• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis etika bisnis islam terhadap strategi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis etika bisnis islam terhadap strategi"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

PEMASARAN PAKET DATA INTERNET DI COUNTER ASIA PHONE, BEDURI, PONOROGO

SKRIPSI

Oleh:

LUTFIATUS SHOLIKAH 102190130

Pembimbing :

Dr. ABID ROHMANU, M.H.I.

197602292008011008

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

ii

Lutfiatus Sholikah, 2023. Analisis Etika Bisnis Islam Terhadap Strategi Pemasaran Paket Data Internet di Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo.

Skripsi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Abid Rohmanu, M. H. I

Kata kunci : Etika Bisnis Islam, Strategi Pemasaran, Paket Data Internet

Dewasa ini masyarakat belum menyadari akan pentingnya penerapan Etika Bisnis Islam dalam kegiatan usaha (muamalah). Mayoritas pelaku bisnis berorientasi pada profit dengan mengesampingkan moralitas perilaku ekonomi yang berlaku di masyarakat. Kebutuhan paket data internet yang semakin meningkat, menyebabkan bisnis jual beli paket data internet semakin bermunculan. Salah satunya Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo. Semakin banyak bisnis jual beli paket data internet yang muncul, maka bisnis tersebut semakin kompetitif. Sehingga, pebisnis yang memiliki kecenderungan mengejar profit, akan mengabaikan etika dalam bisnis. Salah satu standar etis yang berlaku di masyarakat yaitu standar etis dalam doktrin agama Islam. Standar etis ini mengacu pada Al-Qur’an dan hadis, dimana prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam terdiri dari lima prinsip yaitu: prinsip kesatuan (unity), keseimbangan (equilibrium), kebebasan (free will), tanggung jawab (responsibility), dan kejujuran atau kebaikan.

Berdasarkan latarbelakang tersebut, penulis meneliti lebih lanjut dengan rumusan masalalah; 1) Bagaimana analisis Etika Bisnis Islam terhadap mekanisme strategi pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo. 2) Bagaimana analisis Etika Bisnis Islam terhadap strategi bauran pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo.

Untuk menjawab permasalahan diatas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif lapangan (field research). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer yang diperoleh dari lapangan secara langsung dan sumber data sekunder berupa dokumen, buku, maupun jurnal.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, penulis menyimpulkan bahwa 1) Mekanisme strategi pemasaran paket data internet di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo terdiri dari segmenting, targeting, & positioning telah sesuai dengan prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam. 2) Strategi bauran pemasaran paket data internet di Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo yang terdiri dari; Strategi produk yang dilakukan telah sesuai dengan prinsip tauhid, prinsip keseimbangan, dan prinsip tanggung jawab. Strategi harga yang dilakukan counter tidak memenuhi prinsip keseimbangan dan tanggung jawab. Strategi promosi counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo tidak sesuai dengan prinsip kejujuran dan prinsip tanggung jawab. Strategi tempat di counter ini telah memenuhi prinsip tauhid dan kehendak bebas.

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latarbelakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Telaah Pustaka ... 7

F. Metode Penelitian ... 12

G. Sistematika Pembahasan ... 19

BAB II ETIKA BISNIS ISLAM ... 20

A. Pengertian Etika Bisnis Islam ... 20

(8)

viii

C. Strategi Pemasaran ... 31

D. Pemasaran Syariah ... 37

BAB III PRAKTIK PEMASARAN PAKET DATA INTERNET COUNTER ASIA PHONE, BEDURI, PONOROGO ... 42

A. Profil Counter Asia Phone ... 42

B. Macam-macam Paket Data Internet ... 42

C. Penerapan Strategi Pemasaran Paket Data Internet di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo ... 46

BAB IV ANALISIS ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP STRATEGI PEMASARAN PAKET DATA INTERNET DI COUNTER ASIA PHONE, BEDURI, PONOROGO ... 58

A. Analisis Etika Bisnis Islam Terhadap Mekanisme Strategi Pemasaran Paket Data Internet di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo ... 58

B. Analisis Etika Bisnis Islam Terhadap Strategi Bauran Pemasaran Paket Data Internet di Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo ... 61

BAB V PENUTUP ... 69

A. Kesimpulan ... 69

B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN-LAMPIRAN ...

(9)

ix

Gambar 3.1 Lokasi Counter Asia Phone Beduri Ponorogo ... 47 Gambar 3.2 Screenshoot akun marketplace facebook counter Asia Phone ... 56 Gambar 3.2 Screenshoot akun marketplace facebook counter Asia Phone ... 57

(10)

x

Tabel 3.1 Daftar harga vocer paket data telkomsel ... 43

Tabel 3.2 Daftar harga vocer paket data three ... 44

Tabel 3.3 Daftar harga vocer paket data im3 ... 44

Tabel 3.4 Daftar harga vocer paket data Smartfren ... 45

Tabel 3.5 Daftar harga vocer paket data XL ... 45

Tabel 3.6 Daftar harga vocer paket data axis ... 46

Tabel 3.7 Daftar perbandingan harga paket data yang dijual lebih tinggi dari ketentuan provider ... 52

Tabel 3.8 Daftar perbandingan harga paket data yang dijual setara dari ketentuan provider ... 53

Tabel 3.9 Daftar perbandingan harga paket data yang dijual lebih rendah dari ketentuan provider ... 53

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang Masalah

Dewasa ini, internet telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat setelah pakaian, pangan dan papan. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih menjadikan internet tidak hanya digunakan untuk mengakses informasi penting, tetapi juga digunakan untuk transaksi jual beli barang maupun jasa. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mencatat pengguna internet di Indonesia telah mencapai 215.626.156 jiwa dari total populasi yakni 275.773.901 jiwa.1 Karena perkembangannya yang pesat, semakin banyak usaha jual beli paket data internet yang bermunculan. Hal tersebut tentu memunculkan persaingan usaha yang kompetitif di Indonesia. Dalam menghadapi persaingan usaha dengan kompetitor, seorang pebisnis dituntut untuk kreatif dan memiliki pembeda dengan pesaing baik dalam mempertahankan kualitas produk maupun dalam sistem pemasaran.

Pemasaran adalah keseluruhan sistem dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan serta mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli yang ada maupun pembeli potensial.2 Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan sedangkan strategi pemasaran adalah suatu manajemen,

1 Sarnita Sadya “APJII: Pengguna Internet Indonesia 215,63 Juta pada 2022-2023,” dalam https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-internet (diakses pada tanggal 03 Maret 2023 jam 10.12)

2 Hari Winarto, Strategi Pemasaran, majalah ilmiah ekonomika vol 14 no 3 agustus 2011, 124.

(12)

peencanaan, ataupun planning, agar kegiatan pemasaran yang dilakukan dapat berjalan lancar dan memberikan profit yang maksimal bagi pengusaha. Pemasaran adalah darah perusahaan atau (a blood of company), dalam artian tanpa adanya strategi pemasaran yang baik, maka perusahaan akan kesulitan untuk mencapai hasil maksimal. Strategi pemasaran terdiri dari segmentasi pasar, market positioning, market entry strategy, marketing mix, & timing strategy. Strategi pemasaran berperan penting dalam menjaga pertumbuhan usaha dalam jangka waktu panjang. Maka dari itu, dalam menyusun atau menentukan strategi pemasaran, seorang pebisnis perlu mempertimbangkan aspek-aspek berikut, yakni memperhatikan marketing mix berupa strategi produk, strategi harga, strategi distribusi, dan strategi promosi. Semua elemen dari bauran pemasaran tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling dapat mengganti (substitutable). Dalam artian seorang pengusaha dalam meningkatkan keuntungan penjualannya dapat melakukan cara dengan menurunkan atau menaikkan harga, menambah jumlah tenaga kerja, menaikkan anggaran iklan, atau memberikan inovasi dalam promosinya. Mengedepankan strategi pemasaran memang penting guna peningkatan keuntungan penjualan, tetapi hal tersebut tidak serta merta mengesampingkan prinsip-prinsip etis dalam setiap kegiatan pemasaran.

