• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

4. Perkembangan Inflasi

xiii DAFTAR LAMPIRAN No Keterangan Halaman 1 Data Penelitian 91 2 Data Penelitian (Ln) 92 3 Uji Normalitas 94 4 Uji Multikolinearitas 94 5 Uji Heteroskedastisitas 95 6 Uji Autokorelasi 96

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perbankan syariah merupakan lembaga keuangan bank berdasarkan prinsip syariah yang memiliki fungsi utama yaitu sebagai lembaga intermediasi antara masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang membutuhkan dana. Adanya perbankan syariah ini menjadi solusi alternatif bagi masyarakat muslim yang ingin berinvestasi atau menitipkan uangnya melalui lembaga keuangan yang menggunakan prinsip syariah sebagai landasan hukum untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Menurut Kasmir (dalam Hasanudin dan Prihatiningsih, 2010:25) bank merupakan lembaga keuangan yang sangat diperlukan dalam perekonomian modern sebagai mediator antara kelompok masyarakat yang kelebihan dana (rumah tangga) dan kelompok masyarakat yang membutuhkan dana (pengusaha).

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah menjadi tolak ukur keberhasilan eksistensi ekonomi syariah. Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah lainnya telah lebih dahulu menerapkan sistem ini ditengah menjamurnya bank-bank konvensional. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah menenggelamkan bank-bank konvensional dan banyak yang dilikuidasi karena kegagalan sistem bunganya. Sementara perbankan yang menerapkan sistem syariah dapat tetap

2

bertahan.Berikut ini adalah data perkembangan perbankan syariah berdasarkan jumlah bank:

Tabel 1.1

Perkembangan Bank Syariah Berdasarkan Jumlah Bank

Indikasi 1998 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

BUS 1 2 3 3 3 3 5 6

UUS - 8 15 19 20 25 27 25

BPRS 76 84 88 92 105 114 131 139

Sumber: Statistik Perbankan Syariah BI

Berasarkan tabel 1.1 terlihat bahwa perkembangan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) pasca terjadinya krisis moneter pada tahun 1998 cenderung lebih cepat dibandingkan dengan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS). Dari pertumbuhan BPRS yang cukup pesat tersebut membuat persaingan antar BPRS semakin ketat sehingga BPRS longgar dalam memberikan pembiayaan.

Di Indonesia perbankan Syariah muncul sejak dikeluarkannya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Perbankan Syariah di Indonesia, pertama kali beroperasi pada 1 Mei 1992, ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI). Hal ini menandai dimulainya era system perbankan ganda (dual banking system) di Indonesia, yaitu beroperasinya system perbankan konvensional dan system perbankan dengan prinsip bagi hasil. Dalam sistem perbankan ganda ini, kedua sistem perbankan secara sinergis dan bersama-sama memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk dan jasa perbankan, serta

3

mendukung pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional (Karim, 2008:1).

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 28% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.Perkembangan aset perbankan syariah dapat dilihat pada tabel 1.2 dan gambar 1.1 di bawah ini.

Tabel 1.2

Perkembangan Total Aset BPRS di Indonesia.

Tahun 2009 2010 2011 2012 2013

Total asset (Juta Rupiah)

2.125.779 2.738.744 3.520.415 4.698.953 5.833.485 Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah).

Gambar 1.1

Perkembangan Asset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Sumber : BI, statistik perbankan syariah (di olah)

0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 7,000,000 2009 2010 2011 2012 2013 Ju ta R u p iah Tahun Aset

4

Berdirinya Bank Syariah merupakan kebutuhan masyarakat muslim Indonesia. Perbankan yang beroperasi sesuai dengan ajaran islam yang bebas dari sistem bunga, terutama setelah dikeluarkannya fatwa mengenai bunga bank haram oleh MUI pada tanggal 16 desember 2003 yang dihadiri oleh ketua MUI K.H. Sahal Mahfuz. Mekanisme kerja komisi fatwa dalam menetapkan bunga bank dilihat dari larangan riba itu sendiri sudah jelas dalam Al-Quran dan sunnah yaitu surat Al-baqarah ayat 278, An-nisa ayat 160, Ali-Imran ayat 130, dan Ar-Rum

ayat 39.

Menurut Siamat (2001: 88) bank umum memiliki beberapa fungsi pokok, yakni menyediakan mekanisme dan alat pembayaran yang lebih efisien dalam kegiatan ekonomi, menciptakan uang, menghimpun dana dan menyalurkan kepada masyarakat, menawarkan jasa-jasa keuangan lain, menyediakan fasilitas untuk perdagangan internasional, menyediakan pelayanan penyimpanan untuk barang- barang berharga, dan menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana. Semakin banyak dana yang dimiliki suatu bank, semakin besar peluang bagi bank tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatannya dalam mencapai tujuannya.

Sebagaimana fungsi utama bank, BPRS juga berfungsi sebagai lembaga intermediasi yang menerima dan menyalurkan dana dari masyarakat. Fungsi intermediasi BPRS sendiri tercermin dalam rasio Financing to Deposit Ratio

(FDR). Rasio tersebut akan menunjukan tingkat kemampuan bank syraiah dalam menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat. Rata-rata rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) pada BPRS melebihi 110%. Pada satu sisi hal ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi BPRS berjalan dengan baik karena

5

dengan rasio yang melebihi 100% ini berarti seluruh dana yang dihimpun oleh BPRS dapat disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan, namun pada sisi lain ini sangat beresiko, karena salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kredit bermasalah adalah kebijakan perkreditan yang ekspansif (Siamat, 2005:360). Para praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari Loan to Deposit Ratio (LDR) atau Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar 85%-100%. Namun oleh Bank Indonesia, suatu bank masih dianggap sehat jika Loan to Deposit Ratio (LDR) nya masih dibawah 110% (Suryani, 2011).

Sejak tahun 2010 hingga 2013, pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup baik dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9% per tahun. Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi 5 tahun sebelumnya dengan rata-rata 5,5% per tahun. Bahkan pada tahun 2012 hingga tahun 2013, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua setelah China di G20 (antaranews.com, diakses 7 Januari 2015).

Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut juga menggambarkan adanya peningkatan dari sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satunya adalah perubahan dari pendapatan dan konsumsi masyarakat, baik perseorangan maupun korporasi, sehingga selanjutnya akan mempengaruhi besaran investasi masyarakat termasuk deposito dan tabungan yang merupakan bagian utama dari Dana Pihak Ketiga (DPK) (Muttaqiena, 2013:22).

6

Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi dana yang terpenting bagi proses intermediasi perbankan karena proses penghimpunan dana berasal dari masyarakat, yaitu berupa giro, tabungan, dan simpanan berjangka atau deposito. Sehingga DPK menjadi sumber dana terbesar dan yang paling diandalkan oleh bank, baik itu bank syariah ataupun bank konvensional (Dendawijaya, 2009:49).

Bank dapat memanfaatkan dana dari pihak ketiga ini untuk ditempatkan pada pos-pos yang menghasilkan pendapatan bagi bank, salah satunya yaitu dalam bentuk kredit. Pertumbuhan dana pihak ketiga akan mengakibatkan pertumbuhan kredit yang pada akhirnya FDR pada BPRS juga akan meningkat.

Selain itu, aktifitas bank syariah dalam melaksanakan fungsi intermediasinya tidak lepas dari yang namanya resiko kredit yang biasa disebut dengan Non Performing Loan (NPL) pada bank umum atau Non Performing Financing (NPF) pada BPRS (Dendawijaya, 2003). Kemacetan fasilitas kredit disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor dari pihak perbankan dan faktor dari pihak nasabah. Kredit bermasalah dapat diukur dari kolektibilitasnya, merupakan persentase jumlah kredit bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan dan macet) terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. Kredit bermasalah yang tinggi dapat menimbulkan keengganan bank untuk menyalurkan kredit karena harus membentuk cadangan penghapusan yang besar, sehingga mengurangi jumlah kredit yang diberikan oleh suatu bank, dimana nantinya akan mempengaruhi rasio FDR itu sendiri.

7

Rasio Non Performing Financing (NPF) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit atau pembiayaan bermasalah yang diberikan bank syariah. Menurut Surat Edaran BI No.3/30 DPNP tanggal 14 Desember 2001, Non Performing Loan (NPL) diukur dari rasio perbandingan antara kredit bermasalah terhadap total kredit yang diberikan.

Dunia perbankan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi perekonomian, karena kondisi perekonomian dapat mempengaruhi aktifitas perbankan, salah satu indikator perekonomian adalah inflasi. Menurut para ekonom islam, dampak dari inflasi diantaranya menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, meningkatkan kecenderungan untuk belanja, melemahkan semangat untuk menabung, pengerukan tabungan dan penumpukan uang, permainan harga diatas standar kemampuan, penumpukan kekayaan dan investasi non produktif, distribusi barang relatif tidak stabil dan terkonsentrasi (Karim, 2010: 139).

