Al-Istihsan dan Al-Istishhab
DOSEN PENGAMPU: DR. ABDULLAH SANI, LC. MA
DISUSUN OLEH:
Iin Natasya Divana Ginting 0501222241
Rangga Heriyadi 0501222197
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
2023\2024
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat berupa nikmat islam, nikmat iman, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Fiqh Keuangan. Sholawat serta salam tak lupa pula kita kirimkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat kelak.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak dan sumber informasi sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan sumber informasi yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya maka dari itu kami mohon maaf yang sebsar-besarnya karena kesalahan datangnya dari kami pribadi dan kebenaran hanyalah datang dari Allah SWT.
Kami mengharap kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat dan ilmu bagi teman-teman yang membacanya.
Medan,
Kelompok 6
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR...2
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
1. Latar Belakang...4
2. Rumusan Masalah...4
3. Tujuan Penelitian...4
BAB II...5
Pembahasan...5
1. Pengertian Al-Istihsan...5
1.1 Macam-Macam Istihsan...6
1.2 Hehujjahan Ihtihsan...7
2. Pengertian Al-Istishhab...8
2.1 Dalil Kehujjahan Istishhab...9
BAB III...10
PENUTUP...10
1. Kesimpulan...10
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Agama yang dibawa oleh nabi muhammad SAW sebagai nabi terakhir adalah agama islam dimana sumber hukum islam yang pertama adalah Al qur-an yang berisi tentang akidah, ibadah, peringatan, kisah-kisah yang dijadikan acuan dan pedoman hidup bagi umat Nabi Muhammad SAW dan sumber hukum islam yang kedua adalah Sunnah (hadis). Al- Qur'an adalah wahyu Allah yang dirunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Berdasarkan wahyu Inilah Nabi Muhammad SAW melakukan penyelesaian atas permasalahan yang terjadi di masyarakat Islam saat itu. Memang tidak semua permasalahan yang terjadi di masyarakat bisa diselesaikan dengan wahyu. Biasanya nabi menyelesaikannya dengan pendapat dan pemikiran beliau dan bahkan tidak jarang melakukan diskusi dengan para sahabat. Semakin berkembangnya zaman maka permasalahan yang terjadi dimasyarakat semakin komplek sedangkan nabi sebagai tempat bertanya sudah tidak ada lagi maka umat nabi Muhammad harus menyelesaikan masalahnya berdasarkan Al qur-an dan Sunnah namun tidak semua permasalahn yang muncul dapat dikembalika kepada al qur‟an dan sunnah.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari Al-Istihsan dan Al-Istishhab?
2. Apa macam-macam Al-Istihsan dan Al-Istishhab?
3. Bagaimana kehujjahan Al-Istihsan dan Al-Istishhab?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini agar diketahuinya pengertian dari Al-Istihsan dan Al- Istishhab tersebut dan bagaimana dalil kehujjahan Al-Istihsan dan Al-Istishhab juga macam macam dari Al-Istihsan dan Al-Istishhab.
BAB II Pembahasan
1. Pengertian Al-Istihsan
Di dalam bahasa Arab Istihsan diartikan dengan pengertian: “Menganggap sesuatu itu baik” atau “Mengikuti sesuatu yang baik” atau “Menganggap baik/bagus”.5
Definisi Istihsan di kalangan para Ulama Ahli Ushul berbeda-beda sesuai dengan tinjauannya masing-masing dan kemampuannya dalam menyimpulkan pengertian Istihsan di dalam kata-kata, di antara pengertian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menurut al-Bazdawi bahwa Istihsan ialah: Meninggalkan keharusan menggunakan Qiyas dan berpindah kepada Qiyas yang lebih kuat atau men-takhshish Qiyas dengan dalil yang lebih kuat dari Qiyas tadi.
2. Menurut an-Nasafy bahwa Istihsan ialah: Meninggalkan suatu Qiyas menuju kepada suatu Qiyas yang lebih kuat atau dalil yang berlawanan dengan Qiyas Jalli.
3. Menurut Abu Hasan al-Karkhi bahwa Istihsan ialah: Perpindahan seorang mujtahid di dalam memberikan hukum dalam suatu masalah, seperti yang sudah diberikan hukum padanya kepada hukum yang berbeda dengan hukum yang sudah ditentukan tersebut, karena ada segi yang lebih kuat dari hukum sebelumnya (hukum pertama) sehingga menyebabkan perpindahan dari hukum tersebut (hukum pertama kepada hukum selanjutnya / kedua). Ketiga definisi di atas tersebut merupakan definisi-definisi yang telah diungkapkan dari Madzhab Hanafi.
Menurut Abdul Wahab Khalaf bahwa Istihsan dalam pengertian bahasa ialah:
Menganggap baik sesuatu. Sedangkan menurut istilah Ulama Ushul ialah: Berpindahnya seorang mujtahid dari tuntutan Qiyas Jalli (Qiyas Nyata) kepada Qiyas Khafi (Qiyas Samar), atau dari Hukum Kully (Umum) kepada hukum pengecualian, karena ada dalil yang menyebabkan dia mencela akalnya dan dimenangkan baginya perpindahan ini. Jadi apabila terjadi sesuatu kejadian dan tidak terdapat dalam Nash mengenai hukumnya, maka untuk membicarakan hal itu terdapat dua segi yang saling bertentangan yaitu: Pertama, “Segi nyata yang menghendaki suatu hukum” dan kedua, “Segi tersembunyi yang menghendaki hukum lain”.
Dan pada Mujtahid sendiri sudah terdapat dalil yang memenangkan segi pandangan secara tersembunyi, maka perpindahan dari segi pandangan yang nyata inilah menurut syara‟
disebut al-Istihsan. Dengan demikian apabila hukum itu Kulli dan pada diri Mujtahid sudah terdapat dalil yang menghendaki pengecualian (Juz‟iyah / bagian) serta memberi ketetapan kepada Juz‟iyah (bagian) dengan hukum lain, maka menurut syara‟ ini juga disebut al- Istihsan.
Menurut Muhammad Abu Zahrah yang dinamakan istihsan ialah: Sumber hukum yang banyak dipakai dalam terminologi dan istimbath hukum oleh dua imam madzhab yaitu Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Bahkan Imam Malik menilai bahwa pemakaian Istihsan merambah 90% dari seluruh ilmu fiqh sementara itu murid-murid beliau (Imam Abu Hanifah), seperti yang diceritakan oleh Imam Muhammad Bin Hasan adalah tidak sejalan dengan gurunya yaitu Istihsan dipandang tidak jelas kriterianya. Apabila Imam Abu Hanifah berkata: “Pakailah Istihsan”, maka tidak seorangpun murid-muridnya yang menurutinya, seperti beliau (Imam Abu Hanifah). Pada dasarnya Imam Abu Hanifah masih tetap menggunakan Dalil Qiyas selama masih dipandang tepat / pas. Namun jika pemakaian dalil itu pada situasi tertentu dinilai kurang pas / tepat, maka ia beralih kepada Dalil Istihsan.
Kemudian Rahmat Syafe‟i menambahkan bahwa Istihsan secara harfiyah diartikan:
“Meminta kebaikan, yakni menghitung-hitung sesuatu dan menganggapnya kebaikan”. Dari kesemuanya itu, maka kemudian istilah Istihsan dapat diklarifikasikan menurut beberapa pendapat yaitu:
1. Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustashfa Juz-1: 137, bahwa Istihsan ialah:
“Semua hal yang dianggap baik oleh Mujtahid menurut akalnya”.
2. Al-Muawafiq Ibnu Qudamah Al-Hambali berkata, bahwa Istihsan ialah: “Suatu keadilan terhadap hukum dan pandangannya kepada suatu keadilan terhadap hukum, serta pandangannya itu dikarenakan adanya dalil tertentu yaitu dari al-Qur‟an dan al- Hadits”.
3. Abu Ishaq Asy-Syatibi dalam Madzhab Al-Maliki berkata, bahwa Istihsan ialah:
“Pengambilan suatu kemashlahatan yang bersifat Juz‟i dalam menanggapi dalil yang bersifat global”.
4. Menurut Al-Hasan Al-Kurkhi Al-Hanafi, bahwa istihsan ialah: “Perbuatan adil terhadap suatu permasalahan hukum dengan memandang hukum yang lain, karena adanya suatu yang lebih kuat yang membutuhkan keadilan”.
5. Menurut Muhammad Abu Zahrah, bahwa definisi Istihsan yang lebih baik ialah:
“Definisi menurut Al-Hasan Al-Kurkhi seperti yang telah tersebutkan di atas”.
