1
ANALISIS PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK), NON
PERFORMING FINANCING (NPF), DAN INFLASI TERHADAP
FINANCING TO DEPOSIT RATIO (FDR) BANK PEMBIAYAAN
RAKYAT SYARIAH (BPRS) DI INDONESIA
PERIODE 2010-2013
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Naeli Kamilia Fikriati 1110084000040
JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISINIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Naeli Kamilia Fikriati
2. Tempat, Tanggal Lahir : Kedungwuluh Lor, 19 September 1991
3. Agama : Islam
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Alamat : Komp Reni Jaya, Jl Bali Blok Q-8/18,
Pondok Benda, Pamulang, Tangerang
Selatan
6. No. Telepon : 08999873540
7. Email : [email protected]
II. PENDIDIKAN FORMAL
1. TK Nurul Hasanah Pondok Benda (1997-1998)
2. SD Negeri Pondok Benda II (1998-2001)
3. SD Negeri Lebak Bulus 03 Pagi (2001-2004)
4. Mts Negeri Tangerang II Pamulang (2004-2007)
5. SMA Muhammadiyah 25 Pamulang (2007-2010)
ii
ABSTRACT
This study aimed to analyze the influence of third party financing (DPK),
non performing financing (NPF), and inflation to financing to deposit ratio (FDR) Islamic rural bank in Indonesia. The analysis was using monthly time series data published by Bank Indonesia from 2010 to 2013 period. The method which used in this study is Ordinary Least Square (OLS).
The results showed that third party financing (DPK) had significant influence to financing to deposit ratio (FDR) in Islamic rural bank in Indonesia from 2010 to 2013 period. Whereas non performing financing (NPF) and inflation did not have significant influence to financing to deposit ratio (FDR) in Islamic rural bank in Indonesia from 2010 to 2013 period.
Key words : financing to deposit ratio (FDR), third party financing (DPK), non performing financing (NPF), inflation, Ordinary Least Square
iii
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF) dan Inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR)pada bank pembiayaan rakyat syariah di Indonesia. Analisis dilakukan dengan menggunakan data runtut waktu bulanan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia periode 2010 hingga 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia periode 2010 hingga 2013. Sedangkan
Non Performing Financing (NPF) dan Inflasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia periode 2010 hingga 2013
iv KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT dengan segala
kesempurnaan-Nya yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya
dan kita sebagai manusia yang menjadi salah satu ciptaan-Nya yang telah sangat
sempurna dan mulia dilahirkan di dunia ini, Allah SWT yang telah melimpahkan
berkah dan karunia-Nya kepada penulis serta menganugerahkan kecerdasan dan
kemampuan berpikir khususnya kepada penulis, sehingga sampai saat ini penulis
mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan ikhlas dengan harapan dapat
memberikan manfaat yang luas bagi banyak pihak. Shalawat serta salam tidak
lupa untuk selalu diserukan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang
telah membawa ajaran agama Islam hingga sampai kepada kita semua.
Penulisan skripsi ini penulis lakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini jika tanpa bimbingan
dan bantuan berbagai pihak dari mulai periode perkuliahan sampai pada
penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit untuk dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Oleh karena itu, izinkanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih
yang sebesar besarnya kepada pihak-pihak terkait yang berjasa bagi penulis dalam
v
1. Kedua orang tua ku tercinta, Bapak Mulkan Nasir dan Ibu Suprapti,
terimakasih yang tak terhingga atas segala do’a, bimbingan, semangat, dan
dukungannya, sehingga aku bisa sampai pada jenjang strata 1 ini. Mungkin
ucapan terimakasih tidak cukup untuk menggantikan kasih sayang dan
pengorbanan Bapak dan Ibu selama ini. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan kepada Allah SWT, agar Bapak dan Ibu senantiasa diberi kesehatan serta
kebahagiaan dunia dan akhirat.
2. Kepada kakakku, mas Amin, mba Resa, mas Esal, mba Dilla, mas Apip, ka
Upie, dan semua kakak-kakak sepupuku. Banyak sekali
pengalaman-pengalaman yang telah kalian berikan kepadaku sehingga aku dapat memiliki
banyak pengetahuan tentang hidup. Karena hidup ini bukan hanya tentang diri
sendiri melainkan apa yang telah orang lain dapatkan juga dapat memberikan
kita pelajaran.
3. Kepada keluarga besarku yang telah memberikan dukungan dalam penulisan
skripsi ini sehingga aku dapat menyelesaikannya dengan baik.
4. Bapak Dr. M. Arif Mufraini, Lc., M.Si. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Zuhairan Y. Yunan, M.Sc, Selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan
Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
6. Bapak Zaenal Mutaqqin, MPP, Selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi dan
Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah
vi
7. Bapak Dr. Ir. H. Roikhan Mochammad Aziz, MM, Selaku dosen pembimbing
satu yang telah memberikan kemudahan dalam penulisan skripsi ini serta yang
telah menemukan rumus hahslm, tujuh Qur’an, sinlammim, 472319, 7114 dan
319913616. Semoga menjadi amal baik dan mendapat balasan dari Allah SWT
dengan balasan yang lebih baik.
8. Bapak Ali Rama, SE., M.Ec selaku dosen pembimbing dua yang telah
memberikan arahan, saran, wawasan, maupun kritik yang sangat membangun
untuk membuat penulisan skripsi ini menjadi lebih baik dan dapat
terselesaikan. Semoga menjadi amal baik dan mendapat balasan dari Allah
SWT dengan balasan yang lebih baik.
9. Segenap dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu
pengetahuan dan wawasan kepada penulis, mulai dari masa perkuliahan
hingga pada penulisan skripsi ini.
10.Kepada Kemal Fauzi kekasihku yang terus menemani dan memberikan
bantuan dan terus memotivasi disaat penulis mengalami masa-masa sulit. Dia
juga telah memberikan banyak pengalaman yang baru dalam hidup ini.
11.Teman-teman seperjuanganku Hadelina Hafni, Kesuma Dewi, Bella Septiana
yang sama-sama sedang menjalani tugas skripsi, yang saling memberikan
motivasi dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih juga karena kalian telah
memberikan banyak pengalaman sehingga aku bisa belajar dan mengoreksi
vii
12.Segenap teman-teman IESP 2010 yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Terimakasih untuk selalu bisa sharing tentang mata kuliah dan juga skripsi.
Terimakasih banyak untuk semua.