Etika bisnis merupakan suatu pengetahuan tentang tata cara ideal, bagaimana sebaiknya mengelola bisnis dengan tanpa mengesampingkan norma dan moralitas yang berlaku secara umum (universal). Etika bisnis adalah suatu aturan tidak tertulis mengenai cara menjalankan bisnis secara adil sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak memiliki ketergantungan pada kedudukan individu

(13)

maupun organisasi di masyarakat. Pada awalnya, etika bisnis sebagai suatu keilmuan yang memiliki identitas sendiri terbentuk di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Faktor yang memberikan banyak kontribusi terhadap kelahiran etika bisnis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970-an yaitu pertama, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis sekitar bisnis. Kedua, etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan yang tepat atas terjadinya krisis moral yang sedang terjadi dalam dunia bisnis di Amerika Serikat.3 Jika kita melihat ke belakang, pandangan agama Islam terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis menunjukkan pandangan yang positif. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang mahsyur dan perdagangan sendiri menjadi salahsatu jalur penyebaran agama Islam. Rasulullah SAW memasukkan nilai-nilai etis dalam cara berdagangnya melalui sifat-sifat yang beliau miliki yakni Shiddiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh.

Sebagai seorang umat muslim, taat kepada Allah berarti patuh atas perintah dan aturan-aturan yang dibuat oleh Allah, serta menjauhi larangan-laranganNya.

taat kepada Allah tidak hanya diimplementasikan dalam beribadah, tetapi juga dalam kehidupan bermuamalah. Etika bisnis Islam adalah moralitas dalam menjalankan muamalah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Etika bisnis secara syariah merupakan bentuk sinergi antara nilai-nilai dan ajaran Al-qur’an serta Hadist yang kemudian diterapkan dalam sebuah bisnis, sehingga tercipta bisnis yang profesional, jujur, transparan dan diyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar secara nilai moral, susila, dan akhlak.

3 K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis Islam, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 39

(14)

Untuk saat ini, masyarakat belum menyadari akan pentingnya penerapan etika bisnis Islam dalam kegiatan usaha yang dilakukan. Bahkan untuk sekedar menerapkan kejujuran dalam usaha, masyarakat masih perlu diberikan pemahaman dan ruang-ruang untuk diskusi lebih lanjut. Meskipun pembelajaran di pengajian-pengajian menerangkan secara gamblang tentang prinsip-prinsip etis bentuk keteladanan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam berdagang, namun implementasinya, sifat-sifat tersebut sulit untuk diteladani karena yang pertama masyarakat beranggapan bahwa mereka bukan Rasulullah dalam artian makhluk yang sempurna sehingga wajar jika melakukan kesalahan, dan yang kedua faktor- faktor yang lain juga dapat menimbulkan polemik tersendiri seperti faktor ekonomi, dalam artian lebih mengutamakan profit daripada prinsip etis selama kegiatan yang dilakukan tidak melanggar kode etik yang berat.

Para pengusaha seringkali tidak berniat untuk melakukan pelanggaran aturan moral, dalam hati kecil merasa bahwa apa yang dilakukan salah, tetapi jika tidak melakukan kesalahan itu, akan menimbulkan kesalahan yang lebih besar lagi.

Seperti contohnya ketika seorang pedagang menjual buah salak yang sudah dibungkus 1 kg perbungkus. Dengan terpaksa pedagang menyelipkan satu buah salak dengan kualitas jelek, karena kebutuhan yang mendesak. Anak pedagang tersebut sakit dirumah dan harus segera diperiksa ke dokter, tetapi uangnya belum mencukupi, sehingga agar mendapatkan keuntungan yang lebih banyak ia menyelipkan buah dengan kualitas yang jelek. Ketika ada pembeli yang bertanya apakah kualitas buah dalam satu bungkus tersebut baik semua, maka pedagang dengan terpaksa mengatakan kalau buahnya bagus dan segar-segar.

(15)

Dalam kasus tersebut jelas bahwa perbuatan yang dilakukan pedagang merupakan perbuatan yang melanggar nilai-nilai etis, yaitu kejujuran. Tetapi jika pedagang tidak melakukan itu, ia tidak bisa segera membawa anaknya kerumah sakit, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah penyakitnya semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Kadang juga pelanggaran-pelanggaran etis sengaja dilakukan demi meraup keuntungan yang maksimal hanya untuk memenuhi hawa nafsu belaka.

Counter Asia phone, Beduri, Ponorogo adalah sebuah toko yang menjual paket data internet dan aksesoris-aksesoris handphone. Strategi pemasaran yang dilakukan di counter itu yakni dengan memperhatikan marketing mix (bauran pemasaran). Strategi harga yang diterapkan oleh counter ini bahwasannya harga yang tertera dalam banner promosi yang dikeluarkan oleh provider dan dipajang di depan counter tidak sesuai dengan harga yang sebenarnya. Setelah dikonfirmasi, pemilik counter mengaku telah menaikkan harga dari harga yang telah ditetapkan oleh provider. Tindakan ini tentu merugikan konsumen karena merasa ditipu oleh banner promosi yang dipasang. Tetapi di sisi lain, penentuan harga jual paket data internet sepenuhnya menjadi hak pemilik counter, karena pemilik telah membeli paket data tersebut dari provider.

Strategi promosi yang dilakukan oleh counter ini dilakukan dengan menggunakan dua media, yakni media cetak dan media massa. Penggunaan media massa dalam sebuah promosi yang baik adalah dengan menggunakan akun asli, sehingga masyarakat tidak kebingungan ketika ingin mencari lebih lanjut

(16)

berkaitan dengan barang yang dicari. Namun, counter menngunakan username dan foto profil palsu dalam akun marketplace yang digunakan.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisis Etika Bisnis Islam Terhadap Strategi Pemasaran Paket Data Internet Di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tinjauan etika bisnis Islam terhadap mekanisme strategi pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo?

2. Bagaimana tinjauan etika bisnis Islam terhadap strategi bauran pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tinjauan etika bisnis Islam terhadap mekanisme strategi pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo

2. Untuk mengetahui tinjauan etika bisnis Islam terhadap strategi bauran pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo

D. Manfaat Penelitian

Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa:

1. Manfaat Teoritis

Manfaat penelitian ini yakni penulis berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam hal perkembangan ilmu hukum ekonomi syariah, khususnya dalam hal etika berbisnis sesuai prinsip-prinsip syariah.

(17)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti sendiri, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan baru tentang Etika Bisnis Islam terhadap strategi pemasaran

b. Bagi masyarakat luas, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam meningkatkan kesadaran moral di bidang bisnis.

c. Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pemikiran ilmiah, guna pembaharuan-pembaharuan dalam hukum Islam di Indonesia.

E. Telaah Pustaka

Peneliti berupaya untuk menemukan literatur-literatur terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Literatur yang ditemukan berupa skripsi yang kemudian dijadikan referensi dalam menyusun penelitian ini. Penelitian skripsi tersebut diantaranya:

Pertama, skripsi yang disusun oleh Sofiatul Chasanah berjudul “ Analisa Etika Bisnis Islam Terhadap Pelayanan Pelanggan di Rumah Makan Joglo Manis Ponorogo”, IAIN Ponorogo, 2017. 4 Sofiatul dalam hal ini menemukan pelayanan yang tidak baik di Rumah Makan Joglo Manis, yakni kurangnya penjelasan dari pihak pelayan kepada konsumen berkaitan dengan gambar yang tertera di draft menu. Dimana gambar yang tertera lebih menarik daripada aslinya dan adanya perbedaan ukuran sehingga tidak sesuai dengan harapan pelanggan. Selain itu, Rumah Makan Joglo Manis juga melayani pelanggan ketika ingin menambah atau mengurangi isi dalam menu makanan, dengan harga yang sama, namun

4 Shofiatul Chasanah, Analisa Etika Bisnis Islam Terhadap Pelayanan Pelanggan di Rumah Makan Joglo Manis Ponorogo, skripsi (Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2017)

(18)

penambahan menu tersebut masih dalam batas wajar. Kesimpulan dari skripsi ini, bahwasannya pelayanan di Rumah Makan Joglo Manis tidak menerapkan prinsip kejujuran dalam etika bisnis Islam karena ketidak sesuaian antara gambar dan makanan asli, tetapi menerapkan prinsip keramahtamahan dalam pelayanan dengan menerapkan 3S (Salam, Senyum, dan Sapa). Perbedaan skripsi dengan penelitian ini, bahwasannya jika penelitian sebelumnya meneliti tentang aspek keramahtamahan dan pelayanan, maka skripsi ini meneliti tentang strategi pemasaran yang diterapkan di counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo.

Kedua, skripsi yang disusun oleh Dwi Mega Wahyu berjudul “Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Jual Beli Buah Karbitan di Desa Hadiwarno Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan”, IAIN Ponorogo, 2021.5 Buah karbitan adalah buah yang diberi karbit untuk mempermudah dalam proses pematangan buah. Dalam praktiknya, penjual tidak memberitahu pembeli berkaitan dengan proses pengkarbitan buah agar cepat matang. Dan buah yang biasa dikarbit adalah buah pisang, dimana buah tersebut dijual dalam bentuk tundunan sehingga terkadang terjadi pemberian harga yang tidak tepat karena ada perbedaan berat.

Kesimpulan dari skripsi ini yakni proses jual beli buah karbitan di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan kurang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar etika bisnis Islam, yakni prinsip kesatuan, keadilan, kehendak bebas, tanggungjawab, dan kebenaran. Kesatuan, kurang sesuai karena merubah kualitas buah tanpa sepengetahuan pembeli. Keadilan, kurang sesuai karena berat buah yang didapat pembeli tidak sama. Kehendak bebas, kurang

5 Dwi Mega Wahyu, Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Jual Beli Buah Karbitan di Desa Hadiwarno Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, Skripsi (Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2021)

(19)

sesuai karena kehendak bebas dari penjual yang merugikan konsumen.

Tanggungjawab, kurang sesuai karena penjual kurang bertangggung jawab berkaitan dengan kepuasan konsumen. Kebenaran, kurang sesuai karena dalam akad jual beli, penjual tidak menjelaskan secara detail kejelasan dan kebenaran kondisi buah yang dijual. Perbedaan skripsi dengan penelitian ini bahwasannya jika aspek yang diteliti dalan skripsi ini berkaitan dengan kualitas objek penelitian, maka skripsi ini meneliti tentang aspek strategi pemasaran yang dilakukan.

Ketiga, skripsi yang disusun oleh Karlinda Fitrian berjudul “Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Persaingan Pengrajin Genteng di Desa Wringinanom Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo”, IAIN Ponorogo, 2018. 6 Bentuk persaingan usaha yang terjadi di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo yakni berkaitan dengan strategi pemasaran dan harga.

Strategi pemasaran yang diterapkan terdiri dari dua macam, yakni tanpa perantara dan menggunakan perantara. Dalam persaingan harga, ada pengrajin yang menurunkan dan menaikkan harga genteng. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa strategi pemasaran yang diterapkan sudah sesuai dengan prinsip etika bisnis islam yakni prinsip kehendak bebas, tanggungjawab, dan kebenaran, namun tidak bekesesuaian dengan prinsip keseimbangan dan kesatuan.

Kemudian pada aspek persaingan harga dalam etika bisnis Islam memenuhi prinsip pertanggungjawaban (responsibility), tetapi tidak memenuhi prinsip kehendak bebas (free will), kebenaran (benevolence), keseimbangan (equilibrium)

6 Karlinda Fitriani, Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Persaingan Pengrajin Genteng di Desa Wringinanom Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo, Skripsi (Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2018)

(20)

dan kesatuan (unity). Perbedaan skripsi dengan penelitian ini bahwasannya skripsi ini menekankan aspek strategi pemasaran dan harga, sedangkan penelitian ini menekankan ada aspel strategi bauran promosi dan bauran harga.

Keempat, skripsi yang disusun oleh Komalasari yang berjudul “Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Praktik Jual Beli Kacang Tanah Sebelum Masa Panen di Desa Mawu Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima”, UIN Mataraman, 2019.7 Jual beli yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jual beli kacang tanah dimana kacangnya belum siap dipanen sehingga masih berada di sawah, biasanya dilakukan oleh petani yang memiliki kebutuhan mendesak, dan pembeli membeli kacang tanah tersebut setengah harga. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwasannya akad jual beli tersebut termasuk dalam praktek tolong menolong antara kedua belah pihak, dan dari hasil jual beli yang telah dilakukan, pihak penjual akan memiliki modal tambahan sehingga penjual dapat merawat tanamannya hingga masa panen tiba. Pembeli juga akan mendapatkan hasilnya setelah dipanen. Praktik jual beli semacam ini telah sesuai dengan etika bisnis Islam dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) pasal 1458 tentang jual beli. Bahwasannya antara penjual dan pembeli telah sepakat meskipun objek jual beli belum diserahkan. Skripsi ini menekankan pada akad jual beli, sedangkan penelitian ini menekankan pada strategi pemasaran.

Kelima, jurnal yang disusun oleh Arky Nafisa Beladiena, Neneng Nurhasanah, dan Udin Saripudin yang berjudul “Analisis Nilai-Nilai Etika Bisnis Islam Terhadap Strategi Penanganan Pembiayaan Bermasalah pada Produk Akad

7 Komalasari, Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Praktik Jual Beli Kacang Tanah Sebelum Masa Panen di Desa Mawu Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, Skripsi (Mataraman :UIN Mataraman, 2019)

(21)

Murabahah”, Jurnal Iqtisaduna, 2021. 8 Upaya penanganan pembiayaan bermasalah pada BMT ITQan dan BMT Tumang yaitu dengan menerapkan beberapa strategi diantaranya restrukturisasi, reschedulling, penyitaan jaminan, pembebasan sisa piutang dengan menggunakan dana tabarru’, serta menggunakan debt collector. Kebijakan tersebut menimbulkan polemik tersendiri, hal ini karena bisa dikatakan hampir sama dengan leasing konvensional. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa strategi yang diterapkan dalam penanganan pembiayaan bermasalah pada produk murabahah yang diterapkan oleh BMT Tumang dan BMT Itqan memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya yakni sama-sama menerapkan strategi eksekusi jaminan pembiayaan. Sedangkan perbedaannya BMT Tumang menggunakan teknik pendekatan personal dan BMT ItQan menggunakan debt collector. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwasannya strategi yang diterapkan sudah sesuai dengan nilai-nilai etika bisnis Islam yaitu menerapkan ta’awwun (saling menolong), tawasaw (saling mengingatkan) serta prinsip-prinsip prudential (mawasid asy syariah) yang sesuai dengan konsep ketakwaan dalam perspektif agama Islam. Perbedaan skripsi diatas bahwasannya penelitian diatas membahas berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh subjek penelitian, maka dalam penelitian ini membahas strategi pemasaran yang dilakukan dalam objek penelitian.

