Arsitektur Kampung Perkotaan:
Menjaga Keberlangsungan Ruang Sosial Masyarakat Perkotaan Dalam Tekanan Modernitas
1Oleh:
Titis S. Pitana2
1. Pendahuluan
Ciri-ciri masyarakat perkotaan sekaligus yang membedakannya dengan masyarakat pedesaan, antara lain (1) melemahnya pesona agama, karena itu kehidupan masyarakat cenderung sekuler (secular trend) daripada religius (religious trend); (2) individualistik; (3) pembagian kerja yang jelas dan tegas; (4) kesempatan kerja yang luas; (5) interaksi sosial yang lebih didasarkan pada kepentingan; (6) pentingnya waktu; dan (7) perubahan sosial berlangsung cepat karena terbuka pada pengaruh luar (Soekanto, 2001:170--171). Kondisi ini lazimnya dianggap sebagai akibat dari kuatnya pengaruh modernisasi melalui berbagai media, seperti pendidikan, teknologi informasi, dan sistem ekonomi kapitalistik.
Secara sederhana modernisasi adalah perubahan, yaitu perubahan terarah (directed change) dan terencana (planning change). Ini berarti bahwa modernisasi diarahkan dan direncanakan untuk mengubah paradigma kehidupan masyarakat, dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Sebagaimana Inkeles menggambarkan manusia modern sebagai orang yang mampu berfungsi efektif dalam sebuah bangsa yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi; mampu berpartisipasi dalam membuat keputusan politik; serta berperilaku dan keputusannya ditata berdasarkan norma rasional. Kehidupan modern yang dipandang sebagai ciri masyarakat maju pada akhirnya menjadi ideologi yang diperjuangkan oleh institusi sosial, seperti birokrasi pemerintahan, kelompok kapitalis, bahkan lembaga adat.
Kuatnya pesona kehidupan modern telah menjadikan modernitas sebagai wacana hegemonik yang merebut konsensus masyarakat dalam memaknai dan menjalani kehidupannya.
Secara visual, karakter masyarakat perkotaan dengan modernisasi yang menyertainya dapat diidentifikasi dari arsitektur perkotaan yang merupakan pantulan (ekspresi) modernitas yang dijalani masyarakatnya. Menurut Umberto Eco, ruang-ruang arsitektural merupakan sarana komunikasi visual yang pemaknaannya tidak akan pernah berhenti. Tidak sekedar ada,
1 Materi Mata Kuliah Ekologi, Budaya, dan Arsitektur pada Program Studi S2 Arsitektur.
2 Staf Pengajar di Program Studi Arsitektur, Fak. Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
tetapi selalu mengada. Bahkan ruang dianggap sesuatu yang merepresentasikan kejadian atau suatu ikatan ingatan kolektif. Ini berarti bahwa persoalan arsitektur bukan hanya berhenti pada persoalan geometris, penciptaan ruang dan menghuninya, melainkan lebih pada dimensi
"kekinian" yang dalam istilah Derrida disebut dengan "kemenjadian" (becoming); bukan hanya ada (being), namun juga mengada (beings). Malahan, dengan mengikuti logika berfikir resepsi Jauss yang memahami sebuah teks atau kejadian meliputi proses mediasi terus-menerus antara kini dan masa lampau, informasi yang diberikan oleh simbol komunikasi visual tersebut menuntut penafsir (subjek) selalu dikondisikan secara historis dan konteks kekiniannya (Cavallaro, 2004:97). Ada dimensi kini dan masa depan yang dalam resepsi Jauss disebut dengan "horizon harapan" yang bersifat kolektif. Dalam konteks ini dipandang penting dan relevan mengetengahkan perbincangan tentang tekanan rasionalitas atas moralitas masyarakat dalam modernisme dan beberapa contoh arsitektur kampung di Solo yang mampu membangkitkan kembali dan menjaga keberlangsungan ruang sosial masyarakatnya dalam tekanan modernitas global.
