• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANPEN TURNITIN

N/A
N/A
milatul fatkhiyah

Academic year: 2024

Membagikan "ANPEN TURNITIN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Kebijkan Madrasah Ibtidaiyah Pasca Berlakunya Kurikulum Merdeka

1Milatul Fatkhiyah UIN Abdurrahman Wahid

Pekalongan

[email protected]

2Nafa Alfaini Uspari UIN Abdurrahman Wahid

Pekalongan 3Halwa Anjumi

UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan

4Ahmad Ta'rifin

UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan

[email protected]

Abstrak

Kementerian Agama kemudian mengikuti perubahan kurikulum di Kementerian Pendidikan dengan mengeluarkan KMA No. 347 Tahun 2022, yang mengatur penerapan kurikulum merdeka di institusi pendidikan madrasah. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, artikel ini ingin menganalisis tentang bagaimana kebijakan MI Al- Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang setelah diberlakukannya kurikulum merdeka sesuai kebijakan KMA RI No. 347 Tahun 2022. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah field research dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer diperoleh dari seluruh civitas akademika MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Adapun Teknik analisis data melalui tiga tahap, yaitu reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa MI Al-Asyraf sudah mengimplementasikan kebijakan kurikulum Merdeka meliputi kesiapan sekolah dan guru, membentuk tim pengembang kurikulum, penyusunan perangkat pembelajaran, penilaian MI Al-Asyraf pada kurikulum Merdeka, penerapan penguatan profil pelajar Pancasila.

Kata kunci: Kebijakan, Madrasah Ibtidaiyah, Kurikulum Merdeka

(2)

Abstract

The Ministry of Religion then followed the curriculum changes at the Ministry of Education by issuing KMA No. 347 of 2022, which regulates the implementation of the independent curriculum in madrasah educational institutions. Based on this background, this article wants to analyze the policies of MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang after the implementation of the independent curriculum in accordance with KMA RI policy No. 347 of 2022. This article uses a qualitative approach. The type of research used in this research is field research with a descriptive qualitative approach.

Primary data sources were obtained from the entire academic community of MI Al- Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang. The data in this research was collected using observation, interviews and documentation techniques. The data analysis technique goes through three stages, namely reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results of this research are that MI Al-Asyraf has implemented the Merdeka curriculum policy including school and teacher readiness, forming a curriculum development team, preparing learning tools, assessing MI Al- Asyraf on the Merdeka curriculum, implementing strengthening the Pancasila student profile.

Keywords : Policy, Madrasah Ibtidaiyah, Independent Curriculum PENDAHULUAN

Madrasah Adabiyah di Padang (Sumatera Barat) yang didirikan oleh Syekh Abdullah Akhmad pada tahun 1909 menunjukkan bahwa madrasah sudah ada sejak awal abad ke-20. Sejak saat itu, orang-orang Islam dan organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, dan lainnya mendirikan madrasah. Selama penjajahan, Madrasah dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda. Ini dilakukan karena mereka khawatir tentang munculnya militansi muslim di sekolah. sementara selama pemerintahan penjajahan Jepang, madrasah menerima bantuan keuangan. Setelah Indonesia merdeka, madrasah berkembang. Pemerintah Republik Indonesia memperhatikan dan membantu Madrasah, yang didirikan sebagai modal sumber pendidikan nasional berdasarkan UUD 1945. Menteri PP dan K juga meminta bantuan materi. Setelah Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri keluar pada 24 Maret 1979, madrasah baru memiliki status yang sama dengan sekolah umum setingkat. Sejak Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 2 tahun 1989, pemerintah memasukkan madrasah ke dalam sistem pendidikan nasional (Nursalim, 2020; Praptiningsih, 2019).

Kurikulum adalah komponen pendidikan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan karena sangat penting untuk keberlangsungan proses belajar dan mengajar. Ini juga berfungsi sebagai dasar untuk pembelajaran di sekolah. Kurikulum

(3)

satuan pendidikan negara dapat menunjukkan arah dan perspektif hidupnya (Syam, 2017).

Sejak Indonesia bebas dari penjajahan pada 1945, kurikulumnya telah berubah secara bertahap. Perubahan terjadi pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, dan 2013. Perubahan dalam politik, kebudayaan, ekonomi, dan kemajuan teknologi di Indonesia menyebabkan kurikulum pendidikan berubah. Untuk mencapai tujuan, perubahan harus terjadi ke arah kebaikan. Kurikulum sekolah di Indonesia telah banyak berubah, tetapi tetap berdasarkan Pancasila dan Konstitusi UUD 1945. Kedua menjadi tujuan pendidikan untuk mencapainya (Insani, 2019; Yuliyanti et al., 2022). Kurikulum disesuaikan dengan perubahan zaman untuk memenuhi keinginan masyarakat untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi. Kurikulum merdeka menjadi harapan baru dalam kurikulum sebelumnya untuk menjawab persaingan global yang menuntut keterampilan unggul.

Kurikulum bebas diatur oleh Surat Keputusan (SK) Nomor 56 Tahun 2022 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Ada 16 poin utama dalam SK. Salah satunya mencakup program pendidikan yang disederhanakan untuk pendidikan dasar dan menengah. Struktur kurikulumnya terdiri dari dua kegiatan utama:

pembelajaran di dalam kelas dan proyek untuk meningkatkan profil siswa Pancasila.

Pemerintah merekomendasikan kurikulum bebas supaya siswa tidak merasa terbebani saat belajar. Tujuan kurikulum merdeka juga adalah mendorong siswa untuk menguasai bidang ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Selanjutnya, Kementerian Agama mengeluarkan KMA No. 347 Tahun 2022 untuk mengikuti perubahan kurikulum di Kementerian Pendidikan. Ini mengatur penerapan kurikulum merdeka di sekolah menengah. Ini berbeda dengan KMA No. 183 Tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama sebelumnya, yang menggantikan KMA No. 165 Tahun 2013, yang mengatur penerapan kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang berfokus pada penerapan nilai-nilai moderasi beragama bagi siswa. Ada beberapa situasi di mana pekerjaan rumah untuk menyelesaikan terkait pelaksanaan kurikulum madrasah berdasarkan KMA No. 183 Tahun 2019 masih perlu diselesaikan. Kurikulum baru harus diterapkan dalam situasi lain, bagaimanapun. Oleh karena itu, madrasah harus kembali mempersiapkan diri untuk secara bertahap menyambut kurikulum merdeka.

Berdasarkan pada permasalahan tersebut artikel ini berjudul: “Analisis Kebijakan Madrasah Ibtidaiyah Pasca Berlakunya Kurikulum Merdeka”. Di dalamnya berisi studi analisis tentang bagaimana kebijakan MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang setelah diberlakukannya kurikulum merdeka sesuai kebijakan KMA RI No. 347 Tahun 2022.

METODE

Penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam artikel ini. Data primer diperoleh dari seluruh civitas akademika MI Al-Asyraf Pondok

(4)

Modern Tazakka Batang, termasuk guru, kepala madrasah, waka kurikulum, dan waka kesiswaan. Sumber data sekunder terdiri dari berbagai dokumen pendukung, seperti arsip, buku, artikel, jurnal ilmiah, dan surat. Penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan di MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang untuk mencari data mengenai kebijakan pendidikan pasca berlakunya kurikulum Merdeka. Adapun wawancara dilakukan terhadap kepala MI Al- Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang, waka kurikulum, waka kesiswaan, guru selaku penanggung jawab kegiatan pembelajaran, dan siswa MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang. Dokumentasi dilakukan untuk mencari data mengenai hal-hal berupa catatan sejarah berdirinya, MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang dan letak geografisnya, dan kegiatan di dalamnya. Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan analisis data dengan teori Miles dan Huberman melalui tiga tahap, yaitu reduction, data display, dan conclusion drawing/verification (Miles & A. Michael Huberman, 1992).

Pada tahap reduksi data, data yang dikumpulkan mengenai kebijakan MI Al-Asyraf Pondok Modern Tazakka Batang pasca berlakunya kurikulum merdeka dirangkum dan difokuskan pada hal-hal penting. Untuk memudahkan pemaparan dan penegasan kesimpulan, hasil reduksi data diolah menjadi sketsa, sinopsis, matriks, dan bentuk lainnya. Selama pekerjaan mereka di lapangan, peneliti terus berusaha untuk mencapai kesimpulan. Selama penelitian berlangsung, temuan juga diverifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 A. DASAR HUKUM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Hukuman yang menjadi dasar untuk menerapkan Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut: 1) Permendikbudristek nomor 5 tahun 2022 yang menetapkan standar kelulusan pendidikan pada anak usia dini, yang mencakup tahap pendidikan dasar dan pendidikan menengah; 2) Permendikbudristek nomor 7 tahun 2022 tentang pendidikan anak usia dini, yang mencakup tahap pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang menyelaraskan standar isi; dan 3) Permendikbudristek nomor 56 tahun 2022 yang menetapkan standar kelulusan pendidikan pada anak usia 4) Keputusan kepala BSKAP nomor 008/H/KR/2022 pada tahun 2022 berkaitan dengan pencapaian target proses belajar mengajar untuk pendidikan anak usia dini di sekolah dasar dan sekolah menengah sesuai dengan pedoman Kurikulum Merdeka yang telah ditentukan. 5) Keputusan kepala BSKAP nomor 009/H/KR/2022 pada tahun 2022 berkaitan dengan profil. (Nurani, dkk., 2022). (STIT Pemalang Akhmad Zaenul Ibad et al., 2023)

(5)

Beberapa madrasah yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam sebagai madrasah percontohan (piloting) mulai menggunakan kurikulum merdeka sejak tahun pelajaran 2022/2023. 2.571 madrasah di seluruh Indonesia, dari jenjang RA, MI, MT, dan MA/MAK, memilih untuk menerapkan kurikulum mandiri. Kebijakan ini dijelaskan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 3811 Tahun 2022 tentang Madrasah Pelaksana Kurikulum Merdeka Tahun Pelajaran 2022/2023.

Panduan pembelajaran dan asesmen kurikulum merdeka yang dirilis oleh Direktorat KSKK Madrasah mewajibkan guru madrasah calon pengampu mata pelajaran untuk memahami capaian pembelajaran (CP), membuat alur tujuan pembelajaran (ATP), dan menerapkan kurikulum merdeka untuk mendukung keberhasilan penerapan kurikulum merdeka di madrasah.

Keputusan Mendikbud Ristek No. 262/M/2022, yang diubah dari Keputusan Mendikbud Ristek No. 56/M/2022, berisi informasi tentang asesmen, struktur kurikulum, pedoman kurikulum, dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Namun, Keputusan Kepala BSKAP No. 008/H/KR/2022 Tahun 2022 menetapkan Capaian Pembelajaran (CP). Keputusan Kepala BSKAP No. 009/H/KR/2022 Tahun 2022 menetapkan aspek dimensi, elemen, dan sub elemen profil pelajar pancasila. Pendidik di madrasah yang mengajar mata pelajaran umum harus terlebih dahulu membaca, memahami, dan menganalisis panduan yang dibuat oleh Kemendikbudristek. Guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab juga harus membaca, memahami, dan menganalisis panduan yang dibuat oleh Kementerian Agama. .(Sutri Ramah & Miftahur Rohman, 2023)

B. STRUKTUR KURIKULUM MERDEKA

Struktur pelaksanaan kurilukum merdeka dalam Madrasah Ibtidaiyah dibagi menjadi 3 yaitu:

1.) Tahap I yaitu kelas I dan kelas II.

2.) Tahap II pada kelas III dan kelas IV.

3.) Tahap III pada kelas V dan kelas VI (Nurani, dkk., 2022).

Dalam proses pembelajaran, Madrasah Ibtidaiyah memiliki wewenang untuk menggunakan tematik atau pendekatan mata pelajaran sebagai satuan pendidikan yang diterapkan. Mereka dapat mengatur materi pelajaran dengan menggunakan pendekatan mata pelajaran, yang juga disebut sebagai tematik. Metode pembelajaran dibagi menjadi dua bagian, yaitu

1)Kegiatan belajar mengajar madrasah ibtidaiyah (intrakurikuler).

(6)

2)Pengalokasian waktu dua puluh persen (20%) dalam satu tahun pembelajaran untuk diproyeksikan pada penguatan profil belajar pancasila di madrasah ibtidaiyah (Nurani, dkk., 2022).

Penggunaan pendekatan mata pelajaran, penerapan kurikulum merdeka, dan penguatan profil belajar pancasila dalam kegiatan intrakurikuler memiliki tujuan untuk memaksimalkan kemampuan peserta didik. Selain itu, mungkin ada generasi berikutnya yang dapat membangun negara berdasarkan prinsip-prinsip Pancasila. (STIT Pemalang Akhmad Zaenul Ibad et al., 2023)

C. KEBIJAKAN KMA RI NO. 347 TAHUN 2022

KMA (Keputusan Menteri Agama) Nomor 347 Tahun 2022 memasukkan moderasi agama ke dalam struktur kurikulum. Menurut kebijakan, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan profil pelajar Pancasila, yang terdiri dari dua komponen:

Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil'Alamin. Sekolah adalah laboratorium terbaik untuk mengembangkan moderasi beragama. Ini karena lembaga pendidikan melakukan pembentukan karakter kader nasional secara sistematis dan terstruktur. Sekolah dapat mengajarkan semua siswa pola pikir moderasi beragama, membantu generasi mendatang melihat dunia dengan cara yang eksklusif, toleran, moderat, dan multikultural. Akibatnya, kehidupan masyarakat Indonesia akan menjadi lebih harmonis di tengah kemajemukan. (Naj'ma & Bakri, 2021).

Oleh karena itu, kebijakan kurikulum merdeka yang dibuat oleh Kementerian Agama sangat tepat untuk mendorong moderasi beragama.Proyek ini adalah kegiatan kokurikuler berbasis proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil mahasiswa Rahmatan Lil'alamin. Profil tersebut disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Tidak seperti proyek penguatan profil pelajar pancasila, proyek penguatan profil pelajar rahmatan lil ‘alamin dirancang secara terpisah dari intrakurikuler, dan muatan, kegiatan, dan waktunya dapat disesuaikan. Namun demikian, jika integrasi pembelajaran diperlukan berdasarkan kinerja siswa, madrasah dapat menggabungkannya dengan pembelajaran intrakurikuler.

Pertama, proyek penguatan profil diintegrasikan dengan subtansi pelajaran;

kedua, dirancang secara kolaboratif antar mata pelajaran; dan ketiga, dilaksanakan secara integratif dalam pengembangan bakat dan minat.Dalam hal ini, penelitian Harmi menunjukkan bahwa masalah lembaga pendidikan dalam proyek penguatan moderasi beragama termasuk masalah kurikuler dan kemampuan pejabat lembaga.

(7)

Maksud dari strategi itu untuk menjamin keberhasilan proyek kebijakan moderasi beragama di lembaga pendidikan, otoritas madrasah harus memahami rencana, tujuan, dan strateginya. Koordinasi sangat penting dalam suatu organisasi.

Selain itu, koordinasi adalah salah satu komponen penting yang diperlukan untuk mendorong orang untuk menerapkan kebijakan terstruktur. Semua pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk mendorong moderasi beragama di lembaga pendidikan. (Harmi, 2022)

Kepala madrasah harus memainkan peran mereka sebagai pengambil keputusan dan pimpinan untuk mencapai moderasi beragama di lembaga pendidikan. Kepala madrasah memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan tentang program yang akan dilaksanakan. Kepala madrasah harus membuat rencana praktis untuk meningkatkan moderasi beragama. Keberhasilan ini sangat bergantung pada manajemen kepala sekolah yang baik. Selain itu, pendekatan pendidik yang diperlukan untuk mendorong moderasi beragama di madrasah. Oleh karena itu, moderasi beragama dapat digunakan untuk melawan radikalisme yang semakin meningkat. (Arni, Saputra, &

Lahmi, 2022).

Buku Panduan Pengembangan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Pelajar Rahmatan lil'Alaminyang, yang dibuat oleh tim pengembang kurikulum independen, menekankan tiga elemen penting dalam madrasah. Pelajar, guru, dan satuan pendidikan adalah ketiga komponen tersebut. Melalui proyek profil pelajar, siswa merupakan subjek pembelajaran yang menjadi pelaku utama dalam meningkatkan moderasi beragama. Sekolah menjalankan sejumlah proyek, dan guru bertindak sebagai fasilitator. Selain itu, asosiasi pendidikan mendukung semua kegiatan proyek tersebut.

(Merdeka, 2022).

Pentingnya moderasi beragama di lembaga pendidikan akan berkurang jika ketiganya tidak ada.Proyek penguatan profil siswa rahmatan lil'alamindi berfokus pada pengembangan moderasi beragama. Ini dapat dicapai melalui kegiatan yang dirancang dalam proses pembelajaran dan pembiasaan yang mendukung sikap moderat.

Pengendalian suasana pembelajaran yang mengutamakan proses pensucian jiwa (tazkiyatun nufus), yang dilakukan melalui proses bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu (mujahadah) dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan melatih jiwa untuk melawan kecenderungan yang buruk (riyadlah). (Muchamad Mufid, 2023).

Di negara yang besar, beraneka ragam, dan sedang berkembang, kurikulum pembelajaran membutuhkan banyak ide, sumber daya, dan materi. Kebudayaan yang

(8)

beragam, tingkat sosial yang tinggi, politik yang ketat, dan ekonomi yang tidak merata adalah semua ciri khas Indonesia. Akan menimbulkan ketidaksepakatan, konflik, dan perjuangan untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Namun, perbedaan ini akan hilang jika proses pengambilan keputusan kurikulum dibandingkan dengan konsep, teori, filosofi, dan visi. Semua perbedaan tersebut akan dihapus oleh otoritas kurikulum. (Uno, 2020).

Proses perubahan kurikulum diputuskan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan untuk membuat keputusan yang cepat dan teliti. Standar nasional merupakan standar utama untuk kurikulum, dan keputusan kurikulum dibuat oleh kepimpinan pusat.

Namun, keadaan madrasah di Indonesia hampir sama. Madrasah memiliki kemampuan untuk mengembangkan, mengembangkan, dan mengurai lebih baik kurikulum. Namun, saat digunakan, tidak boleh bertentangan dengan kurikulum sebagai pedoman pendidikan.

Menurut Mesiono (2018), kurikulum muatan lokal di madrasah juga dapat dibuat berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing madrasah. Tujuannya adalah agar proses belajar mengajar menjadi efisien, efektif, dan inovatif sehingga peserta didik semakin tertarik, semangat, dan bakat. Menurut tujuan Kurikulum Merdeka, yang ditetapkan oleh KMA RI no. 347 pada tahun 2022, kurikulum merdeka memungkinkan madrasah untuk mengelola pendidikan dan pembelajaran secara mandiri dengan tujuan meningkatkan kualitas peserta didik dan memberikan madrasah kesempatan yang unggul untuk menghadapi tantangan zaman.

Ada kemungkinan bahwa pembelajaran tidak hanya memberikan banyak data, pengetahuan, dan pengetahuan, tetapi juga memberikan peserta didik keterampilan untuk mencari dan mengolah data tersebut. Selain itu, menanamkan rasa nasionalisme dalam siswa madrasah. Ini dicapai melalui penerapan prinsip-prinsip Pancasila dalam kurikulumMerdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka mencakup standar kelulusan, standar isi, struktur kurikulum, pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, asesmen, penguatan profil siswa Pancasila, kurikulum operasional sekolah, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum Merdeka, sosialisasi dan pendampingan pelaksanaan Kurikulum Merdeka, dan pencapaian pembelajaran. Ruang lingkup ini berfungsi sebagai pedoman untuk menerapkan kurikulum yang telah ditetapkan.. (KMA RI nomor 347 tahun 2022).

Madrasah yang penting dan berperan sebagai pengelola dan pelaksana pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Kurikulum merdeka mencapai tujuan

(9)

pendidikan yang sesuai dengan jenjang pendidikan. Pencapaian pembelajaran terdiri dari berbagai kompetensi dan materi yang luas berdasarkan tahapan peserta didik.

Dalam Madrasah Ibtidaiyah, syarat kelulusan termasuk fokus pada:

a. Peserta didik diharapkan mampu berakhlak yang mulia dengan bekal keimanan dan ketakwaan, sehingga mampu menjadi bagian dari masyarakat dengan kemulian akhlaknya.

b. Karakter peserta didik dibimbing berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila.

c. Mengembangkan peserta didik dengan kompentensi literasi dan numerasi agar memiliki kompetensi pada pendidikan jenjang selanjutnya (KMA RI nomor 347 tahun 2022).

Menurut kebijakan tersebut, guru di abad ke-21 harus mengikuti perkembangan zaman dengan menggunakan teknologi untuk membuat pembelajaran lebih mendalam, menarik, kreatif, dan inovatif. Diharapkan guru mendorong siswa untuk berpikir kritis dan menggunakan logika untuk mencari solusi bijak. Kualitas dan profesionalitasnya mendukung pembelajaran di kelas dan menjadi inspirasi bagi siswa (STIT Pemalang Akhmad Zaenul Ibad et al., 2023)

D. KEBIJAKAN MI AL-ASYRAF PASCA PENGIMPLEMENTASIAN KURIKULUM MERDEKA

1. Kesiapan sekolah dan guru

Menindaklanjuti Keputusan Mendikbud Ristek Nomor 56/M/2022 yang kemudian dirubah dengan Keputusan Mendikbud Ristek Nomor 262/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran, Menteri Agama mengeluarkan pada KMA 347 Tahun 2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah. KMA ini dikeluarkan dengan pertimbangan bahwa implementasi kurikulum merdeka pada madrasah dilakukan dengan adaptasi dan penyesuaian akan pengembangan kekhasan nilai- nilai madrasah; dan kebutuhan pembelajaran di madrasah. Maka mulai tahun ajaran baru 2023/2024 MI Al-Asyraf mulai menerapkan kurikulum merdeka pada fase A yaitu kelas 1 dan pada fase B yaitu kelas 4 sesuai dengan anjuran pemerintah. Alasan MI Al-Asyraf segera menggunakan kurikulum ini, dikarenakan kurikulum merdeka lebih memberikan keleluasaan pada sekolah untuk mengatur proses pembelajaran yang mandiri dengan disesuaikan pada kebutuhan masing-masing sekolah juga memberi kebebasan kepada sekolah,

(10)

guru, murid dan seluruh sumber daya sekolah untuk berinovasi, bebas belajar secara mandiri dan kreatif, yang dapat dimulai melalui guru sebagai penggerak pendidikan.

Adapun kesiapan guru MI Al-Asyraf dalam penerapan kurikulum, yaitu dengan adanya pelatihan-pelatihan secara online maupun offline yang diadakan sendiri oleh sekolah dengan mendatangkan pelatih atas rekomendasian dari kementrian agama daerah, juga pelatihan tersebut membuka para guru dari lembaga sekolah lain untuk bisa ikut bersama belajar mengenai implementasi kurikulum merdeka. Guru diberi pelatihan bagaimana membuat tujuan pembelajaran berdasarkan dari CP dan menyusun ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) yang telah disediakan oleh pemerintah lalu melihat dan menganalisis materi yang telah tersedia didalam buku guru dan buku siswa.

Dalam penyusunan tujuan pembelajaran ini guru harus mengetahui terlebih dahulu tentang kondisi awal peserta didik, bagaimana minatnya, gaya belajarnya, dan kesiapan belajarnya. Sehingga dengan mengetahui karakteristik peserta didik di kelas masing – masing tujuan pembelajaran dapat disusun.

Tujuan pembelajaran di MI Al-Asyraf menyesuaikan dengan karakter peserta didik masing – masing. Sehingga tujuan pembelajaran antar sekolah dapat berbeda. Hal ini perlu dibuat oleh guru karena untuk melaksanakan assesmen di akhir nanti berdasarkan tujuan pembelajaran.

2. Membentuk Tim Pengembang Kurikulum

Dalam struktur bagian MI Al-Asyraf terdapat tim bagian pengembang kurikulum, Tim pengembang kurikulum ini bisa juga disebut sebagai komite pembelajaran. Jika dalam suatu madrasah terdapat guru dalam jumlah besar, komite pembelajaran ini yang menjadi pionir yang bertanggungjawab dalam pengembangan kurikulum juga mengontrol berjalannya kegiatan belajar mengajar disekolah. Dan Komite pembelajaran ini juga yang nantinya bertanggung jawab atas terlaksananya implementasi Kurikulum Merdeka yang bisa dilakukan melalui in house training dalam satuan pendidikannya masing- masing.

3. Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Dalam kurikulum baru, pemerintah menggunakan modul ajar, modul proyek, dan bahan ajar sebagai sumber belajar. Pada kelas 1 dan 4 MI al-Asyraf semua buku siswa dan buku ajar sudah disesuaikan dengan buku kurikulum merdeka, dengan biaya buku dibebankan pada masing-masing siswa.

(11)

Namun pada penyususnan perangkat pembelajaran, sebagian guru masih belum begitu paham, masih adanya pelatihan khusus secara berkala. Oleh sebab itu, ini menjadi suatu problematika yang harus diselesaikan oleh madrasah dan guru. Hal ini perlu dilakukan karena keberhasilan pembelajaran di sekolah juga berdasarkan modul ajar yang disusun oleh guru. Upaya guru dalam mengembangkan modul sesuai dengan karakteristik sekolah yaitu guru belajar secara mandiri dan membuat modul ajar bersama tutor antar guru.

Akan tetapi pada capaian tiap materi ajar, guru diberi keleluasan untuk mengatur sendiri materi yang akan lebih dulu diberikan pada siswa, seperti contohnya : pada materi Al-Quran hadits kelas 4, pada capaian materi idhar dan idghom yang seharusnya adalah masuk materi di semester 2, namun guru diberi keleluasaan untuk menggantinya di semester 1, dengan syarat kebijakan tersebut sudah diskusikan dengan guru pengajar didaerahnya. Agar tidak adanya kekeliruan pada materi ujian akhir yang dikeluarkan dari kemenag daerah.

4. Penilaian MI Al-Asyraf pada kurikulum merdeka

Penilaian ini di bagi menjadi 2, yitu penilaian sumatif dan formatif. Pada penilaian sumatif, mengikuti jadwal penilaian dari pusat seperti STS, SAS.

Namun kebijakan penilaian pada MI Al-Asyraf , semua soal penilaian dikeluarkan sendiri dari soal, yang mana pembuatan soal adalah dari guru mapel masing-masing kelas. Adapun penilaian formatif yaitu pada aspek afektif siswa, diantranya seperti pembiasaaan siswa disekolah, program cooking class, Outing class, tahsin dan tahfidz dan lain lain, disesuaikan dengan model penilaian Mi al-Asyraf.

5.

Penerapan penguatan profil pelajar Pancasila

Hal yang baru dalam kurikulum merdeka adalah adanya penerapan profil pelajar Pancasila dimana Profil Pelajar Pancasila merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila.

Pernyataan ini memuat tiga kata kunci: pelajar sepanjang hayat, kompeten, dan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menunjukkan adanya paduan antara penguatan identitas khas bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, sebagai rujukan karakter pelajar Indonesia; dengan kompetensi dalam konteks perkembangan Abad 21.

Profil pelajar Pancasila merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional yang berperan sebagai referensi utama yang mengarahkan

(12)

kebijakankebijakan pendidikan termasuk menjadi acuan untuk para pendidik dalam membangun karakter serta kompetensi peserta didik.

Program P5 pada MI Al-Asyraf sudah diterapkan, dan dijadwalkan tiap hari sabtu, pada hari itu pembelajaran dikelas ditiadakan, dan dikhususkan pada ekstrakulikuler pramuka, taekwondo dan program P5. Adapun program P5 pada tiap materi pembelajaran di serahkan pada masing-masing guru pengajar, untuk dapat melaksanakan program P5 dengan disesuaikan materi ajar dikelas.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil temuan penelitian 1) secara garis besar guru kelas 1 dan kelas IV sudah cukup memahami mengenai perubahan kurikulum merdeka karena disini guru mampu menjelaskan karakteristik kurikulum merdeka 2) perencanaan pembelajaran dilakukan dengan mengkaji kurikulum dan buku guru, serta Menyusun modul ajar yang menjabarkan dari CP dan Tujuan Pembelajaran dalam hal ini sebagian guru masih belum memahami sehingga seiring dengan berjalannya waktu guru tetap mengikuti berbagai pelatihan dan pembelajaran mandiri.

3) penerapan project penguatan profil Pancasila yang diterapkan dalam pembelajaran yaitu dengan membuat tim project dan melaksanakan pada jadwal tertentu yang telah dilakukan.

SIMPULAN

Kebijakan MI Al-Asyraf pasca berlakunya kurikulum Merdeka meliputi kesiapan guru MI Al-Asyraf dalam penerapan kurikulum, yaitu dengan adanya pelatihan-pelatihan secara online maupun offline. Dalam struktur bagian MI Al-Asyraf terdapat tim bagian pengembang kurikulum, Tim pengembang kurikulum ini disebut sebagai komite pembelajaran. Pada kelas 1 dan 4 MI al-Asyraf semua buku siswa dan buku ajar sudah disesuaikan dengan buku kurikulum Merdeka. Penilaian MI Al-Asyraf pada kurikulum Merdeka dibagi menjadi dua, yaitu penilaian formatif dan sumatif.

Program P5 pada MI Al-Asyraf sudah diterapkan, dan dijadwalkan tiap hari sabtu, melalui ekstrakulikuler, program P5, dan pada tiap materi pembelajaran dengan disesuaikan materi ajar dikelas.

Referensi

Dokumen terkait

2 pelaksanaan pembelajaran kurikulum merdeka yang sudah dilakukan mahasiswa dengan menerapkan pembelajaran diferensiasi, perlu memperhatikan aspek-aspek dari implementasi pembelajaran

PENDAFTARAN IKM SECARA MANDIRI 30 APRIL 2022 HTTPS://KURIKULUM.GTK.KEMDIKBUD.GO.ID/ Madiri Belajar: menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, dengan tetap

SK Rektor IST AKPRIND Nomor:087/Skep/Rek/VIII/2021 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2021 & Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka MBKM IST AKPRIND Yogyakarta MEMPERHATIKAN : Surat

Berikut adalah 5 strategi implementasi Kurikulum Merdeka yang bisa digunakan oleh satuan pendidikan diantaranya : 1 Platform Merdeka Mengajar; 2 Platform Pintar Kemenag; 3Komunitas

KESEIMBANGAN EKOSISTEM Kelas V Sekolah Dasar Kurikulum Merdeka Kelas V Sekolah Dasar Kurikulum

Implementasi Inovasi Kurikulum Merdeka Implementasi kurikulum merdeka bagi siswa dan guru di Indonesia adalah terkait adanya karakteristik yang digunakan dalam kurikulum ini yakni

Jadwal Kegiatan No Tanggal Kegiatan 1 2 3 4 19 Des 2022 20 -21 Des 2022 22-26 Des 2022 27-29 Des 2022 Melaksanan kegiatan seminar implementasi kurikulum merdeka

Aprima & Sari, 2022 dalam penelitian deskriptif kualitatif yang berjudul Analisis Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pelajaran Matematika