8 Arky Nafisa Beladiena, Neneng Nurhasanah, dan Udin Saripudin, “Analisis Nilai-Nilai Etika Bisnis Islam Terhadap Strategi Penanganan Pembiayaan Bermasalah pada Produk Akad Murabahah”, Jurnal Iqtisaduna, Vol 7 Nomor 1 (2021):51.

(22)

F. Metode penelitian

1. Jenis dan pendekatan Penelitian a. Jenis Penelitian

Skripsi ini merupakan jenis penelitian kualitatif studi lapangan (field research). Tahap awal dalam penelitian studi kualitatif lapangan yakni penyusunan desain penelitian dan pengujian alat lapangan, lalu menentukan lokasi penelitian, informan, dan responden, selanjutnya pelaksanaan penelitian melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi.

data hasil dari studi lapangan diabstraksikan guna mendapatkan informasi secara penuh, dan diinterpretasi guna menghasilkan suatu pengetahuan kemudian menarik suatu kesimpulan. Pendekatan yang digunakan dalam tahap intrepetasi yaitu pendekatan etika bisnis Islam.9

b. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan normatif yakni pelaksanaan strategi pemasaran dalam jual beli paket data internet ditinjau berdasarkan etika-etika bisnis yang terkandung dalam hukum ekonomi syariah dan bersumber dari Al-Qur’an, hadist, serta kaidah hukum Islam yang relevan.

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif studi lapangan ini sangat penting, karena peneliti berperan sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Kehadiran peneliti sebagai pengamat partisipan

9 Wahyudin Darmalaksana, “Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan”, Pre Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, (2020), 5.

(23)

(participant as observer), yakni berperan sebagai seorang pengamat dan menjadi bagian dari kelompok yang diteliti, namun tetap membatasi diri dalam bertindak agar tidak terlibat secara mendalam dalam aktivitas kelompok yang sedang diamati10.

Kedudukan atau posisi peneliti dalam penelitian kualitatif lapangan yaitu sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, analisis, penafsir data, dan menjadi pelopor dalam hasil penelitian. Maka dari itu, kedalaman dan ketajaman dalam analisis serta kevalid-an dari data-data yang diperoleh perlu mendapatkan perhatiah khusus. Taktik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian, yaitu dengan menciptakan hubungan baik dengan informan sehingga data-data yang diperoleh dapat diterima kebenarannya.11

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini yaitu Counter Asia Phone yang beralamat di Desa Beduri, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo. Counter ini letaknya strategis berada di pusat kota, tidak jauh dari alun-alun kota, sekolah, serta terminal sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian.

Alasan peneliti memilih lokasi ini yakni karena strategi promosi yang diterapkan berbeda dengan counter pada umumnya.

10 Hasyim Hasanah, “Teknik-teknik Observasi”, at-Taqaddum, 01 (Juli 2016), 31.

11 Ibid

(24)

4. Data dan Sumber Data a. Data

1) Data umum

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu strategi pemasaran seperti apa yang diterapkan oleh counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo.

2) Data khusus

Data khusus yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah mekanisme strategi pemasaran dan strategi bauran pemasaran yang diterapkan oleh counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo.

b. Sumber Data

1) Sumber data primer

Sumber data primer merupakan sumber data yang memuat data utama yakni data yang diperoleh secara langsung di lapangan, misalnya narasumber atau informan.12Data primer yang diambil dalam penelitian ini yaitu mengenai praktik strategi pemasaran yang dilakukan oleh Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo.

2) Sumber data sekunder

Sumber data sekunder, merupakan sumber data tambahan yang diambil tidak secara langsung di lapangan, melainkan dari sumber yang sudah dibuat orang lain, yakni data yang didapatkan atau diperoleh bukan dari subjek penelitian ataupun informan utama

12 Farida Nugrahani, Metode Penelitian Kualitatif (dalam Penelitian Pendidikan Bahasa), (Solo: Cakra Books, 2014), 113

(25)

dalam penelitian, dan dapat diakses oleh orang banyak berupa artikel ilmiah, jurnal-jurnal penelitian, buku, dll. sumber data sekunder berfungsi sebagai sumber data pelengkap.13

5. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi

Observasi merupakan kegiatan pengamatan dan pencatatan yang terstruktur terhadap fenomena yang diteliti. Observasi dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Keuntungan yang didapat ketika menggunakan teknik observasi ini yakni adanya pengalaman yang lebih mendalam, disebabkan karena peneliti langsung berinteraksi dengan subjek penelitian.14

b. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dokumen, memilah dokumen yang sesuai dengan keperluan penelitian, menerangkan dan mencatat serta menafsirkan dan menghubungkannya dengan fenomena lain. Dokumentasi ini dapat dilengkapi dengan studi pustaka untuk memperoleh teori-teori, konsep- konsep sehingga bisa digunakan sebagai bahan pembanding, penguat, serta penolak terhadap temuan penelitian untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan.15

13 Ibid

14 Dewi Sadiah, Metode Penelitian Dakwah Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif., (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015), 87-88

15 Ibid

(26)

c. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang penting ketika peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif lapangan (field research). Wawancara (interview) adalah salahsatu kaedah mengumpulkan data yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang berhubungan dengan fakta, kepercayaan, perasaan, keinginan dan lain-lain yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan penelitian.16 Dalam penelitian ini, responden yang dipilih adalah pemilik counter, penjaga counter, serta pembeli yang dipilih secara acak.

6. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis induktif. Analisis induktif yaitu pencatatan terhadap fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan berhubungan dengan apa yang diamati untuk kemudian ditarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum (secara induktif). Menurut Francois Bacon dalam bukunya Elvis F. Purba & Parulina Simanjutak, kesimpulan-kesimpulan umum hanya bisa diperoleh dari fakta lapangan melalui observasi.17 Dalam hal ini penulis mengemukakan terlebih dahulu tentang praktik strategi pemasaran yang dilakukan Counter Asia Phone dimana terdapat perbedaan harga antara produk yang dipromosikan di banner promosi dengan produk asli yang dijual, setelah dilakukan pencatata berkaitan dengan fakta tersebut, maka ditarik sebuah kesimpulan-kesimpulan umum dengan pendekatan etika binis Islam.

16 Ibid

17 Elvis F. Purba & Parulina Simanjutak, Metode Penelitian, (Medan : Percetakan sadia, 2012), 13

(27)

Adapun langkah-langkah dalam analisis data ini yaitu:

a. Reduksi data

Reduksi data adalah proses memilih, memusatkan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang diperoleh dari referensi-referensi yang ditemukan.18 Pada proses pemilihan ini, peneliti memilah dan memilih referensi berdasarkan keeratan hubungan antara judul yang diteliti dengan referensi yang ditemukan.

b. Penyajian data

Penyajian data adalah mengumpulkan seluruh informasi yang diperoleh dan disusun dengan rapi, sehingga dengan adanya data tersebut dapat melakukan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.19 Dalam tahap ini, peneliti menyimpulkan referensi yang tepat yang akan digunakan dalam penelitian dan membandingkan kesimpulan- kesimpulan dari referensi tersebut dan dicari kesamaan nya.

c. Verifikasi dan penarikan kesimpulan

Pada tahap ini, peneliti menarik kesimpulan dari data- data yang telah dikumpulkan. Penarikan kesimpulan ini sejauh pemahaman peneliti dan interpretasi yang dibuat.20 Dimana kesimpulan yang berkaitan dengan etika bisnis Islam terhadap strategi pemasaran paket data internet di counter Asia Phone Beduri, Ponorogo, telah terverifikasi berdasarkan sumber bacaan yang telah dipahami.

18 Ahmad Rijali, “Analisis Data Kualitatif”, Alhadharah Vol. 17 No.33 Januari-Juni (2018), 91

19 Ibid, 94

20 Ibid

(28)

7. Pengecekan Keabsahan Data

Uji keabsahan data merupakan pemeriksaan secara ilmiah terhadap data- data yang diperoleh, apakah data-data tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Adapun langkah- langkah yang dilakukan dalam pengecekan keabsahan data yakni:

a. Ketekunan pengamatan

Ketekunan pengamatan yakni melakukan pengamatan secara terus menerus dan kontinyu, sehingga peneliti dapat melakukan pengamatan secara lebih cermat, mendalam, dan terperinci.21 Dalam tahap ini, akan ditemukan kejadian-kejadian mana yang perlu dicermati lebih lanjut, dan mana yang tidak perlu. Ketekukan dalam pengamatan dilakukan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.

b. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan cara memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu sendiri, untuk digunakan sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh.22 Triangulasi dalam penelitian ini termasuk triangulasi sumber, berarti membandingkan dengan mengecek ulang derajat kebenaran suatu informasi yang didapatkan melalui sumber yang berbeda. Yakni dengan membandingkan hasil wawancara dan hasil pengamatan, ataupun membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan.

21 Ibid

22 Ibid

(29)

G. Sistematika Pembahasan

Dalam rangka untuk memudahkan sistematika pembahasan penelitian skripsi ini, penulis berupaya untuk membagi skripsi ke dalam lima bab dengan sistematika pembahasan sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan tentang keterangan dan gambaran secara umum tentang pembahasan skripsi, yang berisi mengenai latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

BAB II ETIKA BISNIS ISLAM. Bab ini menjelaskan secara rinci tentang etika bisnis Islam, prinsip-prinsip ekonomi syariah, strategi pemasaran, fungsi dan tujuan strategi pemasaran, bauran pemasaran, dan pemasaran syariah.

BAB III PRAKTIK PEMASARAN PAKET DATA INTERNET COUNTER ASIA PHONE, BEDURI, PONOROGO. Bab ini merupakan penyajian data dari hasil penelitian lapangan terkait strategi pemasaran yang dilakukan oleh Counter Asia Phone, Beduri, Ponorogo. Yang berisi mengenai profil counter, macam-macam paket data yang dijual.

BAB IV ANALISIS ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP STRATEGI PEMASARAN PAKET DATA INTERNET DI COUNTER ASIA PHONE, BEDURI, PONOROGO. Bab ini merupakan analisa terhadap strategi pemasaran paket data internet menggunakan etika bisnis Islam. Bentuk analisis yang dimaksud adalah analisis prinsip-prinsip ekonomi syariah terhadap bauran pemasaran di Counter Asia Phone Beduri, Ponorogo.

(30)

BAB V PENUTUP. Dalam bab ini diuraikan suatu kesimpulan dari semua bab dan hasil dari analisa pada bab IV, beserta saran dan kritik terhadap pihak counter maupun masyarakat secara umum.

(31)

21 BAB II

ETIKA BISNIS ISLAM A. Pengertian Etika Bisnis Islam

1. Etika, Moralitas, dan Agama

Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat, watak atau kesusilaan. yang berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lain atau dari generasi ke generasi.1 K. Bertens membagi etika menjadi 2 pengertian yakni:

Pertama, etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Dalam artian apakah secara praktik, segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang sejalan atau tidak sejalan dengan nilai dan moral yan berlaku di masyarakat.

Kedua, etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam artian pengkajian terhadap diri sendiri atau orang lain berkaitan dengan apakah tindakan yang dilakukan sejalan dengan nilai-nilai dan ajaran moral yang berlaku di masyarakat.2

Etika bukan sumber ajaran moral, melainkan filsafat atau pemikiran kritis tentang ajaran-ajaran moral. Dimana sumber ajaran moral adalah perilaku manusia yang berada di suatu wilayah itu sendiri. Etika merefleksikan secara kritis-sistematik bagaimana seharusnya manusia saling memperlakukan dalam kebersaman hidup ditengah dunia. Sedangkan moralitas adalah suatu ajaran

1Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam: Implementasi Etika Islami Untuk Dunia Usaha, (Bandung: Alfabeta, 2013), 24.

2K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 33

(32)

penilaian baik dan buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tabuh untuk dilakukan bagi manusia, anggota suatu komunitas, atau masyarakat.

Moralitas merupakan aspek pembeda antara manusia dengan aspek-aspek nonhuman, karena dalam kondisi apapun dan dimanapun, manusia dituntut untuk berlaku baik dan memiliki kesadaran moral. Etika lebih dari moralitas karena etika menyodorkan pengertian yang lebih mendasar dan mendalam atas pertanyaan mengapa kita harus hidup sesuai norma moral tertentu. namun, etika juga kurang dari moralitas karena yang menentukan baik dan buruk serta apa yang tabu dan tidak adalah moralitas, bukan etika.3

Etika sama sekali tidak dapat menggantikan agama, namun etika juga tidak bertentangan dengan agama. Etika membantu para pemeluk suatu agama agar memahami secara mendalam dan mendasar mengapa mereka memeluk suatu agama atau mengapa memeluk suatu ajaran agama tertentu, bukan ajaran agama lain. etika juga membantu para pemeluk agama agar bersikap dengan tepat terhadap pemeluk agama lain.4 Perbedaan etika dan akhlak terletak pada standarnya masing-masing. Standar akhlak adalah al-qur’an dan hadis, sedangkan standar etika adalah akal fikiran manusia.

Moralitas dan agama memliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

Hal itu disebabkan karena agama yang menggerakkan seseorang untuk selalu berperilaku moral. Contohnya berbohong adalah suatu tindakan yang tidak baik karena dapat merugikan orang lain, dan moral untuk selalu bersikap jujur

3L. Sinuor Yosephus, Etika Bisnis: Pendekatan Filsafat Moral terhadap Perilaku Pebisnis Kontemporer, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), 32-35

4Ibid, 36

(33)

dalam segala tindakan telah diatur didalam agama.5 Sebagai seseorang yang taat dalam beragama, mematuhi perintah agama dan menjauhi larangannya adalah suatu keharusan. Maka dengan ajaran agama tersebut, seseorang akan merasa bersalah dan berdosa ketika melakukan tindakan yang tidak tidak sesuai dengan apa yang diyakini.

2. Etika bisnis

Secara bahasa, bisnis mempunyai beberapa arti; usaha, perdagangan, toko, perusahaan, tugas, urusan, hak, usaha dagang, usaha komersial dalam dunia perdagangan atau bidang usaha. Dari pengertian tersebut bisnis memperlihatkan dirinya sebagai aktivitas riil ekonomi yang secara sederhana dilakukan dengan cara jual beli atau pertukaran barang dan jasa. Secara terminologis, bisnis merupakan aktivitas yang cakupannya sangat luas; ia meliputi aktivitas memproduksi barang tambang atau pertanian dari bumi, memproses bahan-bahan dasar hingga berguna, membuat berbagai barang jadi, mendistribusikan barang, menyediakan jasa, menjual dan membeli barang dagangan ataupun aktivitas yang berkaitan dengan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan.6

Menurut Richard de George keberhasilan suatu usaha/perusahaan dipengaruhi oleh 3 hal pokok yaitu: memiliki produk yang baik, memiliki manajemen yang baik, dan memiliki etika.7 Etika bisnis adalah penerapan prinsip-prinsip etika yang umum pada suatu wilayah perilaku manusia yang khusus, yakni dalam konteks ini kegiatan ekonomi dan bisnis. Etika bisnis

5Ibid, 36

6Nihayatul Masykuroh, Etika Bisnis Islam, (Serang : CV. Media Karya Kreatif, 2020), 8-9

7Sri Mulyono, Etika Bisnis Islam, (Lombok : CV. Alliv Renteng Mandiri, April 2021), 31

(34)

juga dapat diartikan sebagai penilaian baik dan buruk terhadap suatu bisnis.

Dalam menilai baik buruk suatu bisnis, tentu memerlukan sebuah patokan, atau sudut pandang terlebih dahulu, hal ini dilakukan untuk memperoleh ketajaman dalam menilai. Bertens, membaginya dalam tiga sudut pandang yakni sudut pandang ekonomi, hukum, dan moral. Dalam sudut pandang ekonomi, suatu bisnis dikatakan baik jika menghasilkan keuntungan yang besar. Berbeda dengan sudut pandang hukum yang menilai bahwa suatu bisnis dikatakan baik jika patuh terhadap aturan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dan jika dilihat dari sudut pandang moral, suatu bisnis dikatakan baik apabila bisnis tersebut memenuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bertens juga menyebutkan, tolak ukur yang digunakan dari ketiga sudut pandang tersebut yakni hati nurani, kaidah emas, dan penilaian umum. Kaidah emas yang dimaksud adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.8

Secara umum, sebagai etika khusus atau etika terapan dari etika umum atau nilai-nilai umum di masyarakat, etika bisnis memiliki prinsip-prinsip etika bisnis. Adapun prinip-prinsip etika bisnis tersebut yaitu:9

a. Prinsip otonomi

Prinsip otonomi yang dimaksud yakni perusahaan memiliki kewenangan atau kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik.

Dalam etika, kebebasan adalah prasyarat utama untuk bertindak secara

8 K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 3o

9 Budi prihatminingtyas, Etika Bisnis (suatu pendekatan dan aplikasinya terhadap stakeholders), (Malang: CV. IRDH, 2019), 34-43

(35)

etis, karena tindakan etis itu sendiri, dalam bahasa indonesia, bersumber dari kemauan baik dan kesadaran pribadi untuk berbuat baik.

b. Prinsip kejujuran

Prinsip kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar (modal dasar atau aset yang paling dan sangat berharga) dalam mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Karena kejujuran dalam berbisnis adalah kunci keberhasilan, termasuk untuk bertahan dalam jangka panjang, dalam suasana bisnis yang penuh persaingan ketat. Prinsip kejujuran ditujukan dalam perjanjian kontrak kerja, penawaran barang, hubungan kerja dengan mitra, serta hubungan kerja dengan tenaga kerja.

c. Prinsip tidak berniat jahat

Bisnis didirikan dengan komitmen untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan karyawan, konsumen atau stakeholders pada umumnya. Komitmen ini diciptakan untuk tujuan yang positif.

Sehingga tidak terlintas niatan untuk berbuat jahat terhadap masyarakat.

Prinsip ini justru akan dapat menyelamatkan perusahaan dari perbuatan- perbuatan yang melanggar etika.

d. Prinsip keadilan

Yang dimaksud dengan keadilan adalah tercapainya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang dalam kegiatan bisnis internal perusahaan maupun relasi eksternal perusahaan perlu diperlakukan sesuai dengan hak dan kewajiban.

(36)

Keadilan menuntut agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya.

e. Prinsip hormat pada diri sendiri

Prinsip ini merupakan prinsip tindakan bisnis yang dampaknya berpulang kembali kepada bisnis itu sendiri. Pelaku bisnis dituntut menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaannya. Dengan kata lain, prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku dan perusahaan untuk menjadi yang terbaik dan dibanggakan

f. Prinsip saling menguntungkan

Prinsip ini menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Prinsip ini terutama mengakomodasi hakikat dan tujuan bisnis. Karena sebagai produsen ingin mendapatkan keuntungan dan sebagai konsumen ingin mendapatkan barang dan jasa yang memuaskan (dalam bentuk harga wajar, kualitas baik dan pelayanan baik), maka bisnis dijalankan dengan saling menguntungkan produsen dan konsumen. Dalam bisnis yang kompetitif, prinsip ini menuntut agar persaingan bisnis haruslah melahirkan suatu win-win solution.

3. Etika bisnis Islam

Etika Bisnis Islam merupakan penerapan perilaku atau akhlak dalam menjalankan bisnis untuk mencari keuntungan namun tidak keluar dari perilaku, moral, atau norma-norma ajaran Islam dalam menjalankan bisnis

(37)

Islam. 10 sehingga, tolak ukur yang digunakan yakni norma-norma dalam ajaran agama Islam. Soedarsono dalam bukunya mengatakan etika Islam adalah doktrin etis yang berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam berdasarkan Al-qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, yang didalamnya terdapat nilai- nilai luhur dan sifat-sifat yang terpuji (mahmudah). Sifat-sifat tersebut antara lain,“berlaku jujur (al-amanah), berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul wa>lidaini), memelihara kesucian diri (al-iffah), kasih sayang (ar-rahman dan al-barry), berlaku hemat (al-Iqtishad), menerima apa adanya dan sederhana (Qanaah dan Zuhud), perikelakuan baik (ihsan), kebenaran (shiddiq), pemaaf (‘afu), keadilan (‘adl), keberanian (syaja’ah), malu (haya’), kesabaran (shabr), berterimakasih (syukur), penyantun (hindun), rasa sepenanggungan (muwastt), kuat (quwwah)”.11

Fungsi khusus dari etika bisnis Islam sendiri terdiri dari beberapa komponen meliputi :12

a. Etika bisnis berupaya mencari cara untuk menyelaraskan dan menyerasikan berbagai kepentingan dalam dunia bisnis.

b. Etika bisnis Islam juga memiliki peran untuk senantiasa melakukan perubahan kesadaran bagi masyarakat tentang bisnis, terutama bisnis Islami. Dan caranya biasanya dengan memberikan suatu pemahaman serta cara pandang baru tentang bisnis dengan menggunakan landasan nilai-nilai

10 Ibid, 7.

11 Nandang ihwanudin, Beti Rahuayu Nurbaeti, Hendro Kasmanto, dkk, Etika Bisnis Dalam Islam Teori dan Aplikasi, (Bandung: Widina Bakti Persada Bandung, Juni 2022), 145

12 Ibid

(38)

moralitas dan spiritualitas, yang kemudian terangkum dalam suatu bentuk bernama etika bisnis.

c. Etika bisnis terutama etika bisnis Islami juga bisa berperan memberikan satu solusi terhadap berbagai persoalan bisnis modern ini yang kian jauh dari nilai-nilai etika. Dalam arti bisnis yang beretika harus benar-benar merujuk pada sumber utamanya yaitu Al-qur’an dan hadis.13

4. Dasar Hukum Etika Bisnis Islam a. Surat an-Nisa:29

ا ْٰٓوُلُكْأَت َلَ ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ْنَع ًة َراَجِت َن ْوُكَت ْنَا ٰٓ َّلَِا ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َوْمَا

اًمْي ِح َر ْمُكِب َناَك َ هاللّٰ َّنِا ۗ ْمُكَسُفْنَا ا ْٰٓوُلُتْقَت َلَ َو ۗ ْمُكْنِ م ٍضا َرَت

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang. Berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu.

dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS.an-Nisa:29)14

b. Surat al-Baqarah: 42

َّقَحْلا اوُسِبْلَت َلَ َو َو َّقَحْلا اوُمُتْكَت َو ِلِطاَبْلاِب

َن ْوُمَلْعَت ْمُتْنَا

Artinya: “dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (QS. al-Baqarah:42)15

B. Prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam

13 Iwan aprianto dkk, Etika dan Konsep Manajemen Bisnis Islam, (Sleman: Penerbit Deepublish grup penerbitan CV. Budi Utama, 2020), 8

14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an, .an-Nisa:29

15 Departemen Agama RI, Al-Qur’an, al-Baqarah:42

(39)

1. Kesatuan (Unity)

Ada tiga dasar yang menjadi prinsip sistem ekonomi syari’ah dalam Islam, yaitu:16

a. Tauhid. Prinsip ini merefleksikan bahwa penguasa dan pemilik tunggal atas jagad raya ini adalah Allah SWT.

b. Khilafah. Prinsip ini mempresentasikan bahwa manusia adalah khalifah atau wakil Allah di muka bumi ini dengan dianugerahi seperangkat potensi spiritual dan mental serta kelengkapan sumberdaya materi yang dapat digunakan untuk hidup dalam rangka menyebarkan misi hidupnya

c. ‘adalah. ‘adalah merupakan bagian yang integral dengan tujuan syariah (maqasid al-Syariah). Konsekuensi dari prinsip Khilafah dan ‘adalah menuntut bahwa semua sumber daya yang merupakan amanah dari Allah harus digunakan untuk merefleksikan tujuan syariah antara lain yaitu;

pemenuhan kebutuhan (need fullfillment), menghargai sumber pendapatan (recpectable source of earning), distribusi pendapatan dan kesejahteraan yang merata (equitable distribution of income and wealth) serta stabilitas dan pertumbuhan (growth and stability).

Prinsip kesatuan atau ketauhidan adalah konsep tauhid yang memadukan seluruh aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Dari konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk

16 Nihayatul Masykuroh, Etika Bisnis Islam, (Banten: CV. Media Karya Kreatif, 2020), 96-97

(40)

kesatuan. Keterpaduan tersebut meciptakan suatu hubungan yang erat dalam sistem Islam, yakni hubungan antara etika dan bisnis, serta hubungan vertikal maupun horizontal. Sehingga akan timbul perasaan di diri manusia bahwa ia akan selalu direkam dalam setiap aktivitas kehidupannya. Dalam hal ini, konsep tauhid memiliki pengaruh paling dalam terhadap diri seorang muslim.17 2. Keseimbangan (Equilibrium)

Keseimbangan menggambarkan hubungan horizontal, yakni antar sesama manusia, maupun antar segala sesuatu yang berada di alam semesta. Dalam berkegiatan di dunia kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai.18 Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Maidah: 8 yang artinya: “Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah SWT, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.

Berlaku adillah karena adil lebih dekat dengan takwa”.19 3. Kehendak Bebas (Free Will)

Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis Islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya. Kecenderungan manusia untuk terus-menerus memenuhi

17 Ibid

18 Ibid

19 Departemen Agama RI, Al-Qur’an, al-Maidah:8

(41)

kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak, dan sedekah.20 4. Tanggungjawab (Responsibility)

Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya. Secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.21

5. Kebenaran : Kebajikan dan Kejujuran

Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran.

Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagai niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan. Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islami Islam sangat menjaga dan berlaku preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang melakukan transaksi, kerja sama atau perjanjian dalam bisnis.22

20 Ibid, Nihayatul Masykuroh..

21 Ibid

22 Ibid

(42)

C. Strategi Pemasaran 1. Pemasaran

Menurut American Marketing Association menurut Kotler dan Keller, pemasaran adalah fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada pelanggan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi. Menurut Fandy Tjiptono, pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak paling besar dengan lingkungan eksternal, padahal perusahaan hanya memiliki kendali yang terbatas pada lingkungan eksternal. Pemasaran bertujuan untuk menarik perhatian pembeli dan mengkonsumsi produk yang ditawarkan.23

Dalam pemasaran terdapat 10 tipe entitas yang dipasarkan, yakni:24

a. Barang, merupakan produk yang menjadi objek pemasaran. Produk dapat berupa voucher paket data, aksesoris handphone,dll.

b. Jasa, merupakan produk yang ditawarkan dalam produk abstrak seperti jasa servis handphone, laptop,dll.

c. Acara/kegiatan, ide bisnis juga dapat diperoleh dengan mengadakan event-event tertentu seperti event liga bola.

d. Pengalaman, adalah suatu kesan atau pengalaman pengalaman pertama yang akan tertanam di benak konsumen.

e. Orang

23 Muhammad Yusuf Saleh dan Miah Said, Konsep dan Strategi Pemasaran, (Makassar :CV. Sah Media, 2019), 01

24 Ibid

(43)

f. Tempat, suatu tempat yang memiliki daya tarik keindahan, unik, bernilai jual, pasti mendatangkan keuntungan.

g. Properti, adalah hak kepemilikan yang tak berwujud atas properti yang sebenarnya (real estate) maupun properti finansial (dalam bentuk saham dan obligasi).

h. Organisasi, ide bisnis dari kumpulan beberapa orang untuk menawarkan jasa sehingga membentuk organisasi, baik profit maupu non-profit, besar maupun kecil.

i. Informasi. Era informasi yang pesat menjadikan bisnis yang berkaitan dengan informasi menjadi sangat menggiurkan.

j. Ide. Produk yang paling orisinil dan sangat aman dari penjiplakan adalah ide. Ide akan sangat bervariasi dari setiap orang.

2. Strategi pemasaran

Strategi pemasaran adalah upaya mendistribusikan suatu produk, berupa barang atau jasa, dengan menggunakan pola rencana dan taktik tertentu sehingga jumlah penjualan menjadi lebih tinggi. 25 Berikut merupakan konsep-konsep strategi pemasaran:26

a. Segmentasi Pasar

Setiap konsumen pasti memiliki kebutuhan dan kebiasaan yang berbeda. Perusahaan harus melakukan klasifikasi pasar yang sifatnya heterogen menjadi satuan-satuan pasar yang bersifat homogen.

Segmentasi pasar menurut beberapa karakter dari pelanggan secara

25 Marissa Grace H F, Ahmad Syarief Iskandar, Heri Erlangga, dkk, Strategi Pemasaran, Konsep, Teori dan Implementasi (Tangerang Selatan: Pascal Books), 9.

26 Ibid

(44)

umum digolongkan menjadi 4 yaitu: Geografis, Demografis, Psikografis, dan Tingkah Laku.

b. Market Positioning

Tidak ada perusahaan yang bisa menguasai seluruh pasar. Maka perusahaan harus memiliki pola atau strategi spesifik untuk mendapatkan posisi yang kuat dalam pasar, yakni memilih segmen yang paling menguntungkan.

c. Market Entry Strategy

Adalah strategi perusahaan untuk bisa masuk pada segmen pasar tertentu. Beberapa cara yang sering dilakukan adalah: a) Membeli Perusahaan Lain b) Internal Development c) Kerjasama Dengan Perusahaan Lain

d. Marketing Mix Strategy

Marketing Mix adalah kumpulan dari beberapa variabel yang telah digunakan perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen.

Beberapa variabel tersebut diantaranya; Product, Price, Place, and Promotion.

e. Timing Strategy

Pemilihan waktu dalam melakukan pemasaran juga sangat penting untuk diperhatikan. Perusahaan perlu melakukan berbagai persiapan yang baik di bidang produksi, dan menentukan waktu yang tepat untuk mendistribusikan produk ke pasar.

(45)

Salah satu model atau pendekatan yang dapat digunakan dalam menentukan strategi pemasaran yaitu STP (Segmenting, Targeting, da Positioning).27 Segmenting adalah kegiatan mengelompokkan konsumen yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang sama akan suatu produk.

Targeting adalah proses evaluasi segmen yang sekiranya kurang cocok dengan produk, sehingga langkah selanjutnya bisa lebih terarah.

Positioning adalah kegiatan memposisikan produk kedalam benak konsumen, sehingga memiliki pembeda dengan kompetitor.28

Secara umum strategi pemasaran bertujuan:29

a. Untuk meningkatkan kualitas koordinasi antar individu dalam tim pemasaran

b. Sebagai alat ukur hasil pemasaran berdasarkan standar prestasi yang telah ditentukan. Dalam artian ketika target penjualan sebesar 100 unit per bulan, tercapai atau tidak tercapainya target tersebut tergantung strategi yang diterapkan oleh perusahaan.

c. Sebagai dasar logis dalam mengambil keputusan pemasaran. Dimana sebelum mengambil sebuah keputusan pemasaran, sangat penting untuk merencanakan strategi pemasaran yang tepat terhadap produk yang dipasarkan, sehingga pemasaran yang dijalankan lebih ter-arah.

d. Untuk meningkatkan kemampuan dalam beradaptasi bila terjadi perubahan dalam pemasaran.

27 Huda Maulana dan Soepatini, Segmenting, Targeting, Positioning, (Surakarta:

Universitas Muhammadiyah Press, 2021), 4-5

28 Ibid

29 Ibid, 12

(46)

3. Bauran Pemasaran (marketing mix)

Menurut Kotler dan Amstrong, bauran pemasaran adalah alat pemasaran yang baik yaitu terdiri dari produk, harga, promosi, distribusi, lalu dikombinasikan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dari target pasar.30 Menurut Alma Marketing mix merupakan strategi mencampur kegiatan-kegiatan marketing, agar dicari kombinasi maksimal sehingga mendapatkan hasil yang paling memuaskan.31 Bauran pemasaran (marketing mix) adalah variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan, yang terdiri dari: produk, harga, distribusi, dan promosi. Marketing mix merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan secara terpadu. Artinya, dilakukan secara bersamaan diantara variabel-variabel yang ada dalam marketing mix itu sendiri. Elemen-elemen dalam bauran pemasaran diantaranya:32

a. Produk (product)

Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada konsumen untuk dapat dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi, sehingga dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

b. Harga (price)

Harga merupakan sejumlah uang yang diperlukan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang maupun jasa beserta

30 Philip Kotler dan Gary Amstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran, Edisi Ke-12, (Jakarta:

Erlangga, 2006), 60

31 Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, (Bandung: Alfabeta,2013), 5

32 Ibid, Philip Kotler dan Gary Amstrong..

(47)

pelayanannya. Terdapat beberapa strategi harga yang dapat digunakan pengusaha untuk mencapai target pasar yang diinginkan, yakni:33

1) Skin the cream pricing (Penetapan harga penyaringan)

Penetapan harga penyaringan yakni dilakukan dengan menetapkan harga setinggi-tingginya. Hal ini bertujuan untuk menutupi biaya penelitian, pengembangan, dan promosi. Harga yang tinggi dapat memberikan laba yang tinggi pula.

2) Penetration pricing (penetapan harga penetrasi)

Penetapan harga penetrasi yakni dengan menetapkan harga serendah-rendahnya untuk mencapai pasar-pasar masal secara cepat. Strategi ini bertujuan untuk mencapai volume penjualan yang sebesar-besarnya dalam waktu yang relatif singkat.

c. Ditribusi (place)

Penempatan atau distribusi merupakan bagian yang penting untuk menyalurkan produk/barang ke pasar. Saluran distribusi adalah saluran-saluran atau lembaga-lembaga yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang kepada konsumen.

Mata rantai distribusi menurut bentuknya dibagi menjadi 2, yaitu:34

1) Saluran distribusi langsung (direct channel of distribution)

Merupakan penyaluran barang/jasa dari produsen ke konsumen tanpa perantara.

33 Erina Alimin, Eddy, Diana Afriani dkk, Manajemen Pemasaran (Kajian Pengantar di Era Bisnis Modern), (Nusa Tenggara Barat: Seval Literindo Kreasi, 2022) 69

34 Ibid,70

(48)

2) Saluran distribusi tidak langsung (indirect channel of distribution) Merupakan penyalurang barang/jasa yang menggunakan jasa perantara dan agen untuk menyalurkan barang/jasa kepada para konsumen.

d. Promosi (promotion)

Promosi adalah suatu usaha perusahaan untuk memengaruhi dengan membujuk para konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkan.promosi merupakan salahsatu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Tujuan utama promosi adalah menginformasikan, memengaruhi, dan membujuk serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya.

Kotler dan Armstrong menyatakan setidaknya terdapat lima bauran promosi (promotion mix) dalam promosi, diantaranya promosi penjualan, penjualan langsung (direct marketing), personal selling, publisitas, dan periklanan.35

D. Pemasaran Syariah

Pemasaran syariah sendiri menurut definisi adalah adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Pemasaran Syariah menurut Kartajaya dan Sula merupakan sebuah disiplin bisnis strategis yang memandu sebuah proses penciptaan, penawaran, dan perubahan nilai dari

35 Ibid, Philip Kotler dan Gary Amstrong

Gambar

Gambar 3.1 Lokasi Counter Asia Phone Beduri Ponorogo ....................................

Referensi

Dokumen terkait

Berbicara tentang bisnis, Kohlbeng mengatakan bahwa prinsip-prinsip etika di dalam bisnis dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut :

Pada hasil pengolahan data pada tabel 4.14 menunjukkan bahwa variabel bauran pemasaran syariah dan etika bisnis Islam berpengaruh sebesar 69,58% terhadap loyalitas konsumen, dan

Menurut saya, etika bisnis bukan menjadi beban, justru dengan adanya etika bisnis dapat menjadi strategi bisnis karena di dalam berbisnis apabila kita menggunakan etika bisnis

Strategi pemasaran yang dilakukan oleh KSPPS El Amanah khususnya produk SimQura (Simpanan Qurban Amanah) yaitu dengan mengembangkan bauran pemasaran yang terdiri

Untuk membangun kultur yang sehat dalam bisnis maka dalam etika bisnis Islam terdapat beberapa prinsip diantaranya adalah tentang Barometer Ketaqwaan Seseorang dan

Penulis juga ingin menganalisis bagaimana strategi penyelesaian pembiayaan bermasalah mikro yang ada di BSM KCP Bantul sesuai dengan prinsip etika bisnis Islam, karena pada

Penelitian menenai Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Etika Bisnis Dalam Strategi Pemasaran Pada Iklan PT Unilever Lifebuoy Di Desa Bitobe Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur

Makalah tentang Etika Bisnis Islam yang membahas prinsip dan aspek moral dalam dunia bisnis sesuai syariat Islam, disusun untuk tugas mata kuliah Ekonomi dan Bisnis