• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KRED (24)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KRED (24)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT DAN INSTRUMENT DERIVATIF PADA BANK BUKOPIN TBK

ROSE INDAH UNIVERSITAS TRILOGI

1.Latar Belakang Masalah

Pada saat kini para bankir menyadari bahwa dalam menjalankan fungsi jasa – jasa keuangan, bank harus dapat mengelola berbagai jenis risiko keuangan secara efektif, agar dampak negatif tidak dapat terjadi dan menghindari atau menghilangkan kerugian yang besar akibat dari tidak dijalankannya manajemen risiko yang efektif dan disiplin. Risiko yang diterima oleh sebuah bank diakibatkan terjadinya sebuah atau serangkaian peristiwa bersifat negatif dan tidak diinginkan terjadi yang dapat mengakibatkan kegagalan atau kerugian dan bukannya menguntungkan bank. Risiko terkait dengan aktivitas perbankan, tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikurangi. 2 Namun kegiatan berisiko tersebut harus diambil untuk mendapatkan peluang bank untuk mendapatkan keuntungan, dengan cara meminimalkan risiko yang akan timbul dengan manajemen risiko. Kegagalan sebuah bank akan berdampak kepada sistem perbankan dan bahkan sistem perekonomian, hal ini juga terjadi pada saat krisis moneter tahun 1997 yang menjatuhkan ratusan bank nasional di Indonesia. Klasifikasi risiko yang sering dahadapi oleh bank diantaranya adalah risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional. Risiko kredit adalah eksposur yang timbul sebagai akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi kewajibannya.. Kinerja yang buruk dapat berasal dari ketidak mampuan debitur untuk memenuhi sebagian atau seluruh isi perjanjian kredit yang telah disepakati bersama. Yang menjadi dasar dari perhatian bank dalam hal ini adalah kondisi keuangan dan nilai pasar dari jaminan serta yang paling penting adalah karakter dari debitur. Risiko pasar adalah eksposur yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (suku bunga dan nilai tukar) dari portofolio yang dimiliki oleh bank, sehingga berbalik arah dari yang diharapkan atau menjadikan suatu kerugian bagi bank. Risiko likuiditas adalah eksposur yang timbul antara lain karena bank tidak mampu memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo. Menurut ketentuan Bank Indonesia, salah satu risiko yang menjadi sumber penilaian kesehatan suatu bank adalah dari sumber pembiayaan/kredit yang dimana suatu bank harus mempunyai nilai NPL (non performing loan)/kredit macet harus dibawah 5%. Angka ini menunjukkan berapa persen kredit yang bermasalah dari keseluruhan kredit yang mereka kucurkan ke masyarakat. Pada tahun 2004, nilai NPL perbankan nasional mencapai 4,5% dan meningkat pada bulan agustus 2005 menjadi 8,9%. Selanjutnya pada akhir semester I tahun 2006, dua diantara BUMN perbankan Indonesia masih mencatat tingkat kredit macet (non performing loan atau NPL) yang tinggi. Akibatnya performa keuangan mereka jadi ikut terganggu. Manajemen risiko adalah suatu proses untuk mengindentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul serta mengambil langkah – langkah perbaikan yang dapat menyesuaikan risiko pada tingkat yang 3 dapat diterima, sehingga bank dapat memiliki komposisi portofolio dengan risk dan return yang seimbang.

2.Tujuan Penulisan

Sesuai denganmasalah di atas yang diajukan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

(2)

bank Bukopin

2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan kredit di pada bank bukopin

3.Pembahasan

Bank Bukopin menjaga kualitas penerapan manajemen risiko yang baik, dengan mengimplementasikan konsep manajemen risiko untuk 8 jenis risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik dan risiko kepatuhan. Pengelolaan risiko tersebut didukung oleh model dan kecukupan sistem manajemen risiko yang terpadu, pelaksanaan stress testing secara periodik, serta upaya peningkatan penerapan sistem pengendalian internal yang terintegrasi (Integrated Internal Control System) yang dilakukan melalui optimalisasi fungsi pengendalian internal yaitu SKAI, Satuan Kerja Kepatuhan dan Satuan Kerja Ma aje e Risiko dala ra gka pe guata first li e of defe se dari three li es ya g ada yaitu pengendalian internal yang melekat pada proses sehingga diharapkan dapat meminimalisir potensi temuan baru maupun temuan berulang..

Secara keseluruhan, pada tahun 2015, kinerja produk kredit mikro mengalami peningkatan sebesar 43,39% atau sebesar Rp2,40 triliun dibanding tahun 2014 yang sebesar Rp5,52 triliun menjadi Rp7,92 triliun di tahun 2015. Peningkatan ini berasal dari produk Kredit Pensiunan yang mencapai pertumbuhan sebesar 73,27% atau sebesar Rp2,46 triliun dari Rp3,35 triliun di tahun 2014 menjadi Rp5,81 triliun di tahun 2015. Peningkatan lainnya juga berasal dari produk Kredit modal tidak tetap Swamitra dengan pertumbuhan sebesar 4,48% atau sebesar Rp68 miliar dari total penyaluran produk di tahun 2014 yang mencapai Rp1,52 triliun menjadi Rp1,59 triliun di tahun 2015. Sedangkan, untuk produk lainnya mengalami penurunan. Penurunan terbesar berasal dari produk Direct Loan Reguler yang mencapai penurunan sebesar 44,44%, hal ini disebabkan oleh adanya pelunasan kredit oleh para debitur. Produk Kredit Pemilikan Rumah Mikro juga mengalami penurunan sebesar 7,69% atau sebesar Rp12 miliar dari total peyaluran produk kredit sebesar Rp156 miliar di tahun 2014 menjadi Rp144 miliar di tahun 2015. Produk Kredit Mikro Lainnya yang juga mengalami penurunan sebesar 39,39% atau sebesar Rp114 miliar. Prospek Usaha 2016 Meskipun kondisi perekonomian dunia dan nasional belum terlalu kondusif serta memperhatikan economic outlook di tahun 2016, Bisnis Mikro tetap optimis untuk terus meningkatkan kinerja dan kualitasnya dalam penyaluran kredit kepada nasabah yang menjadi target marketnya. Untuk mendukung hal tersebut, Bisnis Mikro bekerjasama dngan pihak ketiga untuk penyediaan tempat layanan (meeting point) di seluruh daerah potensi untuk memudahkan akses dan jangkauan nasabah terhadap produk dan layanan Perseroan. Untuk memberikan pelayanan dalam hal suku bunga yang lebih kompetitif kepada pelaku Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Bisnis Mikro juga melakukan kerjasama dengan instansi/lembaga lain sebagai sumber dana murah.

(3)

triliun di tahun 2014 menjadi Rp22,81 triliun di tahun 2015. Di sisi lain, produk lainnya mengalami penurunan. Penurunan terbesar berasal dari produk KPKU dengan penurunan sebesar 22,62% atau Rp245 miliar dari Rp1,08 triliun di 2014 menjadi Rp838 miliar. Dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan harga komoditas berdampak pada penurunan penyaluran kredit di sektor ini

Kredit UKM akan tetap menjadi peluang pasar yang menjanjikan untuk kedepannya mengingat jumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (retail) sudah berjumlah 57,2 juta pelaku. Kondisi ini juga didukung oleh kebijakan Pemerintah yang mendorong untuk pembudidayaan sektor Usaha Mikro,Kecil, dan Menengah (UKM). Usaha ini cukup menjanjikan, mengingat bahwa sektor retail sudah terbukti sudah cukup tangguh dalam menghadapi dinamika perubahan ekonomi mikro maupun makro. Secara internal, Perseroan terus berperan aktif dalam mengembangkan proses bisnis kredit retail UKM untuk memenuhi misi Perseroan yaitu berperan aktif dalam mengembangkan Usaha Menengah, Kecil, Kecil dan Mikro yang berdaya saing. Semakin sering dilibatkannya perseroan dalam dalam penyaluran kredit kepada UKM oleh Pemerintah, maka semakin meningkatkan prospek usaha ini bagi Perseroan.

Rasio kredit macet (NPL) pada bisnis kartu kredit Bukopin masih berada pada level 2,26%. Rasio tersebut lebih tinggi dibandingkan rasio NPL tahun sebelumnya yang sebesar 2,06%. Upaya yang dilakuka u tuk e eka NPL di 5 yaitu: • Me e tuka Capa ity Pla (pe a aha staff collection) di staff yang menanga i u ket NPL • Me g-update scheme insentif atas pencapaian di

u ket NPL • Me erika progra res hedule da dis ou t pada ardholder NPL.

a. Di 2015, total liabilitas Perseroan meningkat Rp14,58 triliun atau sebesar 20,19% dari Rp72,25 triliun di 2014 menjadi Rp86,83 triliun di 2015. Peningkatan total liabilitas khususnya berasal dari peningkatan simpanan nasabah. Strategi Pengelolaan Likuiditas Pengelolaan likuiditas dilakukan treasury terutama untuk mengoptimalkan likuiditas harian Perseroan sejalan dengan kebijakan regulator dan strategi internal Perseroan. Selain itu. pengelolaan Likuiditas juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan mutasi dana nasabah serta mengoptimalkan pendapatan bunga bagi Perseroan. Dalam rangka memitigasi risiko likuiditas, treasury senantiasa melakukan monitoring dan menganalisis perliaku nasabah-nasabah besar dan senantiasa melakukan koordinasi dengan unit bisnis terkait pendanaan dan pembiayaan agar likuiditas dapat terjaga dengan baik

(4)

pasar, risiko kredit dan risiko operasional dimana rasio tersebut lebih tinggi dari rasio kecukupan minimum dan struktur modal Perseroan sudah memenuhi Peraturan. Hal ini berarti bahwa Perseroan telah mengelola dengan baik modal Bank dan memiliki kecukupan modal untuk melindungi dari risiko solvabilitas.

d. Di 2015, total ekuitas Perseroan meningkat Rp729 miliar atau sebesar 10,72% dari Rp6,81 triliun di 2014 menjadi Rp7,54 triliun di 2015. Peningkatan total ekuitas khususnya berasal dari peningkatan saldo laba. Saldo laba meningkat Rp750 miliar atau sebesar 18,89% dari Rp3,97 triliun di 2014 menjadi Rp4,72 triliun di 2015.

4. Rekomendasi

a. Saran yang diberikan berkaitan dengan efektifitas penerapan manajemen resiko dan instrumen derifatif adalah agar bank bukopin dapat mempertahan manajemen resiko yang telah dicapai.

b. Agar bank bukopin dalam meningkatkan lagi kualitas penerapan manajemen resiko dan intrumen derivatif agar lebih baik lagi.

5. Kesimpulan

Penerapan manajemen risiko harus didukung dengan cara pengelolaanya. Pengelolaan manajemen risiko pada bank dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko. Keuntungan dan manfaat manajemen risiko adalah dapat meningkatkan shareholder value, menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka

meningkatkan 20 daya saing bank. Kendalanya, pengawasan akan penerapan manajemen risiko tergolong rendah dan sumber daya manusia yang belum siap. Penerapan manajemen risiko tidak terlepas dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Dampak penerapan manajemen risiko sangat berpengaruh baik terkait penerapan pilar-pilar API, dimana struktur perbankan menjadi sehat, sistem pengawasan menjadi independen dan efektif, industri perbankan menjadi kuat, konsumen menjadi terlindungi.

6. Referensi

1) Kisman, Z.(2017). Model For Overcoming Decline in Credit Growth (Case Study of Indonesia with Time Series Data 2012M1-2016M12). Journal of Internet Banking and Commerce, December 2017, vol. 22, no. 3.

2) Kartika.S. Penerapan Manajemen Risiko Pada Perbankan di indonesia,Universitas Negeri Surabaya

(5)

Referensi

Dokumen terkait

(5) Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran bayi. 38) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan

Anda dapat menampilkan layar yang sama di perangkat Android pada monitor unit dengan menggunakan fungsi Miracast di perangkat

Dari hasil perbandingan karakteristik kedua jenis belitan motor induksi yang sudah diuji pada tegangan sumber 3 fasa konstan 380 Volt AC, diperoleh bahwa motor

Lokasi tapak proyek pembangunan hotel butik dan apartemen terletak di bantaran Sungai Deli dan berada pada salah satu situs bersejarah Kota Medan yaitu Istana

Berdasarkan penellitian yang telah dilakukan mengenai hubungan antara Passion dan Achievement Goal Orientation pada pelaku Pageant di Jawa Barat pada 200

Berdasarkan analisis rasio, FMII bisa dikatakan berada pada kondisi yang buruk karena keseluruhan tingkat likuiditas dan aktivitasnya rendah meski dengan profitabilitas

Sumber Data, dan Skala Pengukuran .... Sumber

(AHP) digunakan untuk mendukung keputusan dari wisata peradaban ekologi sehingga nantinya hasil yang diperoleh dapat menjadi solusi yang baik dalam penerapannya..