13.Dan kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sangat menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan dan banyak kelemahan. Oleh karena itu, penulis tak lupa
mengharapkan kritik dan saran atas skripsi ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jakarta, 18 Mei 2015
Penulis
viii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... i
ABSTRACT ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 13
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 15
A. Landasan Teori ... 15
1. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ... 15
a. Definisi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ... 15
b. Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ... 16
2. Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 17
3. Dana Pihak Ketiga (DPK) ... 18
a. Definisi Dana Pihak Ketiga ... 18
b. Macam-macam Dana Pihak Ketiga ... 19
ix
d. Hubungan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan Financing to
Deposit Ratio (FDR) ... 23
4. Non Performing Financing (NPF) ... 24
a. Definisi Non Performing Financing (NPF) ... 24
b. Hubungan Non Performing Financing (NPF) dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 25
5. Inflasi... 26
a. Definisi Inflasi ... 26
b. Macam-Macam Inflasi ... 26
c. Teori Inflasi Islam ... 29
d. Hubungan Inflasi dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 32
B. Penelitian Terdahulu ... 33
C. Kerangka Pemikiran ... 38
D. Hipotesis Penelitian ... 40
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 42
A. Tujuan Penelitian ... 42
B. Jenis dan Sumber Data ... 42
1. Jenis Data ... 42
2. Sumber Data ... 43
C. Operasional Variabel Penelitian ... 43
1. Variabel Terikat (Dependent Variable) ... 43
2. Variabel Bebas (Independent Variable) ... 45
D. Metode Analisis Data ... 48
1. Uji Asumsi Klasik ... 51
a. Uji Normalitas ... 51
b. Uji Multikolinearitas ... 53
c. Uji Heteroskedastisitas ... 55
d. Uji Autokorelasi ... 57
2. Uji Statistik ... 59
a. Uji parsial (Uji-t) ... 59
b. Uji Fisher (Uji-F) ... 60
3. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 61
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 63
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 63
1. Perkembangan Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 63
2. Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) ... 65
x
4. Perkembangan Inflasi ... 68
B. Hasil Analisis dan Pembahasan ... 69
1. Uji Asumsi Klasik ... 70
a. Uji Normalitas ... 70
b. Uji Multikolinearitas ... 72
c. Uji Heteroskedastisitas ... 73
d. Uji Autokorelasi ... 74
2. Uji Statistik ... 76
a. Interpretasi... 77
b. Uji parsial (Uji-t) ... 77
c. Uji Fisher (Uji-F) ... 79
3. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 79
C. Analisis Ekonomi ... 80
1. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 80
2. Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) ... 81
3. Pengaruh Inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR). 83 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 85
A. Kesimpulan ... 85
B. Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA ... 89
xi DAFTAR TABEL
No Keterangan Halaman
1.1 Perkembangan Bank Syariah Berdasarkan Jumlah Bank 2
1.2 Perkembangan Total Aset BPRS di Indonesia 3
2.1 Penelitian Terdahulu 36
3.1 Uji Durbin-Watson (DW) 58
4.1 Hasil Uji Multikolinearitas 72
4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas 73
4.3 Hasil Uji Autokorelasi 75
xii DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Halaman
1.1 Perkembangan Asset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 3
1.2 Perkembangan FDR Periode 2010-2013 8
1.3 Perkembangan DPK, NPF, dan Inflasi Periode 2010-2013 8
2.1 Kerangka Pemikiran 40
4.1 Perkembangan Financing to Deposit Ratio (FDR) BPRS
Periode 2010 2013 64
4.2 Perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) BPRS Periode
2010-2013 66
4.3 Perkembangan Non Performing Financing (NPF) BPRS
Periode 2010-2013 67
4.4 Perkembangan Inflasi Periode 2010 – 2013 69
xiii DAFTAR LAMPIRAN
No Keterangan Halaman
1 Data Penelitian 91
2 Data Penelitian (Ln) 92
3 Uji Normalitas 94
4 Uji Multikolinearitas 94
5 Uji Heteroskedastisitas 95
6 Uji Autokorelasi 96
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perbankan syariah merupakan lembaga keuangan bank berdasarkan prinsip
syariah yang memiliki fungsi utama yaitu sebagai lembaga intermediasi antara
masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang membutuhkan dana.
Adanya perbankan syariah ini menjadi solusi alternatif bagi masyarakat muslim
yang ingin berinvestasi atau menitipkan uangnya melalui lembaga keuangan yang
menggunakan prinsip syariah sebagai landasan hukum untuk menjalankan
kegiatan usahanya.
Menurut Kasmir (dalam Hasanudin dan Prihatiningsih, 2010:25) bank
merupakan lembaga keuangan yang sangat diperlukan dalam perekonomian
modern sebagai mediator antara kelompok masyarakat yang kelebihan dana
(rumah tangga) dan kelompok masyarakat yang membutuhkan dana (pengusaha).
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah menjadi tolak ukur
keberhasilan eksistensi ekonomi syariah. Bank Muamalat sebagai bank syariah
pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah lainnya telah lebih dahulu
menerapkan sistem ini ditengah menjamurnya bank-bank konvensional. Krisis
moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah menenggelamkan bank-bank
konvensional dan banyak yang dilikuidasi karena kegagalan sistem bunganya.
2
bertahan.Berikut ini adalah data perkembangan perbankan syariah berdasarkan
jumlah bank:
Tabel 1.1
Perkembangan Bank Syariah Berdasarkan Jumlah Bank
Indikasi 1998 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
BUS 1 2 3 3 3 3 5 6
UUS - 8 15 19 20 25 27 25
BPRS 76 84 88 92 105 114 131 139
Sumber: Statistik Perbankan Syariah BI
Berasarkan tabel 1.1 terlihat bahwa perkembangan Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah (BPRS) pasca terjadinya krisis moneter pada tahun 1998
cenderung lebih cepat dibandingkan dengan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit
Usaha Syariah (UUS). Dari pertumbuhan BPRS yang cukup pesat tersebut
membuat persaingan antar BPRS semakin ketat sehingga BPRS longgar dalam
memberikan pembiayaan.
Di Indonesia perbankan Syariah muncul sejak dikeluarkannya
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Perbankan Syariah di Indonesia,
pertama kali beroperasi pada 1 Mei 1992, ditandai dengan berdirinya Bank
Muamalat Indonesia (BMI). Hal ini menandai dimulainya era system perbankan
ganda (dual banking system) di Indonesia, yaitu beroperasinya system perbankan konvensional dan system perbankan dengan prinsip bagi hasil. Dalam sistem
perbankan ganda ini, kedua sistem perbankan secara sinergis dan bersama-sama
3
mendukung pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional (Karim,
2008:1).
Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan
industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang
memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan
progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan
aset lebih dari 28% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran
industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan
semakin signifikan.Perkembangan aset perbankan syariah dapat dilihat pada tabel
1.2 dan gambar 1.1 di bawah ini.
Tabel 1.2
Perkembangan Total Aset BPRS di Indonesia.
Tahun 2009 2010 2011 2012 2013
Total asset (Juta Rupiah)
2.125.779 2.738.744 3.520.415 4.698.953 5.833.485
Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah).
Gambar 1.1
Perkembangan Asset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Sumber : BI, statistik perbankan syariah (di olah)
4
Berdirinya Bank Syariah merupakan kebutuhan masyarakat muslim
Indonesia. Perbankan yang beroperasi sesuai dengan ajaran islam yang bebas dari
sistem bunga, terutama setelah dikeluarkannya fatwa mengenai bunga bank haram
oleh MUI pada tanggal 16 desember 2003 yang dihadiri oleh ketua MUI K.H.
Sahal Mahfuz. Mekanisme kerja komisi fatwa dalam menetapkan bunga bank
dilihat dari larangan riba itu sendiri sudah jelas dalam Al-Quran dan sunnah yaitu surat Al-baqarah ayat 278, An-nisa ayat 160, Ali-Imran ayat 130, dan Ar-Rum
ayat 39.
Menurut Siamat (2001: 88) bank umum memiliki beberapa fungsi pokok,
yakni menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam
kegiatan ekonomi, menciptakan uang, menghimpun dana dan menyalurkan kepada masyarakat, menawarkan jasa-jasa keuangan lain, menyediakan fasilitas untuk
perdagangan internasional, menyediakan pelayanan penyimpanan untuk barang-
barang berharga, dan menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana. Semakin banyak
dana yang dimiliki suatu bank, semakin besar peluang bagi bank tersebut untuk
melakukan kegiatan-kegiatannya dalam mencapai tujuannya.
Sebagaimana fungsi utama bank, BPRS juga berfungsi sebagai lembaga
intermediasi yang menerima dan menyalurkan dana dari masyarakat. Fungsi
intermediasi BPRS sendiri tercermin dalam rasio Financing to Deposit Ratio
(FDR). Rasio tersebut akan menunjukan tingkat kemampuan bank syraiah dalam
5
dengan rasio yang melebihi 100% ini berarti seluruh dana yang dihimpun oleh
BPRS dapat disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan, namun
pada sisi lain ini sangat beresiko, karena salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya kredit bermasalah adalah kebijakan perkreditan yang ekspansif (Siamat,
2005:360). Para praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari Loan to Deposit Ratio (LDR) atau Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar 85%-100%. Namun oleh Bank Indonesia, suatu
bank masih dianggap sehat jika Loan to Deposit Ratio (LDR) nya masih dibawah 110% (Suryani, 2011).
Sejak tahun 2010 hingga 2013, pertumbuhan ekonomi di Indonesia
mengalami kemajuan yang cukup baik dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi
sebesar 5,9% per tahun. Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi 5 tahun
sebelumnya dengan rata-rata 5,5% per tahun. Bahkan pada tahun 2012 hingga
tahun 2013, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi
kedua setelah China di G20 (antaranews.com, diakses 7 Januari 2015).
Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut juga
menggambarkan adanya peningkatan dari sektor-sektor yang mendukung
pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satunya adalah perubahan dari pendapatan
dan konsumsi masyarakat, baik perseorangan maupun korporasi, sehingga
selanjutnya akan mempengaruhi besaran investasi masyarakat termasuk deposito
dan tabungan yang merupakan bagian utama dari Dana Pihak Ketiga (DPK)
6
Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi dana yang terpenting bagi proses
intermediasi perbankan karena proses penghimpunan dana berasal dari
masyarakat, yaitu berupa giro, tabungan, dan simpanan berjangka atau deposito.
Sehingga DPK menjadi sumber dana terbesar dan yang paling diandalkan oleh
bank, baik itu bank syariah ataupun bank konvensional (Dendawijaya, 2009:49).
Bank dapat memanfaatkan dana dari pihak ketiga ini untuk ditempatkan pada pos-pos
yang menghasilkan pendapatan bagi bank, salah satunya yaitu dalam bentuk kredit.
Pertumbuhan dana pihak ketiga akan mengakibatkan pertumbuhan kredit yang pada
akhirnya FDR pada BPRS juga akan meningkat.
Selain itu, aktifitas bank syariah dalam melaksanakan fungsi
intermediasinya tidak lepas dari yang namanya resiko kredit yang biasa disebut
dengan Non Performing Loan (NPL) pada bank umum atau Non Performing
Financing (NPF) pada BPRS (Dendawijaya, 2003). Kemacetan fasilitas kredit
disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor dari pihak perbankan dan faktor dari pihak
nasabah. Kredit bermasalah dapat diukur dari kolektibilitasnya, merupakan
persentase jumlah kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan
dan macet) terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. Kredit bermasalah yang
tinggi dapat menimbulkan keengganan bank untuk menyalurkan kredit karena
harus membentuk cadangan penghapusan yang besar, sehingga mengurangi
jumlah kredit yang diberikan oleh suatu bank, dimana nantinya akan
7
Rasio Non Performing Financing (NPF) digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit atau pembiayaan
bermasalah yang diberikan bank syariah. Menurut Surat Edaran BI No.3/30 DPNP
tanggal 14 Desember 2001, Non Performing Loan (NPL) diukur dari rasio
perbandingan antara kredit bermasalah terhadap total kredit yang diberikan.
Dunia perbankan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi
perekonomian, karena kondisi perekonomian dapat mempengaruhi aktifitas
perbankan, salah satu indikator perekonomian adalah inflasi. Menurut para
ekonom islam, dampak dari inflasi diantaranya menimbulkan gangguan terhadap
fungsi uang, meningkatkan kecenderungan untuk belanja, melemahkan semangat
untuk menabung, pengerukan tabungan dan penumpukan uang, permainan harga
diatas standar kemampuan, penumpukan kekayaan dan investasi non produktif,
distribusi barang relatif tidak stabil dan terkonsentrasi (Karim, 2010: 139).
Menurut Dornbus dan Fischer (dalam Kusuma, 2011:2), kebijakan
moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan cara menaikkan atau
menurunkan tingkat suku bunga untuk mengurangi atau menambah laju inflasi
akan sangat mempengaruhi peran intermediasi di dunia perbankan.
Perkembangan dari Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana Pihak Ketiga
(DPK), Non performing Financing (NPF), dan tingkat inflasi dapat dilihat pada
8 Gambar 1.2
Perkembangan FDR Periode 2010-2013
Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah)
Gambar 1.3
Perkembangan DPK, NPF, dan Inflasi Periode 2010-2013
Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah)
Dari gambar 1.2 terlihat bahwa tingkat FDR bergerak secara fluktuatif
pada periode 2010-2013 dengan presentase terendah sebesar 119,67% dan
tertinggi sebesar 136,20%. Peningkatan laju FDR tertinggi terjadi pada kuartal 2
tahun 2013 yaitu naik sebesar 9,96%.Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui
9
bahwa kebijakan dari BPRS untuk melakukan pembiayaan terbilang sangat
ekspansif selama periode waktu penelitian. Hal tersebut dapat menimbulkan
masalah kesehatan pada bank jika mengacu pada aturan Bank Indonesia yang
mengkategorikan bank sehat dengan FDR antara 85% hingga 110%.
Jika melihat gambar 1.3, perkembangan DPK BPRS tiap tahun terus
mengalami peningkatan sepanjang periode 2010-2013. Ini menunjukkan bahwa
masyarakat masih terus mempercayai uang yang dimilikinya untuk sekedar
menabung atau berinvestasi di BPRS. Dengan begitu, BPRS juga akan semakin
banyak mendapatkan dana dari pihak ketiga ini yang dimana merupakan sumber
terbesar bagi kegiatan pembiayaannya. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi
presentase tingkat FDR pada BPRS.
Sejak kuartal 2 tahun 2011 NPF mulai mengalami trend penurunan meskipun tidak terlihat signifikan, tapi penurunan ini menunjukkan kemajuan bagi
BPRS. Pada tahun 2012 NPF stabil yaitu pada tingkat rata-rata 6,60% yang
menjadi rata-rata terkecil dari periode 2010-2013. Peningkatan NPF kembali
terjadi pada tahun 2013 dimana pada saat yang sama terjadi krisis mata uang
rupiah yang membuat turunnya daya beli masyarakat. Sedikit membaiknya NPF
ini mengindikasikan bahwa BPRS semakin baik dalam mengelola pembiayaan
bermasalahnya sehingga dapat lebih optimal lagi dalam menyalurkan dana yang
telah dihimpun.