Menurut Dornbus dan Fischer (dalam Kusuma, 2011:2), kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga untuk mengurangi atau menambah laju inflasi akan sangat mempengaruhi peran intermediasi di dunia perbankan.

Perkembangan dari Financing to Deposit Ratio (FDR), Dana Pihak Ketiga (DPK), Non performing Financing (NPF), dan tingkat inflasi dapat dilihat pada gambar berikut :

8 Gambar 1.2

Perkembangan FDR Periode 2010-2013

Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah)

Gambar 1.3

Perkembangan DPK, NPF, dan Inflasi Periode 2010-2013

Sumber : BI, statistik perbankan syariah (diolah)

Dari gambar 1.2 terlihat bahwa tingkat FDR bergerak secara fluktuatif pada periode 2010-2013 dengan presentase terendah sebesar 119,67% dan tertinggi sebesar 136,20%. Peningkatan laju FDR tertinggi terjadi pada kuartal 2 tahun 2013 yaitu naik sebesar 9,96%.Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui

110 115 120 125 130 135 140 2010 2011 2012 2013 FDR (%) 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 2010 2011 2012 2013 DPK (Rp Milyar) NPF (%) Inflasi (%)

9

bahwa kebijakan dari BPRS untuk melakukan pembiayaan terbilang sangat ekspansif selama periode waktu penelitian. Hal tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan pada bank jika mengacu pada aturan Bank Indonesia yang mengkategorikan bank sehat dengan FDR antara 85% hingga 110%.

Jika melihat gambar 1.3, perkembangan DPK BPRS tiap tahun terus mengalami peningkatan sepanjang periode 2010-2013. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih terus mempercayai uang yang dimilikinya untuk sekedar menabung atau berinvestasi di BPRS. Dengan begitu, BPRS juga akan semakin banyak mendapatkan dana dari pihak ketiga ini yang dimana merupakan sumber terbesar bagi kegiatan pembiayaannya. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi presentase tingkat FDR pada BPRS.

Sejak kuartal 2 tahun 2011 NPF mulai mengalami trend penurunan meskipun tidak terlihat signifikan, tapi penurunan ini menunjukkan kemajuan bagi BPRS. Pada tahun 2012 NPF stabil yaitu pada tingkat rata-rata 6,60% yang menjadi rata-rata terkecil dari periode 2010-2013. Peningkatan NPF kembali terjadi pada tahun 2013 dimana pada saat yang sama terjadi krisis mata uang rupiah yang membuat turunnya daya beli masyarakat. Sedikit membaiknya NPF ini mengindikasikan bahwa BPRS semakin baik dalam mengelola pembiayaan bermasalahnya sehingga dapat lebih optimal lagi dalam menyalurkan dana yang telah dihimpun.

Pada tahun 2010 hingga tahun 2013 dapat dilihat inflasi mengalami pergerakan yang sangat fluktuatif, dan mencapai tingkat tertinggi pada kuartal 3 tahun 2013. Hal ini terjadi karena adanya krisis mata uang yang melanda

negara-10

negara emerging markets termasuk Indonesia.Peristiwa tersebut menyebabkan FDR pada BPRS menurun yang dapat dilihat pada tabel 1.2 bahwa meningkatnya inflasi pada tahun 2013 diikuti oleh penurunan FDR pada waktu yang sama. Hal yang serupa juga dialami pada kuartal 4 tahun 2010.Kemudian, menurunnya inflasi pada kuartal 2 tahun 2011 diikuti oleh meningkatnya FDR pada waktu yang sama.

Sebelum penelitian ini dilakukan terdapat beberapa penelitian yang meneliti tentang pengaruh DPK, NPF dan inflasi terhadap FDR. Penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2014), Prihatiningsih (2012), Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) dan Sri Haryati (2008) mengenai pengaruh DPK terhadap FDR. Dalam peneilitian Novitasari (2014) menunjukkan bahwa DPK berpengaruh negatif terhadap FDR secara signifikan. Peneitilian yang dilakukan oleh Prihatiningsih (2012) menyebutkan bahwa DPK berpengaruh terhadap FDR. Namun, hasil penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) yang menyatakan bahwa DPK tidak berpengaruh terhadap LDR perusahaan. Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Sri Haryati (2008) yang menyatakan DPK berpengaruh terhadap kredit baik pada perbankan nasional maupun bank asing campuran.

Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh NPF terhadap FDR dilakukan oleh Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) dan Prayudi (2011). Pada penelitian Hersugondo dan Handy Setyo Tamtomo (2012) menunjukan bahwa NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap LDR perusahaan sedangkan

11

pada penelitian Prayudi (2011) menunjukkan bahwa NPL tidak mempengaruhi LDR secara signifikan.

Inflasi juga ditelaah sebelumnya oleh Novitasari (2014), Sri Haryati (2008), Abdul Mongid (2008) dan Haas & Lelyveld (2003). Pada penelitian Novitasari (2014) menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDR dan dalam penelitian Sri Haryati (2008) dengan sampel bank nasioanl dan bank asing menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan kredit pada bank nasional dan berpengaruh tidak signifikan terhadap bank asing. Kemudian, pada penelitian Abdul Mongid (2008) menunjukan hasil bahwa kebijakan moneter adalah hal penting untuk mengendalikan kegiatan ekonomi melalui jalur kredit. Sedangkan pada penelitian Haas & Lelyveld (2003) inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan kredit bank nasional di wilayah eropa tengah dan eropa timur.

Dengan adanya perbedaan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas, maka penulis tertarik untuk mencoba menguji kembali apa yang dapat diajadikan permasalahan dalam penelitian kali ini, yakni mengenai pengaruh DPK, NPF dan inflasi terhadap rasio FDR, permasalahan juga bisa diperkuat dengan melihat data empiris yang tertera pada gambar 1.2 dan 1.3. Dari penjelasn yang telah dikemukakan, muncul ketertarikan untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai rasio FDR di BPRS karena itu, penulis mengambil judul : “ANALISIS PENGARUH DANA PIHAK KETIGA (DPK), NON PERFORMING

12 DEPOSIT RATIO (FDR) BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH (BPRS) DI INDONESIA PERIODE 2010-2013”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio

(FDR)Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia baik secara simultan maupun parsial, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh secara simultan variabel Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio

(FDR)Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013?

2. Bagaimana pengaruh seacara parsial variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) ), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio

(FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013 ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh secara simultan variabel Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap

13 Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013 ?

2. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh seacara parsial variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) ), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap

Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013 ?

D. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat penelitian yang diperoleh dari penelitian “Analisis

Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan Inflasi terhadap Financing To Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS):

1. Bagi mahasiswa :

a. Dapat memberikan wawasan atau pengetahuan mengenai pola hubungan antara Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan inflasi terhadap Financing to Deposit Ratio (FDR) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia periode 2010-2013.

b. Memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang diperoleh di perkuliahan dalam berbagai kasus riil di dunia kerja.

2. Bagi praktisi lembaga-lembaga keuangan

Memberikan informasi kepada praktisi lembaga-lembaga keuangan rakyat, khususnya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang mempunyai komitmen sebagai lembaga pemberdayaan umat terutama para pelaku ekonomi mengenai peran serta lembaga keuangan dan

kebijakan-14

kebijakan yang tepat untuk mengembangkan dunia usaha dan memonitor tingkat risiko yang akan dihadapi.

3. Bagi pemerintah

Dapat dijadikan sebagai salah satu acuan pemerintah dalam menentukan kebijakannya mengenai produk-produk pada setiap bank syariah. Dalam menumbuh kembangkan dunia usaha dan menggerakkan sektor riil yang ada di Indonesia sehingga dapat meningkatkan perekonomian nasional. 4. Bagi pihak lain

Memberikan sumbangsih data dalam kaitannya dengan perkembangan dan pertumbuhan lembaga keuangan bank rakyat berbasis syariah dalam hal ini adalah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebagai lembaga pemberdaya umat. Selain itu penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi yang terjadi pada BPRS.

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

a. Definisi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Pasal 1 angka 9 UU Perbankan Syariah). Yang perlu diperhatikan dari ketentuan diatas adalah kepanjangan dari BPRS yang berupa Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Ini berarti semua peraturan perundang-undangan yang menyebut BPRS dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah harus dibaca dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Hasan, 2009:7).

Namun BPRS merupakan bagian dari bank syariah yang melakukan kegiatan usahanya dalam ruang lingkup yang lebih sempit. Berbeda dengan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS), BPRS memiliki peran dalam memajukan masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah kebawah terutama pada wilayah kecamatan dan pedesaan melalui pembiayaan-pembiayaan yang disalurkan dengan akad-akad yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

16 b. Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Berkaitan dengan BPRS, sebagaimana terlihat dalam pasal 21 UU Perbankan Syariah, kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh lembaga ini adalah (Hasan, 2009:86):

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk: simpanan berupa tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

2. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah; pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna; pembiayaan berdasarkan akad qardh; pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan pengambilalihan hutang berdasarkan akad hawalah.

