• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis tingkat produksi industri dalam

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis tingkat produksi industri dalam"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TINGKAT PRODUKSI INDUSTRI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK PELAKU

USAHA DAN TENAGA KERJA: STUDI KASUS PADA INDUSTRI BREM DI KECAMATAN NGUNTORONADI

KABUPATEN WONOGIRI

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Annisa Retno Ningrum 155020101111030

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2019

(2)
(3)

ANALISIS TINGKAT PRODUKSI INDUSTRI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK PELAKU USAHA DAN TENAGA KERJA: STUDI

KASUS PADA INDUSTRI BREM DI KECAMATAN NGUNTORONADI KABUPATEN WONOGIRI

Annisa Retno Ningrum#, Nurman Setiawan Fadjar*

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]#, [email protected]*

ABSTRAK

Sektor industri merupakan salah satu sektor yang berpengaruh cukup besar terhadap perekonomian masyarakat.

Salah satu industri yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Wonogiri adalah industri brem. Tingginya jumlah produksi brem tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi terhadap tingkat produksi brem, pengaruh tingkat produksi brem terhadap pendapatan pelaku usaha, pengaruh tingkat produksi brem terhadap upah tenaga kerja, serta bagaimana tingkat produksi brem dapat memenuhi standar kebutuhan hidup layak pelaku usaha dan tenaga kerja. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden 20 pelaku usaha dan 30 tenaga kerja. Alat yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini yaitu dengan analisis regresi linier berganda OLS untuk mengetahui pengaruh biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha dan biaya energi terhadap tingkat produksi, regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh tingkat produksi terhadap pendapatan pelaku usaha dan pengaruh tingkat produksi terhadap upah tenaga kerja, rasio rata-rata pendapatan, rata-rata upah dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) untuk mengetahui standar pemenuhan kebutuhan hidup layak pelaku usaha dan tenaga kerja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap tingkat produksi brem, pengalaman pelaku usaha dan biaya tenaga kerja memiliki pengaruh yang positif tapi tidak signifikan terhadap produksi brem, tingkat produksi brem berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja, rata-rata pendapatan pelaku usaha sudah memenuhi standar kebutuhan hidup layak, sedangkan upah tenaga kerja masih di bawah standar kebutuhan hidup layak.

Kata kunci: produksi brem, pendapatan pelaku usaha, upah tenaga kerja, Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

A. PENDAHULUAN

Sektor industri merupakan salah satu sektor yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian di Indonesia. Hal ini bisa diketahui dengan tingginya sumbangan sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Menurut Nawawi, dkk (2015) upaya untuk memperluas lapangan pekerjaan, pemerataan pembangunan serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan yaitu dengan membangun suatu industri. Berdasarkan BPS (2019) sektor industri pengolahan merupakan salah satu sektor yang menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya. Berikut merupakan lima sektor utama penyumbang PDB tertinggi di Indonesia.

Tabel 1. Presentase Lima Lapangan Kerja Utama Terhadap PDB Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun 2014-2018

No. Jenis Lapangan Pekerjaan 2014 2015 2016 2017 2018

1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 13,34 13,49 13,48 13,63 12,81

2. Pertambangan dan Penggalian 9,83 7,65 7,18 7,58 8,08

3. Industri Pengolahan 21,08 20,99 20,52 20,16 19,86

4. Perdagangan Besar dan Eceran: Reparasi Mobil dan Sepeda motor

13,43 13,30 13,19 13,02 13,02

5. Transportasi dan Perdagangan 4,42 5,02 5,2 5,41 5,37

Sumber: BPS (2019)

Selama lima tahun terakhir (2014-2018) struktur perekonomian di Indonesia didominasi oleh lima kategori lapangan usaha. Lima kategori lapangan usaha tersebut diataranya adalah: industri pengolahan; pertanian,

(4)

kehutanan,dan perikanan; perdagangan besar dan eceran: reparasi mobil dan sepeda motor; pertambangan dan penggalian; serta transportasi dan pergudangan. Hal ini dapat dilihat dari peranan masing-masing lapangan usaha terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sektor tertinggi pembentuk PDB Indonesia adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 19,86% atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Perkembangan industri mikro dan kecil di Indonesia harus tetap diperhatikan agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Menurut Gumelar, dkk (2015) sektor industri kecil merupakan salah satu sektor yang memiliki tempat yang strategis dalam perekonomian suatu negara yaitu sebagai lokomotif yang krusial dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah menyerap tenaga kerja, menurut BPS (2018) tenaga kerja sektor industri mikro kecil terserap sebanyak 9.434.258 jiwa.

Gambar 1. Banyaknya Usaha Industri Mikro dan Kecil Menurut Kelompok Tenaga Kerja (Unit) Sumber: BPS (2018)

Salah satu industri di Kabupaten Wonogiri yang memiliki dampak cukup signifikan terhadap masyarakat di sekitarnya adalah industri brem. Industri brem ini terletak di Desa Gebang dan Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Brem merupakan salah satu makanan yang diolah dari bahan utama berupa beras ketan yang di fermentasikan (Arianti dkk, 2007). Industri brem di Kecamatan Nguntoronadi sudah ada dan mulai dikembangkan pada tahun 1990 (Oktavianti, 2017). Industri brem merupakan industri rumah tangga.

Menurut BPS Kabupaten Wonogiri (2018) industri rumah tangga adalah industri yang memiliki tenaga kerja sejumlah 1 – 4 orang. Tingkat produksi rumah tangga industri brem di Kecamatan Nguntoronadi jumlahnya beragam. Karena setiap rumah tangga industri menggunakan input produksi yang berbeda-beda. Bahan baku baku utama yang digunakan adalah beras ketan. Brem dihasilkan dari pengepresan beras ketan yang telah di fermentasikan yang hasilnya berupa sari ketan (Suseno, 2018).

Produksi beras ketan di Kecamatan Nguntoronadi tentu dipengaruhi beberapa faktor. Bahan baku merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya produksi brem, adapun bahan baku yang digunakan adalah beras ketan dan ragi. Karena mayoritas penduduk di Desa Gebang adalah seorang petani yang sebagian besar menghasilkan komoditas beras ketan, maka beras ketan yang dihasilkan petani dipasokkan ke rumah tangga industri brem untuk dijadikan bahan baku. Namun, beras ketan dari dalam daerah tidak mencukupi kebutuhan bahan baku seluruh rumah tangga industri sehingga diperlukan untuk membeli beras ketan dari luar daerah yang terkadang sulit untuk didapatkan serta harga beras ketan yang beragam dari luar daerah.Faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap produksi brem adalah tenaga kerja. Menurut Herawati (2008) tenaga kerja merupakan faktor terpenting dalam menghasilkan suatu barang atau jasa, dan tenaga kerja dibutuhkan untuk melaksanakan transformasi dari bahan mentah menjadi barang jadi yang telah dikendaki oleh pemilik usaha. Faktor teknologi merupakan salah satu faktor yang mendukung proses produksi brem berlangsung. Faktor teknologi berupa alat mesin yang digunakan untuk suatu proses kegiatan untuk membantu dan mempermudah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan (Nugroho dan Muchamad, 2014). Rumah tangga industri brem di Kecamatan Nguntoronadi menggunakan teknologi modern dalam proses pengadukan sari ketan. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam kegiatan produksi brem yaitu pengalaman pengusaha brem. Pengalaman pengusaha brem dalam kegiatan memanajemen. Menurut Ukkas (2017) adanya pengalaman kerja yang baik dapat menunjukkan tingkat penguasaan tenaga kerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, semakin lama seseorang dalam pekerjaannya yang sesuai dengan keahliannya maka diharapkan akan mampu meningkatkan suatu produktivitas yang dikerjakan.

Menurut Sinungan (2008) dalam Widyastuti (2012) peningkatan produktivitas sama halnya dengan meningkatkan masukan tenaga kerja dimana masukan tersebut dapat diartikan sebagai pendapatan, pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga produktivitas berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Melihat uraian tersebut, dapat diketahui bahwa kesejahteraan erat kaitannya dengan pendapatan. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja yaitu melalui pelaksanaan upah minimum (Trimaya,

1841598 2156739 181564

59394 24752

0 1000000 2000000 3000000

1 2 s/d 4 5 s/d 9 10 s/d 14 15 s/d 19

Jumlah Unit Usaha

jumlah Tenaga Kerja

(5)

2014). Menurutnya, pembentukan upah minimum didasarkan pada survei KHL (Kebutuhan Hidup Layak).

Besarnya Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Wonogiri menurut Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah Nomor 560/68 tahun 2018 menyatakan UMK di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 adalah Rp 1.655.000,-. Dengan besar survei KHL pada tahun 2016 sebesar Rp 1.293.962,- (BPS, 2018). Besarnya pendapatan atau upah yang dterima pengusaha brem dengan tenaga kerja jumlahnya tidak tetap setiap bulannya sesuai dengan jumlah brem yang diproduksi. Kesejahteraan pengusaha maupun tenaga kerja brem harus diketahui melalui pendapatan apakah lebih besar dari UMK dan KHL atau sebaliknya.

B. KAJIAN PUSTAKA A. Produksi Industri

Kegiatan produksi industri merupakan perubahan beberapa input produksi menjadi satu atau lebih output produksi, artinya terdapat hubungan erat antara input dengan kegiatan Fungsi produksi yang kerap digunakan adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Menurut Amalia (2014) fungsi produksi ini memperlihatkan hubungan antara input dan output yang digunakan sehingga secara matematis fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut:

Q = AKα Lβ Keterangan:

Q = Output A = Parameter Efisiensi

K = Input Modal a = Elastisitas Input Modal L = Input Tenaga Kerja b = Elastisitas Input Tenaga Kerja

Menurut Soekartawi (1990) dalam Ramadhani (2011) fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan suatu persamaan yang melibatkan dua variabel atau lebih dimana variabel yang satu disebut sebagai variabel dependen dan yang lain disebut variabel independen, terdapat beberapa alasan menggunakan fungsi Cobb-Douglas yaitu pertama, fungsi produksi Cobb-Douglas memiliki sifat yang sederhana dan mudah diterapkan. Kedua, mampu menggambarkan sekala hasil apakah tetap, naik, atau menurun. Ketiga, koefisien-koefisien parameter fungsi Cobb-Douglas mampu menerangkan elastisitas produksi dari setiap input dan dipertimbangkan untuk dikaji dalam fungsi produksi Cobb-Douglas tersebut. Keempat, koefisien intersep merupakan indeks efisiensi produksi yang secara langsung menggambarkan efisiensi penggunaan input dalam menghasilkan output dari sistem produksi yang dikaji.

B. Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh anggota masyarakat pada jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atau faktor-faktor produksi yang telah disumbangkan (Danil, 2013). Tinggi rendahnya jumlah pendapatan yang diterima oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pendapatan seseorang menurut Tigau, dkk (2017) adalah sebagai berikut:

(1) Kesempatan kerja yang tersedia (2) Kecakapan dan keahlian (3) Motivasi

(4) Keuletan kerja

(5) Besar modal yang digunakan

C. Upah

Upah menurut Sukirno (2016) upah adalah pembayaran ke atas jasa-jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada pengusaha. Kegiatan produksi tidak terlepas dari faktor tenaga kerja yang berperan didalamnya sehingga menghasilkan output sesuai dengan yang dikehendaki oleh rumah tangga usaha.

Pengorbanan yang dilakukan oleh tenaga kerja terhadap perusahaan untuk menghasilkan output tertentu berhak mendapatkan balas jasa berupa upah. Sistem pengupahan merupakan suatu proses bagaimana upah tersebut dapat diatur dan diterapkan, hal ini serupa dengan pernyataan Soedarjadi (2009) dalam Trimaya (2014) bahwa sistem pengupahan di Indonesia didasarkan pada tiga fungsi yaitu:

1) Mencerminkan imbalan atas hasil kerja seseorang.

2) Menjamin kehidupan yang layak bagi tenaga kerja dan keluarganya.

3) Menyediakan uang insentif untuk mendorong peningkatan produktivitas kerja.

(6)

Berdasarkan pernyataan di atas upah merupakan salah satu hal terpentig bagi seseorang atau tenaga kerja untuk mendapatkan penghasilan atas pekerjaannya dengan tujuan dapat mencukupi kehidupan yang layak untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.

D. Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Permenakertrans RI) No.

17/MEN/VIII/2015 tentang komponen dan pelakasanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak, menyatakan bahwa kebutuhan hidup layak yang selanjutnya disebut KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik, non fisik dan sosial untuk kebutuhan satu bulan.

KHL terdiri dari beberapa komponen yaitu: makanan dan minuman sejumlah 11 komponen, sandang sejumlah 9 komponen, perumahan sejumlah 19 komponen, pendidikan 1 komponen, kesehatan 3 komponen, transportasi 1 komponen, serta rekreasi dan tabungan sejumlah 2 komponen.

E. Kerangka dan Hipotesis Penelitian

Ringkasan kerangka pikir dalam penelitian ini dijelaskan dalam gambar 2 berikut:

Gambar 3. Kerangka Pikir Penelitian Sumber: Ilustrasi Penulis (2019)

Sesuai dengan landasan pustaka dan kerangka pikir penelitian yang telah disusun sebelumnya, maka hipotesis penelitian yang dapat dibentuk ialah sebagai berikut:

1) Diduga biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat produksi brem. Hipotesis ini didasarkan atas beberapa pertimbangan variabel yang berpeluang memiliki pengaruh pada tingkat produksi industri dari kajian pustaka dan landasan teori yang telah dijelaskan.

2) Diduga produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha:

Hipotesis ini didasarkan atas pertimbangan variabel yang berpeluang memiliki pengaruh terhadap pendapatan dari kajian pustaka dan landasan teori yang telah dijelaskan.

3) Diduga produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap upah tenaga kerja: Hipotesis ini didasarkan atas pertimbangan variabel yang berpeluang memiliki pengaruh terhadap upah tenaga kerja dari kajian pustaka dan landasan teori yang telah dijelaskan.

4) Diduga pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja sudah memenuhi standar kebutuhan hidup layak:

Hipotesis ini didasarkan pada kajian pustaka dan landasar teori yang telah dijelaskan.

C. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Berdasarkan data penelitian yang telah diperoleh, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif karena data yang digunakan berbentuk angka yang selanjutnya akan diolah untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha dan biaya energi atas penggunaan teknologi terhadap nilai produksi industri brem di Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Mengetahui pengaruh variabel tingkat produksi brem dengan pendapatan pelaku usaha dan pengaruh variabel tingkat produksi brem terhadap upah tenaga kerja. Metode Kuantitatif ini menggunakan analisis regresi linier berganda dan regresi linier sederhana yang bertujuan untuk

(7)

mengetahui pengaruh antar variabel. Untuk mengetahui standar layak atau tidaknya pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja yaitu dengan membandingkan pendapatan rata-rata dan upah rata-rata terhadap nilai UMK dan KHL (Arifin, 2011).

Tabel 2. Tabel Definisi Operasional Variabel

No Variabel Definisi Indikator Ukuran

1. Produksi Brem

Produksi brem adalah total output brem yang dihasilkan dengan segala input yang telah digunakan oleh pelaku usaha.

Total produksi brem dalam kurun waktu satu bulan.

Kilogram

2. Pendapatan Pelaku Usaha

Pendapatan yang diperoleh pelaku usaha dari total produksi.

Pendapatan pelaku usaha dalam satu bulan

Rupiah 3. Upah Tenaga

Kerja

Upah yang diperoleh tenaga kerja dari total produksi.

Upah yang diterima tenaga kerja dalam satu bulan bekerja.

Rupiah 2. Biaya Bahan

Baku

Biaya yang dikeluarkan pelaku usaha untuk memperoleh bahan baku pembuatan brem.

total biaya untuk membeli beras ketan, ragi, soda kue

Rupiah

3. Biaya Tenaga Kerja

Biaya yang dikeluarkan pelaku usaha untuk membayar tenaga kerja.

Total biaya tenaga kerja Rupiah 4. Pengalaman

Pelaku Usaha

Pengalaman yang telah dihadapi pelaku usaha sejak awal berdirinya usaha

Lama pelaku usaha mengelola industri brem

Tahun 5. Biaya Energi Biaya yang dikeluarkan untuk

menjalankan teknologi (mixer) menggunakan dinamo.

Biaya listrik untuk menjalankan mixer

Rupiah

Sumber: Rekapitulasi metodologi penelitian (2019)

A. Analisis Deskriptif

Metode analisis deskriptif merupakan cara merumuskan dan menafsirkan data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai variabel yang digunakan dalam suatu penelitian. Menurut Sugiyono (2017), statistik deskriptif itu statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendiskripsikan atau mengggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

B. Analisis Regresi Linier Berganda

Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi terhadap variabel dependen atau produksi brem. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi terhadap produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri digunakan metode model fungsi produksi Cobb-Douglas. Secara matematik sebagai berikut:

Y= β0 X1β2 X2β3 X3β3 X4β4

Berdasarkan rumus di atas terlihat jelas bahwa hubungan antara kedua input dan output tersebut adalah nonlinier.

Sehingga model ini harus ditransformasikan kedalam logaritma (Gujarati, 2015):

LnY1 = Ln β0 + β1Ln X1 + β2Ln X2 + β3Ln X3 + β4Ln X4 + e Keterangan:

LnY1 = Produksi brem LnX4 = Biaya Energi

LnX1 = Biaya bahan baku β0 = Intersep

LnX2 = Biaya tenaga kerja β1, β2,...,β9 = Koefisien regresi

LnX3 = Pengalaman pelaku usaha e = Error

C. Analisis Regresi Linier Sederhana

Analisis regresi linier sederhana ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel tingkat produksi brem terhadap pendapatan pelaku usaha.

Y2 = β0 + β1 X5 + e Keterangan:

Y2 = Pendapatan Pelaku usaha

(8)

β0 = Intersep β1 = Koefisien X5 = Produksi Brem E = Error

Persamaan 3 untuk mengetahui bagaimana pengaruh produktivitas terhadap upah tenaga kerja adalah sebagai berikut:

Y3 = β0 + β1 X5 + e Keterangan:

Y3 = Upah Tenaga Kerja β0 = Intersep

β1 = Koefisien

X5 = Produktivitas Brem E = Error

D. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk mencapai asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimation) artinya adalah model persamaan tersebut bebas dari pelanggaran asumsi OLS (Ordinary Least Square). Pengujian ini dilakukan melaui Normalitas, Multikolinieritas dan Heteroskedatisitas.

(1) Normalitas

Uji normalitas terpenuhi jika nilai probabilitas Jarque-Bera lebih besar dari taraf nyata yang digunakan (Ghozali,2018)

(2) Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas ini bertujuan untuk menguji model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independennya. Model yang baik adalah model yang tidak terjadi korelasi antar variabel independennya (3) Heterokedastisitas

Digunakan untuk melihat apakah residual dari model yang terbentuk memiliki varian yang konstan atau tidak.

Suatu model yang baik adalah memiliki varian dari setiap gangguan atau residualnya konstan.

E. Pengujian Hipotesis (1) Uji Parsial/Uji T

Uji parsial atau uji T dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari setiap variabel independen (parsial) terhadap variabel dependen yang asumsi variabel independen lainnya konstan

(2) Uji F (secara serentak)

Uji simultan atau uji F menunjukkan apakah semua variabel independen atau variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau variabel terikat (Ghozali, 2018).

(3) R2 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar presentasi sumbangan variabel independen terhadap variabel dependen

D.HASILDANPEMBAHASAN A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Kecamatan Nguntoronadi merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Wonogiri. Keadaan alam di Kecamatan Nguntoronadi berupa bukit dan pegunungan padat, tanah perbukitaan dan daerah genangan Waduk Gajah Mungkur. Kecamatan Nguntoronadi terletak pada ketinggian 173 sampai dengan 410 meter di atas permukaan air laut. Kecamatan Nguntoronadi dibagi menjadi 11 (sebelas) desa yaitu Kedungrejo, Bulurejo, Kulurejo, Semin, Beji, Wonoharjo, Bumiharjo, Gebang, Pondoksari, Ngadiroyo, Ngadipiro (BPS Kabupaten Wonogiri, 2019). Kecamatan Nguntoronadi terdapat berbagai macam industri sentra yang berkembang, yaitu:

Tabel 3. Macam-Macam Sentra IKM di Kecamatan Nguntoronadi No. Nama Industri Jumlah (unit)

1. Tempe 46

2. Brem 22

3. Anyaman Bambu 26

4. Abon Ikan 22

5. Tepung Tapioka 40

Jumlah 156

Sumber: Dinas KUKM dan Perindag Kabupaten Wonogiri (2019)

(9)

Keberadaan Industri Sentra di Kecamatan Nguntoronadi tentu memberikan dampak yang positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Selain menyerap tenaga kerja, adanya sentra industri kecil menengah di Kecamatan Nguntoronadi memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk memasarkan produk ke pasar-pasar luar daerah, sehingga membuat Kecamatan Nguntoronadi di kenal akan produk-produk hasil olahan maupun kerajinan masyarakatnya.

B. Gambaran Umum Responden

Berdasarkan kuisioner penelitian yang telah dilakukan di Rumah Tangga Industri Brem Kecamatan Nguntoronadi dapat diperoleh beberapa informasi tentang gambaran umum responden salah satunya adalah nilai rata-rata produksi brem dalam waktu satu bulan. Penelitian ini 20 responden pelaku usaha dan 30 responden tenaga kerja.

Tabel 4. Rata-Rata Produksi Brem dalam Waktu Satu Bulan

Produksi Brem (kg) Jumlah (Orang) Persentase (%)

100 – 499 7 31,84

500 – 999 5 22,72

1000 – 1499 5 22,72

1500 -1999 5 22,72

Jumlah 22 100,00

Sumber: Data Primer (2019)

Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata produksi brem setiap bulan dari seluruh total pelaku usaha adalah 891,36 kg. Tinggi rendahnya faktor produksi brem dipengaruhi oleh beberapa faktor input serta berbagai kendala yang mungkin di hadapi oleh pelaku usaha saat melakukan proses produksi brem.

C. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda (Persamaan 1)

Pada persamaan ini menggunakan fungsi produski Cobb-Douglas yang diperoleh melalui penyusunan model regresi linier berganda sari variabel-variabel input dengan variabel-variabel outout yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma natural. Logaritma natural dari keempat variabel input yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi. Logaritma natural dari variabel output atau nilai produksi brem dijadikan variabel terikat dalam model regresi.

Tabel 5. Hasil analisis Regresi Linier Berganda Persamaan 1

Variabel Coefficient Std.Error t-Statistik Prob.

C -12.15208 0.794902 -15.28753 0.0000

Biaya Bahan Baku 0.089919 0.089919 9.939107 0.0000 Biaya Tenaga Kerja 0.203484 0.071456 2.847684 0.0111 Pengalaman 0.029325 0.029658 0.988767 0.3366 Biaya Energi 0.063835 0.125532 0.508515 0.6176 Sumber: Data Primer Diolah (2019)

Ln Produksi Brem = β0 + β1 Ln Biaya Bahan Baku + β2 Ln Biaya Tenaga Kerja + β3 Ln Pengalaman + β4 Biaya Energi + e

Produksi Brem = -12.15208 + β1 0.0893715 + β2 0.203484 + β3 0.029325 + β4 0.063835 + e (1) Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah model yang dipakai bisa dikatakan baik atau tidak. Suatu model dikatakan baik jika mempunyai variabel penganggu atau residual yang terdistribusi secara normal. Uji normalitas terpenuhi jika nilai probabilitas Jarque-Bera lebih besar dari taraf nyata yang digunakan.

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas

Jarque-Bera 1.0580813 Probability 0.580813 α (0,05) 0.05 Sumber: Data Primer Diolah (2019)

(10)

Berdasarkan tabel 6 di atas dapat diketahui bahwa Probability Jarque-Bera > α (0,05) yaitu 0.580813 > 0.05 sehingga menerima H0 artinya residual atau error term berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independennya. Untuk mengetahui gejala multikolinieritas adalah dengan uji Varian Infiaction Factor (VIF). Jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka model tersebut terindikasi adanya multikoliniertitas.

Tabel 7. Hasil Uji Multikolinieritas

Variabel VIF Keterangan

Biaya Bahan Baku 7.579748 Tidak terbukti multikolinieritas Biaya Tenaga Kerja 1.755132 Tidak terbukti multikolinieritas Pengalaman 1.081807 Tidak terbukti multikolinieritas Biaya Energi 7.838798 Tidak terbukti multikolinieritas Sumber: Data Primer Diolah (2019)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan tidak terdapat multikolinieritas. Hal ini ditunjukkan dengan angka Varian Infiaction Factor (VIF) masing-masing variabel dibawah 10.

c. Uji Heterokedastisitas

Metode yang digunakan untuk mendeteksi heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan White Heteroskedasticity Test pada consistent standart error & covariance. Hasil yang diperlukan dari hasil uji ini adalah nilai Prob.Obs*R-squared.

Tabel 8. Hasil Uji Heterokedastisitas

Heterokedasticity Test: White

F-statistic 2.257394 Prob. F (13,61) 0.1410

Obs*R-squared 18.01073 Prob. Chi-square(13) 0.2063 Sumber: Data Primer Diolah (2019)

Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa nilai Prob Obs*R-squared > α (0,05) yaitu 0.2063 > 0,05 atau H0 diterima sehingga persamaan atau model dalam penelitian ini dapat disimpulkan bebas dari heterokedastisitas.

(2) Pengujian Hipotesis a. Koefisien Determinasi (R2)

Nilai dari koefisien determinasi (R2) pada penelitian ini sebesar 0,982831. Nilai tersebut berarti seluruh variabel dalam model yang terdiri dari variabel biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengalaman pelaku usaha, dan biaya energi mampu menjelaskan variasi dari variabel produksi brem sebagai variabel terikat sebesar 98%.

Sedangkan 2% lagi dapat dijelaskan oleh variabel yang lain di luar model penelitian.

b. Uji F/ Simultan

Berdasarkan hasil estimasi pada model persamaan 1 di atas, dapat diketahui bahwa nilai f statistik yang dihasilkan sebesar 243.3932 dengan nilai f tabel sebesar 2,96. Selain itu nilai probabilitas f statistik yang dihasilkan adalah 0,000000. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas dalam model berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat secara bersamaan (menolak H0). Hal tersebut dibuktikan oleh nilai f statistik > f tabel atau 243.3932 > 2,96 dan nilai probabilitas f statistik < α atau 0,0000 < 0,05.

c. Uji T/Parsial

 Variabel Bahan Baku

Hasil pengujian biaya bahan baku (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t-statistik sebesar 9,939107 dengan probabilitas sebesar 0.0000. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah 1,740 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;17) pada tabel nilai t. Dimana t-statistik lebih besar daripada t-tabel yaitu 9,939107 > 1,740 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0.0000 < 0,05 maka hal ini berarti bahwa biaya bahan baku memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Biaya bahan baku dalam proses pembuatan brem adalah beras ketan dan ragi instan. Harga biaya bahan baku beras ketan perkilogramnya adalah Rp 11.000,00 sedangkan harga ragi instan perbiji Rp 320,00. Rata-rata biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh pelaku usaha brem adalah Rp 22.795.600,00. Tinggi rendahnya jumlah brem yang diproduksi sangat tergantung dengan ketersediaan bahan baku.

(11)

 Variabel Biaya Tenaga Kerja

Hasil pengujian biaya tenaga kerja (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t-statistik sebesar 2.847684 dengan probabilitas sebesar 0.0000. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah 1,740 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;17) pada tabel t. Dimana t statistik lebih besar daripada t-tabel yaitu 2.847684 > 1,740 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0.0000 <

0,05 maka hal ini berarti bahwa biaya tenaga kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Peran tenaga kerja dalam kegiatan produksi merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan jumlah produksi dalam suatu industri. Tenaga kerja sangat berperan dalam kegiatan produksi brem, mulai dari pencucian bahan hingga pengepakan brem untuk siap dipasarkan atau diambil oleh pelanggan. Tenaga kerja industri brem bekerja selama 7 jam dalam sehari. Karena industri brem merupakan industri rumah tangga, maka tenaga kerja yang terserap dalam industri ini tidak banyak hanya berkisar 1 – 4 orang.

 Variabel Pengalaman Pelaku Usaha

Hasil pengujian pengalaman pelaku usaha (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t-statistik sebesar 0,988767 dengan probabilitas sebesar 0.3366. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah 1,740 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;17) pada tabel nilai t. Dimana t statistik lebih kecil daripada t-tabel yaitu 0,988767 < 1,740 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih besar dari taraf nyata yaitu 0.3366 > 0,05 maka hal ini berarti bahwa pengalaman pelaku usaha tidak memiliki memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Tinggi rendahnya jumlah produksi brem yang diproduksi sangat tergantung dengan kemampuan fisik maupun finansial pelaku usaha, mereka yang memiliki pengalaman belum lama atau berkisar antara 5 – 10 tahun jumlah produksinya melebihi pelaku usaha yang pengalamannya lebih dari 30 tahun. Hal ini dikarenakan pelaku usaha tersebut mampu memproduksi dengan jumlah yang banyak.

 Variabel Biaya Energi

Hasil pengujian biaya energi (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t- statistik sebesar 0,508515 dengan probabilitas sebesar 0,6176. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah 1,740 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;17) pada tabel nilai t. Dimana t statistik lebih kecil daripada t- tabel yaitu 0,508515 < 1,740 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih besar dari taraf nyata yaitu 0,6176 >

0,05 maka hal ini berarti bahwa biaya energi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Sebagian pelaku usaha yang memiliki produktivitas tinggi masih menggunakan teknologi campuran yaitu teknologi manual dan teknologi pengaduk menggunakan dynamo. Pelaku usaha yang jumlah produksinya sedikit lebih memilih menggunakan mesin pengaduk sedangkan pelaku usaha yang jumlah produksi bremnya banyak lebih memilih menggunakan teknologi campuran antara pengaduk manual dengan pengaduk mesin, dengan tujuan meminimalisir biaya input produksi.

D. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Persamaan 2

Persamaan 2 pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai produksi brem terhadap pendapatan pelaku usaha. Pada persamaan ini pendapatan sebagai variabel dependen dan nilai produksi brem sebagai variabel independen. Persamaan kedua ini akan diubah menjadi logaritma natural (Ln) dengan tujuan untuk mengurangi fluktuasi data yang terlalu berlebihan.

Tabel 9. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Persamaan 2

Variabel Coefficient Std.Error t-Statistik Prob.

C 9.135556 0.264767 34.50416 0.0000

Produksi Brem 1.125194 0.039753 2830437 0.0000 Sumber: Data Primer diolah (2019)

Ln Pendapatan Pelaku Usaha = β0 + β1 Ln Produksi Brem + e Pendapatan Pelaku Usaha = 9.135556 + β1 1.125194 + e (1) Pengujian Hipotesis

a. Koefisien Determinasi R2

Nilai dari koefisien determinasi (R2) pada penelitian ini sebesar 0,975644. Nilai tersebut berarti variabel dalam model yaitu variabel nilai produksi brem mampu menjelaskan variasi dari variabel pendapatan pelaku usaha sebagai variabel terikat sebesar 98%. Sedangkan 2% lagi dapat dijelaskan oleh variabel yang lain di luar model penelitian.

b. Uji T/Parsial

Hasil pengujian produksi brem (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t-statistik sebesar 34,50416 dengan probabilitas sebesar 0.0000. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah

(12)

1,725 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;20) pada tabel nilai t. Dimana t-statistik lebih besar daripada t-tabel yaitu 34,50416 > 1,725 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0.0000 < 0,05 maka hal ini berarti bahwa produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha di industri brem Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Pendapatan pelaku usaha dalam penelitian ini adalah total hasil bersih yang diterima oleh pelaku usaha atas kegiatan produksinya.

Rata-rata jumlah pendapatan bersih yang diterima oleh pelaku usaha setiap bulannya adalah Rp 19.834.627,00.

Meski jumlah produksi beberapa individu memiliki jumlah yang sama akan tetapi jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap pelaku usaha berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena manajemen biaya input oleh setiap pelaku usaha yang berbeda-beda.

E. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Persamaan 3

Persamaan 3 pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai produksi brem terhadap pendapatan pelaku upah tenaga kerja. Pada persamaan ini upah tenaga kerja sebagai variabel dependen dan nilai produksi brem sebagai variabel independen. Persamaan kedua ini akan diubah menjadi logaritma natural (Ln) dengan tujuan untuk mengurangi fluktuasi data yang terlalu berlebihan.

Tabel 10. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana Persamaan 3

Variabel Coefficient Std.Error t-Statistik Prob.

C 12.76562 0.452844 28.18990 0.0000

Produksi Brem 0.178961 0.067163 2.664555 0.0126 Sumber: Data Primer diolah (2019)

Ln Upah Tenaga Kerja = β0 + β1 Ln Produksi Brem + e Upah Tenaga Kerja = 12.76562 + β1 0178961 + e (1) Pengujian Hipotesis

a. Koefisien Determinasi/ R2

Nilai dari koefisien determinasi (R2) pada penelitian ini sebesar 0,202276. Nilai tersebut berarti variabel dalam model yaitu variabel nilai produksi brem mampu menjelaskan variasi dari variabel upah tenaga kerja sebagai variabel terikat sebesar 20%. Sedangkan 80% lagi dapat dijelaskan oleh variabel yang lain di luar model penelitian.

b. Uji T/Parsial

Hasil pengujian produksi brem (dalam transformasi Ln) menunjukkan bahwa variabel tersebut memiliki nilai t-statistik sebesar 2.664555 dengan probabilitas sebesar 0.0126. Nilai t-tabel dalam persamaan ini adalah 1,701 diperoleh dengan melihat posisi (α/1;df) atau (0,05;28) pada tabel nilai t. Dimana t-statistik lebih besar daripada t-tabel yaitu 2,664555 > 1,701 dan nilai signifikansi t statistik tersebut lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0.0126 <

0,05 maka hal ini berarti bahwa produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap upah tenaga kerja di industri brem Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Upah dalam penelitian ini adalah jumlah hasil yang diterima oleh tenaga kerja atas kegiatannya membantu pelaku usaha dalam memproduksi brem dalam kurun waktu satu bulan. Rata-rata upah yang diterima oleh tenaga kerja industri brem dalam kurun waktu satu bulan adalah Rp 1.196.667,00. Upah yang diterima oleh setiap tenaga kerja di rumah tangga industri satu dengan rumah tangga industri lainnya berbeda beda, ada yang upahnya sebesar Rp 800.000,00 sampai dengan Rp 1.600.000,00. Perbedaan jumlah upah tersebut dikarenakan standar operasional setiap perusahaan berbeda-beda.

F. Pendapatan Pelaku Usaha dan Upah Tenaga Kerja Terhadap Standar KHL dan UMK Kabupaten Wonogiri

Pada penelitian ini pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja akan dibandingkan dengan nilai standar kebutuhan hidup layak (KHL) dan upah minimum kabupaten atau (UMK) untuk mengetahui apakan pendapatan pelaku usaha dan upah tenaga kerja tersebut sudah melebihi besarnya standar KHL atau malah sudah melebihi besarnya nilai UMK di Kabupaten Wonogiri. Besarnya Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Wonogiri menurut Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah Nomor 560/68 tahun 2018 menyatakan UMK di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2019 adalah Rp 1.655.000,-. Dengan besar survei KHL pada tahun 2016 sebesar Rp 1.293.962,- (BPS Kabupaten Wonogiri, 2018).

Tabel 11. Perbadandingan Rata-Rata Pendapatan, Rata-Rata Upah, KHL, dan UMK Kabupaten Wonogiri

Keterangan Nilai (Rp)

Pendapatan Pelaku Usaha 19.834.627,00 Upah Tenaga Kerja 1.196.667,00 KHL Kabupaten Wonogiri 1.293.962,00 UMK Kabupaten Wonogiri 1.655.000,00 Sumber: BPS Kabupaten Wonogiri (2019), Data Primer (2019)

(13)

Berdasarkan Tabel 11 di atas pendapatan pelaku usaha yang dimaksud adalah rata-rata dari pendapatan bersih yang di terima oleh seluruh pelaku usaha rumah tangga industri di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri dalam waktu satu bulan dengan jumlah Rp 19.834.627,00. Upah tenaga kerja yang dimaksud adalah rata-rata dari jumlah upah yang diterima oleh seluruh tenaga kerja yang bekerja di rumah tangga industri brem Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri dalam waktu satu bulan dengan jumlah rata-rata sebesar Rp 1.196.667,00.

Sehingga dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah pendapatan yang diterima oleh pelaku usaha brem lebih besar dari nilai standar KHL dan UMK Kabupaten Wonogiri yaitu sebesar Rp 19.834.627,00 dengan besar KHL dan UMK Rp 1.293.962,00 dan Rp 1.655.000,00. Hal ini dapat dikatakan bahwa pelaku usaha brem di Kecamatan Nguntronadi cukup sejahtera dengan pendapatan yang melebihi besarnya nilai KHL dan UMK Kabupaten Wonogiri.

E.PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1) Variabel biaya bahan baku memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produksi brem. Sehingga semakin besar biaya input yang dikeluarkan oleh pelaku usaha maka semakin meningkat pula total produksi brem yang dihasilkan oleh rumah tangga industri brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri.

2) Variabel biaya tenaga kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produksi brem. Sehingga semakin besar biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh pelaku usaha maka semakin meningkat pula total produksi brem yang dihasilkan oleh rumah tangga industri brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri.

3) Variabel pengalaman pelaku usaha berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap produksi brem. Hal ini menunjukkan variabel pengalaman pelaku usaha tidak mempengaruhi jumlah produksi brem.

4) Variabel biaya energi memiliki pengaruh yang positif tapi tidak signifikan terhadap produksi brem. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel biaya energi tidak mempengaruhi jumlah produksi brem.

5) Variabel produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan pelaku usaha.

Sehingga semakin tinggi jumlah brem yang diproduksi maka semakin tinggi pula jumlah pendapatan yang diperoleh pelaku usaha brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri.

6) Variabel produksi brem memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap upah tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah brem yang diproduksi maka semakin tinggi pula tingkat upah yang diterima oleh tenaga kerja industri brem di Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri.

7) Berdasarkan hasil analisis, rata-rata pendapatan pelaku usaha sudah memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan Upah Minimum Kabupten (UMK) di Kabupaten Wonogiri. Akan tetapi rata-rata upah tenaga kerja masih di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan Upah Minimum Kabupten (UMK) di Kabupaten Wonogiri.

B. Saran

Berdasarkan hasil dan kesimpulan penelitian, saran yang dapat diberikan penulis antara lain:

1) Pemerintah

Berdasarkan tingginya nilai produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi dengan jumlah rumah tangga industri sebanyak 22 rumah tangga, diharapkan pemerintah untuk terus dapat mengembangkan industri tersebut agar jumlah industrinya dapat bertambah. Pemerintah dapat memberikan kemudahan akses modal kepada pelaku usaha baru karena modal yang dibutuhkan dalam industri brem cukup besar dan memberikan pelatihan/penyuluhan mengenai kegiatan produksi dan pemasaran. Karena dengan berkembangnya industri brem sangat berpengaruh terhadap perekonoman masyarakat sekitar yaitu sebagai pemasok bahan baku, sebagai tenaga kerja, dan sebagai pemasar produk.

1) Pelaku Usaha

Tingkat produksi brem yang tinggi tidak terlepas dari menajemen produski yang baik, salah satunya adalah menejemen dalam mengatur input produksi agar menghasilkan output yang maksimal. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha brem masih mencampur antara penggunaan teknologi manual dengan teknologi modern sehingga berdampak pada tidak signifikannya biaya energi terhadap jumlah produksi brem. Seharusnya pelaku usaha lebih konsisten dalam penggunaan energi karena selain berdampak pada kualitas produksi, hal ini juga berpengaruh terhadap kuantitas produksi brem.

Seharusnya pelaku usaha harus memperhatikan sistem pengupahan tenaga kerja. Karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa upah yang dterima oleh tenaga kerja masih jauh dari standar KHL dan UMK Kabupaten Wonogiri. Pelaku usaha harus mengetahui bahwa tenaga kerja memiliki hak yang harus dipenuhi salah satunya adalah memperoleh upah yang layak.

(14)

2) Peneliti Serupa

Untuk peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian serupa, dalam menganalisis regresi sederhana yang model penelitiannya memiliki hubungan antar persamaan lainnya sebaiknya menggunakan metode Two Stage Least Square.

UCAPANTERIMAKASIH

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam proses penulisan dan penelitian ini hingga selesai. Terimakasih kepada Bapak Nurman Setiawan Fadjar, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah mengarahkan dan memberi banyak nasihat, baik secara akademik selama proses penelitian ini dan pembelajaran lain dalam hidup. Terimakasih pula atas doa dan semangat yang selalu diberikan kepada penulis dari kedua orang tua, keluarga, teman-teman serta pihak-pihak lain yang yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

DAFTARPUSTAKA

Amalia, Fitri. 2014. Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas Pada Kegiatan Sektor Usaha Mikro di Lingkungan UIN Syarid Hidayatullah Jakarta. Jakarta: UIN Syarid Hidayatullah.

Arianti, Nyayu Neti, dkk. 2007. Penentuan Harga Pokok Produksi, Kontribusi Pendapatan Usaha, dan Pemasaran Brem di Desa Gebang Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Bengkulu: Universitas Bengkulu.

Arifin, Agus. 2011. Struktur Industri, Tingkat Produktivitas, dan Efisiensi Ekonomis dalam Pemenuhan Kebutuhan Hidup Layak (Studi Empiris Perajin Tahu Desa Kalisari, Cilongok VS Perajin Tahu Desa Kalikabong, Kalimanah, Purbalingga. Purwokerto: Universitas Jenderal Sudirman.

BPS . 2019. Kecamatan Nguntoronadi Dalam Angka 2019. Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. Diakses pada 1 November 2019. https://www.wonogirikab.bps.go.id/.

---. 2018. Profil Industri Mikro dan Kecil 2018. Badan Pusat Satatistik. Diakses pada 16 Desember 2019, https://www.bps.go.id/.

---. 2019. [Seri 2010] Distribusi PDB Triwulan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen). Badan Pusat Statistik. Diakses pada 15 Juli 2019, https://www.bps.go.id/.

---. 2019. Kecamatan Nguntoronadi Dalam Angka 2019. Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. Diakses pada 1 November 2019. https://www.wonogirikab.bps.go.id/.

Danil, Mahyu. 2013. Pengaruh Pendapatan Terhadap Tingkat Konsumsi Pada Pegawai Negeri Sipil di Kantor Bupati Kabupaten Bireuen. Aceh: STIE Kebangsaan Bireuen.

Dinas KUKM dan Perindag. 2019. Industri Sentra Kabupaten Wonogiri. Dinas KUKM dan Perindag Kabupaten Wonogiri.

Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi Anlalisis Multivariat dengan Pengujian SPSS. Semarang Undip.

Gujarati, D.N, dan Dawn C. Porter. 2015. Dasar-dasar Ekonometrika Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat

Gumelar, Bayu, dkk. 2015. Strategi Pengembangan Industri Kecil Keripik Tempe di Desa Karang Tengah Prandon Kabupaten Ngawi (Studi Pada Dinas Kperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perindustrian Kabupaten Ngawi). Malang: Universitas Brawijaya.

Herawati, Efi. 2008. Analisis Pengaruh Faktor Produksi Modal, Bahan Baku, Tenaga Kerja dan Mesin Terhadap Produksi Glycerine Pada PT. Flora Sawta Chemindo Medan. Tesis. Universitas Sumatera Utara.

Nawawi, Imam, dkk. 2015. Pengaruh Keberadaan Industri Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masayarakat Desa Lagadar Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Nugroho, Satya, dan Muchamad J.B. 2014. Pengaruh Modal, Tenaga Kerja, dan Teknologi terhadap Hasil Produksi Susu Kabupaten Boyolali. Semarang: Universitas Diponegoro.

Oktaviani, Diah. 2017. Dinamika Sentra Industri Kecil Brem di Desa Gebang Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri Tahun 1990-2015. Skripsi. Universitas Sebelas Maret.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 17/MEN/VIII/2015 Tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

Ramadhani, Yuliastuti. 2011. Analisis Efisiensi, Skala dan Elastisitas Produksi dengan Pendekatan Cobb- Douglas dan Regresi Berganda. Yogyakarta: Institut Sins dan Teknologi AKPRIND.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukirno, Sadono. 2016. Mikroekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: Rajawali Press.

Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 560/66 Tahun 2018 Tentang Upah Minimum Pada 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.

(15)

Suseno, Y. Djoko, dan Edie Wibowo. 2018. Peningkatan Produktivitas Produksi Brem Sebagai Upaya Untuk Mengangkat Potensi Kabupaten Wonogiri. Surakarta: Unoversitas Slamet Riyadi.

Tigau, Reinaldi, Debby Ch.R, dan Patrick C.W. 2013. Analisis Pendapatan dan Pola Konsumen Pekerja Sektor Informal di Bukit Kasih Desa Kanonang Dua Kecamatan Kawangkoan Barat. Manado: Universitas Sam Ratulangi.

Trimaya, Arissta. 2014. Pemberlakuan Upah Minimum dalam Sistem Pengupahan Nasional Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Tenaga Kerja. Bidang Kesejahteraan Rakyat Deputi Perundang-undangan Sekretariat Jenderal DPR RI.

Ukkas, Imran. 2017. Fajtor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Industri Kecil Kota Palopo.

Palopo: STIE Muhammadiyah Palopo.

Widyastuti, Astriana, 2012. Analisis Hubungan Antara Produktivitas Pekerja dan Tingkat Pendidikan Pekerja Terhadap Kesejahteraan Keluarga di Jawa Tengan Tahun 2009. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berkaitan dengan angka-angka yang diperoleh dari hasil pengukuran getaran mekanis,

environmental (lingkungan) terhadap minat berwirausaha mahasiswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif asosiatif dengan data yang diperoleh dari angka yang

Data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka-angka sebagai hasil observasi atau penelitian. Data kuantitatif berupa skor penilain setiap poin kriteria

Metode Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif, dimana penelitian ini berwujud angka-angka yang dihitung selanjutnya

Data kuantitatif merupakan data berbentuk angka-angka secara langsung dari hasil penelitian yang diperoleh dari kuisioner yang dibagikan kepada pelanggan jasa

Analisis kuantitatif adalah analisis data yang menggunakan data berbentuk angka-angka yang diperoleh sebagai hasil pengukuran atau penjumlahan (Nurgiyantoro dkk,

Sedangkan bentuk penelitian yang digunakan adalah bentuk kuantitatif, Metode Penelitian kuantitatif data yang diperoleh dan dianalisis dalam bentuk angka, mulai dari pengumpulan data,

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, dimana data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang Good Corporate Governance 