ANALISIS PUTUSAN PASAL 340 KUHP
PUTUSAN NOMOR : 691/Pid.B/2018/PN Stb
INSTRUKTUR PENGAMPU : CINDY MONIQUE, S.H.
Nama Kelompok :
1. Bintang Zaman Indrawi (475) 2. Muhammad Sobirin Ramadhan (497)
FAKULTAS HUKUM LABORATORIUM HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIAH MALANG
DAFTAR ISI
1. Identitas Terdakwa...1
2. Ringkasan Kasus...2
3. Ringkasan Dakwaan...3
a. Jenis Dakwaan...3
b. Kesesuaian Dakwaan oleh Penuntut Umum...4
4. Proses Pembuktian...5
a. Saksi a Charge...5
b.Saksi a De Charge...6
c. Alat Bukti...6
5. Ringkasan Tuntutan...7
a. Alasan PU Menuntut Dengan Pasal Tersebut...7
b.Kesesuaian Tuntutan dengan Asas Keadilan, Kepastian, dan Kemanfaatan...8
6. Pertimbangan Hukum Hakim Pemeriksa Perkara...8
a. Teori yang Digunakan oleh Majelis Hakim...9
b. Sumber Hukum dalam Putusan...9
c. Kesesuaian Alat Bukti dengan Fakta Persidangan...10
d. Pendapat Tentang Pertimbangan Hukum Hakim...10
7. Amar Putusan...11
a. Bunyi Amar Putusan...11
b. Jenis Putusan Majelis Hakim...12
c. Kesesuaian dengan Permintaan Umum...12
8. Daftar Pustaka...13
ANALISIS PUTUSAN No.691/Pid.B/2018/Pn Stb
1. Identitas Terdakwa
Dalam putusan pengadilan nomor 691/Pid.B/2018/PN Stb.
Mengidentifikasi identitas terdakwa :
1. Nama lengkap : Hendro Permana Putra alias Karebet 2. Tempat lahir : Sawit Hulu
3. Umur/Tanggal lahir : 28 tahun / 25 November 1989 4. Jenis kelamin : Laki-laki
5. Tempat tinggal : Dsn Banyu Urip Ds. Sei Litur Tasik Kec.
Sawit Seberang Kab. Langkat.
6. Agama : Islam
7. Pekerjaan : Mocok-mocok
2. Ringkasan Kasus
Pada hari kamis tanggal 12 April 2018 perkiraan pukul 20.00 WIB.
Terdakwa bersama-sama dengan saksi HENDRO Als ETONG, saksi ALVIN SUGANDA, dan IDUL HERMIN berasa di rumah kosong yang terletak di samping rumah saksi IDUL HERMIN, namun saat itu saksi IDUL HERMIN sedang tidur lalu saksi HENDRO Als Entong mengajak untuk merampok SANDIMIN lalu mereka bermalam di rumah kosong tersebut. Pada keesokan harinya di hari Jumat tanggal 13 April 2018 sekira pukul 04.00 WIB. Terdakwa bersama kedua rekan bergerak dari rumah kosong dengan mengendarai sepeda motor honda vario berwarna merah hitam milik saksi ALVIN SUGANDA Als GONDO tiba di lokasi sekira pada pukul 04.30 WIB. Terdakwa bersama kedua rekannya membawa kayu broti yang didapat dari belakang rumah warga, namun tidak terlaksana karena terdakwa HENDRO Als KAREBET meminta saksi HENDRO Als ETONG untuk memukul korban SANDIMIN terlebih dahulu namun tidak dilakukan oleh saksi, lalu korban lewat melintasi saksi HENDRO Als ETONG dan kayu broti yang saksi dan terdakwa bawa disembunyikan di dalam parit, sedangkan kayu yang dipegang oleh saksi ALVIN SUGANDA Als GONDO disembunyikan di sawitan.
Bahwa pada keesokan harinya pada hari Sabtu tanggal 14 April 2018 dengan menggunakan sepeda motor yang sama terdakwa bersama kedua rekan nya bergerak dari rumah kosong sekira pada pukul 04.00 WIB, tiba di lokasi sekira pada pukul 04.30WIB, namun saat itu Terdakwa dan kedua rekan nya tidak berjumpa dengan korban SANDIMIN. Kemudian pada keesokan harinya pada hari Minggu tanggal
15 April 2018 setiba nya di lokasi sekira pada pukul 04.40 WIB, namun tidak menyadari bahwa korban SANDIMIN sudah melewati Terdakwa.
Bahwa pada keesokan harinya pada hari Senin tanggal 16 April 2018 dengan menggunakan sepeda motor yang sama Terdakwa dan kedua rekan nya bergerak menuju lokasi dan tiba sekira pada pukul 04.30 WIB, dan saat itulah Terdakwa langsung memukul kepala korban SANDIMIN dengan kayu broti dimana pada saat itu korban SANDIMIN memakai topi berwarna hitam masih mengendarai sepeda motornya yang sama mengakibatkan Korban SANDIMIN terjatuh dari sepeda motornya. Setelah itu sepeda motor milik korban SANDIMIN dituntun oleh saksi HENDRO Als Etong turun ke areal kebun sawit agar tidak dilihat oleh orang yang melintas dimana along-along yang terdapat kotak fiber putih didalamnya dibuang oleh Terdakwa ke dalam parit, dan pada saat itu HENDRO Als ETONG menuntun sepeda motor milik korban SANDIMIN diseret Terdakwa ke dalam sawitan dengan cara menarik kedua tangan korban SANDIMIN dimana posisi korban dalam keadaan telungkup lalu saksi HENDRO Als Etong memeriksa jaket dan celana milik korban, saksi HENDRO Als Etong kembali ke jalan untuk mengambil kayu broti namun pada saat itu saksi HENDRO Als Etong melihat saksi ALVIN SUGANDA Als GONDO bersiap-siap pergi meninggalkan lokasi dengan sepeda motornya. Saksi HENDRO Als Etong masih memegang kayu broti menuju sepeda motor Korban SANDIMIN lalu sepeda motor Korban dibawa ke jalan dan saksi HENDRO Als Etong melihat Terdakwa memukul kepala korban SANDIMIN berkali-kali lalu terdakwa bersama rekan nya sambil membawa kayu broti masing-masing.
Bahwa benar kemudian sekira 200 m saksi HENDRO Als Etong menghentikan laju sepeda motor dan Terdakwa langsung turun menyembunyikan 2 buah kayu broti disamping parit cucukan.
Kemudian sekira pukul 06.30 WIB Terdakwa dan saksi bertanya kepada HENDRO Als Etong “apa dapat duitnya” lalu saksi menjawab “gak dapat apa-apa, rasanya kayak makan taik”. Kemudian sekira pada pukul 15.00 WIB Terdakwa menjemput saksi menuju menuju bengkel pasar VI, dan saat itu Terdakwa menatakan “Parangnya SANDIMIN hilang, aku mau pergi kabur, abang apa ikut gak terlibat mukul”.
3. Ringkasan Dakwaan
Berdasarkan pada pasal 143 ayat (2( Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dalam kasus ini Terdakwa HENDRO PERMANA PUTRA Alias KAREBET, di dakwa dengan dakwaan subsideritas, yaitu dakwaan yang memiliki beberapa tingkatan. Ini berarti jika dakwaan utama (primair) terbukti, maka dakwaan berikutnya (subsider) tidak perlu dipertimbangkan lagi. Dakwaan
primair terhadap Sapandi adalah berdasarkan Pasal 340 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, yang berkaitan dengan pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu.
Selanjutnya dalam dakwaan kedua atau dakwaan subsider terdakwa Sapandi Alias Pandi didakwa dengan ancaman pidana dalam Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan.
Tindak Pidana Pembunuhan Berencana yang diatur dalam Pasal 340 Undang-Undang No.1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana yang berbunyi: “Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun." Terdapat beberapa unsur delik dalam tindak pidana pembunuhan berencana, yang terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu:
1. Unsur Subyektif
• Dengan sengaja;
• dengan rencana terlebih dahulu;
Unsur 340 dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1946 dimaksudkan unsur Pasal 338 Undang-Undang No. 1 tahun 1946 tentang hukum pidana wajib untuk dipenuhi sebelum pasal 340 Karena dalam pasal 340 KUHP pembunuhan berencana dianggap sebagai pembunuhan yang berbeda dan lain dengan pembunuhan biasa atau bentuk pokok.
2. Unsur Objektif
• Barang siapa
• Merampas nyawa orang lain
Unsur barang siapa adalah setiap orang (sebagai subyek hukum) yang telah didakwa melakukan tindak pidana. unsur delik dalam pasal tersebut sifatnya kumulatif, artinya untuk dapat dijatuhi pidana karena pembunuhan berencana haruslah unsur “barangsiapa” dibuktikan dengan unsur-unsur delik lainnya dalam delik yang didakwakan. Hal ini sesuai dengan Putusan Mahkamah Agung RI No. 951 K/Pid/1982 tanggal 10 Agustus 1983 yang menyatakan bahwasannya unsur ini baru mempunyai makna jika dikaitkan dengan unsur-unsur pidana lainnya, oleh karenanya
haruslah dibuktikan secara bersamaan dengan unsur-unsur lain dalam perbuatan yang didakwakan dalam kaitan dengan unsur “barang siapa”.
Unsur merampas nyawa disini harus dapat dibuktikan,
dimana dalam dakwaan ini perbuatan menghilangkan nyawa orang lain itu haruslah merupakan perbuatan yang aktif (mewujudkan perbuatan tersebut dengan sebagian dari gerakan anggota tubuh) dan abstrak (tidak menunjukkan bentuk konkrit tertentu). Dimana perbuatan tersebut harus timbul suatu akibat yakni hilangnya nyawa orang lain. Pada unsur ini dalam perbuatannya terdapat dua sifat yang harus dipenuhidiantaranya terdapat sifat obyektif dan subyektif, sifat obyektif yaitu dilihat dari perbuatan menghilangkan nyawa yang obyeknya adalah orang lain.
4. Proses Pembuktian
Pengertian saksi dalam Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)1 yang berbunyi: “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia Iihat sendiri dan ia alami sendiri.”
Selanjutnya Pasal 1 angka 27 yang berbunyi: Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, Ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dan pengetahuannya itu.
a. Saksi a Charge
Proses pembuktian melibatkan saksi-saksi yang mendukung dakwaan Penuntut Umum atau yang memberatkan pelaku. Adapun beberapa saksi A charge atau saksi yang dihadirkan oleh penuntut umum sebagai berikut :
1. Saksi DARMA YANTI alias YANTI 2. Saksi MISNAWATI alias WATI 3. Saksi ADE IRMA BR GULTOM
4. Saksi MUHAMMAD ALDI alias SONDON 5. Saksi TAUFIK ERRMADI
1 Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP
6. Saksi IDUK HERMIN alias BEDUL alias PENCIT 7. Saksi HENDRO alias ENTONG
8. Saksi ALVIN SUGANDA alias GONDO alias KELVIN
b. Saksi a De Charge
Saksi-saksi ini biasanya dihadirkan untuk memberikan kesaksian yang meringankan terdakwa. Hal tersebut sesuai dengan isi Pasal 65 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)2 yang berbunyi: “Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksu dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.” Dalam putusan tersebut, tidak ada informasi spesifik tentang saksi a de charge atau kesaksiannya yang meringankan terdakwa.
c. Alat Bukti
Sesuai dengan Pasal 184 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)3, alat bukti yang diakui antara lain keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Dalam kasus ini, alat bukti yang digunakan meliputi keterangan saksi (seperti Saksi Darma yanti), dan bukti surat seperti (Visum Ey Ravertum yang menyatakan kematian korban)
Barang bukti yang diajukan dipersidangan meliputin : 1) 1 (satu potong baju kemeja warna hitam;
2) 1 (satu) potong jaket kulit hitam;
3) 1 (satu) potong celana keper warna cokelat;
4) 1 (satu) potong kaos singlet warna putih bercak darah;
5) 1 (satu) buah tas sandang warna cokelat;
6) 1 (satu) buab dompeet kulit warna cokelat;
7) 1 (satu) buah jam tangan merek Builida;
8) 1 (satu) buah topi warna hitam;
9) 1 (satu) buah keranjang Along-Along;
2 Pasal 65 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
3 Pasal 184 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
10) 1 (satu) buah piber ikan;
11) 1 (satu) unit sepeda Motor Honda Supra Fit Nomor Mesin H842E1165784;
12) 1 (satu) unit Hp Merek Mito;
13) 3 (tiga) buah Kayu Broti;
14) 1 (satu) Motor Hona Vario BK 3745 SO;
5. Ringkasan Tuntutan
a. Alasan PU menuntut dengan Pasal Tersebut
Penuntut Umum (PU) menuntut terdakwa Hendro Permana Putra alias Karebet, berdasarkan Pasal 340 Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP dengan pidana penjara seumur hidup, menurut saya alasan utama PU yakin menggunakan pasal ini adalah sudah sesuai dikarenakan kata direncanakannya merupakan sesuatu yang telah direncanakan terlebih dahulu dalam kaitan dalam tindak pidana pembunuhan berencana. Pelaku pembunuhan telah membuat suatu rencana pembunuhan terlebih dahulu hal ini dilakukan untuk berjalanya aksi pembunuhan. Pelaku pembunuhan akan Menyusun rencana pembunuhannya mulai dari siapa orang yang akan dibunuh, waktu pembunuhan, tempat kejadian pembunuhan, cara pembunuhan, alat yang akan dipakai untuk membunuh, rencana cadangan untuk membunuh, serta akibat yang akan ditanggungnya setelah proses pembunuhan terlaksanan.Maka dari itu penuntut umum memberikan tuntutan pasal 340 karena dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.
Selanjutnya alasan menggunakan Pasal 340 Jo pasal 55 ayat (!) ke-1 adalah karena berdasarkan bukti dan kesaksian yang diajukan di persidangan, terdapat keyakinan bahwa terdakwa terlibat dalam rencana menghilangkan nyawa korban. Adapun alat bukti yang menguatkan yaitu bukti surat berupa Visum Et Repertum Nomor : 08/IKF/IV/2018 tanggal 16 April 2018, yang ditandatangani oleh dr.
ISMURRIZAL, SH Sp.F Dokter pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Bhayangkara TK II Kota Medan dengan kesimpulan telah diperiksa seorang laki laki dalam keadaan meninggal dunia umur 50 Tahun Tn. Sandimin. Dalam pemeriksaan terdapat warna kenerahan pada kepala bagian belakang, telinga kanan terdapat dua luka memar, luka panjang dua sentimeter dikepala bagian kanan. Dalam penyebab kematian korban korban mati lemas akibat pendarahan yang banyak, yang disebabkan luka sajam dileher disertai luka benda tumpul pada daerah kepala. Asas kepastian hukum dalam KUHP memungkinkan Penuntut Umum untuk mendasarkan tuntutannya pada pasal yang
paling sesuai dengan fakta yang terungkap selama proses persidangan.
b. Kesesuaian Tuntutan dengan Asas Keadilann, Kepastian, dan Kemanfaatan
Tuntutan yang diajukan oleh Penuntut Umum tampaknya sesuai dengan asas keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan. Hal tersebut sesuai dengan isi Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 19454. Asas keadilan dipenuhi melalui proses hukum yang adil dan transparan, di mana terdakwa diberikan kesempatan untuk membela diri. Asas kepastian hukum terpenuhi melalui penggunaan pasal yang jelas dan spesifik dalam KUHP yang sesuai dengan tindakan yang dilakukan terdakwa. Terakhir, asas kemanfaatan dicapai karena tuntutan bertujuan untuk memberikan keadilan bagi korban dan masyarakat, serta mencegah tindakan serupa di masa depan. Tuntutan ini dirancang untuk memastikan bahwa hukuman yang dijatuhkan proporsional dengan kesalahan yang dilakukan, serta memberikan efek jera bagi pelaku dan masyarakat umum.
6. Pertimbangan Hukum Hakim Pemeriksa Perkara
Adapun semua unsur-unsur telah terpenuhi yang antara lain yaitu barang siapa (pelaku), dengan sengaja (memiliki niat), direncanakan terlebih dahulu, dan juga unsur mengenai penyertaan. Oleh karena itu pertimbangan dari majelis hakim yaitu menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana jo Pasal 55 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan primair; Menimbang, bahwa oleh karena dakwaan primair terbukti, maka dakwaan subsider tidak perlu dipertimbangkan lagi.
a. Teori yang Digunakan oleh Majelis Hakim
Majelis Hakim menggunakan pendekatan berdasarkan fakta hukum yang diperoleh selama persidangan. Mereka mempertimbangkan dakwaan primer yang didasarkan pada Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, yaitu pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu.
Pendekatan ini mencerminkan teori keadilan berbasis fakta yang tersedia dan hukum yang berlaku
b. Sumber Hukum dalam Putusan
4 Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945
Sumber hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, terutama Pasal 340 dan Pasal 55 Ayat (1)5,
c. Kesesuaian Alat Bukti dengan Fakta Persidangan
Cara hakim untuk melihat kesesuaian alat bukti dengan fakta di persidangan adalah dengan menyesuaikan atau menyinkronkan semua alat bukti yang ada satu persatu, dalam menjalankan cara ini hakim mengedepankan asas audio et alteram partem atau mendengarkan kedua belah pihak (penuntut umum dan penasihat hukum).
d. Pendapat tentang Pertimbangan Hukum Hakim
Berdasarkan analisis atas putusan, tampaknya Majelis Hakim telah mengikuti prosedur hukum yang berlaku secara tepat. Mereka mempertimbangkan fakta-fakta yang ada, menyelaraskan dengan pasal-pasal yang relevan dalam KUHP, dan memastikan bahwa semua alat bukti dihargai sesuai dengan hukum acara pidana (KUHAP). Dalam konteks ini, putusan Hakim tampaknya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan, memperhatikan baik kepentingan terdakwa maupun korban, serta masyarakat luas.
7. Amar Putusan
a. Bunyi Amar Putusan
MENGADILI:
1. Menyatakan Terdakwa Hendro Permana Putra Alias Kareber terbilto secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Turut Serta Melakukan Pembunuhan Berencana”;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
1. 1 (satu potong baju kemeja warna hitam;
2. 1 (satu) potong jaket kulit hitam;
3. 1 (satu) potong celana keper warna cokelat;
4. 1 (satu) potong kaos singlet warna putih bercak darah;
5. 1 (satu) buah tas sandang warna cokelat;
6. 1 (satu) buab dompeet kulit warna cokelat;
7. 1 (satu) buah jam tangan merek Builida;
8. 1 (satu) buah topi warna hitam;
5 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, Pasal 340 dan Pasal 55 Ayat (1)
9. 1 (satu) buah keranjang Along-Along;
10. 1 (satu) buah piber ikan;
11. 1 (satu) unit sepeda Motor Honda Supra Fit Nomor Mesin H842E1165784;
12. 1 (satu) unit Hp Merek Mito;
13. 3 (tiga) buah Kayu Broti;
14. 1 (satu) Motor Hona Vario BK 3745 SO;
b. Jenis Putusan Majelis Hakim
Putusan ini masuk dalam jenis putusan pemidanaan yang memutuskan pidana terhadap terdakwa dan membebankan biaya perkara. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 193 ayat (1) Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang berbunyi: “Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana.” Ini menunjukkan bahwa terdakwa dianggap bersalah atas tindak pidana yang didakwakan kepadanya, sesuai dengan pasal-pasal yang telah disebutkan.
c. Kesesuaian Permintaan PU
Putusan ini kelihatannya sesuai dengan tuntutan Penuntut Umum, yang mengajukan tuntutan berdasarkan Pasal 340 KUHP jo.
Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Amar putusan mencerminkan pertimbangan hukum yang telah dilakukan oleh Majelis Hakim, yang mempertimbangkan bukti dan kesaksian yang diajukan dalam persidangan. Amar putusan ini kelihatannya sesuai dengan UU yang berlaku, memperhatikan baik ketentuan KUHP maupun KUHAP.
Majelis Hakim tampaknya telah mempertimbangkan dengan saksama bukti dan kesaksian yang diajukan dalam persidangan
8. Daftar Pustaka
Undang-Undang
Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Pasal 65 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Pasal 184 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, Pasal 340 dan Pasal 55 Ayat (1)
Putusan Mahkamah Agung
Putusan Mahkamah Agung republik Indonesia No.691/Pid.B/2018/PN Stb