• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Identifikasi Risiko pada Pergudangan Yamaha Mustika Group

N/A
N/A
Cloudy Sky

Academic year: 2025

Membagikan "Analisis Identifikasi Risiko pada Pergudangan Yamaha Mustika Group"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS IDENTIFIKASI RISIKO PADA UNIT PERGUDANGAN YAMAHA MUSTIKA GROUP

Disusun Oleh: Kelompok F Anggota Kelompok:

Frisca Indah SafitrI (2305421046) Faiz Aditya Purnomo (2305421108) Jasmalika Adira (2305421051) Sri Mulyati (2305421038)

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS TERAPAN JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2025

(2)

i KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah Ta'ala, yang atas rahmat-Nya dan karunianya saya telah diberi kelancaran dalam mengerjakan penulisan makalah ini yang berjudul "Analisis Identifikasi Risiko Pada Pergudangan Yamaha Mustika Group" sehingga dapat menyelesaikan secara tepat waktu.

Adapun tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Ibu Imas Chandra Pratiwi, M.S.M selaku dosen pada Mata Kuliah Manajemen Risiko. Tidak lupa kami berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah mensupport saya serta saya bersyukur atas semua referensi yang saya gunakan.

Mungkin dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan yang saya tidak ketahui atau saya tidak sadari dengan itu kami memohon untuk kritik serta saran kepada pembaca agar saya bisa memperbaiki makalah ini. Akhir kata saya berharap makalah ini menjadi sumber pelajaran bagi kita semua tentang Analisis Identifikasi Risiko Pada Pergudangan Yamaha Mustika Group kepada para pembaca.

Depok, 1 Juni 2025

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penulisan ... 1

BAB II ... 2

PEMBAHASAN ... 2

2.1 Company Profile Yamaha Mustika Group ... 2

2.2 Identifikasi Resiko... 2

2.3 Klasifikasi Resiko ... 6

2.4 Penilaian Resiko ... 9

2.5 Mitigasi Risiko ... 18

BAB III ... 21

KESIMPULAN ... 21

3.1 Kesimpulan... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 22

LAMPIRAN... 23

(4)

iii DAFTAR TABEL

Tabel 1 Variabel beserta tingkat risikonya ... 12

Tabel 2 Matriks Frekuensi Likelihood ... 14

Tabel 3 Matriks Frekuensi Impact ... 16

Tabel 4 Perhitungan Likelihood dan Impact ... 17

(5)

iv DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara ... 23

Lampiran 2. Dokumentasi Gudang ... 23

Lampiran 3. Dokumentasi Gudang ... 24

Lampiran 4. Dokumentasi Gudang Dealer Yamaha ... 24

(6)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pergudangan merupakan salah satu komponen penting dalam rantai pasok yang berperan sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum barang disalurkan ke pihak berikutnya, baik itu lini produksi maupun konsumen akhir. Fungsi gudang tidak hanya terbatas pada penyimpanan barang, tetapi juga melibatkan proses penerimaan, penataan, pengambilan, dan pengiriman barang secara efisien. Sistem pergudangan yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan kecepatan layanan, mengurangi biaya operasional, dan memastikan ketersediaan barang sesuai kebutuhan pasar.

Namun, dalam operasional gudang, risiko-risiko dapat muncul dari berbagai aspek, seperti kesalahan pencatatan stok, kerusakan barang, keterlambatan pengiriman, hingga risiko keselamatan kerja. Risiko-risiko ini, apabila tidak dikelola secara sistematis, dapat mengganggu kelancaran proses logistik dan berdampak pada reputasi serta profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, identifikasi dan analisis risiko menjadi langkah krusial dalam sistem manajemen gudang. Melalui analisis tersebut, perusahaan dapat menentukan langkah mitigasi yang tepat untuk meminimalkan dampak dan kemungkinan terjadinya risiko, sekaligus meningkatkan resiliensi operasional.

Dalam konteks ini, Yamaha Mustika Group, sebagai salah satu dealer resmi sepeda motor Yamaha yang juga menyediakan layanan purna jual termasuk suku cadang, memiliki sistem pergudangan sparepart yang menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana sistem pergudangan di Yamaha Mustika dikelola, serta bagaimana potensi risiko dapat diidentifikasi dan diminimalkan melalui strategi manajemen risiko yang tepat.

1.2 Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka tujuan penulisan penulis atas makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi sistem pergudangan gudang Yamaha Mustika Group beserta resikonya

2. Mengklasifikasikan dan menilai resiko yang ditemukan pada Yamaha Mustika Group 3. Membuat dan merekomendasikan strategi mitigasi resiko yang sesuai dengan resiko

yang dihadapi Yamaha Mustika Group.

(7)

2 BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Company Profile Yamaha Mustika Group

Yamaha Mustika Group merupakan salah satu dealer resmi sepeda motor Yamaha di Jakarta Timur, yang beroperasi di bawah naungan PT. Bumi Sumber Mustika. Sebagai dealer dengan layanan 4S (Sales, Service, Sparepart, dan Support Special Painting &

Modification), Yamaha Mustika Group tidak hanya menjual sepeda motor, tetapi juga menyediakan layanan purna jual yang mencakup penyediaan suku cadang asli Yamaha.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan pelanggan akan ketersediaan sparepart, Yamaha Mustika Group memiliki gudang sparepart yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan distribusi suku cadang. Manajemen pergudangan yang efektif dan efisien menjadi kunci dalam memastikan ketersediaan sparepart yang tepat waktu dan sesuai kebutuhan pelanggan.

Adapaun dengan menerapkan praktik terbaik dalam manajemen pergudangan, Yamaha Mustika Group dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko kesalahan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

2.2 Identifikasi Resiko

Menurut Chuazini (2020), identifikasi risiko merupakan sebuah proses yang dilakukan secara sistematis dan terus-menerus untuk menemukan potensi kerugian yang dapat mengancam perusahaan, lembaga, maupun aktivitas yang sedang atau akan dijalankan.

Proses identifikasi risiko ini diawali dengan memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan risiko, yaitu tingkat ketidakpastian terhadap tercapainya suatu tujuan dalam periode waktu tertentu. Selanjutnya, proses ini dilanjutkan dengan mengenali berbagai jenis risiko yang mungkin dihadapi oleh pelaku bisnis, termasuk mendefinisikan risiko- risiko yang berpotensi mempengaruhi proyek serta mendokumentasikan karakteristik dari masing-masing risiko tersebut.

