AKRUAL 7 (2) (2016): 120-139 e-ISSN: 2502-6380
AKRUAL
Jurnal Akuntansi
http://journal.unesa.ac.id/php.index/aj
120 POTENSI KELURAHAN SEI MEMPURA KABUPATEN SIAK SEBAGAI
KAWASAN EKOWISATA
Dwika Lodia Putri
Dosen Akuntansi Universitas Lancang Kuning [email protected]
Jeni Wardi
Dosen Akuntansi Universitas Lancang Kuning [email protected]
Reni Farwitawati
Dosen Akuntansi Universitas Lancang Kuning [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisir potensi ekowisata yang dapat dikembangkan di kawasan Mempura, melakukan kajian pola pemanfaatan lahan di kawasan Mempura yang dapat mendukung percepatan ekowisata dan merumuskan konsep kebijakan dan peran institusi dalam pengelolaan kawasan Mempura dalam mendukung percepatan ekowisata. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survei, wawancara dan kuesioner. Sebelum penelitian dilakukan prasurvei untuk menentukan lokasi ODTW (Objek dan Daya Tarik Wisata) di Kelurahan Sei Mempura yang berada di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Penentuan lokasi ODTW mengacu pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Siak. Hasil penentuan lokasi ODTW dilakukan secara purposive sampling. Hasil Penelitian ini adalah Potensi Kawasan wisata Sei Mempura selain ekowisata yang potensial dikembangkan juga cukup banyak jumlahnya, antara lain yang berkaitan dengan budaya, sejarah dan taman kota buatan serta agrowisata. Perkembangan kepariwisataan di Sei Mempura Kabupaten Siak umumnya belum mendapat sentuhan yang optimal sesuai kaedah-kaedah kepariwisataan.
Faktor berpengaruh yang menghambat pertumbuhan dan pengembangan kapariwisataan di Sei Mempura Kabupaten Siak antara lain: keterbatasan mutu SDM, masyarakat dan Pemerintah, rendahnya kepedulian para investor swasta, rendahnya kunjungan wisatawan ke Siak, Aksesbilitas, Fasilitas kepariwisataan, serta keterbatasan informasi
Kata kunci: Desa Mempura Siak, Ekowisata, OTDW.
Pendahuluan
Indonesia yang dikenal dengan negara kepulauan memiliki lebih dari 18.000 pulau, memiliki luasan hutan lebih dari 100 juta hektar dan memiliki lebih dari 500 etnik budaya, selain itu Indonesia dikenal sebagai negara mega biodiversity. Dengan segala potensi sumberdaya dan kekayaan alam yang dimiliki tersebut menjadi pendukung dalam pengembangan pariwisata.
Ekowisata secara konseptual merupakan konsep pengembangan dan penyelenggaraan kegiatan pariwisata berbasis pemanfaatan lingkungan untuk perlindungan serta berintikan partisipasi aktif masyarakat dan dengan penyajian produk
121 bermuatan pendidikan dan pembelajaran, berdampak negatif minimum terhadap lingkungan, memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan daerah dan diberlakukan pada kawasan lindung, kawasan terbuka, kawasan binaan serta kawasan budaya (Sekartjakrarini. 2004 : 24). Dalam konteks pengelolaan, ekowisata merupakan penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami, yang secara ekonomi berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat, serta mendukung upaya pelestarian lingkungan alam dan budaya. Ekowisata berbeda dengan wisata massal (mass tourism), tetapi model pengembangan ekowisata diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal serta keberlanjutan kualitas lingkungan.
Mempura, adalah salah satu kawasan wisata yang berada di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kawasan Mempura sendiri sedang dicanangkan menjadi kawasan ekowisata yaitu kawasan wisata berbasis ekologi yang termasuk di dalamnya memiliki unsur alam itu sendiri dan kehidupan masyarakat sekitar baik sosial, budaya, dan sejarah yang dimilikinya. Keseluruhan faktor ini mendukung sepenuhnya tema ekowisata itu sendiri. Mempura sebagai suatu kawasan merupakan paket lengkap dari sebuah wisata ekologi.
Mempura memiliki potensi alam yang bagus. Selain berada di daerah aliran sungai Siak dan sungai Mempura, Mempura memiliki lingkungan yang masih asri. Kawasan agrowisatanya pun cukup berkembang dengan komoditas andalannya berupa durian.
Selain itu perkebunan karet berkembang di sini. Mempura sendiri memiliki latar belakang sejarah yang sangat penting. Mempura merupakan daerah yang pernah menjadi pusat kerajaan melayu besar yaitu Kerajaan siak. Peninggalan sejarah dari kerajaan ini masih nampak dengan adanya makam-makam Sultan yang pernah memerintah di Kerajaan Siak.
Selain itu, di seberang Mempura , di kota Siak, ada bekas istana Raja Siak dan masih terawat hingga kini. Mempura juga memiliki bangunan bekas peninggalan Belanda yang menunjukkan pernah adanya pendudukan Belanda di Wilayah ini.
Obyek wisata yang dapat dikunjungi di daerah Mempura dan sekitarnya adalah kawasan Sei Mempura, Tangsi belanda di desa Benteng Ulu, Kawasan agrowisata di desa Kampung Tengah, Kawasan agrowisata Sei Mempura, dan Wisata Sungai Mempura dan Sungai Siak. Kawasan Mempura yang dekat dengan kota Siak Sri Indrapura menjadikan letaknya dekat dengan objek wisata lain yaitu Jembatan Siak, Istana Siak, dan balai Kerapatan Tinggi. Salah satu objek wisata yang dapat dinikmati selain daerah Mempura dan masih berada di wilayah Kabupaten Siak yaitu Danau Zamrud. Danau ini masih
122 penuh dengan bumbu cerita mistis namun layak untuk dikunjungi. Danau ini memiliki ciri dengan warna air yang coklat kehitaman dan apabila melakukan kegiatan berenang cukup sulit karena air terasa berat . Di danau ini, kita dapat menyewa pompong (perahu) dengan harga Rp.200.000,-.
Untuk mencapai Siak tidaklah sulit, dari ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru, hanya memakan waktu dua jam. Mempura berjarak hanya lima menit dari pusat kota. Dari Mempura sendiri ke sebagian besar objek wisata yang ada tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Untuk Danau Zamrud , waktu yang diperlukan mencapainya yaitu dua jam.
Tinjauan Pustaka Pariwisata dan Wisata
Pariwisata diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi, pelancongan dan turisme. Suwantoro (2003:42) menyatakan pada hakikatnya pariwisata merupakan suatu proses bepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya dengan tujuan mencari sesuatu yang baru yang tidak ada di tempat asalnya.
Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan mendefinisikan wisata sebagai kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Sedangkan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Fandeli (2002:45) menyatakan bahwa pariwisata minat khusus dapat terfokus kepada :
Aspek budaya: Wisata terfokus perhatiannya pada tarian, musik, seni , kerajinan, arsitektur, pola tradisi masyarakat, aktivitas ekonomi yang spesifik, arkeologi dan sejarah.
Aspek alam: Wisatawan dapat terfokus perhatiannya pada flora, fauna, geologi, taman nasional, hutan, sungai, danau , pantai, laut serta perilaku ekosistem tertentu.
Ekowisata
Defenisi ekowisata yang digunakan untuk standar internasional adalah seperti dipakai NEAP, serta EAA, yaitu: Ecologically sustainable tourism with a primacy focus on
123 experience natural areas that foster enviromental and cultural understanding, appreciation and conservation (pariwisata yang berkelanjutan secara ekologis dengan fokus utama pada pengalaman pada daerah alami yang membantu meningkatkan pemahaman, apresiasi serta konservasi terhadap lingkungan serta budaya). (Crabtree et al., 2002:4 dalam Raka Dalem, 2006)
Sementara itu menurut versi Indonesia yaitu, hasil Lokakarya dalam Pelatihan Ekowisata Nasional di Bali 25-26 Agustus 2006, ekowisata didefinisikan sebagai penyelenggara kegiatan wisata yang bertanggungjawab di tempat-tempat alami dan/atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaedah alam, yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan kesejahteraan setempat (Anonim, 1996 dalam Raka Dalem, 2006).
Fandeli (2002:60) menjelaskan ekowisata sebagai suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan lingkungan, akonomi, dan sosial. Pada hakikatnya juga merupakan suatu konsep pengembangan wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian areal, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat.
Menurut Yoeti (2008) berbeda dengan wisata konvensional, ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumberdaya pariwisata. Dari definisi ini ekowisata dipandang dari tiga perspektif yaitu:
1. Ekowisata sebagai produk yang merupakan semua atraksi yang berbasis pada sumberdaya alam.
2. Ekowisata sebagai pasar yang merupakan perjalanan yang diarahkan pada upaya- upaya pelestarian lingkungan.
3. Ekowisata sebagai pendekatan pengembangan yang merupakan metode pemanfaatan dan pengelolaan sumerdaya pariwisata secara ramah lingkungan.
Pengembangan Ekowisata
Denman (2001:2) menyebutkan syarat-syarat untuk menetapkan pengembangan bisnis ekowisata sebagai berikut :
1. Kerangka ekonomi dan politik yang mendukung perdagangan yang efektif dan investasi yang aman.
2. Perundang-undangan di tingkat nasional yang tidak menghalangi pendapatan wisata diperoleh dan berada di tingkat komunitas lokal.
3. Tercukupinya hak-hak kepemilikan yang ada dalam komunitas lokal 4. Keamanan pengunjung terjamin
124 5. Resiko kesehatan yang reltif rendah, akses yang cukup mudah terhadap pelayanan
medis dan persediaan air bersih yang cukup.
6. Tersedianya fasilitas fisik dan telekomunikasi dari dan ke wilayah tersebut.
Dalam pengembangannya, terutama pada tahapan perencanaan dan programing, perlu dilakukan upaya pembekalan dan pemberdayaan baik pada pihak-pihak yang ingin mengembangkan ekowisata dan masyarakat setempat. Selanjutnya pola pengembangannya berbeda dari satu tempat atau daerah yang lain. Hal ini disebabkan status dan kondisi masing-masing daerah berbeda-beda satu sama lain.
Partisipasi Masyarakat Lokal
Masyarakat sebagai salah satu unsur penting dibutuhkan keterlibatannya secara langsung dalam penataan kawasan wisata. Proses keterlibatan masyarakat tergantung dari potensi dan kemampuan yang ada. Suwantoro (2003:55) menyatakan, masyarakat di sekitar objek dan daya tarik wisata berperan penting tidak hanya dalam proses pelaksanaan wisata secara langsung tetapi juga dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut nantinya. Peran masyarakat dibutuhkan dalam memberikan layanan yang berkualitas bagi wisatawan dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar agar wisata dapat terus berjalan, oleh karena itu penting untuk menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang sadar wisata.
Masyarakat sadar wisata adalah masyarakat yang mengetahui dan menyadari apa yang dikerjakan dan juga masalah-masalah yang dihadapi untuk membangun dunia pariwisata nasional. Dengan adanya kesadaran ini maka akan berkembang pemahaman dan pengertian yang proporsional di antara berbagai pihak yang pada gilirannya akan mendorong masyarakat untuk mau berperan serta dalam pembangunan (Suwantoro.2003:60).
Beberapa kriteria dalam kegiatan perlibatan masyarakat adalah :
1. Melibatkan masyarakat setempat dan pihak-pihak terkait lain dalam proses perencanaan dan pengembangan ekowisata.
2. Membuka kesempatan dan mengoptimalkan peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dan peran aktif dalam kegiatan ekowisata.
3. Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dampak negatif yang ditimbulkan.
4. Meningkatkan keterampilan masyarakat setempat dalam bidang-bidang yang menunjang pengembangan wisata.
5. Mengutamakan peningkatan ekonomi lokal dan menekan tingkat kebocoran pendapatan (leakage) serendah-rendahnya.
125 6. Meningkatkan pendapatan masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam pariwisata memacu perkembangan pariwisata ke arah yang lebih baik. Partisipasi tersebut dapat berupa keikutsertaan secara sosial budaya dan ekonomi. Keikutsertaan secara sosial budaya tidak hanya menjadi atraksi wisata, akan tetapi kesediaan masyarakat dalam menerima kegiatan wisata yang akan menyatu dalam kehidupannya. Keikutsertaan secara ekonomi ialah keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan perekonomian, baik yang terkait langsung dengan wisata maupun yang tidak terkait secara langsung dengan wisata. Kegiatan perekonomian wisata menopang perekonomian kawasan wisata dan memiliki posisi penting dalam wisata, sedangkan kegiatan perekonomian non wisata merupakan kegiatan pendukung perekonomian di kawasan wisata.
Potensi
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:345), potensi Pariwisata dapat didefinisikan sebagai daya tarik, keunikan, kekuatan dan kesanggupan yang dimiliki oleh suatu obyek yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan sesuatu yang menjadi aktual atau nyata. Atau dengan perkataan lain potensi pariwisata adalah segala sesuatu yang dimiliki saerah tujuan wisata yang berguna untuk pengembangan industri pariwisata di daerah tersebut.
Menurut Soekadijo (1996:57), potensi pariwisata yang merupakan suatu modal nantinya menjadi daya tarik dan dikembangkan menjadi atraksi wisata ada tiga macam, yaitu: potensi alam, potensi kebudayaan, dan potensi manusia.
Adapun jenis atraksi tersebut adalah:
1. Potensi Alam
Potensi alam yang dimaksud adalah alam fisik (gua, sungai, danau, topografi yang menantang, dan pemandangan), fauna, dan floranya. Meskipun sebagai atraksi wisata ketiga-tiganya selalu bersama-sama dengan potensi kebudayaan dan manusia, akan tetapi tentu ada salah satu yang menonjol.
2. Potensi Kebudayaan
Potensi kebudayaan disini adalah kebudayaan dalam arti luas, tidak hanya meliputi kebudayaan tinggi, tetapi juga meliputi adat istidat dan segala kebiasaan yang hidup di tengah-tengah suatu masyarakat.
3. Potensi Manusia
Bahwa manusia dapat menjadi atraksi wisata yang menarik kedatangan wisatawan seperti akrobatik dan atraksi loncat batu di Nias.
126 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survei, wawancara dan kuesioner. Sebelum penelitian dilakukan prasurvei untuk menentukan lokasi ODTW (Objek dan Daya Tarik Wisata) di Kelurahan Sei Mempura yang berada di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Penentuan lokasi ODTW mengacu pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Siak. Hasil penentuan lokasi ODTW dilakukan secara purposive sampling.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data didapat dari studi lapangan dan studi pustaka, pengamatan langsung dan wawancaea dengan pihak terkait serta kuesioner.
1. Studi pustaka/literatur
Studi pustaka merupakan kegiatan pengumpulan data penunjang berupa karya ilmiah, pelaporan, peraturan perundang-undangan dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan penelitian. Studi literatur dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai objek dan daya tarik wisata yang ada di wilayah Sei Mempura yang kemudian diverifikasi di lapangan.
2. Pengamatan lapangan
Pengamatan langsung di lapangan merupakan metode pengumpulan data biofisik (ekologis), sosial ekonomi dan budaya. Selain mengumpulkan data tersebut juga dilakukan pengambilan titik-titik koordinat pada masing-masing objek dan daya tarik wisata dengan menggunakan GPS.
3. Wawancara dan kuesioner
Penyebaran kuesioner dan wawancara adalah cara untuk mengumpulkan data pokok di lapangan yang bertujuan untuk memperoleh informasi lebih lanjut dalam penyusunan strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat . Kuesioner untuk mengetahui karakteristik masyarakat, persepsi masyarakat, partisipasi serta keinginan masyarakat.
Sedangkan wawancara dilakukan terhadap pengelola objek dan daya tarik wisata serta untuk melengkapi data kondisi objek dan daya tarik wisata.
4. Analisis spasial
Analisis spasial dilakukan dengan model builder untuk mendapatkan ODTW dan partisipasi masyarakat dengan skor tertinggi, selain itu untuk mendapatkan strategi percepatan ekowisata di Sei Mempura dari analisis SWOT . Penentuan percepatan ekowisata dilakukan dengan membangun model overlay dengan pembobotan. Pada
127 model builder, telah disiapkan fungsi overlay aritmatik dan dilakukan overlay dengan pembobotan.
Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dioleh dengan cara tabulasi data dan kemudian dianalisis sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian. Analisis data meliputi:
Biofisik (Objek dan Daya Tarik Wisata)
Data mengenai objek dan daya tarik wisata (ODTW) diolah dengan menggunakan Pedoman Penilaian Daya Tarik Wisata. Data mengenai daya tarik wisata akan dihitung dengan menggunakan persamaan (Romani.2006):
Dimana : S = skor/nilai
N = jumlah nilai unsur-unsur pada kriteria B = Bobot nilai
Klasifikasi penilaian disusun berdasarkan jumlah total dari penilaian ODTW.
Selang dari klasifikasi penilaian akan dihitung dengan menggunakan persamaan (Oktadiyani.2006):
Dimana : Selang : Nilai selang dalam penetapan selang klasifikasi penilaian Smaks : Nilai skor tertinggi
Smin : Nilai skor terendah
K : Banyaknya klasifikasi penilaian
Analisis Spasial
Analisis spasial akhir dilakukan dengan model builder dengan mengoverlay (tumpangsusun) semua penilaian yaitu penilaian ODTW, kesiapan pengembangan CBE dan kesiapan masyarakat dalam pengembangan/percepatan ekowisata. Analisis tersebut digunakan untuk analisis SWOT dalam rangka mendapatkan strategi prioritas dalam pengembangan/percepatan Sei Mempura sebagai ekowisata di kabupaten Siak. Tahapan analisis spasial untuk mendapatkan hasil penilaian objek dan daya tarik wisata dan
S = N x B
S maks – S min Selang = K
128 kesiapan pengembangan CBE serta kesiapan masyarakat dalam pengembangan/
percepatan ekowisata.
Strategi Pengembangan
Penentuan strategi prioritas dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat menggunakan pendekatan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity dan threat) berdaarkan faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi. Dari hasil pemaduan analisis kedua faktor tersebut diperoleh gabungan strategi terbaik bagi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di wisata sei Mempura.
Pembahasan
Pengembangan Ekowisata Sei Mempura Kabupaten Siak
Lebih setengah luas wilayah Kabupaten Siak merupakan lahan gambut. Jenis tanah di wilayah Kabupaten Siak menunjukkan jenis tanah organosol dan humus. Jenis tersebut dapat ditemukan di seluruh wilayah kecamatan dan sebagian berupa jenis tanah podsolik merah kuning terdapat di Kecamatan Siak.
Potensi sumberdaya alam Kabupaten Siak di Sei Mempura dijadikan objek ekowisata dan potensial tidaknya dikembangkan harus ditentukan secara komprehensif dan holistic oleh suatu tim terpadu dengan menggunakan metoda pendekatan yang multi- interdisipliner, lintas sektoral. Amat disayangkan, jika penanaman modal atau yang ingin mengkomersialkan suatu objek wisata alam, hanya memakai keindahan panorama sebagai satu-satunya kriterium untuk menentukan prospektif tidaknya pengembangan dan pemasarannya. Berhasil tidaknya suatu keindahan alam dijadikan sebagai objek wisata dan dikomersialkan, membutuhkan banyak sekali persyaratan. Termasuk perijinan dan kesiapan penduduk untuk melibatkan diri secara positif dan kreatif dalam usaha kepariwisataan.
Analisis Potensi Objek Ekowisata
Data dan informasi yang diperoleh tentang setiap objek wisata yang potensial, dan berdasarkan pemikiran untuk mengelolanya secara kawasan, dilakukanlah analisis SWOT sebagai berikut:
Objek Ekowisata Kawasan wisata Istana Assyiriah Hasyimlah Sultan Siak
Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura terletak di Kota Siak Sri Indrapura dan merupakan tempat tinggal Sultan Syarif Kassim II. Istana Kerajaan Siak bernama Astanah Asserayah Hasyimiyah merupakan bangunan bergaya arsitektur kombinasi Eropah, Arab, dan India yang hingga saat ini masih terawat dengan baik. Daya tarik obyek wisata Istana Kerajaan
129 Siak adalah berbagai benda peninggalan sejarah yang dimiliki oleh dinasti 12 raja Siak sejak dua abad yang lalu. Kawasan desa Sei Mempura sudah dikembangkan Pemkab Siak sejak beberapa tahun lalu. Desa Sei Mempura pernah menjadi pusat Kerajaan Siak di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Djalil Muzaffar Syah. Sultan Siak ke-2 itu memerintah tahun 1746-1765. Beliau juga dimakamkan di Mempura, sehingga diberi gelar Marhum Mempura.
Gambar: Istana Siak
130 Tabel .1. Analisa SWOT Objek Ekowisata Kawasan wisata Istana Assyiriah
Hasyimlah Sultan Siak
Internal
Eksternal
Kekuatan /S Kelemahan/ W
Kawasan ekowisata ini dekat dengan ibukota Kabupaten Siak/ 5 menit dengan kondisi jalan sangat bagus dan dicapai dengan mobil.
Ada terdapat kisah menarik tentang sejarah istana Siak.
Belum tersedia sarana bagi wisatawan, tidak tersedianya
pendopo/joglo untuk duduk dan bernaung.
