• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Determinan Financing to Deposit Ratio Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2017-2022

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Determinan Financing to Deposit Ratio Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2017-2022"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Journal of Applied Islamic Economics and Finance

Vol. 3, No. 3, June 2023, pp. 493 – 506

https://doi.org/10.35313/jaief.v3i3.5339

Analisis Determinan Financing to Deposit Ratio Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2017-2022

Analysis of determinant financing to deposit ratio in sharia commercial bank in Indonesia period 2017-2022

Eka Fauziah Rizky*, Destian Arshad Darulmalshah Tamara, Fatmi Hadiani Department of Accounting, Politeknik Negeri Bandung, Bandung, Indonesia

Research article

Received 28 April 2023; Accepted 08 June 2023

How to cite: Rizky, EF., Tamara, DAD., & Hadiani, F. (2023). Analisis Determinan Financing To Deposit Ratio Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2017-2022. Journal of Applied Islamic Economics and Finance, 3(3), 493-506.

*Corresponding author: [email protected]

Abstract: This study aims to determine the magnitude of the influence of the variables Third Party Funds (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Assets (ROA), Net Operating Margin (NOM), and Inflation on Financing to Deposit Ratio (FDR) at at Sharia Commercial Banks in Indonesia 2017-2022 period. The population used is Sharia Commercial Banks in Indonesia. The data used is secondary data derived from the annual report for the 2017-2022 period which is available on each BUS website. The research method used is quantitative research with panel data regression analysis. The result of this study conclude that DPK has a negative no significant effect on FDR, CAR has a significant positive effect on FDR, ROA has a negative no significant effect on FDR, NOM has a positive no significant effect on FDR, and Inflation has a negative no significant effect on FDR. Car has a dominant effect on FDR.

Keywords: DPK, CAR, ROA, NOM, inflation, FDR

1. Pendahuluan

Dunia perbankan adalah salah satu penggerak roda perekonomian suatu negara yang berperan vital. Bahkan, sekarang ini perbankan dikatakan tidak dapat dipisahkan dengan perekonomian negara karena seluruh sektor ekonomi akan selalu bersinggungan dengan aktivitas keuangan yang memerlukan jasa bank. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada triwulan IV tahun 2022 mencatat bahwa aset perbankan Indonesia mampu mengalami peningkatan hingga Rp10.480,69 triliun atau sebesar 46,94% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan tahun sebelumnya yang mana aset perbankan hanya sebesar Rp10.112,9 triliun atau sebesar 41,29% (yoy) terhadap PDB di tahun sebelumnya Hal tersebut menunjukkan bahwa perbankan mengalami peningkatan dalam menggerakan aktivitas perekonomian. Salah satu peran perbankan, ialah sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali ke masyarakat atau biasa disebut dengan fungsi intermediasi.

Efektivitas bank dalam mengelola fungsi intermediasi keuangannya bisa terlihat dari rasio untuk menilai likuiditas suatu bank Syariah, adalah rasio financing to deposit ratio (FDR).

FDR adalah rasio yang menjelaskan perbandingan pembiayaan yang diserahkan dengan jumlah DPK sesuai penghimpunan dan akan mengukur seberapa jauh dana pinjaman dari

(2)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

dana pihak ketiga dapat diberikan kembali berbentuk pembiayaan (Sumartik dan Hariasih, 2018:38). Makin besar FDR bank syariah, maka kian besar bank tersebut atas penyaluran dana berbentuk pembiayaan yang dananya diperoleh dari dana masyarakat yang dihimpun oleh bank. Berdasar standar yang ditentukan oleh Bank Indonesia, nilai FDR yang baik dan harus dijaga ialah antara 80% hingga 110%. Apabila bank syariah memiliki nilai FDR kurang dari standar Bank Indonesia, berarti bank syariah itu tidak efektif untuk menyalurkan dananya karena terjadi idle money atau penimbunan dana yang tidak menghasilkan. Sedangkan apabila nilainya melebihi ketentuan, maka hendak memengaruhi penurunan likuiditas bank.

Pentingnya melakukan pengelolaan rasio FDR harus dilakukan oleh setiap bank syariah khususnya Bank Umum Syariah. Perihal ini disebabkan kondisi rasio FDR Bank Umum Syariah cenderung menurun dan ada di bawah 80%. Peneliti sudah melampirkan grafik yang menggambarkan rasio FDR Bank Umum Syariah:

Gambar 1. Perkembangan FDR Bank Umum Syariah

Pada grafik yang peneliti gambarkan di atas, tampak nilai FDR Bank Umum Syariah terus terjadi penurunan dari tahun 2017, meskipun pada tahun 2022 mengalami kenaikan.