Pada tahun 2010 hingga tahun 2013 dapat dilihat inflasi mengalami
pergerakan yang sangat fluktuatif, dan mencapai tingkat tertinggi pada kuartal 3
negara-10
negara emerging markets termasuk Indonesia.Peristiwa tersebut menyebabkan FDR pada BPRS menurun yang dapat dilihat pada tabel 1.2 bahwa meningkatnya
inflasi pada tahun 2013 diikuti oleh penurunan FDR pada waktu yang sama. Hal
yang serupa juga dialami pada kuartal 4 tahun 2010.Kemudian, menurunnya
inflasi pada kuartal 2 tahun 2011 diikuti oleh meningkatnya FDR pada waktu
yang sama.
Sebelum penelitian ini dilakukan terdapat beberapa penelitian yang
meneliti tentang pengaruh DPK, NPF dan inflasi terhadap FDR. Penelitian yang
dilakukan oleh Novitasari (2014), Prihatiningsih (2012), Hersugondo dan Handy
Setyo Tamtomo (2012) dan Sri Haryati (2008) mengenai pengaruh DPK terhadap
FDR. Dalam peneilitian Novitasari (2014) menunjukkan bahwa DPK berpengaruh
negatif terhadap FDR secara signifikan. Peneitilian yang dilakukan oleh
Prihatiningsih (2012) menyebutkan bahwa DPK berpengaruh terhadap FDR.
Namun, hasil penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) yang menyatakan bahwa
DPK tidak berpengaruh terhadap LDR perusahaan. Kemudian, penelitian yang
dilakukan oleh Sri Haryati (2008) yang menyatakan DPK berpengaruh terhadap
kredit baik pada perbankan nasional maupun bank asing campuran.
Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh NPF terhadap FDR dilakukan
oleh Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) dan Prayudi (2011). Pada
penelitian Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) menunjukan bahwa
11
pada penelitian Prayudi (2011) menunjukkan bahwa NPL tidak mempengaruhi
LDR secara signifikan.
Inflasi juga ditelaah sebelumnya oleh Novitasari (2014), Sri Haryati
(2008), Abdul Mongid (2008) dan Haas & Lelyveld (2003). Pada penelitian
Novitasari (2014) menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap FDR dan dalam penelitian Sri Haryati (2008) dengan sampel bank
nasioanl dan bank asing menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif signifikan
terhadap pertumbuhan kredit pada bank nasional dan berpengaruh tidak signifikan
terhadap bank asing. Kemudian, pada penelitian Abdul Mongid (2008)
menunjukan hasil bahwa kebijakan moneter adalah hal penting untuk
mengendalikan kegiatan ekonomi melalui jalur kredit. Sedangkan pada penelitian
Haas & Lelyveld (2003) inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap
pertumbuhan kredit bank nasional di wilayah eropa tengah dan eropa timur.
Dengan adanya perbedaan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan
diatas, maka penulis tertarik untuk mencoba menguji kembali apa yang dapat
diajadikan permasalahan dalam penelitian kali ini, yakni mengenai pengaruh
DPK, NPF dan inflasi terhadap rasio FDR, permasalahan juga bisa diperkuat
dengan melihat data empiris yang tertera pada gambar 1.2 dan 1.3. Dari penjelasn
yang telah dikemukakan, muncul ketertarikan untuk meneliti lebih dalam lagi
mengenai rasio FDR di BPRS karena itu, penulis mengambil judul : “ANALISIS PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK), NON PERFORMING
12 DEPOSIT RATIO (FDR) BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH (BPRS) DI INDONESIA PERIODE 2010-2013”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang telah diuraikan
sebelumnya, untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio
(FDR)Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia baik secara
simultan maupun parsial, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai
berikut :
1. Bagaimana pengaruh secara simultan variabel Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio
(FDR)Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode
2010-2013?
2. Bagaimana pengaruh seacara parsial variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) ), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio
(FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode
2010-2013 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan
untuk:
1. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh secara simultan variabel Dana Pihak
13 Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013 ?
2. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh seacara parsial variabel Dana Pihak
Ketiga (DPK) ), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap
Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013 ?
D. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat penelitian yang diperoleh dari penelitian “Analisis
Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan Inflasi terhadap Financing To Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS):
1. Bagi mahasiswa :
a. Dapat memberikan wawasan atau pengetahuan mengenai pola hubungan
antara Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013.
b. Memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang
diperoleh di perkuliahan dalam berbagai kasus riil di dunia kerja.
2. Bagi praktisi lembaga-lembaga keuangan
Memberikan informasi kepada praktisi lembaga-lembaga keuangan
rakyat, khususnya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang
mempunyai komitmen sebagai lembaga pemberdayaan umat terutama para
kebijakan-14
kebijakan yang tepat untuk mengembangkan dunia usaha dan memonitor
tingkat risiko yang akan dihadapi.
3. Bagi pemerintah
Dapat dijadikan sebagai salah satu acuan pemerintah dalam
menentukan kebijakannya mengenai produk-produk pada setiap bank syariah.
Dalam menumbuh kembangkan dunia usaha dan menggerakkan sektor riil
yang ada di Indonesia sehingga dapat meningkatkan perekonomian nasional.
4. Bagi pihak lain
Memberikan sumbangsih data dalam kaitannya dengan perkembangan
dan pertumbuhan lembaga keuangan bank rakyat berbasis syariah dalam hal
ini adalah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebagai lembaga
pemberdaya umat. Selain itu penelitian ini dapat memberikan informasi
15 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
a. Definisi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah
yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran (Pasal 1 angka 9 UU Perbankan Syariah). Yang perlu
diperhatikan dari ketentuan diatas adalah kepanjangan dari BPRS yang
berupa Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Ini berarti semua peraturan
perundang-undangan yang menyebut BPRS dengan Bank Perkreditan
Rakyat Syariah harus dibaca dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(Hasan, 2009:7).
Namun BPRS merupakan bagian dari bank syariah yang
melakukan kegiatan usahanya dalam ruang lingkup yang lebih sempit.
Berbeda dengan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah
(UUS), BPRS memiliki peran dalam memajukan masyarakat dengan
kemampuan ekonomi menengah kebawah terutama pada wilayah
kecamatan dan pedesaan melalui pembiayaan-pembiayaan yang disalurkan
16 b. Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Berkaitan dengan BPRS, sebagaimana terlihat dalam pasal 21 UU
Perbankan Syariah, kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh lembaga ini
adalah (Hasan, 2009:86):
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk: simpanan berupa
tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad
wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah
dan investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
2. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan bagi
hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah; pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna; pembiayaan berdasarkan akad qardh; pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan pengambilalihan hutang berdasarkan akad hawalah.
3. Menempatkan dana pada bank syariah lain dalam bentuk titipan
berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan mudharabah dan atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
4. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah melalui rekening BPRS yang ada di BUS, Bank
17
5. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha bank syariah
lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah berdasarkan persetujuan
Bank Indonesia.
2. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Perbankan syariah yang dalam aktivitasnya menggunakkan
prinsip-prinsip islami tidak mengenal kredit (loan) dalam fungsinya sebagai penyalur dana yang dihimpunya. Oleh karena itu, aktifitas penyaluran dana yang
dilakukan bank syariah lebih mengarah kepada pembiyaan (financing).
Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit atau pembiayaan yang disalurkan oleh bank dan jumlah
penerimaan dana dari berbagai sumber. Berdasarkan ketentuan Bank
Indonesia tanggal 29 Mei 1993, dana yang dihimpun bank dalam penerapan
rasio tersebut adalah dana masyarakat/dana pihak ketiga dan modal inti bank
(Dendawijaya, 2009:59).
Rasio FDR menunjukkan salah satu peniliaian likuiditas bank dan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
FDR : Financing to Deposit Ratio
Ketika angka rasio Financing To Deposit (FDR) suatu bank berada pada angka dibawah angka 80% (misalkan 60%), maka dapat dikatakan bahwa
bank tersebut hanya dapat menyalurkan dana sebesar 60% dari seluruh dana
18
yang berhasil dihimpun. Karena fungsi utama bank adalah sebagai
intermediasi antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan
dana, maka dengan rasio Financin To Deposit Ratio (FDR) 60% artinya 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkan kepada pihak yang
membutuhkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa bank tersebut tidak
menjalankan fungsinya dengan baik.
Kemudian, ketika suatu bank memiliki ratio Financing To Deposit Ratio (FDR) melebihi angka 110%, maka hal itu berarti total pembiayaan yang diberikan bank tersebut melebihi dana yang dihimpun. Oleh karena dana
yang dihimpun dari masyarakat hanya sedikit. Dalam hal ini pula bisa
dikatakan bank tersebut tidak menjalakan fungsinya sebagai pihak
intermediasi dengan baik. Semakin tinggi nilai rasio Financing To Deposit Ratio (FDR) menunjukan bahwa semakin riskan kondisi likuiditas bank. Dan sebaliknya, semakin rendah tingkat nilai rasio Financing To Deposit Ratio
(FDR) maka efektivitas bank dalam menyalurkan pembiayaan dana akan
berkurang.
3. Dana Pihak Ketiga (DPK) a. Definisi Dana Pihak Ketiga
Menurut Arifin (2006:98) Dana pihak ketiga adalah dana yang
diperoleh dari masyarakat, dalam arti masyarakat sebagai individu,
perusahaan, pemerintah, rumah tangga, koperasi, yayasan, dan lain-lain
baik dalam mata uang rupiah maupun dalam valuta asing. Pada sebagian
19
dimiliki. Hal ini sesuai dengan fungsi bank sebagai penghimpunan dana
dari masyarakat. Dana Pihak Ketiga adalah dana yang dipercayakan oleh
masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam
bentuk giro, tabungan, simpanan berjangka dan sertifikat deposito atau
bentuk lain yang dipersamakan dengan itu dengan menggunakan prinsip
syariah. Menurut Riyadi (2006:63) dana yang berasal dari masyarakat
biasa disebut dengan sumber dana pihak ketiga (DPK), sedangkan yang
berasal dari Pasar Uang disebut dana pihak kedua.
b. Macam-macam Dana Pihak Ketiga
Menurut Karim (2008:23), yang termasuk dalam dana pihak ketiga
yaitu giro, tabungan, dan deposito. Ketiga macam dana pihak ketiga
tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Giro. Bank syariah dapat memberikan jasa simpanan giro dalam
bentuk rekening wadi’ah dan giro mudharabah. Dalam bentuk wadi’ah
bank syariah menggunakan prinsip wadi’ah yad dhamanah. dengan
prinsip ini bank sebagai custodian harus menjamin pembayaran
kembali nominal simpanan wadi’ah. Dana tersebut digunakan oleh
bank untuk kegitan komersial dan bank berhak atas pendapatan yang
diperoleh dari pemanfaatan harta titipan tersebut dalam kegiatan
komersial. Pemilik simpanan dapt menarik kembali simpanannya
sewaktu-waktu, baik sebagian maupun seluruhnya. Bank tidak boleh
menyatakan atau menjanjikan imbalan atas keuntungan apapun pada
20
tidak boleh mengharapkan atau meminta imbalan atau keuntungan atas
rekening wadi’ah. Sedangkan giro mudharabah adalah giro yang
dijalankan berdasarkan akad mudharabah, baik mudharabah mutlaqah
dan mudharabah muqadayyah. Hal ini tergantung nasabah memilih dengan akad yang disepakati.
b. Tabungan. Tabungan mudharabah adalah tabungan dimana pemilik
dana (shohibul maal) mempercayakan dananya untuk dikelola bank (mudharib) dengan bagi hasil sesuai dengan nisbah yang disepakati sejak awal. Tabungan dapat diambil sewaktu-waktu sesuai dengan
prinsip yang digunakan, tabungan mudharabah ini merupakan
“investasi” yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan oleh
karena itu, modal yang diserahkan kepada pengelola dana (bank) tidak
boleh ditarik sebelum akad berakhir. Hal ini disebabkan karena akan
mengganggu kelancaran usaha yang dilakukan oleh mudharib
sehubung dengan pengelolaan dengan pengelolaan dana tersebut.
Selain produk tabungan mudharabah bank syariah juga memiliki
produk tabungan wadi’ah. Tabungan wadi’ah merupakan tabungan
yang dijalankan berdasarkan akad wadi’ah yaitu titipan murni yang
harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak
pemilikya. Berkaitan dengan produk tabungan wadi’ah, bank syariah
menggunakan akad wadi’ah yad adh-dhamanah. Dalam hal ini bank memperoleh hak untuk menggunakan dana tersebut dengan
21
membagi keuntungan dari penggunaan dana namun tidak dalam bentuk
perjanjian namun bersifat sukarela dari pihak bank.
c. Deposito. Deposito Mudharabah atau lebih tepatnya deposito investasi
mudharabah merupakan investasi nasabah penyimpan dana (perorangan atau badan hukum) yang penarikannya hanya dapat
dilakukan dalam jangka waktu tertentu jatuh tempo, dengan
mendapatkan imbalan bagi hasil.
c. Sumber Dana Pihak Ketiga
Dana yang bersumber dari masyarakat disebut Dana Pihak Ketiga
(Muhammad, 2002:92), Sumber dana pihak ketiga, dari segi mata uang
dibedakan menjadi :
a. Sumber Dana Pihak Ketiga Segi Mata Uang
1) Sumber Dana Pihak Ketiga Rupiah yaitu kewajiban-kewajiban
bank yang tercatat dalam rupiah kepada pihak ketiga bukan bank
baik kepada penduduk maupun bukan penduduk. Komponen DPK
ini terdiri dari giro, simpanan berjangka, tabungan, dan
kewajiban-kewajiban lain. Tidak termasuk dana yang berasal dari bank
Sentral.
2) Sumber Dana Pihak Ketiga Valuta Asing yaitu kewajiban bank
yang tercatat dalam valuta asing kepada pihak ketiga, baik
penduduk maupun bukan penduduk termasuk pada bank Sentral,
bank lain (pinjaman melalui pasar uang). DPK valuta asing terdiri
22
deposit, setoran pinjaman, pinjaman yang diterima, dan
kewajiban-kewajiban lainnya dalam valuta asing.
b. Sumber Dana Pihak Ketiga Segi Biaya Yang Harus Dibayar Bank
1) Sumber Dana Pihak Ketiga Berbiaya pada umumnya adalah dana -
dana yang berasal dari masyarakat, baik dana pihak kedua maupun
dana pihak kedua (tidak termasuk penerbitan saham). Pada
umumnya jenis-jenis simpanan pada sumber dana berbiaya adalah
simpanan giro, tabungan, deposito, dan simpanan berjangka.
2) Sumber Dana Pihak Ketiga Tidak berbiaya, yaitu Hampir semua
sebagian sumber dana bank memiliki beban biaya yang harus
ditanggung oleh bank terutama dana yang berasal dari dana pihak
ketiga (DPK) dan dana pihak kedua, sehingga dapat dikatakan
tidak ada dana yang tanpa biaya bagi suatu bank. Namun jika
ditelaah lebih mendalam terdapat jenis biaya yang tidak
mengandung biaya, seperti modal yang disetor (modal saham),
agio saham, laba tahun berjalan, laba ditahan, cadangan umum
dengan tujuan lainnya, deposito berjangka yang telah jatuh tempo
dan belum dicairkan oleh nasabah, transfer masuk yang belum
dibayar, hasil inkaso keluar yang belum dibayar, dan utang pajak
kepada pemerintah pusat asalkan tidak lewat waktu (terlambat)
pada saat membayarnya.
Dana-dana tersebut diatas pada umumnya tidak mengandung unsur
23
bunga. Semakin besar jumlah dana ini maka akan semakin mempertinggi
return on assets dan return on equity bagi suatu bank. Bagi bank-bank yang sudah go public seperti bank syariah mandiri untuk memperkuat posisi permodalannya dapat menerbitkan saham baru untuk ditawarkan
melalui bursa, baik penawaran secara terbatas maupun pada masyarakat
luas.
d. Hubungan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan Financing to Deposit Ratio (FDR)
Dana Pihak Ketiga merupakan variabel terpenting yang paling
berpengaruh karena dana pihak ketiga dapat dikendalikan oleh bank
syariah yang merupakan sisi pendanaan, dimana dana yang semakin
meningkat harus diimbangi dengan penyaluran pembiayaan yang dapat
menggerakan sektor riil. semakin meningkatnya DPK yang dikumpulkan
bank syariah maka kemungkinan semakin meningkat pula pembiayaan
atau penyaluran dana yang diberikan bank syariah kepada masyarakat.
Kemampuan bank dalam menghimpun dana memperlihatkan bank
tersebut memiliki kredibilitas yang tinggi dari masyarakat. Pada penelitian
Makiyan (2001), juga menyatakan bahwa jika semakin besar sumber dana
yang dihimpun bank akan semakin besar pembiayaan yang akan
disalurkan oleh bank tersebut. Penelitian yang menyatakan bahwa Dana
Pihak Ketiga berpengaruh positif dan signifikan juga dibuktikan oleh
penelitian dari Asy’ari (2004), Roesmara dan Dumairy (2006), dan Adnan
24 4. Non Performing Financing (NPF)
a. Definisi Non Performing Financing (NPF)
Menurut Kamus Bank Indonesia, Non Performing loan (NPL) atau
Non Performing Financing (NPF) adalah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet. Termin
NPL diperuntukkan bagi bank umum, sedangkan NPF untuk bank syariah.
Non Performing Loans (NPLs) menunjukkan kemampuan kolektibilitas sebuah bank dalam mengumpulkan kembali kredit yang
dikeluarkan oleh bank sampai lunas. NPL merupakan persentase jumlah
kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan, dan macet)
terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. NPLs mempunyai hubungan
negatif dengan penawaran kredit (Meydianawathi, 2007:138).
Sedangkan menurut Dendawijaya (2005:82) NPF adalah rasio
antara pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang
disalurkan oleh bank syariah. Dalam kegiatan sehari-hari, pembiayaan
bermasalah adalah pembiayaan-pembiayaan yang kategori
kolektabilitasnya masuk dalam kriteria pembiayaan kurang lancar,
pembiayaan diragukan, dan pembiayaan macet.
Tingkat pembiayaan bermasalah tercermin dalam rasio NPL atau
NPF yang merupakan formulasi:
25 b. Hubungan Non Performing Financing (NPF) dengan Financing To
Deposit Ratio ( FDR)
Pada perbankan syariah apabila terjadi Non Performing Financing
(NPF) maka akan berakibat terguncangnya kinerja pada perbankan itu
sendiri. Namun ada dugaan NPF bank syariah relatif kecil dibandingkan
konvensional, sehingga perbankan syariah dapat menjalankan fungsinya
dengan baik.
Menurut Dendawijaya (2003: 86) Non Performing Loan apabila tidak dapat ditangani dengan tepat, akan mengakibatkan diantaranya
hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan (income) dari kredit yang diberikan, sehingga mengurangi laba dan mengurangi kemampuan untuk
memberikan kredit. Banyaknya kredit bermasalah membuat bank tidak
berani meningkatkan penyaluran kreditnya apalagi bila dana pihak ketiga
tidak dapat dicapai secara optimal maka dapat mengganggu likuiditas
suatu bank, oleh karena itu kredit bermasalah berpengaruh negatif
terhadap LDR.
Jadi dapat disimpulkan antara Non Performing Financing (NPF) terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) memiliki hubungan negatif, dimana jika NPF menurun maka variabel FDR akan meningkat atau naik.
Ini logis apabila kesehatan NPF baik (menurun) maka perbankan syariah
dapat menempatkan dana yang kembali untuk menyalurkan diperiode
26
kepercayaan yang lebih tinggi untuk menyalurkan dananya ke masyarakat
di periode berikutnya.
5. Inflasi
a. Definisi Inflasi
Inflasi adalah suatu kejadian yang menunjukkan kenaikan tingkat
harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus (Murni,
2006:202). Inflasi terjadi ketika harga umum naik. Saat ini, kita
menghitung inflasi dengan menggunakan indeks harga rata-rata tertimbang
dari harga ribuan produk individual. Indeks harga konsumen (IHK)
mengukur biaya sekeranjang pasar dari barang dan jasa konsumen yang
dikaitkan dengan biaya dari sekeranjang pasar dari barang dan jasa
tersebut pada tahun dasar tertentu (Samuelson dan Nordhaus, 2004:382).
Menurut kaum klasik, inflasi di dalam perekonomian timbul
sebagai akibat dari kegagalan dari pemerintah atau bank sentral untuk
mengendalikan laju pertumbuhan jumlah uang beredar. Adanya
pertumbuhan jumlah mata uang yang beredar yang tidak terkendali
menurut kaum klasik akan menyebabkan kurva permintaan agregat (AD)
mengalami pergeseran, dan hal ini pada gilirannya akan mendorong
kenaikan di dalam tingkat harga (Nanga, 2001:39).
b. Macam-Macam Inflasi
Menurut Paul A. Samuelson (dalam Karim, 2011:137), seperti
sebuah penyakit, inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya,
27
1. Moderate Inflation: karakteristiknya adalah kenaikan tingkat harga
yang lambat. Umumnya disebut sebagai ‘inflasi satu digit’. Pada
tingkat inflasi seperti ini, orang-orang masih mau untuk memegang
uang dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang daripada dalam
bentuk aset riil;
2. Galloping Inflation: inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20% sampai dengan 200% per tahun. Pada tingkatan inflasi seperti ini orang
hanya mau memegang uang seperlunya saja, sedangkan kekayaan
disimpan dalam bentuk aset-aset riil.
3. Hyper Inflation: inflasi jenis ini terjadi pada tingkatan yang sangat tinggi yaitu jutaan sampai trilyunan persen per tahun. Walaupun
sepertinya banyak pemerintahan yang perekonomiannya dapat
bertahan menghadapi galloping inflation, akan tetapi tidak pernah ada pemerintahan yang dapat bertahan menghadapi inflasi jenis ketiga
yang amat ‘mematikan’ ini. Contohnya adalah →eimar Republic di
Jerman pada tahun 1920-an.
Selain itu, inflasi dapat digolongkan karena penyebab-penyebabnya
yaitu sebagai berikut (Karim, 2011:138) :
1. Natural Inflation dan Human Error Inflation. Sesuai dengan namanya
Natural Inflation adalah inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam
28
2. Actual/Anticipated/Expected Inflation dan Unanticipated/Unexpected Inflation. Pada Expected Inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi
inflasi atau secara notasi, ret = Rt – πet , sedangkan pada Unexpected Inflation tingkat suku bunga pinjaman nominal belum atau tidak merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi (Krugman & Obstfeld,
1991:523)
3. Demand Pull dan Cost Push Inflation. Demand Pull Inflation
diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi
Permintaan Agregatif (AD) dari barang dan jasa pada suatu
perekonomian. Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi Penawaran Agregatif (AS) dari
barang dan jasa pada suatu perekonomian.
4. Spiralling Inflation. Inflasi jenis ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya yang mana inflasi yang
sebelumnya itu terjadi sebagai akibat dari inflasi yang sebelumnya lagi
dan begitu seterusnya.
5. Imported Inflation dan Domestic Inflation.Imported Inflation bisa dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu
negara karena harus menjadi price taker dalam pasar perdagangan internasional. Domestic Inflation bisa dikatakan inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri suatu negara yang tidak begitu mempengaruhi
29 c. Teori Inflasi Islam.
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi
perekonomian karena (Masri, 1996) :
1. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap
fungsi tabungan (nilai rupiah), fungsi dari pembayaran di muka, dan
fungsi dari unit penghitungan. Orang harus melepaskan diri dari uang
dan aset keuangan akibat dari beban inflasi tersebut. Inflasi juga telah
mengakibatkan terjadinya inflasi kembali, atau dengan kata lain ‘self
feeding inflation’;
2. Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari
masyarakat (turunnya Marginal Prospensity to Save);
3. Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk
non-primer dan barang-barang mewah (naiknya Marginal Prospensity to Consume);
4. Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non produktif yaitu
penumpukan kekayaan (hoarding) seperti: tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi ke arah
produktif seperti: pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan
lainnya.
Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (dalam Karim,
2011:140), yang merupakan salah satu murid dari Ibn Khaldun,
menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu natural inflation dan
30
1. Natural Inflation
Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab
alamiah, dimana orang tidak mempunyai kendali atasnya (dalam hal
mencegah). Ibn al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi ini adalah inflasi
yang diakibatkan oleh turunnya Penawaran Agregat (AS) atau naiknya
Permintaan Agregatif (AD).
Jika memakai perangkat analisis konvensional yaitu persamaan
identitas (Karim, 2010:140) :
Di mana: M = Jumlah Uang Beredar (JUB)
V = kecepatan peredaran uang
P = tingkat harga
T = jumlah barang dan jasa (kadang dipakai notasi Q)
Y = tingkat pendapatan nasional (GDP)
Maka Natural Inflation dapat diartikan sebagai:
a. Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam
suatu perekonomian (T). misalnya T sedangkan M dan ↑ tetap,
maka konsekuensinya P .
b. Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya nilai ekspor
lebih besar dari pada nilai impor, sehingga secara netto terjadi
impor uang yang mengakibatkan M sehingga jika ↑ dan T tetap maka P .
31
Dan:
Di mana : Y = pendapatan nasional
C = konsumsi
I = investasi
G = pengeluaran pemerintah
(X-M) = net export
Maka :
2. Humman Error Inflation
Selain dari penyebab-penyebab yang dimaksud pada Natural Inflation, maka inflasi-inflasi yang disebabkan oleh hal-hal lainnya dapat
digolongkan sebagai Humman Error Inflation atau False Inflation. Humman Error Inflation dikatakan sebagai inflasi yang diakibatkan oleh kesalahan dari manusia itu sendiri (sesuai dengan QS Al-Rum
[30]: 41).
Humman Error Inflation dapat dikelompokkan menurut penyebab-penyebabnya sebagai berikut:
1. Korupsi dan administrasi yang buruk;
2. Pajak yang berlebihan (excessive tax); AD = AS
AS = Y
AD = C+I+G+ (X-M)
32
3. Percetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang
berlebihan (excessive seignorage)
d. Hubungan Inflasi dengan Financing To Deposit Ratio (FDR)
Menurut Karim (2010: 139), dampak dari inflasi diantaranya
adalah melemahkan semangat untuk menabung dan meningkatkan
kecenderungan untuk berbelanja. Meningkatnya inflasi maka nilai uang
akan “menurun” dan hal tersebut menyebabkan masyarakat juga akan
menarik uangnya dari bank untuk memenuhi kegiatan berbelanjanya dana
diperbankan akan berkurang sehingga akan mempengaruhi tingkat FDR
perbankan.
Pada penelitian Novitasari (2014) menyatakan inflasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap FDR. Penelitian Sri Haryati (2008)
menyatakan inflasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan kredit.Pada
penelitian Abdul Mongid (2008) menunjukan hasil kebijakan moneter
adalah hal penting untuk mengendalikan kegiatan ekonomi melalui jalur
kredit. Pada penelitian Haas dan Lelyveld (2006) inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan kredit bank nasional di wilayah
Eropa Tengah dan Eropa Timur. Jadi, dapat dikatakan Inflasi memiliki
pengaruh negatif terhadap FDR, karena disaat inflasi tinggi orang menarik
dananya dari bank sehingga dana di bank sedikit dan akibatnya bank
33 B. Penelitian Terdahulu
Sebelum penulis melakukan penelitian ini, telah ada penelitian terdahulu
yang meneliti mengenai variabel Financing to Deposit Ratio (FDR) pada bank syariah atau Loan to Deposit Ratio (LDR) untuk bank konvensional. Hal ini sebagai acuan bahwa variabel mikro dan makro yang berpengaruh bukan hanya
berpengaruh terhadap rasio kredit pada bank konvensional tetapi juga rasio
pembiayaan pada bank syariah. Variabel yang penulis teliti yaitu Dana Pihak
Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi. Diantaranya seperti yang akan penulis jabarkan pada pembahasan di bawah ini.
Penelitian pertama dilakukan oleh Novitasari (2014) yang berjudul
Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Financing To Deposit Ratio (FDR) Sebagai Indikator Likuiditas Pada Perbankan Syariah Di Indonesia (Periode
Triwulan I 2003 – IV 2013). Variabel yang terkait yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK)
Return On Asset (ROA), Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi.
Hasil penelitian secara simultan menunjukkan hasil yang positif dan
signifikan. Secara parsial, DPK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap FDR,
PYD berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDR, ROA berpengaruh positif
dan signifikan terhadap FDR, penempatan pada BI dan bank lain berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap FDR, inflasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap FDR, dan yang terakhir adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak.
Penelitian kedua dilakukan oleh Prihatiningsih (2012) dengan judul
34
Hasil penelitian menunjukan secara simultan variabel-variabel independen,
DPK, CAR, dan SBIS secara bersama-sama berpengaruh terhadap FDR, secara
parsial variabel DPK dan CAR berpengaruh terhadap FDR sedangkan variabel
SBIS tidak berpengaruh terhadap FDR.
Penelitian ketiga dilakukan oleh Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo
(2012) yang berjudul pengaruh CAR, NPL, DPK dan ROA Terhadap LDR
Perbankan Indonesia. Variabel yang terkait adalah CAR, NPL, DPK dan ROA.
Hasil penelitian ditemukan bahwa selama periode penelitian secara parsial,
variabel CAR dan ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap LDR
perusahaan, NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap LDR perusahaan,
sedangkan DPK tidak berpengaruh terhadap LDR perusahaan.
Penelitian keempat dilakukan oleh Arditya Prayudi (2011) yang berjudul
“Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), BOPO,
Return On Asset (ROA) dan Net Interest Margin (NIM) terhadap Loan to Deposit Ratio (LDR)”. ↑ariabel yang terkait yaitu CAR, NPL, BOPO, ROA dan NIM. Teknis analisis data menggunakan metode Regresi Linier Berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel-variabel
CAR, NPL, BOPO, ROA dan NIM berpengaruh terhadap LDR. Hasil secara
parsial variabel CAR, NPL dan BOPO tidak berpengaruh terhadap LDR,
sedangkan variable ROA dan NIM berpengaruh terhadap LDR.
Penelitian kelima dilakukan oleh Sri Haryati (2008) dengan judul
penelitian yaitu Pertumbuhan Kredit Perbankan di Indonesia: Intermediasi dan
35
adalah Pertumbuhan Ekses Likuiditas, DPK, Pertumbuhan Pinjaman/Simpanan
Diterima, Bunga SBI, Inflasi, dan Nilai Tukar.
Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh variabel independen secara
simultan berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit baik perbankan nasional
maupun bank asing-campuran.
Penelitian keenam dilakukan oleh Abdul Mongid (2008) yang berjudul
The Impact of monetary Policy on Bank Credit During Economic Crisis:
Indonesia’s Experience. Variabel yang terkait adalah SBI, Index of Deposit
Change, Growth of Base Money, Exchange Rate, Crisis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kebijakan moneter dapat
mempengaruhi pinjaman bank. Variabel moneter seperti kebijakan tingkat
diskonto, uang primer dan kebijakan nilai tukar yang sangat penting dalam
menentukan kredit perbankan. hasilnya memberikan bukti bahwa kebijakan
moneter adalah bagian penting sebagai untuk mengendalikan kegiatan ekonomi
melalui jalur kredit.
Penelitian yang ketujuh atau yang terakhir adalah penelitian yang
dilakukan oleh Ralph de Haas dan Iman Lelyveld (2003) yang berjudul Foreign Bank and Credit Stability in Central and Eastern Europe : Friends or Foes?. Variabel yang terkait adalah GDP (PDB), Inflasi, Suku Bunga Pinjaman.
Hasil penelitian menunjukan pada bank – bank nasional di Eropa Tengah dan Eropa Timur: PDB berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan
kredit. Suku bunga pinjaman berpengaruh negatif signifikan terhadap
36
GDP (PDB) berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Inflasi
berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Suku bunga pinjaman
berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan kredit.
38 fungsi intermediasi suatu bank khususnya bank syariah. Semakin tinggi rasio ini
atau mendekati 100% maka bank syariah semakin baik dalam menyalurkan dana
yang dikelolanya karena seluruh dana dari pihak ketiga maupun modal sendiri
39
suatu bank terlalu berlebihan dalam memberikan pembiayaannya kepada sektor
yang nonproduktif maka akan menimbulkan berbagai macam risiko termasuk
risiko likuiditas.
Dapat diketahui bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) terbilang cukup tinggi. Berdasarkan data
yang penulis peroleh, Financing to Deposit Ratio (FDR) pada Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) berada pada tingkat rata-rata diatas 120%. Bahkan pada suatu
periode mencapai 136%. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kestabilan variabel
makroekonomi, yaitu inflasi. inflasi dapat mempengaruhi Financing to Deposit Ratio (FDR) melalui kondisi internal bank yaitu pembiayaan non lancar serta Dana Pihak Ketiga (DPK) sebagai sumber dana yang akan disalurkan sebagai
pembiayaan oleh sebuah bank.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perubahan variabel
independen (bebas) yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing
(NPF), dan Inflasi terhadap variabel dependen (terikat) yaitu Financing to Deposit Ratio (FDR). Dengan mengunakan metode Ordinary Least Square (OLS) harus lulus uji asumsi klasik, uji koefisien determinasi, uji F, uji t agar penelitian dapat
diuji dengan baik dan benar sesuai metodologi penelitian. Kerangka pemikiran
dalam penelitian ini jika divisualisasikan dalam bentuk skema atau model
40 Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
D. HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis adalah suatu jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan
dan jawaban itu masih diuji secara empiris kebenarannya. Berdasarkan pada
kerangka pemikiran sebelumnya, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
Ho : Diduga Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan Inflasi tidak berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap
Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Periode 2010-2013.
Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan Inflasi Terhadap Financing to Deposit
41
42 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memfokuskan variabel terikat yaitu
Financing To Deposit Ratio (FDR) sebagai proksi dari tingkat resiko likuiditas. Model dalam penelitian ini merupakan hasil penggabungan dari kerangka teoritis
beberapa pakar perbankan yang melihat pengaruh ataupun hubungan dari
variabel-variabel yang diuji dalam penelitian ini, yaitu: Dana Pihak Ketiga (DPK),
Non Perfoeming Financing (NPF) dan Inflasi terhadap Financing To Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) . Penelitian ini merupakan penelitian analisis pengaruh, karena tujuan penelitian ini adalah meneliti
hubungan pengaruh antara dua variabel, yaitu variabel independen (Non Performing Financing (NPF), Dana Pihak Ketiga (DPK), dan Inflasi), sedangkan variabel dependen (Financing To Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah).
Data Operasional digunakan pada penelitian ini menggunakan data runut
waktu (time series). Semua data dalam bulanan pada Periode Januari 2010 – Desember 2013 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia serta dari sumber-sumber
lainnya yang terkait.
B. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Data yang digunakan ialah data sekunder. Data sekunder adalah data