Belum tersedia fasilitas untuk bermain bagi anak-anak dan fasilitas lainnya,seperti, rumah makan, di beberapa tempat strategi pada sebagian besar objek wisata pada kawasan ini
Terkesan panas jika terik dan akan basah kuyup jika hujan dating
Masyarakat belum sepenuhnya siap mendukung kepariwisata-an.
Peluang /O Strategi S / O Strategi W/O
Berpeluang untuk dikembangkan
Objek wisata yang baik bagi keluarga, dan para pelajar baik lokal maupun luar daerah.
Berpeluang menjadi rangkaian kunjungan wisata Sei Mempura Kab. Siak
Menyebar luaskan informasi tentang keunikan serta keindahan alam di kawasan Sei Mempura tersebut kepada masyarakat luas, termasuk para pelajar di wilayah Sei Mempura dan di luar Sei Mempura.
Mendukung dan mendorong para jurnalis melakukan pemberitaan mengenai kawasan tersebut.
Melakukan upaya investasi baik dari swasta maupun pemerintah guna peningkatan sarana dan prasarana wisata.
Sarana bermain untuk anak-anak sangat penting untuk di kembangkan.
Peningkatan intensitas penyadaran masyarakat bahwa kegiatan wisata memberikan kebaikan baik interaksi pola pikir dan ekonomi.
Tantangan / T Strategi S / T Strategi W / T
Sei Mempura sebagai daerah kunjungan wisata untuk menikmati istana Assyiriah Hasyimlah Sultan Siak yang lebih baik dan popularitas yang lebih baik.
Pembinaan SDM parawisata.
Paket kunjungan wisata perlu di upayakan dengan kerja yang kuat dengan lembaga pemasaran wisata.
Ketersediaan dan penyebaran brosur dan leaflet yang menarik.
Kerjasama antar kepariwisataan Sei Mempura dan kepariwisataan Kabupaten Siak.
Meningkatkan fasilitas wisata dengan standart baik.
Sumber: Hasil Penelitian 2014
131 Objek Ekowisata Kawasan Balai Kerapatan Tinggi dan Mesjid Raya
Gedung Balai Kerapatan Tinggi (Balai Rung Sri) dengan arsitek khas yaitu dua arah pintu masuk yaitu dari sungai dan dari darat (jalan raya). Gedung ini dibangun pada tahun 1886 dan dipergunakan untuk sidang perkara dan juga berfungsi sebagai tempat pertabalan Sultan. Gedung ini memiliki tiga tangga untuk naik ke lantai atas (lantai 2), dimana sidang selalu dilaksanakan.
Balai Kerapatan merupakan bangunan kuno yang cukup antik, berjarak 150 meter dari Istana Siak. Bangunan ini dulunya digunakan oleh raja sebagai tempat persidangan pelaku kejahatan. Sekitar 100 meter dari bangunan ini terdapat masjid megah yang sebelumnya digunakan raja untuk melaksanakan sholat jum’at. Sekitar masjid ini terdapat Makam Raja-Raja Siak.
Tabel 2. Analisa SWOT Objek wisata kawasatan Balai Kerapatan Tinggi dan Mesjid Raya
Internal
Eksternal
Kekuatan /S
Menawarkan budaya rukun antar umat beragama.
Ada terdapat kisah menarik tentang sejarah Balai Kerapatan Siak yang merupakan eks Kesultanan dengan etnik Melayu yang identik dengan nuansa Islami.
.
Kelemahan/ W
Belum tersedia sarana bagi wisatawan, tidak tersedianya
pendopo/joglo untuk duduk dan bernaung.
Gerakan untuk menggalakkan kunjungan wisata ke kawasan ini terasa masih kurang.
Potensi kepariwisataan belum tersentuh dengan sempurna sebagaimana layaknya objek wisata maju.
Belum tersedia tempat istirahat untuk sekedar minum sambil
menikmati daya tarik di beberapa objek
ekowisata di kawasan ini.
Peluang /O Strategi S / O Strategi W/O
Menjadi kunjungan objek ekowisata bagi pelajar/siswa.
Menjadi objek wisata bagi masyarakat umum dengan muatan religius..
Menjadi pemikat wisatawan datang ke Sei Mempura.
Mewujudkan konservasi Balai Kerapatan dan Mesjid Raya disertai fasilitas wisata lainnya yang dapat menjadi maskot di kawasan ini.
Meningkatkan penyebarluasan informasi keindahan dan keunikan objek-objek wisata di kawasan ini baik melalui mass media maupun melalui perantara
Melakukan pendekatan dengan para masyarakat dan swasta melalui seminar, pertemuan sarasehan lainnya dengan fokus perbincangan mengenai potensi kepariwisataan di Sei Mempura.
Himbauan kepada semua penganut agama untuk
132
jurnalis pariwisata. melakukan kegiatan secara berkala dengan melibatkan umatnya dari luar daerah.
Meningkatkan kualitas pelayanan dan informasi kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini.
Tantangan / T Strategi S / T Strategi W / T
Objek wisata di Sei Mempura telah memberi kepuasan bagi wisatawan/
pelancong dengan jarak tempuh yang lebih dekat dari Pekanbaru.
Rendahnya dukungan masyarakat dan swasta.
Menawarkan produk dengan kemasan wisata dan menggalang kerjasama yang baik dengan lembaga kepariwisatawan di Sei Mempura dan Propinsi.
Melakukan pembinaan kepada masyarakat dan swasta.
Melakukan peningkatan fasilitas kepariwisataan disemua objek wisata di kawasan ini.
Peningkatan fasilitas sarana perhubungan dab telekomunikasi.
Meningkatkan jalinan kerja-sama dengan
semua lembaga
kepariwisataan.
Sumber: Hasil Penelitian 2014
Objek Ekowisata Kapal Kato
Kapal Kato Kesultanan Siak meruapakan sebuah kapal besi dengan bahan bakar batu bara yang dimiliki oleh Sultan Siak. Kapal ini selalu dinaikinya pada saat-saat berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya, atau saat Sultan Siak melakukan kunjungan kerja ke daerah bawahannya, atau pun juga sekedar untuk berpesiar. Kapal kato ini memiliki bobot 15 ton terbuat dari besi berlapis tembaga, panjangnya 12 meter. Monumen Kapal Kato ini terletak di pinggir sungai Siak merupakan sosok monumen bersejarah yang dapat dikenang untuk generasi mendatang. Hampir 52 tahun tenggelam di perairan Sungai Siak, sejak 29 Desember 1993 telah diangkat ke darat dapat disaksikan di depan Istana Siak.
Tabel .3. Analisa SWOT Objek Ekowisata Kapal Kato
Internal
Eksternal
Kekuatan /S
Wisatawan dapat menikmati pesona Kapal Kato .
Ada terdapat kisah menarik tentang sejarah Kapal Kato.
Kelemahan/ W
Objek wisata yang berada pada kawasan ini belum memperoleh sentuhan sebagaimana kaidah-kaidah wisata.
Belum diidentifikasi dan dipromosikan oleh instansi kepara wisataan kepada masyarakat luas.
Fasilitas layaknya mendukung kepariwisata sangat kurang memadai.
Peluang /O Strategi S / O Strategi W/O
Merupakan kawasan objek wisata yang dapat dirangkai dengan kawasan objek wisata lainnya baik di Sei Mempura maupun
Perlu pembinaan menuju masyarakat yang mendukung kepariwisataan.
Menggali lebih dalam tentang objek wisata dan menyusun
Perbaikan dasilitas saran perhubungan menuju objek wisata dan penyediaan transportasi angkutan umum.
133
Kabupaten lainnya.
Merupakan kawasan yang cocok bagi wisatwan yang menyenangi Kapal Kato.
informasi yang akurasi tinggi serta kemasan yang menarik.
Penyediaan sarana fasilitas kepariwisataan.
Identifikasi dan pengembangan objek ekowisata lebih di tingkatkan.
Tantangan / T Strategi S / T Strategi W / T
Wisatawan yang
menyenagi sejarah masih sangat rendah peminatnya.
Objek wisata yang hampir sama dengan Istana Siak yang lebih dahulu dikenal wisatawan.
Pembinaan masyarakat sedini mungkin terhadap kesadaran menjaga kelestarian Kapal Kato.
Melakukan jalinan kerjasama yang kuat dengan lembaga pemasaran kepariwisataan baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten lainnya.
Mendorong para siswa/siswi untuk melakukan kunjungan wisata sekaligus peningkatan pemahaman sejarah perjuangan.
Meningkatkan perhatian masyarakat, swasta, pemerintah tentang kepariwisataan.
Menjalin hubungan yang lebih erat dengan instansi kebudayaan serta instansi sarana dan prasarana wilayah.
Meningkatkan upaya penyediaan fasilitas kepariwisataan.
Menjalin kerjasama yang erat dengan masyarakat dan swasta serta ilmuan di bidang wisata.
Sumber: Hasil penelitian 2014
Objek Ekowisata Jembatan Siak
Jembatan ini akan anda lewati saat memasuki Kota Siak. Jembatan yang namanya diambil dari nama istri Raja Siak Sultan Syarif Hashim ini memang relatif baru namun sudah menjadi primadona di Siak . Bagaimana tidak, jembatan sepanjang 1,2 km memang memiliki daya tarik tersendiri sebagai tempat wisata, diantaranya adalah jalannya yang lebar (4 jalur) designnya yang didominasi warna kuning dengan jalan pedastrian di samping kiri kanannya. Selain itu terdapat dua menara setinggi masing-masing 80 meter yang dilengkapi dengan dua buah lift untuk menuju puncak menara.
Tabel. 4. Analisa SWOT Objek Ekowisata Jembatan Siak
Internal
Eksternal
Kekuatan /S
Kawasan ekowisata ini dekat dengan Kota Pekanbaru dengan jarak tempuh 2 jam, kondisi jalan sangat bagus dan dicapai dengan mobil.
Wisatawan dapat menikmati jalan yang lebar designnya yang didominasi warna kuning dengan jalan pedastrian di samping kiri kanannya.
Kelemahan/ W
Sentuhan kepariwisataan belum terlihat di hampir semua objek wisata di kawasan ini.
Fasilitas pendukung kepariwisataan sangat kurang memadai, seperti restauran.
Masyarakat belum sepenuhnya siap mendukung kepariwisataan.
134
Peluang /O Strategi S / O Strategi W/O
Berpeluang untuk diarahkan kepada kawasan agrowisata buah durian.
Kawasan ekowisata ini berada pada lintasan ke Pekanbaru, sehingga berpeluang untuk mendatangkan wisatawan dari Pekanbaru.
Berpeluang untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah.
Perlu promosi lebih luas tentang keunggulan komoditi pertanian yang sangat spesifik dari wialayah ini seperti durian.
Aksesbilitas perlu
ditingkatkan baik jalan utama maupun jalan menuju setiap objek wisata.
Menjalin hubungan erat dengan instansi
kepurbakalaan.
Pembinaan masyarakat menuju pemilikan kesadaran tinggi terhadap alam dan sejarah.
