIN) Raden Intan Lampung.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menentukan kondisi perkerasan pada ruas Jalan tambak osowilangon mulai dari STA 0+000 – 2+000 (sepanjang 2km) dilakukan dengan survei untuk mendapatkan