• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EFEKTIVITAS E-SPT GUNA MENINGKATKAN KEPATUHAN WAJIB PAJAK PADA KPP PRATAMA MAKASSAR SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS EFEKTIVITAS E-SPT GUNA MENINGKATKAN KEPATUHAN WAJIB PAJAK PADA KPP PRATAMA MAKASSAR SELATAN "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.01, Maret 2020, pp 331-339 331

ANALISIS EFEKTIVITAS E-SPT GUNA MENINGKATKAN KEPATUHAN WAJIB PAJAK PADA KPP PRATAMA MAKASSAR SELATAN

Maria Suryani Gae1, Erwin Horas2, Syarifuddin3

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

ABSTRACT

The research aims to find out and to measure the efrfectivity of e-SPT system in increasing corporate taxpayer compliance into KPP Pratama South Makassar. The research design used case study through qualitative descriptive method with primary and secondary data. The technique of collecting datas were observation, interview, documentation. The result of the research took the data for recent two years those are 2017 and 2018 for the corporate tax payer who report and their tax revenue. The compliance of SPT report in the year 2016 is 32% and SPT report in PPN time 2017-2018 is 9%. It can be concluded that he effectivity of e-SPT system is applied good but categorized uneffective. This is because based on an effectivity criteria, the system is not catch 80% or more yet, and there are many registered corporate taxpayers who did nor report and realize their tax cause low of taxpayer compliance. Eventhough it is not catch the target and categorized un effectivity but the developing of the system is good for evaluating te target of te next taxreporting.

Keywords : Effectivity, E-SPT, Taxpayer compliance.

PENDAHULUAN

Pajak merupakan penerimaan negara terbesar yang digunakan untuk pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Penerimaan pajak digunakan sebagai alat bagi pemerintah dalam mencapai tujuan untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dari masyarakat guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan nasional.

Direktorat jenderal pajak melakukan reformasi kebijakan perpajakan yang membuat official assessment system berubah menjadi self assessment yang menuntut kesadaran dan kepatuhan yang tinggi dari wajib pajak itu sendiri. Salah satu laangkah yang diambil DJP untuk meningkatkan perpajakan yaitu dengan melakukan perubahan pada sistem administrasi perpajakannya. Upaya Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka mempermudah wajib pajak untuk melaporkan pajak menerbitkan modernisasi administrasi perpajakan modern dengan menggunakan teknologi informasi yang juga mengikuti kemajuan teknologi dengan pelayanan berbasis e-system yang diharapkan

dapat meningkatkan mekanisme kontrol dan pelaporan serta kepatuhan wajib pajak badan maupun pribadi yang lebih efektif. Tujuan diperbaharuinya sistem perpajakan dengan ditambahkannya e-system diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pajak terhadap administrasi perpajakan serta produktivitas pegawai pajak yang tinggi. Adapun perubahan bentuk layanan kepada wajib pajak yang diberikan oleh DJP adalah adanya pelayanan berupa sebuah sistem pembayaran pajak dengan sistem online.Salah satu aplikasi yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang akan mempermudah administrasi perpajakan bagi wajib pajak maupun pegawai atau aparatur pajak, yaitu e-SPT. E-SPT adalah aplikasi (software) yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk digunakan oleh wajib pajak. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat semua jumlah wajib pajak yang melapor Surat Pemberitahuan Tahunan pajak 2018 masih jauh dari target. Tercatat setiap tahun tingkat kepatuhan wajib pajak memiliki persentase yang berbeda. Kepatuhan wajib pajak dalam

(2)

332 Maria Suryani Gae, Erwin Horas, Syarifuddin membayar pajak merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam peningkatan penerimaan pajak. Direktorat Jenderal Pajak meyakinkan rasio kepatuhan wajib pajak badan tahun ini bisa melampaui rasio kepatuhan pada tahun 2017 Secara tren kepatuhan wajib pajak badan masih cukup rendah. Rata-rata kepatuhan formal wajib pajak badan selama lima tahun terakhir tak lebih dari 57,2 persen, angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan PPh badan. Hal ini disebabkan karena kepatuhan wajib pajak merupakan salah satu elemen yang penting dalam rangka penerimaan pajak. Jika angka kepatuhan pajak tinggi, maka secara otomatis akan berdampak pada tingginya penerimaan pajak, sebaliknya jika angka kepatuhan wajib pajak rendah, maka secara otomatis akan berdampak pada rendahnya penerimaan pajak.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas adalah bagaimana efektivitas e-SPT guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak pada KPP Pratama Makassar Selatan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengukur seberapa besar tingkat efektivitas e-SPT guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak pada KPP Pratama Makassar Selatan.

TINJAUAN LITERATUR

Pengertian pajak adalah Menurut pasal 1 Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berbunyi : “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Menurut Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan

pemerintahan.’’(Sumarsan 2014:3). Berdasarkan beberapa definisi diatas (Mardiasmo 2018 :1) menyimpulkan bahwa pajak memiliki unsur- unsur, yaitu penjelasannya sebagai berikut : 1) Iuran dari rakyat ke kas negara. Yang berhak memungut pajak adalah Negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang). 2) Berdasarkan Undang-Undang. Pajak dipungut berdasarkan kekuatan Undang-Undang serta aturan pelaksanaannya. 3) Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah. 4) Dipergunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat.

Efektivitas adalah suatu ukuran atau cara yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah dicapai.

Semakin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Efektivitas menunjukkan kinerja atau hasil dalam keberhasilan mencapai suatu tujuan yang akan dicapai. Suatu unsur pokok untuk mencapai tujuan, target ataupun sasaran di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program . Disebut efektif apabila tujuan atau sasaran dapat tercapai sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan (Puspita 2016 :50). Definisi menurut Gibson (Bungkaes 2013:46) pengertian efektifvitas, yaitu: “Penilaian yang dibuat sehubungan dengan prestasi individu, kelompok maupun organisasi. Semakin dekat prestasi terhadap prestasi yang diharapkan (standar) maka mereka akan dinilai semakin efektif.

E-SPT adalah aplikasi (software) yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk digunakan oleh wajib pajak untuk kemudahan dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Surat Pemberitahuan adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. Sesuai dengan sistem self assessment, wajib pajak mengambil sendiri Surat Pemberitahuan ditempat yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau mengunduh dari situs DJP. Dalam rangka memberikan pelayanan dan kemudahan kepada Wajib Pajak,

(3)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.01, Maret 2020, pp 331-339 333 DJP menerbitkan formulir Surat Pemberitahuan dalam bentuk sistem online (e-SPT) sehingga memudahkan Wajib Pajak dalam melakukan administrasi perpajakan (Anastasia Diana dan Lilis Setiawati 2018). Menurut DJP e-SPT adalah surat pemberitahuan beserta lampiran- lampirannya dalam bentuk digital dan dilaporkan secara elektronik atau dengan menggunakan media komputer yang digunakan untuk membantu wajib pajak dalam melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Laporan yang dapat diaplikasikan adalah SPT massa Pajak Penghasilan (PPh), SPT tahunan PPh, dan SPT masa PPN. Sesuai dengan jenisnya maka ada dua e-SPT, yaitu e-SPT PPh dan e-SPT PPN.

Wajib pajak menurut Undang-Undang No.16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berbunyi : “Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan meliputi pembayar atau pajak, pemotong pajak dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Menurut Abdul Rahman (2010:32) “wajib pajak adalah orang pribadi ataupun badan yang ditentukan untuk melakukan kewajiban Perpajakan yaitu memungut atau memotong pajak tertentu yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan”.

Kepatuhan wajib pajak menurut Norman D.Nowal dalam Siti Kurnia Rahayu (2013 :138) mengemukakan bahwa : “Sebagai suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi dimana, wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak terutang dengan benar, membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya”. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 Wajib Pajak dengan kriteria tertentu yang selanjutnya disebut sebagai Wajib Pajak Patuh adalah Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan, seperti penyampaian SPT Tahunan tepat waktu dalam 3 (tiga) tahun

terakhir, penyampaian SPT Masa yang terlambat dalam tahun terakhir untuk masa Pajak Januari sampai November tidak lebih dari 2 (tiga) Masa Pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut- turut, dan SPT Masa yang terlambat tidak lewat dari batas waktu Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa masa pajak berikutnya.

2)Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak. 3) Laporan keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut. 4) Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir. Menurut Liberti Pandiangan (2014 :245) mengatakan bahwa kepatuhan perpajakan dapat didefininisikan sebagai berikut, yaitu :

“Kepatuhan wajib pajak melaksanakan kewajiban perpajakan merupakan salah satu ukuran kinerja wajib pajak di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Pajak. Artinya tinggi rendahnya kepatuhan wajib pajak akan menjadi dasar pertimbangan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam melakukan hal-hal, seperti pembinaan, pengawasan, pengelolaan dan tindak lanjut terhadap wajib pajak. Misalnya apakah jika akan dilakukan himbauan atau konseling atau penelitian atau pemeriksaan dan juga lainnya, seperti penyidikan terhadap wajib pajak”. Berdasarkan teori kepatuhan pajak, ada dua macam kepatuhan pajak, yaitu: 1) Kepatuhan Formal, yaitu suatu keadaan dimana wajib pajak dapat memenuhi kewajiban perpajakannya secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang perpajakan.

Jika wajib pajak menyampaikan SPT dan membayar pajak terutangnya tepat waktu,maka dapat dikatakan banhwa wajib pajak tersebut telah memenuhi kepatuhan formal. 2) Kepatuhan Material, yaitu suatu keadaan dimana wajib pajak secara substantif atau hakikat memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa Undang-Undang perpajakan.

Jika wajib pajak mengisi SPT dengan jujur, baik dan benar sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang perpajakan, maka wajib pajak

(4)

334 Maria Suryani Gae, Erwin Horas, Syarifuddin tersebut telah memenuhi kepatuhan material (tepat bayar).

Faktor-faktor yang mempengarui kepatuhan wajib pajak, yaitu 1) Kesadaran wajib pajak dimana kesadaran adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan perpajakan adalah perihal pajak. Maka kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak (Jotopurnomo dan Mangoting, 2013). 2) Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transtfer suatu kebiasaan, nilai dan aturan dari generasi satu ke generasi lainnya pada suatu kelompok masyarakat (Ensiklopedia Indonesia).

Sosialisasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengubah milik perorangan menjadi milik umum. 3) Pelayanan fiskus adalah cara melayani (membantu mengurus atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang).

Sementara itu fiskus adalah petugas pajak.

Dengan demikian pelayanan fiskus dapat diartikan sebagai cara petugas pajak dalam membantu dan mengurus atau menyiapkan segala keperluanyang dibutuhkan wajib pajak (Santi, 2012). 4) Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan akaan dituruti atau ditaati atau dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan (Mardiasmo, 2011:59). 5) Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objekstif dan professional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan (pasal 1 angka 25 UU KUP). (Erwin, 2018).

METODE PENELITIAN

Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi kasus dimana tujuan dari studi kasus adalah melakukan pengamatan mendalam mengenai subjek tertentu untuk memberikan informasi dan gambaran yang berkaitan dengan subjek yang

diteliti. Peneliti mengumpulkan infomasi dan data secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan dari data yang diperoleh di KPP Pratama Makassar Selatan.

Lokasi dan waktu penelitian dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Selatan yang terletak di kompleks gedung Keuangan Negara I di Jalan Urip Sumohardjo KM.4 Petterani, Makassar. Adapun penelitian ini dilakukan kurang lebih selama dua bulan.

Jenis dan sumber data dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan metode penelitian deskriptif kualiatif dengan mencari data dan informasi yang terkait atau berhubungan dengan objek pembahasan serta melakukan pengamatan sesuai dengan data diperoleh KPP Pratama Makassar Selatan. Sedangkan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Data Primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari sumber asli. Data primer yang diperoleh dengan melakukan wawancara, observasi, dokumentasi pihak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Selatan. 2) Data Sekunder, yaitu sumber data yang tidak memberikan informasi secara langsung kepada pengumpul data.

Peneliti juga menggunakan data sekunder hasil dari studi pustaka,

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data dan memilih mana yang penting serta mana yang perlu dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun langkah-langkah penelitiannya sebagai berikut : 1) Uji Keabsahan Data. Uji ini merupakan upaya pemeriksaan prosedur tertentu. Melalui uji ini, strategi keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber-sumber data, yaitu memeriksa bukti-bukti yang berasal dari sumber tersebut. Sumber yang dimaksud adalah data yang bersumber dari hasil wawancara dengan narasumber dan dokumentasi yang diperoleh peneliti. 2) Reduksi data merupakan

(5)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.01, Maret 2020, pp 331-339 335 penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi pemfokusan dan keabsahan data mentah menjadi informasi yang bermakna, sehingga memudahkan penarikan kesimpulan. Peneliti menggunakan metode pendekatan tujuan (goal attainment system) untuk menilai tingkat efektivitasnya. 3) Penyajian data yang sering digunakan pada data kualitatif adalah bentuk naratif. Penyajian datadata berupa sekumpulan data dan informasi yang tersusun secara sistematis dan mudah dipahami. 4) Penarikan Kesimpulan merupakan tahap akhir dalam analisis data yang dilakukan melihat hasil reduksi data tetap mengaju pada rumusan masalah secara tujuan yang hendak dicapai.

Data yang telah disusun dibandingkan antara

satu dengan yang lain untuk ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari penelitian yang dilakukan di KPP Pratama Makassar Selatan diperoleh data-data terkait e-SPT. Data-data yang diperoleh peneliti juga berdasarkan tahun pajak dan tahun pelaporannya. Adapun hasil analisis data dan pembahasan yang diolah peneliti, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Efektivitas perbandingan penerimaan SPT masa badan melalui e-SPT tahun 2017-2018 dengan pendekatan tujuan (goal attainment approach)

Masa

SPT masa badan 2017(RP)

SPT masa badan 2018 (RP)

Tingkat penerimaan

Januari

160,747,662,287

96,399,894 9%

Februari

117,650,747,522

106,904,406,816 9%

Maret

121,850,681,509

108,270,376,820 11%

April

91,242,826,232

131,208,568,026 3%

Mei

319,419,315,679

34,264,425,241 8%

Juni

59,007,777,593

12,208,635,735 7%

Julli

253,741,431,753

9,573,909,523 9%

Agustus

132,953,745,143

11,552,307,387 9%

September

117,902,410,940

5,789,600,294 9%

Oktober

142,579,981,702

10,760,901,310 9%

November

135,625,365,097

6,892,868,497 9%

Desember

129,992,303,704

24,767,428,499 8%

(Sumber : Seksi PDI KPP Pratama Makassar Selatan).

(6)

336 Maria Suryani Gae, Erwin Horas, Syarifuddin Berdasarkan tabel 1 diatas data penerimaan pajak SPT dari tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami peningkatan dan penurunan.

Penerimaan SPT masa badan tahun 2017 pada bulan juni terjadi penurunan sebesar Rp.

59,007,777,593; dan meningkat pada bulan sebelumnya, yaitu pada bulan mei sebesar 319,419,315,679; sedangkan di tahun 2018 terjadi peningkatan pada bulan april sebesar

131,208,568,026 dan terjadi penurunan drastis pada bulan september sebesar Rp.

5,789,600,294; Dari tabel diatas menunjukkan tingkat penerimaan dengan rata-rata persentasenya 9%. Dapat dilihat pada tahun 2018 terjadi penurunan dan terjadi kenaikan hanyadi bulan april sebesar Rp.131,208,568,026;

dengan tingkat penerimaan hanya 3% saja.

Tabel 2. Efektivitas perbandingan penerimaan SPT masa PPN melalui e-SPT tahun 2017-2018 dengan pendekatan tujuan (goal attainment approach)

Masa

SPT masa PPN 2017 (RP)

SPT masa PPN 2018 (RP)

Tingkat penerimaan

Januari 140,184,990,431 - -

Februari 112,769,437,371 96,514,602,888 14%

Maret 115,161,547,796 102,220,302,710 11%

April

87,153,167,345 122,725,471,256 28%

Mei

315,780,440,917

29,171,597,869 9%

Juni

54,402,514,574

784,009,962 9%

Juli

248,367,753,225

158,708,297 9%

Agustus

127,730,620,285

3,556,909,717 9%

September

113,932,594,740

23,339,490 9%

Oktober

137,354,923,448

423,910,751 9%

November

127,777,362,495

410,769,273 9%

Desember

118,041,551,169

1,588,638,057 9%

(Sumber : Seksi PDI KPP Pratama Makassar Selatan).

Berdasarkan tabel 2 diatas data penerimaan pajak SPT dari tahun 2017 ke tahun 2018 lebih banyak mengalami penurunan. Di tahun 2018 bulan januari tidak ada penerimaan sama sekali dan mengalami kenaikan penerimaan hanya di bulan april sebesar Rp.122,725,471,256 dengan persentase 28%.

Selain itu, sama halnya dengan SPT Masa badan rata-rata persentase hanya 9% dan terjadi

penurunan drastis dibulan september tahun 2018 sebesar Rp.23.339.490; Ditahun 2017 penerimaan pajak SPT masa PPN lebih meningkat dibandingkan tahun 2018 yang mengalami penurunan.

(7)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.01, Maret 2020, pp 331-339 337

Tabel 2. Tingkat kepatuhan wajib pajak badan yang melapor SPT Tahunan tahun 2016-2018

Tahun

Jumlah wajib pajak terdaftar

wajib pajak yang

melapor SPT Kepatuhan

2016 15.291 4.080 26%

2017 16.461 3.920 23%

2018 17.317 4.624 26%

(Sumber : data diolah)

Berdasarkan tabel 2 diatas diperoleh data jumlah wajib pajak terdaftar tahun 2016 sebanyak 15.291 dan yang melapor hanya 4.080 WP dengan persentase 26%, tahun 2017 sebanyak 16.461 WP dengan jumlah yang melapor 3.920 WP dan persentasenya 23% dan tahun 2018 sebanyak 17.317 WP dengan jumlah yang melapor hanya 4.624 WP dengan persentase 26%. Ditahun 2016 dan tahun 2018 memiliki tingkat kepatuhan yang sama dengan

persentase 26% meskipun WP bertambah. Dari data diatas dapat diketahui bahwa wajib pajak badan yang melaporkan SPT tahunannya masih dikatakan jauh dari target karena yang terealisasi melapor hanya sedikit dari sekianbanyaknya wajib pajak badan yang terdaftar, bahkan dari segi persentasenya masih tergolong kurang efektif karena masih dibawah 30%.

Tabel 3. Tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi karyawan yang melapor SPT Tahunan tahun 2016-2018

Tahun

Jumlah wajib pajak terdaftar

Wajib pajak yang

melapor SPT Kepatuhan

2016 109.847 37.766 34%

2017 118.553 38.575 32%

2018 125.469 38.289 30%

(Sumber : data diolah)

Berdasarkan tabel 3 diatas diperoleh data jumlah wajib pajak terdaftar tahun 2016 sebanyak 109.847 dan yang melapor hanya 37.766 WP dengan persentase 34%, tahun 2017 sebanyak 118.553 WP dengan jumlah yang melapor 38.575 WP dan persentasenya 32% dan tahun 2018 sebanyak 125.469 WP dengan jumlah yang melapor hanya 38.289 WP dengan persentase 30%. Rata-rata kepatuhan dari tabel

diatas berdasarkan persentase masih dibawah 40%. Dari jumlah wajib pajaknya pun hanya mengalami sedikit peningkatan selama tiga tahun berturut-turut. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa OP karyawan yang terdaftar dan yang melapor tidak memiliki jumlah yang sama karena yang terealisasi melapor masih sedikit.

(8)

338 Maria Suryani Gae, Erwin Horas, Syarifuddin

Tabel 4. Tingkat kepatuhan wajib pajak OP non karyawan yang melapor SPT Tahunan tahun 2016-2018

Tahun

Jumlah wajib pajak terdaftar

Wajib pajak yang

melapor SPT Kepatuhan

2016 17.303 2.546 14%

2017 19.077 3.225 16%

2018 20.677 4.264 20%

(Sumber : data diolah)

Berdasarkan tabel 4 diatas diperoleh data jumlah wajib pajak terdaftar tahun 2016 sebanyak 17.303 dan yang melapor hanya 2.546 WP dengan persentase 14%, tahun 2017 sebanyak 19.077WP dengan jumlah yang melapor 3.225 WP dan persentasenya 16% dan tahun 2018 sebanyak 20.677 WP dengan jumlah yang melapor hanya 4.264 WP dengan persentase 20%. Rata-rata kepatuhan dari tabel diatas berdasarkan persentase masi belum mencapai 50%. Dari jumlah wajib pajaknya berbanding terbalik dengan banyaknya jumlah wajib pajak yang mendaftar. Hanya sedikit yang terealisasi pelaporan pajaknya, sehingga terjadi penurunan pelaporan yang signifikan meskipun pada tahun 2018 dari segi persentase kepatuhan naik 20% .

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis efektivitas e-SPT sebagai upaya meningkatkan kepatuhan wajib pajak pada KPP Pratama Makassar Selatan, maka peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Efektivitas sistem e-SPT ini masih tergolong kurang efektif baik dari pelaporan dan penerimaan pajaknya itu sendiri. Hal ini disebabkan karena berdasarkan kriteria efektivitas sistem tersebut belum mencapai sampai diatas 80% serta masih banyak wajib pajak badan terdaftar yang belum melaporkan pajaknya dan realisasi wajib padannya pun hanya sedikit dibandingkan dengan banyaknya wajib pajak badan terdaftar sehingga kurang dan rendahnya kepatuhan wajib pajak. 2) Sejak diterapkannya aplikasi tersebut setiap tahun wajib pajak yang melaporkan pajaknya secara online melalui sistem semakin bertambah, namun realisasinya masih jauh dari target.

Penerimaan pajaknya pun dari tahun 2017 ke tahun 2018 mengalami penurunan dengan rata- rata persentase 9% baik SPT masa badan maupun SPT masa PPN. Meskipun masih belum mencapai target dan dikatakan efektif namun perkembangannya sudah baik sehingga bisa dijadikan evaluasi untuk target pelaporan pajak tahun berikut.

Sebagai uraian terakhir dari pembahasan diatas, penulis memberikan saran yang diarapkan dapat bermanfaat bagi kemajuan dan efektivitas sistem itu sendiri. Adapun upaya- upaya yang disarankan penulis adalah sebagai berikut : 1)Untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam menyampaikan pajaknya perlu dan penting bagi aparatur pajak untuk melakukan sosialisasi terkait program atau sistem e-SPT karena berdasarkan data yang penulis dapatkan masih sangat banyak wajib pajak yang terdaftarnamun belum melaporkan pajaknya.

Maka dari itu, dengan adanya sosialisasi aktif dan tindakan langsung kepada wajib pajak akan menarik banyak wajib pajak dan target KPP akan tercapai. 2)Bagi aparatur pajak yang bertugas mengenai sistem ini diharapkan agar lebih meningkatkan kinerja dan kerja sama yang baik dengan wajib pajak terkait sistem tersebut agar tidak terjadi atau mengurangi kesulitan- kesulitan yang sering terjadi dalam pelaporan pajak oleh wajib pajak. 3)Perlu adanya tanggung jawab dari wajib pajak agar taat dan tepat waktu dalam melaporkan pajaknya sehingga penerimaan pajak dapat terelilisasi dengan baik dan mencapai target yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Halim. (2018). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta : Salemba Empat.

(9)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.01, Maret 2020, pp 331-339 339 Anastasia Diana dan Lilis Setiawati. (2018).

Perpajakan: Teori dan Pearturan Terkini.Yogyakarta: AN

Cresweel, (2014). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantiatif, dan Mixed.

Amerika : United States of America Gunadi. (2013). Panduan Komperhensif Pajak

Penghasilan. Jakarta: Bee Media Indonesia.

Gibson.(2013). Organisasi dan Manajemen.

Jakarta: Erlangg

Horas, E. (2018). Analisis Determinan Kepatuhan Wajib Pajak Orang pribadi Di KPP Pratama Makassar Utara.

Jurnal Ilmiah Aksi : Vol 5, No.1 melalui website http://journal.stieamkop.ac.id.

Mardiasmo.(2018). Perpajakan. Edisi Terbaru.

Yogyakarta: ANDI

Muljono, (2010). Akuntansi Pajak Lanjutan.

Yogyakarta : Penerbit Andi.

Pandiangan,Liberti.(2014). Administrasi Perpajakan.Jakarta : Erlangga.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 41/PJ/2015 tentang Pengamanan Transaksi Elektronik Layanan Online.Jakarta.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 16/PJ/2014 tentang Pengusaha Kena Pajak.Jakarta.

Pratami,Sulindawati dan Wahyuni.(2017).

Pengaruh Penerapan E-system Perpajakan Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak pada KPP Pratama Singaraja. Jurnal Akuntansi Program S1: Vol.7 No.1

Resmi,Siti. (2014). Perpajakan Teori dan Kasus. Edisi 10.Jakarta : Salemba Empat.

Rahayu,Siti Kurnia.(2013). Perpajakan Indonesia: Konsep dan Aspek Formal.Yogyakarta : Graha Ilmu.

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Jakarta.

Sumarsan, Thomas. (2014). Perpajakan Indonesia. Edisi 4. Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan.. Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang

Pajak menurut Undang-Undang No.6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2009 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagai

Definisi pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang Undang Ketentuan dan Tata Cara Perpajakan (KUP) pada pasal 1 ayat 1 berbunyi,

Undang Undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2000 tentang penagihan pajak dengan surat paksa. Undang undang no 16 tahun 2009 tentang ketentuan umum dan tata

Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang tercantum dalam Undang-undang KUP dan peraturan

Definisi pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara