• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sultan Alauddin No.259 MEMUTUSKAN Bahwa saudara Nama : MALIK ABDULLAH NIM Judul Skripsi :Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Di Masjid Raya Kota Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Sultan Alauddin No.259 MEMUTUSKAN Bahwa saudara Nama : MALIK ABDULLAH NIM Judul Skripsi :Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Di Masjid Raya Kota Makassar"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Jurusan

Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

MALIK ABDULLAH NIM. 105190092910

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436 H/2014 M

(2)
(3)
(4)

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Kantor : Jl.Sultan Alauddin No.259 Gedung iqra’ Lt. IV Telp.(0411)851914 Makassar 90223

BERITA ACARA MUNAQASYAH

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar telah Mengadakan sidang Munaqasyah :

Hari/Tanggal : 15 Muharram 1436 H / 8 November 2014 M.

Tempat : Gedung iqra’ Lt. IV, Unismuh Makassar jl. Sultan Alauddin No.259

MEMUTUSKAN Bahwa saudara

Nama : MALIK ABDULLAH

NIM : 105 19029 10

Judul Skripsi :Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Di Masjid Raya Kota Makassar.

Dinyatakan : LULUS

Ketua, Sekertaris,

Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dr. Abd. Rahim Razaq, M.Pd

NBM : 691 468 NIDN: 9909005374

Pembimbing I : Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I (………..) Pembimbing II : Markas Iskandar, S.Ag.,M.Pd.I (………..)

Munaqisy I : Drs Abd Samad T (………..)

Munaqisy II : Abd Azis Muslimin, S.Ag., M.Pd. (....………..) Makassar, 17 Muharram 1436 H

10 November 2014 M Dekan FAI

Unismuh Makassar

Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I NBM: 691 468

(5)

iii

di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya penyusun sendiri dan jika dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat orang lain secara keseluruhan, maka skripsi ini dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Makassar, 10 November 2014 M Penulis

Malik Abdullah 1051 9009 29 10

(6)

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Kantor : Jl.Sultan Alauddin No. 259 (Gedung Iqra Lt.4) Makassar 90221 Fax/Telp. (0411)

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Di Masjid Raya Kota Makassar” Telah diuji pada hari Sabtu 15 Muharram 1436 H, Bertepatan dengan 08 November 2014 M Dihadapan tim Penguji dan dinyatakan telah dapat diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

Makassar, 15 Muharram 1436 H 08 November 2014 M

DEWAN PENGUJI :

1. Ketua : Drs. Mawardi Pewangi., M.Pd.I (...) 2. Sekretaris : Dr. Abd Rahim Razaq., M.Pd (...) 3. Tim Pembimbing : 1. Drs. Mawardi Pewangi., M.Pd. (...) 2. Markas Iskandar, S.Ag.,M.Pd.I (...) 4. Tim Penguji :1. Drs Abd Samad T (...) 2. Abd Azis Muslimin, S.Ag., M.Pd.. (...)

Disahkan Oleh:

Dekan Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar

Drs. H. Mawardi Pewangi,M.Pd.I NBM :554 612

(7)

iv

Penelitian ini menjelaskan tentang Optimalisasi masjid dalam melakukan pembinaan ummat di Masjid raya Kota Makassar, serta pengaruh pembinaan umat terhadap Pengurus, remaja dan jamaah masjid raya kota makassar.

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penulis memberikan gambaran tentang objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagai mana adanya, dengan kata lain penulis memberikan gambaran sesuai dengan apa yang didapatkan di lapangan. dan Objek penelitian adalah Pengurus, remaja dan jamaah Masjid tersebut. Adapun lokasi penelitian Di Masjid raya kota makassar.

Dengan menyajikan populasi sejumlah 114 orang dengan sampel yang diambil 25.Penelitian dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dengan cara observasi, wawancara, angket dan dokumentasi.

Hasil penilitian membuktikan bahwa peranan masjid dalam melakukan pembinaan umat sangatlah berperan dimana dibuktikan dari hasil angket 20 orang (80%) yang menjawab “Baik”. Dan pengaruh jamaah dengan adanya kegiatan pembinaan umat cukup tinggi dengan pembuktian berdasarkan angket yaitu 16 orang (64%) menyatakan bahwa setelah mengikuti kegiatan pembinaan umat semakin “bertambah”

pemahaman terhadap agama. Berdasarkan hasil angket yang telah disebarkan kepadapengurus, remaja dan jamaah masjid menyataan bahwa peranan masjid raya dalam melakukan pembinaan sangat membantu masyrakat dan pengaruhnya sangat dirasakan jamaah, remaja dan pengurus itu sendiri. Namun tidak bisa dinafikan bahwa hebatnya pengaruh perkembangan zaman, lingkungan yang jauh dari pendidikan agama dan tayangan televisi yang sewaktu-waktu bisa menghancurka akhlak dan moral merupakan tantangan masjid untuk lebih mengoptimalisasikan dalam membina umat.

(8)

v PRAKATA

مﯾﺣرﻟا نﻣﺣرﻟا ﷲ مﺳﺑ

.نﯾﻌﻣﺟا ﮫﺑﺎﺣﺻاو

Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini sebagaimana mestinya.

Salawat dan salam atas junjungan Nabiullah Muhammad SAW.

Seboga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai beliau, para keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Dalam penyusunan skripsi ini tidak sedikit penulis menemui kesulitan, tetapi dengan segala usaha yang diiringi dengan doa, maka dapatlah penulis menghadapi kesulitan itu. Akhirnya penulis menyampaikan terimah kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Kedua orang tua penulis; Abdullah dan Hernisah yang selalu memberikan dukungan, baik berupa doa, moral maupun materi.

2. Bapak Drs. H Agung Wirawan M.Si beserta keluarganya yang telah memberikan bantuan baik berupa materi maupun moril selama dalam proses perkulihan.

3. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M. Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar;

(9)

vi

5. Bapak Markas Iskandar, S.Ag.,MPd.I sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan kepada penulis dalam rangka penulisan skripsi ini.

6. Semua Staf Tata Usaha Fakultas Agama Islam yang selalu melayani penulis dengan ikhlas, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya;

7. Sahabat dan kerabat penulis, yang telah benyak membantu dan memberikan motivasi kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada semua pihak yang tidak sempat disebut namanya satu persatu, penulis ucapkan banyak terima kasih untuk dukungan dan doannya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini

(10)

vii

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikan kita. Aamiin.

Jazaakumullahu Khaeran Katsiran,Billahi Fi Sabilil Haq, Fastabiqul Khaerat.

Makassar, 10 November 2014 Penulis

Malik Abdullah 1051 9009 2910

(11)

viii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI. ...iii

ABSTRAK. ...iv

KATA PENGANTAR. ... v

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR TABEL. ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah…... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penilitian...3

D. Manfaat Penilitian... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Optimalisasi Masjid ... 5

1. Pengertian Masjid . ... 5

2. Peran Masjid . ... 10

3. Fungsi Masjid ... 13

B. Masjid Sebagai Pusat Pembinaan ... 19

1. Masjid sebagai Pusat Ibadah . ... 22

2. Masjid sebagai Pembinaan Umat ... 23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

(12)

ix

A. Jenis Penelitian ...26

B. Lokasi dan Objek Penelitian...26

C. Variabel Penelitian ... 27

D. Devenisi Operasional Variabel ... 27

E. Populasi dan Sampel ... 28

F. Instrumen Penelitian... 30

G. Tehnik Pengumpulan Data... 31

H. Tehnik Analisis Data... 32

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian... 33

B. Peranan Masjid terhadap pembinaan umat di masjid raya kota Makassar... 37

C. Pengaruh Pembinaan Umat di Masjid Raya Kota Makassar ... 40

D. Faktor-faktor yang menjadi Tantangan dalam melakukan pembinaan umat di masjid raya kota makassar ... ...43

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN. ... 48

B. SARAN... 49

DAFTAR PUSTAKA... 50

(13)

x

Tabel III : Peranan Masjid Raya …... 39 Tabel IV : Jamaah Masjid yang Konsisten ... 41 Tabel V : Kegiatan Pembinaan Umat... 42

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Belakang

Agama islam adalah agama yang diwahyukan Allah SWT sejak Nabi Adam As. Sampai pada nabi Muhammad SAW yang akan menjadikan pemeluknya bahagia di dunia dan di akhirat. Kejayaan peradaban islam dimasa Rasulullah SAW dan juga jatuhnya kejayaan itu seperti sebuah kisah yang tidak pernah berakhir. Meski demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya untuk ummat manusia ini, dan pencerahan terjadi disegala bidang dan seluruh dunia.

