• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Saslis

N/A
N/A
Adctizyy@_

Academic year: 2025

Membagikan "Analisis Saslis"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

EKSISTENSI SASTRA LISAN TERHADAP PELESTARIAN KERAMATNYA RESAN DAN MAKAM KUNO

Estu Aditya Pratama

Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta Jalan Colombo Nomor 1 Yogyakarta 55281

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Tradisi Sastra Lisan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Salah satu sastra lisan yang menarik untuk dikaji adalah sastra lisan yang erat kaitannya dengan eksistensi resan (hutan keramat) dan makam kuno, khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Tradisi sastra lisan ini tidak hanya mencerminkan suatu kepercayaan masyarakat terhadap tempat-tempat keramat atau disakralkan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai dari para leluhur yang berkaitan dengan berbagai aspek, seperti nilai-nilai budaya, sosial, religi, dan spiritual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sastra lisan dapat menjadi suatu tradisi yang secara tidak langsung, berperan dan turut serta sebagai sarana pelestarian resan dan makam kuno. Artikel ini juga bertujuan dalam mengungkap eksistensi resan dan makam kuno dalam kacamata sastra lisan, serta membahas relevansinya terhadap kehidupan masyarakat pada era saat ini.

Kata Kunci: Sastra Lisan, resan, makam kuno, Gunungkidul.

ABSTRACT

The tradition of oral literature plays a very important role in preserving the values of local wisdom that exist in people’s lives. One of the interesting oral literatures to be studied is the oral literature closely related to the existence of resan (sacred forests) and ancient tombs, especially in Gunungkidul Regency. This oral literature tradition not only reflects a community’s belief in sacred places, but also functions as a means of inheriting values from ancestors related to various aspects such as cultural, social, religious and spiritual values. This article aims to analyse how oral literature can become a tradition that indirectly plays a role and participates as a means of preserving resan and ancient tombs. This article also aims to reveal the existence of resan and ancient tombs from the perspective of oral literature, and discuss their relevance to people’s lives in the present era.

Keywords: Oral literature, resan, ancient tomb, Gunungkidul.

(2)

A. PENDAHULUAN

Sastra lisan dikenal sebagai peninggalan masyarakat jaman dahulu atau leluhur yang belum mengenal tulisan. Oleh sebab itu, sifat sastra lisan cenderung statis dan tidak mengalami perubahan yang berarti, namun terkadang tetap saja mengalami beberapa perubahan yang cukup signifikan.

Meskipun demikian, sastra lisan dapat dikatakan sebagai bagian dari warisan budaya yang masih tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Sebagai media komunikasi yang diwariskan secara turun-temurun, sastra lisan menjadi sarana penyampai dan juga berperan penting dalam pembentukan nilai- nilai moral, seperti sebagai penjaga sikap, perilaku, dan etika yang mengikat kehidupan sosial dalam masyarakat.

Sastra lisan juga berperan dalam pembentukan suatu kearifan lokal, yang erat kaitannya dengan kebudayaan. Kebudayaan sendiri adalah hal-hal yang berhubungan dengan akal budi yang merupakan buah dari usaha manusia. Hasil kebudayaan tersebut dapat bermacam-macam bentuknya, antara lain: nilai, norma, adat istiadat (tradisi), gagasan dan sastra. Baik itu sastra tertulis maupun lisan. Sastra lisan yang merupakan bagian dari kebudayaan dan juga merupakan kajian ilmu sastra pada umumnya (Koentjaraningrat, 1998:19).

Berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia, lantas menimbulkan serta memunculkan berbagai suku bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.

Dari keanekaragaman tersebut melahirkan suatu kehidupan sastra yang unik. Dari sinilah muncul sebuah pendapat, bahwa pengkajian terhadap sastra merupakan kajian yang cukup menarik. Seperti yang tertulis pada paragraf sebelumnya, sastra memiliki bentuk tertulis maupun tidak tertulis atau lisan. Sastra yang menggunakan media lisan, penyebarannya melalui tutur kata atau mulut

ke mulut. Oleh karena itu, proses tersebarnya sastra lisan disebut dengan tradisi lisan (oral tradition). Dalam konteks kebudayaan, sastra lisan menjadi bagian dari folklor lisan.

Folklor sendiri merupakan kebudayaan yang tersebar maupun diwariskan secara turun- temurun.

Dapat diketahui, bahwa sastra lisan, tradisi lisan, maupun folklor lisan memang sangat erat kaitannya dengan aspek-aspek tradisional maupun kearifan lokal di mana tempatnya berasal. Semua unsur yang terkait dalam suatu ketradisionalan dan kearifan lokal tersebut berperan dalam menjunjung tinggi norma, budaya, sikap, perilaku, dan etika seperti yang telah dituliskan sebelumnya, termasuk pula hal-hal yang berkaitan dengan tradisi pantang, larangan, atau pamali yang ikut dibentuk oleh sastra lisan sebagai sarana penyampai cerita maupun mitos yang berkembang dalam suatu masyarakat. Hal tersebut tentunya sesuai dengan konteks yang akan dibahas dan dianalisis pada artikel ini, karena unsur-unsur tersebut masih sangat begitu lekat dan erat pada kehidupan sosial dan spiritual masyarakat yang ada di Kabupaten Gunungkidul.

Kabupaten Gunungkidul, salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai suatu wilayah yang cukup terpencil karena berbagai faktor, baik itu disebabkan oleh faktor pembangunan yang bisa dikatakan masih belum cukup merata, maupun faktor alamnya. Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu sekitar 1.485,36 kilometer persegi atau sekitar 46,63% dari keseluruhan luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak heran, apabila masih banyak faktor yang belum terpenuhi akibat luasnya wilayah Kabupaten Gunungkidul dibandingkan dengan wilayah kabupaten lain.

(3)

Keberadaan resan atau hutan keramat itu sendiri, pada umumnya dimiliki oleh setiap padhukuhan atau dusun yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Tercatat, terdapat 144 desa dan 1.431 dusun, serta terdapat kurang lebih 18.715,06 hektare luas hutan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Perlu diingat, bahwa tidak semua hutan tersebut merupakan resan. Akan tetapi, masih tetap bisa dipastikan bahwa dengan jumlah dusun yang sekian banyak jumlahnya, tentu luas atau banyaknya resan itu sendiri dapat dikatakan signifikan.

Selain itu, Kabupaten Gunungkidul dikenal sebagai daerah yang memiliki keanekaragaman budaya serta adat tradisi yang masih lestari dan masih dijalankan oleh para masyarakat hingga saat ini. Para masyarakat yang ada di Kabupaten Gunungkidul juga masih sangat memelihara kepercayaan terhadap pepundhen atau para leluhur yang sangat erat kaitannya dengan aspek spiritual. Salah satunya dapat dibuktikan dengan adanya resan dan makam kuno yang dikeramatkan dan disakralkan oleh para masyarakat. Eksistensi resan dan makam kuno itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan sastra lisan yang secara tidak langsung berperan dalam menjaga, melestarikan, serta memelihara keberlangsungannya. Sastra lisan dalam konteks ini mengandung pesan-pesan yang berfungsi untuk memperkuat kepercayaan terhadap kesakralan, keramat, dan wingitnya keberadaan resan dan makam kuno tersebut.

B. LANDASAN TEORI

Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai peran sastra lisan dalam membentuk kearifan lokal, khususnya di Kabupaten Gunungkidul.

Pendekatan ini dipilih karena sifatnya yang mampu mengeksplorasi fenomena budaya

dalam konteks alami dan memberikan ruang untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam tradisi dan praktik masyarakat setempat. Menurut Creswell (2014), pendekatan kualitatif memberikan peluang bagi peneliti untuk memahami pengalaman dan interpretasi individu atau kelompok terhadap suatu fenomena. Dalam hal ini, sastra lisan tidak hanya dipahami sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mencerminkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial masyarakat.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif,, bahwa metode ini bertujuan untuk memberikan gambaran mendalam tentang pandangan, kepercayaan, dan praktik masyarakat.

Metode ini relevan dalam mengungkapkan bagaimana sastra lisan berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan moral dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Selain itu, metode ini juga membantu menjelaskan latar belakang tradisi lisan, serta bagaimana tradisi ini berkontribusi terhadap pembentukan kearifan lokal di Kabupaten Gunungkidul.

Dalam konteks kebudayaan, sastra lisan sering kali dipandang sebagai bagian dari folklor lisan. Menurut Dundes (1965), folklor adalah tradisi budaya yang diwariskan secara lisan, termasuk cerita rakyat, mitos, dan legenda, yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai suatu komunitas. Sastra lisan, sebagai bagian dari folklor, memiliki peran penting dalam melestarikan tradisi dan kepercayaan lokal. Koentjaraningrat (1998) juga menekankan bahwa sastra lisan merupakan salah satu bentuk budaya yang mencakup nilai, norma, dan adat istiadat yang menjadi pedoman hidup masyarakat.

Kabupaten Gunungkidul, sebagai fokus kajian, memiliki keanekaragaman budaya yang unik. Kepercayaan terhadap

(4)

resan atau hutan keramat serta makam kuno yang disakralkan merupakan contoh konkret dari kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat. Clifford Geertz (1973) dalam pendekatan interpretatifnya menegaskan pentingnya memahami simbolisme budaya dalam konteks sosial dan spiritual.

Keberadaan resan dan makam kuno di Gunungkidul tidak hanya sebagai situs fisik, tetapi juga sebagai simbol spiritual yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat.

Sastra lisan, dalam hal ini, menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan dan memperkuat kepercayaan terhadap kesakralan tempat-tempat tersebut.

Selain itu, Barthes (1972) menjelaskan bahwa mitos adalah bentuk komunikasi yang mencakup cerita, ide, dan kepercayaan yang diintegrasikan ke dalam budaya masyarakat. Dalam sastra lisan di Kabupaten Gunungkidul, mitos yang terkait dengan resan dan makam kuno tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga mencerminkan hubungan masyarakat dengan alam, leluhur, dan spiritualitas. Tradisi lisan ini memperkuat norma sosial dan membentuk sikap serta perilaku masyarakat terhadap lingkungan dan kehidupan sosial mereka.

Penelitian ini juga mengacu pada konsep kearifan lokal yang dijelaskan oleh Haryati Soebadio (1998), bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan, nilai, dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat lokal sebagai respon terhadap lingkungan sosial dan alam mereka. Sastra lisan, sebagai salah satu wujud kearifan lokal, memainkan peran dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Hal ini terlihat dalam tradisi lisan yang berisi pantangan, larangan, atau pamali yang berfungsi sebagai pengingat dan pengarah perilaku masyarakat.

Dengan demikian, landasan teori ini menegaskan bahwa sastra lisan bukan sekadar bentuk komunikasi, tetapi juga alat pelestarian budaya yang memiliki dimensi sosial, spiritual, dan ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sastra lisan di Kabupaten Gunungkidul berfungsi dalam membentuk dan melestarikan kearifan lokal, serta bagaimana tradisi ini memengaruhi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat setempat.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Menurut Creswell (2014), pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi fenomena budaya secara mendalam, memahami makna yang diinterpretasikan oleh individu atau kelompok dalam konteks alami. Dalam konteks ini, sastra lisan terkait resan (hutan keramat) dan makam kuno di Kabupaten Gunungkidul tidak hanya dipandang sebagai tradisi lisan semata, tetapi juga sebagai simbol budaya yang kaya akan nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Metode deskriptif kualitatif memberikan ruang untuk menjelaskan hubungan antara sastra lisan dengan pelestarian kearifan lokal masyarakat setempat.

Metode deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami fenomena tertentu dengan mengumpulkan data berupa narasi yang relevan. Dalam penelitian ini, metode tersebut digunakan untuk menganalisis bagaimana sastra lisan berperan sebagai media pelestarian resan dan makam kuno, serta menggambarkan relevansinya

(5)

dengan kehidupan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.

Adapun data-data yang digunakan dalam penulisan artikel ini berasal dari berbagai sumber, antara lain karya ilmiah, artikel, maupun jurnal yang terkait dengan materi yang diangkat pada artikel ini, yaitu eksistensi sastra lisan terhadap keberadaan dan pelestarian resan dan makam kuno. Dari sumber-sumber yang telah ditemukan lantas dikumpulkan dan dianalisis sebagai referensi penulisan artikel, yang disusun dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.

D. PEMBAHASAN

Referensi

Dokumen terkait

1. Masyarakat di Desa Traji masih melakukan tradisi laku spiritual dengan peletakan sesaji di tempat-tempat keramat, dan masyarakat Desa Traji tidak berani meninggalkan

Kesusastraan lisan atau disebut juga sastra tradisi masyarakat Melayu,.. khususnya yang berdomisili di Pesisir Timur-langkat juga dipertuturkan untuk

Tradisi lisan sebagai kekayaan sastra budaya Minangkabau merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang sangat berharga, bukan saja menyimpan nilai-nilai

Sebagai salah satu tradisi lisan masyarakat Batak Toba yang sangat penting untuk dikaji dan dilestarikan, andung (nyanyian ratapan) juga termasuk dalam sastra masyarakat Batak

Menurut (olrik dalam sukatman,2009:13) kepunahan tradisi lisan disebabkan tidak terlalu lama diingat oleh masyarakat dan tidak pernah diperdengarkan lagi .karena sastra lisan

Nilai-nilai Kultural dalam Lirik Lagu ″Banyuwangen″: Kajian Tradisi Lisan; Indri Wahyu Lestari; 2013: 114 halaman; Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra

Dengan demikian, penelitian sastra lisan berarti melakukan penyelamatan sastra lisan dari kepunahan, yang dengan sendirinya merupakan usaha pewaris nilai budaya, karena dalam sastra

Bahan Kajian Keilmuan : - Sastra Lisan - Tradisi Lisan dan Masyarakat Kolektif Melayu - Kebudayaan Melayu CP Mata kuliah CPMK : Mahasiswa mampu menerapkan teori-teori kelisanan untuk