• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Limbah Cair dan Padat pada Industri Tahu

N/A
N/A
Della Rahma

Academic year: 2025

Membagikan " Analisis Limbah Cair dan Padat pada Industri Tahu"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DAN PADAT PADA INDUSTRI TAHU

Della Rahmadani

Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Ahmad Dahlan Jl. Ringroad Selatan, Tamanan, Bantul, Yogyakarta 55164

Email: [email protected]

Abstrak

Industry tahu pada setiap proses produksinya akan menghasilkan limbah tahu yang berupa limbah tahu padat dan limbah tahu cair. Limbah industry tahu memiliki kandungan bahan C- organik yang mempengaruhi kadar BOD dan COD dan juga bersifat racun bagi biota perairan dan menurunnya kualitas perairan. Sehingga perlu dilakukan analisis pada limbah tahu diantaranya analisis karaktertik fisik limbah cair, analisis BOD dan DO, analisis COD, analisis TS; TSS; TDS untuk mengetai pH, suhu, adanya endapan dalam limbah, kandungan oksigen terlarut, bahan organic, dan total padatan dalam limbah yang kemudian dilakukan penetralisasi atau meminimalisir dampak pencemaran lingkungan. Hasil dari analisis tersebut didapatkan karakteristik fisik dari limbah cair tahu memiliki warna putih keruh, suhu limbah yaitu 32°C, dan bersifat asam yaitu pH 3.5. Sedangkan karakteristik kimia dari limbah cair tahu seperti nilai BOD, COD, TS, TDS, dan TSS berturut-turut adalah sebesar 4.8 mg/L; 2016 ppm; 7000 ppm; 2400 ppm; 6200 ppm.

Kata kunci : Limbah cair tahu, Limbah padat tahu, Senyawa organic, Karakteristik fisik Pendahuluan

Tahu merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena harganya yang murah di samping nilai gizinya yang tinggi akan protein. Industry tahu pada setiap proses produksinya akan menghasilkan limbah tahu yang berupa limbah tahu padat dan limbah tahu cair (Cahyani dkk, 2020). Limbah padat berupa ampas yang berasal dari kacang kedelai yang banyak mengandung protein dan karbohidrat tinggi sehingga pembusukan oleh mikroorganisme pembusuk sangat mudah terjadi, sedangkan limbah cair berasal dari pembersihan kedelai, pembersihan peralatan, perendaman, dan pencetakan yang akan langsung dibuang ke sungai (Pagoray dkk, 2021).

Limbah industry tahu memiliki kandungan bahan C-organik yang mempengaruhi kadar BOD dan COD. Buangan dari tahu yang mengandung bahan organic dan gas seperti oksigen terlarut (O2), hydrogen sulfida (H2S), karbon dioksida (C O2), dan amoniak (NH3). Kualitas air akan berubah apabila ada bahan yang masuk, seperti bahan organic yang dapat mencemari perairan, menghasilkan produk dekomposisi berupa NH3, C O2, H2S, dan asam asetat yang dapat bersifat racun bagi biota perairan dan menurunnya kualitas perairan (Pagoray dkk, 2021). Sehingga perlu dilakukan analisis pada limbah tahu diantaranya analisis karaktertik fisik limbah cair, analisis BOD dan DO, analisis COD, analisis TS; TSS;

TDS. Macam-macam analisis tersebut dilakukan untuk mengetai pH, suhu, adanya endapan dalam limbah, kandungan oksigen terlarut, bahan organic, dan total padatan dalam limbah yang kemudian dilakukan penetralisasi atau meminimalisir dampak pencemaran lingkungan.

Metodologi A. Alat

(2)

Alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah botol plastic 1.5 liter, kamera, alat tulis, masker, sarung tangan, tabung reaksi, rak tabung reaksi, oven, gelas beaker, timbangan analitik, cawan petri, desikator, dan pH meter.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah limbah cair tahu, kertas pH, kertas label, kertas saring, aquades, larutan MnS O4, alkali iodide azida, H2S O4, Na2S2O3, indicator amilum, K2C r2O7, KI, dan alumunium foil.

