III METODE PENELITIAN
5.1. Karakteristik Responden
49 V. HASIL DAN PEMBAHASAN
50 Umur termasuk dapat berpengaruh pada tingkat kemampuan petani untuk mengelola usahatani nya. Seperti pada table 6 petani responden memiliki umur berkisar antara 18 - 65 tahun keatas.. Jika kita lihat pada golongan umur petani reponden, petani respoden terbanyak berada diumur 50 - 57 tahun yang berjumlah 10 orang atau sebesar 28%. Sedangkan petani responden paling sedikit berada diumur 26 – 33 dengan persentase 6%.
Salah satu indikator dalam menentukan produktivitas kerja dalam melakukan pengembangan usaha adalah tingkat umur, dimana usia petani yang relatif muda lebih kuat bekerja, cekatan, mudah menerima inovasi baru, tanggap terhadap lingkungan sekitar bila dibandingkan tenaga kerja yang sudah berumur lanjut sering menolak inovasi baru (Soekartawi, 2001).
5.1.2. Tingkat Pendidikan Petani Responden
Pendidikan merupakan faktor yang juga dapat mempengaruhi tingkat berfikir seseorang dalam mengelola usahataninya. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka tingkat pengetahuan dalam memanajmen usahataninya juga akan tinggi, sehingga dapat mempengaruhi hasil produksi dan pendapatan.
Selain itu, tingkat pendidikan akan membuat petani akan lebih mudah menerima serta mengambil berbagai inovasi baru tentang teknik budidaya dan cara mengelola pasca panen.
Data dalam penelitian ini yang diambil sebagai patokan adalah pendidikan formal yang pernah dilalui oleh petani untuk mengukur tingkat pengetahuannya.
Berikut ini distribusi identitas responden berdasarkan tingkat pendidikan.
51 Tabel 7. Pendidikan Terakhir Petani tumpang sari tanaman kelor dan kangkung
darat di Kelurahan Bontoramba Tahun 2022
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Tamat SD 16 44
2 Tamat SMP 4 11
3 Tamat SMA 11 31
4 Tamat S1 5 14
Jumlah 36 100
Sumber : Data Primer Diolah, (Tahun 2022).
Rendahnya tingkat pendidikan petani responden dapat dilihat pada tabel 7.
Petani dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) berjumlah 16 Orang atau 44%.
Kemudian petani dengan pendidikan formal sampai Sarjana (S1) berjumlah 5 orang atau 14%. Akan tetapi, tingkat pendidikan yang rendah teratasi dengan penyuluh pertanian yang ada dalam menyalurkan berbagai informasi yang update tentang usahatani tumpangsari tanaman kangkung darat dan kelor. Oleh sebab itu, petani yang pendidikannya rendah tetap dapat mempunyai pengetahuan tentang usahatani yang baik.
5.1.3. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan dalam penelitian ini merupakan jumlah keluarga petani yang masuk kedalam tanggungan keluarga. Adapun jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan petani tumpang sari tanaman kentang dan buncis di Kelurahan Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut.
Tabel 8. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani tumpang sari tanaman kelor dan kangkung darat di Kelurahan Bontoramba Tahun 2022
No Jumlah Tanggungan (Orang) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 0 – 2 17 47
2 3 – 5 16 44
3 6 – 8 3 8
Jumlah 36 100
Sumber : Data Primer Diolah, (Tahun 2022).
52 Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah tanggungan terbanyak ada pada kelompok 0 - 2 yakni sebanyak 17 orang (47%) kemudian kelompok umur 3 - 5 yaitu sebanyak 16 orang (44%) dan jumlah tanggungan yang paling sedikit terdapat pada kelompok 6 - 8 yakni 3 orang (8%). Anggota keluarga responden yang menjadi tanggungan keluarga dalam penelitian ini berperan aktif dalam membantu pelaksanaan usahatani tumpang sari. Suami berperan dalam pengolahan lahan, anak berperan dalam pemeliharaan tanaman dan istri berperan dalam melakukan pemanenan hasil usahatani.
5.1.4. Pengalaman Berusahatani
Keberhasilan suatu usahatani juga dapat ditentukan oleh pengalaman yang dimiliki. Tingkat pendidikan yang rendah tidak bisa mencerminkan bahwa pengetahuannya juga rendah, karena pengetahuan bisa didapat dari pembimbingan seorang penyuluh, pengalaman dari petani lain maupun diberikan orang tua dengan cara turun temurun. Petani yang memiliki pengalaman harusnya dapat meningkatkan produktivitas dibanding dengan petani yang memiliki pengalaman kurang. Distribusi jumlah pengusaha berdasarkan pengalaman usahataninya disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 9. Pengalaman Berusahatani tumpang sari tanaman kelor dan kangkung darat di Kelurahan Bontoramba Tahun 2022
No Lama Berusahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 2 – 10 10 28
2 11 – 19 6 17
3 20 – 28 4 11
4 29 – 37 9 25
5 38 – 46 7 19
Jumlah 36 100
Sumber : Data Primer Diolah, (Tahun 2022).
53 Tabel 9, menunjukkan bahwa responden dengan lama usahatani 2-10 tahun lebih mendominasi yaitu sebanyak 10 orang (28%). Petani dengan lama usahatani 11-19 tahun sebanyak 6 orang (17%), 20-28 tahun sebanyak 4 orang (11%), Petani dengan lama usahatani 29-37 tahun sebanyak 9 orang (25%).
sedangkan 38-46 tahun sebanyak 7 orang (19%). Lama berusahatani berhubungan dengan pengalaman petani terhadap permasalahan maupun pengelolaan sistem pertaniannya sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan agar tidak terjadi kesalahan yang sama dalam usahataninya (Hasyim, 2006).
5.1.5. Luas Lahan
Lahan yang dimiliki oleh responden petani tumpang sari kangkung darat dan kelor di Kelurahan Bontoramba cukup luas dan merupakan lahan milik sendiri. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani di Kelurahan Bontoramba, maka akan semakin besar pula hasil produksinya. Jika produksi petani semakin besar, maka pendapatan yang diterima juga akan semakin tinggi. Adapun data luas lahan responden petani di Kelurahan Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut.
Tabel 10. Luas Lahan Petani tumpang sari tanaman kelor dan kangkung darat di Kelurahan Bontoramba Tahun 2022
No Luas Lahan (ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 0,12 – 0,17 14 39
2 0,18 – 0,23 9 25
3 0,24 – 0,29 7 19
4 0,30 – 0,35 6 17
Jumlah 36 100
Sumber : Data Primer Diolah, (Tahun 2022).
54 Tabel 10 menunjukkan bahwa responden petani tumpang sari tanaman kangkung darat dan kelor di Kelurahan Bontoramba memiliki jumlah petani dengan luas lahan terendah yaitu dengan luas sekitar 0,12 – 0,17 ha yang berjumlah 14 orang dengan perentase (39%). Sedangkan jumlah petani yang memiliki lahan terluas dalam usahatani tumpang sari kangkung darat dan kelor dengan luas lahan sekitar 0,30 – 0,35 ha yang berjumlah 6 orang dengan persentase (17%). Hal ini berarti luas lahan petani di Kelurahan Bontoramba Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa tergolong cukup luas untuk mencapai hasil panen kangkung darat dan kelor yang mencukupi permintaan pasar lokal.
Jika luas lahan semakin meningkat, maka pendapatan petani juga akan meningkat begitupun sebaliknya. Jadi hubungan antara luas lahan dengan pendapatan petani mempunyai hubungan yang positif (Isfrizal & Rahman, 2018).
5.2. Keuntungan Usahatani Tumpang Sari Kangkung Darat Dan Kelor