• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Risiko pada Area Rotary Kiln di PT Gresik Mitra Teknik Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Risiko pada Area Rotary Kiln di PT Gresik Mitra Teknik Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Risiko pada Area Rotary Kiln di PT Gresik Mitra Teknik Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja

Reynaldi Ahmad Faizin1, Moch. Nuruddin2

1,2 Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Gresik Jl. Sumatera 101 GKB, Randuagung Gresik 61121, Indonesia

*Koresponden email : [email protected]1, [email protected]2

Diterima : 19 Juni 2022 Disetujui : 7 Juli 2022

Abstract

PT. Gresik Mitra Teknik (PT GMT) is a company in the field of contractor services and trading services.

In its operational activities, PT. GMT is inevitable from accidents at work. As the K3 team at PT. GMT, in particular, has recorded cases of work accidents that occur specifically in the area of rotary kilns. Based on data on the number of accidents that occurred in several activities at PT GMT, it was concluded that fire brick installation activities dominated the occurrence of accidents in the company. The purpose of this study is to apply the HIRARC method to identify existing occupational accident risks and identify the steps that need to be taken to manage all existing risks. The results of the study found that there were 10 risks with the following details 2 risks including the low-level category, 4 risks including the medium level category, 2 risks including the high-level category and 2 risks including the very high-level category. Risk control measures focus on reducing the level of risk, which is the highest risk category. The measures taken include the new design of the production floor, the provision of PPE earplugs, regular testing of noise levels.

Keywords: hazard identification, risk assessment, risk control, contractor services, HIRARC

Abstrak

PT. Gresik Mitra Teknik (PT GMT) adalah perusahaan di bidang jasa kontraktor dan jasa perdagangan.

Dalam kegiatan operasionalnya, PT. GMT tidak bisa dihindarkan dari terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Seperti yang dikatakan tim K3 di PT. GMT, secara khusus telah mencatat kasus kecelakaan kerja yang terjadi khususnya di area rotary kiln. Berdasarkan data jumlah kecelakaan yang terjadi pada beberapa kegiatan di PT GMT, disimpulkan bahwa kegiatan pemasangan fire brick mendominasi terjadinya kecelakaan di perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan metode HIRARC guna mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja yang ada dan mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengelola semua risiko yang ada. Hasil penelitian menemukan terdapat 10 risiko dengan rincian sebagai berikut 2 risiko termasuk kategori level rendah, 4 risiko termasuk kategori level sedang, 2 risiko termasuk kategori level tinggi serta 2 risiko termasuk kategori level sangat tinggi. Tindakan pengendalian risiko berfokus pada penurunan tingkat risiko, yang merupakan kategori risiko tertinggi.

Langkah-langkah yang diambil termasuk desain baru lantai produksi, penyediaan APD earplug, pengujian tingkat kebisingan secara teratur.

Kata Kunci: identifikasi risiko, penilaian risiko, pengendalian risiko, jasa kontraktor, HIRARC

1. Pendahuluan

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan kebutuhan semua manusia, sehingga penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan aman bagi pekerja [1]. Karena berbagai penerapan teknologi maju dalam industri yang semakin terpusat, efeknya juga memiliki sifat yang berbeda, dan efek samping tersebut dapat berdampak buruk pada pekerjaan dan lingkungan kerja serta menimbulkan gangguan kesehatan. Selain dapat menyebabkan penyakit akibat kerja, industri seringkali menempatkan pekerja dalam rentan cedera di tempat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi dapat disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak tanggap terhadap keselamatan kerja dan lingkungan kerja yang berbahaya [2]. Semua tempat kerja memiliki potensi cedera di tempat kerja, dengan tingkat rendah dan tinggi, tergantung jenis industri, teknologi, dan upaya manajemen di industri [3].

Kecelakaan kerja didefinisikan sebagai kejadian yang tidak direncanakan dan tidak diharapkan karena menimbulkan kerusakan berupa harta benda, orang, dan proses yang sedang berlangsung [4]. Dalam dunia kerja, kecelakaan kerja merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan bagi suatu perusahaan, dan tingkat kecelakaan kerja juga mempengaruhi perkembangan suatu perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan berkewajiban untuk memantau dan mengatasi segala sesuatu yang menyebabkan cedera di

(2)

tempat kerja karena untuk nama baik perusahaan. Salah satu langkah perusahaan untuk menjaga tingkat risiko kecelakaan kerja adalah dengan penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang kadang disebut dengan SMK3 [5]. Kepatuhan terhadap aturan program K3 merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap keselamatan bagi karyawan atau pekerja di tempat kerja.

Program K3 merupakan aspek penting dalam mengelola segala jenis risiko yang ada di tempat kerja, dan dengan menerapkan K3 yang baik maka risiko penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja di semua kegiatan proses produksi dapat diminimalisir [6]. Tujuan penerapan K3 diatur oleh pemerintah melalui perumusan kebijakan nasional dengan diundangkannya undang-undang Nomor 1 Tahun 1970. Artinya semua pekerja dan orang di tempat kerja dapat menerapkan K3 dengan benar dan mendapat perlindungan dari dampak negatif yang ditimbulkan. Oleh karena itu, tujuan penerapan K3 pada dasarnya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang disebabkan oleh bahaya di lingkungan kerja [7]. Dan ketika kecelakaan terjadi di tempat kerja, sekecil apapun, itu menyebabkan kerugian. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja sedini mungkin. Jika tidak, setidaknya dapat mengurangi dampaknya [8].

PT. Gresik Mitra Teknik atau disingkat dengan PT. GMT merupakan perusahaan di bidang jasa kontraktor dan perdagangan jasa. PT. GMT ini didirikan pada tahun 2015 yang awal mulanya adalah badan usaha berbentuk CV dan pada tahun 2018 perusahaan ini berubah menjadi PT dan terus berjalan hingga sekarang. Adapun bidang jasa kontraktor yang ada di PT GMT meliputi bidang refractory, mechanical, pengerjaan proyek waktu tertentu, maintenance, jasa manajemen dan karyawan, insolation dan electrical.

Dalam kegiatan operasionalnya, PT. GMT tidak bisa terhindarkan dari kasus kecelakaan kerja di tempat kerja. Seperti yang dikatakan tim K3 PT. GMT telah menemukan banyak catatan kecelakaan kerja, terutama di area rotary kiln, dimana kecelakaan kerja sering terjadi. Gambar berikut menunjukkan data kasus kecelakaan kerja pada beberapa aktivitas di area rotary kiln PT GMT.

Gambar 1. Grafik jumlah kasus kecelakaan kerja pada area Rotary Kiln di PT GMT tahun 2021 Sumber : Data perusahaan yang diolah (2022)

Gambar 1 menunjukkan data jumlah kasus kecelakaan yang terjadi pada beberapa kegiatan yang ada di PT GMT. Data tersebut memperoleh kesimpulan bahwa kegiatan yang berkaitan dengan pemasangan fire brick mendominasi kejadian kecelakaan kerja di perusahaan tersebut. Terdapat berbagai risiko kecelakaan seperti jatuh dari tempat tinggi, terlindas, terbentur, kaki tersangkut, tertusuk benda tajam, terhirup gas buang, terpeleset, tertimpa batu, tersengat listrik, dan terkena percikan api las. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, upaya manajemen risiko yang dilakukan di PT GMT yaitu menyediakan alat pelindung diri (APD), pengaturan jam kerja, dan pelaksanaan sertifikasi semua peralatan dan mesin yang digunakan untuk mempermudah dalam melakukan proses. PT GMT sudah memiliki SOP saat bekerja, namun pelaksanaannya masih belum konsisten karena banyak pegawai yang tidak mematuhi aturan yang ada.

Berdasarkan kondisi di atas, bahaya perlu diidentifikasi dan risiko dari proses kerja juga perlu dilakukan penilaian untuk menghilangkan berbagai dampak risiko dari proses ini. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melakukan analisis risiko di tempat kerja, secara kualitatif dan kuantitatif.

Salah satu metode analisis yang dapat diterapkan adalah metode Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) [9]. Metode ini mempunyai tiga langkah utama dalam penyelesaiannya [11]

yaitu mengidentifikasi risiko, bahaya dan dampaknya terhadap pekerja. Langkah kedua melakukan penilaian risiko bahaya yang ada dan kemudian langkah ketiga membuat rekomendasi pengendalian risiko [10].

0 5 10 15 20 25 30

Jumlah Kecelakaan

(3)

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode HIRARC pada kegiatan pemasangan fire brick sebagai kasus kecelakaan paling banyak di PT GMT, sehingga dapat diketahui tingkat risiko kecelakaan kerja yang ada. Analisis risiko dengan penerapan langkah HIRARC di PT GMT, diharapkan dapat mengidentifikasi tindakan untuk mengelola semua risiko yang ada agar menjadi perusahaan dengan tingkat kecelakaan kerja yang sangat rendah atau bahkan tidak ada, agar sejalan dengan tujuan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan keuntungan. Manfaat dari penelitian ini dilakukan sebagai pedoman bagi perusahaan untuk lebih menekankan angka kejadian kecelakaan kerja yang terjadi sehingga dapat meraih penghargaan zero accident dengan baik.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT GMT yang terletak di Perum Griya Pongangan Gresik. Metode penelitian ini dilakukan dengan kegiatan identifikasi bahaya dan manajemen risiko sebagai berikut : (1) Pengamatan dan penjelasan langsung dari pengawas lapangan dan manajer masing-masing departemen mengenai setiap kegiatan kerja, peralatan, bahan, dan sistem kerja. (2) Pengamatan terhadap bahaya dan risiko yang timbul dari aktivitas/proses kerja, peralatan, material, dan sistem kerja. (3) Data dikumpulkan melalui analisis bahaya dan risiko. (4) Ikut serta dalam pemeriksaan, penilain, dan analisis risiko di tempat kerja secara rutin.

Penelitian ini dilakukan dengan mengamati dan menilai semua tahapan aktivitas kerja, menggunakan probabilitas risiko dan tingkat keparahan dalam penilaian risiko untuk menentukan kemungkinan terpapar faktor risiko menggunakan metode HIRARC [12]. Pengumpulan data untuk penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara. Adapun data sekunder diambil dari dokumen perusahaan. Penelitian ini hanya berfokus pada proses pemasangan fire brick saja.dibawah ini adalah langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah menggunakan metode HIRARC.

Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya merupakan upaya sistematis untuk menemukan bahaya yang ada di lingkungan kerja dengan tujuan untuk waspada ketika karakteristik bahaya diketahui, sehingga dapat menetapkan prosedur terstruktur untuk melindungi tempat kerja agar tidak terjadi kecelakaan kerja [13]. Menurut [14]

kategori bahaya meliputi bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya mekanis, bahaya listrik, bahaya ergonomis, bahaya lingkungan, bahaya biologis dan bahaya psikologis.

Penilaian Risiko

Penilaian risiko sebagai langkah untuk memperhitungkan dua faktor, nilai probabilitas dan dampak dari bahaya yang terjadi, untuk menentukan apakah tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko yang dapat diterima atau dapat berakibatfatal [11], [15]. Penentuan tingkat penilaian risiko dalam penelitian ini dicapai dengan mengadopsi kriteria manajemen risiko Risk Management Standard AS/NZS 4360:1999 [16] yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Tingkatan skala Likelihood

Tingkat Klasifikasi Deskripsi

5 Continuously Terjadi terus menerus dalam beberapa kali sehari 4 Frequently Sering terjadi beberapa kali seminggu

3 Occasionally Kadang-kadang terjadi beberapa kali dalam sebulan 2 Unusually Terjadi beberapa kali dalam setahun

1 Rarely Jarang terjadi setahun sekali Sumber : Adopsi dari [15], [16]

(4)