C. Metode Percobaan 1. Observasi Lapangan

Observasi lapangan dilakukan untuk mendapatkan pengambilan sampel limbah cair dan limbah padat tahu pada pabrik tahu Eko aska di daerah Grojokan Tamanan, sampel yang ditampung pada drum diambil menggunakan gayung kemudian dimasukkan ke botol 1 L yang telah disiapkan. Limbah padat berupa ampas tahu yang ada di dalam karung diambil dengan menggunakan sarung tangan. Sampel limbah padat dimasukkan ke dalam kantong plasik hitam dan dilakukan pengambilan foto untuk dokumentasi pada saat limbah tersebut diambil. Pada tahap ini juga dilakukan wawancara kepada salah satu karyawan pabrik untuk mendapatkan informasi seputar profil dari UMKM, varian produk yang dihasilkan, jenis limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan, dan system penanganan limbah yang diterapkan pabrik.

2. Karakteristik Fisik Limbah Cair

Analisis karakteristik fisik limbah cair tahu dilakukan untuk mengetahui kandungan pH, suhu, warna, bau, dan berat endapan pada sampel tahu. Limbah cair tahu yang sudah disiapkan di dalam gelas ukur yang telah dilabeli, diuji pH sampel menggunakan pH meter. Kemudian mengukur suhu masing-masing sampel menggunakan thermometer. Selanjutnya adalah menyaring endapan pada sampel menggunakan kertas saring dan corong kaca, lalu kertas saring berisi endapan dioven dengan suhu 100°C. Menimbang berat endapan kering menggunakan neraca digital O’haus. Hasil analisis karakteristik fisik disajikan dalam bentuk tabel dan dibandingkan hasil uji dengan standar baku mutu air limbah berdasarkan SNI.

3. Analisis BOD dan DO

Analisis BOD dan DO terhadap sampel limbah cair tahu dilakukan untuk mengetahui nilai BOD yang merupakan indikator tingkat pencemar oleh senyawa organic yang dapat diuraikan oleh bakteri, sedangkan nilai DO digunakan untuk mendapatkan nilai BOD. Metode yang digunakan untuk mengukur nilai DO dan BOD adalah Metode Winkler. Limbah cair tahu yang sudah disiapkan dimasukkan ke dalam botol winkler sebanyak 60 ml lalu diencerkan menggunakan aquades sampai meluap, kemudian ditutup rapat jangan sampai ada gelembung udara. Botol berisi sampel diinkubasi selama 5 hari dengan suhu 20°C. Menambahkan 1 ml MnS O4 dan 1 ml alkali iodide azida kemudian ditutup segera dan dibungkus dengan alumunium foil lalu dihomogenkan hingga terbentuk endapan kira-kira ditunggu sampai dengan 10 menit. Menambahkan 1 ml H2S O4 pekat lalu tutup dan dihomogenkan hingga endapan larut sempurna. Larutan homogen sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer untuk dilakukan titrasi dengan Na2S2O3 dengan 1 ml indicator amilum sampai warna biru tepat hilang, kemudian dicatat volume titrasi untuk memperoleh nilai oksigen terlarut.

4. Analisis COD

Analisis COD terhadap sampel limbah cair tahu dilakukan untuk mengetahui kebutuhan oksigen yang digunakan zat organic yang sukar dihancurkan secara oksidasi atau yang belum teroksidasi sempurna saat uji BOD. Pengujian COD menggunakan prinsip oksidasi zat organic dengan kalium dikromat berlebih dalam asam sulfat mendidih. Pertama melakukan pengenceran 2 ml sampel limbah cair tahu

(3)

dengan 8 ml aquades, yang kemudian diambil sebanyak 5 ml dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Menambahkan H2S O4 6 N sebanyak 5 ml dan K2C r2O7 sebanyak 20 ml kedalam sampel kemudian dihomogenkan. Memanaskan sampel menggunakan waterbath selama 10 menit kemudian didinginkan hingga mencapai suhu 25°C. Menambah larutan KI sebanyak 10 ml lalu labu Erlenmeyer dilapisi alumunium foil. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 0.1 N hingga berwarna kuning Jerami, setelah itu ditambahkan indicator amilum sebanyak 10 tetes. Larutan dititrasi lagi hingga berubah warna dari biru menjadi hijau muda. Kemudian dicatat volume titrasi untuk menghitung jumlah COD menggunakan rumus.

5. Analisis TS, TSS, dan TDS

Analisis ini terdiri dari tiga macam padatan dalam sampel yaitu TS (Total Padatan), TSS (Padatan Tersuspensi Total atau residu yang tertahan), dan TDS (Total Padatan Terlarut).

a) TS

Pertama menuangkan sampel limbah cair tahu ke dalam cawan petri sebanyak 10 ml untuk diuapkan menggunakan waterbath hingga sampel mengering. Cawan berisi sampel dimasukkan ke dalam oven untuk dipanaskan dengan suhu 105°C selama 1 jam. Cawan didinginkan di dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang sampai beratnya konstan dan dicatat hasilnya.

b) TDS

Menyaring sampel limbah cair tahu sebanyak 10 ml menggunakan kertas saring lalu dituangkan ke cawan petri. Menguapkan cawan petri berisi sampel di dalam waterbath sampai kering kemudian mengeringkan sampel ke dalam oven dengan suhu 105°C selama 1 jam. Cawan didinginkan di dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang sampai beratnya konstan dan dicatat hasilnya.

c) TSS

Memasukkan kertas saring yang berisi endapan (pada percobaan TDS) ke dalam cawan petri lalu dikeringkan ke dalam oven dengan suhu 105°C selama 1 jam. didinginkan di dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang sampai beratnya konstan dan dicatat hasilnya.

6. Analisis Limbah Padat

Pada analisis ini ada dua karakteristik fisik yang akan diuji yaitu kadar air dan pH, dimana analisis kadar air dilakukan dengan metode berat basah sedangkan analisis pH menggunakan pH meter.

a) Analisis kadar air

Sampel ampas tahu ditimbang dalam cawan porselen sebanyak 3 gram yang kemudian dioven selama 3 jam dalam suhu 105°C. Cawan porselen berisi sampel didinginkan dalam desikator selama 15 menit, lalu ditimbang untuk mendapatkan nilai berat sampel.

b) Analisis pH

Sampel ampas tahu ditimbang sebanyak 5 gram lalu diencerkan dengan 50 ml aquades. Probe pH meter dibilas dengan aquades dan dibersihkan menggunakan tisu, setelah itu pH meter dinetralkan hingga pembacaan pH stabil dengan direndam dalam larutan buffer. Probe pH meter dibilas kembali dengan aquades dan dibersihkan menggunakan tisu. Probe direndam dalam larutan sampel limbah hingga pembacaan pH stabil.

Hasil dan Pembahasan 1. Observasi Lapangan

Industri pangan merupakan industri yang mempunyai rantai pengolahan yang kompleks dan setiap pengolahannya menghasilkan limbah yang ketika tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan pencemaran lingkungan di tempat limbah tersebut dibuang. Pengertian limbah menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

(4)

adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan. Limbah erat kaitannya dengan pencemaran, karena limbah inilah yang menjadi substansi pencemaran lingkungan, karena itu pengolahan limbah sangat dibutuhkan agar tidak mencemari lingkungan (Pitoyo dkk, 2016).

Observasi lapangan dilakukan untuk mendapatkan pengambilan sampel limbah cair dan limbah padat tahu pada pabrik tahu Eko aska di daerah Grojokan Tamanan, yang dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2022. Tahap pengambilan sampling ini didapatkan 1 liter limbah cair tahu yang dimasukkan kedalam botol bekas dan sampel limbah padat tahu berupa ampas tahu yang dimasukkan ke dalam plastic hitam.

Selain untuk mendapatkan sampel limbah, pada tahap ini juga dilakukan wawancara kepada salah satu karyawan pabrik untuk mendapatkan informasi seputar profil dari UMKM, varian produk yang dihasilkan, jenis limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan, dan system penanganan limbah yang diterapkan pabrik.

Perusahaan Eko Aska yang merupakan rumah produksi tahu dengan metode konvensional ini terletak di Desa Grojogan, Tamanan, Yogyakarta. Pabrik tahu ini telah berdiri sekitar 7-8 tahun, yang mana pemilik dari pabrik ini sendiri adalah Bapak Eko. Pabrik Eko Aska ini memiliki jumlah karyawan sebanyak 3 orang.

Pabrik tahu ini mengolah beberapa varian tahu, diantaranya adalah tahu pong, tahu magel, tahu kuning, dan tahu putih dengan menggunakan metode pengolahan konvensional. Setiap proses pengolahan dari tahu ini menghasilkan limbah berupa limbah cair dan limbah padat, yang mana pabrik ini memiliki system pengolahan limbah yaitu dengan cara diberikan ke hewan ternak atau sebagai pakan ternak untuk perlakuan limbah padat. Sedangkan limbah cair tahu akan dibuang langsung ke sungai.

Gambar١. Dokumentasi pengambilan limbah cair tahu

Gambar٢. Dokumentasi pengambilan limbah padat tahu

Gambar٣. Dokumentasi limbah padat tahu atau ampas tahu

(5)

Gambar٤. Dokumentasi wawancara kepada salah satu karyawan

2. Analisis Karakteristik Limbah Cair

Penanganan limbah yang efektif memerlukan informasi terkait karakteristik limbah yang dihasilkan. Pengetahuan terkait karakteristik limbah dapat menjadi hal utama dalam proses pengendalian dampak terhadap lingkungan sehingga hasil pengolahan limbah memenuhi baku mutu limbah (Fitriyanti, 2020).

Tabel١. Hasil Pengamatan Karakteristik Limbah Cair Produksi Tahu

pH Warna Suhu

3.5 Putih keruh 32°C

Karakteristik limbah cair tahu dalam penelitian ini memiliki tiga parameter yang diamati yaitu derajat keasaman (pH), warna, dan suhu.

1) Derajat keasaman (pH)

Gambar٥. Dokumentasi pengukuran pH limbah cair tahu

Produktivitas perairan merupakan gambaran produktivitas organisme yang terdapat didalamnya. Produktivitas tersebut dipengaruhi oleh kelarutan zat/mineral di perairan, dimana, derajat keasaman merupakan salah satu parameter penting yang mempengaruhi kelarutan zat/mineral tersebut. Perairan dengan pH antara 6-8 memiliki produktivitas yang baik, sebaliknya pH yang berada diluar batas normal tersebut dapat mengganggu kehitupan biota perairan (Ratnani dkk, 2011). Hasil pengukuran pH limbah cair tahu dari pabrik Eko Aska menunjukkan nilai derajat keasaman asam yaitu 3,5. Nilai ini berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan dalam peraturan Gubernur Nomor 69 Tahun 2010 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan kedelai yaitu pH 6-9 (Indonesia, 2010).

2) Warna

Warna juga merupakan karakteristik dari limbah yang paling mudah dikenali.

Karena air limbah biasanya memiliki warna tertentu tetapi tergantung pada

(6)

kandungan air di limbah tersebut. Biasanya warna dari limbah yang baru dibuang adalah abu-abu atau bisa berubah menjadi kehitaman. Limbah cair tahu mengandung zat organik yang dapat menyebabkan pesatnya pertumbuhan mikroba dalam air. Hal tersebut akan mengakibatkan kadar oksigen dalam air menurun tajam. Limbah cair tahu mengandung zat tersuspensi, sehingga mengakibatkan air menjadi kotor/keruh (Ratnani dkk, 2011).

Gambar٦. Dokumentasi pengamatan warna limbah cair tahu

Pada pengolahan limbah cair tahu juga kadang masih terdapat endapan sisa-sisa ampas tahu dan kadang juga masih terkandung kacang kedelai. Warna limbah ditimbulkan oleh adanya bahan organik dan bahan non organik, karena keberadaan plankton, humus, ion-ion logam (besi & mangan), serta bahan-bahan lain. Warna dapat diamati secara visual (langsung) ataupun diukur berdasarkan sekala platinum cobalt (PtCo). Dengan membandingkan dengan warna standart. Air yang memiliki nilai kekeruhan rendah biasanya memiliki nilai warna tampak dan warna sesungguhnya yang sama standart. Intensitas warna cenderung meningkat dengan meningkatnya nilai pH (Ratnani dkk, 2011). Hasil pengamatan warna limbah cair tahu dari pabrik Eko Aska menunjukkan warna putih keruh.

3) Suhu

Gambar٧. Dokumentasi pengukuran suhu limbah cair tahu

Suhu Air Limbah biasanya ± 3°C dari suhu udara atau 30°C ini menurut PERGUB Provinsi No. 69 Tahun 2013 Tentang Baku Mutu Air Limbah Pelapisan Logam. Temperatur air limbah mempengaruhi badan penerima bila terdapat perbedaan suhu yang cukup besar. Temperatur air limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air (Kurniawati dan Maqfiroh, 2019). Hasil pengukuran suhu limbah cair tahu dari pabrik Eko Aska adalah sebesar

(7)

32°C. Sehingga jika menurut baku mutu suhu air limbah, limbah cair tahu dari pabrik Eko aska ini harus diturunkan suhunya dengan penambahan air sebelum dibuang ke lingkungan.

3. Analisis Limbah Cair Tahu (BOD, COD, TS, TDS, TSS) Tabel 2. Hasil Analisis Limbah Cair Produksi Tahu

BOD COD TS TDS TSS

4.8 mg/L 2016 ppm 7000 ppm 2400 ppm 6200 ppm

1) BOD

Banyaknya oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik di perairan dikenal dengan Biological Oxygen Demand (BOD). Tingginya nilai BOD merupakan salah satu indikator yang menunjukkan banyaknya beban pencemaran yang bersumber dari zat organik terlarut yang terdapat di perairan tersebut (Fitriyanti, 2020). Hasil pengukuran BOD pada limbah cair produksi tahu menunjukkan nilai 4.8 mg/L. Nilai ini berada di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Tahu yaitu sebesar 150 mg/L (Indonesia, 2014).

2) COD

Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan ukuran kebutuhan oksigen yang digunakan oksidator untuk proses oksidasi semua zat organik dan anorganik melalui reaksi kimia di dalam perairan. Hasil pengukuran COD pada limbah cair produksi tahu menunjukkan nilai 2016 ppm. Nilai ini melebihi/ diatas nilai baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Tahu yaitu sebesar 300 mg/L.

Tingginya kandungan COD dapat diakibatkan adanya kandungan di dalam air limbah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (Indonesia, 2014).

3) TS

Total padatan (total solids) adalah semua bahan yang terdapat dalam contoh air setelah dipanaskan pada suhu 103°-105°C selama tidak kurang dari 1 jam. Bahan ini tertinggal sebagai residu melalui proses evaporasi. Total solid pada air terdiri dari total padatan terlarut (total dissolved solids) dan total zat padat tersuspensi (total suspended solids) (Lanovia, 2015). Hasil pengukuran TS pada limbah cair produksi tahu menunjukkan nilai 7000 ppm.

4) TDS

Total Dissolve Solid (TDS) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part per million (ppm) atau sama dengan milligram per liter (mg/L).

Umumnya berdasarkan definisi diatas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 micrometer (2×10-6 meter). Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan pada pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan air mineral, dan lain-lain. Total padatan terlarut (TDS) juga dapat diartikan sebagai bahan dalam contoh air yang lolos melalui saringan membran yang berpori 2,0 m atau lebih kecil dan dipanaskan 180°C selama 1 jam. Total dissolved solids yang terkandung di dalam air biasanya berkisar antara 20 sampai 1000 mg/L. Pengukuran total solids dikeringkan dengan suhu 103 sampai 105°C. Digunakan suhu yang lebih tinggi agar air yang tersumbat dapat dihilangkan secara mekanis (Lanovia, 2015).

Sesuai regulasi dari Enviromental Protection Agency (EPA) USA, menyarankan bahwa kadar maksimal kontaminan pada air minum adalah sebesar 500 mg/L (500

(8)

ppm). Kini banyak sumber-sumber air yang mendekati ambang batas ini. Saat angka penunjukan TDS mencapai 1000 mg/L maka sangat dianjurkan untuk tidak dikonsumsi manusia. Dengan angka TDS yang tinggi maka perlu ditindaklanjuti, dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Umumnya, tingginya angka TDS disebabkan oleh kandungan potassium, khlorida, dan sodium yang terlarut di dalam air. Ion-ion ini memiliki efek jangka pendek (short-term effect) tapi ion-ion yang bersifat toksik (seperti timah arsenic, kadmium, nitrat dan banyak lainnya) banyak juga yang terlarut di dalam air (Lanovia, 2015). Hasil pengukuran TDS pada limbah cair produksi tahu menunjukkan nilai 2400 ppm.

