Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif sekaligus mengembangkan KPS siswa. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang membantu siswa belajar memperoleh pengetahuan dengan cara menemukannya sendiri melalui kegiatan terbimbing dari guru (Gulo. Hal ini mendasari perlunya penelitian mengenai penerapan model inkuiri terbimbing pada KPS siswa di kelas. * Materi jamur di SMAN 3 Dusun Selatan.
Kegiatan praktikum dalam kegiatan pembelajaran mengenai materi jamur belum pernah dilakukan sehingga siswa kesulitan dalam memahami konsepnya. Kognisi yang buruk disebabkan oleh siswa yang kurang aktif ketika mengikuti proses pembelajaran.
Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Model pembelajaran inkuiri terbimbing atau praktik inkuiri bermula dari keyakinan bahwa siswa mempunyai kebebasan dalam belajarnya. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan suatu model pembelajaran inkuiri yang mana guru memberikan arahan atau petunjuk yang luas kepada siswa. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing, guru tidak menyerah begitu saja terhadap aktivitas yang dilakukan siswa.
Materi Fungi (Jamur)
Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2009) dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan KPS dan pemahaman konsep siswa pada materi gelombang pada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. dan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Persamaan penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama membandingkan model pembelajaran dengan inkuiri terarah dan sama-sama menggunakan variabel terikat KPS. Penelitian yang dilakukan oleh Syafriansyah (2011) dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode eksperimen dengan pendekatan penelitian terarah sangat efektif dalam pembelajaran fisika dalam rangka melatih/mengembangkan KPSK dengan meningkatkan hasil belajar kognitif pada siswa.
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri terbimbing untuk meningkatkan KPS dan pemahaman konsep gelombang siswa, Tesis Syafryansyah, dkk. Dampak KPS terhadap hasil belajar fisika siswa melalui metode eksperimen dengan pendekatan penelitian terbimbing. Bedanya, peneliti pada penelitian ini membandingkan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran berbasis masalah, sedangkan pada penelitian terkait tidak.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2011) dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah pada topik fluida statis dengan menggunakan website dapat meningkatkan penguasaan konsep dan KPS siswa secara signifikan. Persamaan penelitian relevan ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan mengukur KPS siswa. Bedanya, peneliti dalam penelitian ini membandingkan model pembelajaran berbasis masalah dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing, sedangkan penelitian terkait tidak.
Selain itu penelitian relevan bertujuan untuk mengukur penguasaan konsep siswa, sedangkan penelitian ini tidak mengukur variabel tersebut. Selain itu peneliti dalam penelitian ini dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah belum menggunakan bantuan website (Wiwin. 2007:27).
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Sebelum diberikan treatment terlebih dahulu dilakukan pre-test pada kelas 1 untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dasar siswa pada materi jamur. Kemudian diberikan post-test untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pembelajaran materi jamur. Menurut Suharsimi Arikonto, objek penelitian Pengertian objek penelitian adalah benda, benda, atau orang yang melekat pada data variabel penelitian dan yang bersangkutan.
Dalam penelitian, subjek penelitian mempunyai peranan yang sangat strategis, karena subjek penelitian adalah data dari variabel-variabel yang diamati dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif, responden atau subjek penelitian disebut sebagai informan, yaitu orang yang memberikan informasi tentang data yang diinginkan peneliti mengenai penelitian yang dilakukan.
Variabel Penelitian
Teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan Pedoman Observasi Siswa KPS dan Pedoman Soal Tes Objektif. Pengamat menilai siswa secara langsung terhadap pedoman observasi dengan menggunakan skala penilaian 1-3 pada saat kegiatan pembelajaran dimana metode pembelajaran yang digunakan adalah inkuiri terbimbing. Teknik tes berupa soal pilihan ganda diberikan untuk mengukur keterampilan awal (pretest) dan keterampilan akhir (posttest) siswa pada bidang jamur.
Instrumen Penelitian
Kalibrasi Instrumen
Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, dengan menggunakan dokumen tertulis, gambar, foto, dokumentasi, administrasi di sekolah yang diteliti. Mp : rata-rata total skor responden yang menjawab pertanyaan dengan benar Mt : rata-rata total skor seluruh responden. Q: perbandingan jawaban benar terhadap soal yang diuji Q: perbandingan jawaban salah terhadap soal yang diuji.
Instrumen soal tes yang digunakan dalam penelitian ini berada pada kriteria sangat tinggi, tinggi dan sedang. Perhitungan reliabilitas ini dilakukan untuk menunjukkan apakah instrumen tes yang akan diuji reliabel atau tidak.Suatu tes dapat dikatakan reliabel apabila tes tersebut menunjukkan hasil yang konsisten. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menunjukkan reliabilitas suatu instrumen tes adalah dengan rumus KR-20 yang ditunjukkan pada rumus di bawah ini.
Daya pembeda suatu tes adalah kemampuan tes tersebut dalam membedakan subjek cerdas dengan subjek kurang cerdas. BA: Banyak siswa yang memberikan jawaban benar di kelompok teratas. BB: Banyak siswa yang menjawab benar di kelompok terbawah. Tingkat kesulitan adalah kemampuan tes untuk menjaring jumlah siswa yang dapat menjawab soal dengan benar.
Jika banyak siswa yang dapat menjawab dengan benar, maka tingkat kesulitan tesnya rendah.
Teknik Analisis Data
KPS Peserta DidikMelalui Model Inkuiri Terbimbing
Selama kegiatan pembelajaran, data KPS siswa dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi yang diisi oleh setiap pengamat. Lima indikator keterampilan diamati siswa selama kegiatan pembelajaran, data yang diperoleh kemudian diubah menjadi nilai persentase sesuai rumus yang ada. Rata-rata KPS siswa kelas XA untuk setiap indikator keterampilan dalam kegiatan pembelajaran disajikan pada tabel berikut.
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa masing-masing indikator observasi KPS siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan oleh pengamat mempunyai beberapa persentase yaitu indikator mengamati sebesar 91,66%, indikator mengkomunikasikan sebesar 81,66%, indikator menyimpulkan sebesar 86,66%, indikator mengklasifikasikan indikator sebesar 76,66% dan indikator prediksi sebesar 66,66%.
N-gain Hasil Belajar Kognitif Paserta Didik Melalui Model Inkuiri Terbimbing
Pembahasan
KPS Peserta Didik Melalui Model Inkuiri Terbimbing Pada Materi Fungi
Untuk mengukur indikator observasi KPS, dalam kegiatan belajar mengajar, guru menugasi siswa melakukan observasi langsung dengan menggunakan inderanya, dalam arti luas. Kategori sangat baik yang dihasilkan indikator observasi ini terlihat dari aktivitas yang dilakukan siswa. Kegiatan observasi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar dalam kegiatan praktikum untuk melatih KPS mahasiswa.
Kegiatan ini sejalan dengan pendapat Nuryani Rustaman (2005:83) bahwa kegiatan observasi hendaknya dilakukan dengan menggunakan alat indera untuk memperoleh fakta dari objek atau fenomena yang ditemui, sehingga siswa dapat menangkap intisari dari sejumlah objek yang ditampilkan atau diamati. . Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada indikator KPS ini siswa dapat melakukan aktivitasnya dengan baik dan sesuai dengan langkah pembelajaran. Hal ini ditandai dengan adanya aktivitas pada setiap kelompok siswa yang mengkomunikasikan langkah kerja pada saat praktikum dan melaporkan hasil pengamatannya dalam bentuk verbal di depan kelas.
Indikator interpretasi atau penalaran KPS merupakan salah satu indikator yang kinerjanya sangat penting dilakukan oleh siswa. Rustaman, 2005:29) Aktivitas yang dilakukan siswa pada indikator interpretasi KPS mendapat penilaian sangat baik. Siswa mengartikan data yang diperoleh dengan bahasa sederhana secara keseluruhan dan merangkum hasil observasi serta menghubungkannya dengan konsep.
Siswa dituntut terampil dalam mengantisipasi dan meramalkan kegiatan atau peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan (Hamalik, 1995: 151).
N-Gain Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik Melalui Model Inkuiri Terbimbing Pada Materi Fungi
Hal ini menunjukkan bahwa dalam ranah sekolah, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran di sekolah. Uraian di atas berdasarkan pendapat para ahli, hasil belajar adalah suatu proses atau kegiatan untuk menemukan (mengukur) keterampilan yang diperoleh siswa melalui pengalaman belajar di sekolah. Hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor kemampuan siswa itu sendiri dan faktor pengajaran.
Berdasarkan Tabel 4.2 mengenai rata-rata hasil belajar kognitif yang ditunjukkan oleh hasil belajar kognitif siswa, diketahui adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan metodologi inkuiri terbimbing. Hal ini menunjukkan bahwa pada penelitian ini pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa mengenai jamur. Nilai N-gain yang diperoleh kategori sedang berarti KPS siswa meningkat dari segi nilai kognitif siswa setelah penerapan model inkuiri terbimbing.
Sehingga pengaruh tersebut dapat meningkatkan pemahaman konsep serta hasil belajar siswa pada materi jamur. Selain itu kegiatan diskusi setelah latihan dapat mengembangkan pemikirannya dan menarik minat belajar siswa, karena siswa merasa kegiatan belajar tidak monoton. Mengadakan kegiatan diskusi dapat memberikan dampak positif bagi siswa, karena siswa selalu diajak belajar dan berpikir, mendiskusikan langkah-langkah kerja dan melaporkan hasil latihan bersama kelompoknya.
Namun secara keseluruhan, penggunaan metode pembelajaran praktik ini dapat memberikan dampak positif terhadap KPS dan hasil belajar siswa.
Integrasi Islam Sains
Namun model inkuiri terbimbing ini juga mempunyai kekurangan, antara lain pembelajaran jenis ini masih baru bagi siswa dan jarang dilaksanakan, sehingga siswa merasa sedikit kaku dalam proses pelaksanaannya karena belum terbiasa. Sedangkan Rasulullah SAW adalah orang yang paling jujur, baik hati dan sempurna ilmunya, amalnya, imannya dan keyakinannya. Beliau dikenal sebagai orang yang paling jujur di kalangan umatnya, dan tidak ada yang meragukannya, sehingga di antara mereka beliau diberi gelar “al-Amin”.
KPS siswa untuk masing-masing indikator keterampilan proses ilmiah adalah sebagai berikut: (a) keterampilan observasi berada pada kategori sangat baik (b) keterampilan komunikasi berada pada kategori sangat baik (c) keterampilan inferensi berada pada kategori sangat baik (d ) keterampilan pengelompokan (klasifikasi) berada pada kategori baik dan (e) keterampilan prediksi berada pada kategori cukup baik. Peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada materi operasi kelas XA di SMAN 3 Dusun Selatan melalui penerapan model inkuiri terbimbing mengalami peningkatan dengan kategori sedang.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model inkuiri terbimbing dalam pembelajaran biologi dengan kajian materi yang lebih luas dan memperluas indikator KPS yang dipelajari. 34; Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains Dasar pada Pembelajaran Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Surakarta." Jurnal Pendidikan Biologi. 34; Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Sains dan Hasil Belajar Sains." PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia 3.1 (2013).
Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi (HIMABI) FKIP Universitas Sebelas Maret, 19 Maret. Pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan multimedia dan lingkungan dunia nyata ditinjau dari motivasi berprestasi dan kemampuan awal Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.