• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengakuan Dan Pengukuran 195

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Pengakuan Dan Pengukuran 195"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

195 Nuraeni, Erwin Horas, Syarifuddin

ANALISIS PENGAKUAN DAN PENGUKURAN PENDAPATAN BERDASARKAN IMPLEMENTASI PSAK NOMOR 23 PADA PT. GUNINDO TRIMUKTI

MAKASSAR

Rusmelda¹, Neng Indriyani², Astuty Hasti³

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

ABSTRACT

The research aimed to find out: 1) the treatment of the measurement and recognition revenue on the commodity financial report and after-sales revenue at PT. Gunindo Trimukti Makassar; and 2) the treatment of the measurement and recognition of the financial report at PT. Gunindo Trimukti Makassar is following the PSAK No.23 or not. The research method is qualitative with comparative descriptive approach. The data of this research collected through the observation, the interview, the documentation, and the library studies. The data analysis used validity test based on triangulation test. The result showed that to record its revenue recognition, PT.

Gunindo has implemented some procedure for selling or even for the services revenue. The treatment of recording revenue recognition at PT. Gunindo used an accrual basis method and the revenue recognition for the service revenue using the cash-basis. The revenue measurement approved based on the nominal price list. So, it can be concluded that PT. Gunindo in conducting its operational company, specifically on the recognition procedure and the revenue measurement is following PSAK No.23 about revenue.

Keywords: The revenue, PSAK No.23.

PENDAHULUAN

Perusahaan sebagai suatu badan usaha yang menjalankan usahanya dengan berorientasi kepada ‘profit oriented’ memiliki keharusan untuk berinteraksi dengan berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut.

Perusahaan dituntut menyediakan informasi menyangkut performa dan kondisi keuangan kepada stakeholders guna mendapatkan kepercayaan dan modal kerja. Stakeholders menilai performa dan kondisi keuangan melalui penyajian laporan keuangannya. Dan untuk memudahkan stakeholders, maka perusahaan harus menyesuaikan laporan keuangannya sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum.

Dengan terperinci PSAK Nomor 23 menguraikan mengenai pengakuan, pengukuran, pengungkapan dan pelaporan pendapatan, yang dijadikan sebagai standar penyajian laporan keuangan bagi perusahaan- perusahaan. Tujuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23 ini adalah mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu.

PT. Gunindo Trimukti merupakan perusahaan atau badan usaha yang beroperasi dalam bidang perdagangan dan jasa. Yang mana perusahaan ini memperdagangkan alat listrik khususnya stabilizer (penstabil tegangan listrik) dan kemudian memberikan garansi atau layanan purna jual atas barang dagangan tersebut. Dalam skripsi ini penulis ingin meneliti apakah pengakuan dan pengukuran pendapatan pada laporan keuangan yang dijalankan oleh perusahaan sudah disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 ataukah belum disajikan dengan benar, dan kesalahan-kesalahan umum yang biasa terjadi sebagai koreksi dan masukan untuk PT. Gunindo Trimukti. Berdasarkan alasan-alasan yang penulis sebutkan diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul

“Analisis Pendapatan Berdasarkan Implementasi PSAK Nomor 23 Pada PT.

Gunindo Trimukti Makassar”.

Sehubungan dengan latar belakang masalah yang diuraikan diatas sebelumnya maka penulis membuat rumusan permasalahan yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana perlakuan pengukuran dan pengakuan pendapatan pada laporan

(2)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 194-203 196 keuangan barang dagangan dan pendapatan

jasa purna jual di PT. Gunindo Trimukti?

2. Apakah pengukuran dan pengakuan pendapatan pada laporan keuangan PT.

Gunindo Trimukti telah sesuai dengan PSAK Nomor 23?

Sehubungan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui perlakuan pengukuran dan pengakuan pendapatan pada laporan keuangan barang dagangan dan pendapatan jasa purna jual di PT. Gunindo Trimukti.

2. Untuk mengetahui pengukuran dan pengakuan laporan keuangan PT. Gunindo Trimukti apakah telah sesuai dengan PSAK Nomor 23 atau belum sesuai dengan PSAK Nomor 23.

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan. Astuty Hasti (2018:86).

Menurut Eldon S Hendriksen (2000:374) yang diterjemahkan oleh Herman Wibowo, mengungkapkan pendapatan sebagai berikut:

“Pendapatan dapat didefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan hal itu biasanya diukur dalam satuan harga pertukaran yang berlaku. Pendapatan harus diakui setelah kejadian penting atau setelah proses penjualan pada dasarnya telah diselesaikan.” Neng Indriyani (2015:670).