Akan tetapi, mengacu pada standar Bank Indonesia, nilai FDR Bank Umum Syariah tersebut masih jauh dari nilai 80%. Penurunan FDR memperlihatkan bila BUS belum efektif dalam penyaluran pembiayaan dengan dana yang diperoleh dari dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun. Sehingga salah satu faktor yang menyebabkan penurunan FDR ini diduga oleh penurunan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang digunakan untuk mengirimkan pembiayaan ke masyarakat. Perihal ini muncul ketika DPK hasil himpunan bank menurun, berarti penyaluran dana berbentuk pembiayaannya pun kian menurun. Di bawah ini merupakan tabel yang menunjukkan total dana pihak ketiga beserta total penyaluran pembiayaan oleh Bank Umum Syariah:

79,61%

78,53%

77,91%

76,36%

70,12%

75,19%

64,00%

66,00%

68,00%

70,00%

72,00%

74,00%

76,00%

78,00%

80,00%

82,00%

Des 2017 Des 2018 Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022

FDR BANK UMUM SYARIAH

(3)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

Tabel 1. Perbandingan DPK dan PYD Dana Pihak Ketiga

(DPK)

Pembiayaan yang

Disalurkan (PYD) Rasio

Tahun 2017 238.393 189.789 79,61%

Tahun 2018 257.606 202.298 78,53%

Tahun 2019 288.978 225.146 77,91%

Tahun 2020 322.853 246.532 76,36%

Tahun 2021 365.421 256.219 70,12%

Tahun 2022 429.029 322.599 75,19%

Berdasar pada tabel perbandingan tersebut, pada kenyataannya, dari tahun 2017 jumlah DPK tidak terjadi penurunan, melainkan mengalami peningkatan hingga tahun 2022.

Peningkatan DPK ini memperlihatkan bila kian banyak dana masyarakat yang bank himpun dan bisa disalurkan dengan bentuk pembiayaan. Oleh karena itu, makin besar tingkat DPK, seharusnya makin besar juga tingkat FDR-nya. Pernyataan tersebut sama seperti penelitian milik Alfian (2021), menyebut bila kian naik tingkat DPK, maka makin naik tingkat FDR.

Namun, pada kenyataannya, tingkat FDR Bank Umum Syariah selama lima tahun menurun terus-menerus atau belum sesuai standar yang ditentukan Bank Indonesia, meskipun jumlah DPKnya naik setiap tahun. Sehingga perlu diteliti adakah pengaruh DPK terhadap FDR.

Faktor lain diduga memberikan pengaruh FDR, yaitu CAR. Terlampir perbandingan antara CAR dengan FDR:

Gambar 2. Perbandingan CAR dengan FDR

Berdasar pada grafik di atas, nilai CAR cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya memperlihatkan rasio jumlah modal untuk mengelola risiko pembiayaan meningkat. Dari grafik tersebut juga, nilai CAR telah memenuhi batasan standar Bank Indonesia karena lebih dari 8%. Perihal ini memperjelas bila Bank Umum Syariah makin baik dalam penyediaan modal untuk mengelola risikonya. Akan tetapi pada saat yang sama, kenaikan nilai CAR tidak diimbangi dengan kenaikan nilai FDR. Pada tahun 2017-2022 nilai CAR terlihat naik sedangkan nilai FDRnya menurun. Perihal ini mengindikasikan terdapat ketidaksesuaian teori yang menyebut bila nilai CAR naik, berarti penggunaan modal untuk menanggung risiko juga bertambah sehingga penyaluran pembiayaan akan naik juga. Hal ini mengindikasikan kenaikan nilai CAR diperkirakan akan berbanding lurus dengan nilai FDR.

Faktor lain diduga memengaruhi FDR yaitu ROA. Peneliti sudah melampirkan informasi perihal perbandingan antara ROA dengan FDR:

(4)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

Gambar 3. Perbandingan ROA dengan FDR

Berdasar pada grafik di atas, nilai ROA cenderung mengalami peningkatan meskipun pada tahun 2020 terlihat turun. Peningkatan nilai ROA ini memperlihatkan kemampuan bank semakin baik dalam mengelola asset yang dimiliki termasuk pembiayaan yang disalurkannya.

Akan tetapi pada saat yang sama, kenaikan nilai ROA tidak diimbangi dengan kenaikan nilai FDR. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuaian teori yang menyatakan bahwa semakin baik suatu bank dalam mengelola assetnya, maka laba yang didapat akan semakin meningkat. Dimana dalam memperoleh laba tersebut, terdapat salah satu aset bank yaitu pembiayaan. Oleh karena itu, ROA diduga berbanding lurus dengan FDR. Tetapi pada kenyataannya, nilai FDR turun meskipun nilai ROAnya naik.

Faktor lain diduga memengaruhi FDR yaitu NOM. Berikut merupakan perbandingan antara NOM dengan FDR:

Gambar 4. Perbandingan NOM dengan FDR

Berdasar pada grafik di atas, nilai NOM cenderung mengalami peningkatan meskipun pada tahun 2020 terlihat turun. Peningkatan nilai NOM memperlihatkan bila bank kian efisien dalam mengelola aset produktifnya untuk menghasilkan laba bersih. Hanya saja, pada saat yang sama, kenaikan nilai NOM ini tidak dapat diimbangi dengan kenaikan nilai FDR. Hal ini memperjelas bila terdapat ketidaksesuaian teori yang menunjukkan bahwa apabila semakin efisien bank syariah dalam menghasilkan laba bersih, maka makin banyak penyaluran dana simpanan masyarakat berbentuk pembiayaan sehingga menjadi aktiva produktif. Oleh karena itu, NOM diperkirakan berbanding lurus dengan FDR. Namun kenyataannya, nilai FDR turun

0,63% 1,28% 1,73% 1,40% 1,55% 2,00%

79,61% 78,53% 77,91% 76,36%

70,12% 75,19%

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

70,00%

80,00%

90,00%

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2

Des 2017 Des 2018 Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022

ROA FDR

0,67% 1,42% 1,92% 1,46% 1,66% 2,59%

79,61% 78,53% 77,91%

76,36%

70,12%

75,19%

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

70,00%

80,00%

90,00%

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2

Des 2017 Des 2018 Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022

NOM FDR

(5)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

meskipun nilai NOM naik.

Faktor lain diduga mempengaruhi FDR yaitu inflasi. Berikut merupakan perbandingan antara inflasi dengan FDR:

Gambar 5. Perbandingan Inflasi dengan FDR

FDR juga diperkirakan dipengaruhi oleh faktor makroekonomi salah satunya inflasi.

Berdasar pada grafik di atas, tingkat inflasi dan nilai FDR pada tahun 2017 hingga 2019 terlihat sama-sama mengalami penurunan. Penurunan tingkat inflasi ini memperjelas bila daya beli masyarakat makin meningkat. Pada grafik tersebut, memperlihatkan ketidaksesuaian teori yang menunjukkan bahwa jika tingkat inflasi turun, maka dapat terjadi penurunan suku bunga simpanan yang mengakibatkan masyarakat tidak menaruh simpati guna menyimpan uang mereka ke bank dan daya belinya pun mengalami peningkatan. Apabila terjadi peningkatan terhadap daya beli, diduga permintaan akan pembiayaan juga ikut meningkat.

Dengan begitu, pembiayaan yang diberikan akan meningkat sehingga nilai FDR juga akan naik. Namun pada kenyataannya, penurunan tingkat inflasi diikuti dengan penurunan FDR juga.

Berdasar pada penelitian sebelumnya yang menganalisis faktor yang memengaruhi FDR bank syariah, terdapat beberapa ketidaksamaan antara penelitian satu dan penelitian lainnya yaitu hasil penelitian yang berbeda-beda. Somantri dan Sukmana (2019) menuturkan bila variabel DPK memberikan pengaruh negatif dan signifikan bagi FDR. Alfian (2021) menyatakan, variabel DPK memberikan pengaruh positif dan signifikan bagi FDR. Pada variabel ROA, menurut Prakoso dan Hendratmi (2017), variabel ROA memengaruhi negatif dan signifikan bagi FDR. Perihal ini tidak sama seperti penelitian milik Khorunisa dan Erkhadifa (2022), variabel ROA memengaruhi positif tidak signifikan bagi FDR. Sesuai pemaparan Prakoso dan Hendratmi (2017), CAR memengaruhi positif dan signifikan bagi FDR. Khairunisa dan Erkhadifa (2022) menambahkan bila CAR memberikan pengaruh negatif dan signifikan bagi FDR. Atas adanya fenomena, teori dengan fakta yang tidak sesuai, dan ketidaksamaan hasil dari penelitian sebelumnya, maka peneliti hendak melaksanakan penelitian berjudul Analisis Determinan Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2017-2022.

2. Kajian Pustaka

2.1. Financing to Deposit Ratio (FDR)

Rasio FDR menggambarkan seberapa jauh dana dari bank, terutama dana pihak ketiga atau dana yang asalnya dari masyarakat dapat diserahkan kembali ke masyarakat. Dana tersebut

3,61% 3,13% 2,72% 1,68% 1,87% 5,51%

79,61% 78,53% 77,91% 76,36%

70,12%

75,19%

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

70,00%

80,00%

90,00%

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2

Des 2017 Des 2018 Des 2019 Des 2020 Des 2021 Des 2022 Inflasi FDR

(6)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

disalurkan, lalu dialokasikan menjadi pembiayaan syariah. Dengan begitu, FDR memperlihatkan perbandingan pembiayaan dengan dana dari masyarakat yang telah dialokasikan oleh bank (Sumartik dan Hariasih, 2018:38). Batasan aman dari FDR sesuai ketentuan Bank Indonesia berjumlah 80% hingga 110%. Jika FDR berada di luar batasan tersebut maka dapat terjadi masalah likuidasi pada bank.

2.2. Dana Pihak Ketiga

Kegiatan operasional bank tidak dapat berjalan jika tidak terdapat sumber dana yang menunjang. Sumber pendanaan itu dikumpulkan bank dari masyarakat berbentuk giro, deposito, dan tabungan. Dana ini berkontribusi pada bank karena mampu memberikan penghasilan melalui pembiayaan atau investasi lainnya (Dendawijaya, 2009:24). Besar kecilnya dana pihak ketiga akan berdampak ke keputusan bank menyalurkan pembiayaan pada masyarakat.

2.3. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Pengukuran kecukupan persediaan modal dalam membiayai kerugian akibat aktiva bank dapat dilihat dari rasio ini. Rasio ini harus dipenuhi minimal 8%. Makin tinggi nilai CAR, maka bank makin baik dalam menyerap kerugian dari aktiva yang salah satunya pembiayaan (Fahmi, 2015:181). Penghitungan CAR berdasar pada aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang memuat seberapa besar kadar risiko dalam aktiva itu sendiri (Andrianto dan Firmansyah, 2021:167). Oleh karena itu, CAR dapat memperlihatkan seberapa jauh modal bank bisa menutupi kerugian dari aset yang berisiko.

2.4. Return On Asset (ROA)

Kinerja manajemen bank selama menciptakan keuntungan atas seluruh aktiva baik itu produktif maupun nonproduktif dapat ditunjukkan oleh rasio ROA (Hery, 2017:193). Nilai ROA yang tinggi memperlihatkan kinerja bank makin baik dalam pengelolaan aset termasuk pembiayaan. Oleh karena itu, ROA mencerminkan sejauh mana bank dapat menghasilkan keuntungan yang didapat dari jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia.

2.5. Net Operating Margin (NOM)

NOM, yaitu rasio yang menilai bagaimana kinerja bank dalam menciptakan keuntungan (laba) operasional bersih (Dendawijaya, 2009:70). Nilai NOM yang tinggi memperlihatkan makin baik efektivitas bank dalam memanfaaatkan keseluruhan aset produktif termasuk pembiayaan. Dengan begitu, makin besar pendapatan bagi hasil bersih akan memperlihatkan makin besar juga penyaluran pembiayaan dan fungsi intermediasi yang berfungsi dengan baik (Rusyamsi, 1999:52). Oleh karena itu, NOM menjadi indikator pengukuran yang cukup baik dalam menilai kinerja bank.

2.6. Inflasi

Indikator makro ekonomi yang memberi dampak pada kondisi ekonomi suatu negara ialah inflasi. Inflasi adalah kecenderungan harga yang mengalami kenaikan secara kontinu sehingga dapat membuat masyarakat menurunkan gairah daya belinya (Utari dkk, 2016:4).

Inflasi akan berakibat ke nilai mata uang, maka secara langsung akan memberikan pengaruh ke masyarakat. Makin tinggi inflasi, maka akan terjadi peningkatan suku bunga sehingga potensi menabung masyarakat mengalami kenaikan dan memicu daya beli masyarakat melemah.

(7)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

2.7. Kerangka Pemikiran

Peneliti mengembangkan dasar pemikiran atas penelitian yang didasarkan pada teori dan berkaitan dengan permasalahan krusial. Berikut merupakan kerangka berpikir peneliti yang digambarkan secara sistematis pada gambar di bawah ini:

Gambar 6. Kerangka Pemikiran

2.8. Hipotesis Penelitian

Terlampir hipotesis penelitian yang sudah dibentuk:

𝐻1= DPK (dana pihak ketiga) memberikan pengaruh pada FDR (financing to deposit ratio).

𝐻2= CAR (capital adequacy ratio) memberikan pengaruh pada FDR (financing to deposit ratio).

𝐻3= ROA (return on asset) memberikan pengaruh pada FDR (financing to deposit ratio).

𝐻4= NOM (net operating margin) memberikan pengaruh pada FDR (financing to deposit ratio).

𝐻5= Inflasi memberikan pengaruh pada FDR (financing to deposit ratio).

3. Metode Penelitian

Metode deskriptif kuantitatif, yaitu metode yang dipilih dalam penelitian ini. Data yang dipakai dalam penelitian ini ialah data sekunder dari masing-masing laporan tahunan bank.

Penelitian ini mempunyai variabel dependen (terikat), yaitu FDR dengan variabel independen (bebas) yang terbatas pada DPK, CAR, ROA, NOM, dan Inflasi. Populasi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini ialah Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2017 hingga 2022 dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas 13 BUS di Indonesia. Teknik analisis data dalam penelitian ini mempergunakan analisis regresi data panel dengan berbagai langkah yang perlu dilaksanakan. Langkah pertama, yaitu menentukan estimasi model paling baik antara common effect, fixed effect maupun random effect menggunakan uji Chow dan uji Hausman. Langkah kedua, yaitu melakukan uji asumsi klasik yang dibutuhkan di setiap model yang dipilih. Jika model telah terbebas atau tanpa mengalami pelanggaran asumsi klasik, maka langkah terakhir ialah melakukan uji hipotesis, seperti uji t, uji F, koefisien determinasi, dan uji variabel dominan.

(8)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Uji Pemilihan Model 4.1.1. Uji Chow

Pemilihan model terbaik antara common effect dengan fixed effect dapat dilakukan dengan uji chow.

Gambar 7. Hasil Uji Chow Sumber: Output STATA 13

Beracuan pada pengukuran uji chow, terlihat nilai Prob F sejumlah 0,0083 atau berada di bawah 0,05 sehingga fixed effect model ialah model paling baik. Setelah itu, perlu melakukan uji model yang paling baik antara fixed effect dengan random effect dengan uji hausman.

4.1.2. Uji Hausman

Gambar 8. Hasil Uji Hausman Sumber: Output STATA 13

Berdasar pada pengukuran uji hausman di atas, terlihat nilai Prob chi2 berjumlah 0,7096 atau di atas 0,05, maka menunjukkan random effect model ialah model paling baik yang dipilih.

Peneliti hendak menggunakan estimasi model random effect ke dalam analisis regresi data panel.

4.2. Uji Asumsi Klasik

Model terbaik dalam penelitian ini, yaitu random effect. Model ini tidak wajib mempergunakan uji asumsi klasik seperti halnya uji heterokedastisitas atau uji autokorelasi karena memiliki estimasi generalized least square (GLS) sehingga sudah dianggap homokedastisitas dan tidak terjadi autokorelasi. Dengan demikian, uji asumsi klasik yang dibutuhkan sekadar uji multikolinearitas.

F test that all u_i=0: F(12, 46) = 2.67 Prob > F = 0.0083 rho .65802092 (fraction of variance due to u_i)

sigma_e .17183889 sigma_u .23836448

_cons .730367 .1076369 6.79 0.000 .5137053 .9470288 Inflasi -2.956357 1.980007 -1.49 0.142 -6.941904 1.029189 NOM 1.549325 1.174991 1.32 0.194 -.8158093 3.91446 ROA -1.851813 1.693647 -1.09 0.280 -5.260948 1.557321 CAR .3935608 .1676486 2.35 0.023 .0561016 .7310199 DPK 4.21e-09 3.17e-09 1.33 0.190 -2.16e-09 1.06e-08 FDR Coef. Std. Err. t P>|t| [95% Conf. Interval]

corr(u_i, Xb) = -0.7692 Prob > F = 0.1234 F(5,46) = 1.84 overall = 0.0110 max = 6 between = 0.0423 avg = 4.9 R-sq: within = 0.1668 Obs per group: min = 2 Group variable: Bank Number of groups = 13 Fixed-effects (within) regression Number of obs = 64

(9)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

Gambar 9. Hasil Uji Multikolinearitas Sumber: Output STATA 13

Beracuan ke gambar di atas, peneliti memperoleh nilai VIF berjumlah 2,79 yang mana nilai ini berada di bawah 10. Dengan begitu, sesuai hasil di atas, memberi simpulan bila tidak terjadi masalah multikolinearitas.

4.3. Analisis Regresi Data Panel

Gambar 10. Hasil Analisis Regresi Data Panel Sumber: Output STATA 13

Berdasar pada gambar di atas, dapat kita rumuskan persamaan regresi data panel, antara lain:

FDR = 0.8230371 – 0.0000000497DPK + 0.3366163CAR – 1.770277ROA + 1.129314NOM – 2.718129INF

Mean VIF 2.79

DPK 1.12 0.890373 CAR 2.32 0.430813 Inflasi 2.47 0.404737 ROA 3.97 0.251742 NOM 4.09 0.244754 Variable VIF 1/VIF

(10)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

4.4. Uji Hipotesis 4.4.1. Uji t

Gambar 11. Hasil Uji t Sumber: Output STATA 13

Berdasar pada tabel tersebut, maka dapat dilihat pengaruh antarvariabel.

1. Dana Pihak Ketiga (DPK)

Hasil uji t dengan analisis data panel untuk variabel DPK memperlihatkan nilai t-hitung 0,58 atau nilai t-hitung berada di bawah t-tabel: 0,58 < 1,99 dengan nilai p-value berada di atas 0,05 berjumlah 0,565. Sesuai hasil tersebut, maka H1 tertolak atau DPK tidak memberi pengaruh pada FDR Bank Umum Syariah periode 2017 hingga 2022.

2. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Hasil uji t dengan analisis data panel untuk variabel CAR memperlihatkan, nilai t-hitung 3,45 atau t-hitung di bawah t-tabel: 3,45 < 1,99 dengan nilai p-value lebih kecil dari 0,05 berjumlah 0,001, sehingga menerima H2 atau CAR memengaruhi signifikan bagi FDR Bank Umum Syariah periode 2017–2022. CAR pun merupakan variabel yang paling berpengaruh dominan karena sekadar variabel ini yang mempunyai nilai probabilitas di bawah 0,05.

3. Return on Asset (ROA)

Hasil uji t dengan analisis data panel untuk ROA memperlihatkan nilai t-hitung 1,13 atau t-hitung di bawah t-tabel: 1,13 < 1,99 dengan nilai p-value lebih besar, maka H3 tertolak atau ROA tidak memberikan pengaruh secara signifikan pada FDR Bank Umum Syariah periode 2017 – 2022.

4. Net Operating Margin (NOM)

Hasil uji t dengan analisis data panel untuk NOM memperlihatkan nilai t-hitung 1,10 atau t-hitung berada di bawah t-tabel (1,10 < 1,99) dengan nilai p-value berada di atas 0,05 berjumlah 0,270. Dengan hasil tersebut, berarti terjadi penolakan pada H4 atau NOM tidak memberikan pengaruh secara signifikan bagi FDR Bank Umum Syariah periode 2017 – 2022.

5. Inflasi

Hasil uji t dengan analisis data panel untuk inflasi memperlihatkan apabila nilai t-hitung 1,37 atau nilai t-hitung berada di bawah t-tabel (1,37 < 1,99) dengan p-value yang berada di atas 0,05 sejumlah 0,170. Melalui hasil tersebut, maka H5 tertolak atau inflasi tidak memberikan pengaruh secara signifikan pada FDR Bank Umum Syariah periode 2017 hingga 2022.

.

rho .24414714 (fraction of variance due to u_i)

sigma_e .17183889 sigma_u .09766268

_cons .8230371 .0721353 11.41 0.000 .6816546 .9644196 Inflasi -2.718129 1.9798 -1.37 0.170 -6.598466 1.162209 NOM 1.129314 1.023127 1.10 0.270 -.8759793 3.134606 ROA -1.770277 1.567161 -1.13 0.259 -4.841856 1.301302 CAR .3366163 .0974535 3.45 0.001 .145611 .5276217 DPK -4.97e-10 8.62e-10 -0.58 0.565 -2.19e-09 1.19e-09 FDR Coef. Std. Err. z P>|z| [95% Conf. Interval]

corr(u_i, X) = 0 (assumed) Prob > chi2 = 0.0151 Wald chi2(5) = 14.09 overall = 0.2181 max = 6 between = 0.6087 avg = 4.9 R-sq: within = 0.1122 Obs per group: min = 2 Group variable: Bank Number of groups = 13 Random-effects GLS regression Number of obs = 64

(11)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

4.4.2. Uji F

Gambar 12. Hasil Uji F Sumber: Output STATA 13

Hasil Uji F di atas terlihat melalui nilai probabilitas > chi2 atau di bawah 0,05, maka H0 tertolak. Melalui hasil tersebut, secara simultan variabel DPK, CAR, ROA, NOM maupun inflasi memengaruhi secara signifikan pada FDR Bank Umum Syariah tahun 2017 hingga 2022.

4.4.3. Koefisien Determinasi

Berdasar pada tabel output random effect model pada Gambar 4.4, nilai r-square between berjumlah 0,6087 atau secara serentak DPK, CAR, ROA, NOM, dan inflasi mempunyai kontribusi dalam menjelaskan FDR berjumlah 60,87%, tersisa variabel lainnya yang tidak termuat pada model penelitian. Atas dasar itulah, rasio keuangan maupun kondisi makroekonomi yang menjadi variabel dalam penelitian ini cukup dapat menjadi faktor dalam memberikan informasi-informasi mengenai FDR.

4.4.4. Uji Variabel Dominan

Berdasar pada hasil uji variabel dominan yang dilihat dari hasil analisis regresi data panel pada Gambar 4.4, yang terlihat pada kolom nilai koefisien regresi dan nilai probabilitas. Jika nilai koefisien suatu variabel makin menjauh dari 0 (nol) dan nilai probabilitas di bawah 0,05, maka variabel tersebutlah yang paling dominan memengaruhi variabel dependen (terikat).

Melalui hasil tersebut, memberi simpulan bila CAR memiliki pengaruh paling dominan terhadap FDR Bank Umum Syariah tahun 2017 hingga 2022. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai koefisien regresi berjumlah 0,3366163, sedangkan nilai probabilitas berada di angka 0,001.

4.5. Pembahasan

4.5.1. Pengaruh DPK terhadap FDR

Hasil penelitian memperlihatkan bila variabel DPK tidak memengaruhi FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2017-2022. Hal ini memiliki arti bahwa setiap perubahan berupa kenaikan atau penurunan DPK, tidak akan memengaruhi tingkat penyaluran pembiayaan atau FDR. Perihal ini berlainan dengan teori yang memperjelas bila DPK merupakan sumber pendanaan bagi perbankan dapat memberikan pendapatan melalui penyaluran dana kepada masyarakat. Ketika DPK terjadi kenaikan, tentunya tingkat penyaluran pembiayaan atau FDR terjadi kenaikan pula. Ketidaksesuaian antara teori dan hasil penelitian memperlihatkan bila bank umum syariah pada periode penelitian mempunyai pengelolaan DPK yang kurang baik dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat.

DPK tersebut dihimpun dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito dengan nilai deposito yang lebih tinggi dibanding giro dan tabungan. Hal ini menunjukkan bank harusnya lebih besar juga dalam menyalurkan pembiayaannya. Tetapi, bank kurang memanfaatkan dana

(12)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

tersebut dalam bentuk pembiayaan. Perihal tersebut berakibat tidak terjadi peningkatan FDR meskipun penghimpunan dana terjadi kenaikan. Hal ini dapat disebabkan karena bank lebih memilih untuk menyalurkan dananya kepada aset lain seperti instrumen keuangan yang risikonya lebih rendah dibanding pembiayaan. Hasil penelitian ini sama seperti penelitian milik Suhartatik dan Kusumaningtyas (2015) juga milik Rufaidah dkk (2021).

4.5.2. Pengaruh CAR terhadap FDR

Hasil penelitian yang peneliti lakukan memperlihatkan bila CAR memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2017 hingga 2022. Hal ini memiliki arti bahwasanya pada saat nilai CAR mengalami kenaikan, maka nilai FDR juga akan peningkatan. Hasil ini sesuai dengan teori yang menjelaskan CAR dapat menutup kerugian atas aktiva berisiko termasuk pembiayaan, sehingga nilai CAR yang meningkat menunjukkan penyaluran pembiayaan yang meningkat juga. Hal ini menandakan bahwa bank telah memanfaatkan modal dalam menanggung aktiva yang berisiko salah satunya pembiayaan. Makin banyak modal yang terkumpul, maka makin banyak aktiva berisiko yang harus ditanggung salah satunya pembiayaan. Bank juga memiliki modal yang memadai sehingga semakin besar kesempatan bank selama menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik. Perihal ini terbukti dengan nilai CAR pada periode penelitian yang tinggi dan melebihi 8%. Hasil penelitian ini sama seperti milik Prakoso dan Hendratmi (2017), Khoirunisa dan Erkhadifa (2022), pun penelitian milik Atmojo dan Nurfahmiyati (2021).

4.5.3. Pengaruh ROA terhadap FDR

Hasil penelitian milik peneliti memperlihatkan bila ROA tidak memengaruhi FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2017 hingga 2022. Hal ini memiliki arti bahwa setiap perubahan berupa kenaikan maupun penurunan ROA, tidak akan berpengaruh atau berdampak terhadap tingkat penyaluran pembiayaan atau FDR. Hasil ini tidak berdasar pada teori yang memperjelas jika terjadi peningkatan laba maka pembiayaan yang menjadi aset bank juga turut memberikan kontribusi dalam menghasilkan laba yang tinggi.

Ketidaksesuaian hasil dengan teori menunjukkan bahwa keuntungan yang didapat bank tidak menjamin bank telah melakukan penyaluran pembiayaannya dengan baik. Hal tersebut dikarenakan keuntungan bank dapat diperoleh dari aset bank lainnya selain pembiayaan sehingga ketika laba bank naik maka tidak dapat dipastikan apakah aset bank yang berupa pembiayaan juga mengalami perubahan. Penjelasan tersebut memberi indikasi bila bank belum efisien dalam pemanfaatan aset berupa penyaluran pembiayaan yang akan berkontribusi dalam tingginya pendapatan bank. Hasil penelitian ini sama seperti penelitian Khoirunisa dan Erkhadafi (2022) juga penelitian Nugraha dan Arshad (2020).

4.5.4. Pengaruh NOM terhadap FDR

Hasil penelitian yang peneliti lakukan memperlihatkan bila variabel NOM tidak mampu memengaruhi FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2017-2022. Hal ini memiliki arti bahwasanya tiap perubahan berupa kenaikan atau penurunan NOM, tidak akan memengaruhi tingkat penyaluran pembiayaan atau FDR. Hasil dari penelitian ini tidak sejalan dengan teori, yang memperjelas bila NOM mampu memperlihatkan kemampuan bank yang makin baik dalam mengelola aset produktif dalam wujud pembiayaan. Dengan begitu, besarnya pendapatan bagi hasil bersih akan menunjukkan tingkat penyaluran pembiayaan dan sejauh mana fungsi intermediasi dapat berjalan. Hal ini dapat disebabkan karena

(13)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

tingginya pendapatan atas aktiva produktif bank diperoleh bukan hanya dari pembiayaan, melainkan dari aktiva produktif bank lainnya seperti surat berharga penyertaan, penempatan dana antarbank, dan lain sebagainya. Sehingga bank belum mampu memanfaatkan aktiva produktifnya, yang salah satunya pembiayaan dengan baik. Hasil penelitian ini sama seperti penelitian milik Khoirunisa dan Erkhadafi (2022).

4.5.5. Pengaruh Inflasi terhadap FDR

Hasil penelitian yang peneliti lakukan memperlihatkan bila variabel Inflasi tidak memengaruhi FDR pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2017-2022. Hal ini memiliki arti bahwa setiap perubahan berupa kenaikan atau penurunan inflasi, tidak akan berpengaruh atau berdampak terhadap tingkat penyaluran pembiayaan atau FDR. Hasil ini tidak sesuai teori yang menyatakan inflasi adalah faktor eksternal yang dapat memberikan pengaruhnya pada likuiditas perbankan. Ketidaksesuaian teori dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi tidak menjamin keputusan bank dalam menyalurkan pembiayaan. Ketika inflasi turun, tidak dapat dipastikan bank menaikkan penyaluran pembiayaan karena bank tidak ingin mengambil risiko atas meningkatnya pembiayaan bermasalah. Faktor lain yang dapat menyebabkan inflasi tidak berpengaruh adalah karena inflasi pada periode penelitian cukup rendah sehingga tidak dapat menjamin keputusan masyarakat atau nasabah terkait peminjaman dana dari bank meskipun daya beli masyarakat meningkat atau menurun. Penelitian ini sama hasilnya seperti penelitian milik Khoirunisa dan Erkhadafi (2022).

