ANALISIS JURNAL ILMIAH
ANALISIS HUBUNGAN IBADAH SHOLAT DENGAN KESEHATAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM
MATA KULIAH KEBIDANAN DALAM ISLAM
Dosep Pengempu :
Esitra Herfanda, S.ST., M.Keb
Disusun Oleh : IKA LUTFIAH FADIL
NIM : 2310101206
PROGRAM STUDI PROGRAM SARJANA KEBIDANAN DAN PROGRAM PROFESI BIDAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
TAHUN 2025
BAB I PENDAHULUAN
Kesehatan mental sebagai disiplin ilmu yang merupakan bagian dari psikologi Islam, terus berkembang dengan pesat. Di masa modern sekarang ini, banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari aspek ekonomi, politik, pendidikan, tradisi, dan budaya yang semakin maju pesat. Tidak jarang dapat membuat sebagaian orang yang tidak mampu beradaptasi terhadap kemajuan zaman, maka berakibat pada mereduksi penderitaan gangguan jiwa.
Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.1 Kondisi mental yang sehat pada tiap individu tidaklah dapat disamaratakan. Kondisi inilah yang semakin membuat urgensi pembahasan kesehatan mental yang mengarah pada bagaimana memberdayakan individu, keluarga, maupun komunitas umtuk mampu menemukan, menjaga, dan mengoptimalkan kondisi sehat mentalnya dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kesehatan mental merupakan kemampuan adaptasi seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan alam sekitar secara umum, sehingga merasakan senang, bahagia, hidup dengan lapang, berperilaku sosial secara normal, serta mampu menghadapi dan menerima berbagai kenyataan hidup. Kemudian Utsman Najati memaparkan kesehatan mental berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah dapat dilihat dari hubungan individu dengan Tuhan, hubungan individu dengan dirinya sendiri, hubungan individu dengan sesamanya, hubungan individu dengan alam semesta. Kesehatan mental biasanya ditemukan pada orang yang menderita gangguan jiwa dan sakit jiwa, kalau kita perhatikan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari maka akan terlihat bermacam-macam keadaan jiwa seseorang, ada yang bahagia, senang, susah, sedih ada yang sering mengeluh penuh kegelisahan, penuh kecemasan, dan ketidakpuasan semua itu merupakan gejala mental yang kurang kontrol dan terarah, sehingga semua gejala yang terjadi diatas termasuk perbuatan yang menggelisahkan dan mendorong penulis untuk mengkaji dan membahas serta
menyelidiki apa yang menyebabkan tingkah laku orang berbeda-beda walaupun dalam kondisi yang sama.
Pakar psikologi mengakui bahwa kesehatan mental sebagai keadaan jiwa yang menyebabkan manusia merasa aman dan tentram ketika mencapai keseimbangan antara kekuatan dalam yang ada pada dirinya, atau antara tuntutan jasmani jiwa dan rohani. Jadi kesehatan mental hal keadaan jiwa yang menyebabkan manusia merasa sesuai atau nyaman dengan dirinya dan dengan masyarakat di tempatnya berada.
Dari berbagai agama yang ada didunia agama Islam merupakan Agama yang paling istimewa dari agama yang lainnya danmerupakan agama yang paling dicintai Allah SWT. Dalam agama islam banyak sekali ibadah- ibadah yang bernilai pahala baik itu ibadah yang wajib dilakukan ataupun sunnah untuk dilakukan. Shalat adalah salah satu dari sekian banyak ibadah dalam agama islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang ditunjukkan kepada Allah Swt. Dengan menjalankan shalat hati kita akan senantiasa merasa tentram dan damai. Shalat berarti doa atau rahmat. Shalat dikatakan sebagai doa karena gerakan-gerakan dari shalat seluruhny mengandung makna doa yang di tunjukkan kepada Allah SWT. Seluruh bacaan shalat merupakan bentuk pengagungan seorang hamba kepada Tuhannya Rangkaian ucapan dan gerakan tersebut bukan hanya sekedar ucapan dan gerakan tanpa memiliki arti atau makna, tetapi masing-masing mengandung sejarah,filosofi, ibrah,tujuan, dan hikmah yang sangat banyak bagi orang yang menjalankannya. Selain ibadah yang wajib dilakukan, shalat juga memiliki banyak manfaat salah satunya manfaat dalam aspek psikologi atau kesehatan mental. Aspek psikologis sendiri adalah perasaan yang timbul dari dalam hati atau jiwa kita. Dari aspek psikologi, manfaat yang diperoleh salah satunya adalah ketentraman jiwa. Shalat membuat jiwa kita menjadi lebih tentam dan damai. Selain itu dengan shalat juga dapat mengurangi stres yang berlebihan. Shalat menjadikan seorang muslimmerasa lebihtenang hatinya, bersih rohnya, dan seimbang jiwanya.Shalat juga dapatdigunakanmenjadi terapi ruhaniah untuk kesembuhan pasien (Hayati, 2020).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kesehatan Mental
Menurut Suhalimi kesehaltaln mental merupalkaln sualtu kondisi yalng memungkinkaln perkembalngaln fisik (biologic), intelektual (ralsio/cognitive), emosional (alffective) daln spiritual (algalmal) yalng optimal dalri seseoralngdaln perkembalngaln itu berjalaln selalrals dengaln kealdalaln oralng lalin (Lubis et al, 2023).
Kesehatan mental sendiri merupakan dua kata yang diterjemahkan dari istilah Mental Hygiene, yakni disiplin ilmu yang meneliti kesehatan jiwa yang fokus utamanya manusia karena menjadi objek materi dan masalah-masalah atau berbagai persoalan yang dihadapi menjadi objek formalnya. Kesehatan mental suatu individu dapat diisyaratkan, seperti orang tersebut memiliki kemampuan untuk memelihara juga membentuk hubungan baik dengan orang lain, ikut berperan dalam lingkungan sosial sesuai dengan budayanya serta untuk mengatur, mengenali, mengakui, dan mengkomunikasikan pikiran dan tindakan positif serta untuk mengatur emosi. Kesehatan mental ini tidak ada dengan sendirinya. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentu saja akan ada berbagai masalah yang timbul. Sehingga masalah-masalah ini pun lama-kelamaan akan menjadi beban pikiran seseorang. Beban itu akan terkumpul lalu menjadi menggunung, inilah yang akan menjadi masalah bagi mental ataupun jiwa seseorang yang mengalaminya (Fajrussalam et al, 2022).
B. Hubungan Shalat dan kesehatan mental menurut Psikologi Islam Pada dasarnya semua ilmu-ilmu pendidikan yang ada sebenarnya saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.Salah satunya yaitu antara Islam dan psikologi. Islam dan psikologi merupakan satu kesatuan. Maksudnya tanpa dijelaskan atau dipaparkan pun antara Islam dan psikologi sudah terikat dari asalnya. Dengan ilmu psikologi seseorang dapat mengukur, membandingkan, dan mampu
menanamkan ajaran Islam dengan baik.Abuddin Nata mengemukakan bahwa Psikologi merupakan ilmu yang memelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamati.2Manusia yang merupakan makhluk social yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain pasti memiliki berbagai permasalahan yang dihadapi setiap harinya. Tak jarang juga permasalahan tersebut membuat ketenangan jiwa kita menjadi terganggu sehingga berdampak pada kesehatan jasmani maupun rohani.Oleh sebab itu, penting dengan adanya terapi jiwa (psikoterapi) agar perkembangan atau kesehatan seseorang tersebut stabil.Salah satu terapi jiwa yang paling ampuh untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan melakukan shalat. Selain sebagai terapi jiwa,dengan melakukan shalat juga mendapatkan pahala yang besar oleh Allah SWT, karena shalat sendiri merupakan amalan yang pertama akan di hisab di hari akhir. Shalat merupakan ibadah yang pertamakaliakan dihisab di hari kiamat, dan dengan melakukan shalat yang khusyuk juga akan mengubah pola hidup umat islam yang selalu menjauhkan diri dan cenderung mendekatkan diri pada kemaksiatan dan kemunkaran. Dan sebagai amal yang paling utama, shalat menentukan kehidupan umat Islam yang senantiasa menjaga waktu demi masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, meninggalkan shalat merupakan perbuatan yang paling dibenci Allah setelah perbuatan syirik.
Dalam Agama Islam, shalat merupakan tempat dimana manusia itu melepaskan semua pikiran dan perasaan dari semua urusan dunia yang membuat dirinya itu pusing atau stres. Jadi ketika seseorang sedang shalat, jiwanya itu akan merasa tenang dan dalam hatinya itu damai (peace mind).
Para pakar yang ahli berkaitan dengan stres menganjurkan agar manusia setiap hari meluangkan waktunya untuk menenangkan dirinya sendiri. Jika anjuran ini dipakai, maka seorang muslim yang melakukan shalat lima waktu sama saja dengan melakukan upaya menenangkan diri lima kali dalam sehari. Hasil yang didapat adalah ketenangan hati yang diambil
setiap hari, dengan begitu dapat meningkatkan kekebalan dirinya terhadap berbagai stres atau masalah lainnya yang terjadi (Fajrussalam et al, 2022).
Jadi dapat disimpulkan bahwa peran agama terutama agama Islam sangat penting untuk membentuk manusia yang sehat mentalnya atau jiwanya, sekaligus dapat menyembuhkan mereka yang mengalami gangguan mental. Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman agama dapat membentengi manusia dari gejala-gejala sakit jiwa (mental) dan dapat mengembalikan kesehatan jiwa (kesehatan mental) untuk orang-orang yang gelisah. Semakin dekat seseorang kepada Tuhan dan semakin banyak ibadahnya, maka semakin tentramlah jiwanya serta semakin mampu menghadapi kekecewaan dan kesukaran dalam hidup. Demikian pula sebaliknya, semakin jauh seseorang itu dari agama maka akan semakin susah baginya untuk mencari ketentraman batin (Fajrussalam et al, 2022).
BAB III ANALISIS JURNAL
NO PENULIS JUDUL/VOL/EDISI/TAHUN HASIL
1 Pratiwi, C., & Kamila, N.
F
Analisis Teoritis Mendalam tentang Manfaat Sholat Tahajud terhadap Kesehatan Mental/
1(6)/ 2023
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti, dapat disimpulkan bahwa praktik shalat tahajud memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan mental individu. Manfaatnya meliputi aspek psikologis, emosional, dan spiritual, yang secara bersama-sama memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan mental. Dengan demikian, memahami dan menerapkan praktik shalat tahajud dapat menjadi langkah yang berharga dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental.
2 Safiruddin Al Baqi, Abdah Munfaridatus Sholihah
Manfaat Shalat untuk Kesehatan Mental:
Sebuah Pendekatan Psikoreligi Terhadap Pasien Muslim/ 11(1)/ 2019
Mengintegrasikan shalat kedalam kerja terapeutik dan menjaga kekhusukan shalat sebagai rutinitas sehari-hari mampu menggerakkan dan menguatkan proses terapiutik sehingga menghasilkan manfaat psikologis.
Contohnya, kesedihannya berangsur hilang dengan menerima keadaan tanpa rasa putus asa. Dengan mendekatkan diri pada Tuhan lewat shalat, ia mampu berpikir bahwa Tuhan akan selalu menberikan kebaikan, sehingga membuka pikirannya bahwa anak-anaknya pindah ke USA memang untuk membangun kehidupan mereka sendiri disana. Dan subjek juga mulai terbuka terhadap
orang lain dan keluar dari keadaan “vacuum existensial”.
Yakni ia mulai mencari makna baru dalam hidupnya dengan bekerja sebagai relawan dalam organisasi yang membantu lansia. Ia juga telah mampu memaafkan dirinya karena ia yakin bahwa Tuhan telah mengampuninya sebagai hamba.
Secara keseluruhan, subjek telah mengalami perubahan yang besar dari keadaan depresif yang dialaminya melalui energi spiritual yang dihasilkan lewat shalat dan doa.
BAB IV REKOMENDASI
1. Memahami Makna Shalat
a. Pahami tujuan shalat: Shalat bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi merupakan ibadah yang menghubungkan kita dengan Allah SWT.
Memahami tujuan shalat akan memotivasi kita untuk lebih khusyuk.
b. Pelajari bacaan shalat: Memahami arti dari bacaan shalat akan membuat kita lebih fokus dan khusyuk.
2. Menciptakan Suasana yang Kondusif
a. Tempat yang bersih dan tenang: Pilih tempat yang bersih, tenang, dan nyaman untuk shalat.
b. Pakaian yang bersih: Kenakan pakaian yang bersih dan suci saat shalat.
c. Wudhu yang sempurna: Pastikan wudhu Anda sempurna sebelum shalat.
3. Berjamaah di Masjid
a. Lebih berkah: Shalat berjamaah memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan shalat sendirian.
b. Meningkatkan rasa persaudaraan: Berjamaah dapat mempererat silaturahmi dengan sesama muslim.
4. Menjaga Waktu Shalat
a. Buat jadwal: Buat jadwal shalat dan usahakan untuk menjaganya.
b. Gunakan alarm: Gunakan alarm untuk mengingatkan waktu shalat.
5. Meningkatkan Kualitas Shalat
a. Khusyuk: Konsentrasikan pikiran pada Allah SWT saat shalat.
b. Bertanya kepada ahlinya: Jika ada hal yang kurang dipahami tentang shalat, jangan ragu untuk bertanya kepada ulama atau guru agama.
c. Berdoa setelah shalat: Mohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam menjalankan ibadah.
6. Menjaga Keistiqomahan
a. Bergabung dengan komunitas: Bergabung dengan komunitas muslim dapat memberikan dukungan dan motivasi untuk terus istiqomah dalam beribadah.
b. Mencari teman shalat: Shalat bersama teman dapat membuat kita lebih bersemangat.
c. Bersabar dan istiqomah: Jangan menyerah jika mengalami kesulitan.
Teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik.
7. Manfaat Menjaga Shalat
a. Ketenangan hati: Shalat dapat memberikan ketenangan jiwa dan menghilangkan segala bentuk kekhawatiran.
b. Peningkatan keimanan: Shalat dapat memperkuat iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
c. Perlindungan dari perbuatan buruk: Shalat dapat mencegah kita dari perbuatan yang buruk.
d. Kesehatan fisik dan mental: Shalat memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental.
DAFTAR PUSTAKA
Al Baqi, S., & Sholihah, A. M. (2019). Manfaat shalat untuk kesehatan mental:
Sebuah pendekatan psikoreligi terhadap pasien muslim. QALAMUNA:
Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 11(1), 83-92.
Fajrussalam, H., Hasanah, I. A., Asri, N. O. A., & Anaureta, N. A. (2022). Peran Agama Islam bagi Kesehatan Mental Mahasiswa. Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan Islam, 5(1), 22-36.
Lubis, I., Ulya, A. R., & Latipah, E. (2023). Peran Agama dalam Membentuk Kesehatan Mental Pada Remaja Mesjid. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 5(1), 1848-1854.
Pratiwi, C., & Kamila, N. F. (2023). Analisis Teoritis Mendalam tentang Manfaat Sholat Tahajud terhadap Kesehatan Mental. Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 2(6), 992-1000.