Analisis Kelayakan Usahatani Campuran Tanaman Kubis Lahan dan Kelor di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dibawah bimbingan ABDUL HALIL dan ASRIYANTI SYARIF. Berdasarkan hasil tersebut, maka ada baiknya dilakukan tumpangsari tanaman kangkung dan kelor di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Kegunaan Penelitian
Berapa biaya produksi dan pendapatan dari menanam tanaman kangkung dan kelor secara bersama-sama di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Untuk menganalisis kelayakan usahatani antar budaya dengan tanaman kangkung dan kelor di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
TINJAUAN PUSTAKA
Analisis Kelayakan Usahatani
R/C merupakan perbandingan antara penerimaan penjualan dengan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi untuk menghasilkan produk (Soekartawi, 2000). Harga adalah nilai tukar barang atau jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter.
Usahatani
Biaya tetap, sekumpulan biaya yang perubahan biayanya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh besar kecilnya kegiatan operasional perusahaan. Biaya variabel, serangkaian biaya yang perubahan biayanya ditentukan atau dipengaruhi oleh besar kecilnya kegiatan operasional perusahaan.
Tanaman Kangkung Darat
Kubis ladang membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, dan tidak mudah berlumpur (berlumpur). Pada tanah yang berlumpur, akar dan batang tanaman kangkung akan mudah busuk atau mati.
Tanaman Kelor
Tanaman kelor yang tumbuh dari biji memiliki batang lebih kecil, cabang lebih sedikit dan menghasilkan daun lebih sedikit. Stek yang digunakan harus berasal dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari enam bulan.
Kerangka Pikir
Dan untuk mengetahui kelayakan perkawinan silang kangkung dengan kelor, pendapatan dibagi dengan total biaya budidaya kangkung. Tumpang sari dengan sistem jagung-kedelai Jajar Legowo meningkatkan besarnya biaya yang harus ditanggung petani, namun jumlah pendapatan dan pendapatan dari tumpang sari lebih besar dibandingkan budidaya jagung monokultur. Analisis Pendapatan Tanaman Tumpang Jagung dan Ubi Kayu (Studi Kasus : Desa Mencirim Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai).
Usahatani jagung dan singkong di Desa Mencirim dilihat dari R/C dimungkinkan karena nilai R/C lebih besar dari satu yaitu 2,95. Jadi total pendapatan yang diperoleh petani responden dari menanam jagung dan kacang tanah adalah sebesar Rp. Artinya terdapat perbedaan pendapatan yang nyata antara tumpangsari jagung kacang tanah dan monokultur jagung.
Pendapatan dari hasil panen jagung dan padi gogo di Desa Pekik Niring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah dalam satu musim tanam. 35 Jagung dan Padi Gogo di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu, 2.7 Tanaman Jagung dan Padi Gogo di Desa Pekik Nyaring ≥ 1 Artinya usahatani efisien. B/C rasio tanaman jagung dan padi gogo di Desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu adalah 1,6, penggabungan jagung dan padi gogo di Desa Pekik Nyaring menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari total biaya, sehingga usaha ini layak, tabur tanaman jagung dan padi Gogo ini mempunyai potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Bengkulu Tengah.
III METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Teknik Penentuan Sampel
Jenis dan Sumber Data
Data kuantitatif adalah suatu jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dalam angka atau dalam bentuk angka. Menurut Sugiyono (2018) data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen. Misalnya data yang diperoleh dari kantor desa, kantor kecamatan, serta instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup data kondisi umum lokasi dan data sosial ekonomi serta Departemen Pertanian. .
Teknik Pengumpulan Data
Cara pengumpulan datanya adalah dengan melakukan observasi langsung di lapangan atau di lahan pertanian kangkung dan kelor untuk memperoleh data terkait budidaya kangkung dan kelor. Cara ini dilakukan melalui tanya jawab berupa kuisioner kepada responden tertentu (petani), dalam hal ini petani yang menanam tanaman kangkung dan kelor. Teknik ini dilakukan melalui teknik pencatatan data-data yang diperlukan baik dari responden (petani) maupun instansi terkait yang terlibat dalam penelitian ini.
Teknik Analisis Data
Usahatani kangkung dan kelor merupakan suatu usaha pertanian yang dilakukan dengan membudidayakan dua jenis tanaman dalam satu lahan yaitu kangkung dan kelor. Luas lahan adalah total luas lahan yang digunakan oleh petani yang melakukan tanaman sela tanaman kangkung dan kelor untuk menanam tanaman kangkung dan kelor yang diukur dalam satuan hektar (Ha). Benih adalah jumlah bibit tanaman kangkung dan kelor yang digunakan oleh petani dalam bidang pertanian setiap musim tanam pada suatu luas lahan tertentu, dinyatakan dalam kilogram per hektar pada suatu musim tanam (kg/ha/musim tanam).
Pupuk adalah penggunaan pupuk sebagai penunjang tumpang sari dengan tanaman kangkung dan kelor tanah setiap musim tanam yaitu pupuk organik, urea, TSP atau SP36, KCL, NPK, ZA yang diukur dalam kilogram per hektar dalam satu musim tanam (kg/ ha/penanaman musiman). Pestisida adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan atau membasmi hama atau penyakit yang menyerang tanaman kangkung dan kelor di dalam tanah, yang diukur dalam kilogram per hektar dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam). Pekerja adalah orang yang mengeluarkan tenaganya untuk melakukan pekerjaan pertanian tumpang sari tanaman kangkung dan kelor dan dibayar dalam bentuk uang (upah).
Produksi adalah hasil tanaman kangkung dan kelor yang dihasilkan dalam satu musim tanam, dalam satuan kilogram per hektar dalam satu musim tanam (kg/ha/musim tanam). Harga eceran adalah harga eceran tanaman kangkung dan kelor yang diterima petani, diukur dalam rupiah per kilogram (Rp/kg). Kelayakan usahatani menjadi pertimbangan dalam memutuskan apakah menanam kangkung dan kelor layak ditanam atau tidak.
Kondisi Geografis
Kondisi Demografis
- Jumlah Penduduk Kelurahan Bontoramba
- Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan
- Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
46 Tabel 3 menunjukkan bahwa Desa Bontoramba, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa berpenduduk 4.208 jiwa, yang terdiri dari 2.019 jiwa laki-laki dan 2.117 jiwa perempuan. Hal ini menjelaskan bahwa di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sedangkan penduduk laki-laki terbanyak di Desa Bontoramba berusia 10-15 tahun sebanyak 247 jiwa, terendah berusia 60-64 tahun sebanyak 55 jiwa, dan terbanyak berjenis kelamin perempuan berusia 10-15 tahun dengan jumlah penduduk terbanyak. berjumlah 250 orang, yang terkecil berumur 60-64 tahun dengan jumlah 55 orang.
Semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya dalam mengelola usahataninya sehingga dapat mempengaruhi hasil produksi dan pendapatan. Selain itu, tingkat pendidikan akan memudahkan petani dalam menerima dan mengadopsi berbagai inovasi baru dalam teknik budidaya dan manajemen pasca panen. Komposisi penduduk menurut mata pencaharian digunakan untuk memberikan gambaran mengenai jumlah penduduk yang bekerja pada berbagai sektor kegiatan.
Karakteristik Responden
- Umur Responden
- Tingkat Pendidikan Petani Responden
- Jumlah Tanggungan Keluarga
- Pengalaman Berusahatani
- Luas Lahan
Jumlah anggota keluarga yang bergantung pada petani kentang dan kacang-kacangan di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut. Jumlah tanggungan keluarga petani yang menanam tanaman sela kelor dan menanam kubis di Desa Bontoramba pada tahun 2022. Anggota keluarga responden yang menjadi tanggungan keluarga dalam penelitian ini berperan aktif dalam membantu pelaksanaan usahatani tumpang sari.
Lahan yang dimiliki oleh petani responden penggabung lahan kangkung dan kelor di desa Bontoramba cukup luas dan merupakan lahan miliknya. Semakin luas lahan yang dimiliki petani di Desa Bontoramba maka produksinya pun semakin besar. Data luas lahan petani survei di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut.
Tabel 10 menunjukkan bahwa responden petani kombinasi kubis dan kelor di Desa Bontoramba mempunyai jumlah petani terendah dengan luas lahan yaitu sekitar 14 ha yaitu sebanyak 14 orang dengan persentase sebesar (39%). Sedangkan jumlah petani yang mempunyai lahan terluas pada tanaman sela kangkung dan kelor dengan luas lahan sekitar 6 ha sebanyak 6 orang dengan persentase sebesar (17%). Artinya, luas lahan petani di Desa Bontoramba, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa dinilai cukup luas untuk menghasilkan tanaman kangkung dan kelor yang memenuhi permintaan pasar lokal.
Keuntungan Usahatani Tumpang Sari Kangkung Darat Dan Kelor 1. Biaya Usahatani
- Keuntungan Usahatani
Oleh karena itu, hubungan luas lahan dengan pendapatan petani mempunyai hubungan yang positif (Isfrizal & Rahman, 2018). Biaya tetap dan biaya variabel kangkung dan kelor per bulan di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu. 56 Analisis profitabilitas kangkung dan kelor dapat dilakukan apabila terdapat data biaya-biaya yang dikeluarkan petani baik total maupun biaya tunai serta total pendapatan yang diperoleh petani.
Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa rata-rata jumlah produksi per hektar yang diperoleh petani yang disurvei dari penanaman tanaman kangkung dan kelor di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa menghasilkan 461,43 kg kangkung dalam satu musim tanam. . per bulan dan menghasilkan 63,72 kg daun kelor dalam sekali panen per bulan. 57 Dari Tabel 12 dapat disimpulkan bahwa rata-rata total pendapatan usahatani kangkung dan lahan kelor per hektar di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dalam satu musim panen adalah Rp.
Analisis Kelayakan Usahatani Tumpangsari Tanaman Kangkung Darat Dan Tanaman Kelor
- Analisis Kelayakan Benefit Cost Ratio (B/C)
Semakin tinggi nilai R/C Ratio maka keuntungan yang diperoleh akan semakin tinggi. Berdasarkan nilai R/C Ratio maka tumpang sari lahan kangkung dan kelor di Desa Bontoramba Kecamatan Somba Opu layak dilakukan dengan kriteria R/C Ratio >1. Berdasarkan kriteria kelayakan budidaya tanaman kangkung dan kelor di desa Bontoramba kecamatan Somba Opu dengan perhitungan B/C > 1 maka usaha budidaya tanaman kangkung dan kelor di desa Bontoramba kecamatan Somba Opu untuk sementara dikatakan layak secara finansial. layak dan bermanfaat.
Kesimpulan
Saran
Untuk memaksimalkan keuntungan dari tumpang sari tanaman kangkung dan kelor, petani disarankan melakukan upaya peningkatan nilai kegunaan tanaman tersebut, misalnya dengan mengolah daun kelor yang sudah dipanen menjadi teh herbal dan mengemasnya sebaik mungkin. Diharapkan kepada lembaga penyuluhan pertanian yang berperan memberikan pelatihan manajemen demi kemajuan usaha kecil dan menengah, untuk mendidik mereka tentang pentingnya manajemen dalam menjalankan usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Penguasaan Lahan
Pupuk yang digunakan
Bibit Yang Digunakan
Tenaga Kerja
Nilai Penyusutan Alat
Pajak Lahan
Nama Luas Tanah (Ha) Jumlah peralatan (satuan) Nilai awal (Rp) Nilai sisa (Rp) Masa manfaat (tahun) Jumlah (Rp).
RIWAYAT HIDUP