4.5.6. Pengaruh CAR Paling Dominan terhadap FDR

Hasil penelitian yang sudah peneliti lakukan mempertegas bahwasanya CAR variabel paling berpengaruh dominan terhadap FDR pada Bank Umum Syariah periode 2017-2022. Setiap peningkatan CAR, akan berpengaruh terhadap peningkatan nilai FDR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dana yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan bukan hanya dari dana yang berasal dari masyarakat, akan tetapi cenderung dapat berasal dari modal sendiri bank.

Sehingga jika modal bank bertambah, tingkat penyaluran pembiayaan juga meningkat.

5. Penutup

Berdasar rumusan permasalahan dan hasil analisis regresi data panel, maka disimpulkan seperti:

1. DPK tidak mampu memengaruhi FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

2. CAR berpengaruh secara positif pada FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

3. ROA tidak mampu memengaruhi FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

4. NOM tidak mampu memengaruhi FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

5. Inflasi tidak mampu memengaruhi FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

6. CAR merupakan variabel yang paling mendominasi dalam memengaruhi FDR Bank Umum Syariah tahun 2017-2022.

Daftar Pustaka

Andrianto & Firmansyah, M.A. (2019). Manajemen Bank Syariah (Implementasi Teori dan Praktek).

Surabaya: CV. Penerbit Qiara Media

Alfian. (2021). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Likuiditas Perbankan Syariah. Jurnal Ekonomi Syariah, Vol.2, No.2, 2021

Atmojo, M. F. S., & Nurfahmiyati. (2021). Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Biaya

(14)

Rizky, EF., Tamara, DAD., Hadiani, F.

Operasional Pendapatan Operasional dan Net Operational Margin terhadap Financing to Deposit Ratio pada Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2016-2018. Jurnal Riset Ilmu Ekonomi Vol. 1, No. 1, Tahun 2021, Hal 34-40

Dendawijaya, Lukman. (2005). Manajemen Perbankan. Bogor: Ghalia Indonesia

Fahmi, I. (2015). Manajemen Perbankan Konvensional & Syariah. Jakarta: Mitra Wacana Media Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23. Edisi

8. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Hasna, & Rachmadi, H. (2021). Pengaruh Return on Asset dan Dana Pihak Ketiga Terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2015-2019.

Jurnal Akuntansi Terapan Vol. 3, No. 1, Oktober 2021, pp.36-42

Hery. (2017). Analisis Laporan Keuangan Integrated and Comprehensive Edition. Jakarta: Grasindo Kasmir. (2014). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Khoirunisa, & Erkhadifa, R. (2022). Pengaruh CAR, DPK, NIM, ROA, NPF, dan Inflasi Terhadap FDR Bank Umum Syariah Indonesia Periode 2016-2020. Journal of Economics, Finance and Banking, Vol.7, No.2, November 2022.

Nugraha, H., & Arshad, D. (2020). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi FDR Bank Umum Syariah (Studi Kasus PT Bank Muamalat Indonesia Tbk). Journal of Applied Islamic Economics and Finance, 1(1), pp. 37-53

Prakoso, D. & Hendratmi, A. (2017). Determinan Financing to Deposit Ratio Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2012-2015. Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan Vol. 4, No. 11, November 2017: 860-874

Rufaidah dkk. (2021). Pengaruh DPK, CAR, BOPO, dan NPF terhadap Likuiditas pada Bank Umum Syariah. Journal of Applied Islamic Economics and Finance, Vol.2, No.1, October 2021, pp. 187-197

Somantri, Y.F., & Sukmana, W. (2019). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Berkala Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol.04, No. 02 (2019): 61-7

Sumartik, & Hariasih, M. (2018). Buku Ajar Manajemen Perbankan. Sidoarjo: Umsida Press Utari, dkk. (2016). Inflasi di Indonesia: Karakteristik dan Pengendaliannya. Jakarta: BI Institute

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di

Rima Cahya Suwarno Analisis Pengaruh dan Ahmad Mifdlol NPF, FDR, Muthohar 2018 BOPO, CAR dan GCG Terhadap Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia Puguh, Ronny, Budi

Penelitian yang dilakukan oleh Diana Djuwita dan Assa Fito Muhammad (2016) tentang “Pengaruh Total DPK, FDR, NPF dan ROA terhadap Total Asset Bank Syariah di Indonesia”,

Financing to Deposit Ratio (FDR) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan

Grafik 1.3 di atas menunjukkan bahwa besarnya indikator FDR pada Bank Rakyat Indonesia Syariah periode tahun 2011 Triwulan I-II mengalami penurunan 4,10 persen, sedangkan

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis 2, menunjukkan bahwa pada Bank Syariah Mandiri variabel Financing To Deposit Ratio (FDR) tidak berpengaruh secara nyata

Financing pada bank umum syariah masih berada dibawah 5% atau sesuai dengan angka standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Maka bank tersebut masih

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Laporan Keuangan Publikasi triwulanan pada Bank Umum Syariah pada periode 2012 hingga 2016 yang diterbitkan oleh