ALIRAN MURJI’AH DAN KHAWARIJ
Diva Maharani, Laili Nuur Qomariyah Institut Agama Islam Negeri Kediri, Indonesia Institut Agama Islam Negeri Kediri, Indonesia
Abstract: This article discusses two theological currents in Islam, namely Murji’ah and Khawarij, which emerged as a response to the political and social situation following the death of the Prophet Muhammad SAW. The Khawarij are known for their extremist views, believing that those who commit major sins are infidels and must be executed. In contrast, the Murji’ah emphasizes the importance of faith and entrusts the judgment of major sins to Allah SWT, thus considering sinners as still believers. This study aims to outline the historical emergence, key teachings, and the influence of these two currents on the development of Islamic theology. Through a historical approach and literature analysis, this article finds that the differing views between the Khawarij and Murji’ah reflect the complex dynamics of theological thought in Islam, as well as providing insights into how these differences continue to affect Muslims today.
Keyword: Murji’ah, Khawarij, Islamic Theology, Extremism
Abstrak: Artikel ini membahas dua aliran teologi dalam Islam, yaitu Murji’ah dan Khawarij, yang muncul sebagai respons terhadap situasi politik dan sosial pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Aliran Khawarij dikenal dengan pandangannya yang ekstrem, menganggap bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan harus dihukum mati. Sebaliknya, aliran Murji’ah menekankan pentingnya iman dan menyerahkan penilaian atas dosa besar kepada Allah SWT, sehingga pelaku dosa besar tetap dianggap sebagai mukmin. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejarah kemunculan, pokok-pokok ajaran, serta pengaruh kedua aliran ini terhadap perkembangan teologi Islam. Melalui pendekatan historis dan analisis literatur, artikel ini menemukan bahwa perbedaan pandangan antara Khawarij dan Murji’ah mencerminkan dinamika pemikiran teologis yang kompleks dalam Islam, serta memberikan wawasan tentang bagaimana perbedaan ini mempengaruhi umat Islam hingga saat ini.
Kata Kunci: Murji’ah, Khawarij, Teologi Islam, Ekstremisme
PENDAHULUAN
Setelah wafatnya Nabi Muham- mad SAW, umat Islam menghadapi berbagai tantangan politik dan teologis yang memicu munculnya berbagai aliran pemikiran dalam Islam. Masalah ini kemudian meluas ke ranah teologi.
Intinya, permasalahan ini berakar dari isu Khilafah, yaitu tentang siapa yang berhak menjadi Khalifah dan bagaimana mekanisme pemilihan tersebut. Di satu sisi, ada keinginan untuk mempertahankan tradisi lama yang menganggap bahwa hanya suku Quraisy yang berhak menjadi Khalifah secara turun-temurun. Di sisi lain, ada aspirasi untuk memilih Khalifah melalui proses
demokratis, sehingga setiap Muslim yang memenuhi syarat dapat berpartisipasi.
Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, terutama menjelang akhir masa pemerintahannya hingga masa kepem- impinan Ali bin Abi Thalib, terjadi per- pecahan yang sangat serius di kalangan umat Islam. Perpecahan ini dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah se- makin kuatnya ego kesukuan dan kepent- ingan kelompok-kelompok tertentu.
Salah satu kelompok yang muncul akibat perpecahan ini adalah Khawarij.
Kelompok ini merasa sangat tidak puas dengan kepemimpinan politik saat itu, terutama setelah peristiwa arbitrase (tah- kim) dalam Perang Siffin. Mereka
menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib te- lah menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Karena itu, mereka mengkafirkan Ali dan siapa pun yang menurut mereka melakukan dosa besar. Akibatnya, ter- jadilah konflik dan pertumpahan darah di antara sesama muslim.
Selain kelompok Khawarij, mun- cul juga kelompok lain yang disebut Murji’ah. Pada awalnya, kelompok ini be- rusaha untuk tidak terlibat dalam konflik antara Muawiyah dan Ali. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka terpengaruh oleh pandangan ekstrem Khawarij dan akhirnya mengembangkan keyakinan yang berbeda, namun sama-sama me- nyimpang.
