PENDAHULUAN
Latar Belakang
Eastren Pearl Flour Mills Makassar pada tahun 2008 menyatakan bahwa kelompok yang bekerja dengan intensitas kebisingan 93,3 dB mempunyai persentase gangguan pendengaran akibat kebisingan tertinggi (36,36%). Hubungan kebisingan dengan pendengaran pekerja Dari 110 pekerja, 59 orang (53,6%) mengalami gangguan pendengaran akibat kebisingan. 7) Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Sabil dalam “Analisis risiko kebisingan pada pekerja di Pt. Herlina Indah Jakarta sangat mendukung dampak kebisingan akibat gangguan pendengaran (NIHL), sehingga risiko paparan pada pekerja sangat tinggi, terlihat dari data MCU PT. Herlina Indah menunjukkan ada pekerja yang mengalami gangguan pendengaran.
Oleh karena itu penulis tertarik melakukan penelitian untuk menganalisis dampak sumber kebisingan terhadap gangguan pendengaran pada pekerja produksi di PT Herlina Indah Jakarta.
Rumusan Masalah
Herlina Indah Jakarta merupakan salah satu perusahaan industri makanan dan minuman terbesar dan mengalami peningkatan pesanan dari tahun ke tahun, dimana untuk menunjang produktifitas proses produksi mempunyai peralatan yang memiliki intensitas kebisingan. Dari data latar belakang tersebut terdapat dampak yang akan dirasakan pekerja akibat kebisingan sebesar 93 dBA. Bagaimana menganalisis nilai risiko faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan pendengaran pendengaran pada pekerja produksi PT Herlina Indah.
Berapa nilai risiko tertinggi pada analisis faktor gangguan pendengaran pada pekerja produksi PT Herlina Indah?
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan khusus
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
- Kebisingan
- Pengertian Kebisingan
- Sumber Kebisingan
- Jenis Kebisingan
- Pengukuran Kebisingan
- Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan
- Pengaruh Kebisingan Terhadap Manusia
- Pengendalian Kebisingan
- Gangguan Pendengaran
- Definisi Gangguan Pendengaran
- Klasifikasi Gangguan Pendengaran
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gangguan
- Diagnosis Gangguan Pendengaran Akibat Bising
- HRA (Health Risk Assessment)
- Definisi HRA (Health Risk Assessment)
- Tahapan HRA (Health Risk Assessment)
- Kerangka Teori
Dari faktor volume dapat disimpulkan bahwa semakin keras suara maka akan dirasakan semakin mengganggu. Jika bunyi dapat diperkirakan terjadi secara teratur, maka kesan gangguan akan lebih sedikit dibandingkan jika bunyi terjadi secara tiba-tiba atau tidak teratur. berbeda jika kebisingan dapat dikendalikan. Suara yang sangat keras seperti ledakan meriam dapat memecahkan gendang telinga dan merusak sel-sel sensorik saraf pendengaran. Dampaknya terasa tiba-tiba dan dramatis, sehingga pekerja dapat mengidentifikasi penyebabnya. Dalam hal pengendalian kebisingan, komponen yang paling penting adalah sumber, konektor dan penerima.(12) Pengendalian yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak kebisingan antara lain: . 1) Pengendalian kebisingan pada sumbernya.
Dalam hal ini yang mungkin dilakukan adalah mengubah jalur transmisi gelombang suara yang ada antara sumber suara dengan penerima atau pendengar. Tambahkan redaman suara pada jalur yang dilaluinya sehingga lebih banyak suara yang diserap saat suara merambat ke pendengar. Penerima suara adalah telinga manusia dan sangat disayangkan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengontrol suara yang diterima.
Anatomi telinga tengah manusia terdiri dari membran timpani (gendang telinga), tulang pendengaran (martil, inkus, dan stapes). Getaran bunyi yang diterima oleh gendang telinga akan diteruskan oleh tulang-tulang pendengaran, dari maleus ke inkus dan terakhir ke stapes yang merupakan tulang pendengaran terkecil. Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan sebagian atau seluruhnya untuk mendengar suara pada salah satu atau kedua telinga. (13) Gangguan pendengaran akibat kebisingan (NIHL) adalah gangguan pendengaran jenis sensorineural yang disebabkan oleh paparan kebisingan yang cukup keras dalam jangka waktu tertentu. dalam jangka waktu yang lama, biasanya karena kebisingan lingkungan kerja.
Telinga pekerja yang tidak memakai APT yang bekerja di area bising melebihi ambang batas cenderung mengalami gangguan pendengaran tipe konduktif lebih besar dibandingkan pekerja yang memakai pelindung pendengaran. Penilaian risiko kesehatan merupakan analisis risiko terhadap faktor-faktor yang membahayakan kesehatan, yang meliputi faktor fisik, kimia, biologi, dan ergonomis di tempat kerja. Setelah seluruh risiko dinilai, dilakukan perhitungan untuk menentukan tingkat risiko dari bahaya yang teridentifikasi.
Jumlah tingkat risiko yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tabel analisis risiko kebisingan untuk menentukan tindakan pengendalian dan pencegahan yang diperlukan.
METODOLOGI PENELITIAN
- Kerangka Konsep
- Jenis dan Rancangan Penelitian
- Objek Penelitian
- Sumber Data Penelitian
- Data Primer
- Data Sekunder
- Instrumen Penelitian
- Pengumpulan Data
- Pengolahan dan Analisis Data
- Pengumpulan data
- Reduksi data
- Penyajian Data
- Jadwal Penelitian
Data masa kerja pekerja produksi diperoleh dari Pemeriksaan Medis (MCU) yang diperoleh dari bagian Human Resources General Affairs (HRGA) dan hasil wawancara yang dilakukan pekerja produksi di PT. Herlina Indah memiliki masa kerja yang berbeda-beda. dibuat 2 kategori yaitu, terbaru kurang dari 1 tahun dan terlama lebih dari 10 tahun. Data usia pekerja diperoleh dari Pemeriksaan Medis (MCU) yang diperoleh dari bagian Human Resource General Affairs (HRGA) dan dari hasil wawancara yang dilakukan, usia pekerja produksi di PT. Herlina Indah bervariasi sehingga tercipta 2 kategori dari yang terendah 18 tahun dan tertua 45 tahun. Data penggunaan alat pelindung telinga diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan data yang diberikan oleh departemen HSE PT. Herlina Indah. Alat pelindung telinga yang digunakan pekerja adalah earplug yang terbuat dari bahan silikon lembut dengan tingkat peredam kebisingan sebesar 23 dBA atau dapat menurunkan efisiensi sebesar 8 dBA.
Data penggunaan riwayat penyakit pekerja produksi diperoleh dari hasil data Medical Control (MCU) dari Human Resources General Affair (HRGA) dan hasil wawancara yang dilakukan terhadap pekerja yang terkena gangguan pendengaran dengan hasil bahwa PT. Pekerja produksi Herlina Indah tidak memiliki riwayat penyakit telinga. Pada analisis Health Risk Assessment, intensitas kebisingan di area produksi Adem Sari PT Herlina Indah Jakarta dibagi menjadi 2 kategori yaitu risiko dengan intensitas tertinggi 93 dBA dan terendah 80 dBA. Pada analisis Health Risk Assessment, durasi paparan (masa kerja) di area produksi PT Adem Sari Herlina Indah Jakarta dibagi menjadi 2 kategori yaitu tertua dan termuda.
Pada analisis Health Risk Assessment, usia di area produksi Adem Sari PT Herlina Indah Jakarta dibagi menjadi 2 kategori yaitu tertua dan termuda. Pada analisis Health Risk Assessment, gender di area produksi Adem Sari PT Herlina Indah Jakarta dibagi menjadi 2 kategori yaitu laki-laki dan perempuan. Pada analisis Health Risk Assessment penggunaan APT di area produksi Adem Sari PT Herlina Indah Jakarta dibagi menjadi 2 kategori yaitu menggunakan APT dan tidak menggunakan APT.
Dalam proses melakukan penelitian dan analisis penilaian risiko kesehatan pada PT. Peneliti pekerja produksi Herlina Indah menemukan nilai potensi risiko dan risiko yang sangat serius. Maka harus dilakukan upaya untuk mengurangi risiko yang ada, berikut upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran pada pekerja produksi di PT. Herlina Indah.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Profil Perusahaan
- Visi Dan Misi PT. Herlina Indah Indah
- Struktur Organisasi PT. Herlina Indah
Pada tahun 1988, Enesis Group menjadi perusahaan pertama yang memproduksi losion antinyamuk di Indonesia dengan merek Sari Puspa yang kemudian diubah menjadi Soffel yang merupakan losion antinyamuk terlaris di Asia hingga saat ini. Enesis Group telah mengembangkan bisnisnya di bidang minuman kesehatan dan terus mempertahankan lini bisnisnya di bidang farmasi. Sebagai minuman bubuk suplemen herbal, Sensa Cools memperbaiki sistem pencernaan tubuh, mengurangi sembelit dan menyembuhkan sakit tenggorokan dan sariawan.
Sejak pertama kali peluncuran produk ini hingga saat ini, Adem Sari masih mendominasi persaingan pasar produk sejenis. Perusahaan di Cikarang ini merupakan perusahaan produk bedak terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 2002 dan mengkhususkan diri pada minuman bubuk yaitu bubuk Adem Sari dan Vegeta.
Sari Enesis Indah, Enesis Group semakin memantapkan karirnya untuk terus berkembang pesat dan menghasilkan produk-produk inovatif. Cairan Adem Sari atau Sensa Cools Chingku, Coolant dan Proman Energenesis merupakan buah kreatif dari PT. Visi Enesis Group adalah Enesis Group bertekad untuk menjadi pemimpin dunia dalam minuman kesehatan dan kategori produk FMCG (Fast Moving Consumer Goods) terpilih.
Enesis Group memiliki misi untuk mengembangkan produk perawatan rumah, perawatan pribadi, dan minuman fungsional yang inovatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memberikan solusi kreatif dan sehat terhadap kebutuhan mereka. Herlina Indah Indah memiliki struktur organisasi, dimana setiap departemen dan setiap bawahan bertanggung jawab atas tugasnya dan atasannya.
Hasil Pengumpulan Data
- Pengukuran Intensitas kebisingan
- Data Lama terpajan tenaga kerja (Masa Kerja)
- Data Umur pekerja produksi
- Data Jenis Kelamin pekerja produksi
- Penggunaan Alat Pelindung Telinga
- Data Riwayat Penyakit pekerja produksi
- Data Penggunaan Obat Ototoksik pekerja
Dan hasil wawancara terhadap 49 orang pekerja produksi yang mengalami gangguan pendengaran saat menggunakan APT dan tidak pernah menggunakan penutup telinga saat bekerja. Data penggunaan obat ototoksik oleh pekerja produksi diperoleh dari hasil data Medical Check Up (MCU) Human Resource General Affair (HRGA) dan hasil wawancara terhadap karyawan gangguan pendengaran yang tidak sedang mengonsumsi obat ototoksik. .
Hasil Analisa Health Risk Assesment
Pembahasan
- Intensitas Kebisingan
- Lama Terpajan (Masa Kerja)
- Umur
- Jenis Kelamin
- Penggunaan APT
- Riwayat Penyakit
- Pengaruh Obat Ototoksik
Nilai risiko bagi pekerja muda adalah sebesar 30 yaitu potensi risiko, sehingga tindakan yang akan diambil sesuai tingkat risiko ICMM memerlukan tindakan pengendalian dan/atau pemantauan. Nilai risiko bagi pegawai perempuan sebesar 30 yang merupakan potensi risiko, sehingga tindakan yang akan dilakukan sesuai tingkat risiko KPMM memerlukan tindakan pengendalian dan/atau pemantauan. Dalam analisis diketahui bahwa nilai risiko bagi pegawai pengguna APT adalah sebesar 60 yaitu potensi risiko, sehingga tindakan yang sebaiknya dilakukan sesuai tingkat risiko KPMM memerlukan tindakan pengendalian dan/atau pemantauan.
Analisis Health Risk Assessment terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat-obatan ototoksik tidak dilakukan karena tidak ada karyawan yang menggunakan obat-obatan ototoksik yang dapat menyebabkan kerusakan pendengaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai “Analisis Pengaruh Sumber Suara Terhadap Gangguan Pendengaran Dengan Metode HRA Pada Pekerja Produksi Di PT. Hasil analisis tingkat risiko faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan pendengaran dengan metode HRA menunjukkan bahwa terdapat tingkat risiko yang berpotensi sangat serius.
Nilai analisis Health Risk Assessment mempunyai risiko paling tinggi dalam penggunaan APD karena dampak yang ditimbulkan sangat berbahaya, dapat terkena kebisingan melebihi NAB yang ada dan mengakibatkan gangguan pendengaran bagi pekerja. Dari hasil audiometri terhadap 49 pekerja produksi diketahui terdapat pekerja yang mengalami gangguan pendengaran dan mengalami penurunan pendengaran. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai risiko intensitas kebisingan dan gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja dengan penelitian yang dapat mengetahui hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan pendengaran.
Hubungan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas Dengan Peningkatan Tekanan Darah Dan Gangguan Pendengaran Pada Tukang Becak Di Sekitar Terminal Surabaya (Disertasi Doktor). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan pendengaran akibat kebisingan pada pekerja di unit produksi PT.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
- Instansi
- Pekerja
- Mahasiswa/Peneliti lain
Nilai Resiko Intensitas kebisingan dapat dikurangi dengan cara: Mengisolasi sumber kebisingan dalam hal ini mesin dengan peredam sehingga intensitas yang terpapar pada area kerja pekerja produksi dapat dikurangi. Dengan upaya pengendalian tersebut maka nilai peluang eksposur dapat dikurangi, sehingga total nilai risiko yang dihasilkan menjadi berkurang. Sehingga dapat mengurangi nilai konsekuensi dan kemungkinan paparan bagi pekerja, yang akan berdampak pada pengurangan nilai risiko yang ada secara keseluruhan.
Lakukan pemeriksaan audiometri secara berkala, minimal setahun sekali, karena pemeriksaan ini sangat penting mengingat gangguan pendengaran akibat kebisingan terjadi secara perlahan, bertahap dan tanpa disadari oleh para pekerja. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 05 Tahun 2018 tentang keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja.