• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL JURNAL SOSANKES

N/A
N/A
36 - Zalfaa Naila Afifah

Academic year: 2025

Membagikan "ARTIKEL JURNAL SOSANKES"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Keluarga dalam Pencegahan Obesitas pada Remaja Umur 10 - 18 Tahun Di Indonesia

Dosen Pengampu:

Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes Dr. Mohammad Zainal Fatah, Drs., M.S., M.Kes.

Disusun oleh:

Kelompok 4 –BWI A

Zahwa Yasmina Fajri (194241041) Zalfaa Naila Afifah (194241034) Amelia Cahyani (194241007) Cyrilla Yendi Agripina (194241027) Aulia Zahra (194241030) Adam Rizqi Arazi (194231020) Dyne Ayu Fajar Putri (194241002)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN, KEDOKTERAN, DAN ILMU ALAM UNIVERSITAS AIRLANGGA

2025

(2)

PERAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN OBESITAS PADA REMAJA UMUR 10 - 18 TAHUN DI INDONESIA (THE ROLE OF FAMILY IN OBESITY PREVENTION IN ADOLESCENTS AGE 10 - 18

YEARS IN INDONESIA)

Zahwa Yasmina Fajri, Zalfaa Naila Afifah, Amelia Cahyani, Cyrilla Yendi Agripina, Aulia Zahra, Adam Rizqi Arazi, Dyne Ayu Fajar Putri

Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Jl. Ikan Wijinongko No.18a, Sobo, Kecamatan

Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, 68418

ABSTRAK

Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia, dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, termasuk perilaku makan, aktivitas fisik, dan dukungan keluarga. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran krusial dalam membentuk pola hidup sehat pada remaja melalui pengaturan pola makan, pemberian edukasi kesehatan, serta mendorong aktivitas fisik yang cukup. Namun, tantangan modern seperti gaya hidup yang buruk, konsumsi makanan cepat saji, dan keterbatasan ekonomi menjadi hambatan utama dalam upaya pencegahan obesitas. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis berbagai artikel ilmiah terkait peran keluarga dalam pencegahan obesitas pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang optimal, baik dalam aspek edukasi, pola makan, maupun aktivitas fisik, berkontribusi signifikan dalam mencegah obesitas. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang melibatkan keluarga, sekolah, dan kebijakan pemerintah guna menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat bagi remaja.

Kata kunci: obesitas, remaja, keluarga, pencegahan, pola hidup.

ABSTRACT

Adolescent obesity is an increasing health problem in Indonesia, with various factors influencing it, including eating behavior, physical activity, and family support. Families, especially parents, play a crucial role in shaping healthy lifestyles in adolescents through

(3)

dietary management, providing health education, and encouraging adequate physical activity.

However, modern challenges such as poor lifestyle, fast food consumption, and economic limitations are the main obstacles in obesity prevention efforts. This study used the literature review method by analyzing various scientific articles related to the role of the family in preventing obesity in adolescents. The results showed that optimal family support, both in terms of education, diet, and physical activity, contributed significantly to preventing obesity.

Therefore, interventions involving families, schools, and government policies are needed to create an environment that supports a healthy lifestyle for adolescents.

Keywords: obesity, adolescent, family, prevention, lifestyle.

PENDAHULUAN

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia. menurut peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun.

Masa remaja membawa perubahan fisik yang signifikan, di mana seorang laki-laki berkembang menjadi pria dewasa dan seorang perempuan menjadi wanita dewasa. Perubahan yang jelas terlihat pada struktur dan fungsi tubuh remaja, dengan laju pertumbuhan yang sebelumnya menurun sejak lahir, kini menjadi lebih cepat. Hal ini menyebabkan remaja cenderung memiliki lebih sedikit waktu untuk beraktivitas, dan penumpukan lemak berlebih pada tubuh dapat berisiko menyebabkan obesitas.

Obesitas adalah kondisi di mana terjadi penumpukan lemak yang berlebihan atau tidak normal di jaringan adiposa hingga mencapai tingkat yang dapat membahayakan kesehatan.

Seseorang dikategorikan sebagai

overweight jika berat badannya melebihi 10% hingga 20% dari berat badan normal . Sementara itu, seseorang dianggap mengalami obesitas jika kelebihan berat badannya melampaui 20% dari berat badan norma (Kinansi dkk, 2023). Jika remaja memiliki pandangan positif terhadap kemampuan diri, kecenderungan obesitas pada mereka dapat mengurangi penurunan rasa percaya diri.

Pada tahun 2016, sekitar 340 juta orang di dunia yang berusia 15-19 tahun mengalami obesitas (WHO, 2021).

Menurut prediksi dari World Obesity Federation pada 2019, angka obesitas global pada kelompok usia 15-19 tahun diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2025, mencapai 10,5% atau sekitar 205,5 juta orang. Sementara itu, di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angka obesitas diperkirakan akan mencapai 12%

atau sekitar 26,4 juta orang (WOF, 2019).

Di Jawa Barat, pada tahun 2019, obesitas terjadi pada 8,83% atau sekitar 291.067

(4)

orang (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2020). Proporsi remaja yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia mencapai 20% pada kelompok usia 13-15 tahun, sedangkan pada remaja berusia 16-18 tahun, angkanya sebesar 13,6% (Riskesdas 2018).

Menurut teori klasik H.L. Blum, terdapat empat faktor yang memengaruhi derajat kesehatan secara berturut-turut, yaitu: 1) perilaku; 2) lingkungan; 3) pelayanan kesehatan; dan 4) faktor genetik (keturunan). Keempat faktor ini saling berinteraksi dan memengaruhi kesehatan individu. Lapisan pertama yang memengaruhi kesehatan mencakup perilaku dan gaya hidup individu, yang dapat berkontribusi positif atau negatif terhadap kesehatan, seperti kebiasaan makan. Perilaku dan karakteristik individu juga dapat dipengaruhi oleh pola keluarga, pertemanan, dan norma-norma yang ada di komunitas tempat individu tersebut tinggal (Saraswati 2021).

Keluarga memainkan peran sentral dalam membentuk pola hidup sehat remaja, termasuk pola makan dan aktivitas fisik. Lingkungan sosial keluarga adalah lingkungan yang penting dan utama bagi anak. Hal ini dikarenakan dalam keluarga inilah anak pertama kali akan memperoleh pendidikan dan bimbingan (Rizona, F., dkk. 2024). Orang tua, sebagai figur utama dalam keluarga, memiliki pengaruh besar

dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi makan, serta kebiasaan berolahraga remaja. Selain itu, dukungan emosional dan sosial dari keluarga juga dapat memengaruhi motivasi remaja untuk menjaga berat badan yang sehat.

Namun, tantangan modern seperti gaya hidup sedentari, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, dan kurangnya waktu berkualitas bersama keluarga seringkali menghambat upaya pencegahan obesitas. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana peran keluarga dapat dioptimalkan dalam mencegah obesitas pada remaja, khususnya di Indonesia, di mana perubahan gaya hidup modern semakin memengaruhi pola hidup masyarakat.

Tetapi keluarga atau lebih tepatnya ibu harus memiliki pengetahuan tentang pola konsumsi makan dalam keluarga.

Penggunaan teknologi modern dapat menjadi tantangan atau peluang, tergantung pada sejauh mana teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung tujuan program tanpa meningkatkan gaya hidup yang tidak sehat. (Salsabila, L. 2023)

(5)

METODE

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Literature review. dalam penelitian ini penulis memilih artikel penelitian kualitatif dengan menggunakan data base yang dijadikan sebagai sumber pencarian yang terkait seperti artikel kesehatan, SINTA (Science and Technology Index), Google Scholar. Dalam melakukan pencarian sumber tersebut penulis menggunakan kata kunci : obesitas, remaja, keluarga, pola hidup, pencegahan.

setelah dilakukan pencarian melalui database yang sudah ditentukan. Hasil temuan di seleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. kriteria inklusi dan eksklusi terjadi pada tabel dibawah.

Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi Hasil penelitian

berupa artikel penelitian primer dimana penulis langsung melakukan penelitian.

Artikel penelitian berupa skripsi dan thesis bukan dalam bentuk artikel yang dipublikasikan.

Artikel merupakan artikel full-text yang gratis dan dapat di akses

Artikel yang digunakan berbayar

Artikel menggunakan bahasa Indonesia

HASIL

Fokus utama dari analisis mini literature review ini adalah mengidentifikasi peran keluarga dalam pencegahan obesitas pada remaja. Untuk mengoptimalkan hasil dari mini literature review ini akan

diklasifikasikan hasil temuan dari beberapa penelitian.

Tabel 2. Studi Karakteristik

(6)

Penulis Tujuan Jenis

penelitian Responden Metode Hasil Saraswati et

al., (2021) Tujuan penelitian ini untuk melihat faktor yang menyebabkan obesitas menurut teori H.L. Blum.

Penelitian kualitatif

(Literature review)

Tidak melibatkan responden karena menggunak an metode literature review, yaitu dengan mengumpul kan dan menganalisi s hasil penelitian sebelumnya .

Menggunak an metode Literature review.

Teknik ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungka pkan berbagai teori-teori yang relevan dengan permasalaha n yang sedang dihadapi atau diteliti sebagai bahan rujukan dalam pembahasan hasil

penelitian.

Dalam penelitian ini penulis memilih artikel penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional atau case control.

Hasil

penelitian dari tinjauan artikel diketahui faktor penyebab obesitas berdasarkan teori H.L.

Blum. Faktor yang

mempengaruhi kejadian obesitas terdiri dari faktor lingkungan yaitu aktivitas fisik hanya sebagai trend dan pilihan makanan yang beragam, faktor pelayanan kesehatan yaitu pengaruh penyuluhan, faktor genetik yaitu usia, jenis kelamin, parental fatness, mutase gen, dan faktor perilaku yaitu pola makan dan kurangnya aktivitas fisik.

Julita et al.,

(2021) Tujuan penelitian ini untuk

menganalisis pengaruh promosi kesehatan keluarga

Penelitian Mix Method

(Systematic review)

Studi ini menganalisi s 16 artikel yang menggunak an berbagai jumlah sampel dari

Systematic review dengan PRISMA protocol.

Intervensi yang dilakukan,

Program promosi kesehatan keluarga terbukti efektif dalam

mencegah obesitas pada

(7)

terhadap pencegahan obesitas pada anak.

anak-anak dan orang tua mereka dalam berbagai program intervensi kesehatan keluarga.

menggunaka n metode ceramah (12 artikel) dan diskusi (8 artikel), diikuti dengan metode game, iklan, dan bermain peran.

anak usia 6-12 tahun dengan intervensi yang berfokus pada

peningkatan konsumsi makanan sehat, seperti buah, sayuran, dan diet seimbang, serta perubahan pola makan dan

peningkatan aktivitas fisik.

Dari berbagai program yang dianalisis, CHIRPY DRAGON menjadi yang paling efektif karena mengintegrasi kan aktivitas fisik dan penyediaan makanan sehat di rumah.

Secara keseluruhan, semua intervensi dalam 16 artikel yang direview menunjukkan hasil yang signifikan dalam pencegahan obesitas, dengan nilai p<0,001 atau p<0,05, menandakan

(8)

efektivitas program yang diterapkan.

Rizona et al., (2024)

Tujuan

penelitian  ini  untuk

meningkatkan dukungan orang tua dalam membantu pencegahan obesitas pada anak.

Penelitian kuantitatif (Pengabdian masyarakat yang

menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion/F GD).)

Responden terdiri dari 20 orang tua siswa sekolah dasar di Kota Palembang, yang dibagi menjadi 2 kelompok saat sesi diskusi kelompok.

Intervensi dilakukan dengan ceramah dan diskusi kelompok terfokus (FGD).

Pengumpula n data menggunaka n kuesioner sebelum dan sesudah intervensi.

Analisis data

menggunaka n analisis deskriptif menggunaka n program komputer.

Terjadi peningkatan pengetahuan orang tua tentang obesitas sebelum dan setelah dilakukan kegiatan.

sebelum dan setelah kegiatan didapatkan bahwa sebaran data sebelum dilakukan kegiatan ceramah dan FGD (diskusi kelompok) oleh para orang tua mengalami peningkatan pada kategori baik yaitu dari 25% (5 orang tua) menjadi 85% (17 orang tua) setelah dilakukan proses diskusi.

Orang tua mulai memahami pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik anak, serta peran mereka dalam memantau berat badan anak untuk

(9)

mencegah obesitas.

Kinansi et al., (2023)

Tujuan penelitian ini untuk

memberikan pemahaman masyarakat terkait faktor- faktor yang menyebabkan obesitas.

Penelitian kuantitatif ( Cross sectional dengan pendekatan deskriptif analitik.)

Seluruh wanita usia produktif sebanyak 72 orang yang memenuhi kriteria inklusi yang berusia 21- 65 tahun di 

Kelurahan Kecandran RT.06, RW.06, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga

Pengumpula n data dilakukan melalui pengukuran antropometr i yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut responden.

Dilakukan pengisian kuesioner pre-test dan post-test.

Analisis data dalam penelitian ini

menggunaka n metode statistik deskriptif.

Uji-T berpasangan guna

melihat perubahan tingkat pengetahuan responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40,28%

responden memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berada dalam kategori normal, sementara 60,72%

lainnya mengalami kondisi underweight, overweight, atau obesitas.

Sosialisasi yang dilakukan terbukti efektif dalam

meningkatkan pemahaman responden tentang obesitas.

Burhan et

al., (2023) Tujuan penelitian ini untuk menilai pengaruh obesitas terhadap tingkat aktivitas fisik atau pengaruh aktivitas fisik terhadap

Penelitian kuantitatif (Menggunaka n data

sekunder dari IFLS 4 dan IFLS 5)

Responden penelitian terdiri dari 16. 166 responden berusia antara 18 hingga 65 tahun yang memiliki data

Pengambila n sampel untuk IFLS dilakukan dengan metode stratified random sampling.

Dengan kriteria

Prevalensi obesitas mengalami peningkatan yang

signifikan, dari 25,5% pada tahun 2007 menjadi 38,9%

pada tahun 2014. Dalam

(10)

kejadian obesitas pada populasi Indonesia berusia 18-65 tahun.

mengenai aktivitas fisik, usia, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan, yang diperoleh dari IFLS 4 dan 5.

inklusi dalam pemilihan subjek penelitian meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, serta lokasi tempat tinggal pada IFLS 4 (tahun 2007) dan IFLS 5 (tahun 2014).

Kriteria eksklusi mencakup subjek yang memiliki data yang tidak lengkap pada salah satu dari kedua IFLS tersebut.

periode yang sama, gaya hidup

sedentari juga mengalami kenaikan, dari 29,8% menjadi 43,0%. Ketika dibandingkan dengan individu yang tidak

mengalami obesitas, mereka yang obes memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami penurunan tingkat

aktivitas fisik, dengan rasio kemungkinan (RR) sebesar 1,27 (interval kepercayaan 95%: 1,23- 1,31).

Arifani &

Setiyaningr um., (2021)

Tujuan penelitian ini untuk

memahami faktor perilaku berisiko yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada usia dewasa, dengan fokus pada kebiasaan merokok, konsumsi

Penelitian kuantitatif

( studi cross sectional )

Responden dalam penelitian ini

sebanyak 12.718 orang dewasa usia 20-60 tahun yang diambil secara Probability Proportion al to Size.

Menggunak an data sekunder dari Riskesdas 2018 dengan wawancara kuesioner dan

pengukuran antropometr i (tinggi badan &

berat badan).

Hasil uji chi square menunjukan adanya hubungan perilaku merokok, konsumsi makanan manis, minuman manis, soft drink, makanan instan dan

(11)

makanan berisiko, dan aktivitas fisik.

Analisis data dengan analisis univariat untuk melihat distribusi data dan analisis bivariat dengan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara faktor perilaku berisiko dan obesitas.

aktivitas fisik dengan kejadian obesitas. Tidak ada hubungan konsumsi makanan berlemak dengan kejadian obesitas.

Salsabila., (2023)

Tujuan penelitian ini untuk

menjelaskan tantangan dan peluang dalam keberlanjutan Program GENTAS sebagai strategi pengendalian obesitas di Indonesia.

Penelitian kualitatif

(Literature review)

Tidak menggunak an

responden langsung.

Literatur dari tahun 2018–2023 yang diperoleh melalui pencarian kata kunci

"obesitas"

dan

"GENTAS".

Kriteria Inklusi didapat dari  open access, full text, studi observasion al, artikel ulasan yang relevan dengan topik penelitian.

Evaluasi program  GENTAS menunjukkan pencapaian yang sulit tercapai pada target obesitas.

Namun, berbagai program dan penelitian menunjukkan perubahan positif dalam pengetahuan dan perilaku masyarakat.

Partisipasi masyarakat yang kurang optimal, perubahan gaya hidup modern, kendala keuangan, dan kolaborasi

(12)

lintas-sektor menjadi tantangan.

Keberlanjutan program memerlukan strategi komunikasi, adaptasi terhadap gaya hidup modern, dan

pembiayaan jangka panjang.

Teknologi, kemitraan lintas-sektor, pendidikan digital, promosi gaya hidup aktif, dan penelitian kesehatan menjadi peluang.

Memanfaatkan aplikasi kesehatan, kemitraan dengan industri makanan, kampanye online, dan penelitian inovatif dapat meningkatkan efektivitas program.

Sulistyowat i et al., (2024)

Tujuan penelitian ini untuk

meningkatkan pemahaman anak, remaja, masyarakat, dan kader

Penelitian kuantitatif

(Studi intervensi berbasis penyuluhan)

Responden berjumlah 30 peserta dan 20 kader kesehatan yang mengikuti

Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pemahaman materi berisi 10

Sebelum penyuluhan, 58,8%

responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah

(13)

kesehatan tentang

tatalaksana dan pencegahan obesitas.

penyuluhan di Desa Peleman, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen.

pertanyaan.

Penyuluhan menggunaka n

PowerPoint (PPT), pemutaran video, dan pembagian leaflet.

Metode evaluasi yang digunakan berupa kuesioner penilaian pemahaman materi penyuluhan pre dan post kegiatan.

tentang obesitas.

Setelah penyuluhan, terjadi peningkatan pengetahuan yang

signifikan, dengan 58,8%

responden memiliki pemahaman baik.

Sumarni &

Bangkele., (2023)

Tujuan penelitian ini untuk

mengetahui persepsi orang tua, guru dan tenaga kesehatan terhadap obesitas anak dan remaja.

Penelitian kualitatif

(Pendekatan potong lintang)

Responden penelitian ini

sebanyak 22 orang, yang terdiri dari 7 anak dan remaja obesitas, 8 orang tua dari anak dengan obesitas, 5 guru sekolah, 2 petugas kesehatan di wilayah Kota Palu.

Teknik Pengambila n Sampel menggunaka n Purposive sampling, dengan kriteria memiliki keluarga obesitas, murid obesitas, atau tenaga kesehatan yang menangani program gizi.

Wawancara langsung menggunaka n kuesioner dengan 6 pertanyaan terbuka.Data

Sebagian besar responden memahami obesitas sebagai suatu kondisi kelebihan berat badan yang disebabkan oleh pola makan yang berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik.

Terdapat beberapa orang tua yang masih

memandang anak yang gemuk sebagai indikator kesehatan serta sebagai

sumber

(14)

hasil wawancara dianalisis melalui reduksi data, display data, dan

verifikasi data.

kebanggaan keluarga.

Dampak obesitas meliputi gangguan pernapasan, peningkatan risiko terhadap penyakit kardiovaskular , diabetes mellitus, serta hambatan dalam aktivitas fisik dan sosial.

Pencegahan obesitas dapat dilakukan melalui aktivitas fisik yang teratur, penerapan pola makan yang sehat,

penghindaran terhadap junk food, serta pengurangan waktu yang dihabiskan di depan layar.

Wijianto et

al., (2023) Tujuan penelitian ini untuk meneliti hubungan pengetahuan dan perilaku risiko obesitas terhadap kejadian

obesitas remaja pada masa Pandemi Covid 19.

Penelitian kuantitatif

(Studi survei analitik dengan desain cross-

sectional)

Responden penelitian ini

sebanyak 202 siswa kelas X.

Teknik pengumpula n data dilaksanaka n melalui wawancara langsung kepada responden menggunaka n kuesioner serta penentuan

Prevalensi obesitas remaja sebesar 13.4%,

sebagian besar remaja (52%) telah memiliki pengetahuan yang baik tentang obesitas, dan sebagian besar (55.2%)

(15)

status obesitas dengan IMT melalui pengukuran antropometr i. Penentuan status gizi dengan IMT berdasarkan PMK No. 2 Tahun 2020 yang terdiri dari; gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih/

overweight dan

Obesitas/

obese .

remaja memiliki perilaku yang kurang baik terhadap obesitas. Hasil uji ststatistik variabel pengetahuan dan perilaku tidak

mempunyai hubungan bermakna dengan obesitas remaja (p >

0.05).

HASIL DAN PEMBAHASAN

(16)

Kajian literature review ini mengidentifikasi 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Dalam ulasan literature review ini penulis menemukan bahwa artikel-artikel penelitian ini menggunakan responden usia remaja dan produktif. Analisis data sekunder yang dilakukan oleh Burhan et al. (2023) menunjukkan adanya peningkatan prevalensi obesitas dari 25,5% pada tahun 2007 menjadi 38,9% pada tahun 2014, yang sejalan dengan meningkatnya gaya hidup sehari-hari. Mengkonsumsi makanan manis, minuman manis, minuman ringan, serta rendahnya tingkat aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian obesitas (Arifani dan Setiyaningrum.,2021).

Hasil dari 10 artikel ini, 3 adalah penelitian kualitatif literature review dan pendekatan potong lintang, 6 adalah penelitian kuantitatif studi intervensi berbasis penyuluhan, studi cross sectional, data sekunder dari IFLS 4 dan IFLS 5, dan pengabdian masyarakat, dan 1 adalah penelitian mix method. Dari 10 artikel ini diketahui faktor-faktor yang menyebabkan obesitas dapat dikategorikan berdasarkan teori H. L. Blum, yang mencakup empat faktor utama, yaitu faktor lingkungan, pelayanan kesehatan, genetika, dan perilaku. Hasil dari 10 artikel menunjukkan bahwa keberlanjutan program ini menghadapi berbagai

tantangan, termasuk partisipasi masyarakat yang kurang optimal dan kendala finansial, meskipun terdapat peluang seperti penggunaan teknologi dan kemitraan lintas sektor (Salsabila., 2023). Meskipun sebagian besar remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang obesitas, perilaku mereka terhadap obesitas masih kurang baik, dan tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan kejadian obesitas (Wijianto et al., 2023).

OBESITAS PADA REMAJA

Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan multifaktorial. Faktor-faktor seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, dan faktor psikologis semuanya berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi obesitas pada remaja.

Upaya pencegahan obesitas pada remaja perlu dilakukan secara komprehensif, termasuk:

● Edukasi mengenai pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik.

● Pemantauan dan pendampingan oleh pihak sekolah dan keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat.

● Pengembangan program intervensi yang melibatkan berbagai pihak,

(17)

termasuk tenaga kesehatan, pendidik, dan pembuat kebijakan.

FAKTOR-FAKTOR OBESITAS

Faktor lingkungan mencakup tren aktivitas fisik yang rendah dan ketersediaan makanan yang beragam, sedangkan faktor perilaku meliputi pola makan yang tidak sehat serta kurangnya aktivitas fisik.

Faktor genetik memegang peranan yang signifikan, dimana keluarga yang memiliki riwayat obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas pada anak-anak mereka. Selain itu, stres dan tekanan akademik juga dapat mendorong terjadinya perilaku makan berlebihan.

Penelitian Julita et al. (2021) menunjukkan bahwa program promosi kesehatan keluarga, seperti CHIRPY DRAGON, efektif dalam mencegah obesitas pada anak dengan pendekatan konsumsi makanan sehat dan peningkatan aktivitas fisik.

PENCEGAHAN OBESITAS

1. Pola Hidup Sehat sebagai Strategi Utama

Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa obesitas dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat, seperti meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta melakukan

deteksi dini melalui Posbindu PTM atau puskesmas.

2. Intervensi Berbasis Sekolah

Sekolah merupakan tempat strategis untuk pencegahan obesitas pada remaja. Program berbasis sekolah, seperti edukasi gizi seimbang dan aktivitas fisik,

terbukti efektif dalam

meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku siswa terkait pola makan dan aktivitas fisik.

3. Peran Regulasi dan Kebijakan Publik

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi seperti Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang pencantuman informasi kandungan gula, garam, dan lemak pada pangan olahan. Regulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi makanan sehat.

PERANAN ORANG TUA

Sebagian orang tua masih memandang obesitas sebagai indikator kesehatan yang positif, meskipun terdapat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh obesitas, termasuk risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, serta hambatan dalam aktivitas fisik dan sosial (Sumarni

& Bangkele., 2023). Dalam hal ini

(18)

dukungan orang tua memiliki peran yang sangat penting. Salah satu peran utama adalah memberikan contoh pola makan sehat dengan menyediakan makanan bergizi yang seimbang di rumah serta membatasi konsumsi makanan yang mengandung kadar gula tinggi dan makanan cepat saji. Orang tua juga perlu mendorong anak untuk lebih aktif secara fisik dengan mengajak melakukan aktivitas yang melibatkan gerak tubuh.

Oleh karena itu, orang tua dapat mendukung kesehatan remaja dengan menciptakan lingkungan yang positif dan menghindarkan hal yang memicu obesitas pada remaja.

KESIMPULAN

Obesitas pada remaja di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang terus meningkat, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perilaku makan, aktivitas fisik, lingkungan keluarga, dan faktor genetik. Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam pencegahan obesitas melalui pengaturan pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, serta pemberian edukasi kesehatan yang tepat.

Artikel ini menekankan bahwa dukungan emosional dan sosial dari keluarga memiliki dampak signifikan dalam membentuk gaya hidup sehat pada remaja.

Meskipun sebagian besar remaja memiliki pengetahuan tentang obesitas, perilaku

mereka belum mencerminkan konsistensi dalam menjalani gaya hidup sehat. Selain itu, tantangan modern seperti gaya hidup sedentari, konsumsi makanan cepat saji, dan kurangnya waktu berkualitas bersama keluarga sering kali menghambat upaya pencegahan obesitas. Pendekatan berbasis keluarga yang optimal dapat meningkatkan efektivitas program pencegahan obesitas.

Intervensi yang melibatkan keluarga, sekolah, dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat bagi remaja. Kebijakan seperti penyediaan makanan sehat di sekolah dan kampanye kesehatan berbasis keluarga menjadi langkah strategis untuk mengurangi prevalensi obesitas. Pentingnya ada kolaborasi lintas sektor—antara keluarga, institusi pendidikan, dan pemerintah—

untuk mengatasi masalah obesitas secara holistik. Dukungan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat program edukasi dan promosi kesehatan dengan tetap menjaga keseimbangan agar tidak memicu gaya hidup tidak sehat. Dengan pendekatan yang terintegrasi, upaya pencegahan obesitas pada remaja dapat lebih efektif dan berkelanjutan.

SARAN

(19)

1. Bagi Keluarga/Orang Tua

○ Tingkatkan pengetahuan tentang pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik dalam kehidupan remaja.

○ Jadilah teladan dalam menerapkan pola hidup sehat dan ciptakan lingkungan rumah yang mendukung gaya hidup aktif dan konsumsi makanan bergizi.

○ Kurangi konsumsi makanan cepat saji dan batasi penggunaan gadget yang berlebihan untuk mencegah gaya hidup sedentari.

2. Bagi Sekolah

○ Libatkan keluarga dalam program promosi kesehatan di sekolah.

○ Sediakan kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler

yang mendukung

peningkatan aktivitas fisik siswa.

3. Bagi Pemerintah

○ Perlu adanya kebijakan

yang mendukung

penyediaan makanan sehat di lingkungan sekolah dan masyarakat.

○ Dukung program

penyuluhan dan kampanye kesehatan yang menyasar keluarga sebagai agen utama perubahan perilaku.

RUJUKAN

Anak, P., Remaja Sumarni, D., & Yane Bangkele, E. (2023). PERSEPSI ORANG TUA, GURU DAN

TENAGA KESEHATAN

TENTANG OBESITAS. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako, 9(1).

Anggraini, N. V., Hutahaean, S., Firmansyah, T., Nuryanta, R., Apriliana, V., Lestari, B. D., Saifulloh, M. H., & Junita, N.

(2023). Pemberdayaan Lingkungan Dalam Pencegahan Obesitas Pada Remaja Di Masa Pandemi Covid 19.

https://journals.upi-yai.ac.id/index.

php/IKRAITH-ABDIMAS/issue/ar chive

Arifani, S., & Setiyaningrum, Z. (2021).

