• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kesesuaian Tata Ruang Lokasi Rumah Sakit

N/A
N/A
Januar Jody Ferdiansyah

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kesesuaian Tata Ruang Lokasi Rumah Sakit"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4 ANALISIS

KECENDERUNGAN

PERENCANAAN

(2)

BAB 4 ANALISIS KECENDERUNGAN PERENCANAAN

4.1 ANALISIS LOKASI RUMAH SAKIT

Analisis kesesuaian tata ruang adalah analisis yang dilakukan untuk melihat lokasi rencana pengembangan RSD serta disesuaikan fungsi ruangnya dengan RDTR dan RTRW yang berlaku. Analisis overlay yang dilakukan menggunakan Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jember Tahun 2015-2035.

Pada analisis struktur ruang meninjau posisi lokasi RSD pada peta rencana struktur ruang. Analisis yang dilakukan lebih melihat lokasi rumah sakit dengan pusat pelayanan dan sub pusat pelayanan Kota Jember. Pada analisis pola ruang meninjau posisi lokasi RSD dengan perencanaan fungsi lahan yang telah ditetapkan pada RTRW Kota Jember. Pada analisis ini menghasilkan informasi lokasi RSD pada rencana pola ruang dan juga fungsi kawasan apa saja yang ada pada sekitar RSD. Dapat diketahui bahwa lokasi RSD berada dekat dengan sub pusat pelayanan kota, melayani sub wilayah Kabupaten Jember Utara,

Pelayanan sekunder : perumahan, perkantoran, fasilitas umum dan ruang terbuka hijau. Lokasi RSD berada pada fungsi ruang fasilitas umum, untuk pelayanan sekunder.

Secara struktur dapat dikatakan fungsi ruang lokasi RSD sudah sesuai dengan peruntukkan pada peta struktur Kabupaten Jember yang berlaku.

Dapat diketahui bahwa lokasi RSD berada pada zona pelayanan umum yang secara definisi dapat digunakan untuk pembangunan yang berfungsi publik. Pada Kabupaten Jember fungsi lahan zona pelayanan umum tersebut digunakan untuk zona pelayanan kesehatan. Berdasarkan peta tersebut RSD dikelilingi oleh kawasan perumahan. Secara interaksi fungsi lahan, keberadaan fasilitas kesehatan tidak akan mengganggu aktivitas perumahan di sekitar, bahkan keberadaan fasilitas kesehatan akan membantu perumahan

(3)

4.3 ANALISIS KESEHATAN

4.3.1 Sumber Daya Manusia/ Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Jember seperti tercantum pada Tabel 2.28, jika dihitung rasionya untuk tenaga dokter spesialis adalah 118,4/100.000 penduduk, dokter umum 52,6/100.000 penduduk, dokter gigi 21,0/100.000 penduduk, perawat 385,0/100.000 penduduk, bidan 92,7/100.000 penduduk, kefarmasian 64,5/100.000 penduduk, kesehatan masyarakat 6,3/100.000 penduduk, sanitarian 7,0/100.000 penduduk, keterapian fisik 8,8/100.000 penduduk, keteknisian medis 29,0/100.000 penduduk, gizi 19,3/100.000 penduduk, laboratorium medik 27,9/100.000 penduduk dan teknik biomedika lainnya 18,6/100.000 penduduk. Dari SDM tersebut, rasio dokter umum, sanitarian dan keterapian fisik belum memenuhi target yang diharapkan yaitu masing- masing sebesar 112/100.000 penduduk, 35/100.000 penduduk dan 19,3/100.000 penduduk. Sedangkan rasio dokter spesialis, dokter gigi, perawat dan bidan sudah memenuhi target yang diharapkan yaitu masing-masing sebesar 118,4/100.000 penduduk, 11/100.000 penduduk, 158/100.000 penduduk dan 75/100.000 penduduk.

Walaupun hal ini tidak dapat menggambarkan rasio sebenarnya, mengingat banyak penduduk di luar Kabupaten Jember yang berobat di banyak pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember dan pencatatan serta pelaporan ketenagaan yang belum sempurna, namun kondisi SDM ini bisa menjadi gambaran dan pertimbangan bagi RSD dalam menentukan jenis layanan yang akan disediakan dan dikembangkan terutama pelayanan unggulan, karena jika RSD dikembangkan makan kebutuhan SDM-nya pun akan bertambah, tidak hanya kualitas tetapi kuantitasnya juga. Diperlukan strategi khusus dari RSD untuk mengatasi kebutuhan tenaga kesehatan ke depannya, misalnya selain SDM dari Fakultas Kedokteran Universitas Jember, RSD juga bisa kerjasama dengan SDM dari rumah sakit lain terutama dokter spesialis dan subspesialis.

4.3.2 Derajat Kesehatan 1. Angka Kematian

a. Angka Kematian Neonatal

Sustainable Development Goals (SDGs) menargetkan pada tahun 2030 angka kematian neonatal (AKN) setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup. Di Kota Jember, AKN dari tahun 2016-2019 mengalami penurunan setiap tahunnya, kecuali tahun 2020 mengalami kenaikan. Angka kematian neonatal tahun 2020 sebesar 5,10 per 1.000 kelahiran hidup, naik 1,80 dari tahun sebelumnya. Banyak faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya AKN diantaranya adalah BBLR dan asfiksia. Jika dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dalam SDGs, maka AKN di Kabupaten Jember sudah cukup baik karena sudah memenuhi target yang ditentukan. Walaupun demikian, upaya untuk mengurangi/ menurunkan AKN tetap harus dilakukan seperti peningkatan pelayanan ANC yang berkualitas dan terpadu, meningkatkan fungsi puskesmas, peningkatan SDM kesehatan dan meningkatkan

(4)

fungsi keluarga. Rumah Sakit Dr. Soebandi harus ikut berperan untuk menurunkan AKN misalnya dengan menyediakan pelayanan kesehatan ibu dan anak dan pelayanan lainnya yang terkait, didukung oleh SDM dan teknologi yang memadai, serta mengadakan penyuluhan/ edukasi kepada pasien tentang kehamilan dan persalinan, asupan nutrisi dan lain-lain.

b. Angka Kematian Bayi

Sustainable Development Goals menargetkan pada tahun 2030 mengakhiri kematian bayi (AKB) yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan AKB setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi di Kabupaten Jember dari tahun 2016-2020 mengalami perubahan setiap tahunnya, tahun 2020 sebesar 5,90 per 1.000 kelahiran hidup, naik 1,40 dari tahun sebelumnya. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab kematian bayi diantaranya adalah faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau di dapat selama kehamilan, yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar (eksogen), terutama tingkat pelayanan antenatal, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, kondisi lingkungan dan sosial ekonomi serta faktor aksesibilitas atau tersedianya berbagai fasilitas kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk mengubah dari pola tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan.

Banyak faktor juga yang dapat menyebabkan adanya peningkatan dan penurunan AKB. Faktor yang mempengaruhi meningkatnya AKB antara lain disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai standar, rendahnya tingkat pendidikan dan status ekonomi masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai yang dianjurkan, kurangnya partisipasi keluarga, masyarakat dan lintas program dalam program kesehatan ibu dan anak, belum optimalnya pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita serta kurangnya kualitas pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita. Sedangkan faktor yang dapat menyebabkan adanya penurunan AKB diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya.

Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak positif pada daya tahan bayi terhadap infeksi penyakit.

(5)

Jika dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dalam SDGs, maka AKB di Kabupaten Jember sudah cukup baik karena telah memenuhi target yang ditentukan. Terkait dengan rencana pengembangan RSD, dalam upaya penurunan AKB, maka RSD yang akan dikembangkan harus memiliki kemampuan memberikan pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif (PONEK) didukung oleh SDM dan teknologi yang memadai. Selain itu juga perlu didukung kemampuan sarana kesehatan dasar (puskesmas) dalam memberikan pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar (PONED). Sehingga sistem rujukan berjalan sesuai dengan tata kelola yang seharusnya.

c. Angka Kematian Balita

Tahun 2030 SDGs menargetkan mengakhiri kematian balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan angka kematian balita (AKABA) 25 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita di Kabupaten Jember selama lima tahun terakhir (2016-2020) mengalami perubahan setiap tahunnya, tahun 2020 sebesar 6,30 per 1.000 kelahiran hidup, naik 0,80 dari tahun sebelumnya. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya peningkatan dan penurunan AKABA antara lain rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai standar, rendahnya tingkat pendidikan dan status ekonomi masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai yang dianjurkan, kurangnya partisipasi keluarga, masyarakat dan lintas program dalam program kesehatan ibu dan anak, belum optimalnya pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita serta kurangnya kualitas pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita. Jika dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dalam SDGs, maka AKABA di Kabupaten Jember sudah cukup baik karena telah melampaui target. Walaupun demikian, upaya untuk menurunkan AKABA harus terus dilakukan, RSD bisa ikut berperan dengan cara menyediakan pelayanan kesehatan anak didukung dengan SDM dan teknologi yang memadai.

d. Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu (AKI) dalam SDGs menargetkan pada tahun 2030 mengurangi AKI hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2016- 2020, AKI di Kabupaten Jember mengalami perubahan setiap tahunnya. Tahun 2020 sebesar 85,50 per 100.000 kelahiran hidup, naik 10,40 dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dalam SDGs, AKI di Kabupaten Jember masih cukup tinggi karena belum memenuhi target yang ditentukan.

(6)

Penyebab tidak langsung tingginya AKI adalah faktor pendidikan ibu yang rendah, satus gizi ibu yang kurang serta terlalu muda usia ibu pada saat hamil.

Berdasarkan laporan dari fasilitas kesehatan, penyebab langsung kematian ibu maternal diklasifikasikan menjadi eklampsia (tekanan darah tinggi)/ preeklamsia berat, pendarahan, infeksi dan lain-lain. Eklamsia/ preeklamsia merupakan penyebab paling utama, diikuti dengan eklampsia. Faktor lain yang dapat menyebabkan adanya peningkatan dan penurunan AKI, diantaranya rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai standar, rendahnya tingkat pendidikan dan status ekonomi masyarakat terhadap perawatan kehamilan sesuai yang dianjurkan, kurangnya partisipasi keluarga, masyarakat dan lintas program dalam program kesehatan ibu dan anak, belum optimalnya pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita serta kurangnya kualitas pelayanan kesehatan terhadap ibu, bayi dan balita. Disamping itu minimnya sarana dan tenaga ahli di PPK 1 menyebabkan kasus kegawatdaruratan ibu kurang dapat ditangani dengan tepat dan cepat. Dengan kondisi demikian, pengembangan RSD harus memperhatikan hal ini dan ikut berperan menurunkan AKI misalnya dengan menyediakan pelayanan maternal yang didukung tenaga spesialis serta perawat mahir yang mampu dengan cepat dan tepat menangani kasus kegawatdaruratan ibu anak tanpa pasien harus menunggu lama untuk dirujuk sehingga mengalami keterlambatan penanganan.

2. Angka Kelahiran

Angka kelahiran di Kabupaten Jember selama lima tahun terakhir cenderung menurun setiap tahunnya (Tabel 2.16) dengan angka kelahiran rata-rata per tahunnya sebesar 13,87/1.000 penduduk. Sebagai salah satu sarana kesehatan yang ada di Kota Jember, RSD harus ikut berperan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat supaya kelahiran hidup semakin meningkat dan kelahiran mati semakin berkurang misalnya dengan menyediakan pelayanan ibu dan anak didukung dengan SDM dan teknologi yang memadai serta melakukan promotif/ edukasi kepada masyarakat/ pasien tentang kesehatan ibu anak, kehamilan, persalinan dan gizi.

3. Angka Kesakitan

a. Angka Kesakitan dan Pola Penyakit

Angka kesakitan di Kabupaten Jember pada tahun 2020 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya (Tabel 2.17). Angka ini digunakan untuk menghitung pasar dan proyeksi demand RSD untuk 20 tahun ke depan. Sedangkan pola penyakit terbanyak di Kabupaten Jember selama tahun 2016-2020 setiap tahunnya didominasi oleh kasus infeksi saluran pernafasan akut dan hipertensi.

Tahun 2020, kasus terbanyak adalah hipertensi diikuti oleh kasus infeksi saluran

(7)

pernafasan akut dan type 2 : non insulin dependen diabetes militus, sedangkan pola penyakit rawat inap terbanyak adalah kasus penyakit hipertensi lainnya.

Pola penyakit ini digunakan untuk menentukan arah pengembangan dan jenis pelayanan serta pelayanan unggulan yang tersedia di RSD. Pelayanan unggulan yang direkomendasikan di RSD antara lain adalah Jantung, Hipertensi dan Diabetes Melitus.

b. Penyakit Menular 1) Tuberkulosis Paru

Jumlah kasus baru BTA (+) di Kabupaten Jember selama tahun 2016-2018 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tahun 2017 sebanyak 586 kasus, naik 2,27% dari tahun sebelumnya yang sebanyak 573 kasus, sedangkan tahun 2018 mengalami kenaikan 29,35% menjadi 758 kasus. Angka notifikasi kasus (CNR) kasus baru TB paru pada tahun 2017 sebesar 68,03 per 100.000 penduduk, naik 1,12 dari tahun sebelumnya yang sebesar 66,91 per 100.000 penduduk. Tahun 2018 CNR kasus baru TB paru naik 19,49 menjadi 87,52 per 100.000 penduduk.

Selama tahun 2016-2020, jumlah semua kasus tuberkulosis di Kabupaten Jember mengalami perubahan setiap tahunnya. Tahun 2020 sebanyak 1.315 kasus, turun sebesar 33,08% dari tahun sebelumnya yang sebanyak 1.965 kasus, sedangkan CNR semua kasus tuberkulosis pada tahun 2020 sebesar 150,00 per 100.000 penduduk, turun sebesar 76,00 dari tahun sebelumnya yang sebesar 226,00 per 100.000 penduduk.

Angka kesembuhan (cure rate) TB paru BTA (+) di Kabupaten Jember selama tahun 2016-2020 cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun 2020 cure rate TB paru BTA (+) sebesar 63,90%, mengalami penurunan 0,20% dari tahun sebelumnya yang sebesar 64,10%.

Angka pengobatan lengkap (complete rate) TB paru BTA (+) di Kabupaten Jember selama tahun 2016-2020 mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Tahun 2020, angka pengobatan lengkap sebesar 58,30%, mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 48,90% dari tahun sebelumnya yang sebesar 9,40%.

Angka keberhasilan pengobatan (success rate) TB paru BTA (+) di Kabupaten Jember selama tahun 2016-2020 mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Tahun 2020, angka keberhasilan pengobatan sebesar 85,10%, naik 48,10% dari tahun sebelumnya yang sebesar 37,00%.

Angka kematian selama pengobatan di Kota Jember, dari tahun 2016-2020 mengalami fluktuatif. Tahun 2020 angka kematian selama pengobatan sebesar 2,00%, mengalami kenaikan 1,50% dari tahun sebelumnya yang sebesar 0,50%.

(8)

Dapat dilihat bahwa capaian tersebut sudah mencapai target nasional sebesar 85% dan juga target WHO yang menetapkan standar angka keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas penatalaksanaan penderita tuberkulosis di Kabupaten Jember sudah cukup bagus. Walaupun demikian hal ini masih perlu ditingkatkan lagi. Masalah TB paru ini merupakan masalah yang perlu kita pecahkan bersama, termasuk peran rumah sakit dan peran serta seluruh masyarakat terkait penanggulangan masalah TB paru sangat diperlukan. Rumah Sakit Dr.

Soebandi harus ikut berperan dalam menanggulangi masalah ini diantaranya dengan cara melakukan pengembangan pelayanan dan menyediakan pelayanan kesehatan paru baik di rawat jalan maupun rawat inap. Capaian akan kesuksesan pengobatan TB dan kematian akibat TB menjadi tantangan dalam penanggulangan TB ke depan.

2) Pneumonia

Cakupan penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani pada balita di Kabupaten Jember dari tahun 2016-2020 mengalami perubahan setiap tahunnya. Tahun 2020, jumlah penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani pada balita di Kabupaten Jember sebanyak 1.590 kasus atau 60,70%, turun 42,20% dari tahun sebelumnya yang sebanyak 2.716 kasus atau 102,90%. Jika dibandingkan dengan target nasional, cakupan penderita pneumonia yang ditemukan pada balita di Kabupaten Jember belum memenuhi target nasional 70,00%. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap insiden pneumonia antara lain gizi kurang, ASI ekslusif rendah, polusi udara dalam ruangan, kepadatan, cakupan imunisasi campak rendah dan BBLR.

Kondisi ini menjadi pertimbangan RSD pada saat akan melakukan pengembangan supaya bisa menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dari sisi SDM maupun peralatannya, misalnya dengan menyediakan pelayanan penyakit dalam, pelayanan paru yang di dalamnya termasuk pneumonia didukung oleh SDM dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis paru serta teknologi yang memadai.

3) Demam Berdarah Dengue

Kasus demam berdarah dengue di Kabupaten Jember selama tahun 2016- 2020 jumlahnya cenderung meningkat dengan tren rata-rata per tahunnya naik sebesar 117,94%. Incidence rate/ angka kesakitan demam berdarah dengue di Kabupaten Jember tahun 2016-2020 juga mengalami perubahan setiap tahunnya. Tahun 2020, incidence rate demam berdarah dengue sebesar 34,70 per 100.000 penduduk, menurun 25,80 dari tahun sebelumnya yang sebesar 60,50 per 100.000 penduduk. Target Renstra Kementerian Kesehatan untuk

(9)

angka kesakitan demam berdarah dengue sebesar <49 per 100.000 penduduk, dengan demikian Kabupaten Jember sudah memenuhi target yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan. Untuk mempertahankan kondisi ini, RSD bisa ikut berperan dengan memberikan penyuluhan/ edukasi kepada masyarakat/ pasien terkait pencegahan penyakit demam berdarah dengue, selain tetap menyediakan pelayanan dan fasilitas yang diperlukan di rumah sakit untuk antisipasi jika ada pasien yang terkena demam berdarah dengue berobat ke RSD.

4) Covid-19

Jumlah penderita Covid-19 (positif Covid-19) di Kabupaten Jember dari bulan Maret 2020 sampai dengan bulan November 2021 mengalami fluktuatif setiap bulannya. Dari bulan Maret 2020 sampai bulan Desember 2020 jumlah kasusnya cenderung naik dengan rata-rata kenaikan per bulannya sebesar 143,63%. Begitu juga dengan jumlah kasus dari bulan Januari sampai November2021, cenderung meningkat dengan rata-rata peningkatan per bulannya sebesar 56,95%. Dari total 31.271 kasus Covid-19, yang positif sebanyak 15.640 orang atau 50,01%, yang sembuh sebanyak 14.508 orang atau 46,39%, sedangkan yang meninggal sebanyak 1.123 orang atau 3,59%.

Rumah Sakit Dr. Soebandi sebagai salah satu rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19 harus mempersiapkan hal ini, terbukti saat ini RSD sudah menyediakan laboratorium untuk pemeriksaan antigen dan PCR serta rawat inap untuk pasien Covid-19.

4.4 ANALISIS PENGEMBANGAN PELAYANAN RUMAH SAKIT dr. SOEBANDI 1. Kondisi Internal RSD Dr. Soebandi

A. Pelayanan Umum

Pada tahun 2022 jumlah pasien untuk semua indikator pelayanan mengalami peningkatan dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Kecuali untuk jumlah tindakan hemodialisis, LOS, TOI, NDR, dan GDR. Rincian capaian indikator kinerja pelayanan di RSD dr. Soebandi sebagai berikut :

Tabel 4.1 Indikator Pelayanan RSD dr. Soebandi Jember

No. Indikator Pelayanan 2020 2021 2022

1. Jumlah pasien rawat inap 17.457 10.642 18.018

2. Jumlah hari perawatan 74.822 44.205 62.210

3. Jumlah pasien rawat jalan 85.529 58.620 91.049

4. Jumlah pasien IGD 13.738 9.929 16.411

5. Jumlah persalinan 2.021 1.161 1.671

6. Jumlah tindakan operasi

a. Khusus 2.411 2.293 3.460

b. Besar 1.380 1.162 2.157

(10)

c. Sedang 764 638 1.470

d. Kecil 95 23 191

7. Jumlah tindakan hemodialisis 14.695 11.821 10.186 8. Jumlah pemeriksaan

radiodiagnostik 25.636 20.838 31.479

9. Jumlah tindakan rehabilitasi medic 14.421 9.836 19.732 10. Jumlah pemeriksaan Laboratorium

Patologi Klinik 486.033 372.354 609.717

11. Jumlah pemeriksaan Laboratorium

Patologi Anatomi 3.514 1.763 3.158

12. Jumlah Pasien Farmasi (resep) 173.943 145.820 226.684

13. Jumlah pasien kemoterapi 219 194 1.128

14. Jumlah pasien anastesi 2.132 3.235 5.485

15. Jumlah kunjungan gangguan jiwa 2.822 5.336 7.119

16. Jumlah Tempat Tidur 403 252 297

17. BOR (%) 50,36 48,06 57,39

18. LOS (hari) 4,31 4,15 3,32

19. TOI (hari) 4,25 4,49 2,58

20. BTO (kali) 42,55 42,23 60,67

21. NDR (per mil) 41,27 54,19 41,07

22. GDR (per mil) 103,61 121,04 95,16

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 B. Pelayanan Rawat Jalan

Jumlah kunjungan Rawat Jalan tahun 2022 sebesar 91.049 pasien dengan rerata 249 pasien/hari atau naik 84 pasien dibandingkan rerata pada tahun 2021 dengan rerata 160 pasien/per hari. Hal ini disebabkan oleh kebijakan zonasi oleh BPJS sehingga tidak semua pasien dapat dilayani di RSD dr. Soebandi hanya pasien yang memang butuh dirujuk saja dan terjadinya pandemi virus korona pada tahun 2020. Rincian realisasi kunjungan pasien Rawat Jalan masing-masing poliklinik sebagai berikut :

(11)

Tabel 4.2 Kunjungan Pasien Instalasi Rawat Jalan Berdasarkan Spesialisasi

Poliklinik 2020 2021 2022

a. Kulit Kelamin 2.442 1.984 2.779

b. Syaraf 3.680 2.414 4.008

c. Gilut 3.499 2.217 3.177

d. Jiwa 6.240 5.336 7.119

e. Mata 6.362 3.331 5.415

f. Paru 8.084 5.616 5.352

g. Interna 7.120 3.960 6.122

h. Jantung 10.570 6.416 12.059

i. Anak 2.775 2.289 4.608

j. Gizi 168 142 394

k. Kandungan 1.298 1.090 1.636

l. Hamil dan Laktasi 1.844 1.135 1.698

m. THT 3.455 2.036 2.872

n. Bedah Umum 4.152 3.378 5.781

o. Bedah Urologi 2.225 1.521 2.906

p. Bedah Syaraf 1.452 1.303 2.189

q. Bedah anak 732 757 1.140

r. bedah vaskuler 405 558 1.693

s. Bedah Plastik 404 205 370

t. Bedah ortho 3.730 3.226 5.815

u. VCT 7.990 6.689 7.483

v. Eksekutif 6.904 2.880 3.637

w.Soeskin - 137 415

x. Bedah Onkologi - - 2.381

JUMLAH 85.529 58.620 91.049

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Jumlah pasien rawat jalan berdasarkan status jaminan kesehatan yang diikuti selama tahun 2022 menunjukkan bahwa pasien pengguna Jaminan Kesehatan Nasional BPJS merupakan pasien terbanyak di RSD dr. Soebandi yaitu sebanyak 48.384 pasien.

Jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun 2021 yakni 29.583 atau naik sebanyak 18.801 pasien. Peningkatan juga terjadi pada pasien SPM sebanyak 16.102 pasien dan lain-lain sebanyak 1.141 pasien. Sedangkan untuk pasien umum menurun sebanyak 25.422 pasien.

Rincian Jumlah Pasien Rawat Jalan Berdasarkan Status Jaminan Kesehatan Yang Diikuti sebagai berikut :

Tabel 4.3Pasien Instalasi Rawat Jalan Berdasarkan Jaminan Sosial yang Diikuti Status Jaminan

Kesehatan Yang Diikuti 2020 2021 2022

BPJS 40.188 29.583 48.384

SPM 7.403 1.878 16.102

Umum/tanpa jaminan 37.731 26.896 25.422

Lain-lain 207 263 1.141

JUMLAH 85.529 58.620 91.049

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Pada tahun 2022, dari sepuluh besar penyakit terbanyak yang ditangani di Instalasi Rawat Jalan, Atherosclerosis heart menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah

(12)

mencapai 2.568 kasus. Di tempat kedua adalah hipertensi dengan jumlah 2.567 kasus. Tempat ketiga adalah Schizophrenia dengan jumlah mencapai 2.066 kasus.

Rincian Sepuluh Besar Penyakit di Instalasi Rawat Jalan sebagai berikut : Tabel 4.4 Sepuluh Besar Penyakit di Instalasi Rawat Jalan

No Kode ICD 10 10 Besar Penyakit Jumlah

Penyakit (%) 1 I25.1 Atherosclerotic heart disease 2.568 2.93 % 2 I11.9 Hypertensive heart disease

without (congestive) heart failure 2.567 2.90 %

3 F20 Schizophrenia 2.066 2.36 %

4 C50.9 Malignant neoplasm of breast,unspecified 1.914 2.18 %

5 G40.9 Epilepsy, unspecified 1.798 2.05 %

6 E11.9 Non-insulin-dependent diabetes

mellitus without complication 1.671 1.91 % 7 U88 Agent resistant to multiple antibiotics 1.222 1.39 % 8 I11.0 Hypertensive heart disease with

(congestive) heart failure 1.108 1.26 %

9 H25.9 Senile cataract,unspecified 969 1.11 %

10 I63.9 Cerebral infarction, unspecified 864 0.99 % Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Dari sepuluh besar penyakit yang ditangani di Instalasi Rawat Jalan ini dapat diketahui bahwa penyakit terbanyak yang dikeluhkan atau diderita masyarakat adalah penyakit degeneratif atau penyakit karena gaya hidup. Sehingga diperlukan promosi kesehatan terus-menerus dan berkesinambungan untuk menekan tingginya kasus khususnya hipertensi atau darah tinggi yang nantinya berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit lain dan menurunkan produktivitas penderita.

(13)

C. Pelayanan Rawat Inap

Penyakit yang paling banyak ditangani di ruang rawat inap adalah other low birth weight.

Sepuluh Besar Penyakit di Ruang Rawat Inap dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel 4.5 Sepuluh Besar Penyakit di Ruang Rawat Inap

No Kode ICD 10

Penyakit 10 Besar Penyakit Jumlah

Kasus (%)

1 P07.1 Other low birth weight 537 2,58

2 A16.2

Tuberculosis of lung.without mention of bacteriological

or histological confirmation

537 2,58

3 J18.9 Pneumonia,unspecified 490 24,28

4 I13.2 Hypertensive heart and renal

disease with both (congestive) heart 412 1,98

5 I63,9 Cerebral infarction,unspecified 389 1,87

6 I12.0 Hipertensive renal disease

with renal Failure 316 1,52

7 S06.2 Diffuse brain injury 302 1,45

8 O14.1 Severe pre-eclampsia 296 1,42

9 S06.0 Concussion 259 1,24

10 J12.8 Other Viral Pneumonia 245 1,18

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Tiga terbanyak dari 10 besar penyebab kematian adalah tubercolosis, Intracerebral hemorrhage, dan pneumonia. Dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.6 Sepuluh Penyebab Kematian No

Kode ICD 10

Penyakit Jenis Penyakit

Jumlah kasus

Jumlah

Kematian (%)

1 A16.2

Tuberculosis of lung, without mention of bacteriological or

histological confirmation

537 145 27,00

2 I61.9 Intracerebral haemorrhage,

unspecified 217 92 42,40

3. J18.9 Pneumonia, unspecified 490 88 17,96

4. P95 Fetal death of

unspecified cause 85 85 100,00

5. I63.9 Cerebral infarction, unspecified 389 74 19,02

6. S06.2 Diffuse brain injury 302 65 21,52

7. P07.0 Extremely low birth weight 537 63 21,52

8. R57.2 Septic shock 88 50 56,82

9 I61.5 Intracerebral haemorrhage

intraventricular 71 46 64,79

10 A41.9 Septicaemia,unspecified 116 44 37,93

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Pada tahun 2022 jika dihitung berdasarkan Jaminan Kesehatan Yang Diikuti maka jumlah pasien rawat inap paling banyak menggunakan BPJS, seperti dalam tabel berikut ini :

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 13

(14)

Tabel 4.7 Pasien Rawat Inap Berdasarkan Jaminan Kesehatan Yang Diikuti Status Jaminan Kesehatan

Yang Diikuti 2020 2021 2022

BPJS 9.978 6.703 12.301

SPM 4.051 3.415 4.555

Umum/tanpa jaminan 1.675 796 951

Lain-lain 1.753 478 211

JUMLAH 17.457 10.642 18.018

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 D. Instalasi Gawat Darurat

Jumlah kunjungan di IGD pada tahun 2022 adalah 16.411 kunjungan. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Rincian pelayanan IGD sebagai berikut :

Tabel 4.8 Jumlah Pasien IGD Berdasarkan Status Jaminan Kesehatan Yang Diikuti Status Jaminan

Kesehatan Yang Diikuti 2020 2021 2022

BPJS 11.628 8.485 12.068

SPM 221 287 2.851

Umum/tanpa jaminan 1.865 1.141 1.483

Lain-lain 24 16 9

JUMLAH 13.738 9.929 16.411

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Di IGD terdapat lima pelayanan utama yang terdiri dari Pelayanan bedah, non bedah, kebidanan, kejiwaan dan anak. Pada tahun 2022 jumlah pelayanan Non Bedah merupakan pelayanan yang paling banyak diberikan. Pelayanan non bedah ini salah satu contohnya adalah pelayanan gawat darurat terhadap pasien yang sesak napas, pasien stroke dan pasien gagal ginjal. Rincian jumlah kunjungan IGD berdasarkan lima jenis pelayanan utama seperti di bawah ini :

Tabel 4.9 Jumlah Kunjungan IGD Berdasarkan Lima Jenis Pelayanan Utama

Tindak Lanjut Pelayanan 2020 2021 2022

Bedah 2.951 2.117 3.677

Non Bedah 6.693 4.917 8.107

Kebidanan 2.735 1.664 2.588

Kejiwaan 99 92 131

Anak 1.260 1.109 1.972

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Berdasarkan asal pasien yang datang ke IGD dapat dibedakan menjadi dua, yakni pasien rujukan dan non rujukan (datang sendiri). Berbeda dari dua tahun sebelumnya, di tahun 2022 pasien rujukan dan non rujukan jumlahnya lebih meningkat.

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 14

(15)

Hal ini dikarenakan masyarakat lebih paham jika rumah sakit dr. Soebandi adalah RS tipe B dimana alat dan fasilitas yang dimiliki lebih lengkap, seperti yang ditunjukkan tabel berikut ini :

Tabel 4.10 Asal Pasien IGD

Total Pasien 2020 2021 2022

Rujukan 7.468 6.199 8.163

Non Rujukan 6.270 3.730 8.313

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Pasien yang telah datang ke IGD tersebut, selanjutnya mendapat berbagai tindak lanjut pelayanan, yang terdiri dari dirawat, dirujuk ke rumah sakit yang lebih tinggi kelasnya, dinyatakan pulang, ada juga pasien yang meninggal sebelum dirawat, dan meninggal dalam perjalanan. Rinciannya dapat dilihat dalam table di bawah ini :

Tabel 4.11 Tindak Lanjut Pelayanan Pada Pasien Di IGD

Tindak Lanjut Pelayanan 2020 2021 2022

Dirawat 11.509 8.226 12.870

Dirujuk 0 2 0

Pulang 1.953 1.440 2317

Kematian di IGD setelah ditangani 207 196 223

Kematian di IGD Sebelum ditangani/

datang sudah meninggal 69 58 65

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Dari sepuluh penyakit terbanyak di IGD, tiga penyakit atau kasus yang paling banyak ditangani adalah dyspnea atau sesak napas, other and unspecified abdominal pain, dan concussion, seperti yang ditunjukkan tabel berikut ini :

Tabel 12 Sepuluh Besar Penyakit Terbanyak Di IGD

No Kode ICD 10

Penyakit Kasus/ Penyakit Jumlah Kasus/

Penyakit (%)

1 R06.0 Dyspnoea 1679 10.61 %

2 R10.4 Other and unspecified abdominal pain 928 5.75 %

3. S06.0 Concussion 672 4.17 %

4. O63.0 Prolonged first stage (of labour) 652 4.04 %

5. D64.9 Anaemia, unspecified 491 3.04 %

6. R50.9 Fever, unspecified 471 2.92 %

7. R40.1 Stupor 461 2.86 %

8. Z34.9 Supervision of normal pregnancy,

unspecified 418 2.59 %

9. R11 Nausea and vomiting 385 2.39 %

10 I64 Stroke, not specified as haemorrhage or

infarction 364 2.26 %

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2021

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 15

(16)

E. Instalasi Radiologi

Jumlah pemeriksaan di Instalasi Radiologi pada tahun 2022 adalah 31.479 pemeriksaan. Rincian target dan realisasi jumlah pemeriksaan di Instalasi Radiologi sebagai berikut :

Tabel 4.13 Jumlah Pemeriksaan di Instalasi Radiologi

No. Pemeriksaan 2020 2021 2022

1 Foto Tanpa Kontras 19.075 16.083 23.004

2 Foto dengan Kontras 360 34 412

3 Panoramik 464 383 506

4 Mammografi 11 4 26

5 MRI 227 367 636

6 Cathlab 42 1 23

7 USG 2.029 1703 3.263

8 CT Scan 3.428 2.263 3.609

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022

F. Instalasi Farmasi

Pelayanan di rumah sakit tidak terlepas dari pelayanan obat, dan pelayanan obat bagi pasien di rumah sakit dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi. Sistem floorstok diterapkan dengan harapan bahwa penggunaan obat untuk pasien rawat inap dapat terkendali, sehingga tujuan penyelenggaraan pelayanan pasien yang mengacu pada prinsip menyeluruhsesuai dengan standar pelayanan medic yang cost effective dan rasional bisa tercapai. Tahun 2021 adanya pandemi covid-19 yang mengakibatkan floorstok lebih banyak karena persediaan APD (Alat Pelindung Diri). Sementara untuk tahun 2022 mulai menurun karena memasuki masa endemi.

Floorstock perbekalan farmasi di RSD dr. Soebandi sebagaimana dalam tabel berikut ini :

Tabel 4.14 Floorstok

Uraian 2020 2021 2022

Floorstok 13.378.406.697,82 17.318.627.869,20 16.219.966.007,57 Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 G. Instalasi Bedah Sentral

Jumlah tindakan operasi di IBS tahun 2021 adalah 7.379 tindakan berdasarkan spesialisasinya, yang tampak dalam tabel berikut ini :

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 16

(17)

Tabel 4.15 Jumlah Tindakan Operasi Berdasarkan Spesialisasi

No. Spesialiasi 2020 2021 2022

1 Bedah 805 773 1525

2 Bedah saraf 644 514 662

3 Bedah orthopedic 860 782 1270

4 Bedah plastik 105 99 98

5 Bedah Urologi 378 366 652

6 Bedah Anak 182 186 295

7 Kardiovaskuler 0 0 0

8 Bedah BTKV 157 277 713

9 Digestive 0 0 0

10 Obstetrik dan Ginekologi 1.109 822 1449

11 THT 60 60 136

12 Mata 198 152 316

13 Kulit dan Kelamin 0 0 0

14 Gigi dan Mulut 144 85 203

15 Paru-paru 1 2 3

16 Lain-lain 7 26 57

JUMLAH 4.650 4.144 7.379

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022

H. Instalasi Gizi

Sebagai upaya peningkatan mutu dalam pelayanan gizi, maka salah satu indikator kinerja yang harus dipenuhi adalah asuhan gizi yang tercatat dalam lembar Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT). Hal ini dapat digunakan sebagai tolok ukur bahwa nutrisionist telah memberikan assesmen gizi tepat waktu maksimal 2 x 24 jam dan sudah tercatat dalam CPPT.

Tabel 4.16 Cakupan Asuhan Gizi Yang Tercatat dalam Lembar CPPT

No. Uraian 2020 2021 2022

1 Jumlah Pasien Rawat Inap 17.457 12.492 20.794

2 Cakupan Asuhan Gizi Yang Tercatat di

CPPT 13.766 10.576 17.685

3 Prosentase 78,86% 85,88% 85%

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Berdasarkan tabel di atas, cakupan konkrit pelayanan gizi yang tercatat dalam lembar CPPT, selama tiga tahun menggambarkan adanya upaya perbaikan dari Instalasi Gizi untuk terus memberikan asuhan gizi yang tidak hanya tepat waktu namun tercatat sehingga dapat memberikan gambaran secara utuh tentang riwayat pemberian asuhan gizi pasien mulai dari pasien masuk ke rumah sakit sampai meninggalkan rumah sakit.

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 17

(18)

I. Instalasi Rehabilitasi Medik

Instalasi Rehabilitasi Medis menyediakan semua fasilitas dan kebutuhan untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan pemulihan kesehatan yang meliputi fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, dan ortesa protesa. Jumlah kunjungan di Instalasi Rehabilitasi Medik tahun 2022 sebanyak 19.732 kunjungan. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dua tahun sebelumnya. Hal ini terjadi selain karena telah status pandemi covid-19 menjadi endemi sehingga pengunjung sudah berani melakukan kunjungan ke rumah sakit selain itu adanya fasilitas rehab medis yang lengkap di RS dr. Soebandi sebagai RS rujukan wilayah timur. Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan jumlah kunjungan Instalasi Rehabilitasi Medis di RSD dr. Soebandi, sebagaimana tabel berikut :

Tabel 4.17 Jumlah Kunjungan Instalasi Rehabilitasi Medis Berdasarkan Tindakan Yang Dilakukan

Tindakan 2020 2021 2022

Fisioterapi 10.631 6.929 9.882

Terapi Wicara 1.895 1.595 4.785

Terapi Okupasi 1.797 1.210 4.916

Ortesa protesa 98 102 149

JUMLAH 14.421 9.836 19.732

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 J. Instalasi Patologi Klinik

Pemeriksaan yang paling sering dilakukan di Instalasi patologi klinik selama tiga tahun terakhir adalah pemeriksaan darah atau hematologi, dan pemeriksaan kimia klinik, seperti pemeriksaan faal hati, otot jantung, ginjal, gula darah dan lain-lain. Untuk lebih terinci dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.18 Jumlah Kunjungan Pasien di Instalasi Patologi Klinik Berdasarkan Pemeriksaan

No. Pemeriksaan 2020 2021 2022

1. Hematologi 290.734 216.113 347.884

2. Kimia klinik 108.645 80.415 134.819

3. Serologi-Imunologi 4.752 15.900 24.470

4. Direk preparat 167 171 219

6. Urine 24.725 15.588 27.216

7. Elektrolit 46.182 34.852 69.354

8. Feces 0 135 339

9. Cairan LCS 66 154 302

10.. Kultur 0 134 510

11.

Biomolekuler/TCM

&

PCR

10.762 8.892 4.607

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022

R E V I E W M A S T E R P L A N R U M A H S A K I T R S D d r . S O E B A N D I IV- 18

(19)

K. Instalasi Patologi Anatomi

Instalasi Patologi Anatomi menyediakan semua fasilitas dan kebutuhan untuk menyelenggarakan kegiatan di bidang patologi anatomi untuk keperluan diagnosa.

Pelayanan di Instalasi Patologi Anatomi meliputi FNA, PAP, Sitologi, Histopatologi dan Potong Beku. Pada tahun 2022 terdapat pelayanan pemeriksaan baru yaitu IHC ,jumlah pemeriksaan yang dilakukan seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 4.19 Jumlah Kunjungan Pasien Instalasi Patologi Anatomi Berdasarkan Jenis Pemeriksaan Yang Dilakukan

Pemeriksaan 2020 2021 2022

1. FNA 1.706 817 1.251

2. PAP 66 41 34

3. Sitologi 100 56 132

4. Histopatologi 1.522 795 1.533

5. Potong Beku 34 12 56

6.IHC 86 42 152

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 L. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Para ibu yang baru bersalin perlu mendapat edukasi dan informasi cara merawat diri pasca bersalin, cara menyusui, cara mencegah terjadinya depresi atau baby blues syndrome, memeriksakan tekanan darah, waspada apabila terjadi bengkak pada kaki, perdarahan, sakit kepala, dan muntah- muntah. Rincian jumlah kematian berdasarkan waktu kematian ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.20 Jumlah Kematian Ibu Berdasarkan Waktu Kematian

Waktu Kematian Ibu 2020 2021 2022

Meninggal saat hamil 16 24 9

Meninggal saat bersalin 5 2 1

Meninggal saat nifas 12 24 13

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 Sedangkan untuk penyebab kematian bayi, jumlah terbanyak tahun 2022 adalah bayi meninggal karena berat badan lahir rendah atau di bawah 2.500 gram sampai 1.500 gram. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil yang melahirkan bayi dengan berat rendah, bahkan sangat rendah dan amat sangat rendah. Rincian jumlah kematian bayi berdasarkan berat badan saat lahir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.21 Jumlah Kematian Bayi Berdasarkan Berat Badan Saat Lahir

Penyebab Kematian Bayi 2020 2021 2022

BBLC 32 32 18

BBLR 23 26 30

BBLSR 15 20 24

BBLASR 15 21 18

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022

(20)

Sehingga pemeriksaan secara rutin selama kehamilan sangat diperlukan. Para petugas di poli kehamilan dan laktasi perlu melakukan pemberian edukasi dan informasi tidak hanya kepada pasien dan keluarga pasien namun juga kepada petugas perujuk dari fasilitas kesehatan pertama. Sehingga pelaksanaan antenatal care atau ANC dapat berjalan optimal dan dapat mencegah kelahiran bayi dengan berat rendah.

M. Kesehatan Jiwa

Pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit adalah pelayanan kasus gangguan jiwa yang memerlukan penanganan multidisplin dan spesialistik serta perawatan. Di RSD dr. Soebandi Jember pemeriksaan kesehatan jiwa terdiri dari psikotes, konsultasi, terapi medikamentosa dan psikoterapi. Untuk rincian kegiatan selama tahun 2022 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.22 Jumlah Kunjungan Pasien Kesehatan Jiwa Berdasarkan Pemeriksaan

Pemeriksaan 2020 2021 2022

Psikotes 1.206 686 875

Konsultasi 117 111 106

Terapi Medikamentosa 1.585 2.869 3.717

Psikoterapi 3.472 2.188 2.269

Sumber : Laporan Instalasi Admisi dan Rekam Medis Per 31 Desember 2022 4.5 ANALISIS STRATEGI

BISNIS 4.5.1 Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui potret gambaran bisnis yang dilakukan untuk menyusun strategi jangka pendek maupun jangka panjang sehingga arah dan tujuan rumah sakit menjadi jelas. Dalam analisis SWOT tergambar kekuatan dan kelemahan dari faktor internal RSD serta peluang dan ancaman dari faktor eksternal. Analisis ini digunakan supaya dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalisasi kelemahan dan ancaman. Dari hasil pemetaan faktor internal dan eksternal RSD, didapat gambaran matrik sebagai berikut :

1. Faktor internal yang berpengaruh :

 Rumah sakit di bawah Dr. Soebandi yang terakreditasi A.

 Rumah Sakit Dr. Soebandi telah terakreditasi paripurna 2018.

 Merupakan rumah sakit umum kelas C yang telah memenuhi kriteria sesuai klasifikasi dan perizinan rumah sakit dari sisi pelayanan dan SDM.

 Memiliki SDM profesional dari berbagai disiplin ilmu.

 Tenaga kerja masih muda, idealis dan memiliki keinginan besar untuk pengembangan RSD.

 Adanya produk unggulan rumah sakit yang meningkatkan keberadaan RSD sebagai rumah sakit rujukan.

 Rumah Sakit Dr. Soebandi diberikan kepercayaan oleh Kementerian Kesehatan

(21)

dengan telah ditunjuknya sebagai laboratorium rujukan Covid-19.

 Memiliki menajemen pengelolaan yang terbuka dan progresif mulai dari tingkat direksi, unit medis, dokter, karyawan dan masyarakat umum.

 Rumah Sakit Dr. Soebandi memiliki captive market BPJS.

 Rumah Sakit Dr. Soebandi bekerjasama dengan luar negeri dalam pengembangan rumah sakit.

 Berada di lokasi strategis.

 Memiliki kinerja pelayanan yang baik.

 Memiliki tanah yang luas untuk pengembangan.

 Memiliki sistem keuangan yang bersifat transparan dan akuntable.

 Memiliki sistem informasi dan teknologi standar yang bisa diandalkan (SIMRS).

 Kelengkapan sarana prasarana belum sesuai standar rumah sakit umum kelas C.

 Kompetensi SDM belum merata.

Layout dan zonasi secara umum perlu pembenahan.

 Belum memiliki layanan ruang rawat inap dan ICU khusus untuk penyakit infeksius.

 Belum memiliki sarana laboratorium yang memadai untuk menangani dan meneliti penyakit infeksius.

 Masih ada keluhan pasien atas pelayanan.

 Keterbatasan dana bagi pembangunan dan pengembangan serta pemenuhan kebutuhan sarana.

Maintenance peralatan.

 Antrian pelayanan di pendaftaran rawat jalan.

2. Faktor eksternal yang berpengaruh :

 Dukungan stakeholder untuk mengembangkan RSD sangat tinggi.

 Adanya potensi pengembangan wisata kerjasama pemerintah Kabupaten Jember dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan icon Kabupaten Jember sebagai Kota Mahasiswa.

 Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Dr. Soebandi dan RSUD Dr. Saiful Anwar Jember untuk mendapatkan tenaga kesehatan.

 Transisi demografi dan epidemologi penyakit mendukung pelayanan rumah sakit sebagai rumah sakit rujukan sesuai keunggulan.

 Menggunakan sistem IT dalam pengabdian masyarakat dengan program safe community kegawatdaruratan melalui sistem call center di RSD (sistem komando) bagi penjemputan, pendampingan, dan transfer pasien dengan tracking online dan konsultasi dengan ahli di RSD.

 Rumah Sakit Dr. Soebandi sebagai pusat pelatihan kader kesehatan menjadi agen perujukan dan pendampingan masyarakat pada komunitas-komunitas.

 Loyalitas pelanggan tinggi.

(22)

 Kemitraan dengan lembaga pendidikan dan sarana kesehatan lain dalam membina jejaring guna pengembangan pelayanan yang spesifik/ rujukan.

 Kesadaran masyarakat atas kesehatan dan pelayanan rumah sakit di Kabupaten Jember dan sekitarnya meningkat.

 Adanya komitmen tertulis pembiayaan/ pendanaan pihak ketiga untuk pengembangan rumah sakit.

 Aksesibilitas dan transportasi menuju RSD mudah.

 Desain dan bentuk bangunan RSD telah memenuhi standar yang berpeluang dikembangkan di masa depan.

 Implementasi artificial technology dengan pelayanan robotic di berbagai pelayanan umum maupun isolasi/ infeksi.

 Perubahan kebijakan stakeholder yang memiliki pengaruh terhadap operasional rumah sakit dan pola kemitraan dengan luar yang selama ini sudah terjalin baik.

 Berkembangnya medikolegal dalam penyelesaian masalah hukum di rumah sakit.

 Regulasi tarif rumah sakit pemerintah yang mengikat dan ada batasan terutama pasien BPJS, kurang kompetitif dibandingkan rumah sakit swasta.

 Munculnya rumah sakit kompetitor swasta yang menjalin kemitraan dengan unggulan dan pasar yang sama, lebih inovatif.

 Globalisasi era MEA sebagai sarana perpindahan SDM muncul rumah sakit pesaing yang dapat memberikan kesejahteraan lebih.

 Perkembangan advanced technology dan medical equipment diikuti dengan pembiayaan yang tinggi.

 Meningkatnya kompleksitas regulasi kesehatan dan pendidikan, diikuti perubahan kebijakan.

 Pola pembayaran eksternal memunculkan piutang (lamanya waktu verifikasi).

 Pasar mengkritisi mutu pelayanan rumah sakit melalui media sosial mempengaruhi citra rumah sakit.

Dari hasil pemetaan faktor internal dan eksternal RSD, didapat gambaran matrik seperti tercantum pada Tabel 4.11.

(23)

Tabel 4. 11 Analisis SWOT RSD

No SWOT Bobot

(B) (R) KEKUATAN

1 Rumah sakit di bawah Dr. Soebandi yang terakreditasi A 0.1 4 2 Rumah Sakit Dr. Soebandi telah terakreditasi paripurna 2018 0.1 4

3 0.1 4

4 Memiliki SDM profesional dari berbagai disiplin ilmu 0.1 4

5 0.05 3

6 0.05 3

7 0.05 3

8 0.05 4

9 0.05 3

10 0.05 3

11 Berada di lokasi strategis 0.05 3

12 Memiliki kinerja pelayanan yang baik 0.05 3

13 Memiliki tanah yang luas untuk pengembangan 0.05 3

Tabel 4. 11 Analisis SWOT RSD

Rating

Merupakan rumah sakit umum kelas C yang telah memenuhi kriteria sesuai klasifikasi dan perizinan rumah sakit dari sisi pelayanan dan SDM

Tenaga kerja masih muda, idealis dan memiliki keinginan besar untuk pengembangan RSD

Adanya produk unggulan rumah sakit yang meningkatkan keberadaan RSD sebagai rumah sakit rujukan

Rumah Sakit Dr. Soebandi diberikan kepercayaan oleh Kementerian Kesehatan dengan telah ditunjuknya sebagai laboratorium rujukan Covid-19

Memiliki menajemen pengelolaan yang terbuka dan progresif mulai dari tingkat direksi, unit medis, dokter, karyawan dan masyarakat umum.

Rumah Sakit Dr. Soebandi memiliki captive market BPJS

Rumah Sakit Dr. Soebandi bekerjasama dengan luar negeri dalam pengembangan rumah sakit

14 Memiliki sistem keuangan yang bersifat transparan dan akuntable 0.05 3

15 Memiliki sistem informasi dan teknologi 0.10 4

Skor Kekuatan 1

No SWOT Bobot

(B) (R) KELEMAHAN

1 0.15 4

2 Kompetensi SDM belum merata 0.15 4

3 0.10 3

4 0.10 3

5 0.10 3

6 Masih ada keluhan pasien atas pelayanan 0.075 3

7 0.15 4

Rating

Kelengkapan sarana prasarana belum sesuai standar rumah sakit umum pendidikan kelas C

Layout dan zonasi secara umum perlu pembenahan

Belum memiliki layanan ruang rawat inap dan ICU khusus untuk penyakit infeksius

Belum memiliki sarana laboratorium yang memadai untuk menangani dan meneliti penyakit infeksius

Keterbatasan dana bagi pembangunan dan pengembangan serta pemenuhan kebutuhan sarana

(24)

5 0.10 3

6 Masih ada keluhan pasien atas pelayanan 0.075 3

7 0.15 4

8 0.10 3

9 Antrian pelayanan di pendaftaran rawat jalan 0.075 3

Skor Kelemahan 1

TOTAL SKOR FAKTOR INTERNAL

No SWOT Bobot

(B) (R) PELUANG

1 0.100 4

2

0.075 3

3 0.075 4

4 0.075 3

5

0.075 4

6

0.075 3

7 Loyalitas pelanggan tinggi 0.075 3

8 0.075 3

9 0.075 4

Belum memiliki sarana laboratorium yang memadai untuk menangani dan meneliti penyakit infeksius

Keterbatasan dana bagi pembangunan dan pengembangan serta pemenuhan kebutuhan sarana

Maintenance peralatan

Rating

Dukungan stakeholder untuk mengembangkan RSD sangat tinggi Adanya potensi pengembangan wisata kerjasama pemerintah Kabupaten Jember dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan icon Kabupaten Jember sebagai Kota Mahasiswa

Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Dr. Soebandi dan RSUD Dr.

Saiful Anwar Jember untuk mendapatkan tenaga kesehatan

Transisi demografi dan epidemologi penyakit mendukung pelayanan rumah sakit sebagai rumah sakit rujukan sesuai keunggulan

Menggunakan sistem IT dalam pengabdian masyarakat dengan program safe community kegawatdaruratan melalui sistem call center di RSD (sistem komando) bagi penjemputan, pendampingan, dan transfer pasien dengan tracking online dan konsultasi dengan ahli di RSDRumah Sakit Dr. Soebandi sebagai pusat pelatihan kader kesehatan menjadi agent perujukan dan pendampingan masyarakat pada komunitas-komunitas

Kemitraan dengan lembaga pendidikan dan sarana kesehatan lain dalam membina jejaring guna pengembangan pelayanan yang spesifik/

rujukan

Kesadaran masyarakat atas kesehatan dan pelayanan rumah sakit di Kabupaten Jember dan sekitarnya meningkat

10 0.075 4

11 Aksesibilitas dan transportasi menuju RSD mudah 0.075 3

12 0.075 3

13 0.075 3

Skor Peluang 1

No SWOT Bobot

(B) (R) TANTANGAN

1 0.125 4

2 0.125 4

3 0.1 3

4 0.1 3

5 0.125 3

Adanya komitmen tertulis pembiayaan/ pendanaan pihak ketiga untuk pengembangan rumah sakit

Desain dan bentuk bangunan RSD telah memenuhi standar yang berpeluang dikembangkan di masa depan

Implementasi artificial technology dengan pelayanan robotic di berbagai pelayanan umum maupun isolasi/ infeksi

Rating

Perubahan kebijakan stakeholder yang memiliki pengaruh terhadap operasional rumah sakit dan pola kemitraan dengan luar yang selama ini sudah terjalin baik.

Berkembangnya medikolegal dalam penyelesaian masalah hukum di rumah sakit

Regulasi tarif rumah sakit pemerintah yang mengikat dan ada batasan terutama pasien BPJS, kurang kompetitif dibandingkan rumah sakit swasta

Munculnya rumah sakit kompetitor swasta yang menjalin kemitraan dengan unggulan dan pasar yang sama, lebih inovatif

Globalisasi era MEA sebagai sarana perpindahan SDM muncul rumah sakit pesaing yang dapat memberikan kesejahteraan lebih

(25)
(26)

Dari Tabel 4.11 dapat dilihat skor kekuatan yang dimiliki RSD sebesar 3,55 dengan kelemahan sebesar 3,45 sehingga diperoleh skor faktor internal sebesar 0,10. Untuk faktor eksternal dipengaruhi oleh peluang dan tantangan. Peluang yang dimiliki oleh RSD sebesar 3,40 dan tantangan 3,25 sehingga diperoleh faktor eksternal sebesar 0,15.

Grafik 4. 2 RSD berdasarkan Analisis SWOT

Sumber : Hasil Analisis Konsultan Tahun 2023

Hasil analisis SWOT pada Grafik 4.2 menunjukkan RSD berada di kuadran I. Rumah sakit menghadapi peluang pasar yang besar dan didukung oleh kekuatan yang ada sehingga dapat memanfaatkan peluang. Strategi yang harus ditetapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy).

1. STRATEGI SO : Memanfaatkan kekuatan untuk merebut peluang

a. Memanfaatkan kebijakan stakeholder untuk membina fungsi rujukan vertikal dan horisontal.

b. Melakukan penetrasi pasar, meningkatkan fasilitas rawat, membina jejaring dengan rumah sakit regional di Kota Jember, Provinsi Jawa Timur maupun d luar Jawa Timur, membina pelanggan yang loyal.

c. Dengan dukungan stakeholder, melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan untuk pengembangan ilmu terkait pelayanan unggulan maupun pemenuhan tenaga SDM untuk pelayanan dan investasi.

d. Melakukan negosiasi dengan stakeholder untuk pemanfaatan event nasional dalam promosi rumah sakit.

e. Kemitraan dengan perusahaan untuk kegiatan penelitian dan pengabdian

(27)

masyarakat.

f. Bekerja sama dengan pemerintah melakukan penelitian aplikatif yang bermanfaat bagi daerah pengembangan wilayah.

g. Road show ke daerah-daerah di wilayah sekitar (rumah sakit regional dan rumah sakit lainnya) untuk meningkatkan utilisasi alat canggih dan pelayanan.

h. Menyediakan pelayanan rawat inap khusus/ poliklinik terpadu untuk bidang penyakit yang berkembang dalam transisi demografi.

i. Membangun komitmen melalui budaya kerja serta sistem reward and punishment selain dalam pelayanan juga dalam pendidikan dan penelitian melibatkan seluruh tenaga profesional.

j. Kasus-kasus rujukan sulit BPJS dapat dikembangkan dalam meningkatkan profesionalisme.

2. STRATEGI WO : Meminimalkan kelemahan, memanfaatkan peluang

a. Keunggulan sebagai rumah sakit rujukan dimanfaatkan untuk menarik investor dalam pembiayaan peralatan.

b. Memanfaatkan dukungan stakeholder untuk pengaturan perizinan tenaga medis dan regulasi kerjasama untuk mengatasi kelangkaan tenaga medik spesialis dan subspesialis.

c. Pembenahan sistem informasi dan teknologi dalam pengamanan pelaksanaan rekam medik dan sistem informasi rumah sakit untuk pelayanan, pendidikan dan penelitian terkait masalah medicolegal.

d. Bekerjasama dengan rumah sakit mitra/ kompetitor untuk pemanfaatan peralatan dan rujukan serta penelitian dan pengembangan SDM.

e. Bekerjasama dengan lembaga pendidikan dalam maintenance peralatan canggih.

f. Berupaya membangun komitmen SDM dan keunggulan komparatif dalam pelayanan IGD terpadu sebagai rumah sakit rujukan.

g. Memanfaatkan lahan secara optimal dengan penataan dan penggunaan sumber energi menuju green hospital.

3. STRATEGI ST : Memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi ancaman

a. Mengupayakan stakeholder mendukung sistem pentarifan di rumah sakit dan jasa medik yang kompetitif agar SDM loyal.

b. Berupaya untuk melakukan monitoring yang berkesinambungan terhadap kebijakan-kebijakan yang ada sehingga dapat mengantisipasi perubahannya dengan seksama.

(28)

c. Gedung yang ada di RSD juga dapat digunakan untuk kongres dan konferensi di bidang kedokteran untuk membina jejaring dengan rumah sakit lain.

d. Penilaian mutu (akreditasi) sebagai jaminan pelayanan bagi mitra instansi dan rumah sakit rujukan.

e. Mengadakan pelatihan/ lokakarya bersama dengan mitra dalam bidang verifikasi tagihan dan pengelolaan piutang.

f. Memfasilitasi rujukan dengan memanfaatkan kelengkapan alat dan fasilitas yang dimiliki.

4. STRATEGI WT : Meminimalkan kelemahan, menghindari ancaman

a. Memanfaatkan kompetensi tenaga profesional untuk membina rumah sakit jejaring sebagai rumah sakit afiliasi, mengadakan pelatihan dan mengirim tenaga ahli bagi dokter rumah sakit rujukan.

b. Mengadakan pelatihan dan lokakarya bidang hukum kedokteran dengan rumah sakit rujukan dan mitra instansi.

c. Mengadakan kerjasama dengan lembaga asing (rumah sakit maupun lembaga pendidikan) dalam rangka transfer knowledge dan skill.

d. Menerapkan sistem reward and punishment secara konsisten bagi karyawan, perawat dan dokter, menerapkan GCG, serta melakukan pembinaan jenjang karier, diklatbang sehingga karyawan menjadi loyal tidak berpindah.

e. Memanfaatkan SIMRS sebagai sarana untuk pelayanan dan melengkapi rekam medik, pembuatan SOP yang memiliki status hukum yang kuat.

f. Membuat jaringan sistem informasi dengan mitra untuk kemudahan penagihan dan verifikasi data.

4.5.2 Analisis Matriks TOWS

Matriks TOWS digunakan untuk mendapatkan strategi alternatif dengan menggabungkan faktor-faktor internal dan eksternal secara bersama. Hasil analisis RSD diperoleh matriks TOWS seperti tercantum pada Tabel 4.12.

(29)

Tabel 4. 12 TOWS Matriks RSD

List External Opportunity

List Internal Strength Future Quadrant

Related Diversification

Vertical Integration

Market Development Product Development

Market Penetration

List Internal Weakness Internal Fix-it Quadrant

Retrenchment

Enhancement

Market Development Product Development Vertical Integration

Related Diversification External Fix-it Quadrant Survival Quadrant

List External Threat

Related Diversification

Unrelated Diversification

Market Development

Product Development

Enhancement

Status Quo

Unrelated Diversification

Divestire

Liquidation

Harvesting

Retrenchment Sumber : Hasil Analisis Konsultan Tahun 2023

Rumah Sakit Dr. Soebandi berada di kuadran 4 future quadrant (masa depan). Ini adalah situasi yang terbaik bagi rumah sakit. Rumah sakit memaksimalkan kekuatan yang dimiliki dan mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Rumah Sakit Dr. Soebandi sebagai rumah sakit rujukan selayaknya menjadi daya ungkit dan daya dorong untuk mengimplementasikan future quadrant ini dalam bentuk rencana kerja jangka pendek maupun jangka panjang. Membina hubungan dengan stakeholder akan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan RSD. Membangun pasar dengan penetrasi dan perluasan pasar akan menambah daya dorong bagi rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang menambah value bagi masyarakat. Pengembangan product dapat dimulai dengan menyusun dan merealisasikan pelayanan unggulan dan pelayanan lain yang spesifik menunjukkan keunggulan klasifikasi sebagai rumah sakit kelas B dan rumah sakit rujukan. Related diversification dalam hal tidak mengaitkan dengan pelayanan non rumah sakit, namun dimaknai dengan pelayanan unik yang berbeda dengan pelayanan biasa yang telah diberikan oleh rumah sakit yang sudah ada.

4.5.3 Analisis Matriks IE

Dalam penentuan strategi, selain dengan matriks TOWS juga menggunakan matriks IE. Matriks IE bermanfaat untuk memposisikan suatu SBU rumah sakit ke dalam matriks yang terdiri dari 9 (sembilan) sel dengan memperhatikan nilai total EFE dan IFE.

Matriks IE RSD dapat dilihat pada Grafik 4.3.

(30)

No

KEKUATAN

Tabel 4. 13 IFE RSD

SWOT Bobot Rating

(B) (R) B X R

(31)

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Rumah sakit di bawah Dr. Soebandi yang terakreditasi A Rumah Sakit Dr. Soebandi telah terakreditasi paripurna 2018 Merupakan rumah sakit umum kelas C yang telah memenuhi kriteria sesuai klasifikasi dan perizinan rumah sakit dari sisi pelayanan dan SDM

Memiliki SDM profesional dari berbagai disiplin ilmu

Tenaga kerja masih muda, idealis dan memiliki keinginan besar untuk pengembangan RSD

Adanya produk unggulan rumah sakit yang meningkatkan keberadaan RSD sebagai rumah sakit rujukan

Rumah Sakit Dr. Soebandi diberikan kepercayaan oleh Kementerian Kesehatan dengan telah ditunjuknya sebagai laboratorium rujukan Covid-19

Memiliki menajemen pengelolaan yang terbuka dan progresif mulai dari tingkat direksi, unit medis, dokter, karyawan dan masyarakat umum.

Rumah Sakit Dr. Soebandi memiliki captive market BPJS

0,05 4 0,20

0,05 4 0,20

0,05 4 0,20

0,05 4 0,20

0,03 3 0,08

0,03 3 0,08

0,03 3 0,08

0,03 4 0,10

0,03 3 0,08

10 11 12 13

Rumah Sakit Dr. Soebandi bekerjasama dengan luar negeri dalam pengembangan rumah sakit

Berada di lokasi strategis

Memiliki kinerja pelayanan yang baik

Memiliki tanah yang luas untuk pengembangan

0,03 3 0,08

0,03 3 0,08 0,03 3 0,08

0,03 3 0,08

14 Memiliki sistem keuangan yang bersifat transparan dan akuntable 0,03 3 0,08 15 Memiliki sistem informasi dan teknologi standar yang bisa

diandalkan (SIMRS) 0,05 4 0,20

KELEMAHAN 1

2 3 4

Kelengkapan sarana prasarana belum sesuai standar rumah sakit umum kelas C

Kompetensi SDM belum merata

Layout dan zonasi secara umum perlu pembenahan

Belum memiliki layanan ruang rawat inap dan ICU khusus untuk penyakit infeksius

0,08 4 0,30

0,08 4 0,30 0,05 3 0,15

0,05 3 0,15

5 6

Belum memiliki sarana laboratorium yang memadai untuk menangani dan meneliti penyakit infeksius

Masih ada keluhan pasien atas pelayanan

0,05 3 0,15

0,04 3 0,11

7 8 9

Keterbatasan dana bagi pembangunan dan pengembangan serta pemenuhan kebutuhan sarana

Maintenance peralatan

Antrian pelayanan di pendaftaran rawat jalan

0,08 4 0,30

0,05 3 0,15

0,04 3 0,11

TOTAL SKOR FAKTOR INTERNAL 1,00 3,50

Sumber : Hasil Analisis Konsultan Tahun 2023

(32)

No

PELUANG

Tabel 4. 14 EFE RSD

SWOT Bobot Rating

(B) (R) B X R

1 2

3 4

5

6 7 8 9

Dukungan stakeholder untuk mengembangkan RSD sangat tinggi Adanya potensi pengembangan wisata kerjasama pemerintah Kabupaten Jember dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan icon Kabupaten Jember sebagai Kota Mahasiswa

Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Dr. Soebandi dan RSUD Dr. Saiful Anwar Jember untuk mendapatkan tenaga kesehatan Transisi demografi dan epidemologi penyakit mendukung pelayanan rumah sakit sebagai rumah sakit rujukan sesuai keunggulan

Menggunakan sistem IT dalam pengabdian masyarakat dengan program safe community kegawatdaruratan melalui sistem call center di RSD (sistem komando) bagi penjemputan, pendampingan, dan transfer pasien dengan tracking online dan konsultasi dengan ahli di RSD

Rumah Sakit Dr. Soebandi sebagai pusat pelatihan kader kesehatan menjadi agen perujukan dan pendampingan masyarakat pada komunitas-komunitas

Loyalitas pelanggan tinggi

Kemitraan dengan lembaga pendidikan dan sarana kesehatan lain dalam membina jejaring guna pengembangan pelayanan yang spesifik/ rujukan

Kesadaran masyarakat atas kesehatan dan pelayanan rumah sakit di Kabupaten Jember dan sekitarnya meningkat

0,05 4 0,20

0,04 3 0,11

0,04 4 0,15

0,04 3 0,11

0,04 4 0,15

0,04 3 0,11

0,04 3 0,11

0,04 3 0,11

0,04 4 0,15

10 11

Adanya komitmen tertulis pembiayaan/ pendanaan pihak ketiga untuk pengembangan rumah sakit

Aksesibilitas dan transportasi menuju RSD mudah

0,04 4 0,15

0,04 3 0,11

12 13

Desain dan bentuk bangunan RSD telah memenuhi standar yang berpeluang dikembangkan di masa depan

Implementasi artificial technology dengan pelayanan robotic di berbagai pelayanan umum maupun isolasi/ infeksi

0,04 3 0,11

0,04 3 0,11

TANTANGAN

1 2 3 4 5

Perubahan kebijakan stakeholder yang memiliki pengaruh terhadap operasional rumah sakit dan pola kemitraan dengan luar yang selama ini sudah terjalin baik.

Berkembangnya medikolegal dalam penyelesaian masalah hukum di rumah sakit

Regulasi tarif rumah sakit pemerintah yang mengikat dan ada batasan terutama pasien BPJS, kurang kompetitif dibandingkan rumah sakit swasta

Munculnya rumah sakit kompetitor swasta yang menjalin kemitraan dengan unggulan dan pasar yang sama, lebih inovatif

Globalisasi era MEA sebagai sarana perpindahan SDM muncul rumah sakit pesaing yang dapat memberikan kesejahteraan lebih

0,06 4 0,25

0,06 4 0,25

0,05 3 0,15

0,05 3 0,15

0,06 3 0,19

6 Perkembangan advanced technology dan medical equipment diikuti

dengan pembiayaan yang tinggi 0,05 3 0,15

Gambar

Tabel 4.1 Indikator  Pelayanan  RSD  dr. Soebandi  Jember
Tabel 4.3Pasien  Instalasi Rawat  Jalan  Berdasarkan Jaminan Sosial yang Diikuti Status Jaminan
Tabel 4.2 Kunjungan Pasien Instalasi Rawat Jalan  Berdasarkan Spesialisasi
Tabel 4.6 Sepuluh Penyebab Kematian No
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis ini didapat bahwa pada Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung kapasitas ruang parkir yang tersedia tidak mencakupi lagi untuk kendaraan yang akan parkir..

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ANALISIS KEBUTUHAN RUANG PARKIR. RUMAH SAKIT MATA

IZIN LENGKAP IZIN SEBAGIAN TIDAK BERIZIN.. 7 perumahan yang dilakukan di lapangan. Hasil dari overlay tersebut menghasilkan peta kesesuaian lokasi perumahan dengan RDTR

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh rumah sakit adalah bagaimana meningkatkan kenyamanan staf rumah sakit melalui studi desain tata letak dapur yang ergonomis..

Penelitian survei dengan metode explanatory untuk mengetahui apa pengaruh dari faktor tata ruang rumah sakit dan lingkungan terhadap kenyamanan.. Bila kenyamanan menurun,

Pola sebarannya adalah pola sebaran seragam (dispersed) dengan nilai rata-rata sebesar 5,49, dan (2) kesesuaian lokasi industri besar yang ada saat ini dengan Rencana

Mengetahui kesesuaian rencana tata ruang pada dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Sorong Distrik Mayamuk dengan yang terlaksana di Distrik Mayamuk, 3).

Dari hasil analisa tempat penyimpanan yang baik di Rumah Sakit Umum Muslimat Ponorogo penempatan rak membutuhkan luas ruang 23,5 m² maka rak penyimpanan bisa di tata