3. Menempatkan dana pada bank syariah lain dalam bentuk titipan berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan mudharabah dan atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

4. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah melalui rekening BPRS yang ada di BUS, Bank Umum Konvensional, dan UUS.

17

5. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha bank syariah lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah berdasarkan persetujuan Bank Indonesia.

2. Financing to Deposit Ratio (FDR)

Perbankan syariah yang dalam aktivitasnya menggunakkan prinsip-prinsip islami tidak mengenal kredit (loan) dalam fungsinya sebagai penyalur dana yang dihimpunya. Oleh karena itu, aktifitas penyaluran dana yang dilakukan bank syariah lebih mengarah kepada pembiyaan (financing).

Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit atau pembiayaan yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia tanggal 29 Mei 1993, dana yang dihimpun bank dalam penerapan rasio tersebut adalah dana masyarakat/dana pihak ketiga dan modal inti bank (Dendawijaya, 2009:59).

Rasio FDR menunjukkan salah satu peniliaian likuiditas bank dan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:

FDR : Financing to Deposit Ratio

Ketika angka rasio Financing To Deposit (FDR) suatu bank berada pada angka dibawah angka 80% (misalkan 60%), maka dapat dikatakan bahwa bank tersebut hanya dapat menyalurkan dana sebesar 60% dari seluruh dana

18

yang berhasil dihimpun. Karena fungsi utama bank adalah sebagai intermediasi antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasio Financin To Deposit Ratio (FDR) 60% artinya 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa bank tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Kemudian, ketika suatu bank memiliki ratio Financing To Deposit Ratio (FDR) melebihi angka 110%, maka hal itu berarti total pembiayaan yang diberikan bank tersebut melebihi dana yang dihimpun. Oleh karena dana yang dihimpun dari masyarakat hanya sedikit. Dalam hal ini pula bisa dikatakan bank tersebut tidak menjalakan fungsinya sebagai pihak intermediasi dengan baik. Semakin tinggi nilai rasio Financing To Deposit Ratio (FDR) menunjukan bahwa semakin riskan kondisi likuiditas bank. Dan sebaliknya, semakin rendah tingkat nilai rasio Financing To Deposit Ratio

(FDR) maka efektivitas bank dalam menyalurkan pembiayaan dana akan berkurang.

3. Dana Pihak Ketiga (DPK) a. Definisi Dana Pihak Ketiga

Menurut Arifin (2006:98) Dana pihak ketiga adalah dana yang diperoleh dari masyarakat, dalam arti masyarakat sebagai individu, perusahaan, pemerintah, rumah tangga, koperasi, yayasan, dan lain-lain baik dalam mata uang rupiah maupun dalam valuta asing. Pada sebagian besar atau setiap bank, dana masyarakat ini merupakan dana terbesar yang

19

dimiliki. Hal ini sesuai dengan fungsi bank sebagai penghimpunan dana dari masyarakat. Dana Pihak Ketiga adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, tabungan, simpanan berjangka dan sertifikat deposito atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu dengan menggunakan prinsip syariah. Menurut Riyadi (2006:63) dana yang berasal dari masyarakat biasa disebut dengan sumber dana pihak ketiga (DPK), sedangkan yang berasal dari Pasar Uang disebut dana pihak kedua.

b. Macam-macam Dana Pihak Ketiga

Menurut Karim (2008:23), yang termasuk dalam dana pihak ketiga yaitu giro, tabungan, dan deposito. Ketiga macam dana pihak ketiga tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Giro. Bank syariah dapat memberikan jasa simpanan giro dalam bentuk rekening wadi’ah dan giro mudharabah. Dalam bentuk wadi’ah bank syariah menggunakan prinsip wadi’ah yad dhamanah. dengan prinsip ini bank sebagai custodian harus menjamin pembayaran

kembali nominal simpanan wadi’ah. Dana tersebut digunakan oleh

bank untuk kegitan komersial dan bank berhak atas pendapatan yang diperoleh dari pemanfaatan harta titipan tersebut dalam kegiatan komersial. Pemilik simpanan dapt menarik kembali simpanannya sewaktu-waktu, baik sebagian maupun seluruhnya. Bank tidak boleh menyatakan atau menjanjikan imbalan atas keuntungan apapun pada pemegang rekening wadi’ah, dan sebaliknya pemegang rekening juga

Dokumen terkait