5) TSS

TSS merupakan total suspenden solid atau padatan tersuspensi yang menyatakan kandungan bahan tersuspensi di dalam limbah. TSS menunjukkan banyaknya bahan tersuspensi seperti pasir, jasad renik, lumpur yang tertahan oleh saringan berdiameter 0,45 µm. Kandungan TSS yang tinggi berpengaruh terhadap proses fotosintesis dengan menghalangi sinar matahari masuk ke perairan dan berdampak pada biota perairan. Bahan tersuspensi dapat juga berasal dari limbah organik yang jika terjadi degradasi pada bahan organik tersebut dapat mengakitkan kandungan oksigen di perairan menurun. Hasil pengukuran TSS pada limbah cair produksi tahu menunjukkan nilai 6200 ppm. Nilai ini melebihi/ diatas baku mutu dan berada jauh dibawah nilai baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Tahu yaitu sebesar 200 mg/L (Indonesia, 2014).

(9)

4. Analisis Limbah Padat Produksi Tahu

Tabel 3. Hasil Analisis Limbah Padat Produksi Tahu

Kadar air pH

79.253% 6.93

1) pH

Gambar١٥. Dokumentasi pengukuran pH larutan limbah padat tahu

Produktivitas perairan merupakan gambaran produktivitas organisme yang terdapat didalamnya. Produktivitas tersebut dipengaruhi oleh kelarutan zat/mineral di perairan, dimana, derajat keasaman merupakan salah satu parameter penting yang

(10)

mempengaruhi kelarutan zat/mineral tersebut. Perairan dengan pH antara 6-8 memiliki produktivitas yang baik, sebaliknya pH yang berada diluar batas normal tersebut dapat mengganggu kehitupan biota perairan (Ratnani dkk, 2011). Hasil pengukuran pH limbah cair tahu dari pabrik Eko Aska menunjukkan nilai derajat keasaman mendekati netral yaitu 6.93. Nilai ini berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan dalam peraturan Gubernur Nomor 69 Tahun 2010 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan kedelai yaitu pH 6-9 (Indonesia, 2010).

2) Kadar Air

Pengukuran kadar air bahan pangan, air yang terukur adalah air bebas dan air teradsorbsi. Ada beberapa metode untuk analisis kadar air, antara lain yaitu: metode pengeringan/oven, metode destilasi, dan metode kimiawi. Pada praktikum kali ini, kami menggunakan metode pengeringan/oven untuk menentukan kadar air biskuit.

Metode pengeringan/oven menggunakan prinsip “thermogravimetri” dengan alat pengering berupa oven. Metode pengeringan dengan oven didasarkan atas prinsip perhitungan selisih bobot bahan (sampel) sebelum dan sesudah pengeringan. Selisih bobot tersebut merupakan air yang teruapkan dan dihitung sebagai kadar air bahan.

Metode ini dapat digunakan untuk semua produk pangan, kecuali produk yang mengandung komponen senyawa “volatil” (mudah menguap) atau produk yang terdekomposisi/rusak pada pemanasan 100°C. Prinsip metode ini adalah mengeringkan sampel dalam oven 100-105°C sampai bobot konstan dan selisih bobot awal dengan bobot akhir dihitung sebagai kadar air (Nadia, 2014).

Hasil analisis kadar air menggunakan metode gravimetri pada sampel limbah padat tahu dari pabrik Eko Aska menunjukkan nilai persentase sebesar 79.253%.

Tingginya persentase kadar air limbah padat tahu atau ampas tahu, yang mana kandungan air tersebut tergolong limbah cair yang juga mengandung senyawa- senyawa organic yang dapat mencemari perairan, menghasilkan produk dekomposisi yang dapat bersifat racun bagi biota perairan dan menurunnya kualitas perairan.

Kesimpulan

Setelah dilakukan beberapa analisis karakteristik fisik maupun kimia pada sampel limbah cair tahu dan limbah padat tahu dari perusahaan Eko Aska yang terletak di Desa Grojogan, Tamanan, Yogyakarta, maka didapatkan hasil bahwa untuk karakteristik fisik dari limbah cair tahu memiliki warna putih keruh, suhu limbah yaitu 32°C, dan bersifat asam yaitu pH 3.5. Sedangkan karakteristik kimia dari limbah cair tahu seperti nilai BOD, COD, TS, TDS, dan TSS berturut-turut adalah sebesar 4.8 mg/L; 2016 ppm; 7000 ppm; 2400 ppm;

6200 ppm. Berdasarkan hasil analisis tersebut beberapa parameter limbah tidak memenuhi persyaratan baku mutu limbah cair tahu yang telah ditetapkan, seperti pH limbah yang terlalu asam, suhu limbah yang melebihi baku mutu limbah, serta kandungan bahan organic dan endapan yang juga melebihi baku mutu limbah tahu. Oleh karena itu, limbah harus dilakukan penanganan terlebih dahulu secara tepat sebelum dibuang karena tidak aman jika langsung dibuang ke perairan karena akan meracuni biota perairan dan menurunnya kualitas perairan serta daerah sekitarnya.

Daftar Pustaka

Cahyani, M. R., Zuhaela, I. A., Saraswati, T. E., Rahardjo, S. B., Pramono, E., Wahyuningsih, S., Lestari, W. W., & Widjonarko, D. M. 2020. Pengolahan Limbah Tahu dan Potensinya. Proceeding of Chemistry Conferences, 6, 27-22.

(11)

Fitriyanti, R. 2020. Karakteristik Limbah Domestik Di Lingkungan Mess Karyawan Pertambangan Batubara. Jurnal Redoks, 5(2), 72-22.

Indonesia. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai. Lampiran II Nomor 69 Tahun 2010. Sekretariat Negara. Jakarta.

Indonesia. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai.

Lampiran XVIII Nomor 5 Tahun 2014. Sekretariat Negara. Jakarta.

Kurniawati, Y., & Maqfiroh, N. 2019. Analisis Effluent Limbah Cair Pt Dnp Indonesia.

Pulogadung, Jakarta Timur. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 11(1), 64-72.

Lanovia, C. 2015. Laporan Praktikum Lab.Teknik Lingkungan Modul 1 – Analisis TS, TDS

dan TSS.

https://www.academia.edu/12605337/TS_TSS_dan_TDS_Laporan_Praktikum_2_La b_TL. Diakses pada tanggal 23 November 2022.

Nadia, A. 2014. Jurnal Praktikum Kimia Analitik II “Penentuan Kadar Air dan Kadar Abu

dalam Biskuit”.

https://www.academia.edu/6742459/jurnal_penentuan_kadar_air_dan_kadar_abu_m enerapkan_metode_gravimetrik. Diakses pada tanggal 23 November 2022.

Pagoray, H., Sulistyawati., & Fitriyani. 2021. Limbah Cair Industri Tahu dan Dampaknya Terhadap Kualitas Air dan Biota Perairan. Jurnal Pertanian Terpadu, 9(1), 53-65.

Pitoyo, P. N. P., Arthana, I. W., & Sudarman, I. M. 2016. Kinerja Pengolahan Limbah Hotel Peserta Proper dan Non Proper Di Kabupaten Badung, Provinsi bali. Ecotrophic journal, 10(1), 33-40.

Ratnani, R. D., Hartati, I., & Kurniasari, L. 2011. Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) Untuk Menurunkan Kandungan COD (Chemical Oxygen Demond), pH, Bau, dan Warna Pada Limbah Cair Tahu. Jurnal Momentum, 7(1), 41-47.

(12)

LAMPIRAN

(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan untuk melengkapi penelitian mengenai uji toksisitas akut limbah cair industri tahu terhadap Ikan Mas, dapat dilakukan

Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa media limbah cair industri tahu dapat digunakan sebagai media alternative untuk pertumbuhan Bacillus sp.. Media alternatif, limbah cair,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 dari limbah cair industri tahu terhadap ikan bawal air tawar dan pengaruh konsentrasi limbah cair industri tahu terhadap

Uji toksisitas limbah cair industri tahu menghasilkan tingkat mortalitas ikan bawal air tawar diantaranya pada perlakuan konsentrasi 1,31% mematikan 20% ikan, konsentrasi

Pencemaran ini disebabkan oleh kandungan bahan organik dan anorganik yang berasal dari limbah cair industri tahu yang dibuang ke perairan tanpa melalui

Bila dibandingkan dengan dengan baku mutu air limbah industri tahu, ditinjau dari konsentrasi, semua parameter tidak memenuhi baku mutu yang ditentukan.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disarankan untuk melengkapi penelitian mengenai uji toksisitas akut limbah cair industri tahu terhadap Ikan Mas, dapat dilakukan

Industri tahu menghasilkan air limbah yang mengandung senyawa organik dan anorganik. Upaya pengendalian pencemaran akibat limbah tersebut dilakukan dengan fitoremediasi tanaman Azolla