• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis rasio keuangan pada kantor dinas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis rasio keuangan pada kantor dinas"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RASIO KEUANGAN PADA KANTOR DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU

SATU PINTU PROVINSI SULAWESI SELATAN

Maria Roldiana Merlin 1, Andi Zainal Abidin 2, Muh. Fuad Randy 3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

This research aims to analyze the financial performance of Investment and One Stop Services Office in South Sulawesi Province by using Regional Financial Ratio analysis consisting of the Ratio of Independence, the Ratio of Efficiency and the Ratio of Conformity. This research used secondary data. Data collection techniques used documentation. The analysis used a quantitative descriptive approach. The results showed that: (1) financial performance based on the independence ratio from 2017-2019 was very low, (2) financial performance based on efficiency ratios from 2017-2019 was classified as inefficient, (3) financial performance based on the compatibility ratio from 2017 -2019 was not good enough.

Keywords: Independence, Efficiency, and Harmony.

PENDAHULUAN

Lembaga pemerintahan merupakan organisasi yang diberi kekuasaan untuk mengatur kepentingan Bangsa dan Negara.

Lembaga pemerintahan dibentuk umumnya untuk menjalankan aktivitas layanan terhadap masyarakat luas. Sebagai Instansi pemerintah yang memberikan pelayanan bagi masyarakat, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan harus dapat mengatur pengelolaan keuangannya dan menggunakan hasil dari pengelolaan tersebut untuk memaksimalkan potensi yang ada untuk meningkatkan pembangunan daerah.

Undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan daerah menegaskan atas pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah, kepada daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggung jawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah kepada DPRD berupa laporan keuangan yang terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan dipilih sebagai objek karena

merupakan unsur pendukung tugas gubernur yang mempunyai tugas menyelenggarakannya.

Lembaga pemerintahan merupakan organisasi yang diberi kekuasaan untuk mengatur kepentingan Bangsa dan Negara.

Lembaga pemerintahan dibentuk umumnya untuk menjalankan aktivitas layanan terhadap masyarakat luas. Sebagai Instansi pemerintah yang memberikan pelayanan bagi masyarakat, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan harus dapat mengatur pengelolaan keuangannya dan menggunakan hasil dari pengelolaan tersebut untuk memaksimalkan potensi yang ada untuk meningkatkan pembangunan daerah.

Undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan daerah menegaskan atas pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah, kepada daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggung jawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah kepada DPRD berupa laporan keuangan yang terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan dipilih sebagai objek karena merupakan unsur pendukung tugas gubernur

(2)

yang mempunyai tugas menyelenggarakan segala usaha dan kegiatan yang berhubungan dengan penanaman modal dan perizinan, serta berdasarkan misi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk mewujudkan pelayanan publik, cepat, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Ciri utama suatu daerah yang mampu melaksanakan otonomi yaitu: kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelolah dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya, dan ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.

Kinerja keuangan merupakan hasil dari evaluasi terhadap pekerjaan yang telah selesai dilakukan, hasil pekerjaan dibandingkan dengan kinerja keuangan yang telah ditetapkan bersama (Sujarweni, 2017). Analisis kinerja keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan adalah suatu proses penilaian tingkat kemajuan pencapaian pelaksanaan pekerjaan/kegiatan dalam bidang keuangan untuk kurun waktu tertentu.

Pengukuran kinerja keuangan untuk kepentingan publik dapat dijadikan evaluasi dan memulihkan kinerja dengan pembanding skema kerja dan pelaksanaanya. Mengukur kinerja atau kemampuan keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilakukan dengan melihat kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi otonomi daerah khususnya di bidang keuangan, dapat diukur dari seberapa jauh kemampuan pembiayaan urusan bila didanai sepenuhnya oleh PAD dan bagi hasil.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Rasio Keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayananan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan masalahnya, sebagai berikut. (i)

Apakah Kinerja Keuangan pada

Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan tidak efisien?”

Berdasarkan latar belakang dan pokok permasalahan diatas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut: (i) untuk menganalisis kinerja keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

TINJAUAN LITERATUR

Menurut Amin (2019) Manajemen keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.

Fungsi-fungsi manajemen keuangan secara umum adalah sebagai berikut: (i) Perencanaan, mulai dari arus kas sampai dengan laba rugi perusahaan. (ii) Penganggaran, mulai dari perencanaan samapi dengan pengalokasian supaya efisiensi dan efektivitas anggaran biaya tercapai. (iii) Pengawasan, ditujukan untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan.

Menurut Fitrah (2019) Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi sehingga harus memiliki karakteristik kualitas yang baik. Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran- ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Laporan keuangan merupakan salah satu wujud pertanggung jawaban pemerintah atas penggunaan keuangan daerah dalam kerangka pelaksanaan otonomi daerah dan penyelenggaraan operasional pemerintahan, hal tersebut menjadi tolak ukur kinerja pemerintahan untuk dipertanggungja wabkan pada setiap akhir tahun anggaran. Menurut Wijaya (2017), laporan keuangan merupakan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan kepada pihak penggunanya.

Bagian akhir laporan tahunan perusahaan ialah catatan atas laporan keuangan yang memuat catatan dan informasi tambahan untuk melengkapi informasi yang ada dalam laporan keuangan.

Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah antara lain: (i) Pengaturan pada aspek perencanaan diarahkan agar seluruh proses

(3)

penyusunan APBD semaksimal mungkin dapat menunjukkan latar belakang pengambilan dalam penetapan arah kebijakan umum, skala prioritas dan penetapan alokasi serta distribusi sumber daya dengan melibatkan partisipasi masyarakat. (ii) Pelaksanaan dan penatausahaan keuangan daerah Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan penyelenggara pemerintah daerah adalah juga pemegangkek uasaan dalam pengelolaan keuangan daerah. (iii) Pertanggung jawaban keuangan daerah Pengaturan bidang pelaporan dilakukan dalam rangka untuk menguatkan pilara kuntabilitas.

Komponen Laporan Keuangan Daerah Laporan keuangan pokok terdiri dari, (i). LRA menyajikan sumber, alokasi, pusat/daerah, yang menggambarkan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode laporan. (ii).

Laporan perubahan saldo anggaran lebih menyajikan informasi kenaikan atau penurunan saldo lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (iii).

Neraca merupakan laporan keuangan yang menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan asset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.

Tujuan Laporan Keuangan Daerah (i) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. (ii) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang- undangan. (iii) Menyediakan informasi mengenai bagaimana pemerintah daerah mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. (iv) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan oleh pemerintah daerah serta hasil-hasil yang telah dicapai.

Menurut Fahmi (2017) Rasio keuangan dan kinerja keuangan mempunyai hubungan yang erat. Rasio keuangan ada banyak jumlahnya dan setiap rasio itu mempunyai kegunaannya masing-masing. Bagi Investor ia akan melihat rasio dengan penggunaan yang paling sesuai dengan analisis yang akan ia lakukan. Jika rasio keuangan tersebut tidak mempresentasikan tujuan dari analisis yang akan ia lakukan maka rasio tersebut tidak akan dipergunakan, karena dalam konsep keuangan dikenal dengan namanya fleksibelitas, artinya rumus berbagai bentuk formula yang

dipergunakan haruslah disesuaikan dengan kasus yang diteliti.

Menurut Sujarweni (2017) Kinerja keuangan merupakan hasil dari evaluasi terhadap pekerjaan yang telah selesai dilakukan, hasil pekerjaan tersebut dibandingkan dengan kinerja keuangan yang telah ditetapkan bersama. Pengukuran kinerja keuangan dapat dilakukan menggunakan laporan keuangan sebagai dasar untuk melakukan pengukuran kinerja.

Menurut Yuningsih (2018) Ukuran kinerja keuangan diukur secara kuantitatif yaitu dengan cara mengestimasi arus kas di masa yang akan datang. Menurut Sudaryo et al (2017), kinerja merupakan pencapaian atas apa yang direncanakan, baik oleh pribadi maupun organisasi. Kinerja keuangan adalah suatu ukuran kinerja keuangan yang menggunakan indikator keuangan.

Menurut Fuad (2016) Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal.

Kinerja keuangan pemerintah daerah dalam melakukan belanja pembangunan dikategorikan sangat baik apabila nilai rasio yang dicapai di atas 100%. Semakin besar nilai rasio keserasian yang diperoleh berarti kinerja keuangan pemerintah daerah semakin baik.

Pengukuran kinerja pemerintah daerah harus mencakup pengukuran kinerja keuangan.

Hal ini terkait dengan tujuan organisasi pemerintah daerah. Indikator kinerja keuangan pemerintah daerah meliputi: (i) Indikator masukan, adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran.(ii) Indikator proses adalah merumuskan ukuran kegiatan baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut. (iii). Indikator keluaran adalah sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik atau nonfisi. (iv). Indikator dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif.

Adapun manfaat kinerja adalah sebagai berikut: (i) Untuk mengukur prestasi yang telah diperoleh suatu organisasi secara keseluruhan dalam suatu periode tertentu, pengukuran ini mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatannya. (ii) Untuk menilai pencapaian per departemen

(4)

dalam memberikan kontribusi bagi perusahaan secara keseluruhan. (iii). Sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa yang akan datang. (iv). Untuk memberikan petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.

Analisis kinerja keuangan pada dasarnya dilakukan untuk menilai kinerja di masa lalu dengan melakukan berbagai analisis sehingga diperoleh posisi keuangan yang mewakili realitas entitas dan potensi-potensi kinerja yang aka berlanjut (Sudaryo et al., 2017).

Salah satu alat untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah daerah adalah dengan melaksanakan analisis rasio terhadap APBD yang telah ditetapkan dan dilaksanakannya.

Penggunaan analisis rasio keuangan pada sektor publik, khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan sehingga secara teori belum ada kesepakatan secara bulat mengenai nama dan kaidah pengukurannya. Meskipun demikian, dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur, demokratis, efektif, efisien, dan akuntabel, analisis rasio terhadap APBD perlu dilkasanakan meskipun kaidah pengakuntansian dalam APBD berbeda dengan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan swasta.

Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelunmya sehingga dapat diketahui bagaimana kecendrungan yang terjadi.

Menurut Mahmudi (2016) Analisis rasio keuangan merupakan perbandingan antara dua angka yang datanya diambil dari elemen laporan keuangan.

Komponen-komponen rasio itu sendiri adalah sebagai berikut.

i. Rasio kemandirian keuangan daerah atau ekonomi fiskal menunjukkan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat.

ii. Rasio efisien adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang di keluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.

iii Rasio keserasian, ini

menggambarkanbagaimana pemerintah da erah memprioritaskn alokasi dananya

pasa belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal.

Kegunaan Analisis Rasio pada Sektor Publik (APBD) antara lain. (i) Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah.

(ii). Mengukur efisiensi dalam merealisasikan pendapatan daerahva. (iii). Mengukur sejauh mana aktivitas pemerintah daerah dalam menjalankan pendapatan daerahnya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

Adapun data yang akan diolah adalah data keuangan. Penelitian ini menggunakan jenis data sekunder dengan teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif.

Penelitian ini dilakukan di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jl. Bouginville No.5 Makassar dan waktu penelitian ini berkisar minimal 2 (dua) bulan, dari Bulan Oktober hingga Bulan Desember.

Dalam penelitian ini diperlukan sejumlah data yang relevan dengan masalah penelitian yaitu: (i). Data kualitatif yaitu data yang bukan dalam bentuk angka yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. (ii) Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung yang berupa laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data melalui dokumen yang ada kaitannya dengan penelitian ini khususnya mengenai kinerja keuangan.

(5)

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal terserbut kemudian ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan judul penelitian, yakni Analisis Kinerja Keuangan Pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan variabel tunggal yaitu Kinerja Keuangan.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu melakukan perhitungan- perhitungan terhadap data keuangan yang diperoleh untuk memecahkan masalah yang ada sesuai dengan tujuan penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Rasio Kemandirian keuangan daerah atau ekonomi fiskal menunjukkan kemampuan keuangan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Rasio kemandirian diukur dengan rumus:

RKKD = RKKD (2017)

= 0,168%

RKKD (2018) =

= 0,175%

= 0,131%

RKKD (2019) =

= 0,131%

Tabel 1. Hasil Perhtungan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Tahu

n

Pendap atan (Rp)

Total Belanja Daerah

(Rp)

RKK D (%)

Kemam puan Daerah 2017 736.54

0.073

438.035.2 83.180

0,168

%

Rendah sekali 2018 834.03

3.288

480.686.6 24.859

0,175

%

Rendah sekali 2019 783.64

9.371

597.118.1 42.460

0,131

%

Rendah sekali

Sumber: data primer diolah (2021).

Dari tabel 1. menunjukkan bahwa kemampuan keuangan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan tergolong rendah sekali dan pola hubugannya termasuk pola hubungan instruktif dimana perananan pemerintah pusat lebih dominan dari pada kemandirian pemerintah daerah. Nilai terendah terjadi pada tahun 2019 dengan nilai sebesar 0,131% dan tahun 2017 dengan nilai sebesar 0,168% dan nilai tertinggi terjadi pada tahun 2018 dengan nilai sebesar 0,175%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan masih sangat rendah. Berdasarkan hasil perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan tergolong rendah sekali dan pola hubungannya termasuk pola hubungan instruktif. Terjadi kenaikan maupun penurunan dari tahun 2017 sampai tahun 2019, dimana pada tahun 2017 Rasio Kemandirian sebesar 0,168%, kemudian Rasio Kemandirian pada tahun 2018 naik sebesar 0,175% , dan pada tahun 2019 Rasio Kemandirian mengalami penurunan sebesar 0,131%. Jika dilihat dari tahun ke tahun pola kemandirian keuangannya masih tergolong dalam interval 0% - 25%. Rasio Kemandirian yang masih sangat rendah menggambarkan Kinerja Keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan Sangat Kurang.

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Rasio efisiensi dapat dihitung dengan rumus:

Rasio Efisiensi =

Rasio efisiensi (2017) =

= 177%

Rasio efisiensi (2018) =

= 337%

(6)

Rasio efisiensi (2019) =

= 1,161%

Tabel 2. Hasil Perhitungan Rasio Efesiensi Keuangan Daerah

Tahu n

Total Belanja Daerah (Rp)

Realisa si Pendap

atan (Rp)

REKD (100%)

Kriteri a efisien

si

2017 438.035.

283.180

2.469.

413.00 2

177% Tidak efisien 2018 480.686.

624.859

1.423.

939.26 4

337% Tidak efisien 2019 597.118.

142.160

514.19 3.544

1,161% Tidak efisien Sumber: data primer diolah (2021).

Dari tabel 2. dapat diketahui bahwa tingkat efisiensi keuangan daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesil Selatan pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 tergolong tidak efisien karena nilai rasionya di atas 100%. Total belanjanya melebihi total pendapatan daerah. Pada tahun 2017 nilai efisiensinya sebesar 177% dan pada tahun 2018 nilai efisiensinya sebesar 337% serta pada tahun 2019 nilai efisiensinya sebesar 1,161%. Hal ini diakibatkan terjadinya selisih yang cukup besar antara pendapatan dan belanja.

Berdasarkan perhitungan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah dapat diketahui bahwa tingkat efisiensi keuangan daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan tergolong Tidak Efisien karena nilai rasionya sudah di atas 100%.

Dimana pada tahun 2017 nilai Rasio Efisiensi sebesar 177%, pada tahun 2018 nilai Rasio Efisiensi sebesar 337%, serta pada tahun 2019 nilai Rasio Efisiensi sebesar 1,161%. Dari tabel 4.2. tersebut kriteria efisiensi keuangan daerah daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan tergolong tidak efisien karena nilai rasionya sudah di atas 100%. Hal itu terjadi karena realisasi

pendapatannya lebih kecil dari pada total belanja daerah. Dari perhitungan Rasio Efisiensi Keuangan Daerah tersebut dapat diketahui bahwa Kinerja Keuangan Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dapat dikategorisasikan tidak efisien karena belum dapat menekan jumlah belanja daerahnya.

Rasio keserasian menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja modal secara optimal. Rasio belanja modal merupakan perbandingan antara total belanja daerah dengan realisasi belanja modal. Rasio belanja modal dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Perhitungan Rasio Keserasian

Tahun Total Belanja Daerah (Rp)

Realisa si Belanja

Modal (Rp)

Rasio Belanj

a Modal

(%)

Tingkat Keseras

ian

2017 438.035.

283.180

17.297.

275.364

25,32 Kurang baik 2018 480.686.

624.859

19.845.

408.378

24,22 Kurang baik 2019 597.118.

142.460

64.201.

358.501

9,30 Kurang baik Sumber: data primer diolah (2021).

Dari tabel 3. dapat diketahui bahwa keserasian keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 tergolong kurang baik karena nilai rasio belanja modalnya mengalami penurunan. Dimana pada tahun 2017 nilai rasionya sebesar 25,32% dan pada tahun 2018 nilai rasionya sebesar 24,22% serta pada tahun 2019 nilai rasionya sebesar 9,30%.

Berdasarkan perhitungan Rasio Belanja Modal pada Kantor Dinas Penanaman

(7)

Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 dikategorikan kurang baik. Dimana pada tahun 2017 nilai Rasio Belanja Modal sebesar 25,32%, dan pada tahun 2018 nilai rasio belanja modal sebesar 24,22%, serta pada tahun 2019 nilai rasio belanja modal sebesar 9,30%. Dari perhitungan Rasio Belanja Modal tersebut dapat diketahui bahwa Kinerja Keuangan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan dikategorikan kurang baik.

Analisis Kinerja Keuangan Daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dalam penelitian ini adalah suatu proses penilaian mengenai tingkat kemajuan pencapaian pelaksanaan pekerjaan/kegiatan dalam bidang keuangan untuk kurun waktu 2017-2019. Rasio yang digunakan oleh peneliti dalam menganalisis kinerja keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan adalah:

Rasio Keuangan Daerah yang terdiri dari:

Rasio Kemandirian, Rasio Efisiensi, dan Rasio Keserasian. Data yang digunakan dalam melakukan penelitan ini adalah Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Operasional pada kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan. Dari data tersebut dapat diketahui Kinerja Keuangan Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan.

i. Berdasarkan perhitungan pada Rasio Kemandirian Keuangan Daerah diketahui jika Pendapatan Asli Daerah Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan dan penurunan.

Sedangkan total belanja dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan. Pada tahun 2017 PAD sebesar Rp 736.540.073, pada tahun 2018 PAD meningkat sebesar Rp 834.033.288, dan pada tahun 2019 PAD menurun sebesar Rp 783.649.371. Sedangkan total belanja pada tahun 2017 sebesar Rp 438.035.283.180, pada tahun 2018 meningkat sebesar Rp 480.686.624.859, serta pada tahun 2019 total belanja daerah meningkat sebesar Rp 597.118.142.460.

ii. Berdasarkan perhitungan pada Rasio Efisiensi Keuangan Daerah diketahui realisasi pendapatan daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 rata-rata mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 pendapatan daerah dpmptsp sebesar Rp 2.469.413.002, pada tahun 2018 pendapatan daerah menurun sebesar Rp 1.423.939.264, serta pada tahun 2019 pendapatan daerah menurun kembali sebesar Rp 514.193.544.

Sedangkan total belanja daerah dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Berawal dari tahun 2017 total belanja daerah sebesa Rp 438.035.283.180, dan pada tahun 2018 total belanja daerah naik sebesar Rp 480.686.624.859,vserta pada tahun 2019 total belanja daerah naik kembali sebesar Rp 597.118.142.160.

iii. Berdasarkan pada tabel 3. dapat diketahui bahwa Total Belanja Daerah pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Suawesi Selatan dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan.

Berawal dari tahun 2017 total belanja daerah sebesar Rp 438.035.283.180, pada tahun 2018 mengalami kenaikan sebesar Rp 480.686.624.859, serta pada tahun 2019 total belanja daerah naik kembali sebesar Rp 597.118.142.460. Total realisasi belanja modal dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 juga mengalami kenaikan. Berawal dari tahun 2017 realisasi belanja modal sebesar Rp 17.297.275.364, dan pada tahun 2018 realisasi belanja modal meningkat sebesar Rp19.845.408.378, serta pada tahun 2019 kembali meningkat sebesar Rp 64.201.358.501.

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis yang dikemukakan dalam penelitian ini maka dapat disimpulakn sebagai berikut:

i. Kinerja Keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 tergolong rendah sekali dan dalam kategori pola hubungan Instruktif.

(8)

ii. Kinerja Keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan jika dilihat dari Rasio Efisiensi Keuangan Daerah diketahui bahwa dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 dikategorikan tidak efisien.

iii. Kinerja keuangan pada Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan jika dilihat dari Rasio Keserasian dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 dikategorikan kurang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., A. (2020). Analisis Kinerja Keuangan Pada PT. Taspen (Persero) Kantor Cabang Utama Kota Makassar.

STIE YPUP MAKASSAR.

Afiah, N., Mulyani, S., & Alfian, A. (2020).

Akuntansi Manajemen Daerah. Cetakan Ke-1. Jakarta: KENCANA.

Aisyah, S., Febriyanti, & Siswanti, I. (2020).

Manajemen Keuangan. Cetakan 1.Yayasan Kita Menulis.

Fitrah, H. (2019). Akuntansi Pemerintah Daerah Berbasis Akrual. Yogyakarta:

PUSTAKA PELAJAR.

Hanafi, M.H., & Halim, A. (2016). Analisis Laporan Keuangan. Edisi Kelima.

Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Harefa, F., & Permana, H., S. (2017).

Optimalisasi Kebijakan Penerimaan Daerah. Cetakan Pertama. Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Hery, (2016). Akuntansi Sektor Jasa dan Dagang. Jakarta: KOMPAS GRAMEDIA

Hidayat, W., W. (2018). Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan. Cetakan Pertama.

Kab.Ponogoro: Uwais Inspirasi Indonesia.

Kasmir, (2017). Manajemen Perbankan.

Edisis Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo.

Khusaini, M. (2018). Keuangan Daerah.

Cetakan Pertama. Malang: UB Press.

Mahmudi, (2016). Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Cetakan Pertama.

Yogyakarta: UPPM STIM YKPN.

Tanjung, A., H. (2020). Akuntansi Keuangan Daerah. Cetakan Kedua.

Bandung:ALFABETA.

Wardiyah, L., M. (2016). Akuntansi Keuangan Menengah. Cetakan 1. Bandung: CV PUSTAKA SETIA.

Widyatuti, M. (2017). Anakisis Kritis Laporan Keuangan. Surabaya: CV. Jakad Media Nusantara.

Wijaya, D. (2017). Manajemen Keuangan Konsep dan Penerapannya. Jakarta: PT.

Gramedia.

Yuliana, I. (2019). Pengaruh Belanja dan Investasi Terhadap Kemandirian dan Pertumbuhan Ekonomi. Cetakan Pertama. Kab. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Formulir RKA - RINCIAN BELANJA SKPD Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2021 Urusan Pemerintahan : 2 URUSAN

“Analisis Laporan Realisasi Anggaran Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Bitung”... Yunus, dan Bidin, Cici Rianty