• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran pendapatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran pendapatan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TINGKAT EFISIENSI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH PADA KANTOR DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU PROVINSI SULAWESI SELATAN

Akwiliana Timung1, Abdul Sumarlin2, Rohani3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

This research aims to find out the level of efficiency of budget execution at the One Stop Investment and Integrated Services Office of South Sulawesi Province. This research used qualitative and quantitative methods. The data used were primary and secondary data. Data collection techniques were interviews, observation and documentation. This research used an analysis technique with the expense efficiency ratios. The results of this research indicate that the higher percentage of expense, the lower level of expense efficiency. The employee expense in 2017 was 44.83% which was classified as very efficient, in 2018 was 76.23% which was classified as quite efficient and in 2019 was 92.46% which was classified as less efficient. The expense of goods and services in 2017 was 55.46% which was classified as very efficient, in 2018 was 95.61% was classified as less efficient and in 2019 was 94.99% was classified as less efficient.

Keywords: Regional Expenditure Budget, Expenses Efficiency Ratio.

PENDAHULUAN

Salah satu tujuan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal adalah untuk meningkatkan kemandirian daerah dan dan mengurangi ketergantuangan fiskal terhadap pemerintah pusat. Rencana kerja merupakan dokumen rencana yang memuat program dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pembangunan. Renja juga merupakan dokumen perencanaan untuk periode pelaksanaan selama satu tahun yang memuat kebijakan, program dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Renja perangkat daerah merupakan sebuah dokumen resmi daerah yang diprasyaratkan untuk mengarahkan program dan kegiatan pelayanan perangkat daerah khususnya, dan pembangunan daerah pada umumnya. Perencanaan pembangunan daerah bertujuan untuk mewujudkan pembangunan daerah dalam rangka peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah

Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. Dalam permendagri tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah menegaskan efesiensi adalah hubungan antara masukan dan keluaran. Efisiensi merupakan ukuran apakah kegunaan barang dan jasa yang dibeli dan digunakan oleh organisasi perangkat pemerintah untuk mencapai tujuan organisasi pemerintah mencapai manfaat tertentu.

Dari latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah Apakah penyusunan pelaksanaan anggaran dapat mempengaruhi tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran pendapatan belanja daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan?

Adapun tujuan Penelitian sesuai dengan rumusan masalah diatas yaitu untuk mengetahui tingkat efisiensi pelaksanaan anggaran Pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: (i) Secara praktis, dapat menjadi

(2)

bahan masukkan dalam proses penyusunan dan pelaksanaan anggaran bagi instansi yang bersangkutan. (ii) Secara teoritis, Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi semua pihak, baik dibidang keilmuannya maupun pihak lain sesuai dengan penelitian ini.

TINJAUAN LITERATUR

Menurut Kariyoto (2017) Analisisis laporan keuangan adalah suatu proses yang dengan penuh pertimbangan dalam rangka untuk membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil aktivitas instansi pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan perkiraan dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi performance instansi pada masa yang akan datang. Definisi Akuntansi Sektor Publik, menurut Mulyani et al. (2018) akuntansi sektor publik adalah sistem akuntansi yang dipakai oleh lembaga-lembaga publik sebagai salah satu alat pertanggungjawaban

Menurut Siregar (2015) Anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode. Menurut Herlianto (2015), mengatakan bahwa anggaran harus dapat menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran, hasil, dan manfaat yang diperoleh dari suatu kegiatan.

Menurut Amin (2019) Langkah awal pelaksanaan APBD yaitu penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja (DPA) SKPD adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD sebagai penggunaan anggaran. Rancangan DPA berisi sasaran yang hendak dicapai, program dan kegiatan anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, rencana penarikan dana tiap- tiap SKPD, serta pendapatan yang diperkirakan. Menurut Ramli dan Ambardi (2015), pengisian dokumen anggaran berorientasi input bukan outcome, untuk sampel didaerah, kita dapat melihat bahwa dalam pengisian formulasi dokumen-dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) sangat sedikit unit kerja yang memperhatikan pengisian indikator kualitatif anggaran.

Menurut Putra (2018) APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua pendapatan dan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu.

Pemungutan semua penerimaan daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah maka APBD juga menjadi dasar bagian kegiatan pengendalian, pemeriksaan, dan pengawasan keuangan daerah.

Menurut Manopo & Walandouw, (2019) Anggaran daerah merupakan rencana keuangan yang menjadi dasar dalam pelaksanaan pelayanan publik. Di Indonesia, dokumen anggaran daerah disebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik untuk Provinsi maupun Kabupaten atau Kota.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakekatnya merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat disuatu daerah.

Didalam APBD tercermin kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan pontensi dan sumber-sumber kekayaan daerah (UU RI No 15 Tahun 2013). Kebijakan umum APBD merupakan arah pembangunan daerah dalam satu tahun anggaran yang disepakati dan dijadikan pedoman penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara serta rancangan APBD (Gudban Y, 2017).

Menurut Ratmono & Sholihin , (2017) Akuntansi keuangan daerah didefenisikan sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi keuangan dari entitas pemda dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi yang diperlukan pihan eksternal.

Penggunaan laporan keuangan daerah yaitu masyarakat, para wakil rakyat (DPRD), lembaga pemeriksa, pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya. Pengelolaan Keuangan Daerah, Menurut Ratmono dan Sholihin (2015), dalam permendagri Nomor 13 tahun 2006 disebutkan bahwa definisi keuangan daerah dalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelengaraan pemerintah daerah yang dapat

(3)

dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Pengelolaan keuangan daerah adalah seluruh kegiatan yang yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggung jawaban, dan pengawasan keuangan daerah.

Prinsip-prinsip Pengelolaan Keuangan Daerah adalah Transparansi (Transparency) Menurut Sochib (2016), prinsip dasar, untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Karianga (2017) Efisiensi merupakan perbandingan antara input dan output yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang yang telah ditetapkan.

Penyalah gunaan keuangan Negara pada banyak hal dilakukan dengan pelanggaran asas efisiensi. Praktrik pemerintah yang demikian harus dihentikan jika tidak dapat mengancam akuntabilitas pengelolaan keuangaan Negara pada titik nadir yang sangata membahayakan.

Menurut Koton (2019) Efektifitas pelaksanaan otonomi daerah adalah tingkat pencapaian tujuan otonomi daerah, sebagai hasil pelaksanaan atau perwujudan hak dan wewenang daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah secara produktif, berkualitas, efisien, fleksibel, memuaskan, unggul dan berkembang.

Defenisi Partisipatif, menurut Hajar (2018) Partisipatif adalah keterlibatan aktif dari sesorang atau sekelompok orang (masyarakat) secara sadar untuk berkontribusi secara sukarela dalam program pembangunan dan terlibat mulai dari perencanaa, pelaksanaan

,

monitoring sampai pada tahap evaluasi.

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah bahwa penyusunan pelaksanaan anggaran mempengaruhi tingkat efisiensi anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) pada Penanaman Modal Dan

Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif yaitu mendeskripsikan data keuangan berupa laporan realisasi anggaran pada DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan dan menjelaskan data keuangan tersebut dengan kalimat penjelasan secara kualitatif.

Penelitian ini dilakukan di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di jalan Bougenville No.5 Makassar. Penelitian in berkisar selama dua (2) bulan.

Jenis data adalah (i) Data kualitatif yaitu data yang diperoleh secara langsung dari instansi dalam bentuk informasi baik secara tertulis maupun lisan

(

ii) Data kuantitatif yaitu data data yang berbentuk angka atau bilangan sesuatu dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah dan dianalisis.

Sumber data adalah (i) Data primer data yang langsung dari sumber asli atau sumber pertama melalui pengamatan dan Wawancara. (ii) data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau dari dokumen- dokumen seperti laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja, dengan melihat tingkat efisiensi penggunaan APBD.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (i) Wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan pegawai bagian keuangan DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan mengenai prosedur penyusunan APBD pada Kantor DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan. (ii) Obsevasi atau pengamatan langsung pada Kantor Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan. (iii) Dokumentasi, yaitu merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dan mempelajari dokumem-dokumen yaitu laporan realisasi anggaran DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Jadi yang variabel bebas dalam penelitian ini adalah penyusunan APBD dan variabel terikatnya adalah tingkat efisiensi pelaksanaan APBD

(4)

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran efisiensi anggaran belanja daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal Dan Pelayan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan Rasio Efisiensi Belanja.

Tabel 1. Perbandingan Anggaran Dan Realisasi Tahun 2017

Jenis belan ja

Anggaran belanja

(Rp)

Realisasi belanja

(Rp)

% capa

ian Krit eria Bela

nja

470.942.5 23.000

438.035.2 83.108

93,0 1

Kur ang efisi en Bela

nja tidak langs ung

138.068.2 70.000

199.973.8 49.249

44,8 3

San gat efisi en Bela

nja pega wai

138.068.2 70.000

119.973.8 49.249

44,8 3

San gat efisi en Bela

nja langs ung

332.874.2 53.000

318.061.4 33.931

98,5 0

Kur ang efisi en Bela

nja baran g dan jasa

314.788.2 00.000

300.769.1 58.567

55,4 6

San gat efisi en Bela

nja moda l

18.086.05 3.000

17.292.27 5.364

95,6 1

Kur ang efisi en Sumber: data diolah (2020).

Berdasarkan tabel 1 diatas, menunjukan bahwa capaian belanja pada tahun 2017 belum efisien. Bila dilihat dari belanja tidak langsung persentase capaian sebesar 44,83% tergolong sangat efisien dan belanja langsung sebesar 98,50% tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan. Pada belanja pegawai persentase capaian belanja sudah menunjukan sangat efisien dengan persentase capaian sebesar 44,83%, dan pada belanja langsung dimana pada belanja barang dan jasa capaian belanja sudah sangat efisien dengan persentase sebesar

55,46%, sedangkan pada belanja modal tingkat capaian belanja mengalami peningkatan sebesar 95,61% jika dilihat pada kriteria kinerja keuangan ini menujukan bahwa persentase capaian belanja tergolong kurang efisien. Jadi total keseluruhan capaian belanja pada Kantor Dinas Penanaman Modal Dan PelayananTerpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan bila dilihat dari kriteria kinerja keuangan tergolong kurang efisien dengan persentase capaian belanja sebesar 93,01%.

Tabel 2. Perbandingan Anggaran Dan Realisasi Tahun 2018

Jenis belan ja

Angggar an belanja (Rp)

Reali sasi Angg aran

% Capa ian

Kriteria

Bela nja

548.229.

84 0.000

480.

686.

62 4.85 9

87,6 7

Cukup efisien

Bela nja tidak langs ung

163.195.

2 24.000

124.

417.

9 49.2 41

76,2 3

Cukup efisien

Bela nja pega wai

163.195.

2 24.000

124.

417.

9 49.2 41

76,2 3

Cukup efisien

Bela nja langs ung

412.034.

6 16.000

356.

268.

6 75.6 18

86,4 6

Cukup efisien

Bela nja baran g dan jasa

390.402.

1 26.000

336.

423.

2 67.2 40

86,1 7

Cukup efisien

Bela nja moda l

21.632.4 90.000

19.8 45.4 08.3 78

91,7 3

Kurang efisien

Sumber: data diolah (2020).

Berdasarkan tabel 2 diatas, menujukan bahwa pada tahun 2018 tingkat efisiensi belanja tergolong cukup efisien. Dilihat pada belanja tidak langsung dengan persentase

(5)

capaian sebesar 76,23% yang tergolong cukup efisien dan belanja langsung persentase capaian sebesar 86,46% tergolong cukup efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan. Pada belanja pegawai yang sudah tergolong cukup efisien dengan persentase capaian sebesar 76,23% dan pada belanja langsung yang terdiri dari belanja barang dan jasa persentase capaian belanja sebesar 86,17% sudah tergolong cukup efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan dan pada belanja modal persentase capaian belanja sebesar 91,73% yang tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan. Jadi total keseluruhan belanja pada Kantor Dinas Penanaman Modal Dan Pelayan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 sudah tergolong cukup efisien sesuai dengan kriteria kinerja keuangan dengan persentase capaian sebesar 87,67%

dibandingkan dari tahun sebelumnya yang kurang efisien.

Tabel 3. Perbandingan Anggaran Dan Realisasi Tahun 2019

Jenis bela

nja

Anggaran Belanja

Realisasi Belanja

% cap aian

Krit eria Bela

nja

640.600.1 56.000

597.118.1 42.460

93,2 1

Kur ang efisi en Bela

nja tidak langs ung

142.611.7 78.000

131.854.9 48.448

92,4 6

Kur ang efisi en Bela

nja pega wai

142.611.7 78.000

131.854.9 48.448

92,4 6

Kur ang efisi en Bela

nja langs ung

718.628.3 78.000

465.263.1 94.012

64,7 4

Efis ien

Bela nja bara ng dan jasa

430.402.8 05.000

401.061.8 35.511

93,1 7

Kur ang efisi en

Bela nja mod

67.585.57 3.000

64.201.35 8.501

94,9 9

Kur ang efisi

al en

Sumber: data diolah (2020).

Dari tabel 3 diatas, menunjukan bahwa tingkat efisiensi belanja pada tahun 2019 tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria kinerja keuangan. Dimana pada belanja tidak langsung persentase capaian sebesar 92,46%

yang tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan dan pada belanja langsung persentase capaian sebesar 64,74% tergolong efisien. Adapun belanja pegawai dengan persentase capaian belanja sebesar 92,46% tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan dan pada belanja langsung yang terdiri dari belanja barang dan jasa dengan persentase capaian belanja sebesar 93,18%

tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria kinerja keuangan, dan belanja modal dengan persentase capaian belanja sebesar 94,99%

tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan. Jadi untuk keseluruhan total belanja pada Kantor Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisiensi kinerja keuangan dengan persentase capaian sebesar 93,21%.

Dari tabel perbandingan anggaran dan realisasi periode 2017-2019 diatas, maka dapat disimpulkan kinerja efisiensi belanja pada periode 2017-2019 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. Kinerja Efisiensi Belanja Periode 2017-2019 Pada DPMPTSP

N o

Keterangan 2017 2018 2019 1

.

Belanja Pegawai

44,83%

(sangat efisien)

76,23

% (cukup efisien )

92,46

% (kuran g efisien ) 2

.

Belanja barang dan jasa

55,46%

(sangat efisien)

86,17

% (cukup efisien )

93,17

% (kuran g efisien ) 3

.

Belanja modal

95,61%

(kurang

91,73

%

94,99

%

(6)

efisien) (kuran g efisien )

(kuran g efisien ) Sumber: data diolah (2020).

Dari tabel 4, menunjukan bahwa semakin tinggi persentase capaian belanja maka tingkat efisiensi belanjanya semakin rendah. Belanja pegawai pada tahun 2017 dengan persentase capaian belanja sebesar 44,83% yang tergolong sangat efisien. Pada tahun 2018 sebesar 76,23% yang tergolong cukup efisien dan pada tahun 2019 persentase capaian belanjanya sebesar 92,46% tergolong kurang efisien. Pada Belanja Barang dan Jasa dimana pada tahun 2017 persentase capaian belanja sebesar 55,46% yang tergolong sangat efisien. Tahun 2018 sebesar 86,17% tergolong cukup efisien dan tahun 2019 persentase capaian belanja sebesar 93,17% yang tergolong kurang efisien. Belanja Modal pada tahun 2017 persentase capaian belanja sebesar 95,61% yang tergolong kurang efisien sedangkan pada tahun 2018 sebesar 91,73%

yang tergolong kurang efisien dan pada tahun 2019 sebesar 94,99% yang tergolong kurang efisien. Jadi untuk keseluruhan setiap belanja dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi.

PENUTUP

Pelaksanaan Anggaran Belanja pada Kantor DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2017 dan tahun 2019 keseluruhan persentase capaian belanja tergolong kurang efisien sesuai dengan kriteria efisien kinerja keuangan berdasarkan Kemendagri No 690.900.327 Tahun 1996 dimana pada tahun 2017 capai belanjanya sebesar 93,01% dan pada tahun 2019 sebesar 91,21%, sedangkan pada tahun 2018 keseluruhan capaian belanja tergolong cukup efisien dengan persentase capaian sebesar 87,67%.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan saran yang dapat diberikan adalah sebaiknya Kantor Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan harus selalu memperhatikan tingkat efisien kinerja keuangan yang akan di realisasikan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.

Karena jika kita melihat kinerja keuangan

selama tiga tahun terakhir masih belum stabil dan tergolong kurang efisien

.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, F. (2019). Penganggaran Pemerintah Daerah. Cetakan Pertama. Malang: UB PRESS.

Gudban, Y. (2017). Konsep Penyusunan Anggaran Publik Daerah. Malang:

Intrans Publishing.

Herlianto, D. (2015). Penganggaran Keuangan. Cetakan pertama. Yogyakarta:

Gosyen Publishing.

Hajar, S., Tanjung S., Tanjung E, & Zulfahmi.

(2018). Partisipasi Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Pesisir .(2018).

Medan: LEMBAGA PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH AQLI.

Karianga H. (2017). Efisiensi. CARUT- MARUT Pengelolaan Keuangan Daerah Di Era Otonomi Daerah Perspetif Hukum dan Politik. Edisi pertama.

Cimanggis,Depok: KENCANA.

Kariyoto. (2017). Analisa Laporan Keuangan.

Cetakan pertama. Malang : UB Press Koton, Y. P. (2019). Restrukturisasi

Organisasi Teori dan Aplikasi dalam Mengefektifkan pengelolaan keuangan daerah. Yogjakarta : DEEPUBLISH.

Manoppo S,. & Walandouw, K. (2019).

Analisis Penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA-SKPD) Pada Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah. Jurnal EMBA. ISSN 2303- 1174.

Mulyani, S. (2018). Sistem Informasi Akuntansi Aplikasi Disektor Publik.

Cetakan pertama. Bandung : Unpad Press

.

Putra, W. (2018). Tata Kelola Ekonomi Keuangan Daerah. Cetakan Pertama.

Depok : PT RAJAGRAFINDO PERSADA.

Ramli, S & Ambadri M. I. (2015). Menyusun Perencanaan Pengadaan Barang Atau Jasa Pemerintah. Cetakan Pertama.

Jakarta: PT. Visi Media Pustaka.

Ratmono, D., Sholihin M.(2017). Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi Kedua.

Jogyakatra: UPP STIM YKPN

.

Ratmono, D., Sholihin M., (2015). Akuntansi Keuangan Berbasis

Akrual. Edisi pertama. Jogyakarta: UPP STIM YKPN.

(7)

Siregar, B. (2015). Akuntansi Sektor Publik.

Edisi Pertama: UPP.STIM YKPN.

Sochib. (2016). Transparansi. Good Corporate Goverance Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Edisi pertama. Yogyakarta:

DEEPUBLISH

Referensi

Dokumen terkait

35 FUEL SAVING STRATEGY IN SPARK IGNITION ENGINE USING FUZZY LOGIC ENGINE TORQUE CONTROL Aris Triwiyatno* and Sumardi Department of Electrical Engineering, Diponegoro University,