2. Tekanan Rasionalitas Atas Moralitas Masyarakat Dalam Modernisme
Modernisme sebagai ‘struktur perasaan’ melibatkan harapan, perubahan, ambiguitas, resiko, dan revisi kronis atas pengetahuan. Ini semua diperkuat oleh proses sosial dan budaya diferensiasi, komodifikasi, individualisasi, rasionalisasi, urbanisasi, dan birokratisasi (Barker, 2000:140). Sejalan dengan ini negara (pemerintah) memasuki periode yang menggulirkan modernisasi dalam kerangka pembangunan. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari modernitas telah merebut konsensus masyarakat untuk menyesuaikan pola pikir dan tindakannya dengan kondisi kekinian. Apalagi ketika seluruh proses sosial dan budaya yang menjadi mesin penggerak modernisasi dirasakan fungsional untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat kota untuk mewujudkan cita-cita kemajuan yang diidam-idamkan. Artinya, modenitas bukan saja menawarkan pesona kualitas kehidupan yang lebih baik, melainkan juga menjadi kebutuhan dan kepentingan masyarakat kota dalam kerangka persaingan ekonomi dan politik yang didialogkan dengan bidang-bidang kehidupan lainnya.
Kehidupan era modern ini diawali oleh lahirnya budaya industri Barat yang dibentuk oleh semangat pembebasan diri dari kebiasaan dan prasangka masa lalu untuk mengendalikan masa depan pada abad Pencerahan (Enlightenment) yang oleh para pemikir Barat disebut sebagai gerakan melawan pengaruh agama dan dogma, serta ingin menggantikannya dengan pendekatan yang lebih berdasarkan akal budi dalam kehidupan praktis. Kaum modernis
berpandangan bahwa dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, dunia seharusnya menjadi lebih stabil dan tertib (Giddens, 2001:xiv).
Ini berarti kaum modernis berkeyakinan bahwa segala permasalahan kehidupan di dunia dapat teratasi dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Menurut mereka, semakin manusia mampu memahami dunia dan dirinya sendiri secara rasional, semakin dapat manusia membentuk sejarah untuk tujuan hidupnya. Bahkan menurut Lubis (2006:51), modernisasi yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi instrumen dalam proses humanisasi sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi diyakini dapat menjadi alat untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Malahan bagi kaum modernis kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap mampu mengendalikan dunia sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung menjajah dan mengatasi kesadaran manusia. Oleh karena itu, menurut Giddens (2001:xvi), apabila perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini tidak dibarengi dengan respons dan strategi yang tepat maka tidak jarang keduanya justru mempunyai dampak yang sebaliknya.
Terjadinya perubahan dalam kehidupan masyarakat tradisional menuju modern menurut Abdullah (2006:16) dapat dilihat pada tiga tahapan, yaitu (1) masuknya pasar ke dalam masyarakat petani; (2) terjadinya integrasi pasar; dan (3) ekspansi pasar. Selanjutnya, proses ini berakibat pada lahirnya privatisasi berbagai praktik sosial dengan pemaknaan yang berbeda-beda dalam konteks general yang berakibat pada terjadinya rekonstruksi nilai dalam kehidupan masyarakat yang cenderung menggerus nilai-nilai tradisional. Malahan dengan kemajuan media, kaum modernis telah mampu mengumandangkan modernisasi untuk mengubah kesadaran dunia, segala nilai, institusi, kondisi internal, serta tradisi yang dianggap menghambat pembangunan menuju dunia modern dan/atau yang menyertainya harus direkonstruksi atau dirombak menjadi sesuatu yang modern. Praktik-praktik kehidupan semacam ini tampak begitu jelas dan terasa di dalam masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup di perkotaan karena kota lazim diidentikkan dengan modernitas itu sendiri.
Hal ini berarti bahwa proses terbentuknya suatu respons dan strategi dalam menyikapi perubahan sebagai akibat modernisasi telah menjadikan batas-batas sosial budaya masyarakat perkotaan semakin luas dan kabur, perubahan karakter komunitas semakin mencolok, ikatan-ikatan tradisional semakin melemah karena otonomi individu-individu semakin kuat.
Selain itu, nilai-nilai tradisional yang merupakan acuan kebudayaan generik harus didekonstruksikan dan tawar-menawar terhadap nilai-nilai yang berlaku menjadikan setiap individu dalam suatu masyarakat memiliki banyak pilihan dalam menentukan sikap hidupnya.
Perubahan yang terjadi secara meluas dalam masyarakat akibat modernitas bukan saja menjelaskan bagaimana interaksi masyarakat dengan berbagai faktor yang menentukan penataan sosial secara meluas, tetapi juga tragedi universal kemanusiaan yang diakibatkan (Abdullah, 2006:143). Bahkan tragedi kemanusiaan yang bersifat universal ini merupakan krisis global serius yang bersifat kompleks dan multidimensional, seperti pengenduran tradisi, norma-norma, hukum, dan tatanan yang telah mapan pada taraf yang mencengangkan, sebagaimana digambarkan Capra (2004:3) dalam kutipan berikut.
“Pada awal dua dasa warsa terakhir abad kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. Untuk pertama kalinya kita dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini”.
Menurut Abdullah (2006:143) kompleksitas realitas ini didorong oleh globalisasi yang tidak dapat dihindari dan pasar yang telah berubah menjadi kekuatan dominan dalam pembentukan nilai dan tatanan sosial. Demikian juga yang terjadi pada kota-kota di seluruh Indonesia. Negara (penguasa) dan rakyat dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak dapat dihindarkan, yaitu modernisasi yang mengedepankan rasionalitas dalam segala kehidupan yang selalu dibarengi dengan aktivitas pembangunan demi pemenuhan tuntutan kebutuhan pasar. Ini artinya, negara dan rakyatnya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menjadi agen perubahan atau objek perubahan itu sendiri.
Diferensiasi struktural merupakan proses yang paling elementer dari modernisasi, seperti dijelaskan oleh para sosiolog struktural-fungsionalisme. Hal ini juga ditegaskan oleh Lash (2004:207) bahwa pada masyarakat yang sudah termodernisasi secara langsung banyak memiliki struktur sosial dan kebudayaan yang sudah terdiferensiasi daripada masyarakat tradisional. Proses diferensiasi ini terjadi ketika modernisasi dan globalisasi telah memperkenalkan nilai baru dalam lingkungan tradisi, maka anggota komunitas pendukung tradisi tersebut senantiasa mengalami proses diferensiasi sosial-struktural serta suatu generalisasi nilai, norma, dan makna yang menyertainya. Dalam hubungannya dengan kebudayaan, pergeseran itu telah memberi kontribusi terhadap pengetahuan sebagai satuan budaya. Setiap orang yang telah tersentuh sistem pengetahuannya oleh nilai-nilai baru akan mencoba memberi makna baru bagi tatanan yang ada sebelumnya, tidak terkecuali hal-hal
yang bersifat normatif seperti tersurat dalam aturan adat dan tradisi, bahkan yang tidak tersurat seperti dalam moralitas dan religiusitas suatu kaum.
Modernisasi yang ditandai dengan kuatnya pengaruh sistem ekonomi dan budaya kapitalis sehingga menempatkan masyarakat dalam kerangka besar budaya produksi dan konsumsi yang disalurkan melalui kekuatan pasar. Proses materialisasi kehidupan telah mentransformasikan berbagai hal menjadi komoditi sehingga terjadi proses komodifikasi secara meluas. Pasar telah mengantarkan masyarakat modern pada model ekonomi kultural yang menempatkan seluruh objek kultural sebagai komoditas (Lash, 2004:54). Pada masyarakat pasar inilah komodifikasi objek-objek kultural termasuk di dalamnya agama memasuki ranah kesadaran masyarakat untuk meneguhkan hegemoni modernitas.
Tumbuhnya consumer culture telah merubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi consumer spaceyang diharapkan mampu memuaskan kebutuhan kelas menengah baru. Dua proses merupakan tanda dari transformasi sosial perkotaan, yaitu proses komsumsi simbolis dan transformasi estetis pencintraan (Abdullah, 2006:33).Pertama, proses konsumsi simbolis merupakan tanda penting dari pembentukan gaya hidup di mana nilai-nilai simbolis dari suatu produk dan praktik telah mendapat penekanan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan fungsional. Proses ini ditegaskan melalui tiga cara, yaitu (1) kelas sosial membedakan proses konsumsi di mana setiap kelas menunjukkan proses identifikasi yang berbeda; (2) barang yang dikonsumsi menjadi wakil dari kehadiran (representasi); dan (3) proses konsumsi lebih ditekankan pada konsumsi citra (image) yang merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok.Kedua, proses konsumsi simbolis ini telah pula menegaskan kecenderungan estetisasi dalam kehidupan kelas menengah di mana nilai etis mulai kehilangan kekuatan dalam menggerakkan kehidupan. Kecenderungan ini dapat dilihat dalam tiga proses, yaitu (1) hidup di perkotaan telah menjadi proses seni yang bertumpu pada the work of art yang menegaskan nilai-nilai khusus; (2) kecenderungan ini menegaskan proses-proses individualisasi;
dan (3) munculnya kekuatan baru dalam mendorong proses transformasi sosial dan budaya secara luas (Abdullah, 2006:33-36).
Dalam kerangka inilah komodifikasi religiusitas dan moralitas masyarakat dimaknai sebagai proses perubahan dalam kehidupan keagamaan karena agama tidak lagi diposisikan sebagai sumber nilai yang dibagi bersama, melainkan lebih merupakan rekognisi melalui proses konstruksi, dekonstruksi, rekonstruksi yang bersifat individual dalam penafsiran dan pemahaman secara terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat modern seorang individu atau kelompok dengan mudah dapat meracik agamanya berdasarkan
pengetahuan, selera, dan kepentingannya dengan mengikuti logika pasar. Dengan demikian, fungsi dan makna esensial dari pelaksanaan keagamaan, bukan lagi menjadi pertimbangan dominan untuk menentukan pilihan religius, tetapi digantikan oleh pertimbangan nilai tukar yang akan diperoleh. Semakin menguntungkan nilai tukar yang akan diperoleh, maka semakin besar kemungkinan pilihan itu dijatuhkan.
3. Arsitektur Kampung Perkotaan: Moralitas dan Ruang Sosial yang Terjaga
Tingginya derajat pluralitas dan heterogenitas penduduk suatu kota, baik dari segi etnis, agama, sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, juga memunculkan permasalahan adaptasi sosio-budaya tersendiri bagi penduduk asli. Sejalan dengan pandangan Lash (2004:210) bahwa urbanisasi memberikan pengalaman dan kesan yang beranekaragam seiring dengan heterogenitas sosial yang muncul. Ini mendorong munculnya modernitas sebagai pengalaman budaya masyarakat, yakni pengalaman adanya perubahan dan ketidakpastian.
Artinya, kelompok urban yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda menjadikan proses adaptasi budaya berlangsung secara terus-menerus dan saling bertautan, baik antara penduduk pendatang dan penduduk lokal; pendatang dengan pendatang; maupun sesama pendatang dengan penduduk lokal. Pada akhirnya budaya masyarakat kota adalah budaya yang senantiasa menjadi dalam proses berkelanjutan dibandingkan dengan desa atau kota pramodern yang kebudayaannya cenderung ajeg.
Urbanisasi yang terjadi di kota-kota bukan hanya melahirkan heterogenitas sosial dalam kerangka persaingan ekonomi yang ketat, tetapi juga telah menebarkan nuansa persaingan untuk menegaskan identitas kultural dan keagamaan antara penduduk lokal dan pendatang. Religiusitas umat Islam di Surakarta misalnya, selain diwujudkan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang diadakan oleh Keraton Kasunanan, juga terikat oleh kewajiban nguri-nguri kabudayan Jawi. Sebaliknya, juga pendatang menegaskan identitasnya melalui aktivitas keagamaan dan aksesoris keagamaannya. Umat Islam misalnya, kebanyakan dari muslimahnya menggunakan jilbab sehingga memperjelas identitasnya di tengah-tengah keberadaan umat lainnya.
Masyarakat urban yang cenderung mengedepankan kepentingan ekonomi tampaknya menawarkan model beragama yang lebih sederhana sehingga tidak mengganggu kesibukan memenuhi kebutuhan hidupnya. Fenomena ini menggiring penduduk lokal untuk membanding-bandingkan tradisi religius yang dijalani selama ini dengan model beragama penduduk pendatang. Setidak-tidaknya penerimaan ini terjadi dengan pertimbangan bahwa
model beragama kaum urban dipandang sesuai dengan kondisi kekinian. Selain mampu memenuhi kebutuhan sebagai manusia religius, juga model beragama kaum urban tidak menghambat aktivitas untuk mencari penghasilan.
Modernisasi pada akhirnya menjadi kebutuhan masyarakat kota dengan semakin tingginya diferensiasi sosial dalam kuatnya pesona ekonomi mengatasi bidang kehidupan lainnya. Namun demikian, juga tidak dapat ditampik bahwa keseluruhan proses modernisasi berlangsung sejalan dengan kebijakan birokrasi dalam pembangunan perkotaan. Menurut Foucault (Lash, 2004:140) bahwa dalam masyarakat modern kekuasaan pemerintah tertanam dalam yang sosial dan kekuasaan berputar-putar secara imanen dalam kapilaritas masyarakat sehingga negara tidak lagi berada di atas, melainkan berada di tengah-tengah masyarakat.
Kekuasaan modern telah bergeser dari bentuk-bentuk kekuasaan yang bersifat memaksa menuju kekuasaan yang bersifat moral dan terapetis. Konsekuensi teoretisnya bahwa keberhasilan kinerja birokrasi dalam melaksanakan pembangunan hendaknya dipandang sebagai keberhasilan dalam mengomunikasikan ide-ide pembangunan kepada masyarakat melalui wacana hegemonik bahwa pembangunan akan membawa kesejahteraan. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari pembangunan perumahan, mall-mall, pusat perbelanjaan, dan objek-objek kultur modern lainnya dalam wilayah desa-desa di pinggiran kota-kota besar di Jawa, termasuk Surakarta dan Yogyakarta.
Kota Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar di Indonesia setelah Yogyakarta. Pertumbuhannya diawali pada tahun 1745 ditandai dengan dimulainya pembangunan Keraton Mataram, yaitu pengganti keraton di Kartasura. Keraton ini hancur akibat pemberontakan orang-orang Tionghoa ketika melawan kekuasaan Paku Buwana II yang bertahta di Kartasura pada tahun 1742. Berdasarkan latar belakang ini, berdirinya Kota Surakarta tidak terlepas dari sejarah Mataram yang menjadikan Surakarta sebagai pusat pemerintahannya. Oleh karena itu, Keraton Surakarta dianggap bangunan paling pokok dalam konsep tata ruang Kota Surakarta (Larson, 1990:22).
Menjadi kota yang berusia lebih dari 250 tahun, Surakarta memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Walaupun menjadi kota tua, Surakarta merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang dibangun dengan konsep tata kota modern. Hal ini dapat dilihat dari upaya mengatasi ancaman banjir akibat luapan Bengawan Sala dengan membangun tanggul yang hingga kini masih dapat dilihat membentang dari selatan wilayah Jurug hingga kawasan Sala Baru, Sukoharjo. Upaya ini dikerjakan mengingat keberadaan Keraton Surakarta yang berdekatan dengan Bengawan Sala. Bagian tengah kota tua ini didiami
oleh beberapa etnik, antara lain Jawa, Cina, Arab, dan Eropa masing-masing menempati daerah tertentu secara terpisah. Kawasan Pasar Gede (Pasar Gedhe Hardjanagara) dan Pasar Balong merupakan tempat perkampungan etnik Cina, kawasan Pasar Kliwon merupakan pemukiman etnik Arab (kebanyakan dari Hadramaut), dan kawasan sekitar Benteng Vastenburg merupakan kawasan pemukiman etnik Eropa.
Pengelompokan pemukiman berdasarkan diskriminasi ras tersebut pada prinsipnya untuk kepentingan dan keamanan pemerintah Kolonial Belanda di Surakarta. Hal ini merupakan upaya pihak kolonial Belanda di Surakarta dalam memudahkan pemantauan. Fakta ini dapat dilihat dari letak Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, rumah residen, dan Kepatihan yang tidak berjauhan, dan diatur sedemikian rupa, agar tetap terpisah sehingga aktivitas antara Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan Kepatihan selalu terpantau.
Berkaitan dengan ini, Soeratman (1989:2) memberikan contoh, Kepatihan menjadi tempat tinggal pepatih dalem, juga sekaligus berfungsi menjadi pusat administrasi pemerintahan Keraton Surakarta. Letaknya lebih dekat dengan rumah residen daripada jarak dari Kepatihan ke keraton, bahkan untuk mencapai keraton, pepatih dalem harus melewati rumah residen (lihat Gambar 1). Selain itu, untuk etnik-etnik pendatang, seperti Cina dan Arab, masing-masing diurus oleh seorang kepala yang diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda.
Etnik Cina yang berada di sekitar Pasar Gede diurus oleh seorang kepala urusan yang berasal dari etnik yang sama dengan pangkat mayor. Sementara itu, etnik Arab yang berada di Pasar Kliwon diurus oleh seorang kepala urusan yang juga dari etnik yang sama dengan pangkat kapten (Soeratman, 1989:3).
Selain pengelompokan pemukiman berdasarkan ras, di Surakarta juga terdapat pengelompokan pemukiman yang selanjutnya lebih dikenal sebagai kampung-kampung yang menunjuk nama seorang pejabat atau suatu jenis pekerjaan yang diberikan kepadaabdi dalem keraton. Sebagai contoh yaitu Kampung Mangkubumen (tempat tinggal Pangeran Mangkubumi) dan Kampung Kauman (tempat tinggal para kaum/santri). Keberadaan kampung-kampung inilah yang kemudian menjadikan penciri tumbuhnya suatu kota di Jawa yang tetap berusaha mempertahankan moralitas dan ruang sosialnya hidup di tengah tekanan modernitas yang cenderung mengedepankan rasionalitas dan memperluas ruang individu manusia.
Gambar 1 Peta Sala tahun 1821 (Anonim p, tt. Solo Kaart 1821 KIT, MS. Radya Pustaka).
Dalam dunia arsitektur, "ruang'' lazim diidentikkan dengan 'wadah tempat berlangsungnya suatu kegiatan'. Artinya, manusia dalam berkegiatan (beraktivitas) tidak akan pernah lepas dari keberadaan ruang sebagai wadah kegiatannya. Persoalannya, seberapa jauh manusia menyadari eksistensi dan memaknai ruang tersebut dalam kehidupannya agar segala tindakan atau keputusannya adalah dianggap tepat? Ketepatan suatu tindakan oleh manusia Jawa sering diungkapkan dalam terminologibener iku kudu pener, lire jumbuh klawan empan papan (benar itu harus tepat, artinya sesuai dengan ruang dan waktu). Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kebenaran, bagi manusia Jawa, adalah sesuatu yang terfragmentasi, yaitu terpenggal-penggal sesuai dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, manusia harus tetap menjalin keselarasan dengan ruangnya untuk selalu mendekatkan kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap ruang menjadi suatu yang sangat penting bagi manusia.
Manusia Jawa meyakini bahwa antara ”wadah” dengan ”isi” diperlukan adanya keseimbangan, kesejajaran, bahkan keterpaduan sehingga tercipta ketenteraman batin, kesejahteraan, dan kemakmuran dalam hidup dan kehidupan. Keyakinan ini seperti yang terkandung dalam wejangan Sang Dewa Ruci pada Bima dalam Serat Dewa Ruci yang dikutip Mangunwijaya (1992:3) berikut ini.
“Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadaq lan batine, pepindhane wadhah lan isine…
Jeneng wadah yen tanpa isi, alah dene arane wadhah, tanpa tanja tan ana pigunane
semono uga isi tanpa wadhah, yekti barang mokal…
Tumrap urip kang utama tertamtu ambutuhake wadhah lan isi, kang utama karo-karone.”
Yang disebut hidup adalah manunggalnya tubuh dan batin (raga dan jiwa), ibarat wadah dan isinya…
Wadah tanpa isi, adalah sia-sia disebut wadah, tidak akan berarti dan berguna.
Demikian juga isi tanpa wadah, adalah sesuatu yang mustahil…
Untuk hidup yang sempurna membutuhkan wadah dan isi, yang utama adalah kedua-duanya.
Subjektifitas dan interpretasi bebas mengenai kutipan Serat Dewa Ruci di atas mengarahkan tulisan ini untuk menjadikannya sebagai suatu analogi pandangan manusia Jawa mengenai keberadaan makrokosmos (jagad gede= jagad raya) dan mikrokosmos (jagad cilik= diri manusia) yang akhirnya menghasilkan empat asumsi dasar untuk dijadikan pijakan argumen dalam pembahasan mengenai kesadaran manusia terhadap ruang hidupnya.
Pertama, pandangan manusia Jawa terhadap kosmosnya merupakan bentuk nilai tetap yang selalu hadir dalam kehidupannya. Kesejajaran antara wadah dan isi tersebut dilambangkan dengan adanya suatu konsep kesatuan makrokosmos (alam raya) dengan mikrokosmos (manusia). Konsep kemanunggalan makrokosmos dan mikrokosmos diartikan bahwa manusia telah menjalin hubungan dengan kekuatan di luar dirinya yang jauh lebih besar sehingga manusia bersangkutan akan terjaga dan mampu meningkatkan kekuatannya menjadi lebih besar yang pada akhirnya, akan mampu mendatangkan kesejahteraan, kesuburan, dan hal-hal positif lainnya bagi hidup dan kehidupan manusia (Ronald, 1993:30).
Kedua, etika hidup manusia Jawa dalam interaksi sosial diatur melalui prinsip rukun dan hormat dalam menjaga keselarasan hidup. Kesadaran keberadaan manusia Jawa sebagai makhluk individu dan sosial dapat dilihat dari sistem moral dalam hidup kesehariannya.
Dengan etika ini manusia Jawa sangat menghargai adanya perbedaan. Perbedaan jenjang kedudukan yang ada dalam masyarakat dimaknai sebagai perbedaan peran dan tanggung jawab. Malahan kesadaran akan perbedaan ini merupakan salah satu bentuk cara manusia Jawa dalam menciptakan keseimbangan dan keselarasan hidupnya. Mereka mengenal adanya tiga tingkatan etika sebagai pengatur kehidupan sosialnya dengan tidak mengabaikan keberadaannya sebagai makhluk pribadi sebagai berikut.
(1) Etika keluarga, yaitu etika yang digunakan dalam kelompok terkecil yang disebut lingkup keluarga.
(2) Etika antarkeluarga, yaitu etika yang digunakan dalam kehidupan lebih luas daripada lingkup keluarga, tepatnya antarkelompok (keluarga).
(3) Etika umum, yaitu etika yang digunakan dalam lingkup masyarakat luas. Pada kesehariannya, manusia Jawa lebih mengutamakan etika yang lebih luas, atau lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi atau kelompok yang lebih kecil.
Ketiga, rukun dan hormat sebagai upaya menjaga keselarasan hidup merupakan ”prinsip pencegahan konflik” (Magnis-Suseno, 1991:40). Artinya, manusia Jawa sangat terbuka dalam menerima suatu perubahan akibat interaksi sosial yang dijalani demi terjaganya keselarasan. Perubahan yang paling banyak terjadi adalah pada sistem nilai terutama pada produk-produk budayanya, sedangkan untuk norma yang diwujudkan pada perilaku relatif tidak berubah, sehingga nilai-nilai dari luar yang dianggap baik dan sesuai dijadikan sebagai sumber pengkayaan budaya Jawa.
Keempat, identitas diri yang terbentuk diungkapkan melalui pikiran dan perbuatan yang total, berlandasan dan beralasan. Dalam ruang hidup materialnya hal tersebut dikomunikasikan secara tidak langsung, diungkapkan dengan menggunakan simbol sehingga pembacaan ulang terhadap simbol tersebut (pemaknaan ulang) dapat dilakukan sesuai dengan semangat zamannya.
Berdasarkan keempat asumsi dasar kesadaran manusia Jawa terhadap ruang hidupnya di atas menunjukkan bahwa persoalan “arsitektur urban” bukan semata-mata persoalan ruang hidup material manusia, tetapi lebih pada persoalan struktur sosial dan kesadaran masyarakat Jawa atas ruang sosialnya. Artinya, “kampung” dapat dipandang sebagai bentuk arsitektur pemukiman ideal perkotaan di Jawa yang mampu menjaga moralitas dan ruang sosial suatu masyarakat. Pada titik inilah, “masyarakat kampus” sudah waktunya untuk turun gunung menuju “kampung”. Sebagaimana kawan-kawan yang telah tergabung di dalam komunitas
“Kampung Kota” yang diinisiasi di UNS pada tanggal 21 Januari 2011.
4. Simpulan
Berdasarkan paparan makalah di atas dapat ditarik dua simpulan sebagai berikut.
1) Tekanan rasionalitas atas moralitas masyarakat dalam modernisme hanya akan menjadikan manusia terlempar pada keterasingan diri karena terjebak pada ruang individu yang mereka bangun.
2) Kampung merupakan bentuk arsitektur pemukiman ideal perkotaan di Jawa yang mampu menjaga moralitas dan ruang sosial masyarakat. Oleh karenanya,
“masyarakat kampus” sudah waktunya turun gunung menuju dan membangun
“kampung”.
Daftar Pustaka
Abdullah, Irwan. 2006.Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barker, Chris. 2005.Cultural Studies Teori dan Praktek.Yogyakarta: Bentang.
Capra, Fritjof. 2004. Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan.
Yogyakarta: Bentang Budaya.
Cavallaro, Dani. 2004.Teori Kritis dan Teori Budaya. Yogyakarta: Niagara.
Giddens, Anthony. 2001.Runaway World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Larson, Goerge D. 1990.Masa Menjelang Revolusi: Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912 – 1942 (terjemahan oleh: Lapian, A.B.).Yogyakarta: Gajah Mada Press.
Lash, Scott. 2004.Sosiologi Postmodernisme.Yogyakarta: Kanisius
Lubis, Akhyar Yusuf. 2004. Setelah Kebenaran dan Kepastian Dihancurkan Masih Adakah Tempat Berpijak Bagi Ilmuwan: Sebuah Uraian Filsafat Ilmu Pengetahuan Kaum Posmodernis. Bogor: Akademia.
Magnis-Suseno, F. 1991. Wayang dan Panggilan Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Mangunwijaya, Y.B. 1992. Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis, 2nd edn. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ronald, Arya. 1993. Transformasi Nilai-nilai Mistik dan Simbolik Dalam Ekspresi Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Yogyakarta: Lembaga Javanologi Panunggalan.
Soekanto, Soerjono. 2001.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: Raja Grafindo Persada
Soeratman, Darsiti. 1989. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta, 1830 – 1939. Yogyakarta:
Taman Siswa.