• Tidak ada hasil yang ditemukan

02. Nota Keberatan

N/A
N/A
Sasa Prasasti

Academic year: 2025

Membagikan "02. Nota Keberatan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

NOTA KEBERATAN (EKSEPSI)

Nomor Reg. Perkara: PDM-54/SLEMAN/Eoh/05/2024

Kepada Yth.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sleman

Yang Mengadili Perkara Pidana dengan Terdakwa SURTI MULYANI, S.T.

Dengan Nomor Register Perkara PDM-54/SLEMAN/Eoh/05/2024

Dengan hormat,

Yang bertandatangan di bawah ini:

1. Prof. Katarina Dervinda, S. H., M. H.

2. Arvendo Atma, S. H., M. H.

Kami merupakan Para Advokat pada Kantor Hukum Katarina Atma & Partners yang beralamat di Jl. Faridan M Noto No.7, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224, No. Telp.: 081245673542, Email:

[email protected]. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal xxx (terlampir) yang telah didaftarkan ke Kepaniteraan Pengadilan Negeri Sleman pada xxx dengan nomor register Surat Kuasa xxx. Kami bertindak baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama sebagai Tim Penasihat Hukum Terdakwa:

Nama Lengkap : SURTI MULYANI, S.T.;

Tempat Lahir : Gunung Kidul;

Umur/Tanggal Lahir : 44 Tahun/21 Januari 1980 Jenis Kelamin : Perempuan;

Kebangsaan : Indonesia;

Tempat Tinggal : Jalan Prawirotaman No.38B, Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153

Agama : Islam;

(2)

Pekerjaan : Wiraswasta;

Pendidikan : S-1 (Strata Satu).

Sebelum menguraikan lebih lanjut mengenai pokok-pokok keberatan dari kami, izinkan kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan oleh Majelis Hakim kepada Kami untuk mengajukan keberatan terhadap Surat Dakwaan Penuntut Umum dalam Perkara atas nama SURTI MULYATI, S.T. Adapun, Keberatan terhadap Surat Dakwaan Penuntut Umum dengan Nomor Register Perkara PDM-54/SLEMAN/Eoh/05/2024 Kami buat dengan sistematika sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN ………. (hlm)

II. POKOK-POKOK MATERI KEBERATAN ………. (hlm) III. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN ………. (hlm)

IV. PENUTUP ………. (hlm)

(3)

I. PENDAHULUAN

Majelis Hakim yang Kami Muliakan;

Saudara Penuntut Umum yang Terhormat Serta Hadirin Sidang yang Berbahagia

Pertama-tama, izinkan kami selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. untuk memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab hanya karena berkat dan rahmat-Nya sehingga saat ini kami bisa berkesempatan untuk menyusun dan menyampaikan Keberatan Kami terhadap Surat Dakwaan yang telah lebih dulu diajukan serta disampaikan oleh Saudara Penuntut Umum. Izinkan juga kami untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan untuk membela hak-hak klien kami, yakni SURTI MULYATI, S.T. melalui nota keberatan ini. Terlepas dari keberatan Kami atas Surat Dakwaan Penuntut Umum, tidak lupa Kami sampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas kinerja Penuntut Umum dalam menyusun Surat Dakwaan dengan baik sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Adapun kekeliruan-kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan formil, Kami harap kekeliruan-kekeliruan yang Kami temukan dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum, dapat kita koreksi bersama-sama. Hal ini sebagaimana telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 54 yang berbunyi:

“Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini.”

Pasal ini menjadi pijakan legalitas Kami selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa untuk menyatakan Keberatan atas Surat Dakwaan Penuntut Umum terhadap Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. yang berupa dakwaan sebagai berikut:

(4)

KESATU

Pasal 385 ke-4 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

ATAU

KEDUA

Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Mengingat bahwasanya Surat Dakwaan disebut sebagai Mahkota Persidangan (lilis contestatie) bukankah suatu hal yang tidak berdasar, maka Kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai peran Surat Dakwaan yang sangat krusial sehingga menempatkannya pada posisi sentral dalam proses pemeriksaan perkara pidana di pengadilan berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: SE-004/J.A/11/1993 Tentang Pembuatan Surat Dakwaan. Ditinjau dari berbagai kepentingan dan urgensi yang berkaitan dengan pemeriksaan perkara pidana, maka fungsi Surat Dakwaan (acte van beschuldiging) dapat dikategorikan:

1. Bagi Pengadilan/Hakim, Surat Dakwaan merupakan dasar dan sekaligus membatasi ruang lingkup pemeriksaan, dasar pertimbangan dalam penjatuhan keputusan;

2. Bagi Penuntut Umum, Surat Dakwaan merupakan dasar pembuktian/analisis yuridis, tuntutan pidana dan penggunaan upaya hukum;

3. Bagi Terdakwa/Penasihat Hukum, Surat Dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan

Dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi yang telah diuraikan sebelumnya, sudah selayaknya dan menjadi kewajiban bagi Penuntut Umum untuk menyusun Surat Dakwaan dengan mengacu kepada syarat dan ketentuan, yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP):

(5)

A. SYARAT FORMIL

Sesuai Pasal 143 ayat (2) huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, persyaratan yang harus dipenuhi terkait kelengkapan identitas Tersangka adalah:

Surat Dakwaan diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penuntut Umum serta

berisi nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan Tersangka.

B. SYARAT MATERIIL

Sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 143 ayat (2) huruf b, persyaratan yang harus dipenuhi sehubungan dengan tempat dan waktu tindak pidana dilakukan adalah:

Surat Dakwaan diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penuntut Umum serta

berisi uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.

Berangkat dari pemahaman atas fungsi serta syarat formil dan materiil Surat Dakwaan, Kami rasa sudah menjadi kewajiban Kami selaku Tim Penasihat Hukum Terdakwa untuk meluruskan Surat Dakwaan Penuntut Umum pada perkara a quo, yang Kami rasa menyimpang dari fungsi dan syarat riil dari Surat Dakwaan. Setelah mempelajari dan memahami Surat Dakwaan Penuntut Umum terhadap klien Kami, Kami menemukan beberapa kekeliruan maupun kesesatan fakta yang terkandung dalam Surat Dakwaan pada perkara a quo. Meskipun adalah suatu hal yang lumrah bagi manusia untuk melakukan kesalahan dan kekeliruan, akan tetapi bukanlah tindakan yang bijak apabila tidak berbuat sesuatu terhadap kesalahan dan kekeliruan tersebut. Kesalahan yang dibiarkan kelak dapat menjadi belati yang merugikan orang lain.

Tugas dan amanat yang dibebankan pada pundak Saudara Penuntut Umum dalam menyusun Surat Dakwaan ini mengandung arti bahwa memidana orang yang bersalah

(6)

merupakan salah satu bagian untuk mewujudkan keadilan serta menegakkan kebenaran di dalam masyarakat, karena pada dasarnya, setiap perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh siapapun tidak boleh dibiarkan, serta pelaksanaan hukumnya tidaklah boleh ditawar-tawar.

Siapapun yang bersalah harus dituntut dan dipidana setimpal dengan perbuatannya, kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang. Kaidah-kaidah hukum, keadilan, dan kebenaran tidak boleh dinodai oleh siapapun untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Begitu pula kiranya di dalam perkara ini, marilah kita menegakkan sendi-sendi hukum dalam upaya meneguhkan supremasi hukum di negara ini.

Majelis Hakim yang Kami Muliakan;

Keberatan yang kami ajukan ini semata-mata bertujuan untuk menegakkan keadilan, meskipun tidak jarang Keberatan yang diajukan dalam suatu Persidangan dianggap sebagai usaha untuk memperlambat dan menunda jalannya persidangan ataupun hanya sekedar formalitas semata. Sudah menjadi kewajiban Kami sebagai Penasihat Hukum SURTI MULYATI, S.T. untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menindaklanjuti kejanggalan konstruksi hukum yang Kami temukan dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum.

Dalam kesempatan kali ini, Kami percaya bahwa semua yang hadir dalam Persidangan ini sebagai sesama penegak hukum, pastinya memiliki cita-cita dan keinginan untuk menegakkan hukum dan keadilan tidak hanya untuk Klien Kami tetapi juga untuk semua orang. Apabila nanti, berdasarkan kenyataan yang ada dan akan diungkap dalam Keberatan ini pemeriksaan tidak dapat dilanjutkan, janganlah kiranya dipaksakan hanya sekedar demi mementingkan dan mendahulukan kepentingan seseorang atau suatu golongan semata, melainkan kepentingan penegakan hukum dan keadilan lah yang harus didahulukan.

Maka pada kesempatan kali ini, Kami mengajak semua yang hadir dalam Persidangan ini sebagai sesama penegak hukum, untuk berupaya menegakkan hukum dan

(7)

keadilan, dan apabila kelak berdasarkan kenyataan yang ada dan terungkap dalam Keberatan ini pemeriksaan tidak dapat dilanjutkan, janganlah kiranya dipaksakan hanya sekedar demi mementingkan dan mendahulukan kepentingan seseorang atau suatu golongan semata, sehingga memalingkan muka dari fakta-fakta yang ada.

Kami selaku Penasihat Hukum dari Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. berharap sekiranya Pokok-Pokok Materi dalam Keberatan beserta uraian ini, dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Yang Mulia Majelis Hakim dalam mengoreksi dan mengevaluasi Surat Dakwaan yang telah disusun dan dibuat oleh Saudara Penuntut Umum. Hal ini sejalan dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor 68 / K / KR / 1973 tanggal 16 Desember 1976, yang menyatakan bahwa:

Putusan pengadilan haruslah didasarkan pada tuduhan yang pada akhirnya hal ini

berarti juga akan mempengaruhi pertimbangan Majelis Hakim dalam menjatuhkan Putusan.

Demikianlah pendahuluan yang kami sampaikan sebagai pengantar untuk mengawali keberatan Kami. Kami berharap semoga Keberatan ini dapat menjadi pertimbangan untuk membantu Majelis Hakim Yang Mulia dalam menegakkan keadilan setinggi-tingginya demi terciptanya keadilan dan supremasi hukum bagi Klien Kami dan tentunya bagi semua orang.

(8)

II. POKOK-POKOK MATERI KEBERATAN

Majelis Hakim yang Kami Muliakan;

Saudara Penuntut Umum yang Terhormat Serta Hadirin Sidang yang Berbahagia

Bahwa berdasarkan Surat Dakwaan yang disusun oleh Penuntut Umum maka menurut kami ada beberapa hal yang perlu ditanggapi secara seksama mengingat di dalam Surat Dakwaan tersebut terdapat berbagai kejanggalan dan ketidakjelasan yang menyebabkan kami mengajukan keberatan. Berdasarkan uraian di atas, kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa ingin mengajukan keberatan terhadap Surat Dakwaan yang telah didakwakan oleh Penuntut Umum dengan alasan sebagai berikut :

1. EKSEPSI KEWENANGAN ABSOLUT

Perkara a quo bukan merupakan Perkara Pidana melainkan sebuah Sengketa Perdata

- Bahwa, hal tersebut diatur dalam Pasal 1 Angka 10 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata (HIR) yang menjelaskan bahwa perkara perdata adalah yang menyangkut kepentingan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dalam bidang hukum perdata.

- Bahwa, kasus ini diklasifikasikan sebagai permasalahan yang berkaitan dengan status kepemilikan tanah dan sewa-menyewa yang dilakukan oleh Terdakwa. Kasus ini berkaitan dengan hak keperdataan atas tanah dan bukan merupakan perbuatan pidana murni.

- Bahwa, dalam kasus ini terdapat kesepakatan lisan antara Terdakwa dan Saksi Dr. Novel Trikasih, S.H., LL.M., M.A selaku pemilik tanah mengenai sewa menyewa tanah selama 10 tahun dengan ketentuan bahwa setelah masa sewa habis, Terdakwa harus meninggalkan tanah tersebut. Kesepakatan ini

(9)

bersifat keperdataan dan tunduk pada asas Pacta Sunt Servanda berdasarkan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang menyatakan sebagai berikut:

Bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

bagi pihak pihak yang membuatnya;”

- Bahwa, kesepakatan yang terjadi antara Terdakwa dan Saksi Dr. Novel Trikasih, S.H., LL.M., M.A diklasifikasikan sebagai perjanjian lisan yang dianggap sah menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan dapat dibuktikan melalui bukti saksi, pengakuan, sumpah, serta persangkaan sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 1866 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Pasal 164 HIR.

- Bahwa, berdasarkan klasifikasi kasus tersebut, maka dari itu apabila terjadi sengketa mengenai status tanah atau hak-hak yang timbul dari perjanjian tersebut harus diselesaikan secara mekanisme persidangan perdata, baik melalui gugatan perdata biasa maupun mekanisme keperdataan lainnya. Oleh karenanya, perkara ini seharusnya tidak diperiksa dengan mekanisme persidangan pidana.

- Bahwa, Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menyatakan sebagai berikut:

bahwa setiap perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi orang lain mengharuskan pihak yang bersalah untuk memberikan ganti rugi.

Dengan demikian, apabila terdapat permasalahan mengenai hak dan kepemilikan tanah penyelesaiannya harus dilakukan melalui jalur perdata.

2. EKSEPSI KEWENANGAN RELATIF

Pengadilan Negeri Sleman tidak memiliki kewenangan untuk mengadili perkara a quo, melainkan kewenangan dimiliki oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta

(10)

- Bahwa, kewenangan relatif sebuah pengadilan negeri diatur dalam Pasal 84, terkhusus ayat (2), KUHAP yang menyatakan sebagai berikut:

Pengadilan negeri yang di dalam daerah hukumnya terdakwa bertempat tinggal, berdiam terakhir, di tempat ia diketemukan atau ditahan, hanya berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut, apabila tempat kediaman sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat pengadilan negeri itu daripada tempat kedudukan pengadilan negeri yang di dalam daerahnya tindak pidana itu dilakukan;

- Bahwa, Terdakwa berdomisili di Jalan Prawirotaman No.38B, Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153.

- Bahwa, Saksi Agustina Widjaya, S.Sos., M.Hum. dan Saksi Febriana Widjaya, S.Pd., M.Pd. merupakan tetangga Terdakwa yang berdomisili di Jalan Serma Taruna Ramli, No.2, Gondomanan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 54632.

- Bahwa, dengan tempat kediaman Terdakwa dan beberapa saksi terdapat di Kota Yogyakarta, maka dengan mengacu pada Pasal 84 ayat (2) KUHAP, Pengadilan Negeri Yogyakarta adalah Pengadilan Negeri yang memiliki kewenangan relatif dalam mengadili perkara a quo.

(11)

III. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN

Berdasarkan hal-hal yang telah sebelumnya Kami sampaikan dalam Pokok-Pokok Materi Keberatan, perkenankanlah Kami untuk menarik kesimpulan bahwa Surat Dakwaan Penuntut Umum tidak dapat diterima dengan alasan:

1. Perkara a quo bukan merupakan Perkara Pidana melainkan sebuah Sengketa Perdata 2. Pengadilan Negeri Sleman tidak memiliki kewenangan untuk mengadili perkara a

quo, melainkan kewenangan dimiliki oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta

Demikianlah Keberatan ini Kami sampaikan sebagai keberatan atas Surat Dakwaan yang dibuat oleh Saudara Penuntut Umum. Segala sesuatu yang Kami uraikan di sini adalah atas itikad baik. Dengan segala hormat dari lubuk hati yang paling dalam, semata-mata untuk menegakkan keadilan serta supremasi hukum, Kami berharap Majelis Hakim dapat mencermati, mempertimbangkan, dan menanggapi Keberatan yang Kami ajukan dengan sungguh-sungguh dan tidak berdalih dengan alasan klasik bahwa Keberatan Kami menyentuh pokok perkara.

Sebagai insan penegak hukum, Kami mengupayakan kebenaran dan keadilan bagi semua orang, termasuk Klien Kami SURTI MULYATI, S.T. Apabila memang menurut pertimbangan Majelis Hakim dengan didasarkan pada hukum yang berlaku perkara ini tidak dapat dilanjutkan, maka sudah menjadi kewajiban bahwa perkara ini harus diselesaikan di sini.

Sehubungan dengan kesimpulan tersebut, izinkanlah Kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa Prof. Katarina Dervinda, S. H., M. H. dan Arvendo Atma, S. H., M. H. memohon dengan sangat kepada Majelis Hakim Yang Mulia untuk menjatuhkan Putusan Sela dengan Amar Putusan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut:

(12)

PRIMAIR

1. Menerima Keberatan Penasihat Hukum Terdakwa SURTI MULYATI, S.T.;

2. Menyatakan Surat Dakwaan Reg.Perk: PDM-54/SLEMAN/Eoh/05/2024 TIDAK DAPAT DITERIMA;

3. Membebaskan Terdakwa dari segala dakwaan;

4. Memerintahkan Penuntut Umum untuk segera mengeluarkan Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. dari tahanan;

5. Memulihkan hak Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. dalam hal kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya;

6. Membebankan biaya perkara kepada negara.

SUBSIDAIR

Apabila Hakim Yang Mulia berpendapat lain, maka Kami selaku tim Penasihat Hukum Terdakwa SURTI MULYATI, S.T. memohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono) dan tidak berpihak kepada siapapun melainkan hanya kepada keadilan dan kebenaran.

(13)

IV. PENUTUP

Di akhir dari Nota Keberatan ini, perkenankanlah kami mengutip definisi keadilan tertua yang dirumuskan oleh para ahli hukum zaman romawi, berbunyi demikian: “Justitia est constans et perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi,” artinya: “Keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya.”

Demikianlah eksepsi ini kami sampaikan kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim.

Atas perhatian serta terkabulnya eksepsi/keberatan ini kami ucapkan terima kasih dan bila ada kekurangan maupun kesalahan mohon dimaafkan sebagai keterbatasan kami selaku manusia.

Yogyakarta, tanggal Hormat Kami,

Tim Penasihat Hukum Terdakwa

Prof. Katarina Dervinda, S.

H., M. H. Arvendo Atma, S. H., M. H.

Referensi

Dokumen terkait

Pada pasal diatas telah diatur mengenai kewajiban kehadiran saksi yang diminta oleh tersangka atau terdakwa, namun terdapat kekosongan hukum Undang-Undang Nomor 20

Pada pasal diatas telah diatur mengenai kewajiban kehadiran saksi yang diminta oleh tersangka atau terdakwa, namun terdapat kekosongan hukum Undang-Undang Nomor 20

Maksud penahanan menurut penjelasan Pasal 1 butir 21 Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disingkat KUHAP): “Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa

berhak mendapat upah atas pekerjaan yang dilakukannya sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (30) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang

Bahwa sesuai dengan pasal 56 ayat (1) KUHAP yang berbunyi sebagai berikut : "Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana

Hal ini dapat dibaca dari ketentuan Pasal 54 jo Pasal 69 KUHAP yang menyatakan, bahwa guna kepentingan pembelaan, tersangka berhak mendapatkan bantuan 105egis

Hal ini dapat dibaca dari ketentuan Pasal 54 jo Pasal 69 KUHAP yang menyatakan, bahwa guna kepentingan pembelaan, tersangka berhak mendapatkan bantuan 105egis dari seorang atau lebih

Ketentuan pidana terhadap pelaku penyerobotan pekarangan diatur dalam asal 167 Kitab Undang-undang Hukum Pidana KUHP yang berbunyi berbunyi: 1 Barang siapa dengan melawan hak orang