Menurut Darmawi (2008), langkah awal dalam manajemen risiko adalah melakukan identifikasi terhadap berbagai potensi risiko. Tahap ini merupakan proses yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk mengenali kemungkinan munculnya risiko yang dapat berdampak pada aset, kewajiban, maupun sumber daya manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan. Proses identifikasi ini dianggap sebagai salah satu yang paling krusial, karena seluruh potensi risiko yang ada atau mungkin terjadi pada sebuah kegiatan atau proyek harus dikenali secara menyeluruh.

(8)

3 Lebih lanjut, Darmawi (2008) menekankan bahwa proses identifikasi risiko perlu dilakukan dengan cermat dan menyeluruh agar tidak ada risiko penting yang terabaikan.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa metode yang umum digunakan untuk mengidentifikasi risiko, di antaranya:

1. Sesi brainstorming 2. Penyebaran kuesioner

3. Perbandingan dengan praktik industri sejenis (benchmarking) 4. Analisis skenario

5. Lokakarya penilaian risiko (risk assessment workshop) 6. Incident investigation

7. Auditing 8. Inspection 9. Checklist

10. HAZOP (Hazard and Operability Studies)

Adapun cara-cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata dalam proyek yaitu melalui metode observasi langsung, wawancara dengan petugas gudang, serta pengumpulan data mengenai sistem kerja yang diterapkan di unit pergudangan. Dalam operasional pergudangan Yamaha Mustika Group, terdapat sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi efektivitas, efisiensi, dan kelancaran proses distribusi serta penyimpanan barang. Risiko- risiko berikut adalah beberapa risiko utama yang berhasil diidentifikasi di unit pergudangan:

1. Risiko Operasional

Risiko operasional menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan gudang Yamaha Mustika, terutama karena masih digunakannya sistem pencatatan manual. Hal ini dapat memicu kesalahan pencatatan stok (stock inaccuracy), yang mengakibatkan ketidaksesuaian antara jumlah stok secara fisik dan data di administrasi. Penggunaan sistem manual meningkatkan potensi ketidaktepatan dalam pengelolaan persediaan barang.

Selain itu, tidak digunakannya sistem barcode atau Warehouse Management System (WMS) juga membuka peluang terjadinya kesalahan pengambilan barang (picking errors). Menurut Mahomed Sales and Warehousing, tanpa adanya sistem terintegrasi, proses pengambilan barang secara manual sangat rentan terhadap kesalahan. Hal ini tidak hanya menghambat operasional, tetapi juga dapat menurunkan tingkat kepuasan pelanggan. Keterlambatan pengiriman juga menjadi

(9)

4 risiko operasional lainnya, yang dipicu oleh faktor eksternal seperti kemacetan lalu lintas serta kurangnya koordinasi yang efisien antara cabang dan pusat distribusi.

Selain itu, kekurangan stok (stockout) pun kerap terjadi karena tidak adanya sistem pemantauan stok secara real-time. Kondisi ini menyebabkan beberapa item penting tidak tersedia tepat waktu, dan akhirnya memperlambat proses layanan kepada konsumen.

2. Risiko Keamanan

Salah satu risiko penting yang dihadapi unit pergudangan di Yamaha Mustika Group adalah risiko keamanan barang atau shrinkage, yakni selisih antara jumlah fisik barang yang tersedia dengan jumlah yang tercatat dalam administrasi. Shrinkage dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pencurian internal maupun eksternal, kesalahan pencatatan, kerusakan yang tidak dilaporkan, atau kelemahan dalam sistem pengawasan barang.

Dalam wawancara kelompok kami bersama pihak pengelola gudang, diketahui bahwa sistem keamanan gudang saat ini belum memenuhi standar ideal dalam manajemen logistik. Keamanan gudang sepenuhnya bergantung pada petugas gudang yang tinggal di mess, tanpa dukungan dari personel security professional.

Ketergantungan penuh pada staf internal membuat potensi kehilangan barang baik karena kelalaian maupun unsur kesengajaan menjadi tinggi. Ketiadaan petugas keamanan khusus ini menjadi celah risiko signifikan, karena tidak ada pemantauan yang independen terhadap aktivitas keluar-masuk barang, terutama di luar jam kerja.

Risiko ini semakin diperbesar oleh fakta bahwa sistem pergudangan masih bersifat manual, tanpa penerapan barcode, atau sistem Warehouse Management System (WMS). Artinya, proses penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang dilakukan dengan pengawasan internal yang minim, dan rentan terhadap kesalahan pencatatan maupun potensi penyalahgunaan.

Selain itu, tidak adanya prosedur audit stok harian atau sistem pelaporan berbasis digital menyebabkan kemungkinan besar barang hilang atau rusak tidak langsung terdeteksi. Dalam konteks distribusi barang bernilai tinggi seperti suku cadang dan aki motor, ketidaktertiban administratif dan lemahnya sistem pengamanan fisik dapat berujung pada kerugian finansial yang signifikan.

3. Risiko Kualitas Produk

Kualitas produk merupakan faktor krusial dalam menjaga kepuasan pelanggan dan reputasi dealer Yamaha Mustika. Dalam pengelolaan pergudangan, gudang

(10)

5 Yamaha Mustika telah menerapkan sistem FIFO (First In First Out) untuk memastikan barang yang lebih dulu masuk akan dikeluarkan terlebih dahulu. Penerapan FIFO ini sangat membantu dalam meminimalkan risiko penumpukan barang lama yang berpotensi kadaluarsa, terutama untuk produk seperti pelumas, aki, dan sparepart yang memiliki umur simpan terbatas.

Meski demikian, risiko kualitas produk tetap ada, terutama ketika gudang menerima barang dalam kondisi rusak atau cacat langsung dari pusat distribusi.

Barang-barang tersebut harus segera dikembalikan melalui prosedur klaim yang memerlukan dokumentasi lengkap, seperti surat klaim dan foto barang. Penanganan yang terlambat terhadap barang rusak ini dapat mengganggu kelancaran proses distribusi dan berpotensi merusak reputasi bengkel.

Oleh karena itu, selain penerapan FIFO, pengelolaan kualitas produk juga menuntut prosedur retur yang cepat dan sistematis agar barang rusak tidak menghambat operasional dan pelayanan kepada pelanggan.

4. Risiko Sistem dan Teknologi

Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pergudangan Yamaha Mustika Group adalah ketergantungan pada proses manual dalam seluruh sistem pengelolaan barang. Berdasarkan hasil wawancara, pencatatan stok dan proses administrasi masih dilakukan secara manual tanpa dukungan teknologi seperti Warehouse Management System (WMS) atau sistem barcode. Kondisi ini menyebabkan beberapa risiko signifikan, antara lain:

• Proses pengelolaan barang menjadi lebih lambat dan kurang efisien, karena pencatatan manual membutuhkan waktu lebih lama dan rentan terhadap kesalahan input data.

• Tingginya risiko human error, seperti kesalahan pencatatan stok, kesalahan pengambilan barang (picking errors), dan ketidaksesuaian antara stok fisik dengan data administrasi.

• Sulit melakukan audit dan pemantauan stok secara real-time, sehingga potensi kehilangan barang atau ketidaktepatan stok sulit terdeteksi dan diatasi dengan cepat.

• Kurangnya transparansi dan koordinasi antar bagian, yang dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman dan gangguan dalam rantai pasok.

(11)

6 Menurut Mahomed Sales and Warehousing, otomatisasi gudang melalui penggunaan teknologi seperti WMS dan barcode merupakan aspek krusial dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi operasional logistik modern. Sistem ini memungkinkan pencatatan dan pelacakan barang secara otomatis, mempercepat proses administrasi, serta memudahkan audit dan pelaporan secara real-time.

Dengan demikian, untuk meningkatkan kinerja pergudangan dan meminimalkan risiko yang ada, Yamaha Mustika Group perlu mempertimbangkan implementasi teknologi digital yang terintegrasi, seperti WMS dan sistem barcode. Hal ini akan membantu mempercepat proses pengelolaan stok, meningkatkan akurasi data, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan cepat.

2.3 Klasifikasi Resiko

Dalam konteks manajemen risiko, klasifikasi risiko adalah langkah awal yang penting untuk memahami dan mengelompokkan risiko berdasarkan karakteristiknya. Klasifikasi terhadap risiko bertujuan untuk meningkatkan perhatian terhadap suatu risiko yang mungkin terjadi dan menentukan bagaimana strategi dari risiko tersebut. Klasifikasi ini membantu organisasi dalam mengidentifikasi potensi ancaman, menentukan tingkat keparahan dampaknya, serta menetapkan langkah-langkah penanganan yang sesuai dan terstruktur.

Menurut Widarjono (2015), risiko dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga kategori utama, yaitu: sifat risiko, dampak risiko (konsekuensi), dan sumber risiko (internal maupun eksternal). Pembagian ini tidak hanya mempermudah proses identifikasi dan evaluasi risiko, tetapi juga menjadi dasar dalam proses mitigasi.

• Klasifikasi Berdasarkan Sifat Risiko

1. Risiko Murni: Risiko yang pasti membawa kerugian dan tidak memberikan keuntungan. Contohnya adalah bencana alam, pencurian, atau kecelakaan kerja.

2. Risiko Spekulatif: Risiko yang memiliki kemungkinan menghasilkan kerugian maupun keuntungan, seperti investasi dan perdagangan.

3. Risiko Fundamental: Risiko yang bersifat sistemik dan memengaruhi banyak pihak, seperti krisis ekonomi atau pandemi.

4. Risiko Khusus: Risiko yang bersifat individual dan hanya berdampak pada satu atau beberapa pihak, misalnya kecelakaan kerja pada individu tertentu.

5. Risiko Dinamis: Risiko yang muncul akibat perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan hukum.

(12)

7

• Klasifikasi Berdasarkan Konsekuensi (Dampak)

1. Unacceptable Risk: Risiko dengan dampak besar dan tidak dapat ditoleransi, sehingga harus dieliminasi atau dialihkan.

2. Undesirable Risk: Risiko yang tidak diinginkan namun masih dapat dikendalikan melalui mitigasi.

3. Acceptable Risk: Risiko yang dapat diterima karena dampaknya tergolong ringan dan dapat dikendalikan.

4. Negligible Risk: Risiko yang sangat kecil dampaknya dan dapat diabaikan.

• Klasifikasi Berdasarkan Sumber Risiko

1. Risiko Internal: Risiko yang berasal dari dalam organisasi, seperti kesalahan manusia, kerusakan sistem, atau kelemahan prosedur.

2. Risiko Eksternal: Risiko yang berasal dari luar organisasi, seperti perubahan kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan bencana alam.

Klasifikasi ini penting karena tidak semua risiko memerlukan penanganan yang sama.

Beberapa risiko dapat ditoleransi, sementara yang lainnya memerlukan perhatian khusus karena dapat mengganggu kelangsungan operasional perusahaan (ISO 31000:2018) Selain itu Klasifikasi risiko ini juga dapat menjadi landasan untuk menentukan prioritas penanganan serta strategi mitigasi agar dampak negatif dapat diminimalisir dan tujuan suatu perusahaan dapat tetap tercapai.

• Penerapan Klasifikasi Risiko Pada Gudang Yamaha Mustika 2

Pada gudang Yamaha Mustika 2 ini merupakan salah satu pusat distribusi yang sangat vital dalam rantai pasok perusahaan, sehingga pengelolaan risiko di area ini menjadi aspek krusial untuk menjaga kelancaran operasional dan keberlangsungan bisnis. Dalam proses identifikasi melalui Observasi yang telah dilakukan, ditemukan beberapa kendala yang berpotensi menimbulkan risiko signifikan terhadap proses pengelolaan stok dan keamanan barang di gudang Yamaha Mustika 2. Keterbatasan sistem pencatatan manual yang masih digunakan mengakibatkan berbagai kesalahan data serta keterlambatan dalam proses pengambilan barang. Selain itu, aspek keamanan fisik barang menjadi perhatian serius karena pengawasan gudang hanya dilakukan oleh staf yang tinggal pada mess Perusahaan yang ada di dalam gedung perusahaan tanpa adanya petugas keamanan khusus, sehingga potensi kehilangan barang meningkat. Lalu permasalahan lainnya, ketersediaan stok barang tertentu juga menjadi tantangan tersendiri. Contohnya, motor dengan model tertentu terkadang

(13)

8 tidak tersedia di Gudang Mustika 2 sehingga harus mengambil dari cabang lain, yang tentu berdampak pada waktu dan biaya distribusi. Kondisi-kondisi tersebut menggambarkan adanya risiko-risiko yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga operasional yang harus segera diidentifikasi dan dikelompokkan agar dapat ditangani secara tepat.

Berdasarkan hasil identifikasi risiko yang telah kami analisis, berikut adalah klasifikasi risiko yang berlaku di Gudang Mustika 2:

• Berdasarkan Sifat Risiko

1. Risiko murni: Ketiadaan sistem keamanan khusus di gudang yang hanya dijaga oleh staf mess meningkatkan potensi kehilangan barang.

2. Risiko dinamis: Penggunaan sistem pencatatan stok secara manual menimbulkan kesalahan data dan memperlambat proses pengambilan barang.

3. Risiko khusus: Ketidaktersediaan motor model tertentu di gudang yang menyebabkan pengambilan dari cabang lain.

• Berdasarkan Konsekuensi (Dampak)

1. Risiko yang tidak bisa diterima: Risiko kehilangan barang karena lemahnya pengamanan fisik.

2. Risiko yang tidak diinginkan: Kesalahan pencatatan stok yang mengganggu proses operasional gudang.

3. Risiko yang dapat diterima: Keterlambatan pengiriman akibat pengambilan stok dari cabang lain masih dapat ditoleransi.

• Berdasarkan Sumber Risiko

1. Risiko internal: Kesalahan pencatatan manual dan ketersediaan stok yang tidak merata.

2. Risiko eksternal: Potensi ancaman pencurian dari luar karena tidak adanya keamanan khusus.

Dengan adanya klasifikasi tersebut, pihak pengelola gudang bisa lebih mudah memahami jenis-jenis risiko yang sedang dihadapi dan mana yang paling perlu mendapat perhatian lebih dulu. Beberapa langkah sederhana seperti memperbaiki sistem pencatatan, menambah pengawasan keamanan, atau memperbaiki alur koordinasi dengan cabang lain bisa menjadi bahan pertimbangan untuk resiko permalahan yang ada pada yamaha Mustika 2 untuk mencegah hal-hal ini terulang lagi kedepannya.

(14)

9 2.4 Penilaian Resiko

Setelah berhasil melakukan klasifikasi risiko, langkah selanjutnya yang krusial adalah melakukan penilaian risiko. Penilaian risiko merupakan salah satu komponen fundamental dalam manajemen risiko yang bertujuan untuk mengukur dan memahami potensi risiko yang dapat memengaruhi tujuan suatu proyek, organisasi, atau sistem secara keseluruhan.

Penilaian resiko adalah proses yang mendalam untuk memahami seberapa serius atau signifikan risiko-risiko tersebut dan mengetahui seberapa besar kemungkinan risiko tersebut akan terjadi dan seberapa parah dampaknya jika itu terjadi. Proses ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis dan evaluatif, karena mencakup langkah-langkah sistematis yang bertujuan untuk mendeteksi, mengukur, dan memprioritaskan risiko berdasarkan tingkat urgensinya. Dalam konteks profesional maupun akademik, penilaian risiko menjadi alat bantu penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang rasional dan berbasis data. Adapun penilaian resiko memiliki 7 teknik yang beragam, diantara yaitu:

1. Distribusi Probabilitas

Dalam penilaian risiko kuantitatif, distribusi probabilitas menjadi alat yang esensial.

Metode ini menggambarkan kemungkinan terjadinya berbagai hasil dari suatu kejadian.

Secara matematis, probabilitas diukur dengan membandingkan jumlah kejadian spesifik yang diharapkan dengan total kemungkinan kejadian yang bisa terjadi. Nilai probabilitas ini selalu berkisar antara 0 dan 1, di mana 0 mengindikasikan kejadian yang mustahil terjadi dan 1 menunjukkan kejadian yang pasti akan terjadi (Hayes, 2023;

Frankenfield, 2023). Dalam praktik bisnis, penggunaan distribusi probabilitas memungkinkan manajer untuk memodelkan ketidakpastian, misalnya dalam memproyeksikan potensi keuntungan atau kerugian dari sebuah investasi berdasarkan berbagai skenario pasar. Hal ini krusial untuk memahami rentang hasil yang mungkin dan probabilitasnya, sehingga pengambilan keputusan terkait alokasi sumber daya menjadi lebih terinformasi.

2. Notional (Pendekatan Nilai Nosional)

Pendekatan notional dalam pengukuran risiko berfokus pada nilai eksposur atau nilai nominal dari objek yang rentan terhadap risiko (Chen, 2023). Metode ini sering ditemukan dalam penilaian risiko kredit atau instrumen keuangan derivatif. Sebagai contoh, jika sebuah bank menyalurkan pinjaman sebesar Rp 1 miliar, maka besarnya risiko kredit bank berdasarkan pendekatan nosional ini adalah Rp 1 miliar. Pendekatan ini memberikan estimasi awal yang cepat mengenai potensi kerugian maksimum jika terjadi peristiwa risiko yang mengancam nilai pokok pinjaman atau aset. Meski

(15)

10 terkesan sederhana, nilai nosional ini sering menjadi titik awal untuk analisis risiko yang lebih mendalam dan kompleks.

3. Sensitivitas

Analisis sensitivitas merupakan teknik penilaian risiko kuantitatif yang mengevaluasi bagaimana perubahan pada satu atau lebih variabel input dalam sebuah model dapat memengaruhi output model tersebut (Kenton, 2023b). Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi variabel-variabel yang paling signifikan dampaknya terhadap hasil akhir proyek atau keputusan bisnis. Dalam konteks proyek, hasil analisis sensitivitas sering divisualisasikan melalui diagram Tornado—sebuah grafik yang menunjukkan variabel tugas (seperti biaya, durasi, atau waktu mulai/selesai) mana yang memiliki pengaruh terbesar terhadap parameter proyek secara keseluruhan (ProjectManagement.com, n.d.). Dengan demikian, analisis ini membantu manajer proyek untuk memfokuskan upaya mitigasi risiko pada area yang paling kritis untuk keberhasilan proyek.

4.Volatilitas

Volatilitas mengacu pada seberapa besar fluktuasi harga suatu sekuritas atau indeks pasar dalam periode waktu tertentu (Kenton, 2023a). Semakin tinggi volatilitas suatu aset, semakin besar pula risiko yang melekat padanya. Secara sederhana, volatilitas adalah cerminan dari naik-turun harga yang signifikan dan cepat pada aset atau pasar keuangan, termasuk saham, mata uang, dan komoditas. Dalam manajemen portofolio investasi, volatilitas digunakan sebagai indikator utama risiko. Investor menggunakan informasi volatilitas untuk mengukur tingkat risiko yang mereka ambil dan menyesuaikan strategi investasi mereka, seperti diversifikasi, untuk mengelola paparan risiko secara lebih efektif.

5. Value at Risk (VaR)

Value at Risk (VaR) adalah metode pengukuran risiko kuantitatif yang bertujuan untuk mengestimasi kerugian finansial maksimum yang mungkin terjadi pada suatu portofolio atau investasi dalam periode waktu tertentu, dengan tingkat keyakinan (tingkat kepercayaan diri) yang spesifik (Hayes, 2024). Sebagai ilustrasi, jika sebuah investasi memiliki VaR 95% selama 1 hari sebesar Rp 100 juta, ini berarti ada probabilitas 5% bahwa kerugian akan melebihi Rp 100 juta dalam satu hari tersebut.

VaR merupakan alat yang sangat penting dalam manajemen risiko di sektor keuangan, digunakan oleh bank dan lembaga investasi untuk mengukur, melaporkan, dan

(16)

11 mengelola risiko pasar, kredit, serta operasional, sekaligus membantu dalam alokasi modal dan penetapan batas risiko.

6. Matriks Frekuensi dan Signifikansi Risiko

Matriks Frekuensi dan Signifikansi Risiko, yang juga dikenal sebagai matriks risiko, adalah alat kualitatif hingga semi-kuantitatif yang digunakan untuk mengategorikan dan memprioritaskan risiko berdasarkan dua dimensi utama: frekuensi (atau kemungkinan terjadinya kejadian merugikan) dan signifikansi (atau dampak/kerugian jika risiko terealisasi) (ASQ, n.d.; ISO 31000, 2018). Dengan memetakan risiko pada bagan dua dimensi, risiko dengan kemungkinan tinggi dan dampak besar akan ditempatkan di kuadran "merah" yang memerlukan perhatian dan tindakan mitigasi segera. Matriks ini sangat efektif sebagai alat komunikasi risiko dan membantu organisasi dalam memprioritaskan upaya pengelolaan risiko di berbagai tingkatan.

7. Analisis Skenario

Analisis skenario dalam penilaian risiko adalah teknik perencanaan strategis yang melibatkan pembangunan dan evaluasi beberapa skenario hipotetis mengenai kondisi masa depan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi potensi dampak dari berbagai peristiwa potensial terhadap tujuan bisnis, serta untuk mengembangkan strategi yang tepat guna mengelola risiko atau memanfaatkan peluang yang muncul dari setiap skenario. Melalui analisis ini, perusahaan dapat mengeksplorasi skenario "terbaik,"

"dasar," dan "terburuk" untuk memahami bagaimana perubahan faktor eksternal atau internal dapat memengaruhi profitabilitas, pangsa pasar, atau keberlanjutan operasional mereka. Ini membantu organisasi mengidentifikasi kerentanan dan membangun resiliensi dengan mempersiapkan rencana kontinjensi untuk berbagai kemungkinan masa depan.

Dari sekian banyak teknik yang ada, kami memilih menggunakan matriks risiko, yang menggabungkan dua komponen utama, yaitu frekuensi (kemungkinan terjadinya risiko) dan signifikansi (tingkat dampak yang ditimbulkan). Matriks risiko disusun dalam bentuk tabel dua dimensi yang memungkinkan pelaku usaha untuk memetakan potensi risiko berdasarkan seberapa sering risiko tersebut mungkin terjadi dan seberapa besar dampaknya terhadap kegiatan usaha. Frekuensi umumnya dikategorikan ke dalam skala seperti sangat jarang, jarang, kadang-kadang, sering, hingga sangat sering. Sementara itu, signifikansi atau dampak risiko diklasifikasikan dari tingkat rendah, sedang, tinggi, hingga sangat tinggi.

Melalui pemetaan ini, tingkat risiko dapat ditentukan dan dikelompokkan ke dalam beberapa

(17)

12 kategori, seperti risiko rendah yang dapat diterima, risiko sedang yang memerlukan pengawasan rutin, hingga risiko tinggi yang membutuhkan penanganan segera.

Penggunaan matriks frekuensi dan signifikansi dalam penilaian risiko memberikan manfaat yang besar, terutama dalam membantu pelaku usaha memahami prioritas dari masing-masing risiko yang ada. Dengan cara ini, pengambilan keputusan menjadi lebih terarah, karena fokus dapat diberikan pada risiko-risiko yang memiliki kemungkinan tinggi terjadi dan berdampak besar terhadap kelangsungan usaha. Metode ini tidak hanya diterapkan secara luas dalam dunia usaha, tetapi juga didukung oleh standar internasional yang kredibel, seperti ISO 31000:2018 tentang manajemen risiko yang memberikan panduan umum mengenai prinsip dan kerangka kerja penanganan risiko, serta AS/NZS 4360:2004 dari Australia dan Selandia Baru yang secara khusus membahas pentingnya proses identifikasi dan evaluasi risiko menggunakan pendekatan frekuensi dan dampak.

Penerapan dari teknik ini menuntut penggunaan variabel guna mengukur tingkat resiko yang ada seperti yang ditunjukkan pada table dibawah ini:

Variabel Tingkat risiko

1 Sangat rendah

2 Rendah

3 Sedang

4 Tinggi

5 Sangat tinggi

Tabel 1 Variabel beserta tingkat risikonya

Selanjutnya setelah melihat tabel ini maka kita bisa masuk kepada matriks frekuensi likelihood (kemungkinan) melalui tabel dibawah ini:

No. Identifikasi Risiko 1 2 3 4 5 Likelihood

1 Risiko Operasional x Karena masih menggunakan

sistem manual untuk pencatatan stok dan distribusi barang. Hal ini menyebabkan tingkat kesalahan pencatatan cukup tinggi, termasuk kesalahan input data stok keluar/masuk.

Adapun keterlambatan

(18)

13 pengiriman turut ikut andil dalam hal ini

2 Risiko Keamanan x Meskipun gudang telah

memiliki CCTV, tidak adanya petugas keamanan khusus serta kontrol akses keluar-masuk barang membuat pengawasan hanya bergantung pada staf gudang yang tinggal di mess.

Selain itu, pencatatan stok yang masih bersifat manual membuat kehilangan barang sulit terdeteksi secara langsung.

Risiko ini berdampak pada kerugian finansial dan gangguan terhadap kelancaran distribusi.

3 Risiko Kualitas Produk

x Sering ditemukan barang rusak dari pusat yang kemudian dikembalikan ke supplier. Ini merupakan kejadian yang cukup sering namun masih bisa ditangani melalui prosedur klaim. Walaupun tidak selalu terjadi tapi cukup berulang dan berdampak.

4 Risiko Teknologi dan Sistem

x Karena gudang belum

mengimplementasikan sistem digital seperti Warehouse Management System (WMS) atau aplikasi pelacakan stok secara real-time, sehingga

(19)

14 seluruh alur masih sangat bergantung pada tenaga manusia. Akibatnya, sangat mungkin terjadi kesalahan input, kehilangan data, atau keterlambatan proses, terutama dalam periode sibuk atau saat volume barang tinggi.

Tabel 2 Matriks Frekuensi Likelihood

Dari tabel matriks yang terlihat menunjukkan bahwa alasan sangat mempengaruhi tingkat risiko yang muncul, dan jika cermati lebih lanjut alasan tersebut dibuat berdasarkan identifikasi risiko yang telah didapat sebelumnya sehingga tabel akan menunjukkan hasil kemungkinan risiko yang dinilai sering muncul. Selanjutnya adalah matriks frekuensi impact (dampak):

No. Identifikasi Risiko 1 2 3 4 5 Impact

1. Risiko Operasional x Kesalahan dalam pencatatan

stok atau picking barang langsung berdampak pada keterlambatan pengiriman ke cabang, yang menyebabkan gangguan operasional dan potensi kehilangan

kepercayaan pelanggan. Selain itu jika barang yang salah kirim dikembalikan, maka akan memicu biaya tambahan logistik, waktu kerja terbuang, dan kehilangan efisiensi.

2. Risiko Keamanan x Kehilangan barang di gudang,

seperti aki, pelumas, atau sparepart bernilai tinggi, dapat menimbulkan dampak yang

(20)

15 signifikan bagi operasional dan finansial perusahaan. Secara langsung, kehilangan barang menyebabkan kerugian materi karena barang harus diganti tanpa ada pemasukan.

Kemudian, ketersediaan barang menjadi terganggu, terutama jika barang tersebut merupakan komponen penting yang dibutuhkan segera oleh pelanggan atau tim bengkel.

Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan distribusi, menurunnya kepuasan pelanggan, dan citra bengkel yang ikut terdampak.

Dampak tidak langsungnya mencakup berkurangnya kepercayaan antar divisi internal terutama antara bagian gudang, administrasi, dan bagian servis karena tidak ada kejelasan mengenai penyebab hilangnya barang.

3. Risiko Kualitas Produk

x Produk yang rusak atau cacat (seperti pelumas bocor, aki tidak berfungsi) yang sampai ke pelanggan akan

menurunkan kepuasan pelanggan dan meningkatkan jumlah retur barang.

(21)

16 Adapun apabila hal ini berulang, bisa menurunkan reputasi perusahaan, meskipun biasanya masih dapat diatasi dengan sistem pengembalian (return).

4. Risiko Teknologi dan Sistem

x Ketergantungan pada sistem manual membuat semua proses bergantung pada manusia. Bila terjadi kesalahan, dampaknya dapat sangat luas, seperti stok tidak akurat, laporan telat, atau pengiriman gagal. Selain itu jika dalam jangka panjang tidak ditingkatkan ke sistem digital (seperti ERP/WMS), maka perusahaan akan tertinggal secara kompetitif Tabel 3 Matriks Frekuensi Impact

Tabel matriks diatas memperlihatkan bahwa akan ada dampak yang muncul dari kerugian masing-masing kegiatan yang dijalankan. Adapun setelah berhasil mendapatkan tingkat risiko dari likehood dan impactnya maka selanjutnya adalah membuat tabel matriks tingkat prioritas dari risiko yang muncul dengan rumus likelihood dikali impact. Hasil yang paling besar dari perkalian ini akan menjadi risiko prioritas yang harus di mitigasi terlebih dahulu.

Perhitungan tingkat prioritas risiko berdasarkan rumus likelihood x impact (dikali) dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

No. Identifikasi Risiko Likelihood Impact Hasil Perhitungan (Likelihood x Impact)

1. Risiko Operasional 4 4 16

2. Risiko Keamanan dan Keselamatan 2 3 6

3. Risiko Kualitas Produk 3 3 9

4. Risiko Teknologi dan Sistem 4 5 20

(22)

17 Tabel 4 Perhitungan Likelihood dan Impact

Penjelasan tabel diatas memperlihatkan sebagai berikut:

1. Risiko Teknologi dan Sistem (Skor Risiko: 20)

Risiko ini menempati posisi tertinggi dalam tingkat prioritas dengan skor total 20, yang merupakan hasil dari likelihood sebesar 4 (sering terjadi) dan impact sebesar 5 (dampak sangat tinggi). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem manual dalam kegiatan operasional Yamaha Mustika Group sangat rentan terhadap kesalahan manusia dan kurangnya efisiensi. Risiko ini jika tidak segera ditangani berpotensi menghambat pertumbuhan bisnis dan mengurangi daya saing perusahaan secara signifikan.

2. Risiko Operasional (Skor Risiko: 16)

Risiko operasional memiliki skor risiko sebesar 16, mencerminkan frekuensi kejadian yang relatif tinggi (4) dan dampak yang besar (4). Risiko ini berkaitan dengan kemungkinan kesalahan dalam pencatatan barang, pengiriman, dan proses logistik lainnya yang sangat penting dalam rantai distribusi. Risiko ini memiliki potensi mengganggu keberlangsungan operasi harian dan memerlukan mitigasi secara sistematis.

3. Risiko Kualitas Produk (Skor Risiko: 9)

Risiko terhadap kualitas produk mendapatkan skor risiko 9, yang menunjukkan frekuensi sedang (3) dan dampak juga sedang (3). Risiko ini muncul apabila produk seperti suku cadang, oli, atau baterai memiliki kualitas yang tidak sesuai standar atau rusak saat pengiriman. Meski tidak terlalu sering terjadi, dampaknya terhadap persepsi pelanggan dan reputasi perusahaan tetap perlu diwaspadai.

4. Risiko Keamanan (Skor Risiko: 6)

Risiko keamanan gudang dalam bentuk kehilangan barang (shrinkage) memperoleh skor total sebesar 12, yang merupakan hasil dari likelihood 3 dan impact 4. Risiko ini muncul karena tidak adanya petugas keamanan khusus dan belum diterapkannya kontrol akses keluar-masuk barang. Meskipun gudang telah memiliki sistem CCTV, pengawasan hanya dilakukan oleh staf internal yang tinggal di mess, sehingga potensi kehilangan barang seperti aki, pelumas, dan sparepart tetap cukup tinggi. Dampaknya cukup besar, terutama dari sisi kerugian finansial dan gangguan distribusi ke pelanggan. Barang yang hilang tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga dapat menimbulkan penurunan kepercayaan antar unit kerja dan reputasi bengkel. Oleh karena itu, risiko ini dikategorikan sebagai risiko tinggi dan perlu segera dimitigasi dengan penguatan sistem keamanan dan audit stok yang lebih ketat.

(23)

18 2.5 Mitigasi Risiko

Mitigasi risiko merupakan langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi potensi kerugian yang dapat ditimbulkan akibat dampak dari suatu risiko. Karena bentuk risiko sering kali belum dapat diketahui secara pasti, maka diperlukan pengelolaan risiko yang baik dan tepat agar tidak mengganggu kelangsungan proses bisnis utama. Mitigasi risiko juga merupakan strategi untuk meminimalisasi dampak negatif yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, proses ini memiliki keterkaitan yang erat dengan pengendalian internal.

Keduanya saling berhubungan dalam kegiatan pencegahan (preventive action) maupun penerapan sistem peringatan dini (early warning system atau alert system). Menurut Hussen (2011:56) tujuan dari mitigasi risiko yaitu untuk mengelola atau mengatasi risiko- risiko yang telah dikenali sebelumnya, sehingga solusi yang tepat dapat ditetapkan beserta pihak yang bertanggung jawab atas risiko tersebut.

Dalam upaya menjaga keberlangsungan dan pertumbuhan bisnis, Dealer Yamaha Mustika 2 perlu memiliki strategi mitigasi risiko yang terstruktur dan terukur. Berdasarkan analisis risiko yang telah dilakukan, terdapat empat jenis risiko utama yang dihadapi perusahaan, dengan tingkat prioritas yang berbeda-beda. Strategi mitigasi ini dirancang untuk menurunkan potensi dampak dan frekuensi terjadinya risiko yang telah diidentifikasi.

1. Risiko Teknologi dan Sistem (Skor Risiko: 20)

Risiko ini menempati posisi tertinggi dalam daftar prioritas karena memiliki kombinasi tingkat kemungkinan (likelihood) yang tinggi dan dampak (impact) yang sangat besar.

Sistem operasional yang masih dijalankan secara manual menimbulkan kerentanan terhadap kesalahan manusia, lambatnya proses, dan kurangnya efisiensi.

Strategi Mitigasi:

a. Digitalisasi Sistem Operasional: Mengadopsi sistem manajemen berbasis digital seperti ERP (Enterprise Resource Planning) untuk pencatatan penjualan, stok barang, dan layanan purna jual.

b. Pelatihan Teknologi untuk Karyawan: Memberikan pelatihan berkala bagi seluruh staf agar adaptif terhadap perubahan teknologi.

c. Audit Sistem Berkala: Melakukan evaluasi sistem secara rutin untuk mendeteksi kelemahan sejak dini.

(24)

19 4. Risiko Operasional (Skor Risiko: 16)

Risiko ini terkait langsung dengan kegiatan harian perusahaan seperti pencatatan barang, pengiriman, dan logistik. Ketidaktepatan dalam proses ini dapat menyebabkan keterlambatan, kekurangan stok, atau kesalahan distribusi.

Strategi Mitigasi:

a. Penerapan SOP (Standard Operating Procedure): Menyusun dan menerapkan SOP yang terstandarisasi di seluruh lini operasional.

b. Penggunaan Barcode dan Sistem Inventory Real-Time: Mengurangi kesalahan pencatatan dengan sistem otomatisasi berbasis barcode dan software stok.

c. Monitoring dan Evaluasi Kinerja Logistik: Menetapkan KPI dan melakukan monitoring secara berkala terhadap aktivitas operasional.

5.Risiko Kualitas Produk (Skor Risiko: 9)

Kualitas produk yang tidak sesuai standar atau rusak saat pengiriman dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan dan menurunkan reputasi perusahaan.

Meskipun risikonya sedang, tetap diperlukan pengawasan secara menyeluruh.

Strategi Mitigasi:

a. Seleksi Supplier Ketat: Memastikan hanya bekerja sama dengan pemasok yang memiliki sertifikasi dan rekam jejak baik.

b. Inspeksi Kualitas Berkala: Melakukan quality control secara berkala pada barang yang masuk dan keluar.

c. Sistem Retur dan Penanganan Komplain Cepat: Menyediakan layanan penggantian cepat untuk produk cacat dan mekanisme komplain yang responsif.

6.Risiko Keamanan

Untuk mengurangi dan mengendalikan risiko kehilangan barang (shrinkage) akibat lemahnya sistem keamanan di gudang Yamaha Mustika Group, beberapa langkah mitigasi yang dapat diterapkan antara lain:

a. Penambahan Petugas Keamanan (Security): Menempatkan security khusus yang bertugas mengawasi area gudang, baik pada jam kerja maupun di luar jam kerja, sehingga tidak hanya mengandalkan staff gudang yang tinggal di mess.

b. Penguatan Prosedur Administrasi: Melakukan audit stok secara berkala (mingguan/bulanan) untuk membandingkan stok fisik dengan data administrasi, sehingga kehilangan dapat dideteksi lebih awal.

(25)

20 c. Peningkatan Kesadaran dan Pelatihan SDM: Memberikan pelatihan kepada seluruh staf gudang terkait pentingnya kejujuran, integritas, dan prosedur pelaporan jika menemukan indikasi kehilangan atau penyalahgunaan barang.

d. Peningkatan SOP dan Pengawasan Internal: Setiap barang yang keluar/masuk gudang harus disertai dokumen resmi (surat jalan, form pengeluaran/penerimaan) dan diverifikasi oleh dua pihak (admin & kepala gudang).

(26)

21 BAB III

KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap sistem pergudangan Yamaha Mustika Group, dapat disimpulkan bahwa operasional gudang masih menghadapi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu kelancaran distribusi, efisiensi operasional, serta kepuasan pelanggan. Risiko-risiko utama yang diidentifikasi meliputi risiko teknologi dan sistem, risiko operasional, risiko kualitas produk, dan risiko keamanan.

Risiko tertinggi ditemukan pada aspek teknologi dan sistem, mengingat seluruh proses operasional gudang masih dilakukan secara manual tanpa dukungan digital seperti Warehouse Management System (WMS). Hal ini memicu berbagai ketidaktepatan data dan keterlambatan proses. Risiko operasional juga signifikan, terutama dalam hal pencatatan stok dan proses distribusi yang masih rawan kesalahan. Di sisi lain, kualitas produk dan keamanan gudang masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam hal sistem pengawasan fisik dan prosedur retur barang. Melalui klasifikasi dan penilaian risiko menggunakan matriks frekuensi dan dampak, strategi mitigasi yang terukur telah dirancang untuk setiap jenis risiko, mulai dari digitalisasi sistem, peningkatan SOP operasional, seleksi supplier yang ketat, hingga penambahan personel keamanan. Langkah-langkah mitigatif ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya risiko serta mengurangi dampaknya terhadap kelangsungan bisnis.

Secara keseluruhan, manajemen risiko yang tepat dan sistematis pada unit pergudangan Yamaha Mustika Group sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat kontrol internal, dan menjaga reputasi perusahaan di mata pelanggan.

(27)

22 DAFTAR PUSTAKA

Gusti Agung Ayu Istri Lestari, I., Kurniari, K., & Krisna Darmaputra, K. (2023). Identifikasi dan penilaian risiko rencana pembangunan theme park (replika Walt Disney World di Jembrana). Jurnal Ilmiah Kurva Teknik, 12(1). https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/jikt Hamonangan, N., Maelisa, N., & Serang, R. (2022). Analisa risiko pada proyek rehabilitasi Gedung Arsip Unit Hidrologi Balai Sungai Wilayah Maluku. Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, 8(?).

[Catatan: Harap lengkapi nama jurnal dan nomor edisi/halaman jika tersedia.]

American Society for Quality. (n.d.). Risk matrix. ASQ. https://asq.org

Chen, J. (2023, September 24). Notional value: Definition, uses in options and futures.

Investopedia. https://www.investopedia.com

Frankenfield, J. (2023, November 19). Probability distribution: Definition, how it's used, and types. Investopedia. https://www.investopedia.com

Hayes, A. (2023, December 22). Probability: What it is, how it works, and examples.

Investopedia. https://www.investopedia.com

Hayes, A. (2024, January 31). Value at risk (VaR): Definition, formulas, and examples.

Investopedia. https://www.investopedia.com

Investopedia. (n.d.). Scenario analysis: How it works and examples.

https://www.investopedia.com

International Organization for Standardization. (2018). ISO 31000:2018 – Risk management:

Guidelines.

Kenton, W. (2023a, June 28). What is volatility? In investing, it measures price swings.

Investopedia. https://www.investopedia.com

Kenton, W. (2023b, May 26). Sensitivity analysis in financial models: How it works and example. Investopedia. https://www.investopedia.com

Widarjono, A. (2015). Manajemen risiko. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

(28)

23 LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara

Lampiran 2. Dokumentasi Gudang

(29)

24 Lampiran 3. Dokumentasi Gudang

Lampiran 4. Dokumentasi Gudang Dealer Yamaha

Gambar

Tabel 1 Variabel beserta tingkat risikonya
Tabel 2 Matriks Frekuensi Likelihood
Tabel  matriks  diatas  memperlihatkan  bahwa  akan  ada  dampak  yang  muncul  dari  kerugian  masing-masing kegiatan yang dijalankan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menunjukkan tahun 2007 sampai 2011 Rasio Likuiditas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan PT mustika Ratu Tbk dikatakan likuid dilihat

Analisis risiko adalah upaya untuk memahami risiko lebih dalam. Hasil analisis risiko ini akan menjadi masukan dalam proses evaluasi risiko dan yang nantinya digunakan

Analisis risiko adalah upaya untuk memahami risiko lebih dalam. Hasil analisis risiko ini akan menjadi masukan dalam proses evaluasi risiko dan yang nantinya digunakan

PT Bank Bukopin Tbk menjaga kualitas penerapan manajemen risiko yang baik, dengan mengimplementasikan konsep manajemen risiko untuk 8 jenis risiko yaitu risiko

Bank Bukopin menjaga kualitas penerapan manajemen risiko yang baik, dengan mengimplementasikan konsep manajemen risiko untuk 8 jenis risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar,

Komite ini dibentuk untuk menerapkan kerangka manajemen risiko yang efektif dan memastikan dilakukannya pengawasan risiko melalui penetapan toleransi risiko, batasan dan

pengaruhnya terhadap proyek; 6). Manajemen risiko merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui, melalui rencana analisis risiko atau bentuk

Tahap perencanaan proses manajemen risiko berbasis ISO 31000 telah berhasil dilakukan pada Analisis Manajemen Risiko Teknologi Sistem Informasi Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta..