• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis pengaruh tenaga kerja, tingkat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis pengaruh tenaga kerja, tingkat"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH TENAGA KERJA, TINGKAT

PENDIDIKAN, DAN INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2009-2012 (Studi Kasus di 38 Kabupaten / Kota Provinsi Jawa Timur)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

SI KADEK BAYU ASTAWAN 0710213055

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2015

(2)
(3)

ANALISIS PENGARUH TENAGA KERJA, TINGKAT PENDIDIKAN DAN INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TAHUN 2009-2012”

(Studi Kasus di 38 Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur) Si Kadek Bayu Astawan

Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Brawijaya

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan dan pengaruh dari variable independent terhadap variable dependent yaitu pertumbuhan ekonomi tahun 2009-2012. Data yang dipakai dalam penelitian ini merupakan data sekunder . Dalam penelitian ini menggunakan metode FEM ( Fixed Effect Model ). Hasil dari penelitian menunjukkan variabel independent yaitu tingkat pendidikan dan investasi sama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable dependent yaitu Pertumbuhan Ekonomi.Sedangkan variable tenaga kerja tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi

.

.

Kata kunci: Pengaruh Tenaga Kerja, Tingkat Pendidikan, Dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur

PENDAHULUAN Latar Belakang

Setiap Negara pasti mempunyai tujuan dalam pembangunan ekonomi termasuk Indonesia.Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup riil per kapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk menaikkan pendapatan nasional riil juga untuk meningkatkan produktivitas.

Kegiatan pembangunan ekonomi tersebut dilaksanakan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Baik ditingkat nasional maupun di tingkat yang lebih rendah seperti Provinsi atau Kabupaten/KotaBerbeda dengan negara maju, sebagian besar negara berkembang adalah negara agraris, baik itu ditinjau dari perspektif ekonomi, sosial dan budayanya.Pertanian, baik itu subsisten maupun komersial, merupakan aktivitas ekonomi yang utama, baik itu ditinjau dari jumlah atau persentase angkatan kerja yang diserapnya, maupun ditinjau dari sumbangannya kepada GNP. Pembangunan di bidang ekonomi ini sangat penting karena dengan meningkatnya pembangunan di bidang ekonomi maka sektor-sektor yang lain akan meningkat pula seiring dengan peningkatan pada sektor ekonomi. Dalam proses pembangunan, pemerintah daerah mempunyai peranan penting karena pemerintah daerah yang lebih tahu akan potensi dan sumber daya baik manusia dan alam yang dimiliki oleh daerahnya sendiri.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur selama kurun waktu 2009-2013 disajikan pada tabel 1 Pada tahun 2009 PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp. 686,85 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp. 778,57 triliun pada tahun 2010, Rp. 884,50 triliun pada tahun 2011, Rp. 1.001,72 triliun pada tahun 2012 dan Rp. 1.136,33 triliun pada tahun 2013. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) Jawa Timur tahun 2009 meningkat dari Rp.

320,86 triliun menjadi Rp. 393,67 triliun pada tahun 2012 dan pada tahun 2013 mencapai Rp. 419,43 triliun.

(4)

Tabel 1 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun 2009-2013

Keterangan 2009 2010 2011 2012 2013

(1) (2) (3) (4 ) (5) (6)

1. PDRB ADHB (Miliar Rupiah) 686.848 778.566 884.503 1.001.721 1.136.330 2. PDRB ADHK 2000 (Miliar Rupiah) 320.861 342.281 366.984 393.666 419.430

3. Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,01 6,68 7,22 7,27 6,55

4. Pertumbuhan Ekonomi Nasional (%) 4,55 6,10 6,50 6,23 5,78

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur

Tenaga kerja bisa dikatakan salah satu bagian penting pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja bisa juga merupakan salah satu input dalam mendorong produktivitas pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Tenaga kerja dalam penelitian ini merupakan bagian dari angkatan kerja yang aktif bekerja.

Dalam tabel 2 ditunjukan bahwa jumlah orang yang bekerja mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, tahun 2009 menunjukan jumlah orang yang bekerja sebanyak 15.853.822 orang dan tertinggi di tahun 2012 sebanyak 16.942.444 orang. Sedangkan pengangguran terbuka berlaku sebaliknya mengalami penurunan dari tahun ke tahun, di tahun 2009 jumlah pengangguran terbuka mencapai 2.386.214 orang terus menurun sampai dengan tahun 2012 dimana berjumlah 1.951.390 orang. Hal ini menunjukkan ketersediaan lapangan pekerjaan baru pada tiap tahunnya sehingga terjadi penyerapan tenaga kerja baru.

Tabel 2Jumlah Tenaga Kerja Menurut Jenis Kegiatan Di Jawa Timur Tahun 2009-2012

Jenis Kegiatan 2009 2010 2011 2012

Bekerja 15.853.822 16.480.395 16.901.430 16.942.444

Peng. Terbuka 2.386.214 2.263.584 2.079.830 1.951.391

Jumlah 18.240.036 18.743.979 18.981.260 18.893.835

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur

Pendidikan juga merupakan salah satu modal dasar manusia yang harus dipenuhi, untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan terarah.Sektor pendidikan memainkan peran utama untuk membentuk kemampuan sebuah negara untuk menyerap teknologi modern dan mengembangkan kapasitasproduksi serta pembangunan yang berkelanjutan. Penduduk dengan berpendidikan tamatan sekolah SMA ( tamatan SMA dan Perguruan tinggi ) diasumsikan mempunyai keterampilan dan pengetahuan tinggi, sehingga dapat menyerap teknologi modern dan meningkatkan kapasitas produksi.

(5)

Rata-rata lama sekolah penduduk Jawa Timur dapat ditunjukan dalam gambar diagram berikut ini: Gambar 1.1 Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Jawa Timur Tahun

2009-2012

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur

Untuk mendorong pembangunan ekonomi tersebut, salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah dengan mendorong para investor baik investor lokal maupun investor asing untuk melakukan investasi di Provinsi Jawa Timur, dan diharapkan dapat memberikan peningkatan pendapatan bagi daerah Jawa Timur. Perkembangan realisasi PMA dan PMDN di Provinsi Jawa Timur selama periode 2009-2012 dapat dilihat pada table 3 berikut ini

Tabel 3 Perkembangan Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) Dan Penanaman Modal Dalam Negeri ( PMDN ) di Provinsi

Jawa Timur Periode 2009 - 2012

Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur

Tahun PMA ( Juta Rp ) PMDN ( Juta Rp )

2009 14.000.000.000 203.452.600

2010 15.200.000.000 230.507.700

2011 13.500.000.000 72.400.500

2012 13.300.573.000 42.000.800

(6)

Berdasarkan tabel di atas, penanaman modal asing maupun modal dalam negeri mengalami fluktuasi. Dilihat pada Penanaman Modal Asing mengalami kenaikan dan penurunan yang berubah-ubah atau bisa dikatakan tidak tetap yakni pada tahun 2010 sebesar 15.200.000.000 (juta Rp) yang tertkecil pada tahun 2012 sebesar 13.300.573.000 (juta Rp). Sedangkan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri mengalami kenaikan dan penurunan dimana pada tahun 2009 yaitu sebesar 203.452.600 ( juta Rp.) dan ditahun berikutnya mengalami kenaikan sebesar 230.507.700 ( juta Rp.).Tahun paling kecil dimana jumlah Penanaman Modal Dalam Negeri dalam kurun waktu tahun 2009-2012 yakni pada tahun 2012 sebesar 42.000.800 ( juta Rp ).

Rumusan Masalah

Berdasrkan pada latar belakang di atas, maka peneliti dapat menyusun rumusan masalah sebagai berikut :

Bagaimana pengaruh jumlah tenaga kerja, tingkat pendidikan dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur ?

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah proses di mana terjadi kenaikan produk nasional bruto riel atau pendapatan nasional riel. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riel (Wijaya, 2000). Dalam hal ini kita melihat proses perubahan perekonomian dari waktu ke waktu. Tekanannya terletak dalam perubahannya. Pertumbuhan perekonomian berhubungan dengan kenaikan dari output per kapita sehingga ada dua sisi yang harus diperhatikan yaitu output total (GDP) dan jumlah penduduk. Output per kapita merupakan total output dibagi dengan jumlah penduduk. Jadi dalam suatu proses dalam kenaikan output per kapita harus melihat apa yang terjadi pada total output pada satu sisi dan jumlah penduduk pada sisi lain. Sehingga jika kedua aspek itu dapat dijelaskan maka perkembangan output per kapita yang terjadi dapat dijelaskan. Dalam perspektif jangka panjang.

Kenaikan output per kapita dalam waktu hanya satu atau dua tahun saja kemudian terjadi penurunan output per kapita bukanlah pertumbuhan ekonomi. Suatu perekonomian dikatakan tumbuh jika terjadi kenaikan output per kapita dalam jangka panjang Sukirno mengartikan pertumbuhan ekonomi sebagai suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam satu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut selalu dinyatakan dlam bentuk persentase perubahan pendapatan nasional pada suatu tahun tertentu dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Sukirno, 2006)

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu parameter yang dapat diturunkan dari perhitungan PDRB. Dalam menghitung pertumbuhan ekonomi biasanya menggunakan Metode harga konstan. Perhitungan menggunakan metode harga konstan dilakukan melalui 3 (tiga) pendekatan yakni: Revaluasi, ekstrapolasi dan deflasi. Untuk PDRB menggunakan pendekatan metode deflasi sangat direkomendasikan karena alasan tidak adanya data mengenai konsumsi akhir di masing-masing komoditi komponen PDRB.

(7)

Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori David Ricardo

Ricardo menyatakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh faktor-faktor sumber daya tanah, sumber daya manusia, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi. Pada akhirnya pertumbuhan akan berhenti pula (seperti kesimpulan Adam Smith) dan mencapai titik stationer meskipun diperlambat oleh akumulasi kapital dan kemajuan teknologi (Hakim, 2004) Dalam hal ini David Ricardo menitikberatkan pada distribusi pendapatan yang terjadi di antara pelaku ekonomi dalam menjelaskan mekanisme pertumbuhan.

Menurut Jhingan (2008), teori-teori Ricardian didasarkan pada asumsi bahwa :

1. Seluruh tanah digunakan untk produksi gandum dan angkatan kerja dalam pertanian membantu menetukan distribusi industri;

2. ”Law of Diminishing Return”berlaku bagi tanah;

3. Persediaan tanah adalah tetap;

4. Permintaan akan gandum benar-benar inelastis;

5. Buruh dan modal adalah masukan yang bersifat variabel;

6. Keadaan pengetahuan teknis adalah tertentu(given);

7. Seluruh buruh dibayar dengan upah yang cukup untuk hidup secara minimal;

8. Harga penawaran buruh adalah tertentu dan tetap;

9. Permintaan akan buruh tergantung pada pemupukan modal; dan bahwa baik harga permintaan maupun penawaran buruh tidak tergantung pada produktivitas marginal tenaga kerja;

10. Terdapat persaingan yang sempurna;

11. Pemupukan modal dihasilkan dari keuntungan;

Teori Ketenagakerjaan

Ada beberapa teori penting yang berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan diantaranya adalah teori Lewis (1959) yang mengemukakan bahwa kelebihan pekerja merupakan kesempatan dan bukan merupakan suatu masalah.

Kelebihan pekerja satu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output dan penyediaan pekerja di sektor lain. Kemudian menurut teori Fei-Ranis (1961) yang berkaitan dengan negara berkembang yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kelebihan buruh; sumber daya alamnya belum dapat diolah; sebagian penduduknya bergerak di sektor pertanian; banyak pengangguran; dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi.Menurut Fei-Ranis ada tiga tahap dalam kondisi kelebihan buruh. Pertama, dimana pengangguran semu dialihkan ke sektor industri dengan upah institusional yang sama.

Sedangkan menurut teori Mankiw ( 1992 ), membedakan tenaga kerja ini sendirimenjadi dua yaitu tenaga kerja berpendidikan ( educated ) dan tidak berpendidikan ( uneducated ). Disini tenaga kerja berpendidikan ( educated labour ) diindikasikan dengan proporsi angkatan kerja yang memiliki tingkat pendidikan lanjutan ( proportion of the labour force with secondary education ).

Teori Pendidikan

1. Behaviorisme

Kerangkah kerja teori pendidikan behaviorisme adalah empirisme.Asumsi filosofis dari behaviorisme adalah nature of human being( manusia tumbuh secara alami ). Latar belakang empirisme adalah How we know what we know ( bagaimanah kita tahu apa yang kita tahu ). Menurut paham ini pengetahuan pada dasarnya diperoleh dari pengalaman ( empiris ). Aliran behaviorisme didasarkan pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati.

(8)

2. Kognitivisme

Kerangka kerja atau dasar pemikiran dari teori pendidikan kognitivisme adalah dasarnya rasional. Teori ini memiliki asumsi filosofis yaitu the way in which we learn (Pengetahuan seseorang diperoleh berdasarkan pemikiran) inilah yang disebut dengan filosofi rationalisme. Menurut aliran ini, kita belajar hanya disebabkan oleh kemampuan kita dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori kognitivisme berusaha menjelaskan dalam belajar bagaimanah orang-orang berpikir. Oleh karena itu dalam aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri.karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks. Jadi, menurut teori kognitivisme pendidikan dihasilkan dari proses berpikir. Tokoh aliran Kognitivisme antara lain : Piaget, Bruner, dan Ausebel.

3. Konstruktivisme

Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep pembelajaran menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehinggah mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini data merupakan data sekunder yang seluruhnya berasal dari badan pusat statistik (BPS) periode 2001-2010. Data diolah menggunakan tahap-tahap sebagai berikut :

Metode Analisis

Untuk mengetahui pengaruh dari variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat digunakan model regresi linear berganda. Regresi linear berganda mempunyai ciri sebagai berikut: persamaan fungsinya dapat dijabarkan kedalam bentuk persamaan matematis, sebaran ratanya berdistribusi normal, bilangan datanya rasional, nilai parameternya ditentukan oleh a dan b yang dapat diukur dengan uji statistik melalui program Eviews dalam komputer, permasalahannya lebih dari satu variabel, variabel independennya tidak saling berhubungan, variabel dependennya cukup jelas. Model ini dipilih karena ingin mengetahui besarnya kontribusi pengaruh variabel bebas terhadap tidak bebas, baik secara parsial maupun secara bersama-sama didukung oleh uji Parsial, uji Autokorelasi , dan uji Determinasi (R2). Setelah data diolah dan dianalisis secara kuantitatif untuk memberikan makna dari hasil analisis kuantitatif.

(9)

Adapun formula dari model regresi linear berganda tersebut adalah sebagai berikut:

LPEit = αit + β1 Iit + β2 TKit + β3 TPit + Ɛit

Dimana :

LPE = Laju Pertumbuhan Ekonomi

I = Investasi

TK = Tenaga Kerja

TP = Tingkat Pendidikan

α = Intercept

β = Nilai koefisien variabel

i = Unit Cross Section kabupaten / kota

Ɛ = Error term

t = Unit time series kabupaten/kota

Uji Metode Estimasi Data Panel

Sebelum menentukan metode estimasi data panel yang akan digunakan dalam penelitian ini, maka harus dilakukan beberapa pengujian. Untuk menentukan apakah model panel data dapat diregresi dengan metode Pooled Least Square (PLS), metode Fixed Effect (FE) atau metode Random Effect (RE), maka dilakukan uji-uji sebagai berikut:

1. Uji Chow

Uji Chow dapat digunakan untuk memilih teknik dengan metode pendekatan Pooled Least Square (PLS) atau metode Fixed Effet (FE). Prosedur Uji Chow adalah sebagai berikut:

a. Buat hipotesis dari Uji Chow

 H0 = model pooled least square

 H1 = Model Fixed Effect b. Menentukan Kriteria Uji

 Apabila nilai F statistik > F table, maka Hipotesis H0 ditolak yang artinya kita harus memilih teknik FE.

 Apabila nilai F statistik < F table, maka hipotesis H0 diterima yang artinya kita harus memilih teknik PLS

2. Uji Hausman

Uji Hausman digunakan untuk memilih antara metode pendekatan Fixed Effect (FE) atau Random Effect (RE). Prosedur Uji Hausman adalah sebagai berikut:

a. Buat hipotesis dari Uji Hausman : H0=random effect dan H1=fixed effect.

b. Menentukan kriteria uji : apabila Chi-Square statisik > Chi-square tabel lebih tepat untuk digunakan. Dan apabila Chi-square statistik < Chi-square tabel dan p- value signifikan, maka hipotesis H0 diterima, sehingga metode RE lebih tepat untuk digunakan.

(10)

Uji Statistik

1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi ( R2 ) mempunyai fungsi atau kegunaan, yaitu sebagai ukuran ketetapan suatu garis dimana regresi yang diterapkan terhadap suatu kelompok data hasil observasi (a measure of the goodness of fit).

Makin besar nilai R2 , maka semakin tepat atau cocok garis regresi, sebaliknya apabila nilai R2 semakin kecil, makasemakin tidak tepat garis regresi tersebut untuk mewakili data hasil observasi nilai R2 antara 0 dan 1.

2. Uji Parsial ( t-stat )

Uji statistik digunakan untuk menguji pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel dependen lain dalam persamaan secara parsial. Bila signifikan berarti secara statistik hal ini manunjukan bahwa variabel independen mempunyai pengaruh secara parsial terhadap variabel dependen. Uji-t dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Jika t–statistik > t – tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima,artinya ada pengaruh parsial tiap variable bebas terhadap variable tidak bebas.

b. Jika t – statistik< t – table, maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak ada pengaruh parsial tiap variable bebas terhadap variable tidak bebas.

3. Uji Simultan ( F-stat )

Uji signifikansi parameter atau uji F dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh dari variabel-variabel independen secara bersama-sama atau keseluruhan. Parameternya adalah bila nilai F-stat lebih besar dibandingkan dengan nilai F-tabel atau nilai probabilitas F-stat lebih kecil dari nilai alpha (α) 1 persen, 5 persen, atau 10 persen maka dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan variabel-variabel independen dalam model berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya.Untuk mengetahui signifikan atau tidaknya yaitu dengan membandingkan nilai F statistik dengan F tabel dengan derajat kepercayaan tertentu. Uji F dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Jika F – statitistik > Ftabel,maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama – sama terhadap variabel terikat.

b. Jika F – statistik <Ftabel , maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak ada pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

(11)

4. Uji Autokorelasi

Uji autokolerasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokolerasi yaitu adanya kolerasi yang terjadi antara residual pada suatu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokolerasi dalam model regresi.Metode pengujian yang digunakan adalah dengan uji Durbin-Watson (Uji DW).Hipotesisnya adalah :

H0 : Tidak ada autokorelasi positif H1 : tidak ada autokorelasi negatif Kriteria Pengujiannya adalah sebagai berikut:

1. Bila nilai DW-stat terletak antara 0 < D < DL, H0 yang menyatakan tidak ada autokorelasi positif ditolak.

2. Bila nilai DW-stat terletak antara ( 4– DL ) < D < 4, H1 yang menyatakan tidak ada autokorelasi negatif ditolak.

3. Bila nilai DW-stat terletak antara Du < D <( 4 – DU ), H0 yang menyatakan tidak ada autokorelasi negatif diterima.

4. Ragu – ragu tidak ada autokorelasi positif bila DL < D < DU.

5. Ragu – ragu tidak ada autokorelasi negatif bila ( 4 – DU ) < D < ( 4 – DL )

HASIL DAN PEMBAHASAN

HasilEstimasi Data Panel Pemilihan Model Regresi Panel

Pemilihan model dilakukan untuk memilih beberapa model yang terbentuk. Metode yang dapat digunakan adalah Redundant Fixed Effect Test dan Correlated Random Effects – Hausman Test. Kedua pengujian tersebut digunakan untuk membandingkan antara model Common, Fixed Effect Model ( FEM ) dan Random Effect Model ( REM ).

Hipotesis yang digunakan pada kedua pengujian tersebut adalah : a. Redundant Fixed effect Test ( Uji Chow )

H0 : Model yang digunakan adalah Common ( pooled least square ) H1 : Model yang digunakan adalah Fixed Effect Model ( FEM ) b. Correlated Random Effect – Hausman Test

H0 : Model yang digunakan adalah Random Effect Model ( REM ) H1 : Model yang digunakan adalah Fixed Effect Model ( FEM )

Kaidah pengambilan keputusan dalam kedua pengujian tersebut adalah dengan menggunakan nilai signifikansi, di mana jika nilai statistik hitung lebih kecil dari statistik tabel atau nilai signifikansi lebih besar dari alpha 5% maka hipotesis H0 yang diterima, dan jika nilai statistik hitung lebih besar dari statistik tabel atau nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5%, maka hipotesis H1 yang diterima.

(12)

Tabel 4Hasil pemilihan model regresi panel dengan Uji Chow

F hitung Sig. F table Kesimpulan

3.220 0.000 1.518 Fixed Effect Model

Sumber : Hasil Pengolahan

Berdasarkan Tabel 4 dapat diperhatikan bahwa nilai F hitung yang didapatkan lebih besar dari F tabel dan nilai signifikansi ( Sig. ) lebih kecil dari α 5%, sehingga hipotesis H1 diterima dan digunakan Fixed Effects Model (FEM).

Tabel 5 Hasil pemilihan model regresi panel dengan Uji Hausman

χ2 hitung Sig. χ2 tabel Kesimpulan

71.840 0.000 7.815 Fixed Effect Model

Sumber : Hasil Pengolahan

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai χ2 hitung lebih besar dari χ2 tabel dan nilai signifikansi pada adalah 0.000 dalam artian lebih kecil dari α (5%), sehingga hipotesis H1 diterima dan digunakan Fixed Effects Model (FEM). Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pengujian tersebut, maka Fixed Effect Model yang paling baik untuk model regresi yang didapatkan.

(13)

Hasil Uji Regresi Panel

Hasil perhitungan regresi linier berganda digunakan untuk memprediksi besarnya hubungan antara variabel dependen yaitu LPE dengan variabel independen yaitu TK, TP, dan I. Hasil perhitungan tersebut ditunjukkan pada Tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Hasil uji regresi panel Fixed Effect Model

Variabel bebas Koefisien Regresi t hitung Sig. t Keterangan

Konstanta -17.658 -4.838 0.000 Signifikan

TK -3.25×10-6 -1.078 0.283 Tidak Signifikan

TP 3.393 8.235 0.000 Signifikan

I 1.07×10-13 1.988 0.049 Signifikan

t tabel = t (148,5%) = 1.976

R-square = 0.559

F hitung = 3.520

Sig. F = 0.000

F tabel = F (3.148,5%) = 2.666

Variabel dependen pada hasil uji regresi berganda adalah LPE sedangkan variabel independennya adalah TK, TP, dan I. Model regresi berdasarkan hasil analisis di atas adalah :

Y = -17.658 – 3.25×10-6 TK + 3.393 TP + 1.07×10-13 I + e

Hasil pengujian secara Simultan

Pengujian secara simultan menghasilkan F hitung sebesar 3.520 ( Sig F=0.000 ). Jadi, F hitung lebih besar F tabel ( 3.520> 2.666 ) dan Sig F lebih kecil dari α 5% (0.000 < 0.05 ). Dengan demikian H1

diterima dan H0 ditolak yang berarti bahwa secara bersama-sama (simultan) variabel TK, TP, dan I juga mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) terhadap variabel LPE. Maka model regresi bisa dipakai untuk memprediksi pengaruh TK, TP, dan I pada LPE.

(14)

Hasil pengujian secara Parsial

a. Koefisien regresi pada variabel TK sebesar -3.25×10-6 dengan nilai signifikan 0.283 (lebih besar dari 0.05) yang artinya bahwa variabel TK mempunyai pengaruh yang tidak signifikan (tidak nyata) terhadap variabel LPE. Koefisien regresi yang bernilai -3.25×10-6 menjelaskan bahwa apabila variabel TK ditingkatkan sebesar 1 satuan maka akan menurunkan Y dengan sebesar 3.25×10-6 satuan meskipun tidak signifikan.

b. Koefisien regresi pada variabel TP secara linier sebesar 3.393 dengan nilai signifikan 0.000 (lebih kecil dari 0.05) yang artinya bahwa variabel TP secara linier mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) terhadap variabel LPE. Koefisien regresi yang bernilai 3.393 menjelaskan bahwa apabila variabel TP ditingkatkan sebesar 1 satuan maka akan meningkatkan LPE sebesar 3.393 satuan secara signifikan.

c. Koefisien regresi pada variabel I secara linier sebesar 1.07×10-13dengan nilai signifikan 0.049 (lebih kecil dari 0.05) yang artinya bahwa variabel I secara linier mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel LPE. Koefisien regresi yang bernilai 1.07×10-13 menjelaskan bahwa apabila variabel I ditingkatkan sebesar 1 satuan maka akan meningkatkan LPE sebesar 1.07×10-

13 satuan secara signifikan.

Koefisien Determinasi ( R2)

Koefisien determinasi ( R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Menurut Ghozali ( 2006 ), kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Setiap penambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.Oleh karena itu, dalam penenlitian ini menggunakan nilai R Square untuk mengevaluasi model regresi terbaik.

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui nilai R Square sebesar 0.559 atau 55.9%. Artinya variabel LPE dijelaskan sebesar 55.9% oleh variabel TK, TP, dan I. Sedangkan sisanya sebesar 44.1% dijelaskan oleh variabel lain atau variabel independen di luar persamaan regresi.

Uji Asumsi Autokorelasi

Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan nilai uji Durbin Watson pada model regresi sebesar 2.148. Dengan n=152 didapatkan nilai dL sebesar 1.695 dan nilai dU sebesar 1.775. Karena nilai DW yang didapatkan berada diantara dU dan 4-dU, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi antara residual pengamatan satu dengan pengamatan lainnya.Asumsi terpenuhi.

Analisis Ekonomi

Berdasarkan hasil estimasi pengaruh tenaga kerja terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur, diketahui bahwa koefisien regresi pada variabel tenaga kerja sebesar -3.25×10-6 dengan nilai signifikan 0.283 (lebih besar dari 0.05) yang artinya variabel TK mempunyai pengaruh yang tidak signifikan (tidak nyata) terhadap variabel laju pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh tenaga kerja yang tidak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi salah satu sebabnya bisa di sebabkan oleh kualitas dari tenaga kerja yang dimiliki, walaupun jumlah tenaga kerja berlimpah tidak memungkiri akan berdampak pada berkurangnya kualitas dan kuantitas barang atau jasa yang nantinya akan dihasilkan jika kualitas tenaga kerja yang digunakan tidak memadai. Tenaga kerja tidak saja penting dari segi kuantitas, tetapi yang tidak kalah penting adalah kualitasnya.Peningkatan kualitas tenaga kerja dapat dilakukan melalui pendidikan formal

(15)

Hasil regresi yang menunjukan koefisien elastisitas yang positif dari tenaga kerja dalam mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur seyogyanya tidak diinterprestasikan secara matematis, karena meskipun ada peningkatan jumlah tenaga kerja dari tahun ke tahun tetapi tenaga kerja tersebut kualitasnya masih belum memadai untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan laju pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan hasil dari estimasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur, diketahui bahwa koefisien regresi pada variabel tingkat pendidikan secara linier yaitu sebesar 3.393 dengan nilai signifikan 0.000 ( lebih kecil dari 0.05 ) yang artinya bahwa variabel tingkat pendidikan secara linier mempunyai pengaruh yang signifikan ( nyata ) terhadap variabel laju pertumbuhan ekonomi atau berarti koefisien regresi yang bernilai 3.393 menjelaskan bahwa apabila variabel tingkat pendidikan ditingkatkan sebesar 1 satuan maka akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 3.393 satuan secara signifikan.

Dalam hal ini pendidikan merupakan satu investasi yang sangat berguna bagi pertumbuhan ekonomi.Oleh karena itu, masyarakat atau individu yang memperoleh pendidikan tinggi cenderung memperoleh pendapatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki pendidikan tinggi.Hal tersebut dikarenakan individu yang memiliki pendidikan tinggi banyak di tempatkan pada sektor formal yang cenderung memiliki upah yang lebih layak apabila jika dibandingkan dengan pekerja di sektor non-formal.Peningkatan dalam pendidikan memberikan beberapa manfaat dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi yaitu manajemen perusahaan-perusahaan modern yang dikembangkan semakin efisien, penggunaan teknologi modern dalam kegiatan ekonomi dapat lebih cepat berkembang.

Berdasarkan hasil estimasi pengaruh investasi terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur, diketahui koefisien regresi pada variabel investasi secara linier sebesar 1.07×10-13dengan nilai signifikan 0.049 (lebih kecil dari 0.05) yang artinya bahwa variabel investasi secara linier mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel laju pertumbuhan ekonomi karena koefisien regresi yang bernilai 1.07×10-13 menjelaskan bahwa apabila variabel investasi ditingkatkan sebesar 1 satuan maka akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 1.07×10-13 satuan secara signifikan.

Berdasarkan hasil estimasi menunjukan bahwa investasi berpengaruh positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi.Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, peningkatan investasi akan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan pertumbuhan yang efektif. Sedangkan dari sisi penawaran, pertumbuhan investasi akan merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan lebih banyak cadangan modal yang kemudian berkembang dalam peningkatan kapasitas produksi. Sehubungan dengan hal itu, maka sudah sewajarnya pemerintah melakukan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan masuknya investasi, baik investasi asing maupun domestik.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis studi dan pembahasan tentang “ Pengaruh Tenaga Kerja, Tingkat Pendidikan dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur “ maka dapat ditarik kesimpulan yaitu pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur dipengaruhi positif secara signifikan oleh investasi dan tingkat pendidikan. Semakin tinggi jumlah investasi dan indeks pendidikan yang ada di Provinsi Jawa Timur maka akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur.

Sedangkan jumlah tenaga kerja berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.Kenaikan jumlah tenaga kerja di Jawa Timur tidak begitu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.Hal ini bisa disebabkan penyerapan tenaga kerja yang terjadi tidak diimbangi dengan kualitas daritenaga kerja tersebut. Jumlah tenaga kerja dimana yang tercatat lebih banyak terdapat pada pada industri yang memperkerjakan pekerja di sektor nonformal, sehingga kualitas barang atau jasa yang diproduksi kalah bersaing dengan produk dari daerah atau negara lain. Maka dari hasil penelitian ini dapat juga disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari investasi dan tingkat pendidikan, dan pengaruh positif dari tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur.

(16)

UCAPANTERIMAKASIH

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga panduan ini dapat terselesaikan.Ucapan terima kasih khusus kami sampaikan kepada Asosiasi Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya dan Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya yang memungkinkan jurnal ini bisa diterbitkan.

DAFTARPUSTAKA

Ahmad, Nazili Saleh. 1982. Pendidikan dan Masyarakat, Yogyakarta : CV. Bina Usaha

Badan Pusat Statistik. 2013. Produk Domestik Regional Bruto ADHB dan ADHK 2009-2012. Jawa Timur: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur.

Badan Koordinasi Promosi Dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Timur, PMA-PMDN Jawa Timur Berbagai Tahun Terbitan, Realisasi PMA-PMDN Berdasarkan Lokasi, Badan Koordinasi Promosi Dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Jawa Timur.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Berbagai Tahun Terbitan, Jawa Timur Dalam Angka, BPS Provinsi Jawa Timur.

Badan Pusat Statistik. 2013. Produk Domestik Regional Bruto ADHB dan ADHK 2009-2012. Jawa Timur: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur.

Boediono, (1981), Teori Pertumbuhan Ekonomi, BPFE Yogyakarta.

Jhingan, ML. 2012.Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. (D. Guritno).Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan. Teori, Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Pencetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Meier, GM dan Baldwin, RE. 1965. Pembangunan Ekonomi. (Drs. Sitohang). Jakarta: Bharata.

Rustino, Deddy, (2008), Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Jawa Tengah.1-2.

Sukirno, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksaan. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI dan Bima Grafika.

Sukirno, Sadono. 1995. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Edisi kedua, Jakarta : Penerbit : PT. Karya Grafindo Persada.

Sukirno, Sadono. 2000. Pengantar Teori Mikroekonomi,Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Mikro Ekonomi, Jakarta : Raja GrafindoPersada.

Sukirno, Sadono. 2003. Pengantar Teori Makro Ekonomi Edisi Kedua, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar,Jakarta : PT Raja

Suryanto, Dwi, (2008), Analisis Pengaruh Tenaga Kerja, Tingkat Pendidikan, Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Subosukawonosraten.

Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional – Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Tendelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama, Bandung : CV Alpha Betha.

Todaro, P. Michael. 2000. Ekonomi Untuk Negara Berkembang,Jakarta : Bumi Aksara.

Todaro, P. Michael. 2002. Ekonomi Pembangunan di Dunia Ketiga Edisi Kedua, Jakarta : Bina Grafika.

Todaro, P. Michael. 2004. Ekonomi Pembangunan di Dunia Ketiga, Jakarta : Bina Grafika.

Todaro, P. Michael 2006.Pembangunan Ekonomi Jilid 1 Edisi Kesembilan, Jakarta : Unit Penerbit Dan Percetakan Erlangga Jakarta.

Widodo, Tri. 2006. Perencanaan Pembangunan : Aplikasi Komputer, Yogyakarta : UPP STIM YKPN.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Upah Minimum Provinsi dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Berdasarkan hasil regresi data panel menunjukkan bahwa nilai koefisien variabel 2,254320 dengan nilai