Masa kejayaan islam pertama telah menjadi bukti sejarah bahwa dengan mengamalkan ajaran Alquran umat islam se ndiri akan menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan diatas dunia ini.

Namun seiring dengan perkembangan zaman pola hidup masyarakat juga ikut berubah yang ditandai dengan munculnya berbagai sarana dan media elektronik yang menjadikan kehidupan masyarakat menjadi lebih kompleks. Hal ini merupakan salah satu dari tanda kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Ummat islam sudah mulai tenggelam dengan kesibukan duniawi mereka. Mesjid yang dulunya penuh oleh ummat islam yang beramai ramai menjalankan ibadah sekarang mulai jarang kita jumpai mesjid yang penuh oleh jamaanya ditiap pelaksanaan shalat lima waktu.

(15)

Peradaban islam pada masa Nabi SAW sangatlah luas, mesjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat beribadah, tetapi juga menjadi institusi social yang berperan penting dalam membangun pendidikan, ekonomi, politik ummat yang berkembang pada masa tersebut.

Pada masa klasik Islam, masjid mempunyai fungsi yang jauh lebih besar dan bervariasi dibandingkan fungsinya yang sekarang. Disamping sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial dan politik umat Islam. Lebih dari itu, masjid adalah lembaga pendidikan semenjak masa paling awal Islam. Masjid pula yang menjadi pilar utama pembangunan peradaban pada suatu negeri. Inilah yang dicontohkan Rasulullah ketika pertama kali beliau menginjakan kakinya di Madinah.

Praktek Rasulullah ini menjadi panutan bagi khalifah dan penguasa muslim sesudahnya. Pembangunan masjid terus berkembang di daerah- daerah kekuasaan Islam. Setiap kota memiliki sejumlah masjid, sebab pembangunannya tidak saja dilakukan penguasa resmi, tetapi juga oleh para bangsawan, hartawan dan swadaya masyarakat.

Akan tetapi hal ini sangat berbeda dengan fungsi mesjid pada zaman sekarang peranan mesjid dalam menyelesaikan permasalahan social keagamaan semakin mengalami kemunduran. Begitu banyak mesjid yang dibangun hanya sebagai symbol ketimbang menjadi sarana untuk membangun ummat islam.

Krisis peranan mesjid perlu dicermati sehingga Mesjid tidak menjadi saksi bias dalam hinggar-binggar perubahan social ummatnya. Mesjid

(16)

3

perlu dilihat kembali sebagai agen transformasi ummat dengan memperluas peranan dan fungsinya yang tidak lagi sebatas shaf-shaf shalat yang kosong tamapa jamaah. Dengan dimikian, akan terbuka peluang untu koptimalisasi peran mesjid dimasyarakat.

Atas dasar pemikiran-pemikiran tersebut dan mengingat bahwa masjid memegang peranan penting dalam perkembangan ummat islam, maka kami bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul“

Optimalisasi Mesjid Sebagai Pusat Pembinaan Ummat Di Masjid Raya Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian latar belakang di atas maka permasalahan dalam penilitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana Optimalisasi Mesjid terhadap pembinaan umat di Masjid Raya Kota Makassar?

2. Bagaimana tantangan dan peluang masjid terhadap Pembinaan Umat Islam di Masjid Raya Kota Makassar?

3. Apa Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan peran Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Islam di Kota Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penilitian yang hendak dicapai oleh peniliti sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran dalam penilitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui optimalisasi Mesjid terhadap pembinaan umat di Masjid Raya Kota Makassar

(17)

2. Untuk mengetahui tantangan dan peluang Peran masjid terhadap Pembinaan Umat Islam di Masjid Raya Kota Makassar

3. Untuk mengetahui Usaha-Usaha yang harus dilakukan untuk meningkatkan peran Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat Islam di Kota Makassar .

D. Manfaat Penilitian

Selain dari tujuan tersebut di atas, penelitian ini juga memiliki manfaat yaitu:

1. Untuk mengemukakan dan memberikan buah pikiran kepada para pembaca, pendidik serta kepada khalayak umum tentang Optimalisasi Masjid Sebagai Pusat Pembinaan Umat di Kota Makassar.

2. Untuk dapat memilih dan menetapkan langkah-langkah yang tetap dalam pengoptimalisasian Masjid Seabagai Pusat Pembinaan Umat Di daerah Manasaja.

3. Sebagai bahan Informasi bagi umat Islam di Kota Makassar tentang pentingnya peranan masjid bagi Umat Islam.

(18)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Optimalisasi Masjid 1. Pengertian Masjid

Sepanjang ajaran dan sejarah Islam, masjid mempunyai kedudukan yang sangat penting, sehingga ketika Rasulullah saw hijrah dari Mekah ke Madinah, maka bangunan masjidlah yang paling pertama beliau dirikan sebelum mendirikan bangunan-bangunan lainnya, baik ketika sampai di Quba maupun dikala tiba di Madinah, yaitu pada suatu tempat di mana unta yang beliau naiki berhenti dan kemudian meniarap, dan di tempat itulah Masjid didirikan.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻰَﻟِإ ِد َﻼِﺑْﻟا ﱡبَﺣَأ َلﺎَﻗ َمﱠﻠَﺳ َو ِﮫْﯾَﻠَﻋ ُﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِﱠﷲ َلوُﺳَر ﱠنَأ َةَرْﯾَرُھ ﻲِﺑ

َأ

ْنَﻋ (يرﺎﺧﺑﻟا هاور) ﺎَﮭُﻗا َوْﺳَأ ِﱠﷲ ﻰَﻟِإ ِد َﻼِﺑْﻟا ُضَﻐْﺑَأ َو ﺎَھُدِﺟﺎَﺳَﻣ

Artinya:

“Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR.

Bukhari).

Melihat Hadits ini bahwa Kedudukan masjid sangat penting, karena masjid merupakan tempat ibadat umat Islam, baik pada waktu Rasulullah saw masih hidup, maupun pada zaman-zaman keemasan Islam di masa

(19)

yang lampau, bahkan keberadaannya sampai saat sekarang bahkan akan terus dipakai sampai di masa yang akan datang sampai kiamat kelak.

Meskipun dalam arti secara umum, yang dinamakan masjid adalah tempat shalat, terutama shalat berjama'ahlima waktu dan shalat jum'ah, namun sesungguhnya masjid bukanlah semata-mata berfungsi sebagai tempat shalat saja. Shalat adalah ibadah, karena tu masjid merupakan tempat umat Islam melakukan shalat, baik yang bernilai fardlu maupun yang bernilai sunnah, baik secara berjama‟ah bersama-sama maupun munfaridl/sendiri-sendiri.

Rasulullah SAW biasa shalat di mana saja apabila waktunya sudah datang waktu shalat. Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW,

ْﺖَﻟﺎَﻗ َﻤﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ ﻦﻌ

(يرﺎﺧﺑﻟا هاور) ًروُﮭَط َو اًدِﺟْﺳَﻣ ُض ْرَﻷْا َﻲِﻟ ْتَﻠِﻌُﺟ َو

Artinya:

Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri” (HR. Bukhari).

Akan tetapi sebagaimana telah diuraikan di atas, makna ibadah mengandung arti yang dalam dan luas sekali.Ibadah bukan semata-mata hanya untuk sujud saja.

(20)

7

Sidi Gazalba (1994: 118) berpendapat, sujud adalah pengakuan ibadah, yaitu pernyataan pengabdian lahir yang dalam sekali.Setelah iman dimiliki jiwa, maka lidah mengucapkan ikrar keyakinan sebagai pernyataan dari milik ruhaniah itu.Setelah lidah menyatakan kata keyakinan, jasmani menyatakan gerak keyakinan dengan sujud dalam shalat. Sujud memberikan makna bahwa apa yang diucapkan oleh lidah bukanlah kata- kata kosong belaka.

Kesaksian atau pengakuan lidah diakui oleh seluruh jasmani manusia dalam bentuk gerak lahir, menyambung gerak batin yang mengakui dan meyakini iman. Hanya kepada Tuhanlah satu-satunya muslim sujud, dan tidak kepada yang lain, tidak kepada satupun dalam alam ini. Jadi seluruh bumi adalah tempat sujud kepada Tuhan.Ini berarti seluruh bumi adalah tempat untuk memperhamba diri pada Tuhan.Karena bagi setiap muslim seluruh punggung bumi yang bundar ini tempat dia melakukan shalat, sesuai dengan hadits dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : telah bersabda Rasulullah SAW

َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ َلﻮُﺳَر ﱠنَأ :

ٌدِﺟْﺳَﻣ ﺎَﮭﱡﻠُﻛ ُض ْرَ ْﻷا

َمﺎﱠﻣَﺣْﻟا َو َةَرَﺑْﻘَﻣْﻟا ﱠﻻِإ

Artinya:

“Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali kuburan dan WC”.(H.R Bukhari).

(يرﺎﺧﺑﻟا هاور)

(21)

Masjid adalah tempat beribadah.Masjid tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, karena Masjid merupakan bentuk ketundukan umat kepada Allah swt.Kata masjid terulang dua puluh delapan kali dalam Al- Qur’an.Salah satunya dalam (QS. At-Taubah : 18), yang berbunyi:

















































Terjemahnya,

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.(

Kementrian Agama RI : 2011: 189 )

Secara bahasa Masjid berasal dari sajadah-sujud artinya patuh, taat dan tunduk dengan penuh hormat.Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi atau bersujud ini adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari makna-makna tersebut.Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk sholat dinamai Masjid, ‘tempat bersujud’.Dalam pengertian sehari-hari, Masjid bangunan tempat sholat kaum Muslim.Tapi karna akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat Masjid menjadi tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah swt.

(22)

9

Masjid sangat penting sebagai sarana & tempat beribadah umat Islam.Masjid merupakan sentral berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Islam.Bersimpuh dan bersujud kepada-Nya di dalam Masjid.

Allah berfirman dalam QS. Al-Jin (72) ayat 18 yang berbunyi ;



















Terjemahnya :

“sesungguhnya Masjid-Masjid itu adalah milik Allah, karena itu janganlah menyembah selain Allah Sesuatupun”.( Kementrian Agama RI : 2011: 573 )

Alang (1992 : 12) mengatakan bahwa :

Masjid adalah Rumah peribadatan kaum muslimin. Di situ mereka mengerjakan shalat berjamaah dan sholat jum’at, Zikir, menyebut dengan mengingat Allah serta memohon doa kepadanya. Di situ mereka membaca, belajardan mengajarkan kitapnsuci Al- Quran.Setiap waktu mereka melaksanakan shalat jum’at dengan jama’ah yang lebih ramai.

Kita mengenal bahwa Dar Al-Arqam merupakan tempat pertama berkumpulnya umat islam beserta Nabi Muhammad saw.untuk belajar hukum-hukum dari dasar-dasar agama Islam. Sebenarnya rumah Arqam merupakan lembaga pendidikan pertamah atau madrasah yang pertama dalam islam dan guru yang mengajar di lembaga tersebut adalah Nabi Muhammad saw. Membangun sebuah Masjid.

Al-Huda( 2007: 98 )memberi komentar bahwa :

(23)

Masjid adalah perkataan bahasa Arab yang bermaksud tempat sujud.Masjid ialah tempat beribadat yang khusus, seperti solat dan iktikaf, bagi orang Islam.Bangunan ini juga merupakan pusat kebudayaan, muamalat, dan perkembangan dakwah Islamiah, serta pusat aktiviti umat Islam.Masjid tidak mempunyai rupa bentuk yang tetap, tetapi bergantung kepada budaya masyarakat Islam setempat.Dari sudut bahasa,”masjid” bermaksud tempat bersujud.

Jika kita melakukan pembacaan secara mendalam, masjid bukan hanya sekedar tempat sujud dan sarana penyucian. Di sini kata Masjid juga tak lagi hanya berarti bangunan tempat sholat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudhu tetapi kata Masjid di sini berarti jaga tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepatuhan Allah swt

2.Peran Masjid

Masjid menjadi bagian utama dalam pembinaan umat dan masyarakat selanjutnya.Ini menunjukkan bahwa masjid menduduki tempat sangat penting dalam rangka membina pribadi dan masyarakat guna membantu pribadi dan masyarakat yang Islami.

Mungkin yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana masjid bisa berperan sebegitu jauhnya dalam mengubah masyarakat yang tadinya jahiliah menjadi masyarakat yang penuh dengan kecemerlangan, baik dari segi peradaban, pemikiran maupun kekuatan. Ternyata fungsi masjid pada zaman Rasulullah yang mulia bukanlah sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah ritual semata-sholat-tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai madrasah bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan tempat

(24)

11

untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah, sebagi tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.

Hal ini akan sangat berbeda apabila kita lihat dan bandingkan tentang peranan masjid di zaman sekarang ini, akan sangat ironis bahkan shaf yang hanya terdiri dari satu dua baris yang kadang tidak penuh, akan kita temui di seluruh pelosok kota maupun desa-desa kita. Ini menjadi pemandangan yang sangat biasa saat kehidupan duniawi ini-yang memang memperdayakan-telah menyita perhatian kita terhadap kehidupan yang kekal abadi kelak (alam akhirat).

Inilah, sebuah tugas yang maha berat yang telah Allah amanahkan kepada kita yang telah dikaruniai hidayah untuk kembali menyelami hakikat tentang kedalaman dan kemuliaan al Islam.Kemudian secara sinergis pengetahuan-pengetahuan kita tentang Islam kita tularkan kepada saudara-saudara kita.Agar suasana masjid-masjid yang kering dan terasa gersang kembali hidup dan makmur oleh kehadiran ummatnya.

Sangat ironis memang, dengan keadaan negeri kita yang notabene disandangkan sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya muslim bahkan terbesar didunia tetapi kualitasnya masih perlu dipertanyakan.

Hal ini akan semakin jelas terlihat apabila kita ditelusuri akan kembali kepada pemahaman penduduk awam pada umumnya mengenai agama- dien- mereka. Banyak dari mereka yang mengartikan Islam itu hanya

(25)

identik dengan amalan-amalan yang bersifat mahdhoh saja, seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Padahal hakikatnya Islam ini diturunkan tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia dengan aturan-aturan (syari 'at) yang telah dibawa oleh manusia teragung, Rasulullah SAW.

Muhammad Munir Mursyi, (1982: 199) mengatakan bahwa : Masa- masa awal perkembangan Islam bisa kita teladani dalam soal ini, di mana masjid menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam.

Akan tetapi masjid yang seharusnya menjadi bangunan yang merupakan sentral dari segala aktivitas yang dilakukan ummat, kini dipandang hanya sebagai tempat ibadah-sholat.Peran yang sudah amat sangat direduksi dari peran masjid yang sesungguhnya.Mungkin inilah salah satu penyebab ummat ini belum bisa bersatu padu dalam menaklukkan musuh-musuhnya, merasakan nikmatnya ukhuwah dalam berislam tanpa memperdulikan apayang namanya perbedaan suku, ras, bahasa bahkan batasan geografi yang memisahkan dimensi waktu dan tempat sekalipun. Tugas kita adalah mengembalikan kejayaan Islam Ini dengan ummatnya melalui suatu gerakan pencerahan terhadap pemahaman Islam secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong apalagi parsial. Sehingga pada akhirnya akan tumbuh kesadaran dari masing- masing pribadi muslim untuk kembali kepada Islam secara kaffah, tanpa paksaan sedikit pun.

(26)

13

Tujuan utama penciptaan manusia ini ialah supaya manusia mengabdikan diri kepada Allah, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Adz-dzariyat:56















Terjemahnya :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.( Kementrian Agama RI : 2011:523 )

Berdasarkan ayat diatas bahwa Masjid adalah tempat bersujudnya makhluk kepada ALLAH SWT pencipta alam semesta.Penampilan dan isi masjid mencerminkan derajat hubungan manusia dengan ALLAH, dan antara manusia dengan manusia. Pada umumnya wajah masjid akan bergantung kepada taraf iman manusia, makin tinggi iman maka makin makmurlah masjid itu ataupun sebaliknya.

3. Fungsi Masjid

Di dalam Islam, masjid merupakan suatu institusi mulia yang digunakan oleh umat Islam untuk beribadah bagi membuktikan ketaatan dan pengabdian yang ikhlas kepada Allah.Allah s.w.t berfirman yang bermaksud.“Dan bahwa sesungguhnya masjid-masjid itu untuk (ibadat kepada) Allah semata-mata; maka janganlah kamu seru dan sembah sesiapa pun bersama-sama Allah”.

(27)

Berdasarkan Ghafani Awang (2007:127) pula, fungsi masjid ketika zaman Rasulullah s.a.w merupakan tempat penyebaran dakwah dan ilmu Islam.Masjid juga dijadikan tumpuan dan pusat bagi sebarang penyelesaian masalah individu dan masyarakat.Walaupun bertempatkan masjid yang serba sederhana, juga digunakan oleh Rasulullah s.a.w untuk menerima dan berjumpa dengan duta-duta asing dan tempat yang mana pemimpin-pemimpin Islam bersidang selain digunakan sebagai madrasah dan tempat pengajian bagi menuntut ilmu tentang ajaran Islam.

Ketika menggambarkan fungsi utama masjid selain tempat ibadat, Ghafani Awang Teh (2007:200) berkata:

“Sejarah masjid Quba di Madinah menjadi bukti sebagai institusi pendidikan apabila ianya didirikan oleh Rasulullah s.a.w sendiri sebagai medium untuk baginda s.a.w memberi khutbah dan halaqah sementara para sahabat duduk mengelilingi baginda dan melakukan soal jawab berkaitan urusan agama sehari-hari.

Begitulah juga fungsi dan peranan masjid-masjid utama yang lain seperti Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Kufah, Masjid Basrah dan banyak lagi” Institusi masjid merupakan satu aset penting dalam sejarah kebangkitan Islam. Sebagai salah satu pusat yang berperanan penting kepada simbolik wilayah Islam, institusi masjid terus berfungsi sebagaimana fungsi-fungsinya yang universal.Dalam era globalisasi ini, fungsi dan peranan institusi masjid dituntut supaya berperanan lebih luas sesuai dengan peredaran masa.Tidak wajar institusi masjid yang dahulunya menjadi pusat pengembangan syiar Islam dikecilkan skopnya sebagai hanya sekadar rumah ibadat semata.

(28)

15

Dalam usaha memakmurkan masjid, Ghafani Awang Teh (2008:30) mencadangkan beberapa langkah praktikal antaranya:

“Menyediakan maklumat berkenaan sejarah penubuhan masjid, menyediakan senibina yang menarik, persekitaran yang bersih dan ceria, kemudahan tandas yang selesa, menyediakan risalah mengenai Islam dan fungsi –fungsi dalaman masjid, menyediakan kemudahan tempat letak kenderaan yang selesa, menjalankan promosi yang luas kepada masyarakat setempat dan pelancong asing, menyediakan perkhidmatan pemandu pelancong dan menyediakan ruangan pameran serta galeri.”

Di Malaysia khususnya, kita tidak dapat menafikan keindahan seni bina masjid-masjid yang memaparkan budaya dan etnik masyarakat setempat. Masjid-masjid seperti Masjid Negara, Masjid Wilayah Persekutuan, Masjid Putra di Putrajaya, Masjid Terapong-Tengku Tengah Zaharah Kuala Terengganu, Masjid Kristal Jerteh Terengganu, Masjid Ubudiah Kuala Kangsar, Masjid Kg Laut Kelantan, Masjid Ulu Melaka Melaka dan lain-lain karena mereka menjunjung tinggi Firman Allah SWT dalam (QS At Taubah: 18). Yang berbunyi :

















































Terjemahnya :

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.( Kementrian Agama RI : 2011: 189 )

(29)

Adapun tujuan menjadikan institusi masjid sebagai destinasi pelancongan yang menjadi matlamat utama kebanyakan pihak dikhuatiri tersasar daripada fungsi asal kewujudan masjid.

Hal ini adalah kerana kewujudan dan pembinaan masjid dilihat lebih menfokuskan kepada seni binanya yang bakal mengkagumkan para pelancong daripada pengisian rohani dan kesan yang boleh dilakukan kepada masyarakat setempat.

Perbelanjaan jutaan ringgit untuk membina masjid dengan tujuan bermegah-megah adalah satu perbuatan yang sia-sia, membazir dan menunjukkan sifat yang berlebih-lebihan.. Imam Bukhori meriwayatkan dari Anas bahawa Rasulullah s.a.w bersabda,

ﻰّﺗﺣ ُﺔَﻋﺎﱠﺳﻟا ُموُﻘَﺗ َﻻ : ﱠﻲِﺑﱠﻧﻟا ﱠنِإ : ضر نﻋ

ُسﺎﱠﻧﻟا ﻰَھﺎَﺑَﺗَﯾ

Artinya:

Anas ibn Malik r.a. menerangkan: Bahwasanya Nabi s.a.w.

bersabda: “Tiadalah terjadi kiamat, sehingga manusia bermegah-megahan dan berlebih-lebihan dalam urusan- urusan pembinaan mesjid” (H.R.Bukhari).

Sikap berlebih-lebihan ini kadang-kala dilihat menyerupai kaum Yahudi ataupun Nasrani dalam membangunkan tempat ibadat mereka, lebih besar belanja dan keluasannya, lebih tersohor nama masjid tersebut.

(يرﺎﺧﺑﻟا هاور)

(30)

17

Ibnu Abbas berkata: “Sungguh kalian akan memperindah dan menghiasinya (masjid) sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani memperindah dan menghiasi tempat ibadah mereka.

Maka tidaklah harian apabila ramai pihak sehingga kini masih meragui masjid-masjid di Malaysia perihal fungsi dan peranannya dalam mencontohi kegemilangan institusi masjid pada zaman kegemilangan Islam walaupun telah menelan belanja yang besar.

Rasulullah s.a.w telah mengingatkan agar tidak menempatkan kubur di perkarangan masjid kerana ianya merupakan perbuatan Yahudi dan Nasrani, ianya juga dari sudut hikmah demi mengelak menjadi sarana mempersekutukan Allah s.w.t dengan para penghuni kuburan-kuburan tersebut, yang mana diantara akibatnya, orang-orang berkeyakinan bahwa para penghuni kuburan yang dikuburkan di masjid-masjid itu boleh memberikan syafaat, manfaat dan sebagainya. Hal ini jelas berbeda dengan Masjid Nabawi yang dibesarkan dari pada keluasan asal demi menampung jemaah yang semakin ramai.

Tidak keterlaluan anggapan bahwa perkara ini dipandang enteng oleh jabatan agama Islam negeri (JAIN) apabila masih banyak kelihatan masjid-masjid yang terdapat kuburan di perkarangan masjid dewasa ini tanpa ada sebarang tindakan diambil.Ada juga yang mengambil kesempatan menggunakan kuburan orang-orang ternama yang berada di perkarangan masjid sebagai salah satu promosi kepada masjid berkenaan.

(31)

Antara masjid yang terkenal yang boleh dijadikan contoh dalam isu ini ialah Masjid Melayu,Bandar Taiping (Masjid Lama Taiping), Masjid Pondok Upeh,Balik Pulau, Masjid Kampung Kling,Melaka, Masjid Ubudiah Kuala Kangsar, Masjid Mengabang Telipot, Masjid Langgar, Masjid Kampung Telaga Nenas, Masjid Tok Selehor, dan banyak lagi. Mengapa ianya menjadi isu yang penting untuk dibangkitkan ialah kerana fungsi utama masjid sebagai tempat ibadat tercemar dengan keadaan ini apabila sudah jelas amaran Allah melalui firmanNya yang bermaksud, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka jangalah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”

Di samping isu dan peranan masjid masa kini, kita juga tidak dapat menafikan wujud sesetengah masjid yang bijak dalam menggunakan dana-dana yang diperolehi dalam melaksanakan program atau aktiviti- aktiviti yang bermanfaat. Masjid juga berfungsi sebagai penerima sumbangan harta fizikal dalam pelbagai bentuk termasuklah peralatan hinggalah tanah dan bangunan yang diwakafkan oleh pihak-pihak tertentu.

Oleh itu apabila semua sumbangan dana dan harta yang diwakafkan ini digabungkan, maka sebahagian masjid itu mempunyai dana dan harta yang besar nilainya. Apa yang menjadi kerisauan semua pihak ialah apabila banyak harta wakaf masjid yang terbiar tanpa diusahakan untuk mendatangkan faedah yang diharapkan.

(32)

19

Perkara ini perlu diambil serius supaya fungsi masjid itu berkembang sesuai dengan peredaran zaman dan pihak pengurusan masjid dituntut bersifat kreatif dan inovatif dalam merancang aktiviti dan hala tuju masjid sebagai pusat pengembangan syiar Islam seperti yang pernah diterajuinya suatu masa dahulu dan sehinggalah hari ini. Masjid tidak seharusnya hanya bertumpu pada hal ehwal ibadat semata, contohnya wujud beberapa masjid yang hanya mengisi jadual aktiviti bulanan mereka dengan solat hajat secara berjemaah pada isu-isu yang dirasakan perlu, atau bacaan yasin dan tahlil yang dibuat secara mingguan dan lain-lain aktiviti tanpa merancang program-program yang mampu lebih mendekatkan masyarakat terutamanya remaja dengan masjid.

Tidaklah heran jika masjid merupakan asas utama yang terpenting bagi pembentukan masyarakat Islam karena masyarakat muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, akidah, dan tatanan Islam. Hal ini tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali melalui semangat masjid. Di antara sistem dan prinsip ialah tersebarnya ikatan ukhuwwah dan mahabbah sesama kaum muslim, semangat persamaan dan keadilan sesama muslim, dan terpadunya beragam latar belakang kaum muslim dalam suatu kesatuan yang kokoh.

B. Masjid sebagai Pusat Pembinaan

Masjid adalah tempat untuk beribadah.Ibadah di sini bukan berarti solat semata-mata, tetapi mencakupi ruang lingkup ibadah yang lebih

(33)

luas. Inilah fungsi utama masjid seperti yang dijelaskan di dalam firman Allah yang bermaksud, "Nur hidayah petunjuk Allah bersinar dengan nyata di masjid sebagai tempat ibadat yang diperintah oleh Allah supaya dimuliakan dan disebut serta diperingat nama Allah padanya; di situ juga dikerjakan ibadat memuji Allah pada waktu pagi dan petang. Ibadat dikerjakan oleh orang yang kuat imannya, yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual beli daripada menyebut serta mengingati Allah dan mendirikan solat serta mengeluarkan zakat; mereka takut hari kiamat yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan."

Menurut Alang (2005: 38), ketika menghuraikan ayat ini beliau menyatakan:

”Termasuk di dalam maksud ”supaya dimuliakan dan disebut serta diperingat nama Allah padanya” ialah dengan ditunaikan solat sama ada fardhu atau sunat, membaca al-Quran, bertasbih, bertahlil dan zikir-zikir yang lain,proses pengajaran dan pembelajaran, bermuzakarah, iktikaf dan ibadat-ibadat lain yang boleh dilakukan di masjid.

Jelas bahwa keutamaan masjid seperti yang dijelaskan oleh ayat ini bukan hanya untuk ditunaikan solat semata-mata, tetapi mencakupi seluruh aspek ibadah yang lain. Dalam arti kata lain, ia merangkumi segala aktiviti umat Islam yang boleh membentuk nilai ketakwaan. Di atas dasar inilah Rasulullah menjadikan agenda membina masjid sebagai perkara pertama yang dilakukan selepas baginda sampai di Madinah.Justru fungsi utama masjid ialah sebagai sebuah institusi umat Islam yang berusaha membentuk dan memupuk nilai taqwa di dalam diri

(34)

21

umat Islam.Firman Allah s.w.t yang bermaksud,"Janganlah engkau sembahyang di masjid itu yang dibina oleh orang munafik selama-lamanya kerana sesungguhnya Masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa dari mula wujudnya, maka sudah sepatutnya engkau sembahyang padanya.

Kemudian, beliau menguraikan beberapa kegiatan-kegiatan yang telah dimainkan oleh masjid di zaman Rasulullah s.a.w:

1. Fungsi Ibadah: Solat berjemaah lima kali sehari semalam merupakan tonggak segala aktivitas lain.

2. Pusat pengajaran dan pembelajaran 3. Pusat Pentadabiran

4. Pusat Kehakiman: Penduduk Madinah mengajukan masalah-masalah mereka kepada Rasulullah s.a.w di masjid dan Baginda juga telah menyelesaikan banyak pertelingkahan di masjid.

5. Pusat Penerangan dan Maklumat: Khutbah memainkan peranan yang penting bagi menyalurkan ilmu, maklumat dan nasihat.

6. Pusat Perhubungan: Rasulullah bukan sahaja mengadakan perhubungan dengan sahabat-sahabat baginda bahkan melayani rombongan dan pengunjung-pengunjung bukan Islam dengan baik.

7. Pusat Kebajikan: Golongan fakir miskin ditempatkan di suatu ruang dalam masjid Nabawi.

8. Pusat Rawatan dan Kecemasan: Selepas peperangan khususnya, mereka yang luka turut dirawat di masjid.

9. Pusat Interaksi Masyarakat

(35)

Oleh sebab itu, peranan yang dimainkan oleh masjid nabawi yang dibina oleh Rasulullah s.a.w bukan sekadar sebagai tempat untuk ditunaikan solat semata-mata.Masjid di zaman Rasulullah telah berfungsi sebagai nadi penggerak ummah ketika itu. Menyentuh tentang hal ini, menurut Halimaton Saadiah (1997: 98), ”Daripada perjalanan kehidupan Rasulullah s.a.w, umat Islam perlu mengambil iktibar bahawa masjid boleh berfungsi lebih daripada apa yang biasa dianggap kini, iaitu masjid sebagai rumah ibadat bagi umat Islam”.

Achmad Fanani (2009 : 29) mengatakan bahwa apabila dilihat dari fungsi dan peran masjid rumah Rasul terhadap perkembungan kehidupan masyarakat muslim, terjadi tiga rekaman perubahan:

1. Masjid menjadi tempat berlatih disiplin, persiapan kelahiran sebuah tatanan baru, baik latihan ibadah, musyawarah dann sebagainya.

2. Masjid sebagai kegiatan pengajaran baca tulis alquran 3. Masjid sebagai tempat sidang perutusan kabilah.

Secara sederhana dapat dimaknai bahwa masjid merupaka alat pemantau yang memberikan petunjuk apakah umat manusia itu dalam keadaan beriman tebal atau tipis. Peran Masjid bagi Pusat Pembinaan Umat Islam tersebut adalah

1. Masjid Sebagai Pusat Ibadah

Kehidupan umat Islam yang tetap cenderung mempertahankan eksistensinya sebagai hamba ALLAH dengan memanfaatkan masjid sebagai sarana melaksanakan ibadah menunjukkan betapa peranan

(36)

23

masjid sangat strategis, khususnya berkaitan dengan fungsinya sebagai Pusat Ibadah. Fungsi yang dimaksud, adalah sebagai berikut :

a. Fungsi masjid sebagai tempat sujud atau penghambaan diri kepada Sang Khaliq Allah SWT, dengan menjadikan masjid sebagai tempat berkumpulnya umat Islam mendirikan shalat fardlu 5 (lima) waktu serta shalat sunnat, seperti ; Tarwih, witir dan lain – lain ;

b. Fungsi masjid sebagai tempatI’tikaf, berzikir, pengajian dan membaca Al Qur’an ;

c. Fungsi masjid untuk kegiatan ibadah sosial atau Muamalah, seperti ; penerimaan, penampungan dan pengelolaan dana zakat, serta ;

d. Dapat berfungsi sebagaiBaitul Mal. 2. Masjid sebagai Pembinaan Umat

Jika ditinjau dari strategi pembinaan umat, maka dapat dikatakan bahwa Masjid merupakan wadah atau wahana dakwah islamiyah yang murni institusional keagamaan yang melekat pada agama islam itu sendiri.

Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh M. Arifin (1995: 119- 120) bahwa :

Masjid menjadi sarana dakwah dan tabligh yang Islami di samping berperan sentral dalam pembinaan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam juga diharapkan dapat menyadarkan umat Islam dalam rangka menghayati, memahami, dan mengamalkan ajaran agama yang kontekstual sehingga dapat menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan yang meneladani kelompok umat Islam.

Semakin berkembang dan tersebarnya jumlah masjid dari perkotaan sampai ke pelosok desa, merupakan potensi utama dalam

(37)

mengoptimalkan peranan masjid sebagai sarana pembinaan umat, dengan mengimplementasikan fungsi – fungsi masjid sebagai berikut : a. Fungsi persatuan danUkhuwah Islamiyah, maksudnya adalah dengan

berkumpulnya umat Islam dalam rangka melaksankan shalat jama’ah di masjid akan mengarahkan segenap Muslimin dan Muslimat untuk semakin memperkokoh keutuhan persatuan dan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) ;

b. Fungsi masjid sebagai Pewaris nilai – nilai ajaran agama Islam, dengan memposisikan masjid menjadi tempat pengajaran, pendidikan Islam dan pengembangan ilmu ;

c. Fungsi Dakwah, yakni masjid dapat dimanfaatkan para Da’i(Muballigh dan Muballighat) untuk memberikan fatwa atau nasehat agama kepada segenap umat Islam di sekitarnya ;

d. Sebagai penghimpun khasanah ilmu pengetahuan dengan menempatkan sarana perpustakaan ;

e. Masjid dapat berfungsi sebagai tempat bermusyawarah terhadap berbagai persoalan umat;

Berdasarkan uraian di atas, maka saatnya kita mengoptimalkan peranan masjid secara utuh baik sebagai pusat ibadah maupun sebagai sarana pembinaan umat dengan tetap berpedoman pada Al Qur’an dan As Sunnah.Di dalam Al Qur’an banyak sekali kandungan ayat – ayat tentang ibadah, muamalah, kemasyarakatan, ekonomi, hukum dan keadilan, serta hubungan si kaya dengan si miskin dan lain – lain.Dengan

(38)

25

demikian, upaya mengembalikan peranan masjid merupakan persoalan yang sangat penting. Pemahaman yang keliru terhadap Dienul Islamserta bagaimana mengembalikan peranan masjid harus kita luruskan sehingga masjid kembali berperan dalam mengembangkan nilai – nilai ukhrawi dan duniawi yang Islami, dan pada gilirannya mampu pula berperan sebagai pengendali perubahan social – budaya masyarakat sesuai zamannya.

Kebulatan tekad serta keberpihakan proaktif kita semua terhadap hal di atas, sangat menentukan keberhasilan akan ketulusan niat dan keluhuran cita – cita terhadap upaya pelaksanaan dan penegakan syiar Islam.

(39)

26 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penulis memberikan gambaran tentang objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagai mana adanya, dengan kata lain penulis memberikan gambaran sesuai dengan apa yang didapatkan di lapangan.

Margono (1997: 33) mendefinisikan bahwa :

Metode kualitatif sebagai prosedur peneliti yang menghasilkan data kualitatif berupa ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang terobsesi dan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung pada pengamatan manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang yang ada dilingkungan sekitarnya.

Selain ituTanzeh (2009:100) juga mengemukakan bahwa:

Metode kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkap gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami sebagai sumber langsung dengan instrument kunci peneltian itu sendiri.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi atau tempat penulis mengadakan penelitian yaitu di Masjid Raya Makassar, dan Objek penelitian adalah Pengurus, remaja dan jamaah masjid.

C. Variabel Penelitian

Suatu penelitian dimaksudkan untuk menemukan jawaban masalah yang dirumuskan, identivikasi variable penelitian merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh peneliti untuk memastikan variabel-variabel apa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini.

(40)

27

Variable yang diteliti dalam penelitian ini adalah Masjid sebagai variable bebas dan pusat pembinaan umat sebagai variable terikat.

Menurut Arikunto (2010:161)

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.

D. Devinisi Operasional Variabel

Margono (1997: 40) mengemukakan bahwa :

Defenisi operasional variable dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup yang diteliti agar tidak terjadi salah penafsiran dalam penelitian dan untuk pengukuran atau pengamatan terhadap variable yang bersangkutan serta pengembangan instrument.

Untuk memudahkan pemahaman kita dan menghindari kesalahan pemahaman dalam pembahasan skripisi ini, maka dianggap perlu dikemukakan defenisi operasional variable yang dimaksud dalam skiripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Optimalisai Mesjid yang dimaksud adalah bimbingan akhlak kepada warga masyarakat yang ada di sekitar masjid tersebut dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pembinaan akhlak dengan pengoptimalisaian sebuah Masjid tersebut.

2. Pusat pembinaan umat yang dimaksud adalah dengan adanya kemudian masjid diperankan sebagaimana mestinya maka akan menjadi sebuah pusat pembinaan umat.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

2 4

(41)

Dalam suatu penelitian penentuan populasi merupakan salah-satu yang penting untuk mengetahui keberadaan hipotesis yang telah diajukan diperlukan juga data yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan.

Suharsimi Arikunto(2002: 108) mengatakan bahwa :

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel.

Berdasarkan definisi yang telah di kemukakan diatas. Dalam hal ini yang menjadi populasi penelitian adalah, pengurus masjid, remaja masjid dan jamaah masjid Raya Kota Makassar..Dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel I Keadaan Populasi

No Populasi Jeniskelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

1 Pengurus Masjid 25 19 44

2 Remaja Masjid 19 16 35

3 Jamaah Tetap 25 10 35

Jumlah 69 45 114

Sumber data: Masjid Raya Kota Makassar Tahun 2014 2.Sampel

Dalam suatu penelitian lapangan tidak setiap peneliti mampu menyelidiki seluruh objek yang ada. Hal tersebut disebabkan beberapa pertimbangan, misalnya keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga.Oleh karena itu, perlu adanya sampel sebagai solusi yang dianggap dapat mewakili kesuliruhan populasi.

(42)

29

Menurut Jalaluddin Rahmat (1998:78), mengemukakan bahwa sampel adalah bagian yang diamati dan dipelajari dari keseluruhan kumpulan objek penelitian.

Sedangkan menurut Wardi Bakhtiar (1997:83) menyatakan bahwa sampel adalah percontohan yang diambil dari populasi.

Dari beberapa pengertian diatas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan sampel adalah kelompok kecil yang dilibatkan dalam penelitian dan dianggap dapat mewakili secara logis dari seluruh objek yang menjadi populsi. Jadi pada hakikatnya sampel adalah sebahagian dari populasi.

Adapun cara penarikan sampel untuk mewakili populasi dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling sederhana yaitu dilakukan dengan cara undian yang diambil sebanyak 20%. Hal ini sesuai dengan pandangan yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1998:120) bahwa: bila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar, dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih.

Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka peneliti menetapkan jumlah sampel sebanyak 20% dari 114.

(43)

Tabel II KeadaanSampel

No Populasi Jeniskelamin Jumlah

Laki-laki Perempuan

1 Pengurus Masjid 5 4 9

2 Remaja Masjid 4 3 7

3 Jamaah Tetap 5 4 9

Jumlah 14 11 25

F. Instrumen Penelitian

Dalam upaya memperoleh data yang akurat, penulis menggunakan instrument penelitian. Eksistensi instrument dalam suatu penelitian menjadi sala satu unsur yang penting, karena berfungsi sebagai alat bantu atau sarana dalam mengumpulkan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dalam hal ini penulis menggunakan instrument penelitian sebagai berikut:

1. Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan atau lokasi penelitian. Observasi merupakan teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.

(Farhadi,1991:40).

Instrument yang digunakan adalah Observasi yaitu memperlihatkan sesuatu dengan mempergunaa mata. Observasi atau yang biasa juga di sebut dengan pengamatan. Meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi pengobservasian dapat di lakukan melalui pengamatan ,pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Penggunaan metode observasi

(44)

31

dimaksudkan untuk mengetahui Optimalisasi Masjid sebagai pusat pembinaan umat di masjid raya kota Makassar.

2. Pedoman Wawancara

Pengamatan di gunakan untuk menilai proses dalam setiap kegiatan pekerjaan yang akan di lakukan oleh ibu rumah tangga,dan memberikan pertanyaan sikap tentang suatu jawaban dinyatakan secara berskala.

Wawancara (disebut pula interview) adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan antara peneliti (atau orang yang ditugasi) dengan subyek penelitian atau responden atau sumber data. Dalam hal ini pewawancaramenggunakan percakapan sedemikian hingga yang diwawancara bersedia terbuka mengeluarkan pendapatnya. Biasanya yang diminta bukan kemampuan tetapi informasi mengenai sesuatu. (Budiono: 2003:

52)

Dijelaskan bahwa wawancara adalah situasi dimana terjadi interaksi antara pewawancara dan yang diwawancarai dengan pedoman wawancara berdasarkan pada hasil tugas/tes yang telah diberikan kepada yang diwawancarai. Wawancara ini digunakan untuk memperoleh data primer yang baik sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.

3. Pedoman dokumentasi.

Dokumentasi adalah catatan yang akhir atau bukti yang lalu setelah melakuka tahap-tahap mulai dari awal sampai akhir yang terjadi di lapangan dalam proses penelitian dan sebagai bukti atau gambaran dengan bukti yang sebenar-benarnya tentang keadaan kebenaran yang

(45)

ada di lapangan dengan menghadirkan dan mengadakan bukti misalnya gambar (foto), gambar hidup, sketsa dan lain-lainya.

Saya paling tradisi dan gemar penelitian dengan mengadakan dokumentasi pribadi untuk kalangan yang luas dan digunakan untuk mengacu pada setiap orang, pertama narasi yang dihasilkan oleh seorang individu yang menggambarkan tindakannya sendiri, pengalaman dan keyakinan. (Bogdan;1994:38)

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penulisan ini, maka penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Library Research(Studi Pustaka)

Library Research adalah mengumpulkan data dengan membaca buku-buku atau literature lain yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas. (Mardalis: 28)

Adapun tehnik yang digunakan dalam library research ini adalah sebagai berikut:

a. Kutipan langsung, yaitu penulis mengutip pendapat para ahli yang bersumber dari buku dan catatan atau data yang lainnya, tampa mengurangi susunan redaksinya.

b. Kutipan tidak langsung, yaitu penulis mengutip pendapan dari buku-buku atau mengambil ide dari suatu sumber dan penulis mengungkapkannya dalam kalimat penulis. Tetapi hanya mengambil garis-garis besarnya saja sehingga berbeda dengan aslinya.

2. Field Research(riset Penelitian)

(46)

33

Field Research adalah metode untuk menemukan secara spesifik dan realis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu saat di tengah-tengah kehidupan masyarakat atau suatu penelitian lapangan. (Winarno Surrahmad, 1987:238).

Adapun tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data field research adalah sebagai berikut:

a. Observasi, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung di lapangan dan mencatat secara sistematis mengenaihal yang dikaitkan dengan judul yang diangkat.

b. Interview, yaitu metode yang digunakan dengan menggunakan wawancara secara langsung dengan pengurus masjid, jamaah dan pendukung lainnya.

c. Dokumentasi, yaitu penulis mengumpulkan data melallui bahan tertulis, dikantor dan instansi pemerintah, informasi yang diperlukan dalam penelitian di Masjid Raya Kota Makassar.

d. Angket, yaitu kegiatan yang dilakukan dengan menyebarkan daftar pertanyaan yang disusun secara tertulis kepada para responden penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Untuk analisis kualitatif dilakukan dengan melihat hasil observasi selama

(47)

melakukan penelitian baik dari segi kerja sama kelompok, sikap Masyarakat, maupun kendala-kendala yang dihadapi oleh Masyarakat.

(48)

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian 1. Historical Masjid Raya Kota Makassar

Masjid adalah Rumah peribadatan kaum muslimin. Di situ mereka mengerjakan shalat berjamaah dan sholat jum’at, zikir, menyebut dengan mengingat Allah serta memohon doa kepadanya. Di situ mereka membaca, belajar dan mengajarkan kitap suci Al-Quran.Setiap waktu mereka melaksanakan shalat jum’at dengan jama’ah yang lebih ramai.

Tidak terkecuali dimasjid raya kota makassar. Masjid Raya Makassar merupakan sebuah masjid yang terletak di Makassar, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1947, dengan kapasitas tampung 2000 jamaah dengan kontruksi bangunan 1 lantai. Pada tahun 1957 bangunan masjid ditambah sehingga kapasitasnyamencapai 2500 jamaah.

Masjid ini merupakan masjid perjuangan, karena ditempat ini presiden pertama bapak soekarno mengadakan dialog dan berpidato dihadapan para ulama untuk mengajak bapak kahar muzakkar untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Di masjid ini pula dilakukan pengkaderan ulama, dan telah mencetak kader-kader ulama khususunya ulama sulawesi selatan.

Oleh karena usia dan kapasitas bangunan yang sudah tidak memadai lagi, sehingga pada tahun 1997 diputuskan agar melalukan perbaikan dan penambahn kapasitas. Namun didalam perjalanan

33

(49)

perencanaan keputusan tersebut diubah dengan pertimbangan bahwa masjid ini merupakan masjid perjuangan sekaligus Land Mark kota makassar khususnya dan sulawesi selatan pada umumnya menjadi perombakan dan pembangunan kembali masjid yang lebih representative dengan kapasitas tampung ditingkatkan tampung sampai kapasitas 300%

dari kapasitas semula. Dan pada tahun 1999 ditetapkan rencana pembangunan kembali yang di tandai dengan peletakan batu pertama pada bulan november 1999 oleh bapak gubernul sulawesi selatan H.Z.B.

Palaguna.

2. Maksud dan Tujuan

Pembangunan kembali masjid raya makassar menandai dan mengkukuhkan kembali bahwa masjid ini adalah masjid perjuangan yang harus terus di pertahankan dan dipelihara.

Dibangunnya kembali masjid raya raya makassar yang merupakan masjid kebanggaan masyarakat sulawesi selatan memberi nuansa islami yang lebih kuat bahwa masyarakat sulawesi selatan yang maroritas pemeluk agama islam kokoh dalam penegakan panji panji islam.

Disamping itu, pembangunan kembali masjid raya makassar dengan gaya desain yang memadukan khas parsia dan mediterania akan menjadikan bangunan ini sebagai Land Mark kota makassar.

3. Gambaran Umum Desain

Desain pembangunan masjid raya mesjid raya makassar dilakukan dengan pertimbangan letak, lahan yang tersedia dan aspek fungsinya

(50)

35

masjid raya makassar terletak di jantung kota makassar, sehingga dapat dipastikan bahwa masjid ini akan di kunjungi dari segala penjuru kota.

Oleh karena itu dibentuk bangunan utama dibuat secara simetris yang memberi kesan dapat di pandang dan masuk dari segala sisi.

Dengan segala keterbatasan lahan yang ada,dari luas total tanah : +/- 12.000 m2, Plasa dan tempat wudhu seluas 15.000 m2 dan selebihnya untuk area taman dan parkir.

4. Struktur Organisasi dan personalia majelis pengelola harian (MPH) Masjid Raya Kota Makassar

Adapun struktur organisasi dan personalia majelis pengelola harian Masjid raya Kota Makassar dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Ketua Umum : Muh. Sanusi Baco, Lc

Sekretaris Umum : Drs. H. Muhammad Said, M.pd Majelis pembangunan, ekonomi, pemeliharaan, dan penertiban.

Koordinator : Ir. H.M Pulu Niode

Ketua : Ir. H. Furqan Affandi

Sekretaris : Ir. H. Sam’un Saebe

Anggota : H. Mukhtar Nurjaya, SE, Msi.

Anggota : Drs. H. Adnan Bintang

Anggota : Syarifuddin

Anggota : Ir. H Fajruddin

Anggota : Ir. H Asri

Majelis ibadah, daqwah dan Humas.

(51)

Koordinator : H.M. Arsyad Daud

Ketua : Dr. H. Mustamin Arsyad,MA

Sekretaris : Drs. H.M Ishak Samad, MA Anggota : Prof. Dr. H. Basir Syam, MA Anggota : Drs. H. Zain Irwanto, Mag

Anggota : H.M Idrus

Anggota : H. Abd. Razak Aswan

Anggota : Drs. H Idris Adras

Majelis Pendidikan, Pengkajian, sosial budaya, dan pustaka.

Koordinator : Dr. H. M Arfah Siddq, MA

Ketua ; Dr. H. Arfin Hamid, MH

Sekretaris : Drs. H. Syarifuddin Ondeng Anggota : Dr. H.Abd. Kadir Ahmad, MS Anggota : Dr. H. Najamuddin HS, MA

Anggota : Drs. M. Syahril

Anggota : Drs. Nadir Majdid

Anggota : H. M Jafar Lurang

Majelis Pemuda, olaraga dan kesehatan.

Koordinator : Drs. H. Muhammad Said, Mpd

Ketua : Drs. H.A Rahim Mas P. Sanjata, Mag Sekretaris : Drs. H. Abd. Muis Said

Anggota : Jamaruddin, M.Ag

Anggota : Drs. Ambo Sakka

(52)

37

Anggota : Umar Said

Anggota : Dra. Maryam Ismail

Anggota : Amiruddin Aminullah, S.Ag, M.Hi Majelis Pemberdayaan Perempuan.

Koordinator : Dra. Hj. Fatimah Kalla

Ketua : Dra. Hj. St Asmah

Sekretaris : Hj. Nurjannah Abna, S. S,. Mpd Anggota : Dra. Hj. Nuraini Arfah

Anggota : Dra. Maryam Abbas

Anggota : Hj. Ganiyyah Abbas

Anggota : Hernawati

Anggota : Hj. Nurhuda Tahir, MPd

B. Peranan Masjid terhadap pembinaan umat di masjid raya kota makassar

Telah diketahui bersama bahwa masjid merupakan tempat yang digunakan untuk sujud, setiap tempat yang digunakan untuk berserah diri (beribadah). Yang memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam pembinaan ummat, sebab hampir setiap sendi-sendi pembinaan yang bersifat ruhiyah dilakukan di masjid, karena masjid adalah rumah Allah, di dalamnya seseorang dapat mengingat Allah, memberikan nasehat, shalat dan orang yang menziarahinya, berarti telah meramaikannya. Masjid ibarat menara petunjuk dan syiar Islam, bahkan ia

(53)

merupakan lembaga pertama kali dimana pancaran ilmu pengetahuan Islam mulai tersebar.

Dimana Urgensi Masjid Sebagai Sarana Pembinaan Ummat merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan umat islam. Dengan itu, diharapkan kaum muslimin memiliki kepribadian yang islami, pengetahuan dan wawasan yang luas dapat mengeksepresikan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, pembinaan harus berlangsung secara kontinyu dan berkesinambungan.

Masjid merupakan salah satu sarana paling tepat bagi proses pembinaan terhadap ummat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan soal ini. Sejarah telah mencatat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah dari Makkah menuju Madinah, dan setibanya di Quba’ pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal, langkah pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun masjid.

Melihat pernyataan diatas menunjukkan bahwa Ternyata Keberadaan Masjid juga bertujuan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai agamanya secara memadai yang ditunjukkan melalui pengamalannya yang penuh komitmen dan konsistensi seraya disertai wawasan multikultur untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis dan saling menghargai satu sama lain dan bertanggung jawab langsung terhadap pembinaan watak, kepribadian, keimanan dan ketakwaan disemua kalangan baik Santri, remaja, Bahkan Ibu Rumah tangga.

(54)

39

Hal tersebut di atas juga berlaku pada Masjid Raya kota makassar, dimana keberadaannya memiliki peranan penting dalam membina Uumat.

Berikut adalah pendapat jamaah masjid mengenai peranan masjid.

Tabel III

Peranan Masjid Raya dalam Melakukan Pembinaan Umat

Option Kategori jawaban Frekuensi Persentase (%)

A B C

Baik Kurang Baik

Tidak Baik

20 5

-

80 20

Jumlah 25 100

Sumber data Angket No.1

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 25 responden, sebanyak 20 responden atau 80% yang menjawab Baik, 5 responden atau 20 persen yang menjawab kurang baik. Dan tidak ada responden yang mengatakan bahwa masjid raya tidak pernah melakukan pembinaan umat di masjid tersebut.

Dari penjelasan tabel diatas penulis menyimpulkan bahwa Masjid raya memiliki peranan dalam pembinaan umat di di kota makassar., juga dapat dilihat dari pernyataan Imam masjid raya kota makassar berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, kepada Bapak Drs.

Muh. Syahrir, M.Hi.

(55)

Masjid raya ini sangat mempunyai peranan yang sangat luar biasa terhadap pembinaan umat. Dimana hampir tidak ada waktu kosong yang tidak diisi dengan kegiatan-kegiatan pembiaan, seperti pengajian magrib-isya dan subuh setiap harinya, pembinaan majelis taklim, melakukan pendidikan kader ulama, pembinaan TK/TPA, Ta’fidzul Alquran dan masih banyak lainnya. Bukan hanya itu di masjid ini hampir setiap hari ada proses pengislaman yang berlangsung. (wawancara, 1 Oktober 2014).

Sejalan dengan yang apa yang diungkapkan oleh Imam masjid raya bapak Drs. Muh. Syahrir, M.Hi diatas maka remaja Masjid juga mengungkapkan berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada Surgaman Barukang adalah :

Peranan masjid dalam melakukan pembinaan umat terhadap masyrakat disekitar Masjid ini, adalah masjid raya mempunyai peran andil yang sangat besar. Dimana masjid ini yang bisa dikatakan setiap harinya ada kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pembinaan umat. Seperti kegiatan yang setiap harinya terulang-ulang dengan tema yang berbeda-beda yang langsung mengarah kepada penataan hati agan menyadari status kita sebagai manusia, siapa yang menciptakan kita, kenapa kita diciptakan dan kemana kita nantinya. Dengan kajian-kajian yang dilakukan setiap pekannya . Masjid raya Dapat dikatakan berhasil dalam menjadikan para jamaah untu semakin menyadari akan pentingnya mempersiapkan bekal untuk masa depan yang lebih cerah (wawancara, 1 Oktober 2014)

Dari beberapa tabulasi angket Jamaah dan hasil wawancara pengurus dan yang dilakukan oleh peneliti maka dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan masjid raya dalam pembinaan umat sangat berpengaruh terhadap perubahan Akhlak jamaah Di Kota Makassar.

C. Pengaruh Pembinaan Umat di Masjid Raya Kota Makassar

Pembinaan umat atau rohani Islam sangat penting, karena keberadaan dari pembinaan umat dapat berpengaruh terhadap pengurus,

(56)

41

remaja masjid ataupun jamaah baik dari segi akhlak, muamalah maupun dari segi ibadah, yang mampu memberikan ketenangan bagi orang yang membaca dan mempelajari kitabullah dalam rumah Allah (masjid).

selanjutnya pengamatan peneliti ketika berkunjung ke masjid raya, mengenai Pengaruh pembinaan di masjid raya ini bisa dilihat dari tabel di bawah ini;

Tabel IV

Masyrakat yang selalu Konssisten mengikuti pengajian magrib-isya Option Kategori jawaban Frekuensi Persentase (%)

A B C

Selalu Kadang-kadang

Tidak pernah

16 5 4

64%

20%

16%

Jumlah 25 100

Sumber data Angket No.2

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebanyak 16 responden atau 64 persen mengatakan bahwa selalu mengikuti kegiatan pembinaan umat yang dilaksanakan oleh masjid raya. 5 responden atau 20 persen mengatakan kadang-kadang mengikuti pengajian serta 4 responden atau 16 persen tidak pernah mengikuti pengajian.

Bukan hanya itu, keadaan jamaah yang selalu bertambah menunjukkan bahwa optimalisasi masjid raya sangat membirikan pengaruh positif, untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut ini:

(57)

TABEL V

Kegiatan pembinaan umat memberikan pengaruh positif Option Kategori jawaban Frekuensi Persentase (%)

A B C

Bertambah Biasa Saja Tidak Bertambah

18 7

-

72%

28%

-

Jumlah 25 100

Sumber data Angket No.3

Tabel diatas menunjukkan bahwa pengaruh pembinaan umat terhadap jamaah ada 18 responden atau 72 persen yang bertambah, 7 responden atau 28 persen yang pengarunya biasa-biasa saja dan tidak ada fresponden yang tidak berpengaruh terhadap pembinaan yang dilaksanakan oleh masjid tersebut.

Bukan hanya itu, berikut adalah pendapat pengurus terhadap pengaruh Masjid dalam melakukan pembinaan oleh bapak sekretaris pengurus bapak Drs. H. Muhammad Said, M.pd:

Masjid raya sangatlah berperan dalam memberikan pengaruh positif kapada pengurus, remaja dan terutama Jamaah. Dimana kegiatan kegiatan yang dilaksanakan sangat menyentuh. Seperti program penghafalan alquran, pendidikan kader ulama, pembinaan kesehatan,perayaan hari-hari besar islam dan yang paling tuntas adalah kajian magri-isya yang temanya adalah tema-tema yang baru kita dapatkan seperti kajian tasawuf, ilmu tafsir, ilmu fiqhi yang kemudian memberikan kita pengetahuan tentang menjadi umat islam yang sebenarnya. Sehingga jamaa yang selalu ikut dalam pengajian ini selalu bertambah. ( Wawancara, 2 Oktober 2014 )

Gambar

Tabel III   : Peranan Masjid Raya …..........................................................
Tabel I Keadaan Populasi
Tabel II KeadaanSampel
Tabel III
+2

Referensi