PENDAHULUAN
Tujuan
Ruang Lingkup
Metode Penulisan
Sistematika Penulisan Laporan
LANDASAN TEORI
Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan
Rongga hidung mengandung rambut (fimbriae) yang berfungsi sebagai penyaring kasar terhadap benda asing yang masuk. Laringofaring adalah bagian bawah faring yang terhubung dengan kerongkongan dan pita suara yang terletak di trakea. Fungsi utama laring adalah menghasilkan suara, melindungi saluran pernafasan bagian bawah dari benda asing dan memperlancar proses batuk a) Epiglotis : katup tulang rawan yang menutup dan membuka pada saat menelan.
Bronkus segmental kemudian akan bercabang menjadi bronkiolus yang tidak mempunyai tulang rawan pada dindingnya. Sel alveolar tipe II, sel yang aktif secara metabolik, mengeluarkan surfaktan, fosfolipid yang menutupi permukaan bagian dalam dan mencegah kolaps alveolar. Dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi (pernapasan) dalam tubuh terdapat tiga tahap yaitu ventilasi, difusi dan transportasi (Hidayat, 2006, p. 76).
Proses ini merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer.Dalam proses ventilasi ini ada beberapa hal yang mempengaruhinya, antara lain perbedaan tekanan antara atmosfer dan paru-paru. Dalam proses pertukaran ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, antara lain; Luas permukaan paru-paru, ketebalan membran. respirasi/permeabilitas, perbedaan tekanan dan konsentrasi O2, dan afinitas gas yaitu kemampuan menembus dan mengikat Hb. 3) Transportasi gas.
Tipe Asma
Selama pengangkutan, CO2 kemudian akan berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%), larut dalam plasma (5%), dan sebagian menjadi HCO3. Seiring berjalannya waktu, serangan menjadi lebih sering dan intens, akhirnya berkembang menjadi bronkitis kronis dan terkadang emfisema.
Etiologi
Patofisiologi
Paparan ulang antigen menyebabkan antigen berikatan dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin, serta anafilaksis kerja lambat (SRS-A). Pelepasan mediator tersebut ke dalam jaringan paru menyerang otot polos dan kelenjar saluran napas sehingga menyebabkan bronkospasme, pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan lendir yang berlebihan. Pada asma idiopatik atau non-alergi, ketika ujung saraf di saluran udara dirangsang oleh faktor-faktor seperti infeksi, olahraga, pilek, merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat.
Stimulasi reseptor alfa menyebabkan penurunan cAMP, yang menyebabkan peningkatan mediator kimia yang dilepaskan oleh sel mast bronkokonstriksi. Stimulasi reseptor beta menyebabkan peningkatan kadar cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimia dan menyebabkan bronkodilatasi. Akibatnya, rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimia dan regenerasi otot polos (Smeltzer & Bare, 2001, p. 612).
Tanda dan Gejala
Pemeriksaan Penunjang
Penatalaksanaan
Pencegahan
Komplikasi
Konsep Dasar Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan
- Perencanaan
- Implementasi
- Evaluasi
Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berkaitan dengan status fisik.Palpasi dilakukan dengan cara meraba atau Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan produksi sekret, retensi sekret, sekret kental dan kental, penurunan energi/kelemahan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (penyumbatan saluran pernafasan oleh sekret, bronkospasme, terperangkapnya udara), kerusakan alveoli.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sesak, lemas, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual/muntah. Risiko infeksi yang tinggi dikaitkan dengan pertahanan primer yang tidak mencukupi (penurunan fungsi silia, sekresi yang menetap), kekebalan yang tidak mencukupi (kerusakan jaringan, peningkatan paparan lingkungan). Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan tindakan yang berkaitan dengan kurangnya informasi/tidak mengetahui sumber informasi, kesalahpahaman informasi, kurangnya daya ingat/keterbatasan kognitif.
GDA memburuk dengan kebingungan/somnolen, menunjukkan disfungsi otak berhubungan dengan hipoksemia. g) Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Latar Belakang: Bising usus yang menurun/hipoaktif menunjukkan penurunan motilitas lambung dan konstipasi, berhubungan dengan pembatasan asupan cairan, pilihan makanan yang buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.
LAPORAN KASUS
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
Kesulitan yang penulis temui dalam melaksanakan asuhan keperawatan adalah terbatasnya kemampuan penulis dalam memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam. Namun untuk mengetahui kondisi klien, penulis menggunakan catatan keperawatan mengenai tindakan yang dilakukan dan melimpahkannya kepada perawat jaga mengenai kondisi yang perlu ditindaklanjuti. Kerusakan pertukaran gas, masalah ini dapat teratasi karena setelah melakukan tindakan keperawatan seperti pengkajian frekuensi pernafasan.
Intoleransi aktivitas, permasalahan ini dapat teratasi setelah melakukan tindakan keperawatan seperti menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, membatasi jumlah pengunjung, menganjurkan istirahat yang cukup, dan membantu klien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan tidur. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, masalah ini dapat diatasi setelah melakukan tindakan keperawatan seperti pengkajian asupan makanan, kesulitan makan, integritas mukosa mulut, anjuran pemeliharaan kesehatan mulut, menjaga asupan nutrisi parenteral, anjuran makan sedikit tapi sering dan bekerja. dengan ahli gizi untuk melakukan diet yang tepat bagi klien. Gangguan pola tidur, permasalahan ini dapat teratasi setelah melakukan tindakan keperawatan seperti pengkajian penyebab tidur, penciptaan lingkungan yang tenang dan nyaman, anjuran makan makanan tinggi protein, pembatasan jumlah pengunjung, dan anjuran teknik distraksi sebelum tidur.
Proses keperawatan yang dilakukan berdasarkan literatur yang memuat asma bronkial dengan menghubungkan hubungannya dengan kondisi yang dialami klien sendiri. Sedangkan permasalahan keperawatan yang dialami klien namun tidak termasuk dalam teori adalah intoleransi aktivitas dan. Intervensi yang dilakukan pada masalah keperawatan intoleransi aktivitas adalah pengkajian frekuensi pernafasan, mendengarkan suara nafas dan mencatat adanya suara nafas, meninggikan kepala dan membantu perubahan posisi, monitoring tanda vital, dan pemberian oksigen sesuai indikasi.
Intervensi yang dilakukan terhadap masalah keperawatan dengan pola tidur terganggu adalah dengan mengkaji penyebab sulit tidur, menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, menganjurkan makanan tinggi protein, membatasi jumlah pengunjung dan menggunakan teknik distraksi yang dianjurkan sebelum tidur. Untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami klien, penulis menyusun rencana keperawatan dan mengimplementasikan rencana yang telah disusun. Tindakan keperawatan yang dilakukan antara lain mengajarkan teknik batuk yang efektif, memberikan posisi semi Fowler dan menganjurkan minum.
Evaluasi proses dilakukan setelah melakukan tindakan keperawatan sedangkan evaluasi hasil dilakukan sesuai waktu yang telah ditentukan dalam tujuan. K dan mencatat hasil yang dicapai atas tindakan keperawatan yang dilakukan sebagai aspek legalitas di setiap setting pelayanan kesehatan, termasuk RSUD TK. Untuk menjembatani kesenjangan yang ada khususnya dalam pengkajian dan pelaksanaan diagnosa keperawatan, perawat tidak hanya harus mengandalkan teori saja, namun juga harus beradaptasi dengan keluhan dan kondisi yang dirasakan klien, serta perlunya pengetahuan untuk merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien. situasi klien. perjalanan penyakitnya.
Untuk mengatasi permasalahan yang timbul maka setiap selesai melakukan tindakan keperawatan hendaknya perawat mendokumentasikan tindakan dan respon klien terhadap tindakan yang dilakukan, dan diharapkan klien dan keluarga tetap berpartisipasi dalam setiap tindakan keperawatan yang dilakukan. Namun untuk mengetahui kondisi klien, penulis menggunakan catatan keperawatan tentang tindakan yang telah dilakukan dan melimpahkannya kepada perawat jaga untuk tindak lanjut.
PEMBAHASAN
PENUTUP
Saran
Agar dapat melaksanakan proses keperawatan dengan baik dan memperoleh hasil, sebagai perawat profesional harus mempunyai pengetahuan, keterampilan interpersonal dan komunikasi yang cukup serta menguasai teknik dan teori pengkajian. Selain itu, perawat juga harus mewaspadai kesiapan konseling dan prasarana pendukung yang diperlukan dalam melaksanakan proses keperawatan. Untuk meminimalisir faktor penghambat kinerja proses keperawatan, sebaiknya Anda sebagai perawat menjalin hubungan.