ANALISIS KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT "TRUMP WALL" MELALUI GROUP LEVEL OF ANALYSIS
Ummu Hani’
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
[email protected] Abstrak
Sebagai negara yang memiliki populasi terbesar di dunia, Amerika Serikat menjadi negara yang menerima banyak imigran dari berbagai negara, terutama berasal dari Meksiko. Kebijakan tentang pembatasan imigran di wilayah perbatasan sebenarnya telah ada pada masa kepemimpinan presiden pertama AS, George W. Bush. Sejak terjadi peristiwa 9/11, pemerintah AS semakin protektif dalam melindungi keamanan nasionalnya. Berbagai cara dan kebijakan telah dibuat demi mencegah ancaman dari luar. Di era Donald Trump, masalah imigran menjadi isu yang kontroversial. Kebijakan “Trump Wall” mendapat banyak dukungan maupun penolakan dari berbagai pihak. Artikel jurnal ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dampak dan peran kelompok-kelompok kolektif dalam pembangunan “Trump Wall” melalui konsep Group Level of Analysis. Dengan analisis ini, kita dapat memahami lebih dalam bahwa sebuah kebijakan tidak hanya dipengaruhi oleh aktor individu, melainkan mendapat pengaruh dari kelompok-kelompok lain.
Kata kunci : Imigran, Amerika Serikat, Trump Wall, Level Group of Analysis Abstract
As the most populous country in the world, the United States is a country that receives many immigrants from various countries, especially from Mexico. The policy of restricting immigrants at the border actually dates back to the first president of the US, George W. Bush. Since 9/11, the US government has become more protective of its national security. Various methods and policies have been made to prevent external threats. In the Donald Trump era, the immigrant issue has become a controversial issue. The "Trump Wall" policy has received a lot of support and rejection from various parties. This journal article aims to analyze the impact and role of collective groups in the construction of the "Trump Wall" through the concept of Group Level of Analysis. With this analysis, we can understand more deeply that a policy is not only influenced by individual actors, but also by other groups.
Keywords: Immigrants, United States, Trump Wall, Group Level of Analysis
1. Pendahuluan
Amerika Serikat merupakan negara yang cukup rawan dengan masalah imigran. Imigran ilegal terjadi karena adanya arus imigrasi (seseorang maupun kelompok) dari satu tempat ke tempat yang lainnya tanpa mematuhi syarat dan ketentuan undang-undang yang berlaku di suatu negara. Biasanya, imigran ilegal melewati daerah-daerah perbatasan sebagai jalur untuk
memasuki wilayah atau negara tujuan. Sebagai negara yang memiliki populasi terbesar di dunia, Amerika Serikat menjadi negara yang menerima banyak imigran dari berbagai negara, terutama berasal dari Meksiko. Isu imigran telah ada sejak abad ke-16 dan semakin mengalami perkembangan hingga saat ini.
Pada awalnya, imigran dari Meksiko datang untuk mengatasi kurangnya tenaga kerja AS akibat Perang Dunia II.1 Imigran di AS terus mengalami lonjakan sejak tahun 1980-an. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah AS berinisiasi untuk membuat kebijakan bagi keamanan nasionalnya. Kebijakan tentang pembatasan imigran di wilayah perbatasan sebenarnya telah ada pada masa kepemimpinan presiden pertama AS, George W. Bush. Selama masa kepresidenannya, Bush menjadikan isu imigran sebagai prioritas utama dengan memperkuat keamanan di wilayah-wilayah yang rentan seperti daerah perbatasan. Kecurigaan pemerintah AS terhadap imigran mulai bertambah terlebih pasca tragedi 9/11 di tahun 2001. Pemerintah AS khawatir akan keamanan nasionalnya dan menganggap bahwa keberadaan imigran menjadi sebuah ancaman.2 Kebijakan keamanan di wilayah perbatasan telah menjadi isu penting yang harus diprioritaskan pemerintah AS.
“Trump Wall” merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Donald Trump untuk membangun tembok besar di wilayah perbatasan AS-Meksiko. Kebijakan ini telah dikampanyekan Trump saat pemilu 2016 dan mulai diterapkan pada tahun 2017. Tujuan dari kebijakan ini untuk menjaga keamanan nasional AS sebab permasalahan seperti imigran gelap, penyelundupan senjata dan obat-obatan terlarang seperti narkoba dapat mengancam keamanan dan stabilitas nasional AS. Rencana Donald Trump untuk melanjutkan pembangunan tembok perbatasan mendapat banyak pro dan kontra dari berbagai kalangan. Beberapa pihak mendukung kebijakan ini karena menganggap dapat meminimalisir tindak kejahatan yang ada di daerah perbatasan, namun terdapat pula pihak lain yang menolak keras dengan alasan telah melanggar hak-hak asasi manusia, biaya yang cukup mahal, tidak efektif, dan lain sebagainnya.
Dalam tulisan ini, penulis menganalisis kebijakan “Trump Wall” menggunakan Group Level of Analysis. Melalui analisis level kelompok, kita dapat memahami bahwa proses pembentukan suatu kebijakan tidak hanya dipengaruhi oleh aktor individu seperti pemimpin atau 1 Putri Rahmadhani, “Perubahan kebijakan luar negeri AS dalam mengatasi imigran ilegal di perbatasan dengan meksiko”, (2023), Skripsi, hal 4
2 Marshanda, Hermini, dan Satwika, “Analisis Sekuritisasi Presiden Donald Trump Dalam Kebijakan Protecting The Nation From Foreign Terrorist Entry Into The United States (2016-2019)”, Journal of International Relations, Volume 8, Nomor 2, 2022, hal 133 - 149
presiden. Kelompok-kelompok kolektif juga memiliki peran penting dalam memberikan pengaruh terhadap isu-isu yang semakin kompleks, terutama dalam kebijakan “Trump Wall”.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif deskriptif.
Dengan pendekatan kualitatif, peneliti dapat memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang kebijakan Trump dengan melihat dari sudut pandang kelompok-kelompok sosial, seperti partai politik, kelompok kepentingan, gerakan sosial, atau kelompok etnis, yang bisa mempengaruhi keputusan dan tindakan Trump dalam isu tembok perbatasan dengan Meksiko.
Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data sekunder dengan memperoleh dari sumber-sumber bacaan dari website berita, artikel jurnal, skripsi, e-book, dan website resmi AS.
2. Pembahasan
2.1 Konsep Group Level Analysis
Dalam hubungan internasional, aktor negara bukan menjadi aktor primer dalam menentukan sebuah kebijakan. Munculnya aktor lain seperti kelompok entitas kolektif seperti partai politik, kelompok kepentingan, organisasi non-pemerintah, kelompok etnis dan lain sebagainnya telah menggeser posisi aktor negara sebagai aktor prioritas dalam membentuk sebuah kebijakan.3 Untuk memahami dinamika tersebut, diperlukan pendekatan khusus untuk menggali peran dan dampak dari kelompok-kelompok ini. Group level analysis atau tingkat analisis kelompok merupakan salah satu level yang digunakan dalam kajian Hubungan Internasional.
Tingkat analisis ini berfokus pada perilaku, interaksi, dan pengaruh kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik dan tujuan tertentu seperti partai politik, kelompok kepentingan, kelompok etnis, atau organisasi non-pemerintah4. Dengan tingkat analisis kelompok, kita dapat memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena internasional menggunakan teori yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan kelompok-kelompok tersebut. Tidak hanya negara, kelompok- kelompok entitas kolektif juga memiliki kepentingan, pandangan dan tujuannya tersendiri dalam 3 Carmen Gebhard, “Levels of Analysis in International Relations,” in International Relations, ed. Stephen McGlinchey, Rosie Walters, and Christian Scheinpflug (Bristol: E-International Relations Publishing, 2017), 19-28.
4 Rizki Sari Fadillah, “Tingkat-tingkat analisa”, (2013), Scribd, Diakses pada 20 Oktober 2023
membentuk kebijakan luar maupun dalam negeri suatu negara. Di era globalisasi seperti saat ini, kelompok entitas kolektif semakin memiliki posisi penting dalam membentuk peristiwa dan kebijakan global.
2.2 Kebijakan “Trump Wall” oleh Donald Trump (2016-2019)
“Trump Wall” adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh Donald Trump untuk membangun tembok besar di wilayah perbatasan AS-Meksiko. Sejak terpilihnya menjadi presiden pada tahun 2017, Donald Trump mengubah arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang sebelumnya soft power dan toleran menjadi isolasionisme dan unilateralisme.5 Beliau sangat tegas dan menganggap bahwa kepentingan dalam negeri lebih penting dibanding kepentingan luar negerinya. Kebijakan unilateralisme yang diterapkan Trump berdampak langsung pada Meksiko.
Hal itu terjadi karena doktrin unilateralisme yang bersifat ‘mendukung tindakan sepihak’.
Maksudnya, sebuah keputusan dapat diambil oleh sepihak tanpa memperdulikan bagi pihak yang lain. Amerika Serikat yang dipimpin oleh Donald Trump membuat keputusan untuk melanjutkan pembangunan tembok perbatasan di wilayah selatan AS-Meksiko.6 Hal inilah yang dimaksud dengan sifat unilateralisme. Kebijakan “Trump Wall” diambil sepihak oleh AS tanpa memperdulikan dari pihak Meksiko.
Kebijakan tentang pembangunan tembok perbatasan sebenarnya telah ada sejak Presiden Pertama Amerika Serikat, George W. Bush. Usulan tersebut mulai ada pada tahun 1980-an dan kembali menjadi kontroversial pada tahun 2016. Sebagai seorang Republik, Trump ingin melanjutkan kebijakan tersebut dengan memperluas pembangunan di sepanjang wilayah perbatasan dengan panjang 2.000 mil7. Keinginan tersebut telah dikampanyekan Trump saat pemilihan umum Amerika Serikat pada tahun 2016. Pembangunan tembok perbatasan memiliki tujuan yakni menjaga keamanan nasional AS. Isu imigran gelap, penyelundupan senjata dan obat-obatan terlarang seperti narkoba menjadi masalah penting bagi Amerika Serikat. Adanya tembok perbatasan diharapkan dapat mencegah datangnya para imigran dan penyelundupan barang-barang ilegal dari Meksiko ke Amerika Serikat sebab jika dibiarkan akan menjadi ancaman terhadap identitas, nilai dan kepentingan nasional AS.
5 Bayu Saputra, “Analisis Pengaruh Partai Republik terhadap Kebijakan Luar Negeri ‘Trump Wall’ di Perbatasan AS - Meksiko,” Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi 4, no. 1 (2020): 1-14. 1.
6 Ibid hal 122
7 Nathian Shae Rodriguez dan Mariana De Maio, “Straddling the Wall: Comparative Framing of Trump’s Border Wall in U.S. and Mexican Newspapers,” Journalism & Mass Communication Quarterly 96, no. 2 (2019): 516-38. 1
Pada 25 Januari 2017, Trump mengeluarkan perintah eksekutifnya untuk segera membangun tembok perbatasan. Biaya pembangunan diperkirakan akan menghabiskan sebanyak
$8-12 miliar. Kebijakan yang dicanangkan Trump mendapat dukungan penuh dari partai nya yakni Partai Republik yang konservatif. Namun, kebijakan ini juga mendapat pertentangan dari berbagai pihak seperti Pemerintah Meksiko, Partai Demokrat AS, aktivis dan lain sebagainnya.
Pemerintah Meksiko yang saat itu dipimpin oleh Enrique Peña Nieto menolak klaim Trump tentang biaya pembangunan yang akan dibayar oleh pemerintah Meksiko.8 Nieto dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah Meksiko tidak akan membayar biaya tersebut.
Selain itu, dari pihak lain seperti Partai Demokrat juga menentang rencana tersebut dan menyatakan bahwa pembangunan tembok perbatasan hanya akan membuang-buang dana AS.
Banyaknya biaya yang dikeluarkan membuat Kongres AS enggan untuk menyetujui rencana tersebut. Setelah 3 tahun berlalu, tembok perbatasan berhasil di bangun sepanjang 110 mil.
Namun, keefektifan pembangunan tersebut masih banyak diperdebatkan oleh beberapa pihak, terutama Partai Demokrat yang dari awal tidak menyetujui rencana Trump.9 Banyak kritikan yang menyatakan bahwa tembok pembatas tidak efektif dalam mengurangi imigran dan penyelundupan barang-barang ilegal. Berdasarkan data dari Custom and Border Protection (CBP) tahun 2019, jumlah imigran ilegal yang masuk mengalami kenaikan dan penurunan.
Kenaikan terjadi pada Mei 2019 dengan jumlah imigran yang tertangkap sebanyak ±130.000 dan mengalami penurunan pada Juli 2019 menjadi sebanyak ±70.000 an.10
2.3 Analisis kebijakan “Trump Wall” melalui Group Level of Analysis
Dalam kasus ini, kita dapat menganalisis menggunakan Group Level of Analysis dengan menyatakan bahwa kebijakan “Trump Wall” tidak hanya dipengaruhi oleh pemimpin seperti Presiden, melainkan melibatkan kelompok-kelompok sosial seperti partai politik, kelompok kepentingan, organisasi non-pemerintah, kelompok etnis dan lain sebagainnya. Kelompok- kelompok tersebut memiliki pengaruh dan perannya dalam kebijakan “Trump Wall”. Pertama,
8 BBC Indonesia. "Meksiko tolak danai proyek tembok perbatasan AS-Meksiko". BBC News Indonesia, 26 Januari 2017.1
9 Andani, Tiya. “Alasan Pemerintah Amerika Serikat Donald Trump Menerapkan Kebijakan Kontroversial Terhadap Meksiko Melalui Pembangunan Tembok dan Pembatasan Imigran Ilegal (2016-2020).” 2020. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Malang.
10 U.S. Customs and Border Protection. “U.S. Border Patrol Southwest Border Apprehensions by Sector Fiscal Year 2019.” U.S. Customs and Border Protection, n.d. 1.
partai politik. Partai politik AS didominasi oleh partai republik dan demokrat. Keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda, Republik lebih konservatif sedangkan Demokrat lebih liberalis. Dalam kasus imigran, Partai Republik sangat mendukung ide tentang pembangunan tembok perbatasan, berbeda dengan Partai Demokrat yang sangat menolak adanya pembangunan karena dinilai tidak efektif dan hanya membuang-buang dana.11 Partai Republik menganggap bahwa kebijakan “Trump Wall” dapat melindungi keamanan nasional AS. Sedangkan Partai Demokrat menganggap bahwa kebijakan “Trump Wall” adalah bentuk xenofobia, rasisme, dan isolasionisme terhadap imigran luar. Demokrat juga mengkritik habis-habisan masalah ini dan melakukan berbagai cara agar kebijakan ini dapat digagalkan.
Kedua, kelompok imigran. Kebijakan “Trump Wall” paling berdampak pada kelompok imigran. Mereka menganggap bahwa kebijakan tersebut dapat mengancam posisinya sebagai warga asing di wilayah AS. Kelompok imigran sangat menentang kebijakan ini karena mereka akan terdiskriminasi dan tertindas serta akan mengalami kesulitan dalam proses imigrasi, suaka, atau kewarganegaraan.12 Mereka berusaha untuk melawan atau menghindari kebijakan ini melalui jalur hukum, politik atau sosial. Ketiga, Pemerintah Meksiko. Selain kelompok imigran, Pemerintah Meksiko juga menjadi pihak yang paling berdampak akibat kebijakan ini. Adanya dinding penghalang membuat Meksiko merasa dihina, diintimidasi, dan dimanfaatkan oleh AS.
Pemerintah Meksiko juga menolak terkait klaim Trump tentang pembiayaan dana yang akan di bayarkan oleh Meksiko. 13
Keempat, organisasi Non-Pemerintah (NGO). Pembangunan tembok telah menimbulkan berbagai dampak seperti pelanggaran hak asasi manusia dan dampak sosial dari pembangunan tembok perbatasan. Masalah seperti ini telah dipantau oleh beberapa NGO seperti Human Rights Watch, Amnesty International, dan Border Angels. Mereka saling bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran internasional tentang situasi di perbatasan AS-Meksiko, mempengaruhi opini publik, dan kebijakan internasional terkait imigrasi. Kelima, kelompok kepentingan seperti Federasi Imigran Amerika Serikat, ACLU, dan Organisasi Imigran. Federasi Imigran Amerika Serikat atau Federation for American Immigration Reform (FAIR) merupakan organisasi nirlaba yang bergerak dalam pengurangan legal dan ilegal di AS. FAIR menyatakan ketidaksetujuannya terkait tembok perbatasan karena pembangunan tersebut dianggap tidak 11 Ibid hal 7
12 Ibid hal 45 13 Ibid
efektif, dan hanya akan merugikan lingkungan. Mereka melakukan kampanye publik, melobi legislatif, untuk menyatakan pandangan mereka yang kontra terhadap “Trump Wall”14. Begitu juga dengan American Civil Liberties Union (ACLU) yang sama-sama menolak dan mengkritik bahwa kebijakan tersebut dapat melanggar hak-hak imigran, pemilik tanah, dan penduduk asli yang berada di wilayah dekat perbatasan. ACLU juga menggugat pemerintah Trump terkait pengalihan dana dari Departemen Pertahanan dan deklarasi keadaan darurat nasional yang digunakan untuk mendanai proyek tersebut. Dan yang terakhir, Organisasi hak imigran seperti National Immigration Law Center (NILC), Human Rights Watch (HRW), Amnesty International (AI), dan Border Angels (BA) juga melakukan hal yang sama yakni penolakan terhadap “Trump Wall”. Mereka dengan tegas tidak menyetujui dan melakukan berbagai aksi dan aktivitas untuk membantu imigran, melindungi lingkungan, mengawasi pelaksanaan hukum, atau menyuarakan pendapat mereka kepada publik dan pemerintah.
Dapat kita lihat bahwa setiap kelompok-kelompok tersebut memiliki peran masing- masing, dan kita juga bisa melihat bagaimana interaksi serta pengaruh mereka telah membentuk berbagai perdebatan pro dan kontra terhadap “Trump Wall”. Disisi lain terdapat kelompok mendukung sebagai langkah untuk meningkatkan keamanan nasional, namun disisi lain juga terdapat kelompok menolak karena menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan dapat mengancam penduduk setempat, tidak efektif, dan merusak lingkungan. Jadi, analisis ini dapat membantu memahami bahwa kebijakan luar negeri yang diusulkan Trump bukan hanya berasal dari keputusan pemerintah melainkan mendapat pengaruh lain akibat semakin kompleksnya dinamika yang terjadi di kelompok masyarakat.
3. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Amerika Serikat mengalami permasalahan imigran sejak lama.
Dalam mengatasi isu tersebut, pemerintah AS melakukan berbagai cara untuk meminimalisir arus imigran terutama di wilayah perbatasan AS-Meksiko. Para pemimpin dari era ke era mencoba berbagai solusi untuk mengatasi daerah perbatasan. Kebijakan perbatasan kembali menjadi kontroversial sejak pemerintah Donald Trump (2017), Ia menciptakan “Trump Wall”
untuk menjaga keamanan nasional AS. Namun, kebijakan ini tidak terlepas dari kontra dari 14 Taufik, Sundari Ayu Pratiwi, “AMERICAN FIRST: KEBIJAKAN DONALD TRUMP DALAM PEMBATASAN KAUM IMIGRAN KE AMERIKA SERIKAT”, Journal of International Studies, hal 226
berbagai kalangan. Dengan analisis Group Level of Analysis, kita dapat memahami bahwa pembuatan kebijakan tidak hanya dipengaruhi oleh seorang pemimpin (presiden), tetapi melibatkan juga dari kelompok-kelompok kolektif seperti partai politik, kelompok kepentingan, organisasi non-pemerintah, kelompok etnis dan lain sebagainnya. Setiap kelompok memiliki peran dan pengaruhnya masing-masing dalam menanggapi “Trump Wall”.
Referensi Artikel jurnal
Aulia, Marsanda, Hermini Susiatiningsih, dan Satwika Paramasatya. 2022. “Analisis Sekuritisasi Presiden Donald Trump Dalam Kebijakan.” e-journal undip Volume 8, Nomor 2:133–49.
Gebhard, Carmen. 2022. “Levels of Analysis in International Relations.” International Relations 1–2.
Hartanto, Aprilliana Lista. 2017. “Illegal Immigrant & Narcotics Smuggling.” 133–43.
Taufik, dan Sundari Ayu Pratiwi. 2021. “American First : Kebijakan Donald Trump dalam Pembatasan Kaum Imigran ke Amerika Serikat.” Intermestic: Journal of International Studies 6(1):221. doi: 10.24198/intermestic.v6n1.11.
Saputra, Bayu. 2022. “ANALISIS PENGARUH PARTAI REPUBLIK TERHADAP KEBIJAKAN LUAR NEGERI ‘TRUMP WALL’ DI PERBATASAN AS – MEKSIKO.” Vol. 2 No. 1:116–31.
doi: https://doi.org/10.15642/siyar.2022.2.1.116-131.
Sari Fadillah, Rizki. 2013. “Scribd.” Scribd. Diambil 20 Oktober 2023 (https://id.scribd.com/embeds/224263903/content?
start_page=1&view_mode=scroll&access_key=key-fFexxf7r1bzEfWu3HKwf).
Halaman web
Anon. 2019. “Tembok Trump - semua yang perlu Anda ketahui tentang perbatasan AS dalam tujuh
grafik - BBC News.” Diambil 20 Oktober 2023
(https://web.archive.org/web/20190515110129/https://www.bbc.com/news/world-us-canada- 46824649).
Anon. t.t.-a. “Southwest Border Migration FY 2019 | U.S. Customs and Border Protection.” Diambil 20 Oktober 2023 (https://www.cbp.gov/newsroom/stats/sw-border-migration/fy-2019).
Anon. t.t.-b. “Southwest Land Border Encounters FY22 | U.S. Customs and Border Protection.”
Diambil 20 Oktober 2023 (https://www.cbp.gov/newsroom/stats/southwest-land-border- encounters-fy22).
BBC Indonesia. 2023. “Meksiko tolak danai proyek tembok perbatasan AS-Meksiko - BBC News Indonesia.” Diambil 20 Oktober 2023 (https://www.bbc.com/indonesia/dunia-38754413).
Dunn, Amina. 2019. “Most Border Wall Opponents, Supporters Say Shutdown Concessions Are Unacceptable.” Pew Research Center - U.S. Politics & Policy. Diambil 20 Oktober 2023 (https://www.pewresearch.org/politics/2019/01/16/most-border-wall-opponents-supporters-say- shutdown-concessions-are-unacceptable/).
Hansen, Claire. 2022. “How Much of President Donald Trump’s Border Wall Was Built?” US News.
Diambil 21 Oktober 2023 (https://www.usnews.com/news/politics/articles/2022-02-07/how- much-of-president-donald-trumps-border-wall-was-built).
Team, AV Web. t.t. “Reasons to Oppose the Border Wall.” America’s Voice. Diambil 20 Oktober 2023 (https://americasvoice.org/nowall/).