• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Nasofaring

N/A
N/A
Andrian Alfajri

Academic year: 2024

Membagikan "Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Nasofaring"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

REFARAT

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG DAN NASOFARING

Disusun Oleh :

Ega Florence Bernadette Sihombing

PEMBIMBING :

Dr. dr. Lia Restimulia, Sp. T.H.T.B.K.L

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul “Anatomi dan Fisiologi Hidung dan Nasofaring”.

Referat ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

Dalam proses penyusunan referat ini, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada dr. Lia Restimulia, Sp.T.H.T.B.K.L selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan membantu penulis selama proses penyusunan referat.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya.

Medan, 14 Februari 2023

Penulis

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dibacakan pada tanggal :

Nilai :

Penguji

Dr. dr. Lia Restimulia, Sp.T.H.T.B.K.L

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

LEMBAR PENGESAHAN...iii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR...v

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Tujuan Penulisan...1

1.3. Manfaat Penelitian...1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...2

2.1. Anatomi Hidung...2

2.1.1. Hidung Bagian Luar...2

2.1.2. Hidung Bagian Dalam...3

2.1.3. Perdarahan Hidung...5

2.1.4. Persarafan Hidung...6

2.1.5. Sinus Paranasal...6

2.1.6. Sistem Transpor Mukosilier...8

2.2. Fisiologi Hidung...10

2.3. Anatomi Nasofaring...14

BAB III KESIMPULAN...16

DAFTAR PUSTAKA...17

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Hidung bagian luar

Gambar 2.2. Kerangka tulang dan kartilago hidung Gambar 2.3. Dinding lateral kavum nasi

Gambar 2.4. Potongan koronal meatus media menunjukkan kompleks osteomeatal Gambar 2.5. Persarafan hidung

Gambar 2.6. Sinus paranasalis

Gambar 2.7. Aktivasi reseptor sel olfaktorius

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hidung merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh manusia Hidung berbentuk seperti piramida yang bagian luarnya terdiri atas pangkal hidung, batang hidung, puncak hidung, ala nasi, kolumela, dan lubang hidung.

Hidung memiliki berbagai fungsi yang penting yaitu fungsi respirasi sebagai penyaring udara dan saluran awal pernafasan , fungsi penciuman karena terdapat nervus olfaktorius, fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, fungsi statistic dan mekanik, serta refleks nasal (Soetjipto et al, 2012).

Pemahaman yang baik tentang anatomi dan fisiologi hidung merupakan bekal yang sangat diperlukan untuk memahami berbagai penyakit pada hidung.

1.2. Tujuan Penulisan

Referat ini bertujuan untuk melengkapi tugas di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

1.3. Manfaat Penelitian

Referat ini diharapkan dapat memberi wawasan kepada penulis maupun pembaca mengenai anatomi dan fisiologi hidung dan nasofaring.

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Hidung

2.1.1. Hidung Bagian Luar

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah:

1) pangkal hidung (bridge), 2) batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (tip),

4) ala nasi, 5) kolumela,

6) lubang hidung (nares anterior).

Gambar 2.1. Hidung bagian luar (Dhingra PL, 2017).

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan kartilago yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempikan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari os nasal, prosesus frontalis os maksila, dan prosesus nasalis os frontal. Bagian kartilago terletak di bagian bawah hidung, yang terdiri atas sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago nasalis inferior, kartilago alar mayor, dan tepi anterior kartilago septum (Soetjipto et al, 2012).

(8)

Gambar 2.2. Kerangka tulang dan kartilago hidung ((Dhingra PL, 2017).

(A)Tampak lateral (B)Tampak Basal 2.1.2. Hidung Bagian Dalam

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebacea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan superior (Soetjipto et al, 2012).

Dinding medial hidung adalah septum nasi, yang dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis), dan kolumela (Soetjipto et al, 2012).

Pada dinding lateral terdapat konka nasalis, yaitu penonjolan tulang yang dilapisi mukosa membrane, berjumlah 4 buah yaitu konka inferior, media, superior, dan suprema. Yang terbesar dan letaknya paling bawah adalah konka inferior, kemudian yang lebih kecil lagi adalah konka media, dan yang paling kecil adalah konka superior. Konka keempat adalah konka suprema yang biasanya rudimenter.

(9)

Diantara konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Ada 3 buah meatus tergantung dari letaknya yaitu, meatus inferior, medius, dan superior.. Pada meatus inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Pada meatus medius terdapat muara sinus frontalis, sinus maksilaris, dan sinus etmoid anterior. Sedangkan pada meatus superior terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid (Soetjipto et al, 2012).

Gambar 2.3. Dinding lateral kavum nasi (Hansen JT, 2010)

Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis merupakan lempeng tulang berasal dari os etmoid, merupakan tempat masuknya serabut saraf olfaktorius. Di bagian posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid. (Soetjipto et al, 2012)

Kompleks Osteomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang terletak di anterior. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatum, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi, resesus frontalis. Jika terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait (Soedjipto et al, 2012).

(10)

Gambar 2.4. Potongan koronal meatus media menunjukkan kompleks osteomeatal (Dhingra PL, 2017).

2.1.3. Perdarahan Hidung

Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a. karotis interna.

Bagian bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang a. maksilaris interna, diantarnya adalah ujung a. palatine mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang- cabang a. fasialis.

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang a.sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatine mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (perdarahan hidung), terutama pada anak (Soedtjipto et al, 2012).

Perdarahan hidung dari bagian belakang terdiri dari suplai dari cabang- cabang a. maksilaris interna, yaitu : a. nasalis posterior, a. sfenopalatina, dan a.

faringeal asendens yang disebut pleksus Woodruff (Dhingra PL, 2014).

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. oftalmika yang berhungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.

(11)

2.1.4. Persarafan Hidung

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari N.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang darai n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmikus (N. V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut saraf sensoris dari n. maksila (N.V-2) , serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut saraf simpatis dari n. petrosus profundus.

Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media (Soetjipto et al, 2012)..

Gambar 2.5. Persarafan hidung (Hansen JT, 2010)

Fungsi penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

2.1.5. Sinus Paranasal

Sinus paranasal merupakan rongga-rongga yang terdapat di sekitar hidung, dimana sinus-sinus tersebut akan bermuara ke rongga hidung. Terdapat empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid (Moore, Dalley and Agur, 2018).

(12)

Ga mbar 2.6. Sinus Paranasalis (Medscape, 2017).

1) Sinus maxillaris, terletak di corpus maksila dan berhubungan dengan meatus nasi medius. Sinus ini merupakan sinus paranasal terbesar.

2) Sinus frontalis, terletak di antara tabula dalam dan luar dari os frontal, dibelakang Arcus superciliaris dan radix nasi.

3) Sinus sphenoidalis, terletak dalam corpus os sphenoidalis dan dapat meluas ke dalam ala tulang tersebut.

4) Sinus ethmoidalis, terletak pada tulang ethmoid diantara mata dan hidung yang terdiri atas 3 pasang sinus (anterior, medial, dan posterior). Terdapat selapis tulang tipis yang memisahkan sinus ini dengan mata.

(13)

2.1.6. Sistem Transpor Mukosilier

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histopatologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan (respiratori) dan mukosa penghidu (olfaktorius).

Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior, dan sepertiga atas septum, permukaannya dilapisi oleh epitel kolumnar berlapis semu tidak bersilia (pseudostratified collumner non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal, dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. (Soetjipto et al, 2012).

Di bagian vestibulum nasal, epitel yang melapisinya adalah epitel skuamos sel. Di bagian pinggir depan konka inferior epitel tadi bertransisi menjadi epitel kubus dan kemudian dilapisi mukosa respiratori epitel kolumnar silia berlapis semu (pseudostratified columnar ciliated epithelium). Sedangkan di bagian paling belakang nasofaring, epitel mukosa kembali menjadi epitel skuamos non keratin (Snow, 2009).

Silia merupakan struktur yang menonjol dari permukaan sel. Bentuknya panjang, dibungkus oleh membran sel dan bersifat mobile. Jumlah silia mencapai 200 buah pada tiap sel. Panjangnya antara 2-6 µm dengan diameter 0,3 µm.

Stuktur silia terbentuk dari dua mikrotubulus sentral tunggal yang dikelilingi sembilan pasang mikrotubulus luar. Masing-masing mikrotubulus dihubungkan satu sama lain oleh bahan elastik yang disebut neksin dan jari-jari radial. Tiap silia tertanam pada badan basal yang letaknya tepat di bawah permukaan sel (Kurniawan P dan Pawarti DR, 2012).

Pola gerakan silia yaitu gerakan cepat dan tiba-tiba ke salah satu arah (active stroke) dengan ujungnya menyentuh lapisan mukoid sehingga menggerakkan lapisan ini, kemudian silia bergerak kembali lebih lambat dengan ujung tidak mencapai lapisan tadi (recovery stroke). Perbandingan durasi geraknya kira-kira 1 : 3, dengan demikian gerakan silia seolah-olah menyerupai ayunan tangan seorang perenang. Silia ini tidak bergerak secara serentak, tetapi

(14)

sama, menyebabkan pola gerak silia dengan frekuensi denyut (ciliary beat frequency) sebesar 1000 getaran per menit. Gerakan silia terjadi karena mikrotubulus saling meluncur satu sama lainnya. Sumber energinya ATP yang berasal dari mitokondria. (Kurniawan P dan Pawarti DR, 2012).

Dalam keadaan normal mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucose blanket) pada permukaanya.

Palut lendir dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel, kelenjar seromukosa, dan kelenjar lakrimal. dari palut lendir menyelimuti mikrovili atau disebut lapisan perisilisar (sol layer) terdiri dari cairan serosa yang mengandung laktoferin,lisozim , inhibitor lekoprotease sekretorik, dan IgA sekretorik(s-IgA).

Bagian permukaan palut lendir menyelimuti silia (gel layer) terdiri dari mukus yang lebih elastik dan banyak mengandung protein plasma seperti albumin, IgG, IgM, dan faktor komplemen . (Soetjipto et al, 2012).

Kedalaman lapisan perisiliar sangat penting untuk mengatur interaksi antara silia dan palut lendir, serta sangat menentukan pengaturan transportasi mukosiliar hidung. Pada lapisan perisiliar yang sangat dangkal, maka lapisan superfisial yang pekat akan masuk ke dalam ruang perisiliar. Sebaliknya pada keadaan peningkatan perisiliar, maka ujung silia tidak akan mencapai lapisan superfisial yang dapat mengakibatkan kekuatan aktivitas silia terbatas atau terhenti sama sekali (Kurniawan P dan Pawarti DR, 2012).

Lisozim (muramidase) yang dihasilkan mucus dapat merusak beberapa bakteri. IgA berfungsi untuk mengeluarkan mikroorganisme dari jaringan dengan mengikat antigen tersebut pada lumen saluran napas. Glikoprotein yang dihasilkan oleh sel mucus penting untuk pertahanan local yang bersifat antimicrobial.. Sedangkan IgG bereaksi di dalam mukosa dengan memicu reaksi inflamasi jika terpajan dengan antigen bakteri (Soetjipto et al, 2012).

Sistem transport mukosilier merupakan sistem pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, dan jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara. Efektivitas sistem transport mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan palut lendir. Transport mukosiliar hidung terdiri dari dua sistem yang merupakan gabungan dari lapisan mukosa dan epitel yang bekerja secara

(15)

simultan. Sistem ini tergantung dari gerakan aktif silia yang mendorong gumpalan mucus (Kurniawan P dan Pawarti DR, 2012).

Ujung silia dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan mukus, kemudian menggerakkannya ke arah di bawahnya akan dialirkan ke arah posterior oleh aktivitas silia. Transport mukosiliar hidung yang bergerak secara aktif ini sangat penting untuk kesehatan tubuh. Bila sistem ini tidak bekerja secara sempurna maka materi yang terperangkap oleh palut lendir akan menimbulkan penyakit. Pergerakan silia lebih aktif pada meatus medius dan inferior yang menyebabkan gerakan mukus dalam hidung umumnya ke belakang, silia cenderung akan menarik lapisan mukus dari kavum nasi ke dalam celah-celah ini.

Pada dinding lateral terdapat 2 rute besar transport mukosilier. Rute pertama merupakan gabungan sekresi sinus frontal, maksila, dan etmoid anterior.

Sekret ini biasanya bergabung di dekat infundibulum etmoid, selanjutnya berjalan menuju tepi bebas prosesus unsinatus, dan sepanjang dinding medial konka inferior menuju nasofaring melewati bagian antero-inferior orifisium tuba eustachius..

Rute kedua, merupakan gabungan sekresi sinus etmoid posterior dan sfenoid yang bertemu di resesus sfenoetmoid dan menuju nasofaring pada bagian postero-superior orifisium tuba eustachius. Sekret yang berasal dari meatus superior dan septum akan bergabung dengan sekret rute pertama, yaitu di inferior tuba eustachius. Sekret pada septum akan berjalan vertical kearah bawah terlebih dahulu kemudian ke belakang dan menyatu di bagian inferior tuba eustachius.

Dari nasofaring, sekret selanjutnya jatuh ke bawah dibantu dengan gaya gravitasi dan proses menelan (Soetjipto et al, 2012).

2.2. Fisiologi Hidung

Fungsi fisologis hidung dan sinus paranasal adalah :

1) Fungsi respirasi, untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, dan penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik local.

(16)

2) Fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu.

3) Fungsi fonetik, yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang

4) Fungsi static dan mekanik, untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma, dan pelindung panas

5) Refleks nasal a. Fungsi Respirasi

Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah kea rah nasofaring. Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hamper jenuh oleh uap air, sehingga terjadi sedikit penguapan inspirasi oleh palut lendir, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Suhu udara yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37c oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri, dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring oleh rambut pada vestibulum nasi , silia, dan palut lendir, Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan reflex bersin.

b. Fungsi Penghidu

Hidung bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior, dan sepertiga bagian atas septum.

Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat. Fungsi hidung untuk membantu indra pengecap adalah untuk membedakan rasa manis yang berasal dari berbagai macam bahan, seperti perbedaan rasa manis strawberi, jeruk pisang, atau coklat. Juga untuk membedakan rasa asam yang berasal dari cuka dan asam jawa (Soetjipto et al, 2012).

(17)

Reseptor penghidu terletak pada superior nostril, yaitu pada septum superior pada struktur yang disebut membran olfaktori. Bagian dari saraf penghidu yang berkaitan langsung dengan odoran, molekul penghidu, yaitu silia dari sel olfaktori.

Saat melakukan inspirasi yang dalam, lebih banyak molekul udara yang masuk menyentuh mukosa olfaktorius sehingga sensasi penghidu dapat dirasakan.

Kemudian aroma dan bau-bauan dapat mencapai neuroepithelium yang mengubah molekul ikatan odoran oleh reseptor menjadi impuls listrik yang nantinya akan dibawa hingga ke otak. Neuroepithelium olfaktori tersebar ke dalam 3 area besar:

septum superior, bagian superior dari konka superior dan sedikit di bawah dari bagian superior konka media. Ketiga struktur ini didefinisikan sebagai “olfactory cleft (celah olfaktorius). Area celah olfaktori ini dapat diakses baik dari aliran udara orthonasal (inspirasi langsung ke dalam kavum nasi) dan retronasal (jalur molekulodoran melalui mulut dan area postnasal) (Snow & Wackym, 2009)..

Gambar 2.7. Aktivasi reseptor sel olfakorius (Tortora, 2009)

Sebelum dapat menempel dengan silia sel olfaktori, odoran tersebut harus dapat larut dalam mukus yang melapisi silia tersebut. Odoran yang hidrofilik dapat larut dalam mukus dan berikatan dengan reseptor pada silia tersebut, yaitu

(18)

pada protein reseptor pada membran silia sel olfaktori. Terdapat tiga syarat dari odoran tersebut supaya dapat merangsang sel olfaktori, yaitu:

 Bersifat larut dalam udara, sehingga odoran tersebut dapat terhirup hidung

 Bersifat larut air/hidrofilik, sehingga odoran tersebut dapat larut dalam mukus dan berinteraksi dengan silia sel olfaktorius

 Bersifat larut lemak/lipofilik, sehingga odoran tersebut dapat berikatan dengan reseptor silia sel oflaktorius

Pengikatan antara reseptor dengan odoran menyebabkan aktivasi dari protein G, yang kemudian mengaktivasi enzim adenil siklase dan mengaktifkan cAMP.

Pengaktifan cAMP ini membuka kanal Na+ sehingga terjadi influks natrium dan menyebabkan depolarisasi dari sel olfaktorius. Depolarisasi ini kemudian menyebabkan potensial aksi pada saraf olfaktorius dan ditransmisikan hingga sampai ke korteks serebri.

Pada membran mukus olfaktori, terdapat ujung saraf bebas dari saraf trigeminus yang menimbulkan sinyal nyeri. Sinyal ini dirangsang oleh odoran yang bersifat iritan, seperti peppermint, menthol, dan klorin. Perangsangan ujung saraf bebas ini menyebabkan bersin, lakrimasi, inhibisi pernapasan, dan refleks respons lain terhadap iritan hidung.

Pada keadaan istirahat, resting potential dari sel olfaktori yaitu sebesar -55mV.

Sedangkan, pada keadaan terdepolarisasi, membrane potential sel olfaktori yaitu sebesar -30mV. Graded potential dari sel olfaktori menyebabkan potensial aksi pada sel mitral dan tufted yang terdapat pada bulbus olfaktorius. Sinyal pada sel mitral dan sel tufted pada bulbus olfaktorius menjalar menuju traktus olfaktorius.

Traktus olfaktorius kemudian menuju area olfaktorius primer pada korteks serebral, yaitu pada lobus temporalis bagian inferior dan medial. Aktivasi pada area ini menyebabkan adanya kesadaran terhadap odoran tertentu yang dihirup (Guyton, 2006).

c. Fungsi fonetik.

Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang

(19)

sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung juga membantu proses pembentukan kata-kata selain lidah, bibir, dan palatum mole.

d. Refleks nasal

Mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler, dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan reflex bersin dan napas berhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi air liur, lambung, dan pankreas (Soetjipto et al, 2012).

2.3. Anatomi Nasofaring

Nasofaring adalah bagian atas tenggorok (faring) yang terletak di belakang hidung. Nasofaring berbentuk seperti sebuah kotak berongga, yang terletak di bagian lunak atap mulut (palatum mole) dan di belakang hidung.

Nasofaring berfungsi untuk melewatkan udara dari hidung menuju ke tenggorokan yang akhirnya ke paru-paru. Bagian atas nasofaring dibentuk oleh korpus sfenoid dan prosesus basilar os oksipital. Sebelah anterior dibentuk oleh koana dan palatum mole, sebelah posterior dibentuk oleh vertebra vertikalis, dan sebelah inferior dilanjutkan oleh orofaring.

Pada dinding lateral nasofaring terdapat orificium tuba Eustachius yang terletak di belakang ujung konka inferior. Pada bagian atas dan belakang orifisium tuba Eustachius terdapat penonjolan kartilago eustachius. Kantung di sudut faring diantara tepi posterior kartilago eustachius dan dinding posterior dikenal sebagai fossa rosenmuler. Jaringan adenoid di nasofaring dapat ditemukan pada dinding atas dan posterior, meluas ke fossa rosenmuller dan orifisium tuba eustachius.

Adenoid terdiri dari jaringan limfoid.

Nasofaring diperdarahi melalui cabang a. carotis eksterna, yaitu a.

faringeal desendens dan asendens serta cabang a.sfenopalatina. Darah vena keluar dari pembuluh darah balik faring di permukaan luar dari dinding muskuler yang menuju pleksus pterigoid dan v. jugularis interna

(20)

Daerah nasofaring mendapat persarafan dari saraf sensorik yang terdiri dari n.glossofaringeus (N.IX) serta cabang maxilla dari n. trigerminus (N.V-2) menuju ke bagian anterior nasofaring (Snow, 2009).

(21)

BAB III KESIMPULAN

Hidung merupakan organ berbentuk piramida yang dirangkai oleh tulang and tulang rawan dan terbagi menjadi struktur luar dan dalam. Struktur luar hidung terdiri atas: pangkal hidung, batang hidung, puncak hidung, ala nasi, kolumela, dan lubang hidung. Struktur dalam hidung terdiri atas bagian-bagian yang dimulai dari nares anterior hingga koana di posterior.

Pada hidung terdapat sistem transport mukosilier yang merupakan sistem pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, dan jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara.

Hidung memiliki beberapa peranan penting seperti fungsi pernafasan untuk mengatur udara yang masuk, penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal. Selain itu, terdapat fungsi penciuman melalui nervus olfaktorius, fungsi fonetik untuk resonansi suara, membantu proses berbicara, dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang, fungsi statistic dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi dari trauma, dan pelindung panas, serta reflex nasal.

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Dhingra PL. 2017. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery seventh edition. Elsevier

Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. Ed ke-11.

Philadelphia: Saunders Elsevier. p663-670.

Hansen JT. 2010. Netter’s Clinical Anatomy 2nd Edition. Canada :Elsevier

Kurniawan P, Pawarti DR. 2012. Transport Mukosiliar Hidung Pada Rinitis Alergi. Jurnal THT-KL 5(1) : p.62 - 73

Moore KL, Dalley AF, dan Agur AM. 2018. Clinically Oriented Anatomy.

Wolters Kluwer Health.

Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-7. Jakarta: BP FKUI

Singh A, 2017. Paranasal Sinus Anatomy. Medscape. Tersedia pada : https://emedicine.medscape.com/article/1899145-overview. [Diakses pada : 14 Februari 2023]

Snow, J., & Wackym, P. A. 2009. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery (Centennial). People’s Medical Publishing House.

Tortora GJ, Derrickson B. 2009. Principles of Anatomy and Physiology 12th Edition. USA: John Wiley & Sons. p.601

Gambar

Gambar 2.1. Hidung bagian luar (Dhingra PL, 2017).
Gambar 2.2. Kerangka tulang dan kartilago hidung ((Dhingra PL, 2017).
Gambar 2.3. Dinding lateral kavum nasi (Hansen JT, 2010)
Gambar 2.4. Potongan koronal meatus media menunjukkan kompleks osteomeatal (Dhingra PL, 2017)
+3

Referensi

Dokumen terkait

9 Dokter Spesialis THT Spesialis (S2) sesuai dengan kualifikasi pendidikan di bidang Ilmu Kedokteran spesialis Telinga Hidung Tenggorokan. 10 Dokter Spesialis Radiologi Spesialis

Sari’ bin Hamd Ad Dausri - seorang ahli di bidang THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), dan dia adalah kepala lembaga Al-Jum’iyyah As-Su’udiyyah urusan THT, kepala, dan

ANATOMI DAN

Web interaktif dan mudah dimengerti yang berisi mengenai informasi kesehatan khususnya penyakit Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan cara penanganannya pada balita usia 0 hingga 2

Anatomi dan Fisiologi sistem

Anda sudah mempelajari anatomi dan fisiologi telinga, sebut Anatomi telinga luar, tengah, dan dalam, beserta fungsinya!. Telinga seseorang kadang-kadang mengalami gangguan

Anatomi Sistem Pernafasan Berikut anatomi system pernafasan sebagai berikut: 1 Rongga Hidung Hidung merupakan organ utama saluran pernapasan yang langsung berhubungan dengan dunia

Telinga berdengung Karsinoma Nasofaring KNF merupakan keganasan Tumor ganas/kanker yang muncul pada daerah nasofaring area di atas tenggorok dan di belakang hidung Komite