• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANTROPOLOGI AL QURAN KEL 1

N/A
N/A
CALLYSTA SHAFA SALSABILLA FUH

Academic year: 2025

Membagikan "ANTROPOLOGI AL QURAN KEL 1"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Terstruktur Dosen Pengampu (Antropologi Al Quran) (Ibnu Arabi, S.Ag, M.Fil.I)

STRUKTUR TUBUH MANUSIA DAN KEANEKARAGAMANNYA Disusun Oleh:

Calllysta Shafa Salsabilla (230103020058) Nur Zainah (230103020086)

Rezky Anisa Rahmah

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR BANJARMASIN

2025 BAB I

(2)

PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang unik dengan keistimewaan yang membedakannya dari makhluk lain. Dalam berbagai kajian keilmuan, penciptaan manusia telah menjadi topik yang menarik untuk diteliti, baik dari sudut pandang agama maupun sains. Al-Qur'an, sebagai sumber utama dalam Islam, telah menjelaskan bagaimana manusia diciptakan melalui proses yang panjang dan penuh kebijaksanaan.

Keberagaman manusia juga merupakan bagian dari ketetapan Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya. Perbedaan dalam warna kulit, bahasa, budaya, hingga cara berpikir bukanlah alasan untuk berpecah belah, melainkan sebagai sarana untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, yang mengajak manusia untuk melihat perbedaan sebagai anugerah, bukan penghalang dalam kehidupan sosial.

Melalui kajian ini, akan dibahas bagaimana penciptaan manusia dijelaskan dalam Al-Qur'an serta bagaimana keanekaragaman manusia dipandang dalam perspektif Islam. Dengan pendekatan ini, diharapkan kita dapat memahami bahwa manusia tidak hanya diciptakan dengan struktur yang sempurna, tetapi juga dengan perbedaan yang memiliki makna dan tujuan yang mendalam.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL QURAN

Penciptaan manusia merupakan salah satu aspek fundamental yang dibahas dalam Al-Qur’an sebagai bentuk manifestasi kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, penciptaan manusia dijelaskan secara rinci sebagai bukti kebesaran Allah dan keistimewaan makhluk ini dibanding yang lain. Manusia tidak hanya diciptakan dengan bentuk yang sempurna, tetapi juga melalui proses yang menunjukkan kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya.

Allah SWT menjelaskan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12-14, bahwa penciptaan manusia di dalam rahim melalui tiga tahapan utama. Pertama, manusia diciptakan dari air mani. Kemudian, berkembang menjadi segumpal darah, dan selanjutnya menjadi segumpal daging. Setiap tahapan ini berlangsung selama 40 hari sebelum akhirnya berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna dengan ditiupkannya ruh.1

نٍيْطِ نٍمِّ ةٍلَلَسُ نٍمِّ نَاسَنْلْاِا انَقْلَخَ دْقْلَوَ ۚ رٍارَقَ يْفِ #ةٍفَطْنْ هُنَلَعَجَ )مَّثُ ١٢

نٍيْكِ)مِّ ۖ ا..نَقْلَخَفِ #ةٍغَ..ضْمِّ ةٍ..قْلَعَلَا ا..نَقْلَخَفِ #ةٍ..قْلَعَ ةٍ..فَطْ3نَلَا ا..نَقْلَخَ )مَّثُ ١٣

هُ4لَلَا كَرٍابَتَفِ خَا ا#قْلَخَ هُنْأْشَنْا )مَّثُ ا#مًحْلَ مَّظٰعَلَا انْوْسَكِفِ ا#مًظٰعَ ةٍغَضْمًلَا رَۗ

يْقْلَخَلَا نٍسَحْا رَۗ

١٤

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.

Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami

1 Widia Lestari Putri, “PROSES PENCIPTAAN MANUSIA DALAM QS. AL- MU’MINŪN AYAT 12-14 (STUDI KOMPARATIF PENAFSIRAN AR-RĀZI DAN HAMKA)”

(UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM, 2023).

(4)

menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.

Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12-14, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah, kemudian berkembang melalui proses yang panjang di dalam rahim ibu. Dimulai dari tahap nutfah, yaitu bertemunya sperma dan sel telur, kemudian berubah menjadi ‘alaqah atau segumpal darah yang melekat di dinding rahim. Setelah itu, janin berkembang menjadi mudghah atau segumpal daging, yang selanjutnya membentuk tulang belulang (izam), kemudian dibungkus dengan daging (lahm), hingga akhirnya menjadi makhluk yang sempurna.2

B. STRUKTUR TUBUH MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL QURAN

يْرَكِلَا كَبِّرَبِّ كَ)رَغَ امِّ نَاسَنْلْاِا اهَ3يْاFيْ مِۙ

لَدْعَفِ كَى4وْسَفِ كَقْلَخَ يْذِ)لَا مِۙ ٦ Fيْفِ ٧

بَ)كَّرٍ ءَ شَ ا)مِّ ةٍرٍوْصُ يْا رَۗ اۤ

٨

/رٍاطْفَنْلْاِا ( 82

: 6 - 8 )

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?

Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu. (Al- Infitar/82:6-8)

1. Sistem Kerangka Tulang Manusia

#لًايْدْبَتَ مَّهَلَاثَمِّا آنَلَ)دْبِّ انَئْشَ اذَاوَ هُرَسُا آنْدْدْشَوَ مَّهَنَقْلَخَ نٍحْنْ ۚ ٢٨

/نَاسَنْلْاِا ( 76

: 28 )

Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Jika berkehendak, Kami dapat mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa mereka. (Al-Insan/76:28)

2 Widia Lestari Putri.

(5)

Wahbah Az Zuhaili dalam tafsirnya menyebutkan: bagaimana orang-orang kafir itu lalai dari Tuhan mereka dan dari akhirat, sementara Kamilah yang menciptakan mereka mengokohkan anggota tubuh mereka dan persendian mereka. Dia mengaitkan persendian itu dengan urat-urat dan otot-otot. Kalau Kami menginginkan, akan Kami binasakan mereka dan Kami datangkan orang yang lebih taat daripada mereka.3

Secara tersirat ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia, melainkan juga menguatkan struktur tubuhnya—

khususnya persendian dan jaringan penghubung antara tulang-tulang. Hal ini menunjukkan bahwa tatanan kerangka manusia telah diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kekuatan, stabilitas, dan kelenturan yang mendukung aktivitas serta fungsi tubuh secara optimal.

2. Sistem Darah Manusia

Darah dari segi bahasa, disebut blood di artikan darah. dan dalam Al- Qur'an juga disebut dengan istilah "Dam" (مدْ). Darah merupakan cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup, terutama pada hewan dan manusia. Cairan ini mengalir dalam sistem peredaran tubuh dan berfungsi untuk mengangkut zat makanan, oksigen, dan karbondioksida. Selain itu, darah juga membawa nutrisi serta bahan-bahan yang dibutuhkan oleh seluruh jaringan tubuh, termasuk zat-zat untuk metabolisme dan komponen pembentuk lain. Fungsi utama darah adalah mendistribusikan zat-zat tersebut ke seluruh bagian tubuh serta mengangkut limbah metabolisme, yang kemudian dikeluarkan melalui sistem ekskresi seperti ginjal.4

Tugas yang dilakukan darah yang tanpa kesalahan atau kesilapan.

Sekali lagi inilah bahagian dari rancangan senksurna Allah, yang la

3 Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, TAFSIR AL.MUNIR (Al-Mulk - An-Naas) Juz 29 & 30, Jilid 15 )Gema Insani, 2013(.

4 Siti Aisah, Siti Aminah, dan Taufik Warman Mahfuzh, “Darah Sebagai Komponen Vital: Integrasi Tafsir Al-Qur’an dengan Pengatahuan Sains Tentang Sistem Peredaran Darah,” Jurnal Tafsere Vol. 12 )2024(, https://doi.org/https://doi.org/10.24252/jt.v12i2.53069.

(6)

ciptakan dalam tubuh manusia. Seluruh sel darah melakukan tugasnya tanpa melakukan kesalahan.

Dalam Al-Qur'an Allah menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah.

لَعَ نٍمِّ نَاسَنْلْاِا قَلَخَ ۚ ٢

/قَلَعَلَا ( 96

: 2 )

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al-'Alaq/96:2) Dalam shahih Bukhari mengisyaratkan tentang aliran darah manusia:

ىرَجْمِّ مدْآ نٍبِّا نٍمِّ يْرَجْيْ نَاطْيْ )شَلَا )نَإِ لَاقَ هُ)لَلَا نَاحْبَسُ لْاِاقَ

م)دْلَا

Nabi mengatakan “sesungguhnya setan mengalir dalam anak adam dalam aliran darahnya.” hadist ini diriwayatkan oleh Syu'aib, Ibnu Musafir, Ibnu 'Atiq, dan Ishaq bin Yahya dari Az Zuhri dari Ali

maksudnya Ali bin Husain dari Shafiyyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

3. Sistem Jaringan Otot Manusia

ا#مًظٰعَ ةٍغَضْمًلَا انَقْلَخَفِ #ةٍغَضْمِّ ةٍقْلَعَلَا انَقْلَخَفِ #ةٍقْلَعَ ةٍفَطْ3نَلَا انَقْلَخَ )مَّثُ

نٍ..سَحْا هُ 4..لَلَا كَرٍا..بَتَفِ خَا ا #..قْلَخَ هُنْأْ..شَنْا )مَّثُ ا #..مًحْلَ مَّظٰعَلَا انْوْسَكِفِ رَۗ

يْقْلَخَلَا رَۗ

١٤ /نَوْنَمِّؤمًلَا ( 23

: 14 )

Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah).

Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.(Al- Mu'minun/23:14)

Pembentukan tulang dan daging dalam ilmu sains dikenal dengan otot. Pada tahap ini, kerangka manusia mulai terbentuk. Kerangka ini terdiri dari tulang-tulang yang kemudian ditutupi dengan daging. Pada

(7)

tahap ini manusia telah mempunyai bentuk yang sempurna secara fisik.5 4. Sistem Indra Manusia

نَوَرَكِ..شَتَ ا )..مِّ #لًايْلَقَ دْ ™...فِلْاِاوَ رٍاصَبِّلْاِاوَ عَمً)سَلَا مَّكِلَ اشَنْا Fيْذِ)لَا وْهُوَ رَۗ

٧٨ /نَوْنَمِّؤمًلَا ( 23

: 78 )

“Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (Al-Mu'minun/23:78)

يْنْوْ..تَأْوَ ا#رَيْ..صَبِّ تِأْ..يْ يْبِّا هُ..جَوَ ىلَعَ هُوْقْلَا..فِ اذِهُ يْصَيْمًقْبِّ اوْبَهُذَا ۚ نٍيْعَمًجَا مَّكِلَهُابِّ

٩٣ ࣖ حَيْرٍ دْجَلْاِ يْنْا مَّهُوْبِّا لَاقَ رَيْعَلَا تِلَصَفِ ا)مًلَوَ

نَوَدْنَفَتَ نَا لَآوْلَ فَسُوْيْ

٩٤ /فَسُوْيْ ( 12

: 93 - 94 )

“Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat (kembali); dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku. Ketika kafilah itu telah keluar (dari Mesir dan memasuki Palestina), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf seandainya kamu tidak menuduhku lemah akal.” (Yusuf/12:93- 94)

يْنْاسَلَ نٍمِّ #ةٍدْقْعَ لْلَحْاوَ مِۙ

٢٧ /هُطِ ( 20

: 27 )

“dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku” (Taha/20:27)

نٍيْذِ )..لَا لَا..قْلَ مَّهَيْدْيْابِّ هُوْسَمًلَفِ سٍاطِرَقَ يْفِ ا#بَتَكَّ كَيْلَعَ انَلَ)زَّنْ وْلَوَ

¨نٍيْبَ3مِّ ¨رَحْسُ )لْاِا آذِهُ نَا اFوَرَفَكَّ

٧

/ماعَنْلْاِا ( 6

: 7 )

”Seandainya Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) kitab (berupa tulisan) pada kertas sehingga mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, pastilah orang-orang kafir itu mengatakan, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Al-An'am/6:7)

5 Siti Halimatur Rosidah, “KONSEP EMBRIO DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN SAINS BERDASARKAN QS. AL-MU’MINUN AYAT 12-14 (KAJIAN TAFSIR AL- MISBAH DAN RELEVANSINYA DENGAN ILMU SAINS)” (UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ, 2021).

(8)

Ayat ayat di atas, Allah mencoba mengisyaratkan bahwa indra manusia dijelaskan dengan sedemikian rupa dalam Al-Qur’an yang tidak ada kontradiksi dengan ilmu sains.

Al-Qur’an, hadits, dan sains merupakan tiga aspek yang memiliki keterkaitan erat dalam memahami berbagai fenomena kehidupan, termasuk sistem indera manusia yang berperan penting bagi keberlangsungan hidup. Sebagai firman Allah, Al-Qur’an memberikan banyak informasi tentang sistem indera, namun bahasanya yang bersifat absolut sering kali memerlukan pemahaman yang mendalam untuk mengungkap maknanya secara lebih luas. Sains, sebagai ilmu pengetahuan, memiliki berbagai cabang yang turut mengkaji hal tersebut, salah satunya adalah biologi yang secara khusus membahas struktur dan fungsi panca indera. Lima panca indera utama yang dimiliki manusia terdiri dari mata sebagai alat penglihatan, telinga untuk mendengar, hidung sebagai indra penciuman, lidah yang berfungsi untuk mengecap rasa, serta kulit yang berperan dalam mengenali rangsangan melalui sentuhan.

Dengan adanya keterpaduan antara Al-Qur’an, hadits, dan sains, pemahaman terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem indera manusia, dapat dikaji secara lebih mendalam dan komprehensif.6

5. Sistem Sel Saraf

Otak manusia memiliki saraf saraf penting di dalamnya dengan fungsi utama sebagai organ yang bertanggung jawab dalam mengatur segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Menurut ilmu biologi dan Al-Qur'an, organ otak disebut sebagai an-nashiyah atau ubun-ubun. Secara ilmiah, ubun-ubun dikenal sebagai prefrontal korteks yang terletak di lobus frontal bagian depan kepala dan bertanggung jawab atas pengaturan semua tindakan manusia.

6 Ida Yustika Siregar, Indayana Febriani Tanjung, dan Siti Maysarah,

“Fungsi Sistem Indera Manusia Perspektif Sains Terintegrasi Al-Qur’an dan Hadits,” JIE (Journal of Islamic Education) 6, no. 2 )12 November 2021(: 208, https://doi.org/10.52615/jie.v6i2.227.

(9)

Al-Qur'an menyinggung peran ubun-ubun sebagai pusat kepemimpinan dan pengendali perilaku, terutama bagi individu yang gemar berdusta dan durhaka. Konsep ini telah dibuktikan dalam kajian biologi modern.

يْ..صُا)نَلَابِّ #عَفَ..سَنَلَ هُ..تَنَيْ مَّ)لَ نٍ™ىِٕلَ )لًاكَّ مِۙ اۢ مِۙ

١٥ ئْطِاخَ ةٍ..بِّذَاكَّ ةٍيْ..صُانْ ۚ ١٦

/قَلَعَلَا ( 96

: 15 - 16 )

Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka), (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan (kebenaran) dan durhaka.

(Al-'Alaq/96:15-16)

Dalam Surah Al-Alaq ayat 15-16, Allah menggambarkan sosok Abu Jahal yang terus-menerus menentang dan berupaya menghalangi Nabi Muhammad dalam melaksanakan salat. Jika ia tetap bersikeras melakukan hal tersebut, maka Allah akan menyeret kepalanya sebagai bentuk hukuman atas kebohongan dan kedurhakaannya. Dalam bahasa Arab, istilah nashiyah merujuk pada bagian depan kepala, yakni ubun-ubun atau jambul. Dalam suatu pertarungan, seseorang yang berhasil menguasai jambul lawannya menandakan dominasinya atas lawan tersebut, karena bagian depan kepala merupakan bagian yang paling dihormati dan memiliki peran penting dalam kontrol perilaku manusia.7

Ayat ini secara tersirat memberikan pengetahuan bahwa Al-Qur'an menyebutkan saraf saraf sebagai salah satu struktur pembentuk manusia.

C. KEANEKARAGAMAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL- QUR'AN

Keanekaragaman manusia merupakan salah satu bukti kebesaran Allah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Setiap individu memiliki perbedaan dalam hal warna kulit, bahasa, budaya, dan kedudukan sosial, yang semuanya merupakan bagian dari ketetapan Allah. Perbedaan ini

7 Adinda Retno Wulan, Indayana Febriani Tanjung, dan Eka Khairani Hasibuan, “SISTEM SARAF MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN,” t.t.

(10)

bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih harmonis.

Allah menciptaan perbedaan sebagai tanda kebesarannya seperti dalam QS. Ar Rum.

هُتَيْا نٍمِّوَ

ٖ

يْفِ )نَا كِنْاوْلَاوَ مَّكِتَنَسَلَا فُلًاتَخَاوَ ضِرٍلْاِاوَ تِوْمً)سَلَا قَلَخَ رَۗ

نٍيْمًلَعَلَلَ تِيْلْاِ كَلَذَ

/موَ4رَلَا ( ٢٢ 30

: 22 )

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berilmu. (Ar-Rum/30:22)

Perbedaan suku bangsa juga menjadi sorotan bagi semua umat manusia tanpa terkecuali.

لْ ™..ى بَقَ)وَ ا#بِّوْعَ..شَ مَّكِنَلَعَجَوَ ىثَنْا)وَ رَ..كَّذَ نٍمِّ مَّكِنَقْلَخَ ا )..نْا سٍا )..نَلَا ا..هَ3يْاFيْ اۤ

¨رَ..يْبَخَ ¨مَّيْلَعَ هُ 4..لَلَا )نَا مَّكِىِٕقْتَا هُ 4..لَلَا دْ..نَعَ مَّكِمِّرَ..كَّا )نَا اوْفِرٍا..عَتَلَ رَۗ ۚ ١٣

/تِرَجْحْلَا ( 49

: 13 )

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (Al- Hujurat/49:13)

Menurut Quraish Shihab, ayat ini menegaskan prinsip dasar dalam hubungan antar sesama manusia. Oleh karena itu, panggilan yang digunakan dalam ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang beriman, tetapi mencakup seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan agama atau keyakinan.8

8 Radhiatul Husni dkk., “Moderasi Beragama dalam Masyarakat 5.0: Analisis Konsep Berdasarkan Surat Al-Hujurat Ayat 13,” SURAU : Journal of Islamic Education 1, no. 2 (30 Desember 2023): 146, https://doi.org/10.30983/surau.v1i2.7409.

(11)

Sementara itu, Sayyid Quthb dalam tafsirnya menjelaskan bahwa meskipun manusia memiliki perbedaan dalam ras, warna kulit, suku, dan kabilah, pada dasarnya mereka berasal dari akar yang sama. Oleh karena itu, tidak seharusnya ada perpecahan, permusuhan, atau perselisihan di antara manusia. Lebih lanjut, ia juga menafsirkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk laki-laki dan perempuan serta membagi mereka ke dalam berbagai suku dan bangsa dengan tujuan agar mereka saling mengenal dan hidup dalam harmoni, bukan untuk saling bersaing atau bertentangan.9

Perbedaan yang ada bukan menjadi alasan untuk perpecahan tetapi untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Baik berbeda suku, bangsa, fisik yang unik setiap insannya, dan perbedaan lainnya semata adalah bentuk kebesaran Allah.

D. HIKMAH DAN TUJUAN KEANEKARAGAMAN MANUSIA

Keanekaragaman manusia adalah bagian dari sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah dalam penciptaan-Nya. Dalam kehidupan sosial, keberagaman ini meliputi perbedaan ras, suku, bahasa, budaya, dan agama.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اهَ3يْاFيْ

سٍا)نَلَا ا)نْا

مَّكِنَقْلَخَ

نٍمِّ

رَكَّذَ

ىثَنْا)وَ

مَّكِنَلَعَجَوَ

ا#بِّوْعَشَ

ࣖࣖ لْ™ىابَقَ)وَ ࣖࣖࣖ ࣖࣖ اۤ

وْفِرٍاعَتَلَ

ۚ

مَّكِمِّرَكَّا )نَا دْنَعَ

هُ4لَلَا مَّكِىِٕقْتَا هُ4لَلَا )نَا

¨مَّيْلَعَ

¨رَيْبَخَ

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."(Al-Ḥujurāt [49]:13)

9 Radhiatul Husni dkk., “Moderasi Beragama dalam Masyarakat 5.0: Analisis Konsep Berdasarkan Surat Al-Hujurat Ayat 13

(12)

Dari ayat ini, jelas bahwa keberagaman manusia bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan memiliki tujuan yang mendalam, yakni agar manusia dapat saling mengenal dan memahami satu sama lain.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada keutamaan bagi suatu kaum atas kaum lainnya kecuali dalam ketakwaan kepada Allah. Perbedaan suku dan bangsa bukanlah untuk saling merendahkan, melainkan sebagai tanda kebesaran Allah dan sarana untuk mempererat hubungan sosial manusia.10

Salah satu hikmah utama dari keanekaragaman manusia adalah mendorong adanya interaksi sosial yang lebih luas. Dengan adanya perbedaan budaya dan latar belakang, manusia terdorong untuk saling mengenal dan belajar dari satu sama lain. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al- Din menjelaskan bahwa manusia secara fitrah tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan kerja sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya11. Keanekaragaman ini memungkinkan setiap individu dan kelompok untuk saling melengkapi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, pendidikan, dan budaya.

Selain itu, keberagaman manusia juga menjadi ujian dalam kehidupan. Dengan adanya perbedaan, muncul berbagai tantangan dalam memahami dan menghargai satu sama lain. Dalam konteks ini, Islam mengajarkan pentingnya toleransi dan sikap saling menghormati. As-Sa‘di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surah Al-Hujurat ayat:13 mengandung perintah untuk menghindari sikap fanatisme golongan dan mengutamakan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai keimanan12. Perbedaan bukan untuk menjadi sumber konflik, melainkan untuk memperkaya pemahaman dan memperluas wawasan manusia terhadap berbagai budaya dan nilai-nilai

10 Ibn Katsir, Tafsir Al- Qur’an Al- Azhim, Jilid 7 ( kairo: Dar Al- Hadith, 2003),376

11 Al- Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Jilid 2 (Beirut: Dar al- Kutub al-‘Ilmiyah,2005),52.

12Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir al- Karim aer-Rahman fi Tafsir Kalam al- Mannan ( Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd,2000),801.

(13)

kehidupan. Keanekaragaman juga menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Dalam Al- Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَّكِتَنَسَلَا فُلًاتَخَاوَ ضِرٍلْاِاوَ تِوْمً)سَلَا قَلَخَ هُتَيْانٍمِّوَ ٖ نٍيْمًلَعَلَلَ تِيْلْاِ كَلَذَ يْفِ )نَا مَّكِنْاوْلَاوَ رَۗ

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berilmu." (Ar-Rūm [30]:22)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit manusia adalah bukti kebesaran Allah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai bentuk, bahasa, dan karakteristik sebagai tanda kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas . Keanekaragaman ini seharusnya mendorong manusia untuk semakin mensyukuri ciptaan Allah dan memahami bahwa setiap perbedaan memiliki tujuan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dalam kehidupan bermasyarakat, keberagaman juga memiliki dampak positif dalam menciptakan keseimbangan dan kerja sama.

Dalam sebuah komunitas, terdapat berbagai profesi dan peran yang berbeda, yang semuanya saling melengkapi. Jika semua manusia memiliki keahlian yang sama, maka kehidupan tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, perbedaan kemampuan dan keterampilan adalah bentuk rahmat Allah agar manusia dapat bekerja sama dan saling membutuhkan. Al- Ghazali menegaskan bahwa dalam kehidupan sosial, setiap individu memiliki peran tertentu yang berkontribusi pada kesejahteraan bersama, dan keberagaman ini menciptakan keharmonisan dalam masyarakat13. Dengan demikian, keanekaragaman manusia tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi

13 Ibn Katsir, Tafsir Al- Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 6 (Kairo: Dar Al- Hadith,2003),212.

(14)

juga spiritual. Islam mengajarkan bahwa keberagaman adalah bentuk ujian dan anugerah yang harus disikapi dengan bijaksana. Manusia dituntut untuk menjauhi sikap diskriminatif dan lebih mengedepankan nilai ketakwaan sebagai ukuran utama dalam menilai sesama manusia.

Keanekaragaman manusia memiliki berbagai tujuan yang mencerminkan bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi dalam kehidupan sosial. Beberapa tujuan utama dari keanekaragaman manusia adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan Pemahaman dan Toleransi Antarindividu dan Kelompok Keanekaragaman manusia berperan dalam membentuk sikap saling memahami dan menghargai perbedaan. Dengan adanya interaksi antara individu yang berbeda latar belakang, manusia dapat belajar untuk menghormati budaya, keyakinan, dan perspektif orang lain. Hal ini menjadi dasar bagi terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai.14

2. Mendorong Inovasi dan Kreativitas

Keanekaragaman manusia juga berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi. Ketika individu dengan latar belakang yang berbeda berkolaborasi, mereka dapat menyumbangkan ide-ide unik yang mendorong inovasi. Contohnya, dalam dunia bisnis, perusahaan multikultural sering kali lebih adaptif terhadap perubahan dan mampu menciptakan produk yang sesuai dengan berbagai pasar global.

3. Memperkaya Budaya dan Warisan Peradaban

Setiap kelompok manusia memiliki budaya yang khas, termasuk dalam seni, bahasa, tradisi, dan nilai-nilai sosial. Keanekaragaman ini memberikan warna bagi peradaban manusia dan memungkinkan adanya pertukaran budaya yang memperkaya kehidupan sosial.

14 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),45.

(15)

Misalnya, kuliner, musik, dan tarian dari berbagai negara dapat dikenal dan diapresiasi secara global.15

4. Memperkuat Identitas dan Kepribadian Individu

Keanekaragaman membantu individu dalam membentuk identitas diri mereka berdasarkan latar belakang budaya, agama, dan lingkungan sosial. Dengan mengenali keunikan dan kelebihan masing-masing individu, manusia dapat lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan sosial dan menghadapi tantangan dunia modern.

5. Menciptakan Keseimbangan sosial dan berkelanjutan

Keanekaragaman dalam masyarakat juga berperan dalam menciptakan keseimbangan sosial. Setiap individu dan kelompok memiliki peran masing-masing dalam ekosistem sosial. Keberagaman profesi, keahlian, dan pandangan dunia memungkinkan adanya pembagian tugas yang efektif dalam kehidupan bermasyarakat.16

15 Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973),89.

16 Anthony Giddens, Sociology (Cambridge: Polity Press, 2006),210.

(16)

KESIMPULAN

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. TAFSIR AL.MUNIR (Al-Mulk - An-Naas) Juz 29 & 30.

Jilid 15. Gema Insani, 2013.

Siregar, Ida Yustika, Indayana Febriani Tanjung, dan Siti Maysarah. “Fungsi Sistem Indera Manusia Perspektif Sains Terintegrasi Al-Qur’an dan Hadits.” JIE (Journal of Islamic Education) 6, no. 2 (12 November 2021): 208.

https://doi.org/10.52615/jie.v6i2.227.

Siti Aisah, Siti Aminah, dan Taufik Warman Mahfuzh. “Darah Sebagai Komponen Vital: Integrasi Tafsir Al-Qur’an dengan Pengatahuan Sains Tentang Sistem Peredaran Darah.” Jurnal Tafsere Vol. 12 (2024).

https://doi.org/https://doi.org/10.24252/jt.v12i2.53069.

Siti Halimatur Rosidah. “KONSEP EMBRIO DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN SAINS BERDASARKAN QS. AL-MU’MINUN AYAT 12-14 (KAJIAN TAFSIR AL-MISBAH DAN RELEVANSINYA DENGAN ILMU SAINS).”

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ, 2021.

Widia Lestari Putri. “PROSES PENCIPTAAN MANUSIA DALAM QS. AL-

MU’MINŪN AYAT 12-14 (STUDI KOMPARATIF PENAFSIRAN AR-RĀZI DAN HAMKA).” UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM, 2023.

Wulan, Adinda Retno, Indayana Febriani Tanjung, dan Eka Khairani Hasibuan.

“SISTEM SARAF MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN,” t.t.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005.

As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd, 2000.

Ibn Katsir, Ismail. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Kairo: Dar Al-Hadith, 2003.

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.

Durkheim, Emile. The Division of Labor in Society. New York: The Free Press, 1997.

(18)

Giddens, Anthony. Sociology. Cambridge: Polity Press, 2006.

Parsons, Talcott. The Social System. New York: Free Press, 1951.

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan- Nya dia; laki-laki dan perempuan

Secara umum ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerjasama antara laki-laki dan perempuan untuk berbagai bidang kehidupan yang

Di dalam Alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-

berikut: 1) seruan Allah kepada manusia secara universal bahwa Dia menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, 2) konsekuensi logis dari

membedakan derajat manusia di sisi Allah adalah ketakwaan kepada Allah SWT bukan keturunan, suku atau bangsa.Imam Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa di dalam ayat

“Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 70 yang berbunyi “Bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang terbaik dengan kedudukan

merubah ketentuan (untuk mendapat kemenangan) dari Allah ”.(QS.. Maka jelaslah bahwa dalam panggung sejarah manusia, bahwa bangsa manapun terdapat ketetapan Allah sebagai

Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, kemudian Kami Jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.. Sungguh,