• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis hukum putusan hakim perkara cerai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis hukum putusan hakim perkara cerai"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Dapat dijadikan bahan informasi bagi klien yang ingin mengetahui lebih jauh tentang asas nibes in idem dan asas kontra legem. Menggali pengetahuan tentang kedudukan putusan pengadilan dalam peraturan perundang-undangan (Udnag Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama) dan Asas Nebis In Idem.

Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkara talak talak sebagaimana tertuang dalam Putusan Nomor 1092/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn terjadi pertengkaran antara suami istri yang tidak dapat diperbaiki lagi (shiqaq), oleh karena itu memberikan putusan cerai kepada Majelis Hakim. Pertengkaran yang tidak dapat didamaikan ini menyebabkan hakim mengabulkan permohonan pemohon dengan memutus talak talak.2 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian terdahulu menganalisis putusan hakim mengenai talak talak hanya berdasarkan kompilasi peraturan perundang-undangan Islam, sedangkan penelitian ini mengkaji analisis putusan hakim mengenai perceraian ditinjau dari sudut pandang Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 dan Hukum Islam. Kesamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama mengkaji putusan hakim Pengadilan Agama.

3Abdul Aziz, dkk., “Analisis Putusan Hakim Pengadilan Agama Kelas 1 A Pontianak (Studi Kasus Isbat Pernikahan Nomor 115/Pdt.P/2019/PA.Ptk)”, Jurnal Al-Usroh, Vol. Kemudian jika dilihat dari proses hukum positif dalam proses putusan pengadilan, keduanya sudah sesuai dengan hukum yang berlaku.6 Perbedaan penelitian ini.

Metode Penelitian

Pendekatan kasus merupakan pendekatan yang melakukan penelitian terhadap dalil-dalil hukum yang digunakan hakim dalam mengolah peristiwa hukum untuk suatu putusan. Pendekatan perundang-undangan merupakan pendekatan yang dilakukan dengan menelaah seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang diteliti.9 Maka yang diharapkan adalah pendekatan analitis, yaitu pendekatan yang memusatkan perhatian pada makna istilah-istilah hukum yang terdapat dalam undang-undang, oleh penulis untuk memperoleh pemahaman atau penafsiran baru terhadap istilah-istilah hukum dan menguji penerapan praktisnya dengan menganalisis keputusan-keputusan hukum.10. Sumber hukum primer yaitu sumber hukum yang terdiri dari ketentuan peraturan perundang-undangan antara lain: Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama dan Keputusan Hakim Nomor 1098/Pdt.G/2021/PA.Bn.

Sumber hukum sekunder adalah buku-buku hukum, antara lain buku hukum, tesis dan disertasi, serta jurnal hukum. Sumber hukum tersier adalah bahan-bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap data primer dan data sekunder12 yaitu: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain.

Sistematika Penulisan

Teori Putusan Hakim

  • Jenis-Jenis Putusan dalam Perkara Perdata
  • Kekuatan Putusan

Putusan biasa adalah putusan pengadilan yang kedua belah pihak hadir pada saat putusan dibacakan. Perintah pemberhentian merupakan putusan yang diberikan oleh pengadilan karena penggugat tidak pernah hadir sendiri dalam persidangan. Putusan sela adalah putusan yang diambil oleh hakim dalam proses penyidikan untuk memudahkan penyidikan suatu perkara sebelum hakim mengambil putusan akhir.

Putusan akhir merupakan keputusan hakim sebagai tanggapan atas perselisihan para pihak untuk menutup perkara. Keputusan yang sudah bersifat final permanen (kracht van gewijde) tidak dapat diganggu gugat.

Teori Nebis In Idem

  • Akibat Hukum Asas Nebis In Idem
  • Syarat Nebis In Idem

Makna asas nebis in idem tertuang dalam ketentuan Pasal 1917 KUHPerdata yang menyatakan: “Kekuasaan putusan hakim yang telah mendapat kekuasaan mutlak tidak lebih luas dari pada sekedar keluarnya putusan. Asas Nebis In Idem baru akan berlaku apabila praktek di Pengadilan sudah memasuki tahap pemeriksaan pokok perkara. Perkara yang disebut Nebis In Idem tidak sekedar mempunyai obyek dan pokok perkara yang sama, terlebih lagi gugatan yang telah diputus sebelumnya dan gugatan baru juga harus mempunyai persamaan dan berada dalam hubungan hukum yang sama.

Baik subjek hukum yang bersengketa bertindak sendiri atau melimpahkan wewenangnya kepada kuasa hukum yang sama dengan perkara yang diputus pada perkara sebelumnya, asas Nebis In Idem secara normatif tetap ditaati. 29 Hery Shitera, Menghidupkan Kembali Pasal yang Dibatalkan, Menghindari Risiko Nebis In Idem dalam Persepsi Uji Materiil di Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: 2013), hal.

Teori Asas Contra Legem

Undang-undang nomor 50 tahun 2009 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang peradilan agama disahkan oleh Presiden Dr. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3316) terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung. Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4958);56. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4611);

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama Pasal 60 ayat (1).

Teori Aspek Hukum

  • Teori Yuridis Hukum
  • Teori Filosofis Hukum
  • Teori Sosiologi Hukum

Teori Penemuan Hukum

  • Pengertian Penemuan Hukum
  • Dasar Hukum Positif penemuan Hukum
  • Teori Penemuan Hukum Islam („Illat)
  • Sebab Penemuan Hukum
  • Metode Penemuan Hukum

Dari pengertian penemuan hukum di atas dapat disimpulkan bahwa penemuan hukum adalah proses pembentukan hukum oleh hakim, Hakim harus melihat apakah undang-undang tersebut tidak memberikan peraturan yang jelas atau tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Jika ini terjadi, hakim bisa. Landasan hukum positif bagi penemuan hukum, pada pasal 1 ayat (1) undang-undang nomor 48 tahun 2009 tentang Kehakiman disebutkan bahwa “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila”. demi terselenggaranya supremasi hukum Negara Republik Indonesia.” 42. Illat Secara linguistik (etimologis) kata 'ilat merupakan salah satu bentuk masdar yang berasal dari akar kata ةَّلِع-لعي-لع atau لتعا yang berarti sakit atau penyakit 44 Dalam Dalam ilmu hadis, 'ilat dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan kecacatan pada sebuah hadis.

Imam al-Ghazali misalnya, dalam kitab al-mustasfa menyebut ‘hukum illat dengan manat al-hukm (ِمْكُحْلا ُطاَنَم) yaitu pembeda antara hukum. Pandangan Al-Ghazali ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh para pengikut Imam Malik yang juga mendefinisikan ‘hukum illat’. Secara filosofis 'illat berarti causa atau sebab, yaitu sesuatu yang dapat mengubah sesuatu yang lain, yang dapat menempatinya; perubahan itu terjadi dengan sendirinya.

Oleh karena itu, ‘illat diartikan sebagai sesuatu yang membuat orang lain bergantung padanya atau yang menyebabkan adanya sesuatu yang lain. Pertama, melalui pernyataan naqli yang disebut dengan ‘illat manaqulah, ‘illat ini dapat diketahui berdasarkan keterangan Al-Qur’an dan Sunnah, namun untuk mengetahuinya diperlukan ilmu tambahan seperti ilmu bahasa Arab, ilmu tafsir dan ilmu hadis. Oleh karena itu, cara mengetahuinya tidak hanya memerlukan ilmu logika saja, tetapi juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam maupun ilmu sosial.45 Dapat dikatakan bahwa peranan metode ilmiah dalam upaya mencari tahu adanya penemuan dan pengujian yang sah . hukum sangat penting bahkan penentuan kualitas kebenaran yang ada.dan apakah suatu „illat.46.

Hukum, seperti halnya aturan umum, dimaksudkan untuk melindungi kepentingan manusia, sehingga harus dilaksanakan atau ditegakkan. Oleh karena itu, setiap undang-undang selalu disertai penjelasannya, yang dimuat dalam Addendum Statstidende 47. Usaha manusia begitu luas, tidak terhitung banyaknya baik jumlah maupun jenisnya, sehingga mustahil untuk mencakupnya secara lengkap dan jelas dalam satu ketentuan hukum. Manusia sebagai ciptaan Tuhan mempunyai kemampuan yang terbatas, sehingga hukum-hukum yang dibuatnya tidak lengkap dan tidak sempurna untuk mencakup seluruh aktivitas kehidupannya.

UNDANG-UNDANG NO 50 TAHUN 2009 DAN DESKRIPSI

Sejarah Lahirnya Undang-Undang No 50 Tahun 2009

Perubahan Undang-Undang No 50 Tahun 2009

Bentuk, Isi, dan Susunan Putusan

Deskripsi Putusan Perkara Cerai Talak Nomor

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama diterbitkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar di Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2009. Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 159. Penjelasan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 159. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5078 .

Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk undang-undang tentang perubahan kedua atas undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3400) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan. Bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama merupakan salah satu undang-undang yang berlaku.

Baris selanjutnya ditulis dengan huruf kapital dan berbunyi BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM untuk memenuhi petunjuk Pasal 57(2) UU No. 7 tahun. Namun upaya tersebut tidak berhasil karena masing-masing pihak menyatakan tetap pada prinsipnya, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 82(1) dan (4) UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Kedua dan Terakhir Nomor. 50 dari tahun 2009 Jo. Mengingat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, majelis pengadilan menilai alasan permohonan cerai penggugat dari tergugat berdasarkan Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 juncto Pasal 116 huruf f Kumpulan Hukum Islam, dianggap terpenuhi sesuai dengan Pasal 39 ayat (1) dan (2) UU No. 1 Tahun 1974 Jo.

Menimbang bahwa seluruh alat bukti yang diajukan Penggugat Balik (T1 sd T5) merupakan fotokopi informasi elektronik tercetak dan/atau dokumen elektronik sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, fotokopinya telah diperiksa sesuai aslinya dan ternyata sesuai, mempunyai materai cukup dan telah diperiksa di Kantor Pos, sehingga sesuai dengan maksud Pasal 3 ayat 1 huruf b dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai. Jika merujuk pada Pasal 70 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, perkara perceraian bernomor 1098/Pdt.G/2021/PA. Bn dalam perspektif Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama tidak sesuai dengan Pasal 70 ayat (6) dan tidak sejalan dengan keputusan yang diambil hakim dalam musyawarah.

Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 50 Tahun 2009 sehubungan dengan perubahan kedua atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Pasal 60 ayat (1), bahwa hakim harus bertanggung jawab atas putusan dan keputusan yang diambilnya. Pemohon cerai dari tergugat berdasarkan huruf f Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 juncto huruf f Pasal 116 Kumpulan Hukum Islam dianggap terpenuhi sesuai dengan ayat (1) Pasal 39 dan (2) UU No. 1 Tahun 1974 Jo. Posisi putusan dalam hal no. 1098/Pdt.G/2021/PA.Bn dalam perspektif UU No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama secara tekstual bertentangan dengan Pasal 70 ayat (6) UU No. 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama. Pengadilan.

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHper).

Referensi

Dokumen terkait

ABSTRAK Sinta Afriyanti 4011611070 Penerapan Kompilasi Hukum Islam Dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Sebagai contoh Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, jumlah hitungan masa ‘iddah yaitu apabila perkawinan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menjelaskan syarat- syarat yang wajib dipenuhi

Salah satu diantara penyebab putusnya perkawinan adalah perceraian. Dalam membicarakan masalah perceraian, meskipun hal itu sudah ada aturannya dalam Undang-undang

Tujuan Undang-Undang No 16 Tahun 2019 atas perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu menaikkan usia perkawinan bagi perempuan menjadi

Usia untuk melakukan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang dalam Pasal 7 ayat 1, diatur

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 186, Tambahan Lembaran

Page 121 hukum dari perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bahwa di sana dijelaskan baik bapak atau ibu berkewajiban