Alhamdulillah, penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah menyelesaikan buku berjudul Al-Mashlahah Sebagai Sumber Hukum Islam - Kajian Pemikiran Imam Malik dan Najm al-Din al-Thufi. Buku ini mencoba membahas pemikiran Imam Malik sebagai pionir yang membawa konsep al-mashlahah dan pemikiran Najm al-Din al-Thufi yang dikenal liberal dan menentang pemilik konsep al-mashlahah. .
Konsep Al-Mashlahah Menurut Imam Malik
Pemikiran Imam Malik dan Najm al- Din al-Thufi
- Al-Mashlahah
- Sumber Hukum
Hal ini akan dijelaskan kemudian pada Bab III pada pembahasan pemikiran Imam Malik dan Najm al-Din al-Thufi mengenai l-mashlahah sebagai sumber hukum Islam. Lantas apa yang dimaksud dengan judul buku “Pemikiran Imam Malik dan Najm al-Din al-Thufi tentang Almashlah a.s.
Pengkajian Yang Relevan Atas Konsep AlMashlahah
16 Musthafa Zaid, Al-Mashlahah Fi al-Tasyri' al-Islami wa Najm al-Din al-Thufi, Egipte: Dar al-Fikri al-'Arabi, 1964. 17 Husain Hamid Hassan, Nazhariyat al-Mashlahah Fi al-Fiqh al-Islami, ttp : Dar al-Nahdhah al-Arabiyah, 1971, p.
Teknik dan Metode Dalam Pengkajian Konsep Al-
Sedangkan sumber data sekunder adalah karya-karya yang ditulis para ulama sebagai tafsir atau kritik terhadap gagasan konsep al-mashlahah Imam Malik dan Najm al-Din al-Thufi, misalnya Al-Mashlahah Fi Tasyri' al-Islami wa Najmuddin al- Thufi oleh Dr. Dan sumber data tersier merupakan sumber pelengkap yang berkaitan dengan tema buku ini, misalnya Nazhariyat al-Mashlahah Fi al-Fiqh al-Islami karya Dr.
Konsep Teoritis al-
Mashlahah sebagai Sumber Hukum Islam
Definisi al-Mashlahah
- Al-Mashlahah Menurut Etimologi Kata al-mashlahah berasal dari kata
- Al-Mashlahah Menurut Terminologi Secara terminologi ushul fiqh, para ahli
Berdasarkan pengertian etimologis di atas, Husain Hamid Hassan menjelaskan bahwa al-mashlahah mempunyai dua makna. Husain Hamid Hassan, Nazhariyat al-Mashlahah Fi al-Fiqh alIslami, Kairo: Dar al-Nahdhah al-'Arabiyah, 1971, hal.
Klasifikasi al-Mashlahah
Al-Mashlahah al-Tsabitah (ةتباثلا ةحلصملا), yaitu manfaat yang bersifat tetap, tidak berubah sampai akhir zaman. Al-Mashlahah al-Mutaghaiyirah (ةحلصملا ةريغتملا), yaitu manfaat yang berubah-ubah tergantung perubahan tempat, waktu dan subjek hukum.
Al-Mashlahah sebagai Sumber Hukum Islam
Kedua; Menganut al-mashlahah dalam tasyri' akan membuka pintu bagi para pengikut hawa nafsu dan keinginan sebagian ahli hukum dan ahli hukum. Keempat; al-mashlahah al-murlahah mengandung dua unsur yaitu unsur diterima atau ditolak syariat. Pertama; Berdasarkan penelitian, ternyata hukum syariah banyak menggunakan al-mashlahah untuk menjaga kemaslahatan manusia.
Karena banyak undang-undang dalam prakteknya banyak menggunakan al-mashlahah, maka kita harus berasumsi (zhan) bahwa al-mashlahah dapat dijadikan 'illat dalam menetapkan undang-undang. Karena sangat mustahil jika mereka mengakui adanya istihsan lalu menolak melakukan istishlash atau al-mashlahah. Meskipun ulama Hanafi menerima almaslah,53 mereka menetapkan syarat agar almaslah menjadi bukti, yaitu almaslah itu berdampak pada hukum.
Para ulama Syafi'iyah54 pada prinsipnya juga menjadikan al-mashlahah sebagai salah satu dalil syariat. Kelompok yang menerimanya ternyata tidak menerimanya secara mutlak bahkan mempunyai beberapa persyaratan ketat untuk menggunakan al-mashlahah sebagai sumbernya. Jika kekhawatiran ini bisa dihindari, misalnya jika ditemukan garis kemiripan dengan prinsip (utama) aslinya, mereka juga akan menggunakan al-mashlahah dalam ijtihad, seperti halnya Imam Syafi'i sendiri.
Implementasi al-Mashlahah
Dan semua bentuk ibadat adalah ta'abbudi dan tauqifi, yang bermaksud bahawa kita mengikut hanya jika mengikut petunjuk syariat dalam nas, dan akal tidak dapat mengetahui sama sekali mengapa demikian. Sebagai contoh, apabila solat Zohor empat rakaat, yang dilakukan selepas matahari terbenam, akal tidak dapat menilai sama ada ia baik atau buruk. Oleh sebab itu, mereka telah merumuskan satu peraturan dalam bidang ibadat, bahawa pada dasarnya haram dalam bidang ibadat sehingga ada dalil syar’at yang menjelaskannya boleh.
Sedangkan dalam fikih mu'amalah, selain dapat berfikir, manusia dapat memahami hal-hal yang bersifat negatif, juga dapat memahami hal-hal yang bermanfaat. Karena pada umumnya permasalahan mu'amalah bersifat ta'aqquli atau rasional sehingga dapat dianggap baik. Oleh karena itu para ulama telah menetapkan kaidah yang pada dasarnya boleh dalam kaitannya dengan mu’amalah, sehingga ada dalil yang menyatakan haram.58.
Dengan membagi persoalan hukum menjadi ibadah dan mu’amalah dengan kaidah yang berlaku pada masing-masing daerah, maka strategi menjadi lebih sederhana dengan menempatkan bidang ibadah sebagai aspek ukhrawi dan bidang mu’amalah sebagai aspek duniawi. Adapun dalam aspek sekuler, hampir tidak ada kewenangan manusia untuk menentukan prosedur, sedangkan dalam aspek sekuler, kewenangan manusia sangat besar.59. Al-Khalaf menyimpulkan bahwa mayoritas ulama menyetujui penerapan al-mashlahah sebagai sumber hukum syariah.
Kedudukan al-Mashlahah sebagai Sumber Hukum Islam
- Al-Mashlahah dan Akal
- Kontradiksi (al-Ta’arudh) al- Mashlahah dengan Nash
Kesimpulan dari pendirian ini adalah sebagaimana pernyataan Ghazali, bahwa akal tidak dapat menentukan baik atau buruknya suatu perbuatan sehingga tidak dapat menentukan hukumnya.63 Dan al-Razi (w.606/1209) mengatakan bahwa tidak ada yang baik atau buruk, kecuali dengan syara', dan tidak ada hukum tanpa syariah'. Pandangan Mu'tazilah mengenai peranan akal dalam pengakuan suatu al-mashlahah terbagi menjadi empat versi. Pertama; akal dapat mengetahui apakah suatu tindakan baik atau buruk karena tindakan itu sendiri secara obyektif baik atau buruk.
Pertentangan (at-Ta'arudh) al-Mashlahah dengan Nash Mashlahah dengan Nash. Pandangan para ulama mengenai pertentangan antara al-mashlahah dengan nash dapat dibedakan menjadi tiga: 68. Syafiyah dan Hanabilah, bahwa tidak mutlak mengambil al-mashlahah jika terdapat pertentangan dengan nash. Karena syariah bersumber dari nash, ijma atau qiyas. Jika terjadi pertentangan antara almaslahah dengan nash, maka nashlah yang harus diutamakan. Kelompok ini menempatkan al-mashlahah pada urutan ketiga, setelah nash atau fatwa para sahabat. Dan mereka juga menolak fatwa para sahabat yang bertentangan dengan nash. Menurut ulama Hanafi, jika terjadi pertentangan antara nash dengan al-mashlahah, maka al-mashlahah yang harus diutamakan. Oleh karena itu, pada umumnya mereka menafsirkan nash zhanni dengan al-mashlahah qathi'i yang termasuk dalam jenis al-mashlahah yang didefinisikan syariat. 68 Wahbah al-Zuhaili, Ushul Fikh al-Islami, Volume II, Op. Al-Thufi dari kelompok ulama Hanabilah berpendapat bahwa dalam bidang mu'amalah, al-mashlahah harus diutamakan di atas nash dan ijma'. itu adalah dalil tertinggi dalam mu'amale. Dan pandangan al-Thuf akan dibahas panjang lebar pada bab ketiga nanti.69. Imam al-Ghazali dan al-Amidi berpendapat, jika ada pertentangan antara al-mashlahah dengan nash, maka menurut mereka al-mashlahah diutamakan dengan syarat terdapat kerugian atau bahaya yang pasti dan menyeluruh. Misalnya ketika orang-orang kafir membuat tameng dengan tawanan perang yang terdiri dari kelompok Islam. Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui bahwa umat Islam akan mengalami kekalahan jika tamengnya tidak terdiri dari umat Islam. 69 Najm al-Din al-Thufi, Al-Ta'yin Fi Syarh al-Arba'in, Tahkiq Ahmad Haj Muhammad Utsman, Makkah: Al-Maktabah al-Makkiyah, 1998, hal. Dalam keadaan seperti itu, barisan umat Islam dibolehkan membunuh orang-orang yang dijadikan tameng oleh kelompok kafir. Dibolehkannya melakukan pembunuhan bertentangan dengan hukum yang ditentukan dalam teks, yaitu larangan membunuh sesama umat Islam. Namun karena adanya kebutuhan manfaat dharuri untuk menjaga keselamatan umat Islam secara keseluruhan, maka tindakan membunuh dalam keadaan demikian diperbolehkan. Kemaslahatan ini juga dianggap kath'i, karena dapat dipastikan, apabila tameng yang disusun umat Islam tidak dihancurkan, maka barisan umat Islam akan dihancurkan oleh orang-orang kafir. Manfaat ini juga keren. inklusif), karena manfaat ini tidak berkaitan dengan manfaat individu atau kelompok minoritas. Al-Ghazali juga berpendapat boleh mendahulukan al-mashlahah hajiyyah dari nash, berdasarkan qaida siyar’ijah masing-masing. Jika diperhatikan dalil ulama yang mendahulukan al-mashlahah dari pada teks, maka sama saja dengan pendapat ulama yang mendahulukan teks dari pada al-mashlahah.
Sebab qath'i al-mashlahah pada hakikatnya adalah kemaslahatan yang ditentukan oleh syariat karena maknanya juga diambil dari teks. Jadi bila mentakhshish nash zhanni z al-mashlahah qath'i, artinya sama dengan mentakhshish nash z nash. Dengan demikian, keutamaan almashlahi atas nash bukan semata-mata demi kepentingan almashlahi itu sendiri, melainkan demi pemahaman nash yang memungkinkan keutamaan almashlahi atas nash teks.
Pemikiran Imam Malik dan Najm Al-Din Al-Thufi Tentang Al-
Mashlahah
Imam Malik Bin Anas
- Biografi dan Karya Imam Malik Dari segi umur, Imam Malik merupakan
- Situasi Kehidupan Dunia Islam pada Zaman
- Definisi al-Mashlahah al- Mursalah
- Klasifikasi al-Mashlahah
Justeru, fatwa, pendapat dan pemikiran Imam Malik tentang al-mashlahah al-mursalah dapat diketahui dan difahami daripada karya-karya ulama. Untuk lebih memahami maksud al-mashlahah al-mursalah Malik, kita akan membincangkan pengertian al-mursalah dengan lebih lanjut. Al-mashlahah al-mursalah ialah apa-apa ashl syar'i yang tidak disebutkan dalam nas tertentu tetapi sesuai dengan maksud syariat.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa al-mashlahah al-murlahah Imam Malik merupakan kemaslahatan yang tidak disebutkan dalam teks. Imam Malik membagi al-mashlahah berdasarkan hubungan antara hakikat al-munasib (al-mashlahah) dan hukumnya menjadi tiga: 112. Sebagai penganjur al-mashlahah, Imam Malik menjadikan al-mashlahah al-murlah sebagai salah satu sumber-sumber hukum Islam atau dengan kata lain menjadikannya sebagai dasar dan acuan penetapan hukum.
Dari uraian di atas terlihat betapa cermatnya Imam Malik menjadikan al-mashlahah al-murlah sebagai sumber hukum. Beliau tidak hanya menerimanya, namun menetapkan beberapa syarat untuk mengantisipasi penyalahgunaan al-mashlahah al-murlah karena alasan kemaslahatan. Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa Imam Malik mengklasifikasikan al-mashlahah menjadi beberapa bagian.
Al-mashlahah al-mursalah ialah kemaslahatan yang tidak disebutkan dalam nas tertentu tetapi sesuai dengan kehendak syariat. Al-Syathibi mengemukakan altadmin sebagai contoh al-mashlahah al-mursalah dan kemudian menyebutnya sebagai contoh istihsan.
NAJM AL-DIN AL-THUFI
Namun menurut Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Durar al-Kaminah yang dikutip oleh Abdullah Ibnu Abd al-Muhsin al-Turki, bahwa al-Thufi lahir pada tahun 657 H.149 Sedangkan Abdul-Wahhab. Sedangkan Ummu Maktum berpendapat – sebagaimana dikutip al-Suyuthi dalam kitabnya Bagiyat al-Wu’ati – bahwa al-Thufi wafat pada tahun 711 H. Bertentangan dengan pendapat ulama di atas, Imam al-Suyuthi dan al-Shafadi berpendapat bahwa al-Thufi wafat pada tahun 710 H.153.
Selain itu, al-Thufi mempelajari bahasa Arab dan ilmu sharf daripada Abu Abdullah Muhammad Ibn al-. Untuk mendalami dan mendalami ilmu agama, al-Thufi akhirnya dapat pada tahun 705 H. Walaupun begitu, al-Thufi tetap mempertahankan pendapatnya yang menyebabkan gurunya Sa'd al-Din Mas'ud bin Ahmad al-Haritsi sangat marah.
Semua bukti dan saksi memberi kesaksian bahwa al-Thufi menganut ideologi Syiah Rafidhah. Musthafa Zaid menduga ada faktor lain di luar pikiran al-Thufi yang memicu kejadian tragis tersebut. Untuk membuktikan kebenaran al-Thufi adalah pengikut Syi'ah, Ibnu Rajab memaparkan bukti tersebut.