Berdasarkan buku Analisis Kritis atas Laporan Keuangan (Sofyan syafri, 2013 : 59) Kieso et al, mengemukakan bahwa:

“Akuntansi sebagai suatu sistem dengan input data atau informasi dan output berupa informasi dan laporan keuangan yang bermanfaat bagi pengguna internal maupun eksternal entitas. Sebagai sistem, akuntansi terdiri atas input yaitu transaksi proses yaitu kegiatan untuk merangkum transaksi, dan output berupa laporan keuangan”.

Menurut Dyckman (2012:82) mendefinisikan bahwa :

“Pendapatan adalah arus masuk atau peningkatan lainnya atas aktiva sebuah entitas atau penyelesaian kewajiban (atau

kombinasi dari keduanya) selama satu periode dari pengiriman atau produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi utama atau sentral entitas yang sedang berlangsung.”

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 23 mendefinisikan bahwa:

“Penghasilan didefinisikan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan sebagai kenaikan manfaat ekonomik selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan asset, atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan meliputi pendapatan maupun keuntungan.”

“Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomik yang timbul dari aktivitas normal entitas dalam satu periode jika arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.”

IAI melalui PSAK Nomor 23, mengungkapkan “Pendapatan berasal dari kejadian kegiatan ekonomi, antara lain:

1. Penjualan produk atau barang, 2. Penjualan atau pendapatan jasa, dan 3. Penggunaan inventaris atau aset perusahaan

oleh pihak eksternal perusahaan, yang mana dapat menghasilkan pendapatan dari bunga, royalty, deviden.”

Menurut Kusnadi (2000: 19), Pendapatan diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Pendapatan usaha (operasional)

Penjualan ini dapat dibedakan dalam bentuk penjualan kotor dan penjualan bersih.

2. Pendapatan non-usaha (Non Operasional)

“Pengakuan adalah recognition is the process of formally recording or incorporating an item in the acoounts and financial statements of an entit. Pengakuan adalah proses untuk mencatat atau memasukkan secara formal suatu pos dalam akun dan laporan keuangan entitas.” (Kieso, 2012:110).

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK No. 23 Ikatan Akuntan Indonesia (2012 : 23.1) tentang, “Pengakuan pendapatan menyatakan bahwa pendapatan diakui ketika kemungkinan besar manfaat

(3)

197 Nuraeni, Erwin Horas, Syarifuddin

ekonomis masa depan akan mengalir ke entitas dan manfaat ini dapat diukur secara andal.”

Empat kriteria mendasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item diakui, yaitu sebagai berikut: definisi (Definition), dapat diukur (measurability), relevan (relevance), reliabilitas (realibility).

Suhayati (2009:45), Pendapatan diakui pada saat menerima uang (cash basic), terjadinya transaksi/tidak secara tunai (accrual basis), terjadinya penjualan (sales basis).

Menurut Kieso (2002:515) menguraikan,

“Prinsip pengakuan pendapatan menetapkan bahwa pendapatan diakui pada saat:

a. Pendapatan ‘direalisasi’ jika produk (barang atau jasa), barang dagang atau aktiva lainnya telah dipertukarkan dengan kas atau klaim atas kas.

b. Pendapatan ‘dapat direalisasi’ apabila aktiva yang diterima atau dipegang dapat segera dikonversikan menjadi kas atau klaim atas kas. Aktiva dapat dikonversi menjadi kas apabila dapat dijual atau dipertukarkan dalam pasar aktif pada harga yang dapat ditentukan dengan mudah tanpa biaya tambahan yang signifikan.

c. Pendapatan ‘dihasilkan’ apabila sebuah entitas telah melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hak atas manfaat yang direpresentasikan oleh pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau sebenarnya telah selesai.”

Empat transaksi pendapatan telah diakui sesuai dengan prinsip diatas yaitu :

1. Perusahaan mengakui pendapatan dari penjualan produk pada tanggal penjualan, yang biasanya diinterpretasikan sebagai tanggal penyerahan kepada pelanggan, 2. Perusahaan mengakui pendapatan dari

pemberian jasa diakui ketika jasa-jasa itu telah dilaksanakan dan dapat ditagih, 3. Perusahaan mengakui pendapatan dari

mengizinkan pihak lain untuk menggunakan aktiva perusahaan, seperti bunga, sewa dan royalty, diakui sesuai dengan berlalunya waktu atau ketika aktiva itu digunakan,

4. Perusahaan mengakui pendapatan dari pelepasan aktiva selain produk diakui pada tanggal penjualan.

Untuk masing-masing jenis pendapatan, berikut adalah penjelasan mengenai saat kapan umumnya kedua kondisi tersebut terpenuhi untuk dapat diakui sebagai pendapatan.

a. Penjualan barang, umumnya pendapatan diakui pada saat penjualan yaitu saat penyerahan barang.

b. Pendapatan jasa, umumnya pendapatan diakui pada saat penyerahan jasa yang dapat ditagihkan.

c. Pendapatan yang berasal dari penggunaan aset, misalnya pendapatan bunga, sewa atau royalty, umumnya pendapatan dapat diakui pada saat berlalunya waktu atau pada saat aset digunakan.

d. Pendapatan yang berasal dari penjualan aset selain persediaan, umumnya pendapatan (keuntungan dari pelepasan aset) diakui pada saat penjualan atau pertukaran.”

Menurut PSAK No. 23, Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi berikut dipenuhi :

1. Entitas telah memindahkan resiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pembeli.

2. Entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.

3. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.

4. Kemungkinan besar manfaat ekonomik yang terkait dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas.

5. Biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut dapat diukur secara andal.

Menurut PSAK Nomor 23, “Jika hasil yang terkait dengan penjualan jasa dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut diakui dengan mengacu pada tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan.” Hasil transaksi dapat diestimasi secara andal jika seluruh kondisi berikut ini dipenuhi:

1. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;

2. Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas;

3. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada akhir pelaporan dapat diukur secara andal;

4. Biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur secara andal. Pembayaran berkala dan uang muka yang diterima dari

(4)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 194-203 198 pelanggan sering kali tidak mencerminkan

jasa yang dilakukan.”

Ada dua metode yang dipergunakan dalam pengakuan pendapatan (Kieso, 2002:105), yaitu sebagai berikut:

1. Accrual Basis (Dasar Akrual) 2. Cash Basis (Dasar Kas)

“Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah sebagai unit pengukur suatu objek yang terlibat dalam suatu transaksi keuangan. Jumlah rupiah hasil pengukuran akan dicatat untuk dijadikan data dasar dalam penyusunan laporan keuangan. Pengukuran lebih berhubungan dengan masalah penentuan jumlah rupiah yang dicatat pertama kali pada saat suatu transaksi terjadi.” (Suwardjono, 2011:35).

Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23 Ikatan Akuntan Indonesia (2015 : 23.2), “Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima. Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran (PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar).

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pendapatan di PT. Gunindo yaitu penerimaan kas masuk dari penjualan barang dan pendapatan jasa servis. Penjualan barang berupa stabilizer, penambahan kabel pada saat pemasangan stabilizer, penambahan perlengkapan seperti rak siku dan ohm saklar saat konsumen ingin menambah kualitas perlengkapan pemasangan (up grade dari standar perlengkapan pemasangan barang).

Sedangkan pendapatan jasa servis yaitu penerimaan kas dari hasil perbaikan stabilizer yang sudah melewati batas garansi (jaminan purna jual) yang diberikan oleh perusahaan.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, PT. Gunindo Trimukti melakukan penjualan barang dagangan ke toko atau dealer setempat maupun luar kota, dan juga melayani konsumen langsung. Sedangkan untuk penjualan konsinyasi, perusahaan belum pernah menjalankannya.

Pendapatan usaha baik dari penjualan barang (stabilizer) maupun pendapatan usaha dari jasa perbaikan stabilizer di PT. Gunindo dicatat sebagai pendapatan kotor saat pengakuan pada laporan penjualan bulanan, dan dihitung sebagai pendapatan bersih saat akhir tahun pembuatan laporan laba rugi (penghasilan dikurangi biaya-biaya).

Pengakuan pendapatan untuk divisi penjualan barang di PT. Gunindo Trimukti merupakan suatu rangkaian prosedur penjualan. Perlakuan penjualan untuk ke toko berbeda dengan perlakuan penjualan stabilizer ke konsumen langsung.

Yang termasuk penjualan ke toko yaitu toko-toko listrik setempat yang menjual stabilizer dengan perjanjian pembayaran dengan rentang waktu 2 bulan pelunasan setelah pengiriman barang. Toko-toko listrik ini biasanya memesan langsung ke perusahaan melalui telepon atau kunjungan sales ke toko.

Sedangkan yang termasuk konsumen langsung yaitu konsumen yang biasa mendapatkan nomor telepon kantor dari website kantor atau dihubungi oleh sales kantor melalui telepon ataupun mereka mendatangi kantor secara langsung. Konsumen langsung ini biasanya instalatur listrik. Mereka memasang stabilizer di SPBU, pabrik, rumah sakit, gedung-gedung pertokoan, gedung-gedung perkantoran, sekolah, dll.

• Riset Kualitatif

• Pendekatan Deskriptif Komparatif

3.1.Desain Penelitian

• Lokasi di PT. Gunindo Trimukti Makassar

• Penelitian di lakukan pada bulan April 2019 - Mei 2019

3.2. Lokasi &

Waktu Penelitian

• Jenis Data : Data Kualitatif, Data Kuantitatif

• Sumber Data : Data Primer, Data Sekunder 3.3. Data

Penelitian

• Observasi

• Wawancara

• Dokumentasi

• Studi Kepustakaan 3.4. Teknik

Pengumpulan Data

• Uji Keabsahan Data

• Uji Kredibilitas Data

• Triangulasi Data : Wawancara, Observasi, Dokumentasi

3.5. Teknik Analisa Data

•Teori Pendapatan

•Teori Pengakuan

•Teori Pengukuran 3.6. Definisi

Operasional

(5)

199 Nuraeni, Erwin Horas, Syarifuddin

Berikut ini contoh transaksi penjualan barang ke konsumen langsung:

Berikut adalah prosedur penjualan Barang Ke Toko (Dealer), dimulai saat Sales ke toko atau toko menelfon ke perusahaan untuk memesan barang, Sales membuat surat pesanan barang, bagian administrasi membuat invoice penjualan barang dan surat jalan barang, lalu invoice dan surat jalan dicetak oleh bagian administrasi, bagian administrasi menginformasikan ke bagian gudang untuk menyiapkan barang yang akan di antar ke toko.

Bagian gudang harus melengkapi kartu garansi dan buku barang keluar. Prosedur pengetesan barang berikut pengisian kartu garansi tetap diisi oleh bagian gudang tapi pada bagian nama pembeli dikosongkan untuk diisi oleh pihak toko untuk konsumen yang membeli stabilizer tersebut, setelah barang siap dikirim, sopir akan mengantarkan barang ke toko. Toko menandatangani surat pesanan, invoice dan surat jalan yang akan dijadikan bukti penerimaan barang serta sebagai dokumen untuk penagihan piutang dagang, bagian administrasi mencatat laporan penjualan dan laporan piutang dagang, selang 2 bulan setelah pengantaran barang ke toko, sales menagihkan piutang ke toko tersebut, saat sales menerima pembayaran dari toko, bagian administrasi membuat bukti penerimaan kas dan mencetak bukti tersebut kemudian menyatukan dengan arsip invoice yang belum lunas. Arsip invoice yang belum lunas dipindahkan ke arsip invoice yang sudah lunas. Dan memperbarui catatan atas piutang dagang.

PT. Gunindo dalam menjalankan usahanya telah menerapkan kriteria pengakuan pendapatan barang dagang dimana perusahaan mengakui pendapatan pada saat penjualan terjadi dan penjualan barang diakui sesuai dengan kriteria pengakuan pendapatan yaitu dapat didefinisi dalam artian barang dagangan tersebut yaitu stabilizer, dapat diukur secara harga/nilai nominal per unit, relevan dan real.

Prinsip pengakuan pendapatan juga sudah di terapkan dengan baik karena sebelum invoice di cetak (tanda bukti sah terjadinya transaksi), sales memastikan konsumen untuk membeli stabilizer tersebut. Dan PT. Gunindo juga tidak menerima retur barang.

Pencatatan pengakuan pendapatan untuk penjualan barang dagang di PT. Gunindo menggunakan metode accrual basis, dimana penjualan diakui sebagai pendapatan saat invoice di cetak (terjadi transaksi), baik itu untuk pembayaran pelunasan invoice diterima langsung saat transaksi terjadi, maupun pelunasan pembayaran diterima setelah selang beberapa waktu setelah pencetakan invoice (setelah transaksi terjadi).

Berikut ini contoh transaksi penjualan barang ke toko :

Kriteria pengakuan pencatatan untuk pendapatan jasa servis yang telah melewati masa garansi di PT. Gunindo telah memenuhi kriteria yaitu:

1. Terdefinisi dalam artian barang yang diperbaiki jelas adalah barang rusak dan dikenakan biaya perbaikan, karena sudah melewati masa garansi, selain itu pada umumnya perbaikan juga meliputi penggantian suku cadang yang sudah rusak.

2. Dapat diukur dalam artian adalah barang yang diperbaiki ini memiliki nilai rupiah dari biaya perbaikan dan penggantian suku cadang.

3. Relevan artinya stabilizer yang rusak itu memang membutuhkan perbaikan.

4. Reliabilitas dalam artian pengakuan pencatatan penerimaan pendapatan jasa ini handal dan dapat dipercaya.

PT. Gunindo selalu memperbaiki barang atas dasar persetujuan dari konsumen mengenai biaya perbaikan dan penggantian suku cadang dan konsumen selalu membayar pada saat barang akan diambil setelah perbaikan, hal tersebut telah menunjukkan bahwa PT.

Gunindo dalam menjalankan usahanya telah memenuhi prinsip pengakuan pendapatan.

Penetapan harga jual stabilizer di PT.

Gunindo di tentukan oleh pimpinan. Para sales menjual stabilizer berdasarkan daftar harga yang sudah ditetapkan oleh pimpinan.

Harga stabilizer berbeda-beda menurut typenya. Type stabilizer ini ditentukan dari perbedaan daya listrik, seberapa rendah tegangan input di tempat konsumen, dan phase meteran yang terpasang.

17/

06 Kas 23.500.000

Penjualan Inv. 033 23.500.000

19/

06

Piutang Usaha Inv. 034 34.375.000

Penjualan Inv. 034 34.375.000 21/

08

Kas 34.375.000

Piutang Usaha Inv. 034 34.375.000

(6)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 194-203 200 Sebagai contoh untuk daya listrik 1300

watt, dengan input voltage 160V, output voltage 220V, 1 phase, memakai type stabilizer AVR-LD- 3000 GS, yang kisaran harganya Rp.

3.172.500,-. Sedangkan untuk input voltage 140V, output voltage 220V, 1 phase, memakai type stabilizer AVR-SKD- 3000 GS, diberikan harga Rp. 3.915.000,-. Semakin rendah input voltage semakin mahal harga yang harus dibayar.

Dan juga semakin tinggi daya listrik semakin tinggi pula harga yang harus di bayar.

Misalkan untuk daya 3300 watt, dengan input voltage 160V, output voltage 220V, 1 phase, memakai type stabilizer AVR-LD- 5000 GS, yang kisaran harganya Rp. 3.900.000,-.

Sedangkan untuk input voltage 140V, output voltage 220V, 1 phase, memakai type stabilizer AVR-KD- 5000 GS, diberikan harga Rp.

4.100.000,-.

Harga stabilizer untuk konsumen langsung, sudah termasuk biaya pemasangan dalam kota yaitu yang berjarak 100 meter – 10Km dari perusahaan, perlengkapan standar yaitu kabel sepanjang 5 meter, ohm saklar dan rak siku (beberapa type stabilizer).

Jika ada penambahan perlengkapan di tempat konsumen seperti kabel yang standarnya diberikan 5 meter dan ternyata kabel yang harus dipakai 8 meter, maka selisih panjang kabel sepanjang 3 meter ditanggung oleh konsumen.Harga kabel ini pun bervariasi sesuai dengan ukuran kabel.Ukuran kabel yang dipakai bergantung type stabilizer.

Semakin besar type stabilizer semakin besar ukuran kabel yang dibutuhkan. Ukuran kabel ini seperti 4 x 4mm, 4 x 6 mm, 4 x 10 mm, 4 x 15 mm, 4 x 25 mm, 4 x 35 mm, dst.

Penambahan harga kabel yang dibayarkan oleh konsumen menjadi tambahan pendapatan bagi perusahaan.

Daftar harga untuk toko dibedakan dengan daftar harga untuk konsumen langsung.

Untuk toko, biaya pengiriman barang yang ditanggung oleh perusahaan hanya sampai pada toko setempat yang berjarak 100 meter – 10 km, sedangkan untuk toko luar kota, perusahaan hanya mengantarkan stabilizer sampai pada kantor ekspedisi yang toko tunjuk. Biaya ekspedisi ditanggung oleh toko-toko luar kota tersebut. Dan perlengkapan pemasangan stabilizer yang ditanggung oleh perusahaan hanya sebatas ohm saklar dan rak siku.

Pengukuran pendapatan jaminan purna jual yang masih dalam status garansi resmi,

tidak dipungut biaya apapun oleh perusahaan, kecuali konsumen/pihak toko menyetujui penarikan stabilizer oleh pihak perusahaan, maka konsumen/toko yang harus menanggung biaya transportasi ke tempat mereka.

Semua pergantian suku cadang ditanggung oleh perusahaan. Kecuali 4 suku cadang yaitu casing stabilizer, regulator, booster besar dan booster kecil.

Dasar perhitungan biaya transportasi diukur dari jauhnya jarak (kilo meter) alamat perusahaan ke alamat konsumen/toko.

Pengukuran biaya transportasi tidak dicatat dalam kas masuk karena biaya transportasi tersebut langsung diserahkan ke sopir, agar sopir mengisi bensin mobil.

Pertanggungjawaban sopir kepada perusahaan dalam bentuk nota bensin yang harus diserahkan sopir kepada bagian administrasi.

Jika pada saat penarikan barang dari tempat konsumen, bensin mobil dalam keadaan penuh, maka uang transportasi dari konsumen di simpan di petty cash administrasi dan diberi note. Jadi pada saat bensin mobil akan diisi kembali, uang dari konsumen dipakai untuk mengisi bensin mobil.

Ada beberapa contoh kasus pengukuran pendapatan untuk jasa layanan purna jual yang telah melewati masa garansi resmi yang terjadi di PT. Gunindo yaitu sebagai berikut :

a. Biaya survey (pengecekan daya dan tegangan listrik) untuk konsumen toko ditanggung oleh toko dan atau konsumen toko tersebut.

b. Biaya pemasangan stabilizer di tempat konsumen toko di tanggung oleh toko atau konsumen toko tersebut.

c. Jika terdapat keluhan oleh konsumen langsung baik dalam masa garansi maupun setelah lewat masa garansi, yang perbaikannya di lakukan di perusahaan, maka seluruh biaya transportasi penarikan stabilizer rusak dari tempat konsumen ke perusahaan di tanggung oleh konsumen dan juga pengantaran setelah perbaikan stabilizer ditanggung oleh konsumen.

d. Jika terdapat keluhan oleh konsumen langsung baik dalam masa garansi maupun setelah lewat masa garansi yang perbaikannya di lakukan di tempat konsumen seluruh biaya transportasi teknisi ke tempat konsumen di tanggung oleh konsumen.

e. Jika terdapat keluhan oleh konsumen toko baik dalam masa garansi maupun setelah

(7)

201 Nuraeni, Erwin Horas, Syarifuddin

lewat masa garansi, yang perbaikannya di lakukan di perusahaan, maka seluruh biaya transportasi penarikan stabilizer rusak dari tempat konsumen ke perusahaan di tanggung oleh konsumen atau pihak toko (tergantung pembicaraan awal antara toko dan konsumennya) dan juga pengantaran setelah perbaikan stabilizer ditanggung oleh konsumen atau pihak toko.

f. Jika terdapat keluhan oleh konsumen toko baik dalam masa garansi maupun setelah lewat masa garansi yang perbaikannya di lakukan di tempat konsumen seluruh biaya transportasi teknisi ke tempat konsumen di tanggung oleh konsumen atau pihak toko.

Intinya pengukuran pendapatan untuk layanan jasa purna jual dimana stabilizer telah melewati masa garansi 2 tahun, semua biaya ditanggung oleh konsumen/pihak toko (tergantung pembicaraan toko dengan konsumennya).

Pengukuran pendapatan untuk layanan jasa purna jual didasari oleh daftar harga suku cadang yang dibuat oleh pimpinan. Tiap type stabilizer memiliki type suku cadang yang berbeda pula.Pendapatan jasa purna jual ini juga di dapatkan dari biaya perbaikan.Tiap type stabilizer memiliki biaya perbaikan yang berbeda.Semakin besar type stabilizer semakin mahal biaya perbaikannya. Misalkan untuk type stabilizer AVR 5000 GS harga perbaikannya sebesar Rp. 75.000,- sedangkan untuk type stabilizer AVR 15000 GS harga perbaikannya di bandrol Rp. 150.000,-.

Menurut PSAK No. 23 mengenai pendapatan. Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi berikut terpenuhi : a. Entitas telah memindahkan resiko dan

manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pembeli.

Dalam melakukan transaksi penjualan barang, PT. Gunindo mengakui pendapatan setelah barang dijual. Tanggung jawab perusahaan sudah selesai saat stabilizer sudah sampai di tempat konsumen.

b. Entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.

Dalam hal kelanjutan dari pengelolaan atau tanggung jawab perusahaan terhadap barang yang dijual, perusahaan tetap bertanggung jawab dengan memberikan jaminan purna jual. Namun meskipun

garansi diberlakukan untuk stabilizer tersebut, saat sales menjual stabilizer, sales sudah menjelaskan bahwa garansi hanya berlaku untuk servis ringan (perbaikan) dan maintenance (pembersihan), untuk penggantian suku cadang hanya berlaku untuk beberapa bagian suku cadang saja misalnya motor, pcb, trafo kecil, batteray, dan relay. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.

Dalam memasarkan barang dagangannya, PT. Gunindo menerapkan nilai/harga barang sudah termasuk perlengkapan pemasangan standar (rak siku, kabel dan ohm saklar) dan transportasi ke tempat konsumen dalam skala yang telah ditentukan. Jadi dalam menetapkan harga jual stabilizer, pimpinan sudah mempertimbangkan semuanya dan membuat price list harga.

c. Kemungkinan besar manfaat ekonomik yang terkait dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas.

Kebanyakan konsumen/pembeli PT.

Gunindo adalah konsumen setempat ataupun luar kota, Pengakuan pencatatan untuk penjualan barang dagangan PT.

Gunindo menggunakan metode accrual basis.

d. Biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut dapat diukur secara andal.

Beban termasuk garansi dan biaya lain yang terjadi setelah pengiriman barang, di tanggung oleh konsumen. Sedangkan untuk suku cadang yang ditanggung dalam masa garansi hanya untuk beberapa suku cadang yang memang telah di tentukan oleh perusahaan.

PSAK No. 23 tentang pendapatan, menyebutkan bahwa jika hasil yang terkait dengan penjualan jasa dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut diakui dengan mengacu pada tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan. Hasil transaksi dapat diestimasi secara andal jika seluruh kondisi berikut ini dipenuhi:

a. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;

b. Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas;

(8)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.03, September 2020, pp 194-203 202 c. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi

pada akhir pelaporan dapat diukur secara andal.

Biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur secara andal. Entitas menggunakan metode yang dapat mengukur secara andal jasa yang diberikan. Bergantung pada sifat transaksi, metode tersebut dapat mencakup : a. Survei pekerjaan yang telah dilakukan.

b. Jasa yang dilakukan hingga tanggal tertentu sebagai persentase dari total jasa yang dilakukan.

c. Proporsi biaya yang timbul hingga tanggal tertentu dibagi estimasi total biaya transaksi tersebut.

Terkait dengan pernyataan diatas, maka dapat dikatakan bahwa pengakuan pencatatan dan pengukuran pendapatan jasa servis di PT.

Gunindo sudah sesuai dengan PSAK Nomor 23.

PENUTUP

PT. Gunindo Trimukti merupakan perusahaan supplier alat listrik yang memperdagangkan alat penstabil tegangan yang dikenal sebagai stabilizer atau stavol atau automatic voltage regulator. PT. Gunindo Trimukti menjual barang kepada konsumen yang berbeda-beda. Konsumen ini terdiri dari konsumen langsung (end-user) yang biasanya adalah instalatur listrik dari SPBU, gedung perkantoran, gedung sekolah, rumah sakit, pabrik, dll. Konsumen PT. Gunindo juga mencakup toko-toko setempat baik dalam maupun luar kota Makassar.

Perlakuan pengakuan pendapatan PT.

Gunindo untuk Pendapatan dari penjualan stabilizer menggunakan metode accrual basis, dimana perusahaan mencatat dan mengakui terlebih dahulu penjualan barang dalam laporan penjualan sebelum mendapatkan atau menerima pembayaran dari konsumen.

Perlakuan pengakuan pendapatan PT.

Gunindo untuk pendapatan dari jasa servis, menggunakan metode cash basis, dimana perusahaan memastikan terlebih dahulu ketersediaan suku cadang baru pengganti suku cadang yang rusak lalu kemudian mendapatkan persetujuan dari konsumen sebelum mencatat pendapatan dalam laporan penjualan.

Perlakuan pengakuan pendapatan PT.

Gunindo untuk pendapatan dari jasa servis, menggunakan metode cash basis, dimana

perusahaan memastikan terlebih dahulu ketersediaan suku cadang baru pengganti suku cadang yang rusak lalu kemudian mendapatkan persetujuan dari konsumen sebelum mencatat pendapatan dalam laporan penjualan.

Perlakuan pengukuran pendapatan PT.

Gunindo untuk pendapatan dari jasa servis, harga pemeriksaan stabilizer yang melewati masa garansi dan harga suku cadang untuk masing-masing type sudah ditentukan terlebih dahulu. Biaya-biaya yang timbul setelah melewati masa garansi atau masih dalam status garansi tapi berhubung jaraknya lewat dari jarak yang ditentukan oleh perusahaan, maka biaya transportasi untuk penarikan barang dan pemasangan kembali barang menjadi tanggungan konsumen.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaannya, terkhususnya dalam prosedur pengakuan dan pengukuran pendapatan PT.

Gunindo Trimukti sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23 tentang Pendapatan.

Metode accrual basis yang digunakan di perusahaan harus disikapi dengan benar.

Karena ditemukan dilapangan bahwa piutang usaha ada yang melebihi batas 90 hari kerja.

Meskipun kejadian dilapangan tersangkut dengan lama ekspedisi atau lambatnya serah terima gudang bea cukai, dapat menghambat ketersediaan stok, maka disarankan ke perusahaan bahwa stabilizer yang stoknya tidak tersedia, maka jangan di buatkan invoicenya karena, tanggal piutang usaha berpatokan dari tanggal pencetakan invoice. Hal ini menyebabkan proses pengiriman barang ke toko lambat. Dan akhirnya toko pun terlambat melunasi invoicenya. Akhirnya penampakan piutang usaha kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Hasti, A., & Artiska, C.L.M.C. (2018). Evaluasi Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Pada PT. Sekawan Mujur Sejahtera Makassar.

Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi. 13 (2):85-93. Diakses pada tanggal 20 September melalui website http://ojs.stkip-

ypup.ac.id/index.php/equity/issue/view/9 /Astuty%20Hasti%2C%20Claudia%20L a%20Mareta%20Cosari%20Artiska

(9)

203 Nuraeni, Erwin Horas, Syarifuddin

Indriyani, N. (2018). Penerapan Anggaran Sebagai Alat Bantu Manajemen Pada PT.

Pos Indonesia Kantor Area X Makassar.

Diakses pada tanggal 20 September melalui website https://e- jurnal.stienobel-

indonesia.ac.id/index.php/akmen/article /view/483/479

Dyckman, Thomas (2012). Akuntansi Intermediate. Edisi Ketiga. Jilid 1.

Jakarta: Erlangga.

Harahap, Sofyan Syafri (2013). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Yogyakarta:

UPPSTIMYKPN.

Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt, & Terry D. Warfield (2008). Akuntansi Intermediate. Edisi Kedua belas terjemahan. Jilid 1 & Jilid 2, Jakarta:

Erlangga.

Suhayati, Ely dan Sri Dewi Anggani (2009).

Akuntansi Keuangan. Yogyakarta:

Graha Ilmu.\

Komite PSAK Ikatan Akuntan Indonesia, 2014, Standar Akuntansi Keuangan. Diakses pada tanggal 1 Maret melalui website https://www.warsidi.com/2017/05/down load-psak-terbaru-pdf.html.

[email protected] . Analisis Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan Berdasarkan PSAK Nomor 23 Tahun 2015 Pada PT. Kediri Global Mediatama.

[email protected].

Analisis Pendapatan Berdasarkan PSAK Nomor 23 Pada PDAM Tirta Wampu Stabat.

https://repository.widyatama.ac.id/xmlui/brow se?type=author&value=FADILAH%2C +BAYINUN

http://eprints.perbanas.ac.id/994/5/BAB%20II.

pdf

http://repository.ekuitas.ac.id/bitstream/handle /123456789/65/BAB%202.pdf?sequenc e=7&isAllowed=y

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Kecanggihan Teknologi Informasi, Partisipasi Manajemen, dan Pengetahuan Manajer Akuntansi Pada Efektivitas Sistem Informasi Akuntansi.. Fakultas Ekonomi dan

Endry Martius, MSc IV/a 4 Prof.Dr.Ir... Hasmiandy Hamid, SP, MSi III/d 8