BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
C. Operasional Variabel Penelitian
Operasional variabel penelitian merupakan spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel. Spesifiakasi tersebut menunjukkan pada dimensi-dimensi dan indikator-indikator dari variabel penelitian yang diperoleh melalui pengamatan dan penelitian terdahulu.
1. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Financing to Deposit Ratio (FDR) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang
44
diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Namun pembiayaan yang tinggi juga dapat menjadi sebuah permasalahan tersendiri karena menurut Siamat (2005:360), salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kredit bermasalah adalah kebijakan perkreditan yang ekspansif. Sedangkan, para praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari Loan to Deposit Ratio (LDR) atau Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar 85%-100%. Namun oleh Bank Indonesia, suatu bank masih dianggap sehat jika Loan to Deposit Ratio (LDR) nya masih dibawah 110% (Suryani, 2011).
Pemilihan variabel FDR menjadi penting karena semakin tinggi FDR menunjukan semakin riskan kondisi likuiditas bank. Sebaliknya, semakin rendah LDR/FDR menunjukan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan kredit. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryati (2001).
Penelitian ini menguji tentang fungsi intermediasi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Fungsi intermediasi tersebut diproksikan dalam variabel FDR. Adapun cara menghitung dari FDR yaitu (Faisol, 2007):
Dalam penelitian ini digunakan data first difference yang sehingga penjelasan dari variabel FDR ini akan berubah menjadi laju perubahan FDR yang berarti kenaikan atau penurunan FDR dari periode ke periode dan dari tahun ke tahun yang terus berjalan sesuai urutan waktu yang bersifat objektif atau fakta.
45
Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini sebagai proksi dari tingkat resiko likuiditas, diperoleh dari Bank Indonesia yaitu Statistik Perbankan Syariah berdasarkan perhitungan bulanan dari tahun 2010-2013 dalam persen.
2. Variabel Bebas (Independent Variable) a. Dana Pihak Ketiga (DPK)
Dana Pihak Ketiga adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank dalam bentuk giro, serifikat depposito, tabungan atau yang dapat dipersamakan dengan itu. Dengan dana yang berhasil dihimpun oleh bank, maka bank tersebut dapat menyalurkan kredit lebih banyak. Sehingga dapat dijelaskan bahwa semakin besar DPK maka semakin besar pula pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat. Pemilihan variabel DPK karena dana-dana yang dihimpun dari masyarakat ternyata merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (bisa mencapai 80%-90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank). Pada penelitian Makiyan (2001), menyatakan bahwa jika semakin besar sumber dana yang dihimpun bank akan semakin besar pembiayaan yang akan disalurkan oleh bank tersebut. Penelitian yang menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif dan signifikan juga
dibuktikan oleh penelitian dari Asy’ari (2004), Roesmara dan Dumairy
(2006), dan Adnan dan Pratin (2005).
Terdapat penjelasan yang berbeda dari variabel DPK karena dalam penelitian ini digunakan data first difference maka penjelasan variabel
46
DPK berubah menjadi laju perubahan DPK yang berarti kenaikan atau penurunan DPK dari periode ke periode dan dari tahun ke tahun yang terus berjalan sesuai urutan waktu yang bersifat objektif atau fakta. Data ooperasional yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Bank Indonesia yaitu Statistik Perbankan Syariah berdasarkan perhitungan bulanan dari tahun 2010-2013 dalam jutaan rupiah.
b. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Financing (NPF) termasuk salah satu indikator dalam menilai kinerja suatu bank. Selain itu juga Non Performing Financing merupakan indikator yang digunakan untuk menunjukan kerugian akibat resiko pembiayaan. Menurut Dendawijaya (2005:82) NPF adalah rasio antara pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah. Alasan pemilihan variabel NPF ini karena pada perbankan syariah apabila terjadi Non Performing Financing
(NPF) maka akan berakibat terguncangnya kinerja pada perbankan itu sendiri. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Moch. Soedarto yang menyimpulkan bahwa pada taraf signifikansi 5% jumlah kredit non lancar berpengaruh negatif signifikan terhadap besar kecilnya pemberian kredit. Oleh karena itu semakin besar kredit non lancar maka jumlah kredit yang dapat disalurkan oleh Bank Syariah semakin kecil, begitu sebaliknya (Soedarto,2004:64).
Dalam kegiatan sehari-hari, pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan-pembiayaan yang kategori kolektabilitasnya masuk dalam
47
kriteria pembiayaan kurang lancar, pembiayaan diragukan, dan pembiayaan macet.
Adapun cara menghitung dari NPF (Non Performing Financing) yaitu sebagai berikut:
Tingkat Non Performing Financing (NPF) yang tinggi mengharuskan bank membentuk cadangan penghapusan yang lebih besar. Hal ini akan membuat bank menurunkan jumlah kredit yang disalurkannya, karena bank tidak akan mengambil resiko yang terlalu besar apabila terjadi gagal bayar.
Dengan digunakannya data first difference dalam penelitian ini maka penjelasan variabel NPF akan berubah menjadi laju perubahan NPF yang berarti kenaikan atau penurunan NPF dari periode ke periode dan dari tahun ke tahun yang terus berjalan sesuai urutan waktu yang bersifat objektif atau fakta. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Bank Indonesia yaitu Statistik Perbankan Syariah berdasarkan perhitungan bulanan dari tahun 2010-2013 dalam persen.
c. Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan secara terus menerus dalam jangka waktu yang relatif panjang. Inflasi melemahkan semangat untuk menabung. Penulis memilih variabel inflasi karena dunia perbankan memiliki hubungan yang sangat erat dengan
48
kondisi perekonomian, karena kondisi perekonomian dapat mempengaruhi aktifitas perbankan, salah satu indikator perekonomian adalah inflasi. Menurut Dornbus dan Fischer (dalam Kusuma, 2011:2), kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh bank Indonesia dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga untuk mengurangi atau menambah laju inflasi akan sangat mempengaruhi peran intermediasi di dunia perbankan. Meningkatnya inflasi maka nilai mata uang akan menurun, dan hal tersebut menyebabkan masyarakat juga merasa tidak diuntungkan dengan menyimpan uang di bank. Dengan harapan bunga atau nisbah tinggi, sehingga dana yang dihimpun bank akan menjadi lebih kecil.
Karena data dalam penelitian ini menggunakan data first difference
maka definisi variabel inflasi akan berbeda yaitu menjadi laju perubahan inflasi yang berarti kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode dan dari tahun ke tahun yang terus berjalan sesuai urutan waktu yang bersifat objektif atau fakta. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Bank Indonesia yaitu Statistik Perbankan Syariah berdasarkan perhitungan bulanan dari tahun 2010-2013 dalam persen.