ANALISIS PENERAPAN PERATURAN MENTERI NOMOR 20 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR KESELAMATAN PENGIRIMAN (Studi di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep). Dalam tesis ini, penulis mengangkat permasalahan analisis implementasi Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun Tentang Standar Keselamatan Pelayaran (Studi di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep). Apa kendala penerapan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep.
Apa tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang dan pengirim jika terjadi kondisi tidak aman yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran? Bagaimana penerapan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep berdasarkan standar keselamatan pelayaran. Apa kendala penerapan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep.
Apa tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang dan pengirim jika terjadi situasi berbahaya yang disebabkan oleh kegagalan untuk mematuhi standar keselamatan pelayaran? Memahami dan menganalisis bagaimana penerapan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas Desa Brakas. Untuk memahami dan menganalisis kendala apa saja yang dihadapi dalam penerapan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep.
Mengetahui dan memahami Apa tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang dan pengirim jika terjadi kondisi tidak aman yang disebabkan oleh ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran.
Manfaat Secara Praktis a. Bagi Masyarakat
Orisinalitas Penelitian
Skripsi kedua berjudul “PERUBAHAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP SANKSI PEMBERIAN HUKUMAN KUMULATIF BAGI NASAKIA YANG BERLAYAR KAPAL TANPA PERSETUJUAN SYAHBANDAR DAN KAPAL TIDAK DILENGKAPI RADIO NOMOR DEKEMION 6 0/Pid.B /2018/PN Rno) , yang disusun oleh ALIF ILHAM NUGRAHA, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel, memiliki kesamaan dengan penelitian yang diteliti oleh penulis yaitu sama – baik yang dianalisis maupun yang diteliti terkait pada standar keselamatan pelayaran yaitu alat komunikasi radio, sedangkan perbedaannya terletak pada metode penelitian, metode yang digunakan penulis menggunakan metode penelitian empiris dimana pengambilan data diperoleh langsung di tempat penelitian dan pada tesis Alif Ilham Nugraha menggunakan metode penelitian normatif yaitu penelitian yang mengumpulkan data dari bahan kepustakaan dan di dalamnya terdapat pembahasan tentang tindak pidana Islam.17 Tahun 2008 yang berkaitan dengan pelayaran dan peraturan terkait mengatur tanggung jawab nakhoda dan perusahaan angkutan terhadap pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat kecelakaan pelayaran. Bagaimana tanggung jawab yang dapat diberikan oleh nakhoda dan perusahaan pelayaran tempat nakhoda bekerja terhadap pihak ketiga yang mengalami kerugian akibat kecelakaan pelayaran.
Dalam hal terjadi kecelakaan pelayaran, khususnya tabrakan kapal, sebenarnya tanggung jawab perdata lebih banyak ditanggung oleh perusahaan pelayaran tempat nakhoda bekerja. Dalam hal ini, nakhoda baru dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila memenuhi dua unsur pertama yang dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Maritim dan unsur-unsur pidananya. Tanggung jawab pengangkut dalam kecelakaan pelayaran bertanggung jawab atas segala kerugian materiil akibat kecelakaan sebagaimana diuraikan dalam Pasal 1367 KUH Perdata, Pasal 536 dan 538 KUH Perdata.
Dalam hal ini mengenai tanggung jawab nakhoda dan pengangkut terhadap pihak ketiga yang dirugikan dapat dilakukan secara pidana dan perdata, tetapi dengan syarat harus ada putusan pengadilan pelayaran untuk melakukan sanksi administratif. Hukum dimana sebagian besar data penelitian berasal dari studi literatur, sedangkan penelitian penulis berfokus pada tanggung jawab Pengangkut dalam mengoperasikan kapal sesuai dengan Standar Keselamatan Pelayaran, ketika terjadi hal – hal yang membahayakan penumpang dan barang pengirim. Apa pertimbangan hukum hakim atas tindak pidana pelayaran dalam putusan Nomor: 60/Pid.B/PN Rno nahkdoa yang berlayar dengan kapal tanpa izin dari Syahbandar dan kapal tersebut tidak dilengkapi dengan alat komunikasi radio .
Bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap tindak pidana kapal dalam Resolusi Nomor: 60/Pid.B/PN Rno nahkdoa berlayarnya kapal tanpa izin Syahbandar dan kapal tersebut tidak dilengkapi dengan alat komunikasi radio. Terhadap putusan Nomor Nomor: 60/Pid.B/PN Rno Majelis hakim menyatakan bahwa terdakwa bersalah pada tanggal 1 November 2018 karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pelayaran kapal tanpa izin dari Syahbandar dan tanpa dilengkapi dengan alat komunikasi radio, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa melanggar §§ 131, 219 dan 323 UU No.memutuskan pidana penjara 9 (bulan) masih terlalu ringan mengingat dampaknya sebab sangat besar, maka dianjurkan bagi hakim atau penegak hukum untuk ta'zir dengan segala penekanan untuk mendidik dan memberikan efek jera agar nakhoda lain tidak mengulanginya, agar lebih memperhatikan keselamatan dan keamanan kapal. bersama – sama menganalisa dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan standar keselamatan maritim yaitu peralatan komunikasi radio. perbedaannya terletak pada metode penelitiannya, metode yang digunakan penulis menggunakan metode penelitian empiris dimana pengumpulan datanya diperoleh langsung di tempat penelitian dan pada skripsi Alif Ilham Nugraha menggunakan metode penelitian normatif yaitu penelitian dimana data dikumpulkan dari bahan kepustakaan dan di dalamnya ada pembahasan tentang kejahatan Islam.
Apa saja kendala penerapan standar keselamatan pelayaran di pelabuhan Raas desa Brakas kecamatan Raas kabupaten Sumenep. Apa tanggung jawab pengangkut kepada penumpang dan pengirim jika situasi berbahaya terjadi karena ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan navigasi. Implementasi standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep dapat dipelajari lebih detail menurut PM tersebut.
Melihat hambatan yang menghambat pemenuhan standar keselamatan pelayaran di Pelabuhan Raas, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, sehingga dapat diteliti lebih lanjut dan memberikan solusi dalam penelitian ini. Pengetahuan tentang bagaimana tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang dan pengirim jika terjadi situasi berbahaya yang disebabkan oleh kegagalan memenuhi standar keselamatan pelayaran.
Metode Penelitian
Penelitian ilmiah adalah suatu proses yang dilakukan secara sistematis dan obyektif, melibatkan unsur penalaran dan pengamatan untuk menemukan, membuktikan dan memperkuat teori serta untuk memecahkan suatu masalah yang timbul dalam kehidupan. Jenis penelitian hukum empiris adalah penelitian yang menggunakan fakta-fakta empiris yang diambil dari perilaku manusia, baik perilaku verbal yang diperoleh dari wawancara maupun perilaku aktual yang dilakukan melalui pengamatan langsung. Pendekatan penelitian yang digunakan penulis adalah pendekatan hukum sosiologis, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku dan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
Lokasi penelitian yang diteliti oleh penulis terletak di Raas Havn, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep. Alasan dipilihnya lokasi ini oleh penulis karena lokasi tersebut merupakan wilayah kepulauan yang hanya terdapat satu jenis transportasi untuk menyeberang dari satu pulau ke pulau lainnya, oleh karena itu masyarakat sekitar lokasi penelitian sangat bergantung pada transportasi laut, namun pada prakteknya disana masih banyak kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan pelayaran. Peneliti dalam melakukan penelitian dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari informasi dari pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan objek penelitian yaitu Pengangkut, Penumpang dan Pengirim, bertujuan untuk lebih memahami kondisi objek penelitian secara langsung.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber informasi yang diposisikan sebagai data pendukung hasil penelitian data primer, berupa buku, jurnal dan lain-lain. Peneliti menggunakan beberapa data sekunder dalam penelitian ini, antara lain buku, jurnal ilmiah, buku hukum dan juga peraturan hukum. Wawancara langsung dengan pihak pengangkut, penumpang, pengirim barang dan masyarakat sekitar di Pelabuhan Raas, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep.
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dengan pengamatan langsung dan dapat juga dilakukan dengan melakukan tes, angket, berbagai gambar dan rekaman audio, yang kemudian direkam dan dilakukan secara sistematis. Pengumpulan data sekunder penulis dalam penelitian ini adalah (library research), penulis menggunakan buku, jurnal dan internet. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang memiliki kesamaan, baik objek yang diteliti maupun kesamaan antar masalah atau kasus.
Populasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah Tanggung Jawab Pengangkut terhadap Penumpang dan Pengirim di Pelabuhan Raas Desa Brakas Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep apabila tidak memenuhi standar keselamatan pelayaran. Teknik sampingan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah teknik random sampling dimana sampel ini memberikan kesempatan yang sama dalam sampel yaitu masyarakat yang berada di Kepulauan Raas Kabupaten Sumenep. Dari penelitian yang penulis lakukan, penulis menggunakan metode analisis data deskriptif kualitatif, analisis data ini menganalisis data dengan menjelaskan atau mendeskripsikan hal-hal yang terkandung dalam pelaksanaan penelitian, kemudian dapat ditarik kesimpulan dan data yang disajikan sesuai dengan apa yang ada di lapangan.
Sistematika Penulisan
PENDAHULUAN
TINJAUAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Menyediakan tempat pembelian karcis/tiket, untuk mendukung pendataan apabila terjadi kondisi berbahaya selama kegiatan angkutan laut. Sedangkan untuk kapal yang berlayar di pelabuhan Raas, pihak pengangkut diharapkan melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap alat angkutnya guna mengurangi resiko kecelakaan selama pelayaran. Disarankan agar pihak pengangkut di pelabuhan Raas memberikan petunjuk kepada orang-orang yang terpilih untuk mengoperasikan alat komunikasi radio di pelabuhan Raas, dan pihak pengangkut diharapkan selalu memperhatikan aspek keselamatan dalam melakukan kegiatan pengangkutan khususnya di menjamin keselamatan kapal, seperti perlengkapan bantu dan alat komunikasi radio.
Pengangkut di pelabuhan Raas sebaiknya memberikan ganti rugi secara penuh kepada penumpang dan/atau muatannya apabila terjadi keadaan tidak aman akibat kesalahannya dalam mengemudikan kapal tanpa memenuhi laik laut, terutama memenuhi standar keselamatan kapal. Moeljatno, Pokok-pokok Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 1993, Cetakan ke-6, Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad.