Blogspot : tentangkontur.blogspot.com E-mail : [email protected]
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
MENYINGKAP FENOMENA HAZE PADA ATMOSFER YANG MENYELIMUTI LANGIT BIRU Citrawati
Geografi Sains
Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar
Tahun 2024 ABSTRACT
Haze, the smog that blankets the blue sky, has become an increasingly familiar phenomenon in many parts of the world, including Indonesia. This phenomenon not only disturbs the beauty of nature, but also brings significant health and environmental impacts. This research aims to examine the haze phenomenon in depth, starting from its source, particle types, impacts, to countermeasures. The research method used is a literature study on the phenomenon of haze that occurs in Indonesia. Jerebu is produced by several factors such as forest fires, industrial activities, motor vehicle emissions and road dust. Jerebu has content that is harmful to health and can be overcome or prevented.
Keywords: Haze; Jerebu.
ABSTRAK
Haze, kabut asap yang menyelimuti langit biru, telah menjadi fenomena yang kian familiar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena ini tidak hanya mengganggu keindahan alam, tetapi juga membawa dampak kesehatan dan lingkungan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena haze secara mendalam, mulai dari sumbernya, jenis partikel, dampaknya, hingga upaya penanggulangannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi literatur mengenai fenomena jerebu yang terjadi di Indonesia. Jerebu dihasilkan oleh beberapa faktor seperti kebakaran hutan, aktivitas industri, emisi kendaraan bermotor dan debu jalanan. Jerebu memiliki kandungan yang berbahaya untuk kesehatan dan dapat ditanggulangi atau dicegah.
Kata Kunci: Haze; Jerebu
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara yang disebut-sebut sebagai paru-paru dunia tentunya dianugerahi hutan yang berlimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hutan yang begitu luas sangat bermanfaat sebagai penobang dan sumber kesejahteraan bagi kehidupan baik masing-masing individu dan juga negara.
Akan tetapi, kerusakan hutan Indonesia setiap tahunnya selalu bertambah parah. Kerusakan hutan di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan dan juga penebangan hutan secara liar dan besar-besaran. Sudah menjadi rahasia umum bahwasannya Indonesia selalu menjadi langganan kebakaran hutan setiap tahunnya, terlebih ketika musim kemarau. Kebakaran hutan tersebutlah yang merusak ekosistem hutan dan mengurangi luas hutan Indonesia setiap tahunnya. Kebakaran hutan menimbulkan asap yang mengandung gas karbon monoksida dan karbon dioksida. Asap tersebut pastinya mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat, baik yang tinggal dekat mau pun jauh dari kawasan hutan. Indonesia sendiri dinobatkan sebagai negara terbesar ketiga yang menyumbangkan gas rumah kaca ke atmosfer dan sumbangan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan.
Permasalahan kabut asap ini menjadi masalah internasional karena kasus ini menimbulkan pencemaran di negara-negara tetangga (transboundary pollution) sehingga mereka mengajukan protes terhadap Indonesia atas terjadinya masalah ini. Kerugian social ekonomi dan ekologis yang timbul oleh kebakaran hutan cukup besar, bahkan dalam beberapa hal sulit untuk diukur dengan nilai rupiah.
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
Isu publik yang sering diperbincangkan di lingkup Nasional maupun Internasional, tidak lepas dari permasalahan pencemaran lingkungan, salah satunya yaitu pencemaran kabut asap. Pencemaran kabut asap ini akan menimbulkan dampak masalah yang berbahaya bagi masyarakat, ekosistem makhluk hidup, dan lingkungan.Terutama kesehatan masyarakat, apabila asap yang telah dihirup oleh manusia dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut, penyakit asma, kulit, dan mata.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan metode campuran, menggabungkan tinjauan pustaka, analisis data statistik, dan studi kasus. Data yang dianalisis meliputi data konsentrasi partikel haze dari stasiun pemantauan kualitas udara, data sumber haze dari analisis citra satelit dan laporan lapangan serta studi kasus pada dampak haze terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan di beberapa wilayah Indonesia
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa haze merupakan fenomena kompleks yang disebabkan oleh emisi partikel kecil ke atmosfer. Partikel-partikel ini berasal dari berbagai sumber, seperti:
1. Kebakaran hutan
Kebakaran hutan merupakan sumber utama haze di Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 90%
emisi partikel. Kebakaran ini sering terjadi di wilayah hutan tropis yang rawan deforestasi dan pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, dan industri. Kabut asap yang dihasilkan dari pembakaran hutan, atau jerebu, memiliki dampak yang luas dan serius terhadap lingkungan, kesehatan manusia, serta aktivitas sosial ekonomi. Pembakaran hutan biasanya dilakukan untuk membuka lahan pertanian, terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan karet di Asia Tenggara. Kebakaran di lahan gambut yang kaya bahan organik juga menghasilkan asap tebal yang sulit dipadamkan. Selain itu, kondisi cuaca kering dan angin memperburuk kebakaran dan penyebaran kabut asap. Kabut asap terdiri dari berbagai polutan, termasuk partikulat halus (PM2.5 dan PM10), gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (NOx), serta senyawa organik volatil (VOC) yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan ozon troposferik.
Dampak kabut asap terhadap kesehatan meliputi gangguan pernapasan, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta memperburuk kondisi asma dan bronkitis. Paparan jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
Anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya sangat rentan terhadap efek negatif kabut asap. Secara lingkungan, kabut asap dapat menghalangi sinar matahari, mengganggu fotosintesis, merusak habitat satwa liar, serta menyebabkan pengasaman tanah dan air akibat polutan seperti sulfur dioksida (SO2). Secara ekonomi dan sosial, kabut asap mengganggu transportasi udara, mengurangi produktivitas kerja, menurunkan jumlah wisatawan, serta meningkatkan biaya kesehatan masyarakat. Sekolah seringkali harus ditutup akibat kualitas udara yang buruk, mengganggu proses belajar mengajar.
Contoh nyata dampak kabut asap dapat dilihat pada kebakaran hutan di Indonesia tahun 2015, yang menghasilkan kabut asap menyebar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, menyebabkan ribuan kasus penyakit pernapasan dan kerugian ekonomi yang besar. Di Australia, kebakaran hutan besar pada musim panas 2019-2020 menghasilkan kabut asap parah yang mengurangi kualitas udara di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne, serta menyebabkan kerusakan ekosistem yang luas dan kematian satwa liar dalam jumlah besar.
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
2. Aktivitas industri
Aktivitas industri, seperti pembangkit listrik, pabrik, dan kilang minyak, juga menghasilkan emisi partikel yang berkontribusi terhadap haze. Aktivitas industri memiliki dampak signifikan terhadap kualitas udara dan berkontribusi besar terhadap polusi udara. Berikut adalah beberapa aspek penting mengenai pengaruh aktivitas industri terhadap polusi udara:
Sumber Utama Polusi dari Aktivitas Industri
1. Emisi Gas Buang: Industri manufaktur, pembangkit listrik, dan pabrik kimia mengeluarkan berbagai gas buang seperti karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), dan partikel halus (PM2.5 dan PM10).
2. Proses Pembakaran: Banyak industri menggunakan bahan bakar fosil (batubara, minyak, gas) untuk proses produksi dan energi, yang menghasilkan emisi berbahaya.
3. Penggunaan Bahan Kimia: Beberapa industri, seperti industri kimia dan farmasi, menggunakan dan memproduksi bahan kimia yang volatil dan beracun yang dapat terlepas ke udara.
4. Debu dan Partikel: Industri pertambangan, semen, dan konstruksi menghasilkan debu dan partikel yang dapat mencemari udara.
5. Emisi kendaraan bermotor: Kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar fosil, mengeluarkan emisi gas buang yang mengandung partikel halus. Menurut Suhadi (2008), bahwa volume dan jenis kendaraan yang terdapat di jalan akan mempengaruhi beban emisi yang dihasilkan.
Tipikal jenis kendaraan di ketiga ruas jalan lebih banyak kendaraan yang berbahan bakar bensin dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar solar, jenis kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin akan mengeluarkan gas CO dan HC lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar solar. Beban pencemar gas CO di jalan Sudirman tertinggi dihasilkan pada waktu sore 28 %, diikuti waktu pagi dan siang sebesar 25 %, waktu malam sebesar 23 %. Beban pencemar gas CO tertinggi di waktu sore karena volume kendaraan dan jenis kendaraan berbahan bakar bensin lebih tinggi dari waktu lainnya. Sementara waktu pagi walaupun volume kendaraan lebih banyak dari waktu siang, namun jenis kendaraan mobil berbahan bakar bensin lebih sedikit sehingga menghasilkan beban pencemar CO yang sama (25 %). Kontribusi beban pencemar gas CO jenis sepeda motor merupakan jumlah terbanyak di ketiga ruas jalan dibandingkan dengan kendaraan lain/mobil, namun beban pencemar gas CO yang dihasilkan oleh sepeda motor lebih kecil dari jumlahnya daripada mobil berbahan bakar bensin.
6. Debu jalanan: Debu jalanan, terutama di kota-kota besar, dapat terangkat ke atmosfer dan berkontribusi terhadap haze. Debu jalanan merupakan salah satu sumber polusi udara yang signifikan di perkotaan, berasal dari berbagai sumber seperti abrasi ban kendaraan, keausan rem, erosi tanah, serta aktivitas konstruksi dan industri. Debu ini terdiri dari partikel halus (PM10 dan PM2.5) yang dapat terhirup oleh manusia dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Selain itu, debu jalanan dapat mengganggu visibilitas dan memperburuk kondisi lingkungan perkotaan.
Partikel-partikel haze terdiri dari berbagai jenis, termasuk:
1) Partikel organik halus (PM2.5): PM2.5 merupakan partikel yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat dengan mudah dihirup dan masuk ke dalam paru-paru. Paparan PM2.5 dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi pernapasan, penyakit jantung, dan kanker.
2) Debu: Debu dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.
3) Garam laut: Garam laut dapat menyebabkan korosi pada infrastruktur dan peralatan elektronik.
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
Haze memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan manusia, lingkungan, dan ekonomi.
Dampak kesehatan meliputi:
1) Peningkatan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit pernapasan: Paparan PM2.5 dapat menyebabkan berbagai penyakit pernapasan, seperti infeksi paru-paru, asma, dan bronkitis.
2) Penurunan kualitas hidup: Haze dapat menyebabkan sesak napas, batuk, dan iritasi mata, yang dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Dampak lingkungan meliputi:
1) Penurunan jarak pandang: Haze dapat menyebabkan jarak pandang menurun secara signifikan, yang dapat membahayakan penerbangan dan transportasi lainnya.
2) Pengasaman hujan: Emisi gas buang dari haze dapat menyebabkan pengasaman hujan, yang dapat merusak tanaman dan ekosistem air.
3) Perubahan iklim: Haze dapat memengaruhi pola cuaca dan iklim regional.
Dampak ekonomi meliputi:
1) Penurunan sektor pariwisata: Haze dapat menyebabkan wisatawan enggan mengunjungi wilayah yang terkena dampak haze.
2) Penurunan produktivitas: Haze dapat menyebabkan pekerja mengalami sakit dan tidak dapat bekerja, yang dapat menurunkan produktivitas.
3) Kerugian ekonomi: Haze dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi sektor pertanian, perikanan, dan industri.
Upaya Penanggulangan Haze
Upaya penanggulangan haze memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:
1. Pencegahan kebakaran hutan
Meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dengan memperkuat patroli hutan, edukasi masyarakat, dan penegakan hukum. Upaya penanggulangan kabut asap melibatkan berbagai langkah, mulai dari regulasi dan kebijakan yang kuat, seperti penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan ilegal, hingga kerjasama internasional melalui perjanjian lintas batas. Teknologi pemantauan satelit dan sistem peringatan dini sangat penting untuk mendeteksi kebakaran dan memberikan respons cepat. Selain itu, edukasi dan kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan pentingnya menjaga lingkungan, serta partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran, juga sangat diperlukan. Kabut asap dari pembakaran hutan merupakan masalah serius yang memerlukan pendekatan terpadu dari pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional untuk mengatasi dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
2. Pengendalian emisi industri
Menerapkan standar emisi yang lebih ketat untuk industri dan mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan. Pengendalian emisi industri merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak negatif aktivitas industri terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Pendekatan utama dalam pengendalian emisi industri melibatkan penggunaan teknologi dan peralatan seperti scrubber, filter bag (baghouse), electrostatic precipitator (ESP), catalytic converters, dan selective catalytic reduction (SCR) untuk menghilangkan partikel dan gas berbahaya dari aliran gas buang industri. Selain itu, penggunaan bahan bakar bersih dan alternatif seperti energi terbarukan, gas alam, dan bahan bakar ramah lingkungan dapat membantu mengurangi emisi CO2, NOx, SO2, dan partikel. Meningkatkan efisiensi energi melalui optimasi proses dan pemulihan energi juga berkontribusi pada pengurangan emisi.
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
Regulasi dan kebijakan yang ketat, seperti penetapan batas emisi, sistem perizinan dan pelaporan, serta insentif dan penalti, memainkan peran penting dalam memastikan kepatuhan industri terhadap standar emisi. Pemantauan kontinu emisi, inspeksi rutin, dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran juga diperlukan untuk memastikan industri mematuhi regulasi. Edukasi dan peningkatan kesadaran melalui pelatihan bagi pekerja industri dan kampanye kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengendalian emisi juga sangat penting. Contoh nyata dari penerapan pengendalian emisi industri yang berhasil dapat dilihat di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Uni Eropa, melalui kebijakan Green Deal dan aturan ketat mengenai emisi industri, telah berhasil mengurangi emisi NOx, SO2, dan partikel halus secara signifikan. Sementara itu, Amerika Serikat, dengan program Clean Air Act dan penggunaan teknologi pengendalian polusi seperti scrubber dan catalytic converters, telah mengurangi emisi polutan dari industri secara drastis. Pengendalian emisi industri memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan teknologi canggih, regulasi yang ketat, pemantauan kontinu, serta peningkatan kesadaran dan edukasi untuk melindungi kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan lingkungan secara keseluruhan.
3. Pengurangan emisi kendaraan bermotor
Menerapkan kebijakan yang mendorong penggunaan transportasi publik, kendaraan ramah lingkungan, dan bahan bakar alternatif. Pengurangan emisi kendaraan bermotor merupakan langkah penting dalam mengatasi polusi udara dan perubahan iklim. Beberapa strategi yang efektif termasuk penggunaan teknologi canggih seperti catalytic converters, yang mengubah gas beracun menjadi kurang berbahaya, dan adopsi mesin yang lebih efisien serta bahan bakar rendah emisi seperti gas alam dan bahan bakar bio. Peningkatan efisiensi bahan bakar melalui desain aerodinamis dan pengurangan bobot kendaraan juga berkontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi. Regulasi pemerintah yang ketat, seperti standar emisi Euro di Eropa dan peraturan CAFE di Amerika Serikat, menetapkan batas emisi yang ketat dan mendorong produsen untuk mengembangkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Elektrifikasi transportasi melalui peningkatan penggunaan kendaraan listrik dan hibrida menjadi solusi jangka panjang yang semakin populer, didukung oleh infrastruktur pengisian daya yang berkembang dan insentif finansial. Selain itu, program inspeksi dan pemeliharaan rutin memastikan kendaraan beroperasi dengan emisi minimum. Upaya edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih kendaraan yang ramah lingkungan serta mempraktikkan cara mengemudi yang efisien juga sangat penting dalam mengurangi emisi kendaraan bermotor secara keseluruhan.
4. Pengelolaan debu jalanan: Meningkatkan pembersihan jalan dan menerapkan kebijakan yang membatasi emisi debu dari kendaraan bermotor.
5. Peningkatan kesadaran masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya haze dan cara mencegahnya.
“SATU BUMI MILIK BERSAMA TANPA BATAS TANPA PENINDASAN”
SIMPULAN
Haze, kabut asap yang menyelimuti langit biru, merupakan fenomena kompleks yang membawa dampak signifikan terhadap kesehatan manusia, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian dan studi kasus menunjukkan bahwa haze di Indonesia memiliki karakteristik unik, dengan sumber utama berasal dari kebakaran hutan, emisi industri, dan kendaraan bermotor. Partikel-partikel halus PM2.5 dari asap kebakaran hutan menjadi ancaman utama bagi kesehatan, menyebabkan berbagai penyakit pernapasan dan penurunan kualitas hidup. Dampak lingkungan yang signifikan termasuk pengasaman hujan, perubahan iklim, dan penurunan jarak pandang.
Upaya penanggulangan haze memerlukan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.
Pencegahan kebakaran hutan, pengendalian emisi industri, pengurangan emisi kendaraan bermotor, pengelolaan debu jalanan, dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Diperlukan kerjasama antar pihak, baik pemerintah, swasta, masyarakat sipil, dan komunitas internasional, untuk mengatasi fenomena ini secara efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Hodijah, et al. (2019). Estimasi Beban Pencemar Dari Emisi Kendaraan Bermotor di Ruas Jalan Kota Pekanbaru. Dinamika Lingkungan Indonesia, 1(2), p 71-79.
Kurnia, Akbar P,. (2020). Transboundary Haze Pollution Dalam Perspektif Hukum Lingkungan Internasional. Jurnal Ilmu Hukum, 92-109
Maurentinad Valentin dan Mella Ismelina Farma Rahayu. (2023). Tanggung Jawab Negara Atas Pencemaran Asap Lintas Batas Akibat Kebakaran Hutan. Jurnal Kertha Semaya, 11(2), 353-364 Rahma, Eka C,. (2020). Hubungan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Terhadap Kualitas
Udara dan Resiko Kesehatan Masyarakat. Skripsi FT UI
Pengelola Jurnal
Muh. Jibran Nidhal Fikri
Jl. Mallengkeri, 90222 Kampus Parangtambung UNM Makassar Gedung Geografi ruang publikasi Lt 1, Indonesia
Email : [email protected] Hp. 082259301930 (Whatsapp)