Faktor Perilaku Berisiko yang Berhubungan Dengan Kejadian Obesitas Pada Usia Dewasa di Provinsi Banten Tahun 2018.

Jurnal Kesehatan, 14(2), 160–168.

https://doi.org/10.23917/jk.v14i2.1 3738

(20)

Burhan, F. Z., Susetyowati, S., & Julia, M.

(2023). Obesitas sebagai faktor risiko penurunan aktivitas fisik vs.

penurunan aktivitas fisik sebagai faktor risiko obesitas. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 20(2), 64.

https://doi.org/10.22146/ijcn.86821 Julita, S., Neherta, M., & Yeni, F. (2021).

Promosi Kesehatan Keluarga dalam Pencegahan Obesitas pada Anak Usia 6-12 Tahun. 12.

https://doi.org/10.33846/sf12nk102 Kinansi, R. R., Shaluhiyah, Z., Kartasurya, M. I., Sutiningsih, D., Adi, M. S.,

& Widjajanti, W. (2023).

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku tentang Obesitas pada Wanita Usia Produktif di Dukuh Gamol, Wilayah Kerja Kecamatan Mangunsari, Kota Salatiga. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(3), 318–

333.

https://doi.org/10.14710/jkm.v11i3.

35587

Rizona, F., Anna Appulembang, Y., Rahmawati, F., Purwanto, S., Latifin Bagian Keperawatan, K., Kedokteran, F., Sriwijaya, U., Masjid Al Gazali, J., & Lama, B.

(2024). OPTIMALISASI

DUKUNGAN ORANG TUA

DALAM UPAYA

PENCEGAHAN OBESITAS

PADA SISWA.

http://jurnal.globalhealthsciencegro up.com/index.php/JPM

Salsabila, L. (2023). Mewujudkan Keberlanjutan Program Gerakan Nusantara Tekan Obesitas (GENTAS) sebagai Pengendalian Obesitas: Tantangan dan Peluang di Era Modern.

Saraswati, S. K., Rahmaningrum, F. D., Pahsya, M. N. Z., Paramitha, N., Wulansari, A., Ristantya, A. R., Sinabutar, B. M., Pakpahan, V. E.,

& Nandini, N. (2021). Literature Review : Faktor Risiko Penyebab Obesitas. MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA,

20(1), 70–74.

https://doi.org/10.14710/mkmi.20.1 .70-74

Sulistyowati, D., Suryanti, & Benya

Adriani, R. (2024).

PENYULUHAN

TATALAKSANA DAN

PENCEGAHAN OBESITAS

PADA ANAK DAN REMAJA. 3.

https://doi.org/10.55080/jim.v3i2.1 010

Referensi

Dokumen terkait

Faktor tidak langsung atau faktor dari keluarga yaitu ketersediaan pangan, sanitasi lingkungan, pola asuh orang tua didalamnya adalah pola pemberian makan, pengetahuan,

Orang tua memiliki peran untuk meningkatkan pola makan anak dengan memberikan edukasi terkait pemenuhan gizi seimbang, asupan nutrisi yang dibutuhkan anak sehingga menumbuhkan

Dengan demikian, pengasuhan orang tua dalam keluarga menjadi hal yang signifikan dalam membentuk penghargaan diri pada remaja, agar remaja memiliki keadaan psikologis yang sehat

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua memiliki peran yang besar dalam membentuk perilaku prososial remaja sehingga apabila orang tua

Edukasi melalui materi kemasan makanan, termasuk pesan visual, dapat membentuk pola pikir yang benar agar anak dapat memilih dan makan jajanan yang aman dan sehat.. Kemasan makanan

• Pola makan yang sehat dan bergizi • Pola pengaturan jam kerja yang tidak menganggu kesehatan pekerja • Pola pengaturan istirahat yang cukup pada pekerja/ profesiona • Pola

Terapi Edukasi Edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga adalah tentang penyakit pneumonia, diet TETP, pola makan teratur, pola makan yang teratur, makan dengan bergizi

PROGRAM EDUKASI UNTUK PESERTA TERKAIT POLA HIDUP SEHAT NO PROGRAM EDUKASI METODE DESKRIPSI KEGIATAN NARASUMBER 1 Webinar Pola Makan Sehat Online zoom meeting Webinar interaktif