6. Sebagian Ulama yang lainnya mengatakan bahwa Istihsan ialah: “Perbuatan adil dalam hukum yang menggunakan dalil adat untuk kemashlahatan manusia dan lain- lain”
1.1Macam-Macam Istihsan
Dari definisi definisi di atas, secara sederhana istihsan Dibagi menjadi dua yaitu,istihsan qiyasi dan istihsan istitsna`i.
a. Istihsan Qiyasi
Ialah, suatu bentuk pengalihan hukum dari ketentuan hukum yang didasarkan padaqiyas jali kepada ketentuan hukum yang didasarkan pada qiyas khafi, karena adanyaalasan yang kuat untuk mengalihkan ketentuan hukum tersebut. Contohnya ialah,Berdasarkan istihsan qiyahi, yang dilandasi oleh qiyas khafi, air sisa minuman burung buas, adalh suci dan boleh diminum, seperti: sisa minuman burung gagakatau burung elang. Padahal, berdasarkan qiyas jali, sisa minuman binantang buas,seperti anjing dan burung buas adalah najis dan haram di minum, karena sisaminuman tersebut telah bercampur dengan air liurnya,yaitu dengan mengqiyaskandengan dagingnya Sebagaiman diketahui, binatang buas itu minum dengan mulutnya,sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. Akan tetapi, paruh burung buas berbeda dengan mulut binatang buas yang tidak lansung bertemu dengan dagingnya.
Mulut Binatang buas terdiri atas daging yang haram di makan, sedangkan paruh burung buas merupakan tulang atau zat tanduk. Sedangkan tulang atau tanduk tidak najis.
b. Istihsan Istisna'i
Ialah, qiyas dalam bentuk pengecualian dari ketentuan hukum yang berdasarkan prinsip-prinsip umum, kepada ketentuan hukum tertentu yang bersifat khusus. Istihsan bentuk yang kedua ini dapat dibagi kepada beberapa macam sebagai berikut:
1) Istihsan bi an-Nashsh
Ialah, pengalihan hukum dari ketentuan hukum dari ketentuan yang umum kepada ketentuan lain dalam bentuk pengecualian, karena ada nash yang mengecualikanya, baik nashsh tersebut Alquran maupun sunnah.
2) Istihsan bi al-Ijma'
Ialah, pengalihan hukum dari ketentuan umum kepada ketentuan lain dalam bentuk pengecualian, karena ada ketentuan ijma'yang mengecualikanya.
3) Istihsan bi al-Urf
Ialah, pengecualian hukum dari prinsip syariah yang umum, berdasarkan kebiasaan yang berlaku.
4) Istihsan bi ad-Dharurah
Ialah, suatu keadaan darurat yang mendorong mujtahid untuk mengecualikan ketentuan qiyas yang berlaku umum kepada ketentuan lain yang memenuhi kebutuhan mengatasi keadaan darurat.
5) Istihsan bi al-Mashlahah al-Mursalah
Ialah, mengecualikan ketentuan hukum yang berlaku umum berdasarkan kemaslahatan, dengan memberlakukan ketentuan lain yang memenuhi prinsip kemaslahatan.
1.2Hehujjahan Ihtihsan
Pendapat ulama terbagi dua kelompok antar kehujjahan istihsan. Pertama kelompok yang berpendapat bahwa istihsan merupakan dalil syara'. Mereka ini adalah mazhab Hanafi, Maliki, dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan kelompok kedua yang menolak pengunaan istihsan sebagai dalil syara' adalah asy-Syafi'i, Zahiryyah, Mu'tazilah, Dan Syi'ah.
Mereka berpendapat bahwa mengunakan istihsan sebenarnya dikendalikan oleh hawa nafsu untuk besenang- senang, dengan cara mengunakan nalar murni untuk menentang hukum yang ditetapkan dalil syara'.
Pendapat ulama yang Mengunakan Istihsan, diantaranya sebagai berikut:
a. Mengunakan istihsan, berarti mencari yang mudah dan meningalkan yang sulit.
b. Firman ALLAH pada surah az- Zumar(39): 55:
"Dan ikutilah sebaik- baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu sebelum dating azab kepadamu dengan tiba-tiba,sengkan kamu tidak menyadarinya".
c. Sesuatu yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka ia di pandang baik oleh Allah.
Sementara itu, kelompok ulama yang menolak kehujjahan istihsan mengemukakan
dalil, antara lain, sebagai berikut:
a. Firman Allah pada surah al- Ma'idah (5): 49:
"Dan hendaklah Kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut yang diturunkan Allah, Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka."
Ayat diatas menunjukan bahwa tidak boleh menetapkan hukum kecuali berdasarkan nashsh, dan dilarang mengikuti hawa nafsu.
b. Rasulullah tidak pernah menetapkan hukum berdasarkan istihsan yang dasarnya adalah nalar murni, melainkan menunngu turunya wahyu. Sebab beliau tidak pernah berbicara berdasarkan hawa nafsu belaka
c. Istihsan itu landasanya adalah akal, di mana kedudukan orang yang terpelajar dan tidak adalah sama. Jika mengunakan istihsan dibenarkan, tentu setiap orang boleh menetapkan hukum baru untuk kepentingan dirinya.
Pada hakikatnaya, istihsan, dengan dengan segala bentuknya, adalah mengalihkan ketentuan hukum syara' dari yang berdasarkan suatu dalil syara' kepada hukum lain yang didasarkan kepada dalil syara' yang lebih kuat. Karena prinsip ini yang menjadi substansi istihsan, maka pada hakikatnya, tidak ada seorang ulamapun yang menolak keberadaan istihsan sebagai dalil syara'.
2. Pengertian Al-Istishhab
Istishhab secara bahasa adalah menyertakan, membawa serta dan tidak melepaskan sesuatu. Ungkapan istashaba ar-rajul berarti mengajak seseorang kepada persahabatan. Dari sini, selanjutnya dapat dikatakan bahwa apa saja yang menemani sesuatu disebut istishab. Hal ini kemudian diperjelas oleh al-Isfahani bahwa setiap yang menemani sesuatu, baik ia manusia, hewan, tempat maupun waktu dinamakan istishab.
Menurut Muhammad Ubaidillah al-As’adi, istishab adalah menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan dalil yang telah ada sebelumnya, dan dipandang tetap berlaku sampai adanya dalil lain yang mengubahnya.13 Sedangkan al-Ghazali mendefinisikannya dengan, berpegang pada dalil akal atau syara’, bukan karena tidak mengetahui adanya dalil, melainkan setelah dilakukan pembahasan atau penelitian yang cermat, diketahui tidak adanya dalil yang mengubahnya.14 Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa istishab adalah berlakunya hukum mengenai sesuatu berdasarkan dalil yang telah ada sebelumnya, baik dalil akal maupun syara’ selama tidak ada dalil lain yang membatalkannya.
Adapun secara terminologi Ushul Fiqih, -sebagaimana umumnya istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin ilmu ini- ada beberapa definisi yang disebutkan oleh para ulama Ushul Fiqih, diantaranya adalah:
1. Definisi al-Asnawy (w. 772H) yang menyatakan bahwa “(Istishhab) adalah penetapan (keberlakukan) hukum terhadap suatu perkara di masa selanjutnya atas dasar bahwa hukum itu telah berlaku sebelumnya, karena tidak adanya suatu hal yang mengharuskan terjadinya perubahan (hukum tersebut).”
2. Sementara al-Qarafy (w. 486H) –seorang ulama Malikiyah mendefinisikan istishhab sebagai “keyakinan bahwa keberadaan sesuatu di masa lalu dan sekarang itu berkonsekwensi bahwa ia tetap ada (eksis) sekarang atau di masa dating.
Definisi ini menunjukkan bahwa istishhab sesungguhnya adalah penetapan hukum suatu perkara baik itu berupa hukum ataupun benda di masa kini ataupun mendatang berdasarkan apa yang telah ditetapkan atau berlaku sebelumnya. Seperti ketika kita menetapkan bahwa si A adalah pemilik rumah atau mobil ini entah itu melalui proses jual-beli atau pewarisan, maka selama kita tidak menemukan ada dalil atau bukti yang mengubah kepemilikan tersebut, kita tetap berkeyakinan dan menetapkan bahwa si A-lah pemilik rumah atau mobil tersebut hingga sekarang atau nanti. Dengan kata lain, istishhab adalah melanjutkan pemberlakuan hukum di masa sebelumnya hingga ke masa kini atau nanti.
2.1Dalil Kehujjahan Istishhab
Sebagai dalil syara’, istishhab memiliki landasan yang kuat, baik dari segi syara’maupun logika. Landasan dari segi syara’ adalah, berbagai hasil penelitian hukummenunjukan, bahawa suatu hukum syara’ senantiasa tetap berlaku, sebelum ada dalil yang mengubahnya.
Adapun landasan dari segi logika, secara singkat dapatditegaskan, logika yang benar pasti mendukung sepenuhnya prinsip al- istishhab.
2.2 Macam Macam Ihtishhab
a. Istishhab hukm al- ibahah al- ashliyyah(tetap berlakunya hukum mubah yang dasar) Ialah, setelah datangnya agama islam, pada dasarnya seseorng bolehmelakukan atau mengunakan sesuatu yang bermanfaat, selama tidak ada dalil syara’ yang menegaskan hukum tertentu terhadapnya. Perlu ditegaskan,
ketentuan istishab bentuk pertama ini hanya berlaku dalm bidang muamalah;tidak dalam bidang ibadah dan akidah.
b. Istishhab ma’dalla asy-syar’ aw al-‘aql ‘ala wujudih (istishhab terhadapsesuatu yang menurut akal atau syara’diakui keberadaanya)
Bahwa berdasarkan istishhab, tetap berlakunya hukum sesuatu baik keberlakuanya ditinjau dari syara’ maupun menurut logika, sampai ada alas an atau dalil lain yang mengubah keberlakuan hukum tersebut.
c. Istishhab al- Khashsh bi al-washf (tetapnya suatu hukum yang secar khususberkaitan dengan sifat)
Para ulama berbeda pendapat dalam menjadikan bentuk istishhab yang keempat ini sebagai dalil syara’. Dalam hal ini, ulama Syafi’iyyah danHanabilah secara mutlak menerimanya sebagai dalil syara’. Sedangkan ulamaHanafiyah dan Malikiyyah berpendapat, istishhab bentuk ini hanya dapatmenjadi dalil untuk menolak ketentuan hukum yang baru(shalih li ad-daf’i), tetapi tidak dapat menjadi dalil untuk menetapkan hukum yang baru (ghairshalih li al-itsbat).
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari pembahsan diatas bahwa istihsan dan istishab merupakan cara untukmenentukan suatu hukum tertentu. Istihsan yaitu mencari ketentua hukum yang lebih baik, sedangkn istishab merupakn menetapkan suatu hukum sesuai dengan nashsebelum ada dalil yang mengatakanya. Para jumhur ulama memperbolehkan pemakaian istihsan dan istishab. Pada hakekatnya Istihsan digunakan untuk mendapatkan kemashlatan dan menolak kemadharatan atau dengan kata lain digunakan untuk menemukan kemaslahatan yang lebih kuat atau kemadlaratan yang lebih sedikit, sehingga Istihsan bisa dikatakan untuk digunakan sebagai sumber dan metode hukum Islam.
Sebab Istihsan ditetapkan berdasarkan penelitian terhadap Nash-nash Syara‟ yang menunjukan bahwa Allah SWT Yang Maha Bijaksana berpindah dari sebagian kasus-kasus yang bisa digunakan dengan Qiyas (umumnya nash) kepada hukum lain yang memberikan kemashlatan dan menolak kemafsadatan (kemadlaratan). Namun konstruksi istishab itu sendiri baru dibangun pada abad kelima hijrah disertai dengan pembagiannya secara jelas dan rinci. Dari istishab ini, para ulama fiqh belakangan kemudian menetapkan beberapa kaedah umum yang dianggap sebagai patron rujukan berbagai kaus yang terjadi kemudian.
DAFTAR PUSTAKA
Asy-Syafi‟i, al-Umm Bab Ibthal al-Istihsan. Beirut: Dar al-Fikr, t.th. A. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progessif, 1997.
Depag. R.I., al-Qur‟an dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra, 1989.
Imam Syafe‟i, ilmu Ushul Fiqh Cet. Ke-3. Bandung: Pustaka Setia, 2007.
Muhammad Abu Zahroh, Ushul Fiqh. Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th. Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Fiqh Islami. Bandung: PT. al-Ma‟arif, 1997.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, (Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1993).
Hafizuddin an-Nusaifi, Kasyf al-Asrar, (Beirut: Dar al-Kutub alIlmiyah, 1986).
Ibn Hazm al-Andalusi, al-Ahkam Fi Ushul al-Ahkam, (Kairo: Dar al-Hadis, 1992).
Ibrahim ibn Ali al-Fairuz Abadi, al-Luma’ Fi Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyah, 1985).
Jalaluddin ar-Rahmat as-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazair, (Singapura: Sulaiman Mar’I, tt.).
Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (Mesir: Dar al-Fikr alArabi, 1958).
Muhammad Ali as-Sais, Nasy’ah al-Fiqh al-Ijtihadi wa Athwarih, (Ttp: Mujma’ al-Buhus al- Islamiyah, 1970).