Hubungan yang lebih baik dengan instansi sarana dan prasaran wilayah, kepariwisataan dan swasta/pemodal.
Diperlukan sentuhan kepariwisataan yang intensif sesuai dengan kaidah-kaidah konsep ekowisata.
Tantangan / T Strategi S / T Strategi W / T
Wisatawan dengan minat seperti daya tarik yang dimiliki pada saat ini masih sangat rendah.
Meningkatkan sinergi antar beberapa instansi pemerintah yang berkepentingan dengan kepariwisataan.
Meningkatkan pemehaman masyarakat tentang kelebihan daerahnya dan upaya
melestarikannya.
Perlu dilakukan
kerjasama yang baik dari semua pihak yang berkepentingan dengan wisata untuk
merencanakan pengembangan dan pemasaran lokasi wisata di kawasan ini.
Sumber: Hasil Penelitian 2014
Objek Wisata Pengelaran Seni
Pengembangan ekowisata di Kabupaten Siak merupakan bagian dari apa yang sudah tertuang dalam visi misi Kabupaten Siak. Oleh karenanya diharapkan seluruh steakholder terkait memberikan komitmennya untuk bersama-sama mengembangkan wisata Siak.
Kedepan diinginkan kunjungan wisata akan memberiak stimulasi bagi pengembangan pariwisata Siak yang tentunya dapat memberikan tambahan pendapatan pula bagi masyarakat Kabupaten Siak.
Keberadaan budaya sebagai aset bangsa, tidak lepas dari sejarah yang lurus dan benar, merupakan peninggalan gagasan masa lampau, antara lain yaitu budaya yang bersumber di Kerajaan-kerajaan se Nusantara yang kemudian dikenal dan dibakukan sebagai Keraton yang diayomi oleh pemimpin komunitas Keraton dengan sebutan Raja, Sultan, Penembahan, Pangeran Ratu, Datuk, Kedatuan, Sultan, Saoraja, Penglingsir Puri, Pemangku adat bekas Kerajaan yang telah hilang fisik bangunannya.
135 Tabel 5. Analisa SWOT Objek Ekowisata Pergelaran Seni
Internal
Eksternal
Kekuatan /S
Pergelaran seni menjadi ikon pariwisata daerah seperti: tari zapin, seni syair, teater lawak dan sebagainya.
Pergelaran seni berdampak positif bagi kemajuan dan kesejahteraan daerah.
Kelemahan/ W
Sentuhan kepariwisataan belum terlihat di hampir semua objek wisata di kawasan ini.
Fasilitas pendukung kepariwisataan sangat kurang memadai, seperti: kebudayaan seni dan sejarah melayu.
Masyarakat belum sepenuhnya siap mendukung kepariwisataan.
Peluang /O Strategi S / O Strategi W/O
Berpeluang untuk diarahkan kepada kawasan agrowisata.
Berpeluang meningkatkan kebudayaan dalam pergelaran seni.
Berpeluang untuk dikembangkan sebagai objek wisata
kebudayaan .
Mewujudkan kebudayaan pergelaran seni sebagai maskot di kawasan ini.
Meningkatkan
penyebarluasan informasi keindahan dan keunikan kebudayaan seni di kawasan Sei Mempura ini baik melalui mass media maupun perantara jurnalis pariwisata.
Pembinaan masyarakat menuju pemilikan kesadaran tinggi terhadap kebudayaan seni..
Diperlukan sentuhan kepariwisataan yang intensif sesuai dengan kaidah-kaidah konsep ekowisata.
Himbauan kepada semua forum cerdik pandai dan tokoh masyarakat bahu membahu menumpahkan pemikiran guna
memajukan daerah, khususnya dibidang seni budaya dan pariwisata
Tantangan / T Strategi S / T Strategi W / T
Wisatawan yang menyenangi budaya seni sangat rendah peminatnya.
Rendahnya dukungan masyarakat dan swasta tentang kebudayaan seni.
Pembinaan masyarakat sedini mungkin terhadap kesadaran pergelaran seni.
Mendorong para siswa/siswi untuk melakukan kunjungan wisata sekaligus peningkatan pemahaman kebudayaan melayu dan sejarah.
Meningkatkan perhatian masyarakat, swasta, pemerintah tentang kebudayaan seni.
Menjalin hubungan yang lebih erat dengan instansi kebudayaan.
Meningkatkan
pendapatan masyarakat sekitarnya.
Sumber: Hasil Penelitin 2014
136 Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisis maka dapat di tarik simpulan bahwa:
1. Potensi Kawasan wisata Sei Mempura selain ekowisata yang potensial dikembangkan juga cukup banyak jumlahnya, antara lain yang berkaitan dengan budaya, sejarah dan taman kota buatan serta agrowisata. Objek dan lokasi kepariwisataan yang potensial sangat menyebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Siak.
2. Perkembangan kepariwisataan di Sei Mempura Kabupaten Siak umumnya belum mendapat sentuhan yang optimal sesuai kaedah-kaedah kepariwisataan, demikian pula dengan kemasan dan pemasarannya. Dalam kaitan pengembangan dan percepatan Sei Mempura Kabupaten Siak sebagai kawasan ekowisata pemerintah setempat sudah melakukan pengembangan kawasan ekowisata yang dilakukan oleh tim binamulia seperti pembangunan jalan dan jembatan sebagai Kelurahan Sei Mempura khususnya kawasan FSE Kabupaten Siak, lalu Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Siak juga telah membangun pengairan dan DAM sungai Mempura untuk kawasan ekowisata.
3. Faktor berpengaruh yang menghambat pertumbuhan dan pengembangan kapariwisataan di Sei Mempura Kabupaten Siak antara lain: keterbatasan mutu SDM, masyarakat dan Pemerintah, rendahnya kepedulian para investor swasta, rendahnya kunjungan wisatawan ke Siak, Aksesbilitas, Fasilitas kepariwisataan, serta keterbatasan informasi.
Saran
Hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh pihak Pemerintah Kabupaten Siak untuk masyarakat dalam jangka waktu pendek adalah:
1. Diadakan pelatihan memandu wisatawan untuk menjadi local guide, pelatihan berbahasa Inggris sebagai media komunikasi, pelatihan kewirausahaan, menggalakkan event-event budaya local dan olahraga yang mendukung kepariwisataan sesuai daya dukung setiap kawasan Sei Mempura yang dikembangkan.
2. Didasarkan kepada analisa SWOT, sangat direkomendasikan pengembangan Pariwisata melalui skala prioritas, sebagai berikut:
► Prioritas I adalah Kawasan wisata Istana Hasyimlah Sultan Siak, dengan alasan belum tersedia sarana pendukung berupa penginapan/hotel, rumah
137 makan dan fasilitas lainnya yang cukup memadai. Disamping itu kawasan ini memiliki daya pikat yang tinggi.
► Prioritas II adalah Kawasan Pariwisata Jembatan Siak, dengan alasan memiliki kedekatan dengan objek wisata Kabupaten Siak.
►Prioritas III, IV dan V adalah Kawasan Pariwisata Balai Kerapatan Tinggi dan Mesjid Raya, Kapal Kato dan Pergelaran Seni.
3. Kegiatan pengembangan kepariwisataan sesuai dengan tahapannya (identifikasi, perencanaan, pengembangan infrastruktur, pengelolaan dan pemasarannya) agar melibatkan masyarakat. Pembinaan berkelanjutan dalam rangka peningkatan mutu SDM kepariwisataan termasuk di dalamnya maupun diluar Sei Mempura Kabupaten Siak, nasional maupun internasional. Serta Menjalin hubungan secara sinergi antar semua lembaga kepariwisataan baik didalam maupun diluar Kabupaten Siak, regional, nasional maupun internasional.
138 Daftar Pustaka
Damanik J, Weber HF. 2006. Perencanaan Ekowisata , Dari Teori ke Aplikasi . Yogyakarta : Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM dan ANDI Press.
Denman R. 2001. Guidelines For Community Based Ecotourism Sevelopment.
UK:WWFInternational.http://www.asset.panda.org/download/guidelinesen [11 Jan 2009].
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 2008. Laporan Akhir Kajian Tindak Lanjut Penilaian Daya Tarik Wisata. Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata, Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Periwisata, Departemen Kebudayaan dan Periwisata dengan Innovative Development for eco Awareness.
Jakarta.
Fandeli C. 2002. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogjakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada.
Fandeli C, Mukhlisin. 2004. Kebijakan Pengembangan Ekowisata: Pengembangan Ekowisata Dengan Paradigma Baru Pengelolaan Areal Konservasi. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta; UKSDA Jogya dan Pustaka Pelajar.
Ife J, Frank T. 2008. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi (Terjemahan) . Edisi ke-3 . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Indonesian Ecotourism Network (INDECON) . 2008, Rancangan Standarisasi Pengembangan Community Based Ecotourism (CBT). Makalah Konvensi Wisata Hasil Kerjasama ECEAT (European Centre for Ecotourism and Agricultural Tourism) dengan INDECON di Nusa Dua Bali 13-16 Maret 2008. “Menciptakan Mata Rantai Penyedia (Supply) Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Asia Selatan dan Asia Timur”.
Jaya, I N.S. 2009. Tehnik-Tehnik Pemodelan Spasial dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Bogor: Laboratorium Inventarisasi Sumberdaya Hutan Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Jaya, I N.S. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Kehutanan. Bogor.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Kamus Bahasa Indonesia, 2008
Oktadiyani P. 2006. Alternatif Strategi Pengelolaan Taman Wisata Alam Kawah Kamojang Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat. (Skripsi). Departemen konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Bogor, Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Qomariah L. 2009. Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat DI Taman Nasional Meru Betiri (Studi Kasus Blok Rajegwesi SPTN I Sarongan). (Skripsi).
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata .Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Romani S. 2006. Penilaian Objek dan Daya Tarik Wisata Alam serta Alternatif Perencanaannya di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi. (Skripsi).
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Sekartjakrarini S. 2004. Ekowisata: Batasan dan Pengertian. Dalam Seri Ekowisata.
Jakarta:IdeA.
Sudiyono. 2008. Ekowisata Desa: Pembangunan yang Berpihak Kepada Masyarakat Desa. Makalah Konvensi Wisata Hasil Kerjasama ECEAT (European Centre for Ecotourism and Agricultural Tourism) dengan INDECON di Nusa Dua Bali 13- 16 Maret 2008. “Menciptakan Mata Rantai Penyedia (Supply) Periwisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Asia Selatan dan Asia Timur”.
Suwantoro G. 2003. Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI
139 [WTO] World Tourism Organization. 2004. Indikators of Sustainable Development for
Tourism Destination. A Guidebook.
Yoeti OA. 2008. Ekonomi Pariwisata: Introduksi, Informasi, Dan Implementasi. Jakarta [ID]: Kompas.