Murji’ah percaya bahwa iman seseorang sangat kuat dan tidak akan hilang, meskipun orang tersebut melakukan banyak dosa. Mereka ber- pendapat bahwa begitu seseorang men- gucapkan dua kalimat syahadat, maka ia sudah menjadi seorang muslim sejati dan imannya akan tetap abadi meskipun dia melakukan kemaksiatan dan melanggar perintah Allah.
Dalam artikel ini, penulis akan menguraikan sejarah kemunculan, pokok- pokok ajaran, serta pengaruh kedua aliran ini terhadap perkembangan teologi Islam.
Dengan memahami perbedaan pandangan antara Khawarij dan Murji’ah, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang dinamika pemikiran teologis da- lam Islam dan bagaimana perbedaan ini mempengaruhi umat Islam hingga saat ini.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) melalui pendekatan historis dan analisis literatur. Dalam memperoleh data penelitian, peneliti mengumpulkan, menganalisis, mengorganisasi, sumber dari artikel, buku, penelitian terdahulu tentang implementasi manajemen strategi dalam bidang pendidikan. Kemudian peneliti menyimpulkan dan menyajikan
data-data manajemen strategi untuk pen- ingkatan mutu pendidikan (Danandjaja, 2014; Sari & Asmendri, 2020; Zed, 2014).
PEMBAHASAN 1. Aliran Khawarij
Kata khawarij secara etimologis berasal dari bahasa arab kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Berkenaan dengan pengertian etimologis ini, Syahrastani menyebut orang yang memberontak imam yang sah disebut sebagai khowarij. Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, khawarij berarti setiap muslim yang memiliki sikap laten ingin keluar dari kesatuan umat islam.
Menurut Montgomery Watt, kata Khawarij berasal dari bahasa Arab dan jamak dari kata Khariji dan yang berkata dasar Kharaja yang berarti keluar. Kemudian secara istilah, dari pendapat para pakar yang ada, Watt mengklasifikasikannya menjadi empat, yakni: (1) Khawarij adalah mereka yang keluar atau memisahkan diri dari golongan Ali; (2) mereka adalah orang yang keluar dari kalangan orang yang tidak beriman, dengan melakukan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya‟, artinya memutuskan semua ikatan dengan orang-orang yang tidak beriman; (3) mereka adalah orang-orang yang keluar menentang Ali dalam pengertian memberontak terhadap Ali; dan (4) mereka adalah orang- orang yang keluar dan mengambil bagian aktif dalam jihad, berbeda dengan mereka yang, masih tetap, sebagaimana yang dibedakan dalam al-Qur‟an surat at-taubah ayat 83-84.
Artinya: “Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang- orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah,
“Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku.
Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang).
Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang- orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (berdoa) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah:83-84)
Dari keempat definisi yang dikemukakan oleh Watt, dapat disimpulkan bahwa makna terma ini bersifat dinamis dan berubah sesuai konteks waktu serta perspektif pengamat. Definisi pertama merujuk kepada mereka yang berpisah dari golongan Ali setelah arbitrase dengan 1 Al-Tahkim ialah sebuah arbitrase yang diadakan antara dua musuh sebagai media untuk berdamai.
Muawiyah, sementara definisi kedua berkaitan dengan perbedaan antara yang beriman dan yang kafir. Definisi ketiga menggambarkan mereka sebagai pemberontak terhadap pemerintah Ali. Pada masa Khalifah Abd al-Malik, siapa pun yang memberontak, terlepas dari sekte, dianggap sebagai Khawarij. Definisi keempat mencakup kaum munafik yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Jadi, makna yang mengarah ke sekte Khawarij, dengan melihat data- data sejarah dan karakter, adalah definisi ke-1 dan 3, dan definisi ke 2 dan 4 setelah direduksi.
Dalam sejarahnya, aliran Khawarij dan Murji‘ah memang tumbuh secara bersama dalam kurun waktu terjadinya peristiwa Tahkim1 dalam Islam. Abu Ala al-Maududi dalam bukunya al-Khalifah wa al-Mulk menjelaskan bahwa sejarah munculnya kelompok Khawarij adalah pada waktu perang Shiffin ketika Ali dan Muawiyah menyetujui penunjukan dua orang hakim sebagai penengah guna menyelesaikan pertikaian yang ada diantara keduanya. Sebenarnya sampai saat ini mereka adalah pendukung Ali, tetapi kemudian secara tiba-tiba, mereka berbalik ketika berlangsungnya tahkim dan berkata kepada kedua tersebut: ―Kalian semuanya telah
menjadi kafir dengan
memperhakimkan manusia sebagai ganti Allah diantara mereka.
Thaib Abdul Muin menjelaskan bahwa Khawarij muncul setelah perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah, di mana gencatan senjata diadakan untuk perundingan.
Golongan Khawarij awalnya adalah pengikut Ali yang kemudian menyatakan pendapatnya dan untuk mencapai kesepakatan bersama.
memisahkan diri dan menentang baik Ali maupun Muawiyah, menganggap Ali tidak konsisten dalam membela kebenaran. Dalam aliran ini, terdapat beberapa perpecahan, namun tetap pada beberapa prinsip utama:
a. Mereka menganggap Ali, Usman, dan semua yang terlibat dalam perang Jamal, serta yang setuju dengan perundingan antara Ali dan Muawiyah, sebagai kafir.
b. Setiap umat Muhammad yang terus- menerus melakukan dosa besar tanpa bertaubat dianggap kafir dan akan kekal di neraka.
c. Mereka berpendapat bahwa boleh untuk keluar dari dan tidak mematuhi aturan kepala negara jika kepala negara tersebut dianggap zalim atau khianat.
Kaum Khawarij bukan saja meninggalkan Ali, akan tetapi berbalik membenci, memusuhi bahkan berani pula mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dengan mengkafirkan Ali dan menghalalkan darah kaum muslimin.
Khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini di- pergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib ra, karena kekecewaan mereka ter- hadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari ke- lompok Mu‘awiyyah yang dikoman- doi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ). Jadi, nama kha- warij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai dengan firman Allah.
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya ka- rena mencari keridhaan Allah; dan Al- lah Maha Penyantun kepada hamba- hamba-Nya‘.” (QS. Al-Baqarah:207) Selain itu, ada juga istilah lain yang dipredikatkan kepada mereka, seperti Haruriah, yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Ha- rura, dan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah”
(tidak ada hukum selain hukum Al- lah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah).
Secara historis Khawarij adalah Firqah Bathil yang pertama muncul dalam Islam sebagaimana yang dise- butkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawa. Bid‘ah yang per- tama muncul dalam Islam adalah bid‘ah Khawarij. Pada awalnya kha- warij berjumlah sekitar 12.000 orang.
2. Tokoh dan Pemikiran Faham Aliran Khawarij
Aliran Khawarij ditokohi oleh:
1) Abdullah Al-Kawai Ibnu Wahab ar-Rasyibi, kepala sewaktu mereka berkumpul di Harura sebagai Imam dan pengganti dari Ali Ibnu Abi Thalib. Ia merupakan Al-Muhakkimah pemimpin golongan (Khawarij yang asli).
2) Urwah bin Hudair 3) Mustarid bin Sa'ad 4) Hausarah al-Asadi 5) Quraib bin Maruah
6) Nafil bin Azraq Al Tamimi (363 H/ 683 M) pemimpin golongan Al-Azariqah.
7) Abdullah bin Basyir 8) Zuber bin All 9) Qathari bin Fujaah 10) Abdu Rabbih
11) Abd al-Karim Ibn Ajrad, salah seorang murid Atiyah Ibnul Aswad dari golongan yang lain
dan merupakan pemimpin golongan Al-Ajaridah.
12) Ziad Ibn al-Asfar pemimpin golongan Al-Sufriah. Abu Zahra memandang golongan ini kurang ekstrim dibandingkan dengan go- longan yang yang lain.
13) Abdullah Ibn Ibad al-Tamimi pemimpin golongan Al-Ibadiyah.
Aliran ini masih dijumpai hingga sekarang di wilayah Afrika Barat.
Pemikiran Khawarij dalam beberapa literatur yang mungkin masih sangat terbatas. Abdul Qadir Baghdadi meri- wayatkan dari perkataan Abu Hasan Asy‘ari bahwa pemikiran Khawarij dibangun berdasarkan salah satu dari, yaitu;
1. Keputusan umum Kha- warij terhadap Ali bin Abi Thalib dan para pemimpin sebelumnya berikut tindakan mereka.
2. Kewajiban al-Khuruj (memberontak; revolusi) terhadap penguasa lalim.
Tentang prinsip yang pertama, Khawarij mengakui sahnya pem- baiatan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan bahkan mendukung penuh dua khalifah ini, kemudian ter- hadap kekhalifahan Ustman bin Af- fan, Khawarij hanya mendukung selama enam tahun pertama masa kekhalifaannya, dan terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib mereka hanya mengakui sebelum peristiwa tahkim, namun pasca tahkim, mereka mem- belot bahkan memvonis kafir kepada Sayyidina Ali. Bagi Khawarij tidak ada perbedaan antara maksiat dan kafir. Maka ketika seseorang melakukan maksiat secara otomatis dia menjadi kafir. Oleh sebab itu, mereka mengkafirkan orang-orang yang ada pada perang jamal, perang shiffin dan dua orang hakim serta Muawiyah beserta para pengikutnya.
Menurut Khawarij semua perpecahan itu berawal bukan ketika dia menarik diri dari peperangan Shiffin, bukan
juga ketika salah dalam memilih Abu Musa sebagai wakil, namun kesalahan terbesar adalah karena menerima tah- kim, sehingga menurut mereka menerima tahkim adalah kekufuran.
Menjadikan manusia menjadi hakim adalah kufur, karena itu dikenallah slogan utama mereka (la hukma illa li Allah). “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”. Hal ini terkait dengan pemahaman mereka terhadap ayat ini
“…Barang siapa yang tidak memutus- kan menurut apa yang diturunkan Al- lah, maka mereka adalah orangorang yang kafir.”
Jadi, Takfir (pengkafiran) tampak menjadi corak yang khas dari pemikiran Khawarij, hal itu merang- sang sejumlah pergumulan pemikiran tentang definisi „kafir‟ dan „iman‟, begitu juga tentang definisi-definisi yang lain maksiat‟ dan tingkat-tingkat maksiat, perbedaan al-Fisqu‘(fasiq) dan al-Khatta‘ (salah), dan lain se- bagainya yang kemudian mendorong perkembangan pemikiran-pemikiran dalam Islam untuk selanjutknya.
Kedua, inilah yang menjadi kekhasan dari pemikiran Khawarij, yakni seputar khilafah, syarat-syarat khilafah, bagaimana pelaksanaannya termasuk bagaimana bersikap jika ter- dapat penguasa yang lalim. Neveen Abdul Khalik membagi pendapat mereka tentang hal ini menjadi enam pokok; berikut perinciannya secara singkat:
a. Proses pengangkatan khalifah hanya bisa melalui pemilihan bebas yang dilakukan masyarakat secara umum, tidak bisa diwakili sekelompok tertentu dari masyara- kat. Khalifah harus menegakkan keadlilan, menjalankan syari‘at serta menjauhkan diri dari kesala- han dan penyelewengan. Jika kha- lifah menyimpang dari itu, maka ia wajib diturunkan atau dibunuh.
b. Khawarij ini sangat fleksibel ka- rena pada awalnya mereka me- nyuarakan bahwa khalifah meru- pakan hak setiap arab yang merdeka, namun tatakala banyak orang asing yang bergabung ke da- lam paham mereka, Khawarij tidak lagi mensyaratkan keara- ban‘, mereka hanya mensyaratkan Islam, ilmu da keadilan.
c. Diantara sekte khawarij, yaitu sekte An Najdat‘ yang ber- pendapat bahwa tidak harus mengangkat Imam jika manusia telah mampu menegakkan keadi- lan. Jadi pengangkatan imam tidak diwajibkan syariat.
d. Takfir (pengkafiran), ini adalah yang terkenal dari pemikiran Kha- warij, pengkafiran pada setiap penentangnya. Khawarij gagal membedakan antara satu dosa dengan dosa lainnya. Mereka menganggap orang yang salah da- lam berpendapat sebagai pendosa.
Orang yang bersalah dalam ijtihad juga mereka keluarkan dari agama dan mengakafirkanya. Prinsip inilah yang membuat Khawarij selalu memberontak dan berevo- lusi, baik terhadap umat Islam maupun terhadap para ulama. Ini sangat terkait dengan cara Kha- warij menafsirkan ayat-ayat al- Qur‘an yang menurut seleranya sendiri, tanpa memperhatikan sun- nah. Oleh karena itu ketika Say- yidina Ali k.w mengutus Ibnu Ab- bas berdebat dengan kaum Kha- warij, ia berkata ―jangan mende- bat mereka dengan al-Qur‘an‖. Ka- rena Ia tahu bahwa mereka me- letakkan makna ayat-ayat al- Quran dalam kerangka makna yang sudah mereka buat sebe- lumnya.
e. Slogan Khawarij yang terkenal adalah; la hukma illa li Allah (Tidak ada putusan selain putusan
Allah) yang sedikit sudah dijelas- kan sebelumnya.
f. Hijrah, hijrah tampak menjadi tanda yang berkaitan dengan takfir sejak mula pertama pemikiran Khawarij, yaitu kejadian tahkim.
Hal itu terkait dengan khutbah Ab- dullah bin Wahab Rasibi (imam dari aliran khawarij) yang mengajak untuk berhijrah, ber‘amar ma‟ruf nahi mungkar.
Kaum Khawarij memandang bahwa Negara sudah penuh dengan para pendosa oleh sebab itu mereka harus berhijrah ke Negara dar as-salam, se- bagaimana hijrahnya Nabi SAW menuju Madinah.
Keyakinan Khawarij tentang wajibnya amar ma‘ruf nahi mungkar inilah yang membuat mereka konsis- ten dengan revolusi secara terus mene- rus, selalu memberontak dan mengangkat senjata untuk menentang para Imam –yang mereka anggap lalim. Menurut mereka revolusi itu hukumnya wajib dan tidak boleh ber- henti kecuali sampai mati dan juga ketika jumlah mereka kurang dari tiga, maka mereka akan diam dan menyem- bunyikan akidahnya, Inilah yang dise- but Sayyidina Ali sebagai fenomena kejumudan dan kebekuan berfikir, Khawarij tidak berbuat berdasarkan hati dan logika sehat, begitu juga da- lam hal amar ma‟ruf nahi mungkar tidak membuat perhitungan atas reali- tas masalah, dan logika yang benar.
3. Aliran Murji’ah
Secara etimologi berasal dari kata Al irjā yang berarti mengakhirkan, sebagaimana disebutkan Ka’ab bin Malik meceritakan kisah taubatnya:
Artinya: “Rasulullah Arja’
(mengakhirkan) permasalahan kami”.
Dan diantara ulama ada yang
mengatakan bahwa Al Murjiah di ambil dari kata Irja yang berarti penundaan atau agan-agan.
Murjiah secara terminology berarti kelompok dalam Islam yang berkeyakinan bahwa kemaksiatan tidak akan mempengaruhi keimanan seorang Muslim, sebagaimana kekafiran tidak akan mempengaruhi ketaatan. Ibnu Taimiyyah menukil perkataan Imam Ahmad mengenai Murjiah bahwasanya mereka adalah kelompok yang mengatakan amalan (ibadah) bukan bagian dari keimanan.
Kelompok ini muncul pertama kali pada masa sahabat yaitu di akhir pemerintahan Uṡmān bin Affān, setelah tersebarnya berita akan adanya sebagian kelompok menurunkan dari yang ingin tampuk kepemimpinan, dan munculnya fitnah, yang menyebabkan terbunuhnya Uṡmān, sebagian sahabat Rasulullah menarik diri dari pertikaan yang terjadi dengan berdalilkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar dimana Rasulullah bersada: “Akan terjadi huruhara (fitnah) dimana ketika itu orang yang duduk lebih baik dari pada yang berjalan, yang berjalan lebih baik dari yang berlari lari kecil (ikut dalam kekacauan). Jika saja kalian mendapati zaman tersebut, maka barangsiapa yang memiliki onta maka sebaiknya dia barangsiapa yang mengembala memiliki ontanya, kambing hendaknya dia mengembalakan kambingnya, dan barangsiapa yang memiliki sebidang tanah maka hendaknya dia menggarap tanahnya, “kemudian salah seorang sahabat bertanya.”
Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat anda bagi orang yang tidak memiliki onta, kambing, dan sebidang tanah? “beliau menjawab,”
hendaknya dia mengambil pedangnya dan memukulkannya ke sebuah batu, kemudian mencari tempat yang lebih baik umtuknya.
Kumpulan sahabat inilah yang tidak ikut dalam pertikaian yang terjadi antara Muawiyah dan Alī, mereka tidak bisa menentukan (mengakhirkan) siapa diantara kedua kelompok ini yang paling benar.
Ini adalah teori pertama yang di kembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan ummat ketika terjadi pertikaian. Kalau dilihat dari kumpulan sahabat yang tidak ikut pada perselisihan, maka mereka masuk dalam katagori irja’ dari sisi bahasa. Pastinya apa yang dilakukan ini adalah hal yang baik dalam rangka persatuan. Akan tetapi ketika perpecahan dan perselisihan semakin membesar, ditambah lagi dengan Khawārij yang mengkafirkan dengan sangat mudahnya, maka kaum Murjiah datang sebagai tandingan yang pada awalnya memiliki teori yang sangat bagus yaitu menangguhkan hukum pelaku dosa besar hanya kepada Allah. Bersama dengan berlalunya waktu, maka datanglah generasi yang jauh dari konsep awal yang mengatakan bahwa:
“Kemaksiatan tidak akan mempengaruhi keimanan seseorang.”
Bagi mereka keimanan hanyalah pengucapan, meyakini dan mengetahui, yang ketika seorang melakukan maksiat setelah itu, maka keimanan mereka tidak akan terganggu, karena keimanan itu terpisah dari amal ibadah. Bahkan sebagian Murjiah aliran keras mengatakan bahwasanya keimanan itu hanya percaya di dalam hati, seseorang akan tetap beriman mengucapkan kalimat kekufuran, menyembah berhala, membantu kaum Yahudi dan Nasrani dalam memusuhi kaum Muslimin, beriman kepada trinitas.
Adapun Ibnu Taimiyyah mengatakan salah satu perselisihan yang paling pertama terjadi di
kalangan kaum Muslimin adalah permasalahan Iman, yang mengakibatkan perseteruan sampai pada taraf saling mengkafirkan.
Khawarij adalah kelompok pertama yang terjatuh dimana mereka mengkafirkan kaum Muslimin yang melakukan dosa, slogan mereka yang paling terkenal “manusia hanya pada dua kondisi entah beriman atau kafir”.
Maka muncullah Murjiah sebagai tandingan yang mengatakan seorang keimanannya tetap sempurna.
4. Tokoh dan Pemikiran Faham Aliran Murji’ah
Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji‘ah tampaknya dipicu oleh perbedaan-pendapat (bahkan dalam hal intensitas) di kalangan para pendukung Murji‘ah sendiri. Dalam hal ini terdapat problem yang cukup mendasar ketika pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murji‘ah. kesulitannya antara lain adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai pengikut Murji‘ah, tetapi tidak diklaim oleh pengikut lain. Tokoh yang dimaksud adalah Washil bin Atha‘ tokoh aliran Mu‘tazilah dan Abu Hanifah dari Ahlus Sunnah, oleh karena itu Syahrastani seperti dikutip oleh Watt dalam Rosihan sebagai berikut:
a. Murji‘ah-Khawarij b. Murji‘ah-Qadariyah c. Murji‘ah-Jabariyah d. Murji‘ah Murni e. Murji‘ah Sunni.
Sementara itu, Muhammad Imarah menyebukan 12 sekte Murji‘ah yaitu:
a. Al- Jahmiyah, pengikut Jaham bin Ahofwan.
b. Ash–Salihiyah pengikut Abu Musa Ash-Shalahi
c. Al-Yunusiyah pengikut Yunus As- Samry
d. As-Samaryah, pengikut Abu Samr dan Yunus
e. Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban.
f. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan Al- Ghailan bin Marwan Ad- Dimisqy.
g. An- Najriyah, pengikut al- Husain bin Muhammad bin Syabib
h. Al-Hanafiyah, pengikut Abu Hanifah an-Nu‘maaan.
i. Asy-Syabibyah, pengikut Muhammad bin Syabib
j. Al-Mu‘aziyah, pengikut Muadz ath- Thaumi.
k. Al-Murisiyah, pengikut Basr al- Murisy.
l. Al-Karimiyah, pengikut Muhammad bin Karam As- Sijiztany.
Harun Nasution secara garis besar mengkla sifikasikan Murji‘ah menjadi dua sekte, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim. Pertama, Murjiah Moderat. Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Ia mendapat hukuman dalam neraka sesuai besarnya dosa yang dilakukannya. Kemungkinan Tuhan akan memberikan ampunan terhadap dosanya.
Ajaran Murjiah moderat sebagaimana disebutkan pada permasalahan di atas, memiliki kesamaan dengan pendapat ahlu sunnah wal-jama’ah. Menurut pandangan al-Asy’ariyah (salah satu sekte dalam ahlu sunnah wal- jama’ah) bahwa muslim yang melakukan dosa besar lalu meninggal dan tidak sempat bertaubat, maka nasibnya berada di tangan Tuhan.
Kemungkinannya adalah Tuhan tidak memberi ampun atas dosa-dosanya dan akan menyiksanya sesuai dengan dosa-dosa yang dibuatnya. Setelah itu dia dimasukkan kedalam surga, karena mukmim tidak mungkin kekal di neraka.
Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan dan rasul–rasulnya-Nya serta apa saja yang datang dari-Nya secara
keseluruhan namun garis besar iman tidak pula bertambah dan tidak pula berkurang. Tak ada perbedaan manusia dalam hal ini, penggagas pendirian ini adalah Al-hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadits.
Kedua, Golongan Murjiah ekstrim. Golongan ini dipimpin Al- Jahamiyah (pengikut Jaham Ibn Safwan), pahamnya berpendapat, bahwa orang Islam yang percaya pada Tuhan dan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan tidaklah kafir, sebab iman dan kafir tempatnya di hati.
Sekte atau Golongan lain yang termasuk dalam Murjiah ekstrim adalah al-Salihiyyah, yakni pengikut Abu Hasan al-Salihi. Sekte ini memiliki pendapat bahwa seseorang yang percaya kepada Allah lalu percaya pada trinitas dan meninggal, maka orang ini tetap dianggap mukmin. Mereka juga berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan dan kafir adalah tidak tahu pada Tuhan. Yang dianggap ibadah adalah iman saja.
Sekte yang lain adalah al- Yunusiyyah, pengikut Yunus Aun al- Namiri. Menurut sekte ini, iman adalah pengetahuan akan Allah, tunduk pada dan tidak sombong pada- Nya, serta mencintai Allah dengan hati. Adapun yang lainnya dari perbuatan ketaatan bukanlah bagian dari iman, meniggalkannya tidak mencederai hakikat iman.
Kemudian, sekte berikutnya yang termasuk dalam golongan yang ekstrim adalah al-Ubaidiyyah, pengikut Ubaid al- Muktaib. Bagi al- Ubaidiyyah, dosa apa pun selain syirik akan diampuni Allah. Kemudian sekiranya ada seseorang yang mati dalam iman, dosa dan perbuatan jahatnya tidak merugikan yang bersangkutan.
Kelompok lain yang termasuk dalam Murjiah ekstrimis adalah al- Gassaniyah, pengikut Gassan al-Kufi.
Menurut mereka, iman adalah mengetahui Allah dan rasul-Nya, mengikrarkan apa yang diturunkan Allah serta apa yang datang dari Rasulullah secaara global dan tidak terperinci. Iman itu bertambah dan tidak berkurang.
KESIMPULAN
Khawarij dan Murji'ah, yang muncul se bagai respon terhadap situasi politik dan sosial pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kedua aliran ini berbeda secara sig nifikan dalam pandangan mereka terhadap dosa besar dan keimanan. Khawarij menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir dan pantas dihukum mati, sementara Murji'ah berpendapat bahwa dosa besar tidak membatalkan iman, menyerahkan penilaian akhir kepada Allah. Khawarij dikenal dengan sikapnya yang ekstrem dan pemberontakan terhadap kekuasaan, khususnya terhadap Ali bin Abi Thalib, setelah peristiwa tahkim. Mereka percaya bahwa pemimpin yang zalim harus dilawan, bahkan dengan kekerasan.
Sebaliknya, Murji'ah muncul dengan pendekatan yang lebih moderat, menghentikan penilaian terhadap pelaku dosa besar hingga Hari Penghakiman.
Murji'ah juga percaya bahwa iman adalah hal yang tetap, meskipun seseorang melakukan dosa besar. Aliran kedua ini mencerminkan dinamika teologis dalam Islam pasca wafatnya Nabi dan menampilkan berbagai pemikiran yang berkembang mengenai hubungan an tara iman dan dosa. Aliran Khawarij lebih dikenal karena revolusi mereka terhadap kekuasaan yang dianggap zalim, se dangkan Murji'ah menekankan pent ingnya keimanan tanpa memusatkan per hatian pada tindakan. Perbedaan ini masih memberikan pengaruh terhadap pemikiran umat Islam hingga saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alfian, Andi, & Jalaluddin, M. (2018).
Aliaran Khawarij: sejarah kemunculan, Doktrin, Sekte dan Dalilnya. New England Journal of Medicine, 372(2), 2499–2508.
https://doi.org/10.13140/RG.2.2.142 61.96485
Hasibuan, I. (2021). Teologi Pemikiran Klasik Mu’tazilah dan Murji’ah.
Ability: Journal of Education and Social Analysis, 2(3), 52–64.
https://doi.org/10.51178/jesa.v2i3.2 18
Hervrizal, H. (2020). Khawarij: Sejarah Kemunculan, Ajaran-ajaran dan Sektenya. Dakwatul Islam, 5(1), 1–
12.
https://doi.org/10.46781/dakwatulisl am.v5i1.203
Ilham, I. (2019). Aliran-Aliran Khawarij Dan Pemikirannya. Jurnal Mimbar:
Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 5(2), 117–126.
https://doi.org/10.47435/mimbar.v5i 2.806
Kerwanto, K., & Aprianti, L. I. (2024).
Teologi Murji’ah: Ditinjau dari Sejarah, Tokoh, Sekte serta Pemikirannya. Jurnal Islam Transformatif: Kajian Islam Dan Perubahan Sosial, 1(1), 20–65.
Kiswati, T. (2009). Ilmu Kalam : Aliran sekte, Tokoh, Pemikiran Dan Analisa Perbandingan Aliran Khawarij, Murjiah Dan Mu’tazilah.
Journal Information, 10(3), 1–16.
Masyhar, A. (2014). KHAWARIJ DAN NEO-KHAWARIJ : Studi
Perbandingan Falsafah Politik.
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, 25, 74–87.
https://doi.org/https://doi.org/10.333 67/tribakti.v25i1.158
Rubini. (2018). KHAWARIJ DAN MURJI’AH PERSFEKTIF ILMU KALAM. Jurnal Komunikasi Dan Pendidikan Islam, 7, 95–114.
Sabli, M. (2015). Aliran-Aliran Teologi Dalam Islam. Nur El-Islam, 2(1),
105–112.
Saleh, S. (2018). Khawarij; Sejarah Dan Perkembangannya. EL-AFKAR : Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis, 7(2), 25.
https://doi.org/10.29300/jpkth.v7i2.
1597
Saniah, M., & Sidik, M. A. (2020).
PEMIKIRAN KHAWARIJ’ (Studi Historis Genealogis Pemikiran Islam). RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam, 1(1), 71–83.
https://doi.org/10.35961/rsd.v1i1.12 8
Susanti, E. (2018). Aliran-aliran dalam pemikiran kalam. Jurnal Ad- Dirasah, 1, 1–20.
https://files.osf.io/v1/resources/duj3 w/providers/osfstorage/5b7a654f95f 24f0015f0a096?action=download&
version=1&direct
Syandri. (2017). Al Khawarij dan Al Murjiah Sejarah dan Pokok
Ajarannya. Nukhbatul ’Ulum, 3(1), 285–300.
https://doi.org/10.36701/nukhbah.v3 i1.23
Warul Walidin, Saifullah, T. (2021). Ilmu Kalam ( Khazanah Intelektual Pemikiran Dalam Islam ). In Hukum Perumahan.
https://books.google.co.id/books?id
=t3zPqTnRjX0C&dq=wrong+diet+
pills&source=gbs_navlinks_s Yasir, A. M. (1975). KHAWARIJ.