AKU ADALAH GEMBALA YANG BAIK
Saudara-saudari yang terkasih, akhir-akhir ini saya banyak menonton pembelaan orang Kristen atas pertanyaan agama lain: sering orang non-kristen berkata, apakah yesus pernah menyebut dirinya Tuhan? Jika dia pernah menyebut dirinya Tuhan, saya akan mempercayai dia. Pertanyaan demikian pun mungkin sering kita dengar atau dipertanyakan kepada kita? Saya pun sedikit banyak bermenung bahwa memang Yesus tidak pernah menyebut dirinya secara langsung Tuhan. Yesus menyebut dirinya dengan berbagai sebutan, seperti anak manusia, jalan, kebenaran, kehidupan, roti kehidupan, dan lainnya. Hari ini Yesus menyebut dirinya atau memperkenalkan dirinya sebagai gembala yang baik. Injil hari ini mau mengajak kita untuk bermenung kehadiran Yesus sebagai gembala.
Setiap kita yang hadir di sini tentu tahu apa itu gembala.
Gembala adalah orang yang menjaga sekawanan ternak gembalaan.
Saya teringat kisah ketika kecil menggembalakan kerbau. Namun, kisah penggembalaan oleh Yesus berbeda dengan situasi kita. Jika di sini atau di daerah kita, menjadi seorang gembala itu mudah. Semua tersedia, air dan rumput untuk ternak kita. Tidak perlu banyak perjuangan untuk menggembalakan ternak di daerah kita karena memang subur dan tidak pernah kekurangan air. Menjadi seorang gembala di daerah gurun merupakan latar belakang atau situasi yang hendak dikisahkan oleh Yesus. Menjadi seorang gembala di padang gurun sangat sulit. Padang gurun itu tidak subur dan air sangat terbatas. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang gembala menjaga kawanan yang banyak dengan situasi sulit. Setiap tiga bulan harus berpindah dan mencari rerumputan yang baru dan tempat air yang baru karena setiap tiga bulan akan kering dan habis. Selain itu, padang gurun merupakan tempat serigala. Kadang, gembala itu harus berjuang melawan serigala agar ternaknya aman.
Saudara-saudari, hari ini yesus menyebut dirinya gembala yang baik. Setiap kita jika ditanya apa pendapatmu tentang saudara ini atau
1
orang itu, jawaban kita pastilah selalu dia orang yang baik. Jika ditanya mengapa kamu sebut dia baik, bisa karena berbagai hal. Kita menjadi baik karena ada kualitas yang kita tunjukkan atau perlihatkan. Yesus hari ini menyebut tiga kriteria atau sifat seorang gembala yang baik yakni:
1. Gembala yang baik adalah gembala yang siap memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Yesus kita sebut gembala yang baik karena memang dia telah memberikan nyawanya bagi domba-domba melalui peristiwa salib. Yesus wafat demi menyelamatkan manusia. Yesus wafat untuk memperdamaikan manusia dengan Allah. sebab dosa menyebabkan manusia kehilangan keselamatan. Karena penebusan Yesus, manusia menjadi selamat. Dengan salib, kita tahu bahwa Yesus sungguh adalah gembala yang baik.
2. Gembala yang baik mengenal dengan baik domba- dombanya. Yesus mengenal siapapun domba-dombanya.
Kita ingat kisah zakeus, kisah maria Magdalena ketika di kuburan, mengenal petrus yang akan menolaknya tiga kali, bahkan mengenal yudas yang menjadi pengkhianat. Yesus mengenal kita semua juga sebab dia adalah Allah yang mahakuasa. Kita adalah domba gembalaanya yang dikenal satu persatu. Tuhan tahu siapa diri kita dengan seluruh persoalan atau perjuangan kita. Apapun yang kita perbuat Tuhan tahu, sebab Tuhan itu mengenal hati dan bukan rupa.
Gembala mengenal domba-dombanya, apa yang diperlukan domba-dombanya. Sebaliknya domba juga harus mengenal gembalanya agar memperoleh keselamatan. Jika dia lari dari kawanan sang gembala, ddai akan tersesat dan kemungkinan dibunuh oleh serigala buas.
3. Gembala yang baik juga mesti memperhatikan domba- domba yang bukan dari kandangnya. Yesus hadir sebagai orang yang akan membawa keselamatan kepada semua
2
orang. Yesus adalah Allah bagi semua orang, bukan allah yang terbatas. Sebab kita pernah mendengar bahwa kasih Allah seperti matahari yang menyinari bumi dan hujan yang membasahi bumi. Entah kita jahat atau baik, percaya kepada dia atau tidak, kasih Allah tetap diberikan kepada kita semua.
Oleh sebab itu, kawanan lainnya memiliki arti orang yang masih belum mengenal Kristus sebagai penyelamat.
Gembala adalah pemimpin kawanan. Dan Yesus berbicara tentang gembala yang baik dan gembala upahan. Tentang gembala yang baik menurut Yesus adalah: gembala yang menyerahkan hidupnya untuk domba-domba gembalaannya. Gembala itu mengenal dengan baik domba-dombanya dan sebaliknya domba-domba gembalaannya pun mengenal gembalanya. Gembala yang baik, rela berkorban demi keselamatan domba-dombanya. Gembala yang baik tidak lari menyelamatkan diri bila domba-dombanya dalam bahaya. Gembala yang baik mendahulukan domba-dombanya, ia terus membimbing dan mengarahkan, membantu dan menghantar ke tujuan. Ia mencintai domba-dombanya, selalu mempersatukan bila mereka tercerai berai, peduli dan penuh perhatian kepada domba-domba gembalaannya.
kita semua adalah domba-domba dari sang Gembala Agung yaitu Kristus. Kita diajak untuk berlaku sebagai domba yang baik juga, yang merelakan diri kita dibimbing, dipimpin dan diantar oleh Sang Gembala. Kitapun belajar dari sang Gembala yang baik untuk menjadi gembala-gembala di jaman ini, dengan membuka diri bagi panggilan menjadi Imam, biarawan-biarawati. Karena karya keselamatan Allah tidak boleh terhenti, melainkan harus terus diwartakan dan dihadirkan sampai akhir zaman. Dan itu adalah tanggungjawab kita semua.
Kehidupan kita dengan aneka tugas dan profesi; sebagai orangtua, pekerja, pimpinan, pejabat atau bidang lain dalam kehidupan ini juga semestinya dihayati dalam semangat pelayanan gembala yang baik, seperti sudah diteladankan oleh Tuhan Yesus. Kiranya kita pun rela berkorban, menyerahkan diri, tidak lari dari tanggungjawab yang
3
dipercayakan kepada kita, tidak mementingkan diri sendiri, tidak menyesatkan dan disesatkan dan keluar dari kesatuan kawanan, yang peduli terhadap satu sama lain, agar bersama-sama sampai ke tujuan yakni padang keselamatan dan kebahagiaan.
audara-saudariku yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, semoga model gembala yang baik menjadi contoh bagi kita dalam berusaha menjadi gembala-gembala jaman ini. Di sisi lain, kita juga berusaha hidup baik sebagai domba yang tau diri, dan merelakan diri untuk dibimbing serta diantar oleh sang Gembala agung melalui gembala- gembala Gereja. Kita pun berdoa, agar umat beriman membuka diri bagi panggilan khusus dengan menjadi Imam atau biarawan-biarawati.
Akhirnya, Semoga kita semua juga dapat menghayati hidup sebagai gembala yang baik satu sama lain, dan bukan menjadi serigala yang membinasakan dan mencerai-beraikan kawanan. Tuhan memberkati.
Amin
4