Tabel 2. Ukuran skala Severity

Tingkat Klasifikasi Deskripsi

1 Catastrophe

Menyebabkan cidera beberapa orang atau kerugian lebih dari Rp 5 miliar atau menimbulkan kerusakan lingkungan yang berdampak nasional

2 Multiple

Fatalities

Menyebabkan cidera lebih dari satu orang atau kerugian antara Rp 2-5 miliar atau menyebabkan kerusakan lingkungan lokal

3 Fatality

Menyebabkan cidera satu orang atau kerugian antara Rp 250 juta - Rp 2 miliar atau menimbulkan kerusakan lingkungan yang tidak permanen

4 Serious Injury Menyebabkan pekerjaan berhenti sementara atau kerugian antara Rp 5-25 juta

5 Disabling

Injuries

Menyebabkan cidera atau luka ringan atau kerugian kurang dari Rp 2,5 juta

Sumber : Adopsi dari [15], [16]

Tabel 3. Matriks Analisis Risiko

Likelihood

Severity

1 2 3 4 5

5 H H E E E

4 M H H E E

3 L M H E E

2 L L M H E

1 L L M H H

Sumber : Adopsi dari [16]

Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan untuk meminimalkan tingkat risiko dari suatu bahaya yang ada melalui hierarki pengendalian yang berurutan sampai tingkat bahaya turun ke titik aman [17]. Hirarki pengendalian risiko diimplementasikan dengan langkah berikut [14] :

a. Eliminasi, pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya.

b. Substitusi, pengendalian dengan mengganti proses kerja dengan risiko yang lebih rendah c. Rekayasa engineering, pengendalian dengan teknik rekayasa pada alat dan lingkungan.

d. Administrasi control, pengendalian dengan pembuatan aturan, safety sign dan training.

e. Alat pelindung diri, pengendalian dengan cara menggunakan APD seperti safety helmet, apron, safety shoes, dan APD lainnya yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.

3. Hasil dan Pembahasan

Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi hasil observasi, wawancara, dan kuesioner yang dibagikan kepada tiga pakar di bidang K3 yang terdiri dari manajer K3, manajer produksi, dan karyawan. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode HIRARC, dan pembahasannya dibagi menjadi tiga bagian, meliputi identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko.

Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam menggunakan metode HIRARC untuk mengetahui keberadaan bahaya dalam aktivitas kerja. Berdasarkan pengamatan di PT GMT di area Kiln, ditetapkan bahwa kegiatan pemasangan fire brick menjadi kasus yang dominan dan beberapa hasil identifikasi risiko diperoleh dari dari kegiatan tersebut. Hal ini ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

(5)

Tabel 4. Identifikasi bahaya pada kegiatan pemasangan Fire Brick

Aktivitas Kerja Potensi Bahaya Risiko Dampak

Pembongkaran area kiln

Rantai besi batu Terbantai rantai besi Cidera Pemindahan batu ke

kiln

Forklift Tertabrak forklift saat beroperasi

Terjepit, cidera

Menggerinda Listrik Tersengat listrik Kejang, luka bakar

Mesin Gerinda Terpapar suara bising Gangguan pendengaran Mengelas Gram besi Terkena serpihan gram Iritasi mata

Mesin las listrik Tersandung kabel las Terjatuh, cidera Membentuk mortar Alat mortar Tertusuk benda tajam Tangan terluka, cidera Pemasangan batu Gas C2H2 Terhirup Gas buang Gangguan pernapasan

Batu Kejatuhan batu Terjatuh, cidera kepala

Tangga Terjatuh dari ketinggian Cidera, luka lebam pada tubuh

Sumber : Data histori PT GMT (2021)

Berdasarkan data Tabel 4, terlihat bahwa terdapat 10 risiko dalam pekerjaan pemasangan fire brick di PT GMT. Apabila dirincikan lebih lanjut, pada aktivitas kerja pembongkaran area kiln terdapat 1 risiko.

Kemudian pada aktivitas pemindahan batu ke kiln terdapat 1 risiko. Lalu pada aktivitas menggerinda terdapat 2 risiko. Kemudian pada aktivitas mengelas terdapat 2 risiko. Pada aktivitas membentuk mortar terdapat 1 risiko. Dan juga pada aktivitas pemasangan batu terdapat 3 risiko.

Penilaian Risiko

Penilaian risiko merupakan langkah kedua dalam mengidentifikasi tingkat potensi risiko dalam aktivitas kerja. Penilaian risiko bertujuan untuk mengetahui nilai risiko. Nilai ini diperoleh dengan mengalikan nilai kemungkinan terjadinya suatu risiko/likelihood dan dampak yang dapat ditimbulkan/severity yang kemudian digolongkan ke dalam matriks risiko. Hasil penilaian risiko kegiatan pemasangan fire brick tercantum dalam Tabel 5.

Tabel 5. Rekapitulasi penilaian risiko pada kegiatan pemasangan Fire Brick

Aktivitas Kerja Risiko Likelihood Severity Nilai Risiko

Pembongkaran area kiln Terbantai rantai besi 2 3 M

Pemindahan batu ke kiln Tertabrak forklift saat

beroperasi 1 5 H

Menggerinda Tersengat listrik 2 5 E

Terpapar suara bising 1 4 H

Mengelas Terkena serpihan gram 3 1 M

Tersandung kabel las 2 5 E

Membentuk mortar Tertusuk benda tajam 2 2 L

Pemasangan batu Terhirup Gas buang 1 3 M

Kejatuhan batu 2 2 L

Terjatuh dari ketinggian 1 3 M

Sumber : Hasil data kuesioner yang diolah (2021)

(6)

Berdasarkan data yang ada pada Tabel 5, dapat dilihat hasil penilaian risiko yang dilakukan terhadap kegiatan pemasangan fire brick di PT GMT yang mana ditemukan total terdapat 10 risiko dengan rincian sebagai berikut 2 risiko dengan level rendah, 4 risiko dengan level sedang, 2 risiko dengan level tinggi serta 2 risiko dengan level sangat tinggi pada aktivitas kerja di PT GMT. Adapun 2 risiko level rendah pada aktivitas membentuk mortar dan pemasangan batu, 4 risiko level sedang pada aktivitas pembongkaran area kiln, mengelas dan pemasangan batu, 2 risiko level tinggi pada aktivitas pemindahan batu ke kiln dan menggerinda, serta 2 risiko level sangat tinggi pada aktivitas menggerinda dan mengelas.

Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko adalah langkah terakhir dalam menerapkan metode HIRARC yang akan dilakukan untuk semua bahaya dan risiko yang teridentifikasi, dengan mempertimbangkan tingkat risiko dan prioritas pengendaliannya. Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalkan tingkat risiko dari potensi bahaya yang ada. Berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang telah dilakukan sebelumnya, pengendalian risiko dilakukan pada setiap aktivitas kerja kegiatan pemasangan fire brick yang terdapat di PT GMT. Akan tetapi, berdasarkan hasil wawancara dengan kepala K3, tahapan pengendalian risiko yakni eliminasi tidak dapat dilakukan dikarenakan tidak ada sumber bahaya maupun kegiatan yang dapat dihilangkan dari aktivitas kerja. Begitu pula dengan tahapan substitusi yang juga tidak dapat dilakukan karena barang pengganti yang tersedia kurang efisien. Pengendalian risiko pada aktivitas kerja pemasangan fire brick di PT GMT dapat dirincikan sebagai berikut :

Pada aktivitas pembongkaran, PT GMT perlu memberikan briefing secara rutin kepada pekerja dikarenakan banyak pekerja yang lalai akan pentingnya K3 di tempat kerja. Pembuatan jadwal kerja dan maintenance rutin terhadap alat yang digunakan dalam kegiatan tersebut guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Serta pengadaan APD dengan baik, bertujuan agar pekerja dapat memakai alat pelindung diri saat bekerja tanpa beralasan lupa atau tidak ada stok APD di tempat kerja.

Pada aktivitas pemindahan batu ke kiln, pengendalian risiko yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan pengendalian risiko yang dilakukan pada aktivitas pembongkaran namun penggunaan safety shoes saat bekerja juga dilakukan untuk melindungi kaki pekerja serta membuat batasan area untuk operasional forklift agar lalu lintas pekerja dan forklift dapat dipisahkan dan tidak terjadi tabrakan saat melakukan kegiatan di lingkungan kerja.

Kemudian pada aktivitas menggerinda, pemasangan pelindung di sekitar mata mesin gerinda dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pekerja terkena percikan api saat bekerja. Selain itu, pembuatan jadwal dan melakukan maintenance rutin terhadap peralatan mesin gerinda dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pekerja tersetrum maupun terkena pecahan api gerinda saat sedang bekerja. Pekerja juga disarankan untuk menggunakan APD seperti pakaian kerja, safety gloves, earmuff, dan kacamata safety untuk melindungi tubuh pekerja dari risiko-risiko lain yang dapat membahayakan pekerja.

Untuk aktivitas pengelasan, tindakan pengendalian risiko yang dapat dilakukan antara lain mendidik pekerja tentang \ pentingnya K3 di tempat kerja, melakukan perawatan rutin terhadap alat las listrik, dan menggunakan alat pelindung diri saat bekerja. Alat pelindung diri yang dapat digunakan antara lain welding face shield, pakaian kerja, sarung tangan las, masker dan sepatu safety.

Lalu pada aktivitas membentuk mortar, tindakan pengendalian risiko yang diambil ialah melakukan maintenance berkala terhadap peralatan mortar. Selain itu pekerja juga dianjurkan untuk menggunakan APD seperti pakaian kerja, safety helmet, safety gloves, dan sepatu safety saat bekerja. Jadwal kerja dan istirahat bagi pekerja juga diatur untuk mencegah kelelahan pada pekerja akibat gerakan kerja yang monoton saat aktivitas membentuk mortar.

Dan yang terakhir pada aktivitas pemasangan batu, pengendalian risiko yang dilakukan yakni mengawasi dan menegur pekerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri saat bekerja. Serta pembuatan prosedur kerja seperti tata cara peletakan peralatan dan mesin sebelum dan sesudah aktivitas kerja dimulai dapat menghindarkan pekerja maupun orang lain dari bahaya. Pembuatan jadwal dan melakukan maintenance rutin terhadap peralatan kerja seperti tabung gas, regulator, dan selang gas juga perlu dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran gas saat bekerja.

Setelah pengendalian risiko diterapkan, langkah-langkah spesifik perlu diambil untuk mengurangi tingkat risiko dari semua risiko yang ada. Mengurangi tingkat risiko berfokus pada risiko utama yang ditiimbulkan di PT GMT yakni terpapar suara bising dan tersandung kabel las yang merupakan risiko tertinggi. Mitigasi risiko diharapkan dapat menurunkan risiko dari kategori risiko ekstrim menjadi risiko rendah. Tindakan yang dilakukan adalah membuat desain baru untuk area produksi, dimulai dengan menentukan tempat kerja dan jumlah operator yang tepat. Selanjutnya menyediakan APD yang sesuai, seperti penutup telinga dan uji tingkat kebisingan secara teratur dan memadai untuk semua operator.

(7)

4. Kesimpulan dan Saran

Hasil kajian yang dilakukan dengan menggunakan metode HIRARC sebagai bagian dari proses analisis risiko pada area rotary kiln di PT Gresik Mitra Teknik guna pencegahan kecelakaan kerjadiperoleh kesimpulan yakni pada beberapa kegiatan yang ada di area kiln ditemukan bahwa kegiatan pemasangan fire brick menjadi kasus yang dominan sehingga didapatkan hasil identifikasi risiko sebanyak 10 potensi bahaya dan risiko pada aktivitas kerja pemasangan fire brick di PT GMT. Pada penilaian risiko terhadap 10 risiko ditemukan hasil dengan rincian sebagai berikut 2 risiko termasuk kategori level rendah, 4 risiko termasuk kategori level sedang, 2 risiko termasuk kategori level tinggi serta 2 risiko termasuk kategori level sangat tinggi.

Penegendalian risiko dilakukan untuk setiap aktivitas pekerjaan pada kegiatan pemasangan fire brick berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang telah dilakukan sebelumnya. Namun tindakan pengendalian risiko ini difokuskan pada kegiatan penurunan level risiko yang utama terjadi yaitu risiko terpapar suara bising dan tersandung kabel las yang menjadi kategori risiko tertinggi. Langkah- langkah yang perlu diambil adalah membuat desain baru untuk ruang produksi, penyediaan APD yang tepat seperti earplug, dan pengujian tingkat kebisingan secara teratur. Di sisi lain, risiko yang tergolong tingkat rendah dan sedang harus selalu dipantau secara ketat dengan penerapan K3 wajib lebih diutamakan bagi keselamatan para pekerja.

Adapun saran yang diberikan kepada PT Gresik Mitra Teknik Teknik guna pencegahan kecelakaan kerja yakni perlu dilakukan perbaikan pada area lantai kerja agar operator dapat bekerja secara optimal, melaksanakan briefing secara rutin sebelum bekerja bertujuan agar pekerja dapat mengetahui alur kerja dan SOP yang telah diatur sebelumnya serta kewajiban penggunaan APD untuk menjaga keselamatan dan keamanan pekerja di tempat kerja. Sedangkan saran kepada peneliti selanjutnya yakni diharapkan dapat menerapkan penyelesaian masalah dengan menggunakan korelasi metode HIRARC dan JSA bertujuan agar analisis risiko yang dilakukan lebih detail sehingga sumber risiko dapat diketahui lebih dini.

5. Referensi

[1] N. R. Sitompul, W. Nuswantoro, and V. H. Puspasari, “Analisis Faktor-Faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi di Masa Pandemi Covid-19 pada Pembangunan Gedung Kuliah Terpadu Universitas Palangka Raya,” J. Serambi Eng., vol. VII, no. 3, pp. 3321–3330, 2022.

[2] A. F. Damayanti and N. A. Mahbubah, “Implementasi Metode Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control Guna Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Karyawan di PT ABC,” J. Serambi Eng., vol. 6, no. 2, pp. 1694–1701, 2021, doi: 10.32672/jse.v6i2.2865.

[3] O. Saputra and G. Putra, “Analisis Potensi Bahaya di Area Produksi Kelapa Sawit Menggunakan Metode HIRARC di PT. Beurata Subur Persada,” J. Serambi Eng., vol. 7, no. 2, pp. 2913–2921, 2022.

[4] F. M. Khudhory, L. D. Fathimahhayati, and T. A. Pawitra, “Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Metode HIRARC (Studi Kasus: CV. Jaya Makmur, Samarinda),” TEKINFO - J. Ilm. Tek.

Ind. dan Inf., vol. 10, no. 2, pp. 66–77, 2022.

[5] A. Agustina and M. Mulyono, “Hirarc Pada Bagian Mini Bus Pt Mekar Armada Jaya Magelang,”

Indones. J. Occup. Saf. Heal., vol. 6, no. 2, p. 177, 2018, doi: 10.20473/ijosh.v6i2.2017.177-186.

[6] H. I. F. dan W. Hari Rarindo, Etik Puspitasari, Satworo Adiwidodo, Hangga Wicaksono, “Risk Management Assessment K3 Upaya Proteksi Pandemi Covid-19 Tempat Usaha Home Industri Masakan Ayam Dengan Metode Hirarc,” Teknologi, vol. 16, no. 1, 2022.

[7] D. Kusumawardhani, H. S. Kasjono, and P. Purwanto, “Analisis Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) di Bagian Finishing 2 Industri Serikat Pekerja Aluminium Sorosutan Tahun 2017,” Sanitasi J. Kesehat. Lingkung., vol. 9, no. 1, pp. 1–9, 2017, doi:

10.29238/sanitasi.v9i1.40.

[8] A. B. Sri Ainun Muhtia, Suharni A. Fachrin, “Analisis Risiko K3 Dengan Metode Hirarc Pada Pekerja Article history : Received : 19 Agustus 2020 Riset oleh National Safety Council menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja adalah 88 % akibat unsafe behaviour dimana Perilaku tersebut dapat terjadi kare,” Wind. Public Heal. Journal, vol. 01, no. 03, pp. 166–175, 2020.

[9] A. M. Mayadilanuari, “Penggunaan HIRARC dalam Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko pada Pekerjaan Bongkar Muat,” Higeia J. Public Heal. Res. Dev., vol. 4, no. 2, pp. 504–512, 2020, [Online]. Available: https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/article/view/30908/15901.

[10] A. Kurniawan, M. Santoso, and M. R. Dhani, “Identifikasi Bahaya pada Pekerjaan Maintenance Kapal Menggunakan Metode HIRARC dan FTA Dengan Pendekatan Fuzzy di Industri Kapal,” in Proceeding 1st Conference on Safety Engineering and Its Application, 2017, no. 2581, pp. 182–186.

(8)

[11] H. MZ, F. Suryani, and P. A. Sari, “Analisis Potensi Bahaya, Penilaian Risiko Dan Pengendaliannya Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assessment And Risk Control (HIRARC) (Studi Kasus di Divisi Perawatan (Bengkel Utama) PT XYZ,” J. Desiminasi Teknol., vol. 10, no. 1, 2022.

[12] T. Yuniastuti, S. Devita, and I. Rupiwardhani, “Kajian Faktor Pengetahuan Pekerja CV. Pakis Indah pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai Bagian Pencegahan Faktor Resiko Metode HIRARC,” in The 4th Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH 2021), 2021, no. Ciastech, pp. 563–570.

[13] Mohammad Ikrar Pramadi, Hadi Suprapto, and Ria Rahma Yanti, “Pencegahan Kecelakaan Kerja Dengan Metode Hiradc Di Perusahaan Fabrikasi Dan Machining,” JENIUS J. Terap. Tek. Ind., vol.

1, no. 2, pp. 98–108, 2020, doi: 10.37373/jenius.v1i2.60.

[14] R. Fauzan and N. B. Puspitasari, “Evaluasi Bahaya Kerja Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assesment And Risk Control Dalam Memproduksi Rak Engine Overhoul Pada CV. Mansgroup,” Ind. Eng. J., vol. 6, no. 4, pp. 1–8, 2019.

[15] A. Peruzzi, W. Kriswardhana, and A. Ratnaningsih, “Risk Assessment Kecelakaan Kerja dengan Menggunakan Metode Domino Pada Proyek Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon,” Siklus J.

Tek. Sipil, vol. 6, no. 2, pp. 103–116, 2020, doi: 10.31849/siklus.v6i2.4337.

[16] Australia Standard, “Standard Australia Licence 2004,” As/Nzs 4360:2004, p. 52, 2004, [Online].

Available: http://www.epsonet.eu/mediapool/72/723588/data/2017/AS_NZS_4360- 1999_Risk_management.pdf.

[17] R. Widiastuti, P. E. Prasetyo, and M. Erwinda, “Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Untuk Mengendalikan Risiko Bahaya di UPT Laboratorium Terpadu Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,” Ind. Eng. J. Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa, vol. 3, no. 2, p. 51, 2019.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan Dari hasil analisis penelitian yang telah dilakukan pada PT Bank Mega Syariah menggunakan metode RBBR selama 5 periode yaitu mulai tahun 